Di Hari Suamiku Mencuri Kartu Tabungan Pemberian Ibuku untuk Membelikan Rumah bagi Adiknya, Ia Membeku Melihat Saldo Nol—Tanpa Tahu Uang Itu Sudah Menjadi Ruko Atas Namaku Sejak Tiga Tahun Lalu

Avatar penulis
Cerita 03
16 menit baca 1,232 tayangan
Di Hari Suamiku Mencuri Kartu Tabungan Pemberian Ibuku untuk Membelikan Rumah bagi Adiknya, Ia Membeku Melihat Saldo Nol—Tanpa Tahu Uang Itu Sudah Menjadi Ruko Atas Namaku Sejak Tiga Tahun Lalu
Indeks

Di Hari Suamiku Mencuri Kartu Tabungan Pemberian Ibuku untuk Membelikan Rumah bagi Adiknya, Ia Membeku Melihat Saldo Nol—Tanpa Tahu Uang Itu Sudah Menjadi Ruko Atas Namaku Sejak Tiga Tahun Lalu

Bagian 1 — Ibu Menyelipkan Rp2,4 Miliar ke Tanganku Saat Akad, dan Tiga Hari Kemudian Mertuaku Mulai Menghitung Uang yang Bukan Miliknya Sendiri

Pada hari pernikahanku, Ibu menarikku masuk ke kamar pengantin ketika para tamu masih memenuhi halaman.

Tangannya dingin.

Matanya merah sejak akad selesai.

Tanpa mengatakan apa-apa, beliau memasukkan sebuah kartu ATM berwarna hitam ke dalam genggamanku.

“Nadira, dengarkan Ibu baik-baik.”

Aku menatapnya.

“Di rekening ini ada dua miliar empat ratus juta rupiah.”

Aku sampai mengira salah dengar.

“Ibu… berapa?”

“Dua koma empat miliar.”

Dadaku langsung sesak.

Ayah meninggal enam tahun sebelumnya karena kecelakaan di jalan tol Cipali. Setelah itu Ibu mengelola toko sembako kecil kami di Cirebon seorang diri.

Beliau membuka toko sebelum subuh, menutupnya hampir pukul sepuluh malam, dan bertahun-tahun memakai sandal yang solnya sudah tipis hanya karena merasa membeli sandal baru adalah pemborosan.

Sebagian uang itu berasal dari tabungan Ibu.

Sebagian lagi dari asuransi Ayah dan penjualan sebidang tanah warisan yang selama bertahun-tahun tidak pernah disentuh.

Aku langsung mengembalikan kartu itu.

“Ibu simpan saja. Nadira punya pekerjaan.”

Aku bekerja sebagai kepala bagian keuangan di sebuah perusahaan logistik di kawasan industri Cikarang. Penghasilanku cukup baik. Aku tidak membutuhkan uang sebanyak itu.

Namun Ibu menutup kembali jemariku.

“Justru karena kamu bekerja, Ibu tahu kamu paham nilai uang.”

Lalu suaranya semakin pelan.

“Jangan pernah campurkan uang ini dengan kebutuhan keluarga suamimu.”

Aku terdiam.

“Raka suamiku, Bu.”

“Ibu tahu.”

Tatapan Ibu tidak berubah.

“Tapi pernikahan yang baik tidak membuat seseorang kehilangan hak untuk punya pegangan sendiri.”

Kemudian beliau mengatakan kalimat yang baru benar-benar kupahami beberapa tahun setelahnya.

“Orang yang tulus padamu tidak akan marah hanya karena kamu punya sesuatu yang tidak bisa dia ambil.”

Aku menyimpan kartu itu.

Dan tidak menceritakannya kepada siapa pun.

Pernikahanku dengan Raka Pradana awalnya terlihat sempurna.

Raka berasal dari Bekasi. Ayahnya memiliki usaha percetakan dan pembuatan kemasan makanan skala kecil. Mereka bukan keluarga kaya raya, tapi rumahnya besar, punya dua mobil, dan hampir semua kerabat mengenal keluarga mereka.

Kami dikenalkan teman kantor.

Delapan bulan kemudian menikah.

Saat resepsi, Bu Ratna, ibu Raka, memelukku di depan para tamu sambil berulang kali mengatakan bahwa beliau akhirnya mendapatkan menantu perempuan yang “mapan dan pintar mengatur uang”.

Saat itu aku menganggapnya pujian.

Tiga hari kemudian, aku baru mengerti maksud sebenarnya.

Kami sedang makan pagi ketika Bu Ratna tiba-tiba bertanya,

“Orang tuamu memberi apa saja waktu menikah?”

Aku berhenti mengaduk teh.

“Beberapa perhiasan dan barang rumah tangga, Bu.”

“Hanya itu?”

Beliau tertawa kecil.

“Ibumu kan punya toko. Ayahmu dulu juga meninggalkan tanah, ya?”

Aku menatap Raka.

Suamiku tetap makan.

Tidak mengalihkan pembicaraan.

Tidak mengatakan bahwa pertanyaan itu tidak pantas.

Aku tersenyum tipis.

“Tanah keluarga bukan urusan Nadira sendiri, Bu.”

Wajah Bu Ratna berubah sedikit.

“Oh, Ibu cuma tanya.”

Ternyata “cuma tanya” itu berlanjut berminggu-minggu.

Kadang ketika aku membantu di dapur.

Kadang saat kami makan bersama.

Kadang melalui Raka.

Sampai suatu malam, ketika lampu kamar sudah dimatikan, Raka bertanya,

“Dira.”

“Hm?”

“Ibumu benar-benar tidak kasih uang?”

Aku membuka mata.

“Kasih.”

Tubuhnya langsung berbalik menghadapku.

“Berapa?”

Aku sudah menyiapkan jawaban sejak lama.

“Sekitar tiga puluh juta.”

Raka diam.

“Cuma segitu?”

Nada kecewanya terlalu jelas.

Aku menahan napas.

“Memangnya harus berapa?”

“Bukan begitu.”

Dia tertawa kecil.

“Cuma… keluargamu kelihatannya cukup punya aset.”

Aku memunggunginya.

“Tidur, Ka.”

Tetapi sejak malam itu, aku mulai memperhatikan banyak hal yang sebelumnya kuanggap sepele.

Bagaimana Bu Ratna selalu bertanya jumlah bonus tahunanku.

Bagaimana Pak Hendra, ayah Raka, bercanda bahwa menantu bekerja di bagian keuangan pasti “punya simpanan rahasia”.

Dan terutama bagaimana Dimas, adik Raka, memperlakukanku.

Dimas tiga tahun lebih muda.

Dia berkali-kali pindah kerja, pernah mencoba bisnis sepatu, kopi literan, sampai jual beli motor, tetapi tidak ada yang bertahan.

Suatu Minggu, ketika kami makan bersama, dia bersandar santai sambil berkata,

“Mbak Nadira sebenarnya enak.”

Aku menatapnya.

“Enak bagaimana?”

“Anak tunggal.”

Dia tertawa.

“Nanti semua punya ibunya juga jatuh ke Mbak.”

Sendokku berhenti.

Bu Ratna malah ikut tersenyum.

“Ya memang begitu kalau anak cuma satu.”

Kemudian Dimas berkata sesuatu yang membuat perutku terasa dingin.

“Kalau aku jadi Mas Raka, dari awal sudah kusuruh investasikan uang keluarga istriku. Daripada nganggur.”

Aku menoleh kepada suamiku.

Raka tersenyum.

Tidak membelaku.

Dia hanya berkata,

“Jangan ngomong sembarangan.”

Tapi ekspresinya mengatakan hal lain.

Malam itu aku tidak bisa tidur.

Kalimat Ibu terus terngiang.

Orang yang tulus padamu tidak akan marah hanya karena kamu punya sesuatu yang tidak bisa dia ambil.

Besok paginya aku mengambil cuti setengah hari.

Aku mendatangi seorang agen properti yang pernah menjadi klien kantorku.

Sudah beberapa bulan aku memperhatikan sebuah ruko dua lantai di dekat kawasan perumahan baru di Tambun Selatan.

Luas bangunannya tidak besar.

Namun lokasinya tepat di jalan utama.

Di sebelahnya ada minimarket, klinik, sekolah swasta, dan perumahan yang masih terus berkembang.

Harganya Rp2,75 miliar.

Aku menggunakan Rp2,4 miliar pemberian Ibu sebagai pembayaran utama.

Sisanya kubayar melalui kredit jangka pendek dari bank.

Notaris menatapku sebelum dokumen ditandatangani.

“Suami Ibu tahu?”

Aku menggeleng.

“Dana pembelian ini berasal dari pemberian ibu saya sebelum digunakan untuk kepentingan rumah tangga.”

Aku bahkan membawa surat pernyataan pemberian dana yang dulu diminta Ibu dibuatkan bersama notaris kenalannya.

Semuanya jelas.

Ruko itu tercatat atas namaku.

Dua bulan kemudian, sebuah apotek menyewanya dengan harga Rp17 juta per bulan.

Uang sewa membayar cicilan.

Tidak sampai tiga tahun, utangnya hampir lunas.

Sedangkan kartu ATM pemberian Ibu?

Saldonya tinggal beberapa puluh ribu rupiah.

Kartu itu kusimpan paling dalam di tas lama di lemari.

Aku tidak pernah mengira seseorang akan mencarinya.

Selama tiga tahun berikutnya, keluarga Raka semakin sering membutuhkan uang.

Dimas membutuhkan modal.

Percetakan ayahnya membutuhkan mesin baru.

Bu Ratna ingin merenovasi dapur.

Kemudian Dimas bertunangan dengan perempuan bernama Selvi.

Sejak itulah pembicaraan berubah.

Sekarang mereka ingin membelikan Dimas rumah.

“Kasihan kalau setelah nikah masih ngontrak,” kata Bu Ratna suatu malam.

Aku diam.

Raka menambahkan,

“Rumah di Tambun sekarang masih ada yang satu miliar lebih sedikit.”

Aku tetap makan.

Bu Ratna menatapku.

“Kalau semua keluarga membantu sedikit, ringan.”

Aku meletakkan sendok.

“Semua keluarga siapa, Bu?”

Ruangan mendadak sepi.

Raka menendang pelan kakiku di bawah meja.

Aku tersenyum.

“Kalau Dimas ingin rumah, bukankah Dimas yang seharusnya menyiapkan uangnya?”

Wajah Dimas merah.

Bu Ratna langsung meletakkan gelas dengan keras.

“Dalam keluarga itu harus saling membantu.”

Aku menjawab,

“Membantu berbeda dengan membiayai.”

Sejak malam itu, sikap mereka padaku berubah terang-terangan.

Namun aku tetap tidak menduga Raka akan melangkah sejauh itu.

Sampai Jumat sore, tiga tahun setelah pernikahan kami.

Aku pulang lebih cepat karena rapat dibatalkan.

Di depan minimarket dekat kompleks, aku melihat mobil Raka.

Dia duduk sendirian di kursi pengemudi.

Jendela sedikit terbuka.

Aku hendak menghampirinya ketika mendengar suaranya.

“Mama tenang saja.”

Langkahku berhenti.

Raka sedang menelepon.

“Aku sudah menemukan kartunya.”

Jantungku menghantam dada.

“Yang Nadira sembunyikan di tas cokelat paling belakang lemari.”

Tanganku langsung dingin.

Kemudian terdengar suara Bu Ratna samar dari pengeras telepon.

Raka tertawa pelan.

“PIN-nya kemungkinan tanggal lahir Nadira. Besok aku cek dulu.”

Dia terdiam mendengarkan sesuatu.

Lalu menjawab,

“Kalau memang uangnya masih ada, kita tidak perlu bilang dia dulu.”

Darah di tubuhku seperti berhenti mengalir.

“Aku cuma ambil untuk uang muka rumah Dimas. Nanti kalau situasi sudah tenang, baru aku jelaskan.”

Aku berdiri hanya beberapa meter dari mobilnya.

Suamiku masih berbicara.

Dan kalimat berikutnya membuatku akhirnya sadar bahwa pencurian kartu itu bahkan bukan bagian terburuknya.

“Booking rumahnya sudah Mama bayar, kan?”

Dia mendengarkan.

“Oke.”

“Berarti Senin kita harus setor enam ratus juta.”

Aku menutup mulut agar tidak mengeluarkan suara.

Raka berkata lagi,

“Pokoknya jangan sampai Nadira tahu sebelum uangnya masuk.”

#DramaKeluarga #KisahRumahTangga #PengkhianatanSuami #PerempuanMandiri #CeritaIndonesia

Bagian 2 — Tiga Tahun Mereka Mengira Tabunganku Masih Utuh, Sampai Suamiku Mencuri Kartunya dan Mendengar Rencana Ibunya Membeli Rumah untuk Adiknya Secara Tunai

Aku tidak menghampiri Raka sore itu.

Aku berbalik, masuk ke kompleks melalui pintu samping, lalu pulang seolah tidak mendengar apa pun.

Tanganku gemetar ketika membuka pintu rumah.

Tas cokelat itu masih di dalam lemari.

Resletingnya terbuka.

Kartu ATM sudah hilang.

Aku duduk di tepi tempat tidur dan baru saat itulah semuanya terasa nyata.

Pria yang tidur di sampingku selama tiga tahun telah membongkar barang-barang pribadiku, mengambil kartu bank milikku, menebak PIN, lalu merencanakan pemakaian uang itu tanpa izinku.

Bukan untuk keadaan darurat.

Bukan karena dia sakit.

Bukan karena kami terancam kehilangan rumah.

Untuk membelikan rumah bagi adiknya.

Aku hampir menelepon Ibu.

Tapi aku berhenti.

Aku ingin tahu seberapa jauh mereka berani melangkah.

Sabtu pagi Raka keluar lebih awal.

Katanya bertemu klien.

Aku mengangguk.

Satu jam kemudian, notifikasi keamanan rekening masuk ke ponselku.

Ada percobaan pengecekan saldo melalui ATM.

Beberapa menit kemudian percobaan kedua.

Lalu ketiga.

Aku bahkan bisa membayangkan wajah Raka saat melihat angka itu.

Rp43.712.

Bukan Rp2,4 miliar.

Tidak sampai lima menit kemudian teleponku berdering.

Raka.

Aku tidak mengangkatnya.

Dia menelepon lagi.

Kemudian WhatsApp masuk.

“Kamu di mana?”

Aku membalas singkat.

“Rumah.”

Empat puluh menit kemudian pintu dibuka begitu keras sampai menghantam dinding.

Raka masuk dengan wajah pucat.

Dia memegang kartu ATM-ku.

Akhirnya dia bahkan tidak repot menyembunyikannya.

“Uangnya mana?”

Aku menatap kartu di tangannya.

“Uang apa?”

“Jangan pura-pura.”

Dia melempar kartu ke meja.

“Uang dari ibumu.”

Aku hampir tertawa.

Jadi bukan permintaan maaf karena mencuri.

Bukan rasa bersalah.

Pertanyaan pertamanya justru: uangnya mana?

Aku bersandar ke sofa.

“Kenapa kartu itu ada padamu?”

Raka terdiam sepersekian detik.

Lalu wajahnya mengeras.

“Aku suamimu.”

“Bukan jawaban.”

“Kita menikah tiga tahun, Dira!”

Suaranya meninggi.

“Kenapa kamu menyembunyikan uang sebesar itu?”

Aku menatapnya lurus.

“Dari mana kamu tahu jumlahnya besar?”

Dia langsung bungkam.

Itulah kesalahan pertamanya.

Aku belum pernah mengatakan kepada Raka bahwa uang Ibu lebih dari tiga puluh juta.

Kalau sekarang dia yakin jumlahnya besar, berarti seseorang telah mencari tahu.

“Siapa yang memberitahumu?”

Raka membuang muka.

“Bukan itu masalahnya.”

“Justru itu masalahnya.”

Telepon Raka tiba-tiba berdering.

Nama “Mama” muncul.

Dia menolaknya.

Aku berkata,

“Angkat.”

“Tidak perlu.”

“Angkat, Ka.”

Dia menatapku tajam.

Telepon berbunyi lagi.

Akhirnya dia mengangkat.

Belum sempat berkata apa-apa, suara Bu Ratna terdengar keras.

“Gimana? Ada berapa?”

Raka membeku.

Aku hampir bisa mendengar detak jam dinding.

“Mama nanti saja.”

Namun Bu Ratna terus bicara.

“Developer kasih batas sampai Senin! Uang pinjaman Om Bowo sudah dipakai buat booking dan biaya notaris awal. Kalau enam ratus juta tidak masuk, uang kita bisa hangus!”

Aku menatap Raka.

Dia mematikan telepon.

“Pinjaman?”

Dia diam.

“Booking?”

Masih diam.

Aku berdiri.

“Jadi kalian sudah membeli rumah memakai uang yang bahkan belum kalian tanyakan kepadaku?”

Raka mulai panik.

“Bukan begitu.”

“Lalu bagaimana?”

“Dimas akan mengembalikan.”

Aku tertawa.

Untuk pertama kalinya selama tiga tahun, aku benar-benar tertawa di depannya.

“Dengan apa?”

Wajahnya memerah.

“Jangan merendahkan adikku.”

“Aku tidak merendahkan siapa pun. Aku bertanya sumber pengembaliannya.”

Raka mendekat.

“Rumah itu kesempatan bagus. Harganya Rp1,15 miliar. Mama sudah pinjam tiga ratus juta dari Om Bowo. Kita cuma perlu bantu enam ratus juta dulu.”

“Kita?”

Aku menatapnya.

“Atau aku?”

Dia menghela napas kasar.

“Kamu istriku. Untuk apa punya uang kalau keluarga sedang membutuhkan?”

Saat itulah sesuatu dalam diriku benar-benar mati.

Aku mengambil ponsel.

“Baik.”

Raka terlihat sedikit lega.

“Akhirnya kamu mengerti.”

“Besok kita ke rumah Mama.”

Dia mengerutkan kening.

“Untuk apa?”

“Bicarakan uangnya.”

Malam itu aku tidak tidur sekamar dengannya.

Aku mengunci kamar kerja dan membuka semua dokumen yang kusimpan selama tiga tahun.

Akta jual beli ruko.

Bukti pembayaran.

Surat pemberian dana dari Ibu.

Riwayat cicilan.

Kontrak sewa apotek.

Dan satu dokumen lain yang baru kuterima dua minggu sebelumnya.

Raka tidak tahu aku sudah menemukannya.

Sebulan sebelumnya, bagian HR kantorku menelepon karena menerima permintaan verifikasi pendapatan atas namaku dari sebuah lembaga pembiayaan.

Aku tidak pernah mengajukan pinjaman.

Setelah meminta salinan dokumen, aku menemukan fotokopi KTP-ku.

Slip gajiku.

Dan formulir pengajuan kredit dengan tanda tangan yang dibuat menyerupai milikku.

Pemohon pendampingnya bernama Raka Pradana.

Tujuan pinjaman:

Pembelian properti tempat tinggal.

Aku belum menuduh siapa pun karena ingin memastikan semuanya.

Sekarang aku tidak perlu memastikan lagi.

Keesokan siangnya kami datang ke rumah Bu Ratna.

Dimas sudah ada di sana bersama Selvi.

Pak Hendra duduk di ruang tengah.

Di atas meja terdapat brosur perumahan.

Bu Ratna bahkan telah memberi lingkaran merah pada sebuah rumah tipe 70.

Begitu aku duduk, beliau langsung berkata,

“Mana uangnya?”

Tidak ada salam.

Tidak ada basa-basi.

Aku menatap satu per satu wajah mereka.

Kemudian kukeluarkan sebuah map biru dari tas.

Raka terlihat tegang.

Bu Ratna malah tersenyum.

“Mama tahu akhirnya kamu sadar juga.”

Aku meletakkan map itu di meja.

“Di rekening itu memang tidak ada Rp2,4 miliar lagi.”

Wajah mereka berubah.

“Karena tiga tahun lalu…”

Aku membuka map.

“…uang itu sudah saya belikan ruko.”

Ruangan langsung hening.

Dimas menjadi orang pertama yang berdiri.

“Mbak beli ruko diam-diam?”

Bu Ratna memukul meja.

“Tanpa bilang suami?”

Aku belum sempat menjawab ketika Raka meraih dokumen itu dan membaca alamatnya.

Wajahnya berubah.

Karena dia mengenali lokasi tersebut.

Ruko di jalan utama Tambun.

Nilainya sekarang hampir Rp3,8 miliar.

Bu Ratna merebut dokumen dari tangan Raka.

Kemudian beliau menatapku dengan mata menyala.

“Kalau begitu jual.”

Aku bahkan sempat mengira salah dengar.

“Apa?”

“Jual rukonya.”

Nada suaranya begitu tenang seolah sedang meminta aku mengambilkan segelas air.

“Bayar rumah Dimas. Sisanya bisa dipakai bantu usaha keluarga.”

Dimas diam.

Selvi juga diam.

Tidak seorang pun merasa permintaan itu gila.

Lalu Raka menatapku dan mengucapkan kalimat yang memastikan pernikahan kami tidak mungkin diselamatkan.

“Dira, Mama benar.”

Aku menatap suamiku.

Dia melanjutkan,

“Bagaimanapun ruko itu dibeli setelah kita menikah.”

Aku perlahan membuka bagian kedua map biru.

“Kalau begitu…”

Aku mengeluarkan dokumen berikutnya.

“…mungkin sekarang waktu yang tepat untuk membicarakan siapa yang memalsukan tanda tanganku dalam pengajuan kredit rumah Dimas.”

Wajah Raka seketika kehilangan warna.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku datang, Bu Ratna berhenti bicara.

Bagian 3 — Saat Mereka Menuntut Uang Ibuku, Aku Membuka Sertifikat Ruko, Rekaman Percakapan, dan Satu Berkas yang Mengakhiri Pernikahan Kami Selamanya Hari Itu

“Pemalsuan apa?”

Bu Ratna akhirnya bersuara.

Tapi beliau tidak melihatku.

Beliau melihat Raka.

Itu sudah cukup menjawab banyak hal.

Aku meletakkan salinan formulir pembiayaan di meja.

“Ini KTP saya.”

Lembar berikutnya.

“Ini slip gaji saya.”

Lembar ketiga.

“Dan ini tanda tangan yang dibuat menyerupai tanda tangan saya.”

Dimas ikut membaca.

Selvi berdiri sedikit menjauh darinya.

Raka mencoba mengambil dokumen itu.

Aku menariknya kembali.

“Jangan sentuh.”

“Nadira, dengarkan aku dulu.”

“Sekarang kamu ingin aku mendengarkan?”

Aku membuka rekaman suara dari ponsel.

Suara Raka terdengar jelas.

Mama tenang saja. Aku sudah menemukan kartunya.

Kemudian suara berikutnya.

Kalau uangnya masih ada, kita tidak perlu bilang dia dulu.

Wajah Bu Ratna langsung kaku.

Aku menghentikan rekaman.

“Perlu saya lanjutkan?”

Pak Hendra berdiri.

“Raka?”

Suamiku menunduk.

Bu Ratna masih mencoba membela diri.

“Kami cuma mau pinjam!”

Aku menatap beliau.

“Orang yang mau meminjam mengetuk pintu dan bertanya.”

Aku menunjuk kartu ATM di meja.

“Bukan membongkar lemari.”

Kemudian kutunjuk formulir kredit.

“Bukan memalsukan tanda tangan.”

Dimas tiba-tiba bersuara.

“Aku tidak tahu soal tanda tangan itu.”

Bu Ratna berbalik tajam.

“Diam kamu!”

Selvi menatap Dimas.

“Kamu bilang uang muka rumah berasal dari tabunganmu.”

Dimas pucat.

Ternyata kebohongan mereka bukan hanya kepadaku.

Dimas selama ini mengatakan kepada calon istrinya bahwa dia telah mengumpulkan ratusan juta dari hasil usaha.

Selvi mengambil tasnya.

“Jadi bahkan rumah yang kamu banggakan ke keluargaku dibayar kakak iparmu?”

“Sel…”

“Aku pulang.”

Dimas mencoba menahan.

Selvi menepis tangannya.

“Aku akan bicara dengan orang tuaku sendiri.”

Pintu tertutup.

Wajah Dimas seperti orang kehilangan darah.

Namun aku belum selesai.

Aku mengeluarkan surat pemberian dana dari Ibu.

“Uang yang digunakan membeli ruko diberikan Ibu khusus kepada saya. Asal dananya terdokumentasi.”

Kemudian akta jual beli.

“Pembelian juga tercatat.”

Terakhir, bukti seluruh cicilan yang selama ini dibayar dari pendapatan sewa ruko dan rekening pribadiku.

“Apa pun yang ingin kalian klaim, bicarakan melalui jalur resmi.”

Bu Ratna menunjuk wajahku.

“Kamu sudah merencanakan semua ini sejak awal!”

Aku menggeleng.

“Tidak.”

Suaraku justru sangat tenang.

“Saya cuma mengikuti nasihat Ibu saya.”

“Apa?”

“Jangan memberikan pegangan hidup kepada orang yang menganggapnya milik mereka.”

Raka akhirnya duduk.

Semua kemarahannya hilang.

“Dira…”

Aku menatapnya.

“Aku khilaf.”

“Khilaf itu sekali.”

Aku menunjuk dokumen-dokumen di meja.

“Mencari kartu.”

“Satu.”

“Menebak PIN.”

“Dua.”

“Merencanakan mengambil uang tanpa izin.”

“Tiga.”

“Menggunakan data pekerjaanku untuk pengajuan pembiayaan.”

“Empat.”

“Dan ketika semuanya terbongkar, kamu masih meminta aku menjual rukoku.”

Aku berhenti.

“Itu bukan khilaf, Raka.”

“Itu rencana.”

Dia tidak bisa menjawab.

Pak Hendra memejamkan mata.

Kemudian beliau bertanya kepada istrinya,

“Berapa uang yang sudah kamu pinjam?”

Bu Ratna diam.

“Ratna.”

“Tiga ratus juta.”

“Dari Bowo?”

Beliau mengangguk.

“Bunganya?”

Tidak ada jawaban.

Pak Hendra memukul sandaran kursi.

Ternyata pinjaman itu bukan pinjaman keluarga biasa.

Bu Ratna menjanjikan pengembalian dalam tiga bulan dengan tambahan hampir empat puluh juta karena yakin uangku akan segera menutup semuanya.

Booking fee rumah sebesar Rp35 juta juga tidak dapat dikembalikan.

Ketika rencana mereka gagal, tidak ada satu rupiah pun yang kubayarkan.

Pak Hendra terpaksa menjual satu mesin finishing lama dari percetakan untuk membayar sebagian utang.

Bu Ratna menjual perhiasannya.

Dimas harus membatalkan pembelian rumah.

Dua minggu kemudian, pertunangannya dengan Selvi juga resmi berakhir.

Bukan karena dia miskin.

Melainkan karena keluarganya mengetahui seluruh kebohongannya.

Sedangkan Raka?

Aku tidak langsung melaporkannya ke polisi mengenai formulir kredit tersebut karena lembaga pembiayaan belum mencairkan dana dan pengajuan sudah dibatalkan setelah verifikasiku gagal.

Namun salinan dokumen itu kusimpan.

Pengacaraku juga mengirimkan pemberitahuan resmi bahwa seluruh data pribadiku tidak boleh lagi digunakan olehnya.

Lalu aku mengajukan gugatan cerai.

Raka datang ke kantor dua kali.

Mengirim bunga.

Meminta Ibu meneleponku.

Bahkan suatu malam dia berdiri hampir satu jam di depan rumah kontrakan baruku.

“Aku tidak pernah ingin kehilangan kamu.”

Aku menatapnya dari balik pagar.

“Tidak.”

“Yang tidak ingin kamu kehilangan adalah uang yang kamu kira masih kusimpan.”

Dia menangis.

Mungkin benar-benar menyesal.

Namun penyesalan tidak selalu berarti seseorang berhak mendapatkan kesempatan kedua.

Tiga bulan kemudian, perceraian kami selesai.

Aku membawa pakaian, buku, laptop, dan beberapa foto lama.

Tidak ada perebutan rumah mewah.

Tidak ada adegan saling berteriak.

Aku hanya keluar dari kehidupan yang selama bertahun-tahun membuatku terus bertanya apakah aku terlalu curiga.

Ternyata naluriku sejak awal benar.

Setahun setelah perceraian, cicilan ruko lunas seluruhnya.

Nilai sewanya naik menjadi Rp22 juta per bulan.

Aku merenovasi lantai dua menjadi kantor kecil untuk jasa konsultasi keuangan yang kukerjakan setiap akhir pekan.

Kemudian aku melakukan sesuatu yang seharusnya kulakukan sejak lama.

Aku mengajak Ibu melihat ruko itu.

Beliau berdiri di trotoar cukup lama sambil mendongak ke papan apotek di lantai bawah.

“Jadi uang yang Ibu kasih dulu ada di sini?”

Aku mengangguk.

“Ibu marah?”

Beliau menatapku.

Lalu tersenyum.

“Kenapa harus marah?”

Mataku mulai panas.

“Aku tidak pernah bilang.”

Ibu menggenggam tanganku.

“Dulu Ibu memberimu uang bukan supaya kamu menyimpannya di rekening.”

Beliau menunjuk ruko itu.

“Ibu memberikannya supaya suatu hari, kalau hidupmu berubah, kamu tetap punya tempat untuk berdiri.”

Aku memeluknya di pinggir jalan.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak merasa sedang mempertahankan sesuatu dari siapa pun.

Aku tidak menang karena Raka kehilangan rumah untuk adiknya.

Aku juga tidak bahagia karena keluarga mantan suamiku harus membayar utang mereka sendiri.

Aku merasa menang karena akhirnya memahami satu hal:

Cinta boleh dibagi.

Kebaikan boleh diberikan.

Tetapi harga diri, batas, dan masa depan tidak pernah harus diserahkan hanya demi disebut sebagai istri yang baik.

Tiga tahun sebelumnya, Raka berdiri di depan ATM dan terpaku melihat saldo Rp43 ribu.

Dia mengira uangku telah hilang.

Padahal uang itu tidak pernah hilang.

Uang itu hanya berubah bentuk.

Menjadi sebuah ruko.

Menjadi penghasilan.

Menjadi kebebasan.

Dan pada akhirnya, menjadi pintu keluar yang tidak pernah mereka sangka sudah kusiapkan sejak lama.

#DramaKeluarga #KisahRumahTangga #PengkhianatanSuami #PerempuanMandiri #CeritaIndonesia