Aku Menemukan Radio Tua di Tumpukan Barang Bekas, Lalu Suara Anak Perempuan Berbisik Meminta Tolong. Baru Setelah Mendengar Satu Panggilan yang Sangat Kukenal, Aku Berhenti Menganggapnya Anak Orang Lain

Avatar penulis
Cerita 01
22 menit baca 131 tayangan
Aku Menemukan Radio Tua di Tumpukan Barang Bekas, Lalu Suara Anak Perempuan Berbisik Meminta Tolong. Baru Setelah Mendengar Satu Panggilan yang Sangat Kukenal, Aku Berhenti Menganggapnya Anak Orang Lain
Indeks

BAGIAN 2

“Nara?”

Suara di radio mendadak hilang.

Aku menekan tombol lagi.

“Nara, jawab Tante.”

Tidak ada apa-apa selain desis.

Aku langsung menelepon Ibu.

Panggilan pertama tidak diangkat.

Kedua juga tidak.

Pada panggilan ketiga, Adi yang menjawab.

“Kak?”

“Di mana Nara?”

Hening beberapa detik.

“Ya di sekolah.”

“Sekolah mana?”

“Lho, kok nanya begitu?”

“Jawab.”

Nada suaraku membuat Pak Giman menoleh.

Aku Menemukan Radio Tua di Tumpukan Barang Bekas, Lalu Suara Anak Perempuan Berbisik Meminta Tolong. Baru Setelah Mendengar Satu Panggilan yang Sangat Kukenal, Aku Berhenti Menganggapnya Anak Orang Lain

Adi tertawa kecil.

Tawa gugup yang sudah kukenal sejak dia masih SMA.

“Kak Dewi, ini kenapa sih?”

“Hubungi Ibu. Bilang aku pulang sekarang.”

Aku memutus sambungan.

Pak Giman tidak banyak bicara lagi.

Kami bertemu dua petugas keamanan kawasan di depan gudang. Polisi yang tadi kuhubungi meminta kami menunggu patroli di titik yang mudah ditemukan.

Aku menuruti mereka kali ini.

Bukan karena ketakutanku berkurang.

Justru karena sekarang aku tahu anak itu Nara.

Aku tidak boleh membuat keadaan lebih buruk hanya karena panik.

Sepuluh menit kemudian kami menuju alamat laundry yang tercetak pada nota.

Tempat itu berupa ruko dua lantai dengan rolling door setengah berkarat.

Papan hijau bergambar bunga masih tergantung di depan.

Tulisan nama usahanya sudah pudar.

Aku mengenalnya.

Adi pernah bekerja di sana.

Setidaknya itu yang pernah dikatakannya dua tahun lalu.

“Cuma bantu teman,” katanya waktu itu.

Pintu depan terkunci.

Tidak ada kendaraan.

Seorang pemilik warung di sebelah mengatakan ruko itu memang jarang buka sejak beberapa bulan terakhir.

“Tapi Mas Adi kadang datang,” katanya.

Aku menatapnya.

“Adi siapa, Bu?”

Dia menyebut nama lengkap adikku.

Kakiku terasa berat.

Petugas memintaku mundur sementara mereka menghubungi pemilik bangunan.

Tak lama kemudian radio berbunyi.

“Tante?”

Aku hampir berteriak.

“Nara, Tante di depan.”

Anak itu langsung menangis.

“Tolong.”

Aku menempelkan radio ke telinga.

“Kamu sakit?”

“Enggak.”

“Ada orang sama kamu?”

“Enggak.”

“Pintunya seperti apa?”

“Besi.”

Petugas mulai bergerak ke bagian belakang setelah memperoleh izin akses dari pemilik ruko melalui penjaga.

Sekitar tujuh menit kemudian mereka menemukan pintu samping yang digembok dari luar.

Aku tidak ikut masuk sampai salah satu petugas memanggil.

Ruangan tempat Nara berada bukan ruang bawah tanah.

Bukan tempat mengerikan seperti yang sempat kubayangkan.

Justru itu yang membuatku lebih marah.

Itu gudang kecil biasa.

Ada kasur tipis.

Kipas angin.

Botol air.

Mi instan.

Beberapa baju anak tergantung di kursi.

Tas sekolah lama tergeletak di sudut.

Artinya Nara bukan baru beberapa jam berada di sana.

Dia sudah tinggal di tempat itu.

Aku berlutut dan memeluknya.

Tubuhnya kurus.

Rambutnya dipotong pendek tidak rata.

“Tante jangan marah sama Nenek,” katanya sebelum aku sempat bertanya apa pun.

Aku menutup mata.

“Kenapa Nara di sini?”

Dia menatap dua petugas di belakangku lalu menunduk.

“Om Adi bilang sementara.”

“Berapa lama?”

“Enggak tahu.”

“Kamu enggak sekolah?”

Dia menggeleng.

Pertanyaan itu terasa lebih menyakitkan daripada melihat gembok.

Aku meminta petugas membawa kami keluar.

Kami tidak langsung pulang ke rumah Ibu.

Nara dibawa memeriksakan kondisi fisiknya terlebih dulu.

Sementara menunggu, aku membuka tas kecilnya.

Di dalamnya ada buku tulis.

Pensil.

Dua bungkus biskuit.

Dan amplop sekolah.

Nama sekolahnya bukan sekolah berasrama di Jombang.

Itu SD swasta yang dulu hanya berjarak sepuluh menit dari rumah Ibu.

Pada bagian depan amplop tertulis:

Tunggakan: 7 bulan.

Jumlahnya Rp6,4 juta.

Aku membaca angka itu dua kali.

Selama tujuh bulan yang sama, aku sudah mengirim lebih dari Rp15 juta khusus untuk kebutuhan Nara.

Ketika Ibu akhirnya datang ke klinik bersama Adi, aku meletakkan amplop tersebut di meja.

Ibu tidak bertanya kenapa Nara berada di sana.

Dia hanya berkata,

“Kita pulang dulu. Jangan bahas di tempat orang.”

Aku menatapnya lama.

“Ibu tahu?”

Wajah Ibu menegang.

Adi memotong.

“Kak, dengar dulu. Ini enggak seperti yang Kakak pikir.”

Aku menoleh kepadanya.

“Aku pikir apa?”

Adi tidak menjawab.

Aku mengeluarkan ponsel dan membuka riwayat transfer.

“Januari, Rp2,2 juta. Februari, Rp2,2 juta. Maret, April, Mei. Semua masuk ke rekening Ibu.”

Ibu meremas ujung jilbabnya.

“Kami memang pakai sebagian.”

“Sebagian?”

“Adi lagi kesulitan.”

Aku tertawa sekali.

Pendek.

“Jadi sekolah Nara dihentikan?”

“Bukan dihentikan,” kata Adi. “Cuma belum dibayar.”

“Tujuh bulan.”

“Kakak enggak ngerti keadaan di rumah.”

Kalimat itu membuatku diam.

Selama bertahun-tahun aku takut dianggap sebagai anak yang meninggalkan keluarga.

Adi tinggal bersama Ibu.

Aku tidak.

Itulah kartu yang selalu dia gunakan.

“Kamu benar,” kataku akhirnya. “Aku memang enggak tahu keadaan di rumah.”

Aku menatap Nara yang duduk sambil memegang gelas air.

“Makanya mulai sekarang aku mau tahu semuanya.”

Adi berdiri.

“Jangan bikin urusan tambah besar.”

“Urusannya sudah besar.”

Ibu menarik lenganku.

“Dewi, jangan di sini.”

Aku melepaskan tangannya perlahan.

“Aku enggak akan teriak. Aku juga enggak akan mempermalukan Ibu.”

Aku memasukkan amplop tunggakan ke tas.

“Tapi malam ini Nara ikut aku.”

Adi langsung menyela.

“Enggak bisa.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

Dia membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Itu bukan reaksi orang yang hanya takut kehilangan kendali atas seorang anak.

Ada sesuatu yang lain.

Aku baru mengetahuinya keesokan pagi.

Saat hendak mengambil beberapa pakaian Nara dari rumah Ibu, aku menemukan map cokelat di lemari ruang tamu.

Di dalamnya terdapat salinan perjanjian pinjaman atas nama Ibu.

Aku hampir menutupnya lagi.

Sampai melihat satu lembar lain yang diselipkan di belakang.

Daftar pembayaran cicilan enam bulan terakhir.

Nominalnya hampir sama persis dengan uang yang kukirim setiap bulan.

Dan pada bagian keterangan usaha tertulis nama yang membuatku sadar bahwa kebohongan soal sekolah Nara bukan awal dari masalah kami.

Nama usaha itu adalah laundry yang kemarin kami datangi.

Pemilik usahanya di atas kertas bukan Adi.

Melainkan Mira, istrinya.

Saat itu aku tahu uang sekolah Nara hanya salah satu pintu. Kalau kamu jadi aku, apakah kamu akan menghadapi keluarga malam itu juga, atau mencari tahu dulu seberapa jauh semuanya sudah berjalan? Bagian 3 adalah saat alasan “demi keluarga” akhirnya berhenti terdengar seperti alasan yang masuk akal.

BAGIAN 3

Aku tidak membawa map itu keluar rumah.

Aku memotretnya halaman demi halaman, lalu mengembalikannya persis seperti semula.

Dulu aku akan langsung bertanya.

Atau sebaliknya, aku akan diam total karena takut dianggap menuduh.

Kali ini aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan dalam keluarga kami.

Aku memutuskan mencari fakta sebelum menerima penjelasan siapa pun.

Nara menunggu di kontrakanku bersama teman dekatku, Bu Ratih, yang tinggal di sebelah.

Sebelum pergi, aku bertanya satu hal.

“Nara, Tante enggak mau bikin kamu takut. Tapi Tante perlu tahu. Kamu tinggal di ruko itu sejak kapan?”

Dia menghitung dengan jari.

“Sejak setelah ulang tahun Dinda.”

Aku tidak tahu siapa Dinda.

“Bulan apa?”

“April.”

Sekarang sudah hampir September.

Aku menelan napas.

“Hampir lima bulan?”

Nara mengangguk.

“Awalnya sama Nenek.”

Aku terdiam.

“Nenek pernah tinggal di sana?”

“Cuma beberapa hari. Habis itu Nenek pulang.”

“Kenapa kamu enggak ikut?”

“Om Adi bilang rumah lagi banyak orang nagih.”

Kalimat anak sembilan tahun itu terdengar terlalu dewasa.

“Siapa yang nagih?”

“Enggak tahu.”

“Terus tiap hari siapa yang kasih makan?”

“Kadang Om. Kadang Tante Mira.”

“Kamu selalu dikunci?”

Nara memandang lantai.

“Kalau mereka pergi.”

Aku menahan kemarahan yang naik ke tenggorokan.

“Kenapa?”

“Katanya supaya aku enggak keluar ke jalan.”

Masuk akal bagi orang yang ingin membenarkan dirinya.

Tidak masuk akal bagi siapa pun yang melihat anak itu lima bulan kehilangan sekolah dan hidup di gudang bekas laundry.

Aku mencium kepalanya.

“Tante akan urus.”

Nara menarik lengan bajuku.

“Jangan bikin Nenek sakit.”

Aku mengangguk.

“Aku enggak akan sengaja menyakiti Nenek.”

Aku tidak menjanjikan bahwa Neneknya tidak akan sedih.

Ada perbedaan besar di antara keduanya.

Pagi itu aku mendatangi sekolah lama Nara.

Aku tidak datang dengan marah.

Aku memperkenalkan diri sebagai bibinya, menunjukkan dokumen yang diperlukan, lalu meminta penjelasan tentang status sekolahnya.

Staf administrasi mengatakan Nara berhenti hadir rutin sejak Februari.

Pembayaran terakhir masuk pada Januari.

Beberapa kali wali kelas menghubungi nomor yang terdaftar.

Nomornya milik Adi.

“Jawabannya selalu Nara sakit atau sedang ikut keluarga ke luar kota,” kata staf itu.

Aku duduk diam.

“Pernah ada surat pindah sekolah?”

“Tidak.”

“Jadi dia tidak pernah resmi pindah?”

“Tidak, Bu.”

Satu kebohongan selesai.

Tidak pernah ada sekolah berasrama di Jombang.

Aku kemudian mendatangi pengelola ruko.

Pemilik bangunan mengenal Adi sebagai orang yang menyewa tempat tersebut bersama Mira hampir dua tahun sebelumnya untuk usaha laundry.

Usaha berhenti beroperasi sekitar delapan bulan lalu.

Tunggakan sewanya menumpuk.

Mereka berjanji akan mengosongkan ruko, tetapi belum dilakukan karena masih menyimpan mesin dan beberapa barang.

“Anak kecil tinggal di situ?” tanya pemiliknya, wajahnya berubah.

Aku tidak menjelaskan panjang.

“Bapak pernah memberi izin?”

“Tidak.”

Itu fakta kedua.

Setelah itu aku menemui bank tempat rekening Ibu berada.

Aku tidak bisa meminta informasi transaksi Ibu tanpa izin.

Aku tahu itu.

Jadi aku tidak datang untuk membongkar rekening orang lain.

Aku datang untuk membicarakan rekeningku sendiri.

Selama hampir tiga tahun, transfer kepada Ibu selalu berasal dari rekening yang sama.

Aku mencetak mutasi dan menandai semua pengiriman.

Totalnya lebih dari Rp70 juta.

Aku duduk cukup lama di kursi tunggu sambil menatap angka itu.

Bukan karena seluruh uang tersebut hilang.

Ibu memang makan.

Minum obat.

Membayar listrik.

Nara juga tetap makan.

Tidak semua pengiriman diselewengkan.

Justru itu yang membuat semuanya rumit.

Kalau seseorang mencuri seluruh uangmu, kemarahan terasa sederhana.

Kalau seseorang memakai sebagian dengan benar dan sebagian lagi diam-diam untuk menyelamatkan orang yang selalu dia bela, rasa sakitnya berbeda.

Ada cinta di sana.

Tapi cinta yang dipakai tanpa batas bisa melukai sama dalamnya.

Sore harinya aku menelepon Mira.

Dia tidak menjawab.

Aku mengirim satu pesan.

Aku sudah tahu soal laundry dan pinjaman Ibu. Besok jam sepuluh aku mau bicara. Kalau kamu tidak datang, aku tetap bicara dengan Adi dan Ibu.

Lima menit kemudian dia menelepon.

“Kak Dewi, jangan langsung menuduh.”

“Aku belum menuduh.”

“Adi lagi stres.”

“Aku enggak tanya kondisi Adi.”

Dia terdiam.

“Aku tanya kamu akan datang atau tidak.”

Mira menghela napas.

“Datang.”

Keesokan harinya kami berkumpul di rumah Ibu.

Aku sengaja memilih pagi.

Bukan malam ketika semua orang sudah lelah.

Bukan acara keluarga.

Bukan Lebaran.

Aku tidak ingin mempermalukan siapa pun di depan tetangga atau saudara.

Aku hanya ingin tidak ada lagi tempat bersembunyi.

Ibu duduk di ujung meja makan.

Adi di sebelahnya.

Mira duduk berhadapan denganku sambil terus memeriksa ponsel meskipun layar tidak pernah benar-benar dia buka.

Aku meletakkan tiga lembar kertas.

Pertama, catatan tunggakan sekolah.

Kedua, foto perjanjian pinjaman.

Ketiga, daftar transferku.

Adi langsung memajukan tubuh.

“Kakak buka-buka lemari Ibu?”

“Aku cari baju Nara.”

“Itu bukan urusan Kakak.”

Aku mengangkat mata.

“Uang yang dipakai bayar cicilan berasal dari transferku.”

Adi menyandarkan punggung.

“Enggak semuanya.”

“Bagus. Kita mulai dari situ.”

Ibu menyela.

“Dewi, sebenarnya Ibu mau jelaskan.”

“Aku dengarkan.”

Ibu tampak tidak siap karena aku tidak langsung marah.

Tangannya meremas tisu.

“Waktu laundry mulai sepi, Adi butuh tambahan modal.”

Aku menunggu.

“Berapa?”

Ibu memandang Adi.

Adi menjawab, “Awalnya Rp35 juta.”

“Awalnya?”

Dia menarik napas.

“Ada tambahan.”

“Total?”

“Sekitar Rp82 juta.”

Aku bahkan tidak bereaksi.

Mungkin karena angkanya sudah terlalu besar untuk mengejutkanku dengan cepat.

“Pinjam dari mana?”

“Koperasi sama bank.”

“Jaminannya?”

Ibu berkata pelan, “Sertifikat rumah.”

Aku menatapnya.

Rumah itu rumah yang dibeli Ayah bertahun-tahun lalu.

Setelah Ayah meninggal, proses kepemilikannya memang beralih kepada Ibu sesuai pembagian dan kesepakatan keluarga yang sudah kami selesaikan bertahun-tahun sebelumnya.

Secara hukum, aku tidak bisa berpura-pura rumah itu milikku.

Tapi itu tempat terakhir yang kami punya sebagai rumah keluarga.

“Jadi Ibu tanda tangan sendiri?”

Ibu mengangguk.

Tidak ada pemalsuan.

Tidak ada tanda tangan palsu.

Justru itu lebih berat.

“Ibu tahu risikonya?”

“Waktu itu usahanya masih jalan.”

Aku menoleh ke Adi.

“Dan sekarang?”

“Masih bisa diselamatkan.”

Mira akhirnya bicara.

“Mesinnya masih ada.”

Aku menatapnya.

“Mesin yang lima bulan berada satu ruangan dengan anak sembilan tahun?”

Wajah Mira berubah.

“Itu beda ruang.”

Aku hampir tertawa.

“Kamu mau membela diri dengan ukuran ruangan?”

“Jangan putar kata-kataku.”

“Aku tidak perlu.”

Adi memukul meja pelan.

“Sudah. Jangan serang Mira.”

Aku menatap adikku.

“Kalau begitu jawab kamu.”

Dia berdiri.

“Aku sudah jawab dari kemarin. Aku lagi berusaha mempertahankan usaha.”

“Dengan menghentikan sekolah Nara?”

“Aku enggak pernah bilang berhenti.”

“Dia tidak masuk sejak Februari.”

“Karena belum ada uang.”

“Setiap bulan ada Rp2,2 juta.”

“Itu juga dipakai makan di rumah!”

“Aku tahu.”

Aku mengangguk.

“Makanya aku enggak bilang kalian mencuri seluruhnya.”

Adi terdiam.

“Tapi kalian membuat keputusan tentang uang itu tanpa pernah memberitahuku.”

Ibu menangis pelan.

“Kalau Ibu bilang, kamu pasti enggak kasih.”

Aku memandangnya.

“Jadi karena Ibu tahu aku akan menolak, Ibu memilih bohong?”

“Jangan bilang bohong begitu.”

“Aku selama dua tahun diberi tahu Nara sekolah di Jombang.”

Ibu menunduk.

“Apa namanya?”

Tidak ada jawaban.

Mira menatap jam.

Aku menoleh kepadanya.

“Kamu mau pergi?”

“Anak saya pulang sekolah jam dua belas.”

Kalimat itu membuatku kehilangan kesabaran untuk pertama kalinya.

Aku menatapnya cukup lama sampai dia ikut sadar.

“Anakmu masih sekolah.”

Mira membeku.

“Sedangkan Nara tinggal di gudang usaha kalian.”

“Kak Dewi…”

“Jangan.”

Aku menunjuknya.

“Jangan pakai suara lembut sekarang.”

Adi berdiri di antara kami.

“Cukup!”

Aku ikut berdiri.

“Belum.”

“Kakak datang ke sini seolah paling berjasa!”

Kalimat itu akhirnya keluar.

Kalimat yang mungkin selama ini disimpannya.

“Aku yang tinggal sama Ibu,” katanya. “Aku yang antar Ibu periksa. Aku yang benerin genteng. Aku yang bangun kalau Ibu sesak malam-malam. Kakak tinggal transfer uang lalu merasa berhak mengatur semuanya.”

Aku menatapnya.

Aneh, tetapi aku tidak tersinggung.

Karena sebagian perkataannya benar.

Aku memang tidak ada di sana setiap hari.

Aku memang hanya datang sesekali.

Aku menarik kursi lalu duduk kembali.

“Benar.”

Adi tampak tidak menyangka.

“Apa?”

“Kamu benar.”

Ibu mengangkat kepala.

“Kamu yang paling banyak menemani Ibu secara fisik. Itu pekerjaan. Itu beban. Dan selama ini mungkin aku terlalu gampang berpikir transfer uang sudah cukup.”

Adi masih berdiri.

“Tapi,” lanjutku, “merawat Ibu tidak memberimu hak mengambil uang sekolah Nara. Dan membayar obat Ibu tidak memberiku hak mengatur seluruh hidup Ibu.”

Aku menatap Ibu.

“Kita semua salah kalau terus mencampur semua kewajiban sampai tidak ada batas.”

Tidak ada yang bicara.

Aku mengambil satu lembar kertas kosong.

“Sekarang aku mau tahu kondisi pinjaman.”

Adi duduk perlahan.

Cicilan total sekitar Rp3,1 juta per bulan.

Tunggakan dua bulan.

Laundry nyaris tidak menghasilkan apa-apa.

Mira masih menerima beberapa pesanan melalui WhatsApp, tetapi sebagian besar dikerjakan di rumah saudaranya karena mesin besar di ruko tidak lagi efisien.

“Kenapa tetap mempertahankan ruko?” tanyaku.

Mira menjawab, “Kalau dilepas, usahanya benar-benar selesai.”

“Usahanya sudah selesai delapan bulan lalu,” kataku.

Adi menatap tajam.

“Enak buat Kakak bilang begitu.”

“Justru karena enggak enak makanya tidak ada yang bilang.”

Aku menoleh kepada Ibu.

“Berapa uang pensiun Ibu yang dipakai?”

“Tidak banyak.”

“Ibu.”

“Sekitar Rp18 juta dari tabungan.”

Aku menutup mata sebentar.

Itulah saat aku melihat pola sebenarnya.

Bukan Adi diam-diam mengambil satu kali.

Bukan Ibu melakukan satu kebohongan.

Seluruh keluarga kami sudah membentuk sistem.

Adi gagal.

Ibu menutup lubangnya.

Tabungan Ibu menipis.

Uangku dialihkan.

Ketika uang masih kurang, sekolah Nara dikorbankan karena anak itu dianggap tidak akan protes.

Saat keadaan makin buruk, tidak ada yang berani memberitahuku karena mereka sudah telanjur terlalu jauh.

Dan aku sendiri ikut menciptakan sistem itu dengan kebiasaanku berkata,

“Kalau kurang bilang.”

Aku tidak pernah menambahkan satu kalimat penting:

“Dan jelaskan untuk apa.”

Aku menatap Adi.

“Kenapa Nara dipindah ke ruko?”

Dia mengusap wajah.

“Karena ada orang koperasi beberapa kali datang ke rumah.”

“Terus?”

“Nara pernah bilang ke mereka soal Ibu sering nangis dan soal aku enggak kerja.”

“Jadi?”

“Aku takut dia ngomong macam-macam lagi.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Dia anak kecil.”

“Aku tahu.”

“Bukan. Kalau kamu tahu, kamu enggak akan mengurung dia supaya masalah keuanganmu kelihatan rapi.”

“Aku tidak mengurung!”

“Pintu digembok dari luar.”

“Biar dia aman!”

“Dari siapa?”

Adi tidak menjawab.

Aku mencondongkan tubuh.

“Dari jalan? Atau dari kenyataan bahwa kalau dia keluar, orang akan tahu dia tidak sekolah?”

Wajahnya memerah.

Mira berkata pelan, “Aku sudah bilang jangan lama-lama.”

Aku menoleh.

Itu kalimat pertama yang membuatku melihat sesuatu yang berbeda.

“Kamu tahu dari awal?”

Mira menggeleng cepat.

“Aku tahu dia sering di ruko. Tapi awalnya Adi bilang cuma setelah pulang sekolah.”

“Nara sudah tidak sekolah.”

“Aku baru tahu belakangan.”

Adi memandang istrinya.

“Mira.”

“Memang.”

“Kamu sekarang nyalahin aku?”

“Aku enggak nyalahin. Aku bilang apa yang terjadi.”

Untuk pertama kalinya, pertengkaran mereka tidak berpusat padaku.

Mira menatap meja.

“Aku juga salah.”

Adi mendengus.

Mira melanjutkan, “Aku tahu uang Ibu dipakai. Aku tahu Kak Dewi kirim tiap bulan. Tapi aku enggak tahu Adi bilang ke Kak Dewi kalau Nara di sekolah Jombang.”

Aku memandang Ibu.

Ibu mengusap pipinya.

“Yang bilang itu Ibu.”

Di situlah twist yang paling menyakitkan datang.

Bukan Adi yang menciptakan kebohongan tentang sekolah berasrama.

Ibu.

“Kenapa?”

Ibu menangis.

“Karena waktu itu kamu bilang mau ambil Nara.”

Aku diam.

“Ibu takut.”

“Takut apa?”

“Kalau Nara ikut kamu, rumah jadi sepi.”

Kalimat itu sederhana.

Terlalu sederhana untuk semua akibat yang muncul setelahnya.

Ibu melanjutkan dengan suara pecah.

“Rini sudah enggak ada. Kamu tinggal sendiri. Kalau Nara pergi juga, Ibu tinggal sama Adi dan Mira. Mereka juga punya hidup sendiri.”

Adi memotong, “Bu, jangan bawa kami.”

“Tapi memang begitu.”

Ibu memandangku.

“Awalnya Ibu cuma ingin Nara tetap di rumah. Jadi Ibu bilang dia sekolah di Jombang supaya kamu enggak terus minta membawanya.”

“Lalu saat uang mulai dipakai untuk utang Adi?”

Ibu menunduk.

“Ibu pikir sebentar.”

“Berapa kali Ibu bilang begitu dalam hati?”

Tidak ada jawaban.

Aku akhirnya memahami sesuatu yang selama ini luput.

Ibu tidak sepenuhnya dikendalikan Adi.

Tapi Ibu juga bukan otak jahat di balik semuanya.

Dia takut kehilangan orang.

Takut rumah kosong.

Takut anak laki-lakinya pindah kalau tidak dibantu.

Takut cucunya ikut denganku.

Setiap keputusan buruk dibuat untuk mempertahankan seseorang tetap dekat.

Ironisnya, justru kebohongan itu hampir menghancurkan hubungan kami semua.

Aku berdiri.

“Aku sudah putuskan tiga hal.”

Adi langsung menatapku curiga.

“Pertama, Nara tinggal denganku sampai urusan sekolahnya jelas.”

Ibu hendak bicara.

Aku mengangkat tangan.

“Tunggu.”

Ibu diam.

“Aku tidak bilang Ibu enggak boleh bertemu. Ibu neneknya. Nara sayang Ibu. Tapi untuk sekarang dia tinggal denganku.”

Aku menatap Adi.

“Kedua, mulai bulan depan aku berhenti transfer uang bulanan ke rekening Ibu.”

Ibu terkejut.

“Terus obat Ibu?”

“Aku bayar langsung BPJS yang perlu, obat yang tidak ditanggung akan kubeli, listrik bagian Ibu bisa aku bantu langsung. Tapi tidak ada lagi uang tanpa keterangan.”

Adi tertawa sinis.

“Jadi sekarang semua harus pakai laporan?”

“Kalau uangku dipakai, iya.”

“Ini keluarga.”

“Justru karena keluarga, kita seharusnya tidak perlu berbohong.”

Dia tidak bisa menjawab.

“Ketiga, utang laundry bukan utangku.”

Adi bangkit lagi.

“Kakak mau biarkan rumah Ibu disita?”

Aku memandangnya.

“Tidak.”

Wajahnya sedikit lega.

“Tapi aku juga tidak akan membayar Rp82 juta.”

Rautnya kembali keras.

“Terus bagaimana?”

“Kalian jual mesin yang masih punya nilai. Tutup ruko. Hentikan biaya yang cuma dipertahankan karena gengsi. Mira lanjut laundry dari rumah kalau masih mau. Kamu cari pekerjaan tetap sambil cicil.”

“Aku sudah bangun usaha itu dua tahun.”

“Dan delapan bulan terakhir kamu mempertahankan nama usaha, bukan usahanya.”

“Itu gampang buat Kakak.”

Aku mengangguk.

“Mungkin.”

Aku mengambil tas.

“Tapi yang sulit bukan alasan untuk terus memakai uang anak kecil.”

Percakapan berhenti di situ.

Bukan karena semua orang setuju.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada permintaan maaf besar.

Adi keluar rumah dan membanting pagar.

Mira pulang lima menit kemudian.

Ibu masuk kamar.

Aku duduk sendirian di meja makan yang sejak kecil selalu menjadi tempat kami membahas uang sekolah, tagihan listrik, siapa yang mudik duluan, sampai siapa yang harus membawa lauk ketika Lebaran.

Untuk pertama kalinya, meja itu terasa seperti benda biasa.

Bukan pengadilan.

Bukan tempat aku harus selalu mengalah.

Tiga hari kemudian aku mulai mengurus sekolah Nara.

Dia tidak langsung kembali ke kelas lamanya.

Karena terlalu lama absen, sekolah meminta penilaian ulang dan beberapa proses administrasi.

Aku mengikuti semuanya.

Aku juga sadar membawa anak sembilan tahun ke kontrakan kecilku bukan keputusan ringan.

Jam kerjaku panjang.

Jadi aku bicara dengan Pak Giman.

Aku tidak menceritakan seluruh drama keluarga.

Aku hanya berkata aku perlu mengubah jam kerja beberapa minggu.

Dia mengizinkan.

Bu Ratih membantu menjemput Nara beberapa kali dengan imbalan yang jelas, bukan “tolong tetangga” tanpa batas.

Aku belajar satu hal dari masalah keluargaku.

Bantuan yang sehat lebih mudah dijaga ketika batasnya jelas.

Dua minggu kemudian Adi menelepon.

“Kak.”

“Ya?”

“Aku sudah bicara sama orang ruko.”

Aku menunggu.

“Mesin besar mau dijual.”

“Bagus.”

“Jangan jawab kayak bos.”

Aku hampir tersenyum.

“Terus aku harus jawab apa?”

Dia diam sebentar.

“Aku juga dapat panggilan kerja dari kenalan lama.”

“Di mana?”

“Gudang ekspedisi.”

“Ambil kalau cocok.”

“Gajinya enggak sebesar usaha kalau laundry jalan.”

“Laundry-nya enggak jalan, Di.”

Dia mengembuskan napas.

“Iya.”

Itu mungkin pertama kalinya aku mendengar dia mengucapkan kenyataan tersebut tanpa melawan.

Kami tidak langsung akur.

Selama beberapa minggu percakapan kami hanya soal praktis.

Tunggakan pinjaman.

Penjualan mesin.

Pengosongan ruko.

Cicilan.

Obat Ibu.

Nara.

Satu mesin cuci industri dan pengering berhasil dijual total Rp27 juta.

Sebagian dipakai membayar tunggakan dan menurunkan pokok pinjaman.

Mira melanjutkan laundry kecil dari rumah saudaranya dengan dua mesin biasa.

Adi menerima pekerjaan gudang.

Pendapatannya memang lebih kecil dari mimpi yang dulu dia punya.

Tapi untuk pertama kalinya setelah lama, dia memiliki pemasukan tetap yang benar-benar masuk setiap bulan.

Rumah Ibu belum sepenuhnya aman.

Pinjaman masih ada.

Namun cicilan kembali berjalan.

Mereka juga meminta restrukturisasi sesuai kemampuan setelah bicara dengan pihak pemberi pinjaman.

Tidak ada keajaiban.

Tidak ada orang kaya yang datang melunasi semuanya.

Utangnya tetap harus dibayar.

Hanya saja sekarang bukan Nara yang membayar dengan kehilangan sekolah.

Sebulan setelah kejadian, Ibu datang ke kontrakanku.

Dia membawa kotak makan.

Sayur asem.

Tempe goreng.

Sambal.

Makanan yang selalu dibuatnya ketika merasa bersalah tetapi tidak tahu cara memulai percakapan.

Kami duduk di lantai.

Nara sedang mengerjakan latihan matematika.

Ibu memperhatikannya lama.

“Dia kelihatan lebih kurus.”

Aku tidak menjawab.

Ibu mengusap ujung taplak plastik.

“Dewi.”

“Ya.”

“Ibu minta maaf.”

Aku menatapnya.

Tidak ada pidato.

Tidak ada alasan.

Aku menunggu.

Ibu menarik napas.

“Ibu takut ditinggal sendirian.”

“Aku tahu.”

“Bukan berarti Ibu benar.”

Aku mengangguk.

Itulah kalimat yang selama ini kubutuhkan.

Bukan penjelasan.

Bukan air mata.

Pengakuan bahwa rasa takut tidak otomatis membuat tindakan menjadi benar.

“Aku juga salah, Bu.”

Ibu menatapku.

“Aku terlalu lama mengira kalau aku transfer uang, berarti tugasku selesai.”

“Kamu sudah banyak bantu.”

“Bantuan juga bisa bikin orang terbiasa kalau enggak pernah ada batas.”

Ibu tidak membantah.

Kami makan.

Nara akhirnya duduk di antara kami sambil mengeluh soal pecahan.

Tidak ada musik emosional.

Tidak ada keluarga kami tiba-tiba kembali sempurna.

Tapi hari itu kami mulai bicara dengan cara yang berbeda.

Dua bulan kemudian Nara resmi kembali sekolah.

Dia tertinggal beberapa pelajaran, terutama matematika dan bahasa Inggris.

Setiap malam aku duduk bersamanya.

Kadang aku sendiri tidak mengerti soal yang dia kerjakan.

Kami mencari jawabannya bersama.

Suatu malam dia bertanya,

“Tante, aku nanti balik tinggal sama Nenek?”

Aku meletakkan pensil.

“Kamu mau?”

Dia berpikir.

“Aku mau sering ke sana.”

“Tapi?”

“Aku mau tinggal sama Tante dulu.”

Aku mengangguk.

“Boleh.”

Aku tidak menjadikan Nara hadiah kemenangan.

Dia bukan benda yang diperebutkan.

Beberapa bulan kemudian kami membuat pola baru.

Akhir pekan tertentu dia menginap di rumah Ibu.

Adi tidak lagi menjadi orang yang mengatur semua kebutuhan Nara.

Uang sekolah kubayar langsung.

Seragam kubeli sendiri.

Kalau Ibu butuh obat, dia mengirim foto resep.

Awalnya terasa kaku.

Lama-lama justru lebih ringan.

Tidak ada lagi percakapan,

“Uangnya kurang.”

“Buat apa?”

“Ya macam-macam.”

Semua lebih jelas.

Hubunganku dengan Adi paling lambat pulih.

Suatu sore, hampir enam bulan setelah kejadian, dia datang ke gudang tempatku bekerja.

Aku sedang menimbang kabel ketika melihatnya berdiri dekat pintu.

“Kok ke sini?”

Dia memasukkan tangan ke saku.

“Mau balikin ini.”

Dia mengeluarkan Rp1 juta.

Aku menatap uang itu.

“Apaan?”

“Cicilan pertama.”

“Cicilan apa?”

“Uang Kakak yang dulu kepakai.”

Aku hampir mengatakan tidak perlu.

Kebiasaan lama.

Kalimat itu sudah sampai di ujung lidah.

Lalu aku berhenti.

“Berapa total yang menurutmu harus kamu ganti?”

Adi menjawab, “Aku hitung yang benar-benar masuk cicilan usaha dari transfer Kakak. Sekitar Rp19 juta.”

Aku mengangguk.

“Bikin catatan.”

Dia menatapku heran.

“Serius?”

“Iya.”

“Kakak berubah.”

“Untung.”

Dia tertawa kecil.

Aku menerima uang itu.

Bukan karena aku membutuhkannya untuk hidup.

Tapi karena konsekuensi juga bagian dari memperbaiki hubungan.

Kalau setiap kerugian langsung kuhapus demi menjaga perasaan, kami akan kembali ke pola lama.

Adi membayar tidak selalu tepat waktu.

Kadang Rp500 ribu.

Kadang Rp1 juta.

Pernah dua bulan tidak membayar karena anaknya sakit.

Dia memberi tahu sebelum aku bertanya.

Itu sudah berbeda.

Radio tua yang memulai semuanya tidak pernah kembali kepadaku.

Setelah diperiksa, alat itu rupanya memang perangkat komunikasi lama milik laundry yang tercampur dengan barang elektronik buangan ketika sebagian inventaris mereka dijual kiloan.

Satu unit lain tertinggal di ruko.

Nara menemukannya di bawah kardus.

Baterainya hampir habis.

Dia menekan tombol berulang kali sampai kebetulan tersambung dengan unit yang kutemukan beberapa kilometer dari sana.

Kebetulan mempertemukan suara kami.

Tapi kebetulan tidak menyelesaikan apa pun.

Setelah suara itu terdengar, tetap ada pilihan.

Mau bertanya atau mengabaikan.

Mau melihat fakta atau menerima alasan keluarga.

Mau terus menjadi orang yang selalu berkata iya, atau mulai mengatakan,

“Aku tetap sayang kalian, tapi yang ini tidak.”

Hampir setahun setelah hari itu, aku masih bekerja di tempat yang sama.

Aku tidak mendadak kaya.

Aku tidak mendapat pekerjaan mewah.

Tidak ada orang yang menghadiahiku rumah.

Hidupku justru bertambah ramai karena sekarang ada tas sekolah Nara di dekat pintu kontrakan, botol minumnya di meja, dan sandal kecil yang hampir selalu terbalik di depan kamar.

Suatu pagi sebelum berangkat kerja, aku mendengar bunyi berderak dari radio milik satpam kompleks.

Nara yang sedang memakai sepatu langsung menoleh.

“Tante.”

“Hm?”

“Kayak radio waktu itu.”

Aku ikut menoleh.

Dulu suara seperti itu membuat dadaku sesak.

Sekarang aku hanya tersenyum.

Aku membetulkan tali sepatunya.

“Sudah. Nanti terlambat.”

Dia berdiri, mengambil tas, lalu berlari ke depan.

Aku mengunci pintu kontrakan.

Di tanganku ada ponsel.

Hari itu tanggal tiga.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku tidak membuka aplikasi bank untuk mengirim Rp2,2 juta kepada Ibu.

Aku hanya mengirim pesan.

Bu, obat bulan ini sudah aku pesan. Besok sampai. Minggu kami ke rumah. Nara minta dibuatkan tempe bacem.

Balasan Ibu datang beberapa menit kemudian.

Iya. Hati-hati kerja.

Sesederhana itu.

Tidak ada rasa bersalah.

Tidak ada ketakutan bahwa berkata tidak berarti berhenti menjadi anak yang berbakti.

Aku memasukkan ponsel ke tas dan menggandeng Nara menuju ujung gang.

Kadang keluarga tidak hancur karena seseorang memasang batas.

Kadang justru batas itulah yang akhirnya membuat orang-orang di dalamnya berhenti saling melukai atas nama kasih sayang.

Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai akhir. Semoga kamu dan keluargamu selalu diberi kesehatan, ketenangan, dan keberanian untuk saling menyayangi tanpa menghilangkan batas yang sehat. Kalau kamu berada di posisiku, apakah kamu akan tetap membantu Ibu dan Adi setelah semua yang terjadi, atau memilih menjaga jarak lebih jauh? Tulis pendapatmu di kolom komentar. Kalau cerita ini terasa dekat dengan kehidupan nyata, kamu boleh membagikannya kepada orang lain yang mungkin perlu membacanya.