Aku Pulang dari Malaysia Tanpa Kabar dan Menemukan Anakku yang Berusia Delapan Tahun Membawa Sapi di Jam Sekolah, tapi yang Membuatku Tak Bisa Diam Justru Hal yang Baru Kuketahui Setelahnya

Avatar penulis
Cerita 01
26 menit baca 719 tayangan
Aku Pulang dari Malaysia Tanpa Kabar dan Menemukan Anakku yang Berusia Delapan Tahun Membawa Sapi di Jam Sekolah, tapi yang Membuatku Tak Bisa Diam Justru Hal yang Baru Kuketahui Setelahnya
Indeks

BAGIAN 2

Aku tidak menunjukkan pesan Bu Ratna kepada siapa pun.

Pagi berikutnya, sebelum pukul tujuh, aku membangunkan Arga.

“Bangun. Kita berangkat sekolah.”

Matanya terbuka lebar.

“Sekarang?”

“Iya.”

Dia memandang ke pintu kamar.

Gerakan kecil itu membuatku semakin gelisah.

Aku membantunya mengenakan seragam.

Baju putihnya terasa agak pendek di lengan. Celana merahnya masih muat, tapi bagian lutut sudah kusam.

Sepatu baru yang kubawa dari Malaysia kupasang sendiri.

Saat kami keluar kamar, Fajar sedang minum kopi.

“Mau ke mana?”

“Sekolah.”

Dia menurunkan cangkir.

“Hari ini Arga enggak usah masuk dulu.”

“Kenapa?”

Aku Pulang dari Malaysia Tanpa Kabar dan Menemukan Anakku yang Berusia Delapan Tahun Membawa Sapi di Jam Sekolah, tapi yang Membuatku Tak Bisa Diam Justru Hal yang Baru Kuketahui Setelahnya

“Baru kamu pulang. Biar di rumah sama kamu.”

“Aku justru mau ketemu wali kelasnya.”

Fajar terdiam sepersekian detik.

Lalu ia tertawa pendek.

“Mau bahas apa?”

“Belum tahu. Makanya aku datang.”

Rini yang sedang menggoreng telur tidak menoleh.

Di perjalanan, Arga memegang tanganku lebih erat daripada biasanya.

Sekolahnya hanya sekitar dua kilometer dari rumah.

Begitu kami masuk halaman, beberapa anak memanggil namanya.

“Arga!”

Ada yang melambaikan tangan.

Arga membalas, tapi tubuhnya tetap dekat kepadaku.

Bu Ratna menungguku di ruang guru.

Perempuan itu mungkin berusia awal empat puluhan. Dia menyuruh Arga masuk kelas terlebih dahulu.

Setelah pintu tertutup, ia mengambil sebuah map tipis.

“Bu Lestari, saya ingin memastikan dulu. Selama di Malaysia, apakah Ibu pernah meminta Arga mengurangi hari sekolah?”

Aku menatapnya.

“Tidak.”

Bu Ratna mengangguk pelan.

“Apakah Ibu pernah meminta Pak Fajar agar Arga hanya masuk dua atau tiga hari dalam seminggu?”

“Tidak pernah.”

Ia membuka lembar absensi.

Aku mendekat.

Bulan pertama masih normal.

Bulan berikutnya mulai ada banyak huruf I untuk izin.

Kemudian absen tanpa keterangan.

Lalu hadir satu hari, tidak hadir dua hari.

Pola itu semakin parah.

“Kenapa saya enggak pernah diberi tahu?”

“Kami beberapa kali menghubungi nomor keluarga yang terdaftar.”

“Nomor siapa?”

“Pak Fajar.”

Aku menahan napas.

Bu Ratna melanjutkan.

“Awalnya beliau bilang Arga sering sakit. Setelah itu katanya Arga harus membantu neneknya karena Ibu sedang kurang sehat.”

Aku hampir tertawa karena begitu absurd.

“Ibu saya memang punya tekanan darah tinggi. Tapi beliau bisa memasak sendiri. Bisa ke warung. Kenapa anak delapan tahun harus berhenti sekolah untuk menjaga beliau?”

Bu Ratna menutup map.

“Itu sebabnya kami mencoba mencari nomor Ibu.”

“Dari mana Ibu dapat?”

“Dari formulir lama kelas satu.”

Nomor lamaku masih aktif untuk WhatsApp.

“Kenapa baru menghubungi kemarin?”

Bu Ratna tampak tidak nyaman.

“Kami sudah pernah mengirim pesan dua bulan lalu.”

Aku mengeluarkan ponsel.

Tidak ada.

“Nomor ini?”

“Iya.”

Aku mencari nama sekolah, nama Bu Ratna, kata “Arga”.

Tidak ada.

Bu Ratna kemudian menyebut empat digit terakhir nomor yang dipakainya.

Benar.

Aku membuka daftar nomor yang diblokir.

Nama itu ada di sana.

Tanganku dingin.

Aku tidak pernah memblokir wali kelas Arga.

Satu-satunya orang di rumah yang pernah memegang ponselku sebelum aku berangkat adalah Fajar, karena dia membantuku memindahkan beberapa aplikasi dan nomor ke ponsel baru.

Namun aku belum berani menyimpulkan.

Belum.

Setelah keluar dari sekolah, aku tidak langsung pulang.

Aku mengajak Arga makan soto.

Dia hanya menghabiskan setengah mangkuk.

“Kamu sakit lagi?”

“Sedikit.”

“Sejak kapan perutmu sering sakit?”

“Lupa.”

“Kalau enggak sekolah, kamu biasanya ngapain?”

Dia mengaduk kuah.

“Macam-macam.”

“Bawa sapi?”

Kadang.

“Kadang itu berapa kali?”

Diam.

Aku tidak memaksa.

Aku hanya berkata, “Ibu enggak marah sama kamu.”

Arga menunduk.

“Aku tahu.”

“Tapi kamu takut bilang sesuatu?”

Sendoknya berhenti.

“Aku enggak boleh bikin Om tambah pusing.”

Kalimat itu bukan kalimat anak delapan tahun.

Aku membayar makan lalu membawa Arga ke puskesmas.

Dokter memeriksa perutnya, menimbang berat badan, mengukur tinggi, dan bertanya tentang kebiasaan makan.

Ketika ditanya apakah Arga sering melewatkan makan, dia melihat kepadaku dulu.

“Kadang.”

Dokter bertanya lagi, “Kamu sering minum obat kalau capek atau sakit badan?”

Arga langsung diam.

Aku menoleh.

“Obat apa?”

Dia menggigit bibir.

Dokter tidak memaksa.

Ia mengatakan lambung Arga tampak sensitif dan berat badannya turun cukup banyak dibanding catatan pemeriksaan sebelumnya. Ia meminta kami datang lagi setelah beberapa pemeriksaan dasar dan membawa semua obat yang biasa diminum Arga, kalau ada.

“Obatnya di rumah?” tanyaku setelah keluar.

Arga mengangguk.

“Siapa yang kasih?”

“Kadang Tante.”

“Kenapa?”

“Kalau badanku sakit.”

Aku berhenti berjalan.

“Badanmu sakit karena apa?”

Dia menatap tanah.

Sebelum dia sempat menjawab, ponselku berbunyi.

Fajar.

Aku tidak mengangkatnya.

Kami pulang menjelang siang.

Di halaman rumah, aku melihat tiga orang laki-laki duduk bersama Fajar. Salah satunya Pak Kardi, pemilik sapi yang kulihat kemarin.

Ketika mereka melihatku, percakapan berhenti.

Fajar berdiri.

“Kamu dari mana?”

“Sekolah. Puskesmas.”

Wajahnya berubah.

“Kenapa ke puskesmas?”

“Perut Arga.”

Pak Kardi ikut berdiri.

“Kalau begitu saya pulang dulu.”

Aku menatapnya.

“Pak.”

Ia berhenti.

“Saya mau tanya sesuatu.”

Fajar langsung berkata, “Nanti saja, Tari.”

Aku tidak menghiraukannya.

“Arga biasanya bantu Bapak berapa kali seminggu?”

Pak Kardi menoleh kepada Fajar.

Bukan kepadaku.

Saat itulah aku tahu pertanyaanku mengenai sapi tidak sesederhana yang kupikir.

“Pak,” kataku sekali lagi. “Saya ibunya.”

Pak Kardi mengusap tengkuk.

“Begini, Bu Lestari. Saya kira Ibu sudah tahu.”

“Tahu apa?”

Fajar berdiri.

“Kardi, sudah.”

Tapi Pak Kardi menjawab lebih dulu.

“Saya tidak pernah mempekerjakan Arga.”

Aku mengernyit.

“Lalu kemarin dia membawa sapi Bapak.”

“Iya.”

“Kalau bukan bekerja, buat apa?”

Pak Kardi melihat Fajar.

Kemudian ia berkata pelan,

“Dia membantu mengganti kewajiban kakak Ibu.”

Aku menoleh kepada Fajar.

“Kewajiban apa?”

Tidak ada satu pun orang di teras yang langsung menjawab.

Dan untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa ketidakhadiran Arga di sekolah mungkin bukan masalah terbesar yang sedang kusentuh.

Saat itu aku berhenti mencari alasan untuk menenangkan diri. Kalau kamu menjadi aku, apakah kamu akan menuntut jawaban di halaman itu juga, atau mencari tahu dulu apa sebenarnya ‘kewajiban’ yang mereka sembunyikan?

BAGIAN 3

Aku tidak membiarkan Pak Kardi pergi.

“Duduk dulu, Pak.”

Fajar menatapku tajam.

“Tari, ini urusan orang dewasa.”

Aku hampir tidak percaya mendengarnya.

Aku menunjuk Arga yang berdiri beberapa langkah dariku.

“Kalau urusan orang dewasa membuat anakku enggak masuk sekolah, berarti aku perlu tahu.”

Ibu muncul dari dalam rumah.

“Ada apa?”

Rini ikut keluar dari dapur.

Wajahnya pucat.

Pak Kardi tampak ingin berada di mana saja selain di teras rumah kami.

Akhirnya ia duduk kembali.

Fajar tidak.

Dia berdiri dengan kedua tangan di pinggang.

“Jangan bikin seolah aku menjual anakmu,” katanya.

“Aku belum bilang apa-apa.”

“Tapi mukamu sudah menuduh.”

“Karena belum ada yang mau menjelaskan.”

Pak Kardi berdeham.

“Sekitar tujuh bulan lalu, Fajar ambil dua ekor sapi bakalan dari saya.”

Aku menatap kakakku.

Aku tahu ia kadang membantu merawat sapi orang.

Aku tidak tahu ia pernah mengambil sapi sendiri.

“Beli?”

“Bukan langsung beli,” jawab Pak Kardi. “Sistem bagi hasil. Saya modal sapi, Fajar urus pakan dan perawatan. Nanti setelah dijual, hasil dibagi sesuai kesepakatan.”

Aku mengangguk.

Sistem seperti itu bukan hal asing di daerah kami.

“Terus?”

Pak Kardi mengusap lututnya.

“Salah satu sapi sakit.”

Fajar akhirnya menyela.

“Mati. Bilang saja.”

Pak Kardi mengangguk.

“Sapi itu mati. Ada biaya obat, ada kerugian. Sebenarnya risiko begitu mestinya dibicarakan baik-baik. Tapi waktu itu kami sepakat Fajar mengganti sebagian biaya secara bertahap.”

“Berapa?”

“Kurang lebih Rp9 juta.”

Aku memandang Fajar.

“Dari mana kamu mau bayar Rp9 juta?”

Dia tidak menjawab.

Pak Kardi melanjutkan.

“Fajar membantu lebih banyak di kandang. Ambil rumput. Bersihkan tempat sapi. Kadang saya hitung mengurangi kewajibannya.”

“Lalu Arga?”

Pak Kardi menunduk.

“Awalnya cuma ikut.”

“Awalnya?”

“Dia ikut cari rumput sepulang sekolah.”

Aku merasakan tengkukku panas.

“Kemudian?”

Pak Kardi menarik napas.

“Kalau Fajar ada kerja lain, Arga kadang yang mengantar sapi ke tanah lapang. Saya beberapa kali bilang jangan sering-sering.”

Fajar mendengus.

“Pak Kardi juga senang ada yang bantu.”

“Jar,” kata Pak Kardi, “jangan bawa saya ke situ. Saya pikir ibunya tahu.”

Aku menatap Fajar.

“Kamu bilang aku tahu?”

Dia mengusap wajah.

“Aku enggak pernah bilang begitu.”

“Tapi kamu membiarkan orang berpikir begitu.”

“Memangnya harus setiap hal minta izin kamu dari Malaysia?”

Aku tidak menjawab pertanyaan itu.

Aku menunjuk ke arah Arga.

“Dia enggak masuk sekolah berapa hari karena urusan sapi?”

Fajar mulai menaikkan suara.

“Bukan cuma sapi!”

Akhirnya.

Kalimat pertama yang jujur.

Aku berdiri diam.

“Apa lagi?”

Fajar memandang semua orang.

Ibu berkata pelan, “Jar…”

Namun aku sudah mendengar sesuatu dalam suara Ibu.

Bukan bingung.

Takut.

Aku menoleh kepadanya.

“Ibu tahu?”

Ibu tidak menjawab.

Rini memeluk lengannya sendiri.

Fajar menarik kursi dan duduk keras.

“Waktu sapi mati, aku sudah keluar banyak uang. Belum lagi utang pupuk kebun. Ada cicilan motor. Anak-anak sekolah.”

“Apa hubungannya dengan Arga?”

“Dengar dulu!”

“Aku dari tadi dengar.”

Dia menatapku.

“Kamu pikir uang Rp2,5 juta yang kamu kirim cukup untuk semua?”

Aku sampai kehilangan kata-kata beberapa detik.

“Untuk semua siapa?”

“Untuk hidup di rumah ini!”

“Aku enggak pernah bilang uang itu untuk membayar utang usahamu.”

“Aku enggak bilang semua buat utang.”

“Berarti ada yang dipakai?”

“Ya dipakai kebutuhan rumah!”

“Berapa?”

Fajar diam.

“Berapa, Jar?”

Rini akhirnya berkata pelan, “Aku pernah minta dia jangan pakai uang bagian sekolah Arga.”

Fajar menoleh cepat.

“Rin.”

“Aku capek diam.”

Itulah emotional reversal yang tidak kuduga.

Sejak pulang, aku memperhatikan Rini seperti orang yang ikut terlibat.

Ternyata perempuan itu justru orang pertama yang mulai retak karena menyimpan semuanya.

“Apa yang kamu tahu?” tanyaku.

Rini menatapku, kemudian Ibu.

“Waktu Mbak pertama kirim Rp2,5 juta, memang dipakai sesuai pesan. Tapi setelah sapi mati, Mas Fajar mulai ambil dari bagian itu.”

“Ambil berapa?”

“Kadang Rp500 ribu. Kadang satu juta.”

Fajar memotong.

“Nanti kuganti!”

“Kamu selalu bilang begitu,” jawab Rini.

Suasana teras berubah.

Bukan lagi aku melawan mereka.

Sekarang kebohongan mulai saling menarik benang sendiri.

Rini melanjutkan, “Lalu uang buku Arga dipakai bayar pakan. Uang daftar ulang yang Mbak kirim juga sebagian dipakai.”

Aku memandang Fajar.

“Jadi waktu kamu bilang daftar ulang sekolah naik, itu bohong?”

“Aku memang butuh uang.”

“Bukan itu pertanyaanku.”

Fajar menggertakkan rahang.

“Iya.”

Hanya satu kata.

Tapi rasanya seperti pintu akhirnya terbuka.

Aku teringat pesan-pesannya.

Buku sekarang mahal.

Ada iuran sekolah.

Seragam perlu ganti.

Bukan jumlah uangnya yang membuatku paling marah.

Melainkan bagaimana dia menggunakan nama anakku setiap kali meminta.

Seolah Arga adalah kuitansi yang bisa dipakai berulang kali.

Ibu duduk di kursi dekat pintu.

“Tari, waktu itu Fajar benar-benar kesulitan.”

Aku menatapnya.

“Jadi Ibu tahu.”

Ibu menekan ujung jarinya.

“Tidak semuanya.”

“Tapi tahu uang Arga dipakai?”

Ibu tidak menjawab.

Itu sudah cukup.

Aku merasa sedih dengan cara yang berbeda.

Kalau Fajar bohong, aku bisa marah.

Kalau Ibu tahu sebagian dan diam, kemarahanku tidak punya tempat yang rapi.

“Kenapa, Bu?”

Ibu memandang Arga yang berdiri di dekat pintu.

“Mikirnya cuma sebentar. Fajar juga yang selama ini ngurus kebun, rumah, antar Ibu berobat.”

Aku mengangguk perlahan.

Akhirnya aku mengerti logika yang dipakai.

Fajar adalah anak yang tinggal dekat.

Aku adalah anak yang pergi.

Dalam kepala Ibu, mungkin uangku bisa membantu karena Fajar sudah menyumbang tenaga.

Masalahnya, tidak seorang pun bertanya kepadaku.

Dan lebih buruk lagi, anakku dipakai untuk menutup lubang ketika uang itu tidak cukup.

“Kapan Arga mulai enggak rutin sekolah?” tanyaku.

Rini menatap lantai.

“Sekitar empat bulan lalu.”

“Kenapa?”

Fajar menjawab, “Aku butuh bantuan.”

“Anakmu sendiri dua orang.”

“Mereka lebih kecil.”

“Arga delapan tahun.”

“Dia kuat.”

Aku menatapnya.

Kalimat itu begitu sederhana hingga terasa kejam.

Bukan karena Fajar menganggap dirinya kejam.

Justru karena baginya, kuat berarti boleh diberi beban lebih banyak.

Aku jongkok di depan Arga.

“Kamu masuk kamar dulu, ya.”

Dia memegang tanganku.

“Ibu enggak pergi lagi?”

“Enggak.”

Aku tidak tahu saat itu apakah aku benar-benar bisa menjanjikan tidak akan pernah pergi lagi.

Tapi aku tahu malam itu aku tidak akan meninggalkannya sendirian menghadapi percakapan orang dewasa.

“Masuk dulu. Main sama sepupu.”

Setelah Arga pergi, aku berdiri lagi.

“Kenapa wali kelasnya diblokir dari ponselku?”

Fajar mengangkat kepala.

Rini terlihat kaget.

Ibu menatapnya.

“Apa?” kata Ibu.

Aku menunjukkan daftar nomor yang diblokir.

“Nomor Bu Ratna.”

Fajar tidak menjawab.

“Jar.”

Dia menghembuskan napas.

“Aku takut sekolah bikin kamu panik.”

Aku tertawa pendek.

Bukan karena lucu.

“Jadi kamu blokir gurunya?”

“Waktu itu aku cuma pinjam ponselmu buat setting sebelum berangkat.”

“Aku tahu kapan.”

“Aku pikir kalau sekolah terus menghubungi kamu, kamu malah enggak fokus kerja.”

“Kamu memutuskan sendiri apa yang boleh kuketahui tentang anakku?”

“Kamu jauh!”

Suara Fajar meninggi.

“Iya,” jawabku. “Aku jauh karena percaya anakku dititipkan kepada keluarga.”

Dia terdiam.

Aku menunjuk dirinya.

“Bukan supaya kamu bisa memilih informasi mana yang boleh sampai kepadaku.”

Ibu menyela.

“Sudahlah. Jangan teriak-teriak. Tetangga dengar.”

Kalimat itu mengenai bagian diriku yang paling lama dikendalikan keluarga.

Jangan bikin malu.

Jangan keras kepada saudara.

Jangan bawa masalah keluar rumah.

Selama bertahun-tahun aku mengira menjaga keluarga berarti menjaga supaya orang lain tidak mendengar suara retaknya.

Tapi sekarang anakku yang membayar ketenangan itu.

“Bu,” kataku, “kalau yang membuat malu adalah orang lain tahu, berarti kita sibuk menjaga hal yang salah.”

Ibu terdiam.

Aku meminta Pak Kardi pulang.

Sebelum pergi, dia berkata, “Bu Lestari, saya benar-benar enggak tahu soal sekolah sampai separah ini.”

“Aku percaya, Pak.”

“Saya enggak akan minta Arga bantu lagi.”

“Mulai hari ini, enggak ada yang minta.”

Pak Kardi mengangguk.

Aku pikir percakapan hari itu sudah cukup buruk.

Ternyata belum.

Obat di dalam kaleng biskuit

Sore hari, aku masuk ke kamar dan meminta Arga menunjukkan obat yang disebut dokter.

Dia mengambil sebuah kaleng biskuit kecil dari rak dapur.

Di dalamnya ada minyak kayu putih, obat masuk angin, obat sakit kepala, dan beberapa tablet yang kemasannya sudah terpotong-potong.

“Yang mana biasanya kamu minum?”

Arga menunjuk salah satu.

“Kalau pinggang sama kakiku sakit, Tante kasih ini setengah.”

Rini yang mendengar dari dapur langsung masuk.

“Apa?”

Arga menunjuk kemasan tersebut.

Rini mengambilnya.

“Aku enggak pernah kasih ini.”

Aku menatapnya.

“Arga bilang Tante.”

Anakku cepat-cepat berkata, “Bukan Tante Rini.”

Kami semua diam.

“Terus siapa?”

“Nenek.”

Ibu yang sedang duduk di ruang depan terdengar batuk kecil.

Aku membawa kaleng itu kepadanya.

“Ibu kasih Arga obat?”

Ibu tampak gugup.

“Kalau badannya pegal. Obat biasa.”

“Seberapa sering?”

“Ya… kalau dia mengeluh.”

Aku kembali memikirkan pertanyaan dokter.

Sering minum obat kalau capek atau sakit badan?

“Kenapa anak delapan tahun sering pegal sampai butuh obat?”

Ibu tidak menjawab.

Aku membawa semua obat itu kembali ke puskesmas keesokan paginya.

Dokter memeriksa kemasan dan menjelaskan dengan bahasa sederhana bahwa salah satu jenis obat pereda nyeri yang diberikan tidak seharusnya dipakai sembarangan, apalagi berulang kali pada anak dan dalam keadaan perut kosong.

Ia tidak mengatakan satu tablet adalah penyebab seluruh masalah.

Yang terjadi lebih masuk akal sekaligus lebih menyakitkan.

Arga sering terlambat makan.

Aktivitas fisiknya terlalu berat untuk anak seusianya.

Ketika badannya sakit, ia kadang diberi obat pereda nyeri tanpa pemeriksaan.

Kombinasi pola makan buruk, kelelahan, dan penggunaan obat yang tidak tepat itulah yang sangat mungkin memperburuk iritasi lambungnya.

Dokter menatapku.

“Yang perlu diperbaiki bukan cuma obatnya, Bu.”

Aku mengangguk.

Aku tahu.

“Pola hidup anaknya juga.”

Arga duduk di sampingku memainkan ujung bajunya.

Dokter bertanya, “Kalau pagi sebelum pergi bantu sapi, kamu sarapan?”

Arga menjawab, “Kadang.”

“Kalau enggak sarapan?”

“Minum teh.”

“Makan siang?”

Dia diam.

Aku memegang lututnya.

“Kamu boleh jawab.”

“Kalau pulang cepat, makan.”

“Kalau enggak?”

“Ya nanti.”

Dokter berhenti menulis.

Aku bertanya, “Kenapa enggak bawa nasi?”

Arga menatapku.

Kemudian mengatakan sesuatu yang membuat semua uang yang kukirim selama empat belas bulan tiba-tiba terasa sangat jauh.

“Aku malu minta lauk dua kali.”

Aku menelan ludah.

“Kenapa malu?”

“Om pernah bilang jangan banyak tuntutan. Ibu lagi cari uang susah.”

Aku tidak menangis.

Aku bahkan tidak langsung marah.

Ada jenis kalimat yang begitu kecil, tetapi masuk ke tubuh seorang ibu seperti serpihan kaca.

Jangan banyak tuntutan.

Anakku bukan tidak diberi makan sama sekali.

Justru itu yang membuat semuanya lebih rumit.

Dia makan di rumah.

Dia tetap tidur di kasur.

Tidak ada satu kejadian besar yang bisa kutunjuk dan berkata, “Ini hari mereka menyakitinya.”

Yang ada adalah seratus keputusan kecil.

Nasi yang ditunda.

Sekolah yang dilewatkan.

Pekerjaan yang dianggap “bantu sebentar”.

Rasa pegal yang dianggap biasa.

Obat yang diberikan supaya dia bisa tidur.

Kalimat tentang tidak menjadi beban.

Sedikit demi sedikit, seorang anak delapan tahun belajar bahwa kebutuhan dirinya adalah sesuatu yang mengganggu orang dewasa.

Itulah yang paling ingin kuhentikan.

Aku mulai menghitung

Malam itu aku tidak bertengkar lagi.

Aku membuka buku.

Benar-benar buku tulis biasa.

Di halaman pertama kutulis semua transfer empat belas bulan terakhir.

Rp2,5 juta.

Rp2,5 juta.

Rp3,1 juta.

Rp2,8 juta.

Rp2,5 juta.

Ada bulan ketika jumlahnya lebih kecil.

Ada bulan ketika lebih besar.

Totalnya lebih dari Rp36 juta, termasuk kiriman tambahan.

Aku tidak menganggap seluruh uang itu dicuri.

Aku tahu Arga makan di rumah.

Ibu memakai listrik.

Ada sabun, beras, minyak, gas, ongkos motor.

Aku bukan ingin membuat keluarga menjadi akuntan satu sama lain.

Tapi aku perlu mengetahui satu hal:

Berapa banyak uang yang kukirim atas nama anakku digunakan untuk hal yang sama sekali tidak kuketahui?

Keesokan hari aku bertanya kepada Fajar.

Dia langsung defensif.

“Sekarang semua mau dihitung?”

“Iya.”

“Kita keluarga.”

“Justru karena keluarga, harus jelas setelah yang terjadi.”

Dia tertawa sinis.

“Kamu baru pulang satu hari sudah paling tahu keadaan sini.”

“Aku enggak paling tahu. Itu masalahnya. Selama ini aku hampir enggak tahu apa-apa.”

Aku meminta catatan utangnya.

Dia menolak.

Aku tidak memaksanya membuka seluruh keuangannya.

Aku hanya meminta dia mencatat penggunaan uang yang secara jelas pernah kuminta dipakai untuk sekolah Arga.

Uang daftar ulang.

Buku.

Seragam.

Biaya les yang ternyata tidak pernah ada.

Di situlah kebohongan lain muncul.

“Les apa?” tanya Bu Ratna ketika aku menanyakannya.

Aku menatap layar ponsel.

Selama lima bulan, Fajar dua kali mengatakan Arga butuh uang les.

Total Rp700 ribu.

Arga tidak pernah ikut les.

Saat kukonfrontasi, Fajar berkata, “Aku waktu itu kepepet.”

“Kenapa enggak bilang kamu butuh uang?”

“Kalau aku bilang buat utang, kamu kasih?”

Aku diam.

Mungkin tidak.

Itulah jawaban yang dia takutkan.

“Aku malu,” katanya.

Untuk pertama kalinya sejak aku pulang, suaranya tidak terdengar marah.

“Aku sudah umur empat puluh. Punya anak dua. Tinggal dekat Ibu. Orang kampung kira aku yang paling bisa diandalkan. Masa aku telepon adik sendiri di Malaysia cuma bilang aku enggak sanggup bayar utang?”

Aku memandangnya.

Akhirnya aku melihat sesuatu selain pembelaan.

Gengsi.

Takut dianggap gagal.

Rasa malu.

Tapi memahami bukan berarti membenarkan.

“Jadi lebih gampang bilang anakku butuh buku?”

Fajar memalingkan wajah.

“Iya.”

Aku tidak menyangka dia akan mengakuinya begitu cepat.

“Dan lebih gampang menyuruh Arga kerja daripada bilang kamu enggak sanggup?”

Fajar memukul paha pelan.

“Aku pikir cuma sebentar.”

“Semua orang di rumah ini bilang ‘sebentar’.”

Aku menatap Ibu.

“Uang sebentar. Enggak sekolah sebentar. Bantu sapi sebentar. Minum obat sebentar.”

Tidak ada yang menjawab.

“Tapi buat anak delapan tahun, empat bulan bukan sebentar.”

Saat kampung akhirnya tahu

Aku tidak mengumpulkan warga untuk mempermalukan Fajar.

Aku justru meminta semua ini tidak dijadikan tontonan.

Namun persoalannya sudah masuk ke sekolah.

Bu Ratna harus melapor kepada kepala sekolah mengenai absensi Arga.

Pak Kardi menghentikan keterlibatan Arga di kandangnya dan, mungkin karena merasa bersalah, menceritakan kepada ketua kelompok ternak kenapa anak itu tak boleh datang lagi.

Dua hari kemudian Pak RT datang.

Ia tidak membawa polisi.

Ia hanya membawa buku catatan dan wajah orang yang sudah mendengar terlalu banyak versi.

“Lebih baik dibicarakan sebelum jadi omongan macam-macam,” katanya.

Kami duduk di ruang tamu.

Ada aku, Fajar, Rini, Ibu, Pak RT, serta Pak Kardi.

Arga tidak kuizinkan ikut.

“Ini bukan sidang,” kata Pak RT. “Yang utama anaknya kembali sekolah dan masalah orang dewasa jangan dibebankan lagi ke dia.”

Fajar tampak tersinggung.

“Orang ngomong seolah saya memperbudak anak.”

Aku menatapnya.

“Tidak ada yang pakai kata itu.”

“Ya rasanya sama.”

Pak RT berkata, “Kalau kamu merasa tidak begitu, jelaskan.”

Fajar mengusap wajah.

Dia bercerita soal sapi mati.

Utang.

Pakan.

Pekerjaan yang sepi.

Uang kirimanku.

Dan bagaimana awalnya Arga memang hanya ikut ke kandang karena senang melihat sapi.

Sedikit demi sedikit bantuan itu menjadi kebiasaan.

Kalau Fajar dapat pekerjaan bangunan, Arga yang mengantar sapi.

Kalau ada rumput yang harus diambil, Arga ikut.

Ketika Arga mulai sering terlambat sekolah, Fajar memilih mengatakan ia sakit.

Ketika sekolah bertanya lebih jauh, dia mengatakan sedang membantu Ibu.

Kebohongan pertama menciptakan kebutuhan untuk kebohongan kedua.

Lalu yang ketiga.

Sampai akhirnya jauh lebih mudah menyembunyikan keadaan daripada memperbaikinya.

Pak RT bertanya, “Kenapa tidak bicara ke Lestari?”

Fajar menatapku.

“Kalau dia tahu, dia pulang.”

“Dan?”

“Uang dari Malaysia berhenti.”

Tidak ada orang yang bergerak.

Akhirnya kalimat paling jelek keluar juga.

Bukan karena Fajar membenci Arga.

Bukan karena dia ingin menyiksa keponakannya.

Dia takut kehilangan pemasukan yang sudah menjadi bagian dari cara keluarganya bertahan.

Itulah twist yang membuatku paling sakit.

Selama ini mereka tidak lagi menganggap uang kirimanku sebagai bantuan.

Uang itu sudah masuk ke dalam perhitungan tetap rumah.

Beras dibeli dengan asumsi aku akan transfer.

Cicilan ditambal dengan asumsi aku akan transfer.

Utang ditunda karena bulan depan aku akan transfer.

Ketika kebutuhan Arga mengganggu sistem itu, kebutuhan Arga yang dikurangi.

Pak RT berkata pelan, “Kalau hidup keluarga bergantung pada orang yang tidak tahu semuanya, itu bukan bantuan lagi. Itu ketergantungan.”

Fajar menatap lantai.

Ibu menangis.

Aku tidak.

Aku sudah melewati tahap ingin menangis.

Sekarang aku ingin membuat keputusan.

“Aku enggak minta Fajar mengembalikan Rp36 juta,” kataku.

Semua menoleh.

“Karena sebagian memang untuk makan, listrik, rumah, dan Ibu. Aku tinggal di sini juga waktu awal. Aku tahu.”

Fajar mengangkat wajah.

“Tapi uang yang secara khusus diminta atas nama sekolah Arga padahal dipakai untuk hal lain, aku mau dicatat.”

Pak RT mengangguk.

Jumlah yang akhirnya bisa kami identifikasi sekitar Rp6,4 juta.

Aku tidak meminta uang itu dibayar sekaligus.

Aku juga tahu mustahil.

Fajar akan mengembalikannya Rp400 ribu per bulan setelah kewajiban ke Pak Kardi selesai, atau lebih kalau punya pekerjaan tambahan.

Bukan karena uang Rp6,4 juta akan mengubah hidupku.

Tapi karena untuk pertama kalinya, harus ada batas yang tertulis.

Aku juga membuat keputusan kedua.

“Aku dan Arga pindah.”

Ibu langsung menoleh.

“Kamu mau ke mana?”

“Aku sudah lihat kontrakan dekat pasar.”

“Tari…”

“Aku enggak memutus hubungan, Bu.”

“Terus kenapa harus pergi?”

“Karena aku butuh rumah di mana keputusan soal anakku enggak bisa dibuat lewat rapat yang aku sendiri enggak tahu.”

Ibu menangis semakin keras.

“Kamu marah sama Ibu.”

“Aku memang marah.”

Aku tidak ingin berbohong demi membuatnya nyaman.

“Tapi aku tetap anak Ibu. Aku masih akan bantu obat kalau perlu. Aku datang. Aku telepon. Tapi mulai sekarang, bantuan untuk Ibu langsung aku atur sendiri.”

Ibu menatapku.

“Berarti enggak percaya?”

“Kepercayaan itu bukan lampu yang bisa dinyalakan lagi hanya karena kita keluarga.”

Ia diam.

“Aku mau memperbaikinya, Bu. Tapi bukan dengan pura-pura semuanya baik-baik saja.”

Rumah kecil dekat pasar

Tiga hari kemudian aku pindah.

Kontrakannya hanya memiliki satu kamar tidur dan ruang depan yang sekaligus menjadi tempat makan.

Sewanya Rp750 ribu per bulan.

Kamar mandi di belakang.

Dinding dapurnya lembap.

Suara motor pedagang sayur mulai terdengar sebelum Subuh.

Arga menyukainya.

Malam pertama, dia menempel jadwal pelajaran di dinding dengan selotip.

Aku melihatnya lama.

“Kok lihat-lihat?” tanyanya.

“Enggak apa-apa.”

Dia membuka tas sekolah.

Buku.

Pensil.

Penggaris.

Botol minum.

Tidak ada ranting.

Tidak ada tali sapi.

Hal-hal sederhana tiba-tiba terasa seperti kemewahan.

Aku tidak kembali ke Malaysia.

Keputusan itu punya harga.

Aku kehilangan penghasilan yang jauh lebih besar daripada yang bisa kudapat di kampung.

Tabunganku hanya cukup beberapa bulan.

Aku sempat takut telah mengambil keputusan emosional.

Lalu aku mencari pekerjaan.

Pagi hari aku membantu warung makan menyiapkan sayur.

Siangnya aku bekerja di toko bahan bangunan dekat pasar sebagai kasir sekaligus mencatat stok.

Penghasilanku jauh lebih kecil daripada di Malaysia.

Aku mulai belajar hidup dengan angka yang lebih ketat.

Tidak ada kiriman oleh-oleh.

Tidak ada transfer tambahan setiap kali grup keluarga mendadak ramai karena seseorang butuh uang.

Kalau Ibu perlu obat, aku membelikan obat.

Kalau ada tagihan tertentu yang ingin kubantu, aku membayarnya langsung.

Ketika Fajar suatu malam mengirim pesan:

Tari, bisa pinjam Rp1 juta dulu? Ada cicilan motor.

Aku membaca pesan itu cukup lama.

Dulu jempolku langsung membuka mobile banking.

Malam itu aku membalas:

Maaf, Jar. Aku tidak bisa. Aku sedang menutup kebutuhan Arga dan kontrakan.

Beberapa menit kemudian dia menjawab:

Iya.

Tidak ada marah.

Tidak ada kalimat tentang keluarga.

Mungkin karena ia tahu batas itu sekarang nyata.

Mungkin juga karena untuk pertama kalinya, dia harus menyusun keuangannya tanpa memasukkan namaku sebagai pos pendapatan.

Empat minggu

Arga kembali sekolah penuh.

Awalnya tidak mudah.

Dia tertinggal matematika dan membaca.

Beberapa temannya sempat bertanya kenapa dulu dia jarang masuk.

Bu Ratna cukup bijaksana untuk tidak membuat hidupnya menjadi cerita konsumsi kelas.

“Yang penting sekarang kamu datang,” katanya.

Aku mengantarnya pagi hari selama dua minggu pertama.

Suatu hari aku bertanya, “Ibu perlu antar terus?”

Arga menggeleng.

“Aku bisa sendiri.”

Aku tertawa.

“Yakin?”

“Kan dekat.”

Aku mulai belajar perbedaan antara memberi tanggung jawab dan membebani anak.

Membiarkannya berjalan ke sekolah bersama teman bukan berarti mengabaikan.

Menyuruhnya mengurus masalah keuangan orang dewasa jelas berbeda.

Perutnya juga perlahan membaik.

Dokter meminta kami menjaga jadwal makan, menghentikan penggunaan obat sembarangan, dan kembali jika keluhan muncul.

Aku menyiapkan sarapan sebelum bekerja.

Kadang hanya telur dan nasi.

Kadang tempe.

Kadang roti karena kami bangun terlambat.

Tidak mewah.

Tapi teratur.

Sekitar enam minggu kemudian, Arga pulang membawa hasil ulangan matematika.

Nilainya 72.

Dia menaruh kertas itu di meja dengan muka murung.

“Jelek.”

Aku melihatnya.

“Dulu berapa?”

“Enggak tahu.”

“Berarti ini nilai pertama setelah kamu balik sekolah penuh.”

“Iya.”

“Bagus.”

“Bu Ratna bilang harus latihan.”

“Ya latihan.”

Dia mengerucutkan bibir.

“Aku kira Ibu marah.”

“Kenapa?”

“Nilainya enggak tinggi.”

Aku hampir menjawab cepat, tapi menahan diri.

Ada terlalu banyak hal yang sudah dia pelajari tentang menjadi beban, mengecewakan orang dewasa, dan harus berguna.

Aku tidak ingin menambah daftar itu.

“Ibu lebih marah kalau kamu sembunyikan kertasnya.”

Dia tersenyum kecil.

“Besok belajar perkalian.”

“Sekarang makan dulu.”

Dia mengambil piring tanpa rasa bersalah.

Aku memperhatikan sampai dia selesai.

Hubunganku dengan Ibu

Dua bulan pertama, Ibu jarang datang.

Aku juga tidak sering ke rumah lama.

Kami masih berbicara lewat telepon.

Pendek.

Tentang obat.

Tentang harga cabai.

Tentang Arga.

Tidak pernah tentang masalah utama.

Sampai suatu sore Ibu datang membawa toples kerupuk.

Ia duduk di kursi plastik dekat pintu.

Arga sedang mengerjakan PR.

Ibu melihatnya lama.

“Sekarang lebih gemuk.”

“Naik hampir dua kilo.”

Ibu mengangguk.

Kami minum teh.

Lalu ia berkata tanpa melihatku,

“Ibu salah.”

Tidak ada pidato panjang.

Aku menunggu.

“Ibu waktu itu pikir Fajar tinggal dekat, paling banyak bantu Ibu. Kamu kerja di luar. Jadi kalau uangmu ikut menolong dia sedikit…”

“Sedikitnya lama-lama besar.”

“Iya.”

“Aku enggak marah karena Ibu bantu Fajar.”

Ibu menatapku.

“Aku marah karena bantuan itu diambil dari bagian Arga tanpa bilang. Lalu ketika dia enggak sekolah, semua orang lebih takut aku pulang daripada takut dia ketinggalan.”

Ibu memegang gelas dengan dua tangan.

“Ibu malu.”

“Karena tetangga tahu?”

Ia menggeleng.

“Karena Arga enggak pernah mengadu.”

Aku menatapnya.

Ibu melanjutkan, “Dia masih manggil Ibu ‘Nenek’ seperti biasa. Masih ambilkan air. Itu yang bikin Ibu malah lebih malu.”

Aku tidak memeluk Ibu hari itu.

Kami belum sampai sana.

Tapi ketika ia pulang, aku membungkuskan sayur untuk makan malamnya.

Kadang rekonsiliasi bukan adegan besar.

Kadang hanya dua orang yang mulai berhenti berpura-pura.

Fajar

Pembayaran pertama dari Fajar datang tepat tanggal yang kami sepakati.

Rp400 ribu.

Keterangan transfernya:

Untuk Arga.

Aku langsung menelepon.

“Jangan tulis ‘untuk Arga’.”

Dia terdiam.

“Kenapa?”

“Ini bukan uang untuk dia. Ini pengembalian uang yang dulu kamu pakai.”

Beberapa detik sunyi.

“Ya sama saja.”

“Enggak.”

Aku tahu mungkin terdengar remeh.

Tapi bagiku tidak.

Aku tidak ingin satu hari nanti Arga tumbuh dengan cerita bahwa pamannya “memberinya” jutaan rupiah.

Itu bukan pemberian.

Itu tanggung jawab.

Fajar akhirnya berkata, “Ya sudah.”

Bulan berikutnya keterangannya berubah:

Cicilan pengembalian.

Aku tersenyum saat melihatnya.

Hubungan kami tidak kembali seperti dulu.

Mungkin tidak akan pernah sama.

Aku masih berbicara dengannya ketika bertemu.

Arga masih bermain dengan sepupunya.

Kalau Ibu sakit, kami bisa duduk dalam satu ruangan dan membicarakan apa yang perlu dilakukan.

Tapi aku tidak lagi menceritakan jumlah tabunganku.

Aku tidak menjawab setiap pertanyaan tentang gaji.

Aku tidak otomatis menjadi orang pertama yang menutup kekurangan keluarga.

Dan anehnya, setelah beberapa bulan, keluarga kami tidak runtuh.

Fajar mencari lebih banyak pekerjaan.

Rini mulai menitipkan gorengan ke dua warung.

Mereka menjual motor yang cicilannya terlalu berat lalu membeli motor lama secara tunai setelah beberapa waktu.

Tidak nyaman.

Tidak mudah.

Tapi mereka bisa.

Ternyata selama ini bukan karena tidak ada jalan lain.

Mereka hanya sudah terlalu terbiasa memilih jalan yang melewati diriku.

Enam bulan kemudian

Pada suatu Sabtu pagi, Pak Kardi datang ke toko tempatku bekerja.

Aku sempat tegang melihatnya.

Ia membeli semen dua sak.

Sebelum pergi, dia berkata, “Arga sekarang gimana?”

“Baik.”

“Sekolah?”

“Rajin.”

Pak Kardi mengangguk.

“Dia sebenarnya anak cepat belajar.”

Aku tersenyum tipis.

“Sekarang biar cepat belajarnya di sekolah.”

Pak Kardi tertawa kecil.

“Iya.”

Tidak ada permusuhan.

Aku tidak perlu membenci semua orang yang pernah ikut dalam kesalahan.

Tapi aku perlu memastikan kesalahan itu tidak menjadi kebiasaan lagi.

Sore harinya aku pulang.

Arga sedang duduk di lantai ruang depan.

Di sampingnya ada tas sekolah biru yang kubeli dari pasar beberapa bulan setelah kami pindah.

Tas lama yang dulu sering dibawanya saat mengikuti Fajar ke kandang kusimpan di atas lemari.

Aku pernah bertanya apakah dia ingin membuangnya.

“Jangan,” katanya.

“Kenapa?”

“Buat simpan barang.”

Sekarang tas lama itu berisi buku gambar, kelereng, dan beberapa mobil-mobilan.

Tidak ada pakaian kerja.

Tidak ada obat.

Tidak ada rumput.

Aku berdiri di pintu sambil membawa dua bungkus nasi.

“Cuci tangan dulu.”

Arga menutup bukunya.

“Ibu beli ayam?”

“Tempe.”

Wajahnya langsung kecewa.

Aku tertawa.

“Besok ayam.”

“Janji?”

“Kalau uang belanja cukup.”

Dia ikut tertawa.

Aku menyukai jawaban itu.

Bukan karena hidup kami sudah mudah.

Justru karena sekarang kami bisa bicara tentang uang tanpa membuat seorang anak merasa keberadaannya adalah masalah.

Malamnya aku mengunci pintu.

Tas sekolah Arga sudah siap di dekat meja untuk Senin pagi.

Sepatunya diletakkan di bawah kursi.

Aku teringat sepatu baru yang kubawa dari Malaysia pada hari kepulanganku.

Waktu itu aku mengira tugasku sebagai ibu adalah bekerja sejauh mungkin agar bisa membelikan apa pun yang dibutuhkan anakku.

Sekarang aku tahu ada hal yang lebih sulit daripada mengirim uang.

Menanyakan pertanyaan yang tidak nyaman.

Memeriksa.

Mendengar.

Berkata tidak kepada orang yang kita sayangi.

Dan berani mengakui bahwa kadang-kadang “demi keluarga” adalah kalimat yang terdengar baik sampai seseorang yang paling kecil diminta membayar harganya.

Aku mematikan lampu ruang depan.

Arga sudah tidur.

Di dekat pintu, tas sekolahnya berdiri tegak.

Besok tas itu tidak akan dibawa ke kandang.

Tidak akan diisi obat untuk menahan sakit.

Tidak akan digantung di pagar sambil pemiliknya mencari rumput.

Isinya hanya buku, kotak pensil, botol air, dan PR yang belum semuanya benar.

Untuk anak berusia delapan tahun, menurutku itu sudah lebih dari cukup.

Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai akhir. Semoga kamu dan keluargamu selalu diberi kesehatan, ketenangan, dan keberanian untuk saling menjaga tanpa mengambil hak satu sama lain. Kalau kamu berada di posisiku, apakah kamu masih mau membangun kembali hubungan dengan keluarga setelah kepercayaan seperti itu rusak? Aku ingin membaca pendapatmu di kolom komentar. Kalau cerita ini terasa berarti, silakan bagikan kepada orang lain yang mungkin perlu membacanya.