BAGIAN 2 — Perempuan yang Membawa Ponsel Arman Datang, Namun Rahasia Sebenarnya Tersembunyi dalam Enam Miliar yang Hilang
Perempuan itu berhenti tepat di ambang pintu. Air hujan menetes dari ujung rambutnya, sementara tangan kanannya menggenggam ponsel Arman begitu erat. Namanya Maya. Selama tiga tahun terakhir, dia bekerja sebagai konsultan administrasi untuk pabrik kami. Dia sering datang ke rumah, makan bersama kami, bahkan membawakan hadiah ulang tahun untuk putriku. Aku pernah menganggapnya seperti adik sendiri. Kini, melihat wajahnya sama dengan wajah perempuan dalam video membuat dadaku sesak.
—Di mana Arman?
Maya tidak menjawab. Tatapannya justru beralih kepada pria pembawa USB.
—Kenapa dia ada di sini?
Pria itu berdiri perlahan.
—Seharusnya aku yang bertanya kenapa kamu membawa ponsel Arman.
Maya tertawa pendek.
—Sari, namanya Damar. Jangan percaya satu kata pun darinya.
Aku menatap Damar.
—Siapa Anda sebenarnya?
Damar tidak menjawab.
Maya mengangkat ponsel Arman.
—Tiga bulan lalu, Arman menemukan enam miliar lebih uang pabrik menghilang melalui perusahaan pemasok palsu. Orang yang pertama kali membantunya membuat perusahaan perantara itu adalah Damar.
Ratih terisak.
—Tidak… bukan begitu.
Maya menoleh tajam.
—Ibu masih ingin menutupinya?
Rizky maju.
—Diam!
Namun aku berdiri di antara mereka.
—Tidak ada yang keluar sebelum aku mengetahui semuanya.
Aku mengunci pintu depan, lalu meletakkan ponselku di meja dengan fungsi perekam menyala.
—Sekarang bicara.
Maya menarik napas.
Dua tahun sebelumnya, Rizky datang membawa rencana bisnis baru. Dia mengatakan bisa membeli bahan baku dengan harga lebih murah melalui perusahaan distributor yang baru didirikan. Ratih dan ayah mertuaku mendukungnya. Karena Arman sibuk mengurus produksi, sebagian administrasi pembelian diserahkan kepada keluarganya.
Ternyata perusahaan itu hanya perantara.
Harga bahan baku sebenarnya seratus juta, tetapi tagihan kepada pabrik dibuat seratus lima puluh juta. Selisihnya dipindahkan sedikit demi sedikit.
Awalnya Rizky mengaku hanya meminjam uang untuk investasi.
Kemudian jumlahnya membesar.
Miliaran rupiah hilang.
—Lalu Damar masuk ke mana? tanyaku.
Maya menunjuk pria itu.
—Perusahaannya membantu membuat transaksi terlihat sah.
Damar akhirnya bicara.
—Aku memang membantu mereka mendirikan perusahaan, tetapi aku tidak tahu mereka akan mengambil uang sebanyak itu.
—Bohong! bentak Maya.
Dia mengeluarkan sebuah amplop plastik dari tasnya.
Di dalamnya ada fotokopi mutasi rekening.
Beberapa transfer berakhir di rekening sebuah perusahaan yang ternyata berkaitan dengan Damar.
Aku merasa lantai di bawah kakiku seperti bergeser.
—Kalau begitu, kenapa Arman memberikan USB kepadanya?
Maya terdiam.
Justru Damar yang menjawab.
—Karena suamimu ingin menjebakku.
Aku menoleh kepadanya.
Damar tersenyum tipis.
—Arman tahu keluarganya tidak akan mengaku. Dia sengaja memberikan salinan rekaman kepadaku agar aku merasa dia masih mempercayaiku. Dia berharap aku akan mendekati kalian setelah dia menghilang.
Aku langsung memahami sesuatu.
—Supaya aku bisa melihat wajahmu.
Senyumnya hilang.
Maya mengangguk.
—Arman sudah menduga Damar akan datang saat pabrik hendak dijual.
Aku mengambil ponsel.
—Kalau begitu kita serahkan semuanya kepada polisi.
Rizky tiba-tiba merebut gelas di meja dan melemparkannya ke lantai.
—Tidak ada yang menelepon siapa pun!
Ratih menjerit.
Rizky bergerak menuju pintu belakang.
Tetapi sebelum dia sampai, terdengar suara kendaraan berhenti di luar.
Bukan satu.
Beberapa.
Kemudian seseorang mengetuk pintu.
—Polisi. Tolong buka pintu.
Wajah Rizky kehilangan seluruh warnanya.
Aku menoleh kepada Maya.
Dia mengangkat ponsel Arman.
—Aku menghubungi mereka sebelum datang.
Damar langsung berlari ke arah pintu samping, tetapi dua petugas sudah muncul dari halaman.
Beberapa menit kemudian, ruang tamuku dipenuhi orang.
Dokumen, USB, kontrak pinjaman, laptop, dan ponsel dikumpulkan.
Rizky terus mengatakan semuanya hanya salah paham.
Damar memilih diam.
Ayah mertuaku duduk dengan kepala tertunduk.
Hanya Ratih yang menangis tanpa henti.
Aku tidak peduli lagi.
Aku hanya memegang lengan Maya.
—Arman di mana?
Maya menatapku lama.
—Aku akan membawamu kepadanya.
Kami pergi dengan didampingi dua petugas.
Mobil melaju hampir empat puluh menit hingga berhenti di depan sebuah bangunan penyimpanan lama di pinggir kawasan industri.
Jantungku berdegup semakin keras.
Pintu besi dibuka.
Aku berlari masuk.
—Arman!
Tidak ada jawaban.
Kami memeriksa ruangan pertama.
Kosong.
Ruangan kedua juga kosong.
Kemudian dari belakang terdengar suara petugas.
—Bu Sari, ke sini!
Aku berlari.
Sebuah kursi tergeletak di lantai.
Ada tali yang sudah terpotong.
Di atas meja terdapat botol air dan beberapa bungkus makanan.
Tetapi Arman tidak ada.
Aku menoleh kepada Maya.
—Kamu bilang dia di sini!
Wajah Maya pucat.
—Tadi pagi masih di sini.
Seorang petugas menemukan kamera pengawas kecil.
Rekamannya dibuka.
Pukul 10.42, sebuah mobil masuk.
Dua orang membawa Arman keluar.
Dia masih hidup.
Namun sebelum dimasukkan ke mobil, Arman sengaja menjatuhkan sesuatu.
Petugas memperbesar gambar.
Sebuah kartu kecil.
Kami mencarinya di lantai luar gudang.
Aku menemukannya di bawah genangan air.
Itu kartu nama sebuah penginapan sederhana.
Di belakangnya terdapat tulisan tangan Arman.
“Tempat pertama kita menjual 100 bungkus.”
Aku langsung tahu tempatnya.
Sepuluh tahun lalu, ketika bisnis kami baru dimulai, pemilik sebuah penginapan kecil adalah orang pertama yang berani membeli seratus bungkus produk kami.
Aku menatap petugas.
—Saya tahu mereka membawanya ke mana.
Namun saat kami hendak berangkat, ponsel Arman di tangan Maya tiba-tiba berdering.
Nomor tak dikenal.
Aku menjawab.
—Halo?
Beberapa detik hanya terdengar suara napas.
Kemudian suara Arman terdengar sangat pelan.
—Sari…
Air mataku langsung jatuh.
—Arman! Kamu di mana?
—Jangan datang.
Suara benturan terdengar dari seberang.
Lalu Arman berkata cepat:
—Mereka bukan menginginkan pabrik lagi.
—Lalu apa?
Dia terdiam satu detik.
—Mereka menginginkan tanah milikmu.
Sambungan terputus.
Aku menatap kartu di tanganku.
Barulah aku mengerti.
Pabrik sepuluh miliar itu hanyalah umpan.
Yang mereka incar sejak awal adalah sesuatu yang jauh lebih berharga.
Dan dokumen asli kepemilikan tanah itu berada di tempat yang hanya aku sendiri tahu.
(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)
