Adikku Memotong Rambutku Demi Taruhan, Lalu Keluargaku Pergi ke Festival Tanpaku Seolah Aku Tak Pernah Ada

Avatar penulis
Cerita 01
27 menit baca 170 tayangan
Adikku Memotong Rambutku Demi Taruhan, Lalu Keluargaku Pergi ke Festival Tanpaku Seolah Aku Tak Pernah Ada
Indeks

Adikku Memotong Rambutku Demi Taruhan, Lalu Keluargaku Pergi ke Festival Tanpaku Seolah Aku Tak Pernah Ada

Bagian 1

Sehari sebelum makan malam keluarga untuk Festival Pertengahan Musim Gugur, adikku tiba-tiba berdiri di belakang kursiku sambil membawa sisir.

“Kak, sini. Aku kepang rambutmu, ya.”

Aku baru saja duduk ketika terdengar bunyi gunting tepat di belakang telingaku.

Sekali.

Pendek.

Lalu sesuatu yang berat meluncur melewati bahuku dan jatuh ke lantai.

Aku menoleh.

Rambut yang kupanjangkan hampir tujuh tahun tergeletak di dekat kaki meja makan. Bagian kanan kepalaku terpotong begitu pendek sampai beberapa helai nyaris menempel ke kulit kepala.

Adikku, Mia, menahan tawa dua detik sebelum akhirnya meledak.

Ia jatuh ke sofa sambil memegangi perut.

Adikku Memotong Rambutku Demi Taruhan, Lalu Keluargaku Pergi ke Festival Tanpaku Seolah Aku Tak Pernah Ada

“Ya ampun, Kak! Kebanyakan! Aku cuma mau potong sedikit!”

Mama ikut tertawa ketika melihat lantai penuh rambut.

“Ya sudah. Malah bagus. Tiap hari rambutmu panjang sekali sampai bikin gerah lihatnya. Sekalian hemat biaya salon.”

Jari-jariku mencengkeram tepi kursi.

Papa malah mengetuk meja dengan ujung sumpit.

“Sudah, makan dulu. Rambut kan tumbuh lagi.”

Aku menatapnya.

Papa melanjutkan seolah yang baru terjadi hanyalah gelas tumpah.

“Mia tidak mengerjai orang lain, kan? Dia berani begitu karena dekat sama kamu. Bercanda dengan kakaknya sendiri.”

Mataku mulai panas.

Aku menoleh ke arah Raka, pacarku selama hampir delapan tahun.

Aku berharap setidaknya dia terlihat marah.

Ternyata dia sedang menunduk menatap ponsel.

Beberapa detik kemudian ponsel Mia berbunyi.

Mia melihat layar, lalu tertawa lebih keras.

Raka mengangkat ponselnya kepadaku.

“Rp200.000. Taruhan ya taruhan.”

Aku tidak langsung mengerti.

Mia menjawab sambil menyeka sudut matanya.

“Aku bilang Kak Nara bakal nangis sebelum satu menit. Kak Raka bilang tiga menit.”

Raka mendesah pura-pura kecewa.

“Kamu bikin aku kalah. Masa belum semenit sudah merah matanya?”

Seluruh ruang makan kembali dipenuhi tawa.

Aku berdiri diam.

Ketika aku kelas satu SMA, Mia pernah menulis kata-kata memalukan di belakang seragamku dengan spidol permanen. Teman-temanku menjadikannya lelucon berbulan-bulan.

Saat aku kuliah, ia pernah menyembunyikan kacamataku pada pagi presentasi tugas akhir. Aku datang terlambat dan hampir kehilangan kesempatan sidang.

Setiap kali aku marah, jawabannya selalu sama.

“Kok tidak bisa diajak bercanda?”

Mama dan Papa juga selalu membelanya.

Aku terlalu sensitif.

Aku terlalu kaku.

Aku kakak, seharusnya mengalah.

Hari itu, untuk pertama kalinya aku merasa lelah bukan karena satu kejadian.

Aku lelah karena tiba-tiba mengerti polanya.

Selama ini aku tidak benar-benar diperlakukan sebagai anak perempuan, kakak, atau pasangan.

Aku adalah benda yang paling aman untuk dijadikan bahan tertawaan karena semua orang yakin aku tidak akan pergi.

Mia mengambil segumpal rambut dari lantai, menaruhnya di bawah dagunya seperti janggut.

“Ma, lihat. Mirip manusia gua tidak?”

Mama tertawa sampai hampir menumpahkan sup.

“Buang, ih. Kotor.”

Mia kemudian mengambil ponselnya dan memotretku berkali-kali.

Aku mengangkat tangan menutupi wajah.

“Jangan foto.”

“Sudah telanjur.”

Ia melihat hasilnya sambil tersenyum puas.

“Edisi spesial festival. Kakakku berubah dari putri rambut panjang jadi anak band gagal cuma dengan sekali gunting.”

Aku maju hendak mengambil ponselnya.

Raka langsung berdiri dan menarik Mia ke belakangnya.

“Ngapain?”

“Suruh dia hapus.”

“Dia juga tidak mengunggah foto jelekmu ke publik.”

Belum sempat aku menjawab, grup WhatsApp keluarga berbunyi.

Mia mengirim foto ketika mataku merah, rambutku sebelah masih panjang dan sebelah lain nyaris habis.

Balasan muncul cepat.

Tante Rina mengirim stiker tertawa.

Sepupuku bertanya apakah itu model rambut baru.

Mama bahkan membalas sendiri.

“Mia iseng, kakaknya dipangkas sampai habis.”

Tiga emoji menangis karena tertawa menyusul di belakang kalimatnya.

Aku menatap layar.

Telapak tanganku terasa dingin.

“Hapus.”

Mia mendecakkan lidah.

“Cuma grup keluarga. Bukan Instagram.”

Papa meletakkan sumpit dengan keras.

“Jadi kita makan atau tidak?”

Ia memandangku kesal.

“Semua orang menunggu cuma karena kamu. Besok acara keluarga. Masa gara-gara rambut kamu mau bikin seisi rumah seperti musuhan?”

Aku yang rambutnya dipotong tanpa izin.

Tetapi entah bagaimana aku juga yang dianggap merusak suasana.

Aku berhenti bicara.

Ketika akhirnya duduk, Mama mengambil sepotong ikan dan meletakkannya di piringku seolah sepuluh menit terakhir tidak pernah terjadi.

“Besok Nenek mau video call. Jangan pasang muka begitu. Nenek sudah tua, nanti dikira kami menindas kamu.”

Mia langsung menyela.

“Suruh Kak Nara pakai topi saja. Kalau Nenek lihat rambutnya, bisa ketawa sampai tekanan darah naik.”

Mereka tertawa lagi.

Raka bahkan mengulurkan tangan dan mengusap sisi kepalaku yang terpotong.

“Benar-benar pendek. Agak tajam malah.”

Aku refleks menjauh.

Tangannya berhenti di udara.

Wajahnya berubah.

“Harus begitu?”

Aku menatapnya.

Dia menurunkan suara.

“Aku saja belum bilang kamu jelek sekarang.”

Kemudian dia menunduk dan mengambil udang dari piring saji, lalu menaruhnya ke mangkuk Mia.

“Mia, jangan godain kakakmu terus. Nanti benar-benar marah. Malam-malam aku juga yang harus bujuk.”

Mia menjulurkan lidah.

“Bagus dong. Kesempatan Kak Raka menunjukkan perhatian.”

Mereka bersulang dengan gelas teh manis.

Gerakan kecil itu terlalu akrab.

Seolah mereka sudah bertahun-tahun berada di pihak yang sama, sementara aku hanya orang yang kebetulan duduk di antara mereka.

Di tengah makan, ponsel kerjaku bergetar.

Pesan dari Pak Dimas, manajer regional perusahaan tempatku bekerja.

Sebulan lalu dia menawarkanku posisi di kantor cabang Surabaya.

Aku bekerja di Bandung sebagai supervisor operasional sebuah perusahaan logistik. Posisi di Surabaya adalah manajer operasional wilayah, dengan gaji hampir dua kali lipat, tunjangan tempat tinggal selama enam bulan pertama, dan kontrak penugasan tiga tahun.

Aku sudah menolaknya dua kali.

Pertama karena Mama bilang Surabaya terlalu jauh.

“Kalau ada apa-apa sama Papa atau Mama, kamu tidak bisa cepat pulang.”

Kedua karena Raka bilang kami berencana bertunangan akhir tahun.

“Ngapain pindah jauh kalau beberapa bulan lagi kita mulai urus pernikahan?”

Malam itu Pak Dimas menghubungiku sekali lagi.

“Nara, saya perlu keputusan terakhir. Kantor Surabaya masih menahan posisi itu karena saya rekomendasikan kamu. Kalau berubah pikiran, kabari sebelum tengah malam.”

Aku membaca pesan itu lama.

Dari ruang makan terdengar Mia sedang memperagakan ekspresiku ketika gunting memotong rambut.

Mama bilang mataku melotot seperti kucing kehujanan.

Papa tertawa dan berkata aku lebih lucu saat remaja karena sedikit-sedikit menangis.

Raka menambahkan,

“Sekarang juga sama. Tidak banyak berubah.”

Aku menatap layar lagi.

Lalu mengetik dua kata.

“Saya berangkat.”

Keesokan paginya aku pergi ke salon dekat kompleks.

Penata rambut memeriksa bagian kepalaku yang dipotong Mia cukup lama.

“Ini tidak bisa disambung dengan rapi, Mbak.”

Ia memisahkan beberapa helai rambut.

“Bagian dalam juga kena. Kalau mau bentuknya bagus, harus dipendekkan semua.”

Aku mengangguk.

“Potong saja.”

Gunting bergerak berkali-kali.

Dalam cermin, rambut yang kupelihara hampir tujuh tahun perlahan jatuh ke lantai.

Sebenarnya bukan karena aku tidak pernah ingin memotongnya.

Tujuh tahun lalu, saat baru mulai bekerja, gajiku kecil. Aku masih tinggal di kamar kos sempit dan setiap hari menghabiskan hampir dua jam berganti angkot dan bus.

Pada masa itu, Raka sering datang membawa mi instan atau kopi sachet.

Kami pernah makan di tangga depan kos karena listrik kamarku mati.

Saat itu ia suka melilit ujung rambutku ke jarinya.

“Jangan dipotong.”

“Bagus panjang begini. Kalau nanti menikah, pertahankan, ya.”

Aku mendengarkannya.

Tanpa sadar, tujuh tahun berlalu.

Penata rambut memasang kain pelindung di leherku.

“Pendek juga bagus, Mbak. Kelihatan lebih ringan.”

Aku memandang diriku di cermin.

“Ya.”

Anehnya, aku benar-benar merasa lebih ringan.

Ketika pulang, ada empat pasang sepatu di depan rumah.

Namun ruang tamu kosong.

Aku baru hendak menelepon Mama ketika melihat unggahan baru di status WhatsApp Mia.

Mereka berada di festival lampion di pusat kota.

Papa dan Mama masing-masing memegang lampion berbentuk kelinci.

Mia berdiri di tengah.

Raka berdiri di samping Papa.

Pada foto keempat, keempatnya membuat bentuk hati ke arah kamera.

Tulisannya hanya satu kalimat pendek.

“Keluarga lengkap.”

Aku menatap kalimat itu cukup lama.

Kemarin Mama mengatakan mereka akan menungguku pulang dari salon, lalu kami pergi bersama.

Mungkin mereka bosan menunggu.

Atau mungkin sejak awal memang tidak merasa sedang meninggalkan seseorang.

Setengah jam kemudian pintu terbuka.

Mia masuk membawa dua kantong belanja.

Begitu melihatku, ia bersiul.

“Wah. Jadi benar-benar pendek.”

Mama masuk di belakangnya.

“Pendek sekali?”

Ia memandangku dari kepala sampai kaki dua kali.

“Salon mana itu? Kok jadinya seperti anak laki-laki.”

Aku bertanya,

“Kalian tadi pergi ke festival?”

Mama berhenti sebentar.

“Dadakan.”

“Mia bilang nanti malam terlalu ramai. Jadi kami sekalian jalan sebentar. Kamu kan sedang di salon. Lain kali bisa pergi lagi.”

Papa yang sedang melepas sepatu menyahut,

“Cuma festival lampion. Tahun depan juga ada.”

Mia sudah menghilang ke kamar.

Ketika keluar lagi, ada jepit mutiara di rambutnya.

Aku langsung mengenalinya.

Milikku.

Hadiah ulang tahun dari Raka tahun lalu.

Aku berdiri.

“Itu punyaku.”

Mia menyentuh jepit tersebut.

“Aku tahu.”

“Rambut Kak Nara juga sudah tidak bisa dipakaikan ini. Aku pinjam dua hari saja.”

Aku mengulurkan tangan.

“Kembalikan.”

Wajahnya langsung berubah.

Mama buru-buru berdiri di antara kami.

“Kamu kenapa?”

“Mia cuma pakai sebentar. Rambutmu saja sudah pendek. Kalau jepit itu disimpan di laci juga cuma berdebu.”

Papa mulai terdengar jengkel.

“Jepit rambut saja dipermasalahkan. Kalian ini saudara kandung.”

Aku menoleh kepada Raka.

Dia justru terlihat bingung.

“Jepit apa?”

Ada sesuatu dalam diriku yang mendadak kosong.

“Hadiah ulang tahunku tahun lalu. Dari kamu.”

Raka terdiam dua atau tiga detik.

Lalu wajahnya menunjukkan bahwa ia baru ingat.

“Oalah, yang itu.”

Dia tersenyum.

“Ya sudah, biar Mia pakai.”

“Cocok sama bajunya hari ini.”

Mia langsung menggoyangkan kepala kecil-kecil sampai jepit itu berkilau terkena lampu.

“Calon kakak ipar saja setuju.”

Aku tidak meminta jepit itu lagi.

Malamnya, kantor mengirim surat resmi penugasanku.

Tiga hari lagi aku harus mulai bekerja di Surabaya.

Aku menandatangani dokumen digital, lalu mengeluarkan koper.

Paspor, ijazah, dokumen kerja, buku tabungan, beberapa berkas pribadi, dan pakaian empat musim pekerjaan kumasukkan satu per satu.

Ketika Mama membuka pintu kamar dan melihat koper di lantai, ia sempat terkejut.

“Kok sudah beres-beres?”

Tanganku berhenti.

Mama rupanya langsung menemukan penjelasan sendiri.

“Oh, iya. Akhir tahun mau tunangan, kan?”

“Mungkin memang sudah waktunya sedikit-sedikit pindah barang ke tempat Raka.”

Ia membuka lemari tanpa menunggu jawabanku.

Tangannya mengambil sebuah mantel tipis warna krem yang masih ada labelnya.

“Ini pernah dipakai?”

“Belum.”

“Kalau begitu kasih Mia saja. Dia kebetulan lagi cari warna begini.”

Aku memandang Mama.

Entah kenapa aku malah tersenyum.

“Ambil saja.”

Wajah Mama langsung cerah.

“Nah, begitu.”

“Kalian itu saudara. Jangan tiap hal kecil dihitung terus.”

Ia membawa mantel itu keluar.

Ia bahkan tidak bertanya kenapa koper yang katanya untuk pindah ke rumah Raka justru berisi seluruh dokumen penting dan pakaian untuk berbulan-bulan.

Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇

Bagian 2

Malam itu aku tidak memberi tahu siapa pun tentang Surabaya.

Bukan karena ingin membuat kejutan.

Aku hanya ingin tahu berapa lama orang-orang di rumah itu akan menyadari bahwa aku sedang menutup kehidupan lamaku satu per satu.

Jawabannya membuatku semakin yakin dengan keputusanku.

Tidak ada yang menyadarinya.

Besok paginya Mama meminta aku mentransfer Rp1,5 juta untuk membayar katering acara keluarga minggu berikutnya.

Mia masuk ke kamar tanpa mengetuk untuk mencari tas yang pernah kupakai ke kantor.

Papa meminta aku memperbaiki aplikasi mobile banking-nya.

Raka mengirim pesan sekitar pukul sebelas.

“Malam ini makan di luar? Mia mau coba restoran baru.”

Aku membaca pesan itu dua kali.

Bukan, “kamu sudah lebih baik?”

Bukan, “maaf soal rambutmu.”

Bukan pula, “kemarin aku keterlaluan.”

Aku mengetik,

“Aku tidak bisa.”

Tiga menit kemudian dia menelepon.

“Kok tidak bisa?”

“Ada urusan kantor.”

“Besok?”

“Juga tidak.”

Raka diam sebentar.

Lalu suaranya berubah sedikit.

“Kamu masih marah?”

Aku tidak menjawab.

Dia mendesah.

“Nara, jangan dibesar-besarkan. Mia memang kelewatan sedikit. Tapi semua orang sudah bilang cuma bercanda.”

“Rambutku dipotong tanpa izin.”

“Ya, aku tahu.”

“Kalian bertaruh kapan aku menangis.”

Hening.

“Itu sebenarnya cuma spontan.”

Aku bertanya,

“Kalau spontan, kenapa kamu sudah punya jumlah taruhan sebelum guntingnya dipakai?”

Raka tidak langsung menjawab.

Untuk pertama kalinya, aku mendengar kebohongan kecil itu tersangkut di tenggorokannya.

Akhirnya dia berkata,

“Kamu mau memperpanjang masalah sampai kapan?”

Aku menutup telepon.

Siang itu aku pergi ke bank untuk memastikan semua rekening pribadi memakai nomor telepon dan alamat email yang hanya bisa kuakses sendiri. Bukan karena ada yang pernah mengambil uangku. Aku hanya tiba-tiba sadar betapa banyak hal penting dalam hidupku yang selama ini kubiarkan terbuka karena percaya.

Aku juga memindahkan dokumen sertifikasi kerja dan salinan kontrak ke tas yang akan selalu kubawa.

Malam kedua, Raka datang.

Mama langsung memanggil dari ruang tamu.

“Nara! Raka datang. Jangan diam di kamar terus.”

Ketika aku keluar, Mia sedang duduk di sofa sambil memakai mantel krem yang kemarin diambil Mama.

Jepit mutiaraku masih terpasang di rambutnya.

Raka membawa dua gelas kopi.

Dia menyerahkan satu kepadaku.

“Aku beli yang biasa.”

Aku menerimanya karena tidak ingin berdebat di depan semua orang.

Kemudian dia menatap koper yang terlihat dari pintu kamarku.

“Kamu mau ke mana?”

Akhirnya ada yang bertanya.

“Surabaya.”

Semua orang diam.

Mama yang pertama bereaksi.

“Surabaya apa?”

“Aku dipindahkan ke kantor cabang Surabaya.”

“Kapan?”

“Lusa.”

Mama berdiri begitu cepat sampai bantal sofa jatuh.

“Lusa?”

Papa memandangku tidak percaya.

“Kenapa baru bilang?”

Aku menatap mereka.

“Dulu aku sudah pernah bilang soal tawaran itu.”

“Itu dulu kamu bilang menolak!”

“Aku berubah pikiran.”

Raka langsung berdiri.

“Kamu tidak bicara dulu sama aku?”

Aku hampir tertawa mendengar kalimat itu.

Dia, yang ikut menjadikan rambutku bahan taruhan, sekarang tersinggung karena keputusan kerjaku tidak dibicarakan lebih dulu.

“Mereka butuh jawaban malam itu.”

“Dan kamu langsung bilang iya cuma karena marah?”

“Bukan cuma karena malam itu.”

Raka menatapku tajam.

“Kita mau tunangan, Nara.”

Aku bertanya pelan,

“Kapan tepatnya?”

Dia tampak tidak mengerti.

“Maksudmu?”

“Kapan kita mau tunangan? Tanggalnya kapan? Siapa yang sudah kamu hubungi? Apa yang sudah kamu siapkan?”

Tidak ada jawaban.

Selama setahun terakhir, “tunangan akhir tahun” selalu menjadi alasan agar aku menunda banyak hal.

Tapi rupanya tidak pernah menjadi rencana nyata.

Mama mulai panik.

“Kamu jangan ambil keputusan besar karena sakit hati soal rambut.”

Aku memandangnya.

“Kalau cuma rambut, Ma, kenapa kemarin tidak ada satu pun yang bisa bilang Mia salah?”

Mia langsung berdiri.

“Aku sudah bilang tidak sengaja!”

“Tidak sengaja memotong, tapi sengaja bertaruh aku akan menangis.”

Wajah Mia menegang.

Aku melanjutkan,

“Dan ada satu hal yang ingin kutahu.”

Aku menatap Raka.

“Siapa yang pertama kali mengusulkan taruhan itu?”

Ruangan mendadak sunyi.

Mia membuka mulut.

Raka lebih dulu berkata,

“Sudahlah.”

Aku melihat wajah mereka bergantian.

Jawaban itu sebenarnya sudah cukup.

Tetapi Mia akhirnya menyahut dengan kesal,

“Kak Raka cuma bilang kamu pasti ngambek kalau rambutmu dipotong. Aku yang bilang pasti nangis.”

Aku menatap Raka.

Dia tidak membantah.

Saat itulah aku tahu gunting di belakang kepalaku bukan lelucon yang tiba-tiba terjadi.

Mereka memang sudah membicarakan bagaimana aku akan bereaksi sebelum aku duduk di kursi itu.

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Aku tidak langsung marah.

Aneh sekali, justru setelah mendengar pengakuan Mia, kepalaku terasa sangat tenang.

“Jadi kalian memang merencanakannya.”

Mia buru-buru menggeleng.

“Bukan merencanakan kayak kejahatan, Kak. Ya ampun. Kak Raka cuma bilang kalau rambutmu dipotong sedikit pasti reaksimu lucu.”

Raka mengusap wajah.

“Mia, sudah.”

“Kenapa sudah?” tanyaku. “Tadi kamu bilang spontan.”

Dia menatapku.

“Kita tidak duduk rapat membahas cara mengerjaimu, kalau itu yang kamu pikir.”

“Aku tidak bilang begitu.”

“Ya, tapi nada bicaramu seolah kami melakukan sesuatu yang besar.”

Aku berdiri di dekat pintu kamar dengan kedua tangan di depan tubuh.

“Bagiku besar.”

Papa mendecakkan lidah.

“Nara, jangan mulai lagi.”

Aku menoleh kepadanya.

Papa sudah memasang ekspresi yang sangat kukenal. Ekspresi yang sejak aku kecil berarti pembicaraan harus berhenti karena ia sudah tidak nyaman.

Dulu aku selalu berhenti.

Malam itu aku tidak.

“Pa, aku tidak meminta siapa pun marah demi aku. Aku cuma ingin tahu satu hal. Kalau Mia memotong rambut Mama tanpa izin sampai harus dipangkas pendek, apakah Papa akan bilang rambut tumbuh lagi?”

Papa mengerutkan kening.

“Jangan banding-bandingkan.”

“Kenapa tidak boleh?”

“Karena situasinya beda.”

“Bedanya apa?”

Tidak ada jawaban.

Mama menghela napas.

“Kamu itu kakaknya.”

Dan di situlah seluruh masalah kami selalu berakhir.

Aku kakaknya.

Karena aku lebih tua tiga tahun, maka rasa malu seharusnya lebih kecil.

Karena aku kakaknya, barangku bisa dipinjam.

Karena aku kakaknya, waktuku lebih mudah diambil.

Karena aku kakaknya, aku yang harus mengerti saat Mia tidak mengerti.

Karena aku kakaknya, kalau aku berhenti mengalah, berarti aku berubah menjadi orang perhitungan.

“Aku memang kakaknya,” kataku. “Bukan berarti tubuhku milik dia.”

Mama terdiam.

Aku menunjuk mantel krem yang dipakai Mia.

“Bukan berarti barangku otomatis jadi barang dia.”

Mia langsung melepas mantelnya dari bahu.

“Kalau masalah banget, ambil!”

“Tidak usah.”

“Nah, terus maunya apa?”

“Aku tidak mau mantelnya.”

Aku menatapnya.

“Aku cuma mau mulai sekarang kamu jangan masuk kamarku dan mengambil barang tanpa izin.”

Mia terkekeh tidak percaya.

“Kamar di rumah Papa sama Mama?”

“Kamar yang selama ini dipakai untuk menyimpan barangku.”

“Rumah ini bukan rumah Kak Nara.”

“Aku tahu.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Dan justru karena itulah aku akhirnya memahami sesuatu.

Aku selama ini bertindak seolah rumah ini juga tempat amanku, padahal batas yang kumiliki di sini hanya berlaku selama tidak mengganggu kenyamanan orang lain.

Aku masuk ke kamar dan mengambil jepit mutiara dari kotak kecil kosong tempat aku biasa menyimpannya.

Tentu saja kotaknya kosong karena jepit itu masih berada di rambut Mia.

Aku kembali ke ruang tamu.

“Jepitnya juga kembalikan.”

Mia memegang rambutnya.

“Serius?”

“Serius.”

Mama langsung berkata,

“Nara…”

Aku tidak menatap Mama.

Mia mencabut jepit itu dengan gerakan kasar dan meletakkannya di meja.

“Ambil.”

Aku mengambilnya.

Bukan karena aku masih menyukai benda itu.

Justru setelah Raka bahkan lupa pernah memberikannya, jepit itu kehilangan banyak arti.

Tetapi itu milikku.

Dan untuk pertama kalinya, aku ingin seseorang mengembalikan sesuatu hanya karena aku bilang itu milikku.

Raka menatap tindakan kecil itu dengan wajah tidak suka.

“Kamu sekarang benar-benar mau hitung-hitungan sampai begini?”

Aku memasukkan jepit ke saku.

“Aku baru mulai menghitung setelah bertahun-tahun kalian memutuskan sendiri mana yang boleh diambil dariku.”

Dia memandang Mama dan Papa seolah meminta dukungan.

Biasanya dia akan mendapatkannya.

Mama memang langsung bicara.

“Raka, coba kamu bujuk dia. Dia lagi emosi.”

Aku menggeleng.

“Jangan.”

Mama menatapku bingung.

“Apa?”

“Jangan suruh dia membujukku.”

Aku menatap Raka.

“Aku tidak butuh dibujuk supaya kembali nyaman dengan sesuatu yang memang tidak nyaman.”

Raka tertawa pendek.

“Jadi sekarang aku jahat?”

“Aku tidak bilang kamu jahat.”

“Terus?”

“Aku bilang kamu tahu rambut itu penting buatku, kamu tahu Mia mau mengerjaiku, kamu ikut bertaruh, lalu setelah benar-benar dipotong kamu tetap menertawakanku.”

Dia diam.

Aku melanjutkan,

“Dan kemarin waktu aku minta fotonya dihapus, kamu melindungi Mia dari aku.”

“Aku cuma tidak mau kalian berantem.”

“Dengan cara memastikan aku yang berhenti?”

Kali ini dia tidak punya jawaban cepat.

Malam itu kami tidak menyelesaikan hubungan kami.

Aku juga tidak tiba-tiba mengatakan semuanya berakhir.

Delapan tahun tidak bisa diringkas menjadi satu kalimat dramatis di ruang tamu.

Aku hanya meminta semua orang keluar dari kamarku karena masih harus mengemas barang.

Papa marah.

Mama menangis sebentar di dapur.

Mia membanting pintu kamarnya.

Raka duduk di ruang tamu hampir satu jam sebelum akhirnya pulang.

Aku tetap melipat pakaian.

Keesokan paginya Mama sudah menungguku di meja makan.

Ada nasi hangat, telur, dan tumis sayur yang biasanya kubawa ke kantor.

Ia mendorong kotak makan ke arahku.

“Bawa.”

Aku menerimanya.

Mama memandang rambutku cukup lama.

Kemudian bertanya,

“Benar-benar harus pergi?”

“Iya.”

“Kalau kamu mau kerja di posisi lebih tinggi, nanti kan bisa cari di Bandung.”

“Kesempatannya sekarang ada di Surabaya.”

“Kamu tega meninggalkan Papa Mama?”

Kalimat itu membuatku hampir kembali ke kebiasaan lama, yaitu menjelaskan terlalu banyak.

Aku hampir mengatakan aku masih bisa menelepon.

Aku masih bisa pulang.

Aku akan membantu kalau ada keadaan darurat.

Aku masih anak mereka.

Tetapi kemudian aku sadar Mama bahkan belum sekali pun bertanya apakah aku menginginkan pekerjaan itu.

Yang ia tanyakan hanya apakah aku tega pergi.

“Aku pindah kerja, Ma. Bukan menghilang.”

Mama menunduk.

“Kalau begitu Raka bagaimana?”

“Aku belum tahu.”

Wajahnya langsung cemas.

“Jangan rusak hubungan delapan tahun cuma karena satu kejadian.”

“Aku tidak sedang menilai satu kejadian.”

“Nara…”

Aku menggeleng.

“Ma, tujuh tahun lalu Mia membuat satu kelas menertawakanku. Mama bilang dia masih kecil.”

“Waktu dia menyembunyikan kacamataku sebelum sidang, Mama bilang dia cuma iseng.”

“Sekarang umur dia dua puluh enam tahun.”

Mama mengatupkan bibir.

Aku berkata pelan,

“Kalau setiap kali dia menyakitiku kalian bilang cuma bercanda, kapan dia belajar bahwa ada sesuatu yang tidak boleh dia lakukan?”

Mama tidak menjawab.

Untuk pertama kalinya aku tidak memaksanya mengerti.

Hari terakhir sebelum keberangkatanku berjalan biasa.

Aku pergi ke kantor untuk serah terima.

Aku mengembalikan beberapa barang perusahaan.

Aku membeli koper tambahan murah karena pakaian musim hujan dan dokumen kerja memenuhi terlalu banyak ruang.

Aku tidak mengadakan pesta perpisahan.

Sore hari, Raka menungguku di depan kantor.

Ia bersandar di motornya.

Aku hampir berjalan melewatinya ketika dia memanggil.

“Nara.”

Aku berhenti.

Dia tampak kurang tidur.

“Bisa bicara?”

Kami duduk di warung kopi kecil di seberang kantor.

Untuk beberapa menit, dia hanya mengaduk minumannya.

Akhirnya dia berkata,

“Aku minta maaf.”

Aku diam.

“Aku memang ikut bercanda keterlaluan.”

Aku masih tidak mengatakan apa-apa.

Dia menatapku.

“Aku tidak pernah berniat bikin kamu pindah kota.”

Kalimat itu membuatku mengernyit.

“Pekerjaanku bukan hukuman buat kamu.”

“Maksudku bukan begitu.”

“Tapi kamu masih melihatnya sebagai reaksi terhadapmu.”

Raka bersandar.

“Kalau bukan karena kejadian itu, kamu tidak akan menerima Surabaya.”

“Mungkin.”

“Nah.”

“Tapi itu bukan berarti Surabaya sebuah kesalahan.”

Dia menatap meja.

“Aku pikir kita punya rencana.”

“Kita punya kalimat yang terus kita ulang.”

“Apa?”

“Katamu kita tunangan akhir tahun.”

“Memang.”

“Kapan?”

Dia kembali diam.

Aku bertanya,

“Tabungan untuk acara ada?”

“Aku ada tabungan.”

“Aku tidak tanya kamu punya tabungan atau tidak. Aku tanya pernahkah kamu benar-benar menyiapkan sesuatu untuk tunangan kita?”

Raka memijat kening.

“Nara, laki-laki tidak selalu merencanakan sampai sedetail itu.”

“Aku juga tidak minta gedung, cincin mahal, atau acara besar.”

Aku memandangnya.

“Tapi kamu memakai rencana itu untuk memintaku menolak pekerjaan.”

Dia langsung membalas,

“Karena aku tidak mau hubungan jarak jauh.”

“Dan akhirnya aku menolak dua kali.”

“Bukankah itu keputusanmu?”

“Betul.”

Aku mengangguk.

“Itu keputusan yang kubuat. Sekarang menerima Surabaya juga keputusanku.”

Raka terdiam cukup lama.

Kemudian ia berkata,

“Tiga tahun lama.”

“Aku tahu.”

“Jadi kita bagaimana?”

Aku tidak menjawab langsung.

Ada masa ketika pertanyaan itu akan membuatku panik.

Aku mungkin akan langsung menawarkan pulang dua minggu sekali, meminta mutasi setelah satu tahun, atau memastikan dia tidak merasa ditinggalkan.

Hari itu aku justru bertanya,

“Kalau aku tetap di Bandung, menurutmu apa yang harus berubah setelah kejadian ini?”

Raka tampak kaget.

“Apa maksudmu?”

“Soal kamu dan Mia.”

Dia menghela napas.

“Tidak ada apa-apa antara aku dan Mia kalau itu yang kamu curigai.”

“Aku tidak menuduh kalian punya hubungan.”

“Terus?”

“Aku tanya batasnya.”

Dia memandangku.

Aku menjelaskan.

“Kamu terlalu nyaman ikut mengejekku bersama dia. Kamu memberi hadiah makanan ke dia, sering antar dia, ikut grup candaan dia, bahkan kemarin melindungi dia waktu aku mau ambil ponselnya.”

“Dia adikmu.”

“Justru itu.”

Aku menatap Raka.

“Aku tidak meminta kamu membenci Mia. Aku bertanya, kalau dia memperlakukanku buruk, apakah kamu akan tetap ikut tertawa supaya suasana tidak canggung?”

Raka tidak langsung menjawab.

Ketika akhirnya bicara, jawabannya lebih jujur daripada semua pembelaannya sejak malam sebelumnya.

“Aku mungkin terlalu terbiasa.”

“Dengan apa?”

“Dengan kamu yang akhirnya selalu baik-baik saja.”

Aku menunduk menatap kopi.

Setidaknya kali ini dia mengatakannya tanpa menyalahkanku.

“Aku pikir kamu akan marah sehari dua hari,” lanjutnya. “Terus seperti biasanya.”

“Seperti biasanya bagaimana?”

“Ya… normal lagi.”

Aku mengangguk.

Itulah inti seluruh masalah.

Mereka semua yakin aku selalu akan kembali normal.

Tidak peduli apa yang dilakukan.

Karena selama bertahun-tahun, memang itulah yang kulakukan.

Kami meninggalkan warung hampir satu jam kemudian.

Raka meminta hubungan kami tidak diputuskan sebelum aku mencoba tinggal di Surabaya.

Aku setuju.

Bukan karena aku menjanjikan masa depan.

Aku hanya belum siap membuat keputusan permanen pada hari yang sama ketika seluruh hidupku berubah.

Pagi keberangkatanku, Papa mengantar koper ke mobil travel.

Ia masih dingin, tetapi tidak lagi marah.

Saat sopir memasukkan koper, Papa bertanya,

“Gajinya benar dua kali?”

“Hampir.”

Dia mengangguk kecil.

“Kalau memang bagus buat kariermu, ya jalani.”

Itu bukan permintaan maaf.

Tapi dari Papa, kalimat itu cukup besar untuk membuatku menatapnya dua kali.

Mama membawakan satu tas makanan.

Ia memelukku terlalu lama.

“Jangan lupa pulang.”

“Aku pulang kalau jadwal memungkinkan.”

Dulu aku mungkin akan berkata setiap bulan.

Kali ini tidak.

Mia tidak keluar rumah sampai sopir membunyikan klakson.

Aku sudah hendak masuk mobil ketika ia muncul di teras.

Rambutnya dikuncir biasa.

Tidak ada jepit mutiaraku.

Dia berjalan mendekat sambil membawa amplop putih.

“Apa ini?”

“Buka nanti.”

Aku membukanya sekarang.

Di dalamnya ada Rp200.000.

Uang taruhan.

Aku menatapnya.

Mia memalingkan wajah.

“Kak Raka sudah transfer balik bagian dia juga ke aku. Jadi total sebenarnya empat ratus.”

Ia mengeluarkan dua lembar lagi dari saku.

“Ini.”

Aku tidak mengambilnya.

Mia kesal.

“Terima saja.”

“Aku tidak butuh uangnya.”

“Terus harus bagaimana?”

Aku memandangnya.

“Minta maaf tanpa menjelaskan bahwa aku terlalu sensitif.”

Mulutnya langsung tertutup.

Beberapa detik kami hanya berdiri di dekat pagar.

Akhirnya Mia berkata,

“Maaf aku potong rambut Kak Nara.”

Aku menunggu.

“Dan… maaf aku foto.”

Aku masih diam.

“Dan kirim ke grup.”

Dia menggeser berat badan dari satu kaki ke kaki lain.

“Aku pikir Kak Nara akan marah sebentar terus selesai.”

Aku bertanya,

“Karena biasanya begitu?”

Mia mengangguk.

“Ya.”

Setidaknya kami akhirnya berbicara tentang masalah yang sama.

Aku mengambil Rp400.000 itu.

Bukan untuk menganggap semuanya lunas.

Aku bilang,

“Aku akan pakai buat beli jepit rambut baru kalau rambutku panjang lagi.”

Mia hampir tersenyum, tetapi menahannya.

Kemudian dia berkata,

“Pendek juga tidak jelek.”

Aku masuk ke mobil sebelum percakapan berubah menjadi sesuatu yang terlalu mudah.

Bulan pertama di Surabaya sulit.

Pekerjaanku lebih berat dari yang kubayangkan.

Aku memimpin tim yang lebih besar, jadwal gudang lebih padat, dan hampir setiap malam aku pulang ke apartemen sewaan perusahaan dengan kepala penuh angka.

Tetapi ada satu perbedaan penting.

Setiap keputusan kecil di tempat itu benar-benar milikku.

Kalau ingin makan malam sendiri, aku sendiri.

Kalau ingin tidur jam sembilan, tidak ada yang membuka pintu kamar mencari tas.

Tidak ada yang memakai barangku lalu menyuruhku mengalah.

Tidak ada yang menjadikan reaksiku hiburan saat makan malam.

Raka menelepon hampir setiap malam pada dua minggu pertama.

Awalnya dia sering mencoba mengembalikan semuanya seperti dulu.

Mengirim meme.

Bercerita tentang Mia.

Bertanya kapan aku pulang.

Aku menjawab seperlunya.

Pada minggu ketiga, aku berkata kepadanya,

“Kalau kita mau melanjutkan hubungan, aku tidak mau pura-pura semuanya sudah selesai.”

Raka diam.

“Apa yang kamu minta?”

“Bukan sesuatu yang rumit.”

Aku menarik napas.

“Jangan ikut keluargaku menertawakanku kalau aku bilang sesuatu menyakitiku.”

“Kalau Mia mengambil barangku, jangan bilang biarkan saja.”

“Kalau kamu berjanji sesuatu soal masa depan kita, aku ingin itu benar-benar rencana, bukan kalimat supaya aku menunda hidupku.”

Raka menjawab,

“Aku bisa.”

Aku tidak langsung percaya.

Aku hanya berkata,

“Lihat saja.”

Dua bulan kemudian aku pulang ke Bandung untuk rapat regional.

Aku memilih hotel dekat kantor daripada tinggal di rumah orang tuaku.

Mama tersinggung ketika tahu.

“Rumah sendiri kok malah hotel.”

Aku menjawab,

“Aku ada rapat pagi. Lebih dekat dari sana.”

Itu benar.

Tapi bukan seluruh alasan.

Aku belum siap kembali tidur di kamar yang dulu tidak pernah benar-benar punya pintu.

Malam itu kami makan bersama di rumah.

Hal pertama yang kulihat ketika masuk adalah kunci kecil baru terpasang di pintu kamarku.

Aku berhenti di lorong.

Mama yang berjalan di belakangku berkata,

“Papa yang pasang.”

Aku menoleh.

Papa pura-pura sibuk menonton televisi.

Mama menambahkan,

“Katanya biar Mia tidak sembarang masuk kalau kamu pulang.”

Dari dapur terdengar suara Mia.

“Aku dengar, Ma!”

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Hanya menyentuh kunci itu sebentar.

Saat makan, suasananya canggung tetapi tenang.

Tidak ada lelucon soal rambut.

Tidak ada cerita lama tentang aku menangis.

Rambutku sudah mulai tumbuh menutupi telinga.

Mia beberapa kali memandangnya tetapi tidak berkomentar.

Setelah makan, Raka datang.

Ia membawa sebuah kotak kecil.

Aku langsung berkata,

“Kalau cincin, jangan.”

Dia tertawa kaku.

“Bukan.”

Isi kotak itu adalah jepit rambut sederhana.

Bukan barang mahal.

Bukan pengganti jepit mutiara lama.

“Ini bukan buat menebus yang kemarin,” katanya. “Aku cuma lihat di toko dan ingat rambutmu mulai panjang.”

Aku memegang kotaknya.

Kemudian bertanya,

“Kamu ingat sendiri?”

“Jangan jahat.”

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku tertawa sedikit.

Tetapi hubungan kami tetap tidak otomatis pulih.

Malam itu, setelah kami berjalan keluar kompleks, Raka mengatakan ia mulai menyisihkan uang khusus untuk rencana pertunangan.

Aku menghentikannya.

“Raka.”

“Apa?”

“Aku belum bilang kita akan bertunangan.”

Wajahnya berubah.

“Aku pikir…”

“Itulah masalah kita selama ini. Kamu terlalu sering berpikir keputusan sudah ada sebelum aku mengatakannya.”

Dia terdiam.

Aku melanjutkan,

“Aku belum putus darimu. Tapi aku juga belum siap menikah.”

“Berapa lama?”

“Aku tidak tahu.”

Raka memasukkan tangan ke saku celana.

Kali ini dia tidak membujuk.

Tidak mengatakan delapan tahun akan sia-sia.

Tidak mengatakan aku berlebihan.

Dia hanya mengangguk.

“Oke.”

Enam bulan setelah aku pindah, sesuatu yang aneh terjadi.

Bukan twist besar.

Bukan pula permintaan maaf dramatis.

Mama meneleponku pada Minggu sore.

“Nara, Mia berantem sama teman kantornya.”

Aku sedang melipat cucian.

“Kenapa?”

“Temannya ambil lipstik dari meja Mia tanpa bilang, terus dipakai. Mia marah.”

Aku menahan senyum.

Mama diam beberapa detik.

Kemudian berkata,

“Mama tadi hampir bilang, ‘cuma lipstik’.”

“Tapi?”

“Mama tidak jadi.”

Aku duduk di tepi tempat tidur.

Mama melanjutkan pelan,

“Mama baru sadar mungkin selama ini Mama memang terlalu gampang bilang begitu ke kamu.”

Itu bukan pidato panjang.

Tidak ada tangisan.

Tetapi aku tahu Mama membutuhkan enam bulan dan satu lipstik orang lain untuk memahami sesuatu yang selama bertahun-tahun gagal kupahami darinya.

Aku berkata,

“Terima kasih sudah bilang.”

Beberapa minggu setelah itu, Mia sendiri menelepon.

Ia tidak meminta uang.

Tidak meminta barang.

Tidak pula membawa masalah.

Ia hanya bertanya tentang pekerjaan.

Kami berbicara dua puluh menit.

Sebelum menutup telepon, dia berkata,

“Kak, aku masih punya foto rambut waktu itu.”

Aku diam.

“Tapi sudah kuhapus dari ponsel dan grup keluarga. Tante Rina juga aku suruh hapus karena dia pernah simpan.”

Aku tidak tahu apakah semuanya benar-benar terhapus.

Aku juga tidak ingin memeriksa satu per satu.

“Terima kasih.”

Mia berkata,

“Aku malu sekarang kalau ingat.”

“Bagus.”

“Hah?”

“Kalau kamu malu, berarti kamu tahu itu salah.”

Dia mendengus.

“Kak Nara sekarang galak.”

“Tidak.”

Aku tersenyum.

“Aku cuma tidak cepat-cepat bilang tidak apa-apa.”

Hubunganku dengan Raka bertahan hampir satu tahun setelah aku pindah.

Lalu kami berpisah.

Bukan karena orang ketiga.

Bukan karena dia tiba-tiba berubah jahat.

Kami hanya akhirnya berani melihat kenyataan tanpa memakai rencana pernikahan sebagai penutup.

Dia tidak ingin meninggalkan Bandung karena pekerjaannya dan orang tuanya.

Aku mendapat tawaran memperpanjang posisi di Surabaya setelah tiga tahun dengan jalur promosi yang lebih jelas.

Ketika kami berbicara terakhir kali di sebuah kafe saat aku pulang, tidak ada teriakan.

Raka hanya bertanya,

“Kalau malam itu rambutmu tidak dipotong, menurutmu kita tetap akan sampai di sini?”

Aku memikirkannya.

“Mungkin lebih lambat.”

Dia tersenyum pahit.

“Aku benar-benar minta maaf soal taruhan itu.”

“Aku tahu.”

“Aku bodoh.”

“Kamu terlalu nyaman.”

Dia tertawa kecil.

“Lebih halus.”

Aku menggeleng.

“Tidak. Itu justru masalahnya.”

Kami berpisah setelah hampir sembilan tahun bersama.

Aku menangis malam itu.

Tentu saja.

Tetapi tidak ada yang bertaruh berapa menit aku akan menangis.

Setahun setelah kejadian malam festival itu, aku pulang untuk ulang tahun Papa.

Rambutku sudah sampai bahu.

Mia sedang membantu Mama menata makanan ketika aku datang.

Aku meletakkan tas di kamar.

Kunci kecil di pintu masih ada.

Di atas meja belajarku ada kotak bening.

Di dalamnya, jepit mutiara hadiah lama dari Raka tersimpan bersama jepit sederhana yang pernah ia berikan kemudian.

Aku tidak memakai keduanya.

Aku memilih karet rambut biasa dari tasku.

Ketika keluar kamar, Mia memandang rambutku.

“Kak.”

“Hm?”

“Boleh aku kepang?”

Tanganku berhenti di gagang pintu.

Wajahnya berubah panik.

“Kalau tidak boleh, tidak apa-apa.”

Aku menatapnya beberapa detik.

Lalu duduk di kursi ruang makan.

“Boleh.”

Mia mengambil sisir.

Sebelum menyentuh rambutku, ia bertanya lagi,

“Beneran?”

“Beneran.”

Dia mulai menyisir perlahan.

Tidak ada gunting di meja.

Tidak ada ponsel di tangannya.

Tidak ada orang yang tertawa menunggu reaksiku.

Mama lewat membawa piring dan hanya melirik sebentar.

Papa sedang memotong buah.

Aku melihat bayanganku samar di kaca jendela.

Rambutku belum sepanjang dulu.

Mungkin tidak akan pernah kupanjangkan sampai sepanjang itu lagi.

Dan ternyata aku tidak keberatan.

Setelah selesai, Mia menyerahkan cermin kecil.

“Bagaimana?”

Aku melihat kepang sederhana di belakang kepalaku.

“Lumayan.”

“Cuma lumayan?”

Aku menoleh.

Dia langsung mengangkat dua tangan.

“Oke. Lumayan.”

Aku tersenyum.

Malam itu, sebelum tidur, aku masuk ke kamar dan mengunci pintu dari dalam.

Bukan karena takut seseorang akan masuk.

Aku hanya suka bunyi kecil saat kuncinya berpindah ke posisi terkunci.

Untuk pertama kalinya, suara itu tidak terasa seperti menjauh dari keluargaku.

Rasanya seperti akhirnya memiliki batas yang mereka tahu harus dihormati.

Menurutmu, apakah Nara benar memberi keluarganya kesempatan lagi setelah mereka mulai menghormati batas yang dulu selalu mereka abaikan?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.