Bagian 3 — Pagi Berikutnya, Satu Rekaman Lift dan Sebuah Kontrak Tersembunyi Membongkar Alasan Sebenarnya Perempuan Itu Harus Tidur di Kamar Kami Malam Tadi

Avatar penulis
Cerita 02
13 menit baca 1,063 tayangan
Auto Draft
Indeks

Bagian 3 — Pagi Berikutnya, Satu Rekaman Lift dan Sebuah Kontrak Tersembunyi Membongkar Alasan Sebenarnya Perempuan Itu Harus Tidur di Kamar Kami Malam Tadi

Tidak ada yang berteriak setelah rekaman itu selesai.

Aneh sekali.

Aku selalu membayangkan jika suatu hari mengetahui suamiku berkhianat, aku akan menangis, melempar sesuatu, atau menamparnya.

Ternyata tidak.

Aku hanya berdiri di tengah ruang keluarga, menatap laki-laki yang telah tinggal bersamaku selama tujuh tahun, lalu merasa seperti sedang melihat orang asing memakai wajah suamiku.

Pak Hadi menjadi orang pertama yang bergerak.

Dia menyerahkan map itu kepadaku.

“Simpan.”

Arga langsung berkata, “Pak, jangan membuat keadaan semakin kacau.”

Pak Hadi menoleh.

“Yang membuat keadaan kacau bukan Bapak.”

“Dokumen itu belum dipakai.”

“Bank sudah menerima berkas awal.”

“Itu cuma pengajuan.”

“Dengan tanda tangan istrimu yang dipalsukan.”

Arga mengusap wajah.

“Aku akan membatalkannya besok.”

Aku bertanya, “Kalau malam ini aku tidak menelepon Bapak?”

Dia diam.

“Kalau aku benar-benar tidur di sofa sampai pagi sementara kalian mengambil sertifikat asli?”

“Nabila…”

“Jawab.”

“Aku cuma meminjamnya.”

Aku tertawa.

Bukan karena lucu.

Karena sampai saat itu dia masih memilih kata yang paling ringan untuk sesuatu yang sangat jelas.

“Meminjam barang orang berarti meminta izin.”

“Aku sedang terdesak.”

“Lalu?”

“Aku punya proyek yang harus dibayar minggu depan.”

“Lalu?”

“Kalau proyek gagal, puluhan orang bisa kehilangan pekerjaan.”

“Jadi kamu mau mengambil aset warisan istrinya tanpa izin dan memalsukan tanda tangannya demi menyelamatkan proyek?”

Arga mulai menaikkan suara.

“Karena setiap kali aku bicara soal bisnis, kamu cuma bilang jangan! Jangan pinjam! Jangan ekspansi! Jangan ambil risiko!”

Aku mengangguk pelan.

“Sekarang aku mengerti.”

“Apa?”

“Selama ini kamu tidak marah karena aku tidak mendukungmu. Kamu marah karena aku tidak membiarkanmu memakai milikku.”

Keisha menangis.

“Saya minta maaf, Mbak.”

Aku menatapnya.

“Aku belum bicara denganmu.”

Dia langsung menunduk.

Pak Hadi meminta semua orang duduk.

Aku tetap berdiri.

Kemudian ayah mertuaku mengatakan sesuatu yang menjelaskan kenapa malam itu dia bisa datang begitu cepat.

Tiga hari sebelumnya, seorang pejabat bank yang sudah lama mengenal keluarga Pratama menghubunginya.

Ada aplikasi pinjaman hampir Rp2,8 miliar yang menggunakan proyek-proyek PT Pratama Ruang Nusantara sebagai dasar kemampuan pembayaran.

Namun nama perusahaan peminjam bukan perusahaan keluarga.

Nama peminjamnya adalah PT Svara Karya Mandiri.

Ketika bagian risiko memeriksa dokumen, mereka menemukan salinan sertifikat ruko atas namaku beserta surat persetujuan yang diduga ditandatangani olehku.

Pejabat bank tersebut mengenal Pak Hadi.

Dia bertanya apakah menantunya benar-benar menjaminkan aset pribadi untuk bisnis Arga.

Pak Hadi tidak langsung meneleponku karena khawatir salah paham.

Dia meminta bagian keuangan perusahaan melakukan pemeriksaan internal.

Hasil sementara baru diterimanya sore itu.

Selama enam bulan terakhir, hampir Rp1,1 miliar uang muka dari tiga proyek dialihkan melalui beberapa vendor.

Salah satu vendor dimiliki kerabat Keisha.

Vendor lainnya ternyata hanya memiliki alamat kantor virtual.

Dari sana, sebagian dana masuk ke rekening PT Svara Karya Mandiri.

“Aku berniat memanggil Arga besok pagi,” kata Pak Hadi. “Tapi kemudian kamu menelepon malam ini.”

Aku menatap Arga.

“Jadi kalau aku tidak menelepon, besok Bapak tetap akan memanggil dia?”

“Iya.”

“Dan Bapak sudah tahu soal sertifikat?”

“Bapak tahu salinannya digunakan. Bapak belum tahu bagaimana mereka berencana mendapatkan dokumen asli.”

Pak Hadi memandang pintu kamar.

“Sekarang Bapak tahu.”

Keisha menggeleng.

“Saya tidak pernah berniat mencuri.”

Aku bertanya, “Kamu tadi sudah tahu letak brankasnya.”

Dia diam.

“Dari mana?”

Keisha memandang Arga.

Arga langsung berkata, “Aku pernah cerita.”

“Apa lagi yang kamu ceritakan?”

“Nabila, jangan cari masalah lain.”

Aku hampir tidak percaya.

“Masalah lain?”

Aku berjalan ke kamar.

Semua orang mengikutiku.

Kondisinya masih sama seperti beberapa menit sebelumnya.

Selimut terbuka.

Bantal sedikit bergeser.

Tas laptop Keisha masih berada dekat lemari.

Aku membuka pintu lemari dan berjongkok di depan brankas.

Pintunya tertutup.

Aku memasukkan kode.

Ketika kubuka, map biru berisi sertifikat ruko masih ada.

Dadaku sedikit lega.

Namun sesuatu lain membuatku berhenti.

Di bagian depan map terdapat bekas goresan tipis.

Seolah seseorang baru saja mencoba menariknya.

Aku mengambil ponsel.

“Aku foto semuanya.”

Arga berkata, “Untuk apa?”

“Bukti.”

“Kamu mau melaporkan suamimu sendiri?”

Aku menoleh.

“Kamu baru merencanakan mengambil dokumen warisanku dengan perempuan lain. Tapi yang membuatmu kaget justru kemungkinan aku melindungi diriku?”

Ibu Ratih menangis.

“Nabila…”

Aku menggenggam tangannya sebentar.

“Ibu tidak perlu meminta maaf.”

“Nak…”

“Yang melakukan bukan Ibu.”

Kalimat itu justru membuat tangisnya semakin keras.

Kemudian sesuatu yang tidak kuduga terjadi.

Keisha berdiri dari tempat tidur.

Dia membuka tas laptopnya sendiri.

“Ada hal yang Mbak Nabila harus lihat.”

Arga langsung bergerak.

“Keisha, tutup tas itu.”

Namun Dimas berdiri di depannya.

Keisha mengeluarkan sebuah laptop dan satu map cokelat.

Tangannya gemetar.

“Pak Arga bilang kalau semua berhasil, setelah pinjaman cair saya akan mendapatkan sepuluh persen kepemilikan Svara.”

Pak Hadi bertanya, “Sebagai apa?”

“Sebagai kompensasi karena saya mengurus dokumen.”

Arga membentak, “Kamu jangan putar balik semuanya!”

Keisha menangis lebih keras.

“Saya memang salah! Tapi saya tidak mau masuk penjara sendirian!”

Kalimat itu akhirnya membuka pintu yang sejak tadi ditutup rapat oleh keduanya.

Ternyata hubungan mereka jauh lebih rumit daripada hubungan seorang direktur dan asistennya.

Empat belas bulan sebelumnya, Arga mulai mengembangkan bisnis furnitur modular tanpa sepengetahuan ayahnya.

Dia merasa perusahaan keluarga terlalu konservatif.

Dia ingin memiliki perusahaan sendiri.

Keisha membantu mencari vendor, menyusun proposal, menghubungi investor, serta membuat perusahaan baru menggunakan nama sepupunya sebagai direktur sementara.

Pada awalnya, menurut pengakuan Keisha, bisnis itu menggunakan uang pribadi Arga.

Kemudian biaya membengkak.

Salah satu proyek gagal.

Vendor menuntut pembayaran.

Arga mulai memindahkan dana dari proyek perusahaan keluarga dengan alasan sementara.

Ketika lubang semakin besar, dia membutuhkan pinjaman baru.

Bank meminta jaminan.

Arga tidak punya cukup aset bebas beban.

Lalu dia teringat rukoku.

Ruko dua lantai di Ciputat yang diwariskan Ibu kepadaku lima tahun sebelum beliau meninggal.

Nilai pasar terakhirnya lebih dari empat miliar rupiah.

Aku pernah berkata kepada Arga bahwa ruko itu tidak akan kujual dan tidak akan kujadikan jaminan.

Penghasilannya dari sewa akan kusimpan sebagai dana pendidikan dan dana darurat.

Arga menganggap keputusanku terlalu takut mengambil risiko.

Ternyata diam-diam dia menganggap aset itu sebagai jalan keluar.

“Siapa yang membuat tanda tangan palsu?” tanyaku.

Keisha menunjuk sebuah dokumen di map cokelat.

“Saya tidak membuatnya.”

Arga tertawa sinis.

“Jangan bohong.”

Keisha membuka ponselnya.

Kemudian dia menunjukkan percakapan WhatsApp.

Pesannya bukan dikirim ke Arga.

Melainkan ke seorang pria bernama Yudi.

Ada foto contoh tanda tanganku.

Ada instruksi.

Ada pesan:

Buat semirip mungkin. Nanti yang asli diambil setelah Nabila tidur.

Pengirim instruksi tersebut adalah nomor Arga.

Aku membaca berkali-kali.

Bukan karena tidak memahami kalimatnya.

Aku hanya membutuhkan waktu untuk menerima bahwa orang yang menulisnya tidur di sampingku hampir setiap malam selama tujuh tahun.

“Aku bisa jelaskan,” kata Arga.

Aku menyerahkan ponsel kepada Pak Hadi.

“Jangan jelaskan kepadaku lagi.”

“Nabila.”

“Mulai sekarang kalau mau menjelaskan, jelaskan kepada pengacara.”

Dia menatapku.

“Kamu serius mau menghancurkan pernikahan kita karena masalah bisnis?”

Saat itulah sesuatu dalam diriku benar-benar putus.

Aku maju satu langkah.

“Bukan aku yang menghancurkan pernikahan ini.”

Aku menunjuk kamar kami.

“Kamu membawa perempuan yang ikut mengurus pemalsuan tanda tanganku ke dalam kamar kita.”

Aku menunjuk sofa di luar.

“Kamu menyuruh istrimu tidur di luar supaya kalian bisa mengambil dokumen.”

Kemudian aku menunjuk map di tangan Pak Hadi.

“Dan setelah ketahuan, kamu masih menyebut semuanya ‘masalah bisnis’.”

Arga tidak bisa menjawab.

Sekitar pukul dua dini hari, Pak Hadi meminta keamanan kompleks datang.

Bukan untuk membuat keributan.

Dia hanya ingin ada saksi bahwa Keisha meninggalkan rumah malam itu dengan barang-barangnya sendiri dan bahwa tidak ada satu pun dokumen milikku dibawa keluar.

Keisha akhirnya dijemput kakak perempuannya.

Sebelum pergi, dia menatapku.

“Saya tahu permintaan maaf saya tidak ada artinya.”

Aku tidak menjawab.

Karena saat itu memang tidak ada jawaban yang kubutuhkan darinya.

Arga mencoba tetap tinggal.

Aku menolak.

“Ini rumahku.”

“Nabila, aku suamimu.”

“Dan malam ini kamu mencoba mengambil asetku.”

“Aku tidak akan melakukan apa-apa.”

“Aku sudah pernah percaya kalimatmu terlalu banyak.”

Rumah itu memang berada atas namaku.

Bukan harta yang dibeli setelah menikah.

Tanah dan bangunan awalnya dibeli almarhumah Ibu sebelum aku menikah, kemudian diberikan kepadaku melalui akta hibah.

Arga hanya ikut membiayai sebagian renovasi beberapa tahun kemudian.

Pak Hadi menatap anaknya.

“Kamu ikut Bapak.”

“Aku tidak mau.”

Ayahku maju.

“Kalau begitu saya panggil polisi sekarang dan kita selesaikan semuanya malam ini.”

Arga akhirnya mengambil kunci mobilnya.

Sebelum keluar, dia menatapku cukup lama.

Aku berharap dia mengatakan maaf.

Entah kenapa bagian kecil dalam diriku masih menunggu itu.

Namun yang keluar justru:

“Kamu akan menyesal membuat semua orang tahu.”

Aku menatapnya.

“Tidak.”

Aku menarik napas.

“Yang kusesali cuma kenapa aku baru menelepon malam ini.”

Pintu tertutup.

Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, rumah itu benar-benar sunyi.

Aku tidak tidur.

Pukul enam pagi, aku mandi, mengganti pakaian, lalu bersama ayah dan Dimas pergi menemui notaris yang selama ini mengurus aset keluarga kami.

Hari itu juga aku membuat pernyataan tertulis bahwa aku tidak pernah memberikan kuasa kepada Arga, Keisha, atau perusahaan mana pun untuk menjaminkan ruko tersebut.

Aku mengirimkan surat keberatan resmi kepada bank.

Salinan tanda tanganku disertakan untuk verifikasi.

Aku mengganti seluruh kode brankas.

Aku memblokir akses Arga pada beberapa dokumen digital keluarga.

Kemudian aku menemui pengacara.

Pengacara tersebut mengatakan sesuatu yang terus kuingat.

“Jangan mengambil keputusan besar karena ingin membalas dendam. Ambil keputusan karena Anda sudah melihat fakta.”

Aku pulang dan membaca semua bukti sekali lagi.

Setelah itu aku mengajukan gugatan cerai.

Arga datang tiga hari kemudian.

Dia menunggu di teras hampir satu jam.

Aku akhirnya keluar, tetapi tidak membiarkannya masuk.

Wajahnya jauh lebih lelah.

“Bapak menonaktifkan aku dari perusahaan.”

Aku diam.

“Semua akses keuangan diblokir.”

Aku masih diam.

“Keisha juga dipecat.”

“Aku tidak bertanya.”

“Nabila, dengarkan aku.”

“Aku mendengarkan.”

Dia menatapku.

“Aku tidak selingkuh dengan Keisha.”

Aku hampir tersenyum.

Ternyata itu yang masih dia anggap paling penting.

“Kalau memang tidak, bagus.”

“Kamu tidak percaya?”

“Aku tidak perlu tahu lagi.”

“Bagaimana kamu bisa bilang begitu?”

“Karena bahkan kalau kalian tidak pernah tidur bersama sekalipun, apa yang kamu lakukan sudah cukup.”

Dia terdiam.

Aku menjelaskan dengan sangat tenang.

Perselingkuhan bukan satu-satunya bentuk pengkhianatan.

Dia membohongiku selama berbulan-bulan.

Menggunakan asetku sebagai jalan keluar.

Mengirim contoh tanda tanganku kepada orang lain.

Membawa orang yang terlibat dalam rencananya masuk ke rumah.

Menyuruhku meninggalkan kamar.

Dan ketika aku mempertanyakan semuanya, dia membuatku merasa seolah aku perempuan pencemburu yang berlebihan.

“Aku panik,” katanya.

“Panik tidak membuat orang merencanakan sesuatu berbulan-bulan.”

“Aku sedang mencoba menyelamatkan bisnis.”

“Dengan mengorbankan aku.”

“Aku akan mengembalikan semuanya.”

“Kalau usahamu gagal?”

Dia diam.

“Itulah jawabannya.”

Aku hendak masuk ketika dia berkata:

“Aku masih sayang kamu.”

Aku berhenti.

Dulu, kalimat itu mungkin cukup membuatku menangis.

Sekarang tidak.

“Kalau kamu sayang seseorang, kamu tidak membuat dia tidur di sofa supaya kamu bisa membuka brankasnya.”

Aku masuk.

Pintu kututup.

Penyelidikan internal perusahaan berlangsung hampir dua bulan.

Hasilnya lebih buruk daripada yang diketahui Pak Hadi pada malam pertama.

Total dana yang dialihkan melalui vendor mencapai lebih dari Rp1,4 miliar.

Sebagian digunakan membayar operasional bisnis Arga.

Sebagian untuk menyewa gudang dan membeli mesin.

Ada juga pengeluaran pribadi yang tidak bisa dijelaskan.

Hotel di Bandung.

Sebuah vila di Puncak.

Makan malam mahal.

Tiket pesawat untuk dua orang ke Bali.

Nama Arga dan Keisha muncul beberapa kali.

Aku tidak pernah mencari tahu apa yang mereka lakukan di tempat-tempat itu.

Untuk apa?

Aku sudah memiliki cukup alasan untuk pergi tanpa menyiksa diriku sendiri dengan detail tambahan.

Pak Hadi memecat Arga dari posisi direktur operasional.

Saham yang dimiliki Arga tidak bisa begitu saja diambil darinya, tetapi kewenangan tanda tangan perusahaan dicabut.

Pak Hadi juga membuat laporan resmi mengenai pengalihan dana.

Ketika polisi mulai memeriksa, Arga mencoba mengatakan keputusan bisnis tersebut diketahui Keisha.

Keisha kemudian menyerahkan seluruh percakapan mereka kepada penyidik.

Termasuk instruksi membuat tanda tangan palsu.

Termasuk rencana mengambil sertifikat asli.

Termasuk pesan yang dikirim Arga empat hari sebelum malam itu:

Kalau Nabila tetap menolak, kita lakukan tanpa dia. Setelah dana cair baru aku bicara.

Kalimat itu mengakhiri seluruh keraguan yang masih mungkin tersisa.

Keisha tidak lolos begitu saja.

Dia memang membantu.

Dia mengetahui dokumen tersebut bukan miliknya.

Dia ikut menyusun berkas.

Dia menerima janji kepemilikan perusahaan sebagai imbalan.

Namun karena dia bekerja sama dan menyerahkan bukti, proses hukumnya berbeda dengan Arga.

Aku tidak ikut campur.

Aku menyerahkan semuanya kepada pengacara dan penyidik.

Enam bulan kemudian, perceraianku resmi.

Prosesnya tidak sederhana.

Arga beberapa kali mencoba meminta mediasi.

Dua kali dia membawa bunga.

Sekali dia membawa album pernikahan kami.

Aku tidak membukanya.

Pada pertemuan mediasi terakhir, dia akhirnya menangis.

“Aku kehilangan semuanya.”

Aku melihat laki-laki yang dulu kupikir akan menemaniku sampai tua.

Dia memang kehilangan banyak.

Jabatan.

Kepercayaan ayahnya.

Bisnis pribadinya.

Sebagian besar tabungannya digunakan untuk mengganti kerugian perusahaan.

Mobilnya dijual.

Hubungannya dengan Keisha berubah menjadi saling menyalahkan.

Namun aku tidak merasa puas melihatnya hancur.

Yang kurasakan justru lega karena akhirnya aku berhenti ikut menanggung akibat dari keputusan-keputusannya.

Aku berkata:

“Kamu kehilangan semuanya bukan ketika aku menelepon Bapak malam itu.”

Dia menatapku.

“Kamu mulai kehilangan semuanya ketika kamu memutuskan hak milik orang lain boleh dipakai karena menurutmu keadaanmu lebih penting.”

Dia menangis lebih keras.

Aku tetap pergi.

Satu tahun setelah malam itu, ruko peninggalan Ibu masih menjadi milikku.

Aku tidak menjualnya.

Aku juga tidak menjaminkannya.

Aku merenovasi lantai pertama menjadi dapur produksi kecil bersama kakak iparku.

Sebelumnya aku hanya menerima pesanan kue dan makanan rumahan dari teman.

Sekarang kami memasok beberapa kantor dan dua kedai kopi di Tangerang Selatan.

Lantai dua kusewakan kepada studio desain milik dua perempuan muda.

Uang sewanya tetap masuk ke rekening dana darurat seperti rencanaku sejak awal.

Pak Hadi masih sering menghubungiku.

Bahkan setelah perceraianku dengan Arga resmi.

Pertama kali dia menelepon setelah putusan keluar, dia bertanya:

“Bapak masih boleh memanggil kamu Nabila seperti dulu?”

Aku tertawa.

“Memangnya Bapak mau memanggil saya apa?”

Dia terdiam cukup lama.

Kemudian berkata, “Bapak cuma takut setelah semua yang dilakukan anak Bapak, kamu juga tidak mau berhubungan dengan kami.”

Aku menjawab jujur.

“Kesalahan Arga bukan kesalahan Bapak dan Ibu.”

Ibu Ratih beberapa kali datang membeli makanan dari tempatku.

Dia selalu membayar.

Aku pernah menolak.

Dia marah.

“Kalau kamu tidak mau menerima uang, nanti Ibu pesan dari tempat lain.”

Sejak itu aku tidak pernah menolak lagi.

Tentang Arga, aku hanya mendengar kabar sesekali.

Dia tidak kembali bekerja di perusahaan ayahnya.

Setelah menyelesaikan sebagian tanggung jawab hukumnya dan mengembalikan dana yang diwajibkan, dia bekerja di perusahaan konstruksi milik kenalan lamanya di luar Jakarta.

Kami tidak pernah bertemu lagi.

Keisha juga pindah kota.

Aku tidak tahu di mana.

Dan aku tidak mencari tahu.

Beberapa orang bertanya apakah aku pernah menyesal menelepon Pak Hadi malam itu.

Jawabanku selalu sama.

Tidak.

Yang membuat dua keluarga datang ke rumah kami bukan teleponku.

Yang membuat semuanya meledak bukan rasa cemburuku.

Yang menghancurkan pernikahan kami juga bukan perempuan yang tidur beberapa menit di tempat tidurku.

Semuanya sudah dimulai jauh sebelumnya.

Dimulai ketika suamiku berhenti melihatku sebagai pasangan dan mulai melihatku sebagai sumber daya yang bisa digunakan.

Dimulai ketika dia merasa haknya atas rencana bisnis lebih besar daripada hakku atas warisan ibuku.

Dimulai ketika dia memilih berbohong, lalu memintaku merasa bersalah karena mempertanyakan kebohongan itu.

Malam tersebut hanya membuat semuanya terlihat.

Kadang-kadang aku masih ingat selimut kotak yang kubawa ke sofa.

Selimut itu masih ada.

Tetapi aku tidak pernah menggunakannya lagi untuk tidur.

Sekarang selimut tersebut kusimpan di lemari kecil dekat pintu belakang dapur produksi.

Suatu sore, salah satu pegawaiku bertanya kenapa selimut sebagus itu diletakkan di sana.

Aku hanya menjawab:

“Karena dulu selimut itu pernah mengingatkan saya bahwa saya bisa dipindahkan dari tempat saya sendiri.”

Dia terlihat bingung.

Aku tersenyum.

“Sekarang saya menyimpannya untuk mengingat hal sebaliknya.”

“Apa?”

Aku melihat ruangan yang kubangun dari peninggalan Ibu, usaha yang tumbuh dengan uangku sendiri, dan kehidupan yang akhirnya tidak membutuhkan izin siapa pun.

“Kalau seseorang terus menyuruhmu mengalah sampai kamu tidak punya tempat lagi, mungkin yang harus dipertahankan bukan orangnya.”

Aku menutup lemari.

“Melainkan tempatmu.”