Bagian 3 — Suamiku Mengira Bisa Menyelamatkan Kariernya dengan Menyalahkanku, Sampai Audit Membuka Transfer Gelap, Hadiah Mewah, dan Pengkhianatan yang Tak Bisa Dibantah

Avatar penulis
Cerita 02
12 menit baca 1,143 tayangan
Bagian 3 — Suamiku Mengira Bisa Menyelamatkan Kariernya dengan Menyalahkanku, Sampai Audit Membuka Transfer Gelap, Hadiah Mewah, dan Pengkhianatan yang Tak Bisa Dibantah
Indeks

Bagian 3 — Suamiku Mengira Bisa Menyelamatkan Kariernya dengan Menyalahkanku, Sampai Audit Membuka Transfer Gelap, Hadiah Mewah, dan Pengkhianatan yang Tak Bisa Dibantah

Tidak ada seorang pun menjawab pertanyaan Pak Surya.

Ballroom yang lima menit sebelumnya dipenuhi musik, tawa, dan denting gelas kini lebih sunyi daripada ruang sidang.

Nadia menundukkan kepala.

Raka menatapnya.

Aku berdiri di depan mereka sambil memegang clutch erat-erat, tetapi anehnya aku tidak merasa ingin menangis.

Mungkin karena rasa sakit paling besar tidak selalu datang seperti ledakan.

Kadang ia datang begitu tenang sampai seseorang hanya bisa berdiri dan menyadari bahwa pernikahannya sebenarnya sudah berakhir jauh sebelum malam itu.

Pak Surya memanggil kepala divisi legal yang berada di dalam ballroom.

“Pak Dimas, tolong minta semua dokumen kontrak diamankan. Tidak ada yang keluar dari ruangan ini membawa salinan dokumen tender.”

Raka akhirnya bereaksi.

“Pak Surya, tunggu. Saya bisa jelaskan soal file itu.”

“Silakan.”

Raka melirik ke arahku sebelum menjawab.

“Kemungkinan dikirim oleh salah satu konsultan kami. Kami menerima banyak file saat proses tender.”

Pak Surya mengangguk.

“Kalau begitu audit akan membuktikannya.”

“Audit?”

“Ya.”

Nada suara Pak Surya tetap datar.

“Karena file tersebut memiliki watermark internal. Setiap salinan dokumen memiliki kode unik yang menunjukkan siapa penerima aslinya.”

Wajah Nadia langsung memucat.

Gerakannya kecil, tetapi aku melihatnya.

Pak Surya juga melihatnya.

“Bu Nadia.”

Nadia mengangkat kepala.

“Kode file yang ditemukan di server perusahaan Anda terdaftar atas nama salah satu staf pengadaan kami.”

Nadia membuka mulut.

Tidak ada suara keluar.

Pak Surya melanjutkan.

“Namanya Fikri Gunawan.”

Aku belum pernah mendengar nama itu.

Namun Raka jelas mengenalnya.

Matanya berkedip terlalu cepat.

Pak Surya segera bertanya, “Kenal?”

Raka menggeleng.

“Tidak dekat.”

Aku memperhatikan Nadia.

Ia menggigit bibir.

Aku kemudian teringat sesuatu.

Dua bulan lalu ketika kami makan malam di rumah, Raka menerima telepon dan keluar ke teras.

Aku hanya mendengar satu nama.

Fikri.

Saat kutanya, ia mengatakan orang itu broker gudang.

Aku tidak pernah mempermasalahkannya.

Ternyata selama ini terlalu banyak hal yang kulewatkan hanya karena percaya.

“Raka.”

Ia menoleh kepadaku.

“Bukankah Fikri orang yang kamu sebut broker gudang waktu itu?”

Wajahnya menegang.

Nadia spontan melihat Raka.

Reaksi itu sudah cukup.

Pak Surya menyuruh staf legal mencatat semuanya.

Raka mendekat kepadaku.

“Kirana, kita bicara berdua.”

“Tidak.”

“Ini masalah rumah tangga.”

“Tidak lagi.”

Ia menurunkan suara.

“Aku mengaku salah soal Nadia. Tetapi jangan campurkan itu dengan perusahaan.”

Aku memandang laki-laki yang sudah tidur di sampingku selama tiga tahun.

Laki-laki yang pernah menangis ketika perusahaan pertamanya hampir gagal.

Laki-laki yang dulu berjanji tidak akan menjadi seperti ayahnya yang meninggalkan keluarga karena perempuan lain.

Ironis sekali.

“Justru kamu yang mencampur semuanya, Raka.”

Ia mengerutkan kening.

“Kamu menggunakan rekening rumah tangga untuk membayar apartemen sekretarismu. Kamu memberinya barang yang dibeli dengan uang keluarga. Dan sekarang dokumen rahasia klien ditemukan di perusahaanmu.”

“Aku tidak tahu soal dokumen itu!”

“Kalau begitu jangan takut audit.”

Kalimat itu membuatnya diam.

Aku meninggalkan hotel malam itu tanpa mengikuti makan malam apa pun.

Pak Surya menawarkan sopir, tetapi aku menolak.

Aku ingin menyetir sendiri.

Jakarta sudah lewat tengah malam ketika mobilku memasuki halaman rumah.

Rumah itu kami beli dua tahun setelah menikah.

Raka sering mengatakan kepada orang bahwa ia membelinya setelah bisnisnya mulai sukses.

Yang tidak pernah ia ceritakan adalah tujuh puluh persen uang muka rumah berasal dari rekeningku.

Aku tidak pernah mempermasalahkan hal itu.

Bagiku pernikahan bukan kompetisi siapa menyumbang lebih banyak.

Namun malam itu, untuk pertama kalinya aku melihat rumah tersebut dengan cara berbeda.

Di ruang tamu ada foto pernikahan kami.

Aku berhenti di depannya.

Raka dalam foto itu tersenyum begitu lebar.

Aku juga.

Aku sempat bertanya dalam hati, kapan tepatnya laki-laki itu berubah?

Kemudian aku menyadari pertanyaan itu sebenarnya tidak penting.

Yang penting adalah siapa dirinya sekarang.

Aku masuk ke ruang kerja dan menelepon pengacaraku, Sinta.

Kami berteman sejak kuliah.

Aku hanya mengatakan tiga kalimat.

“Aku ingin mengajukan perceraian.”

“Aku ingin semua rekening bersama diamankan secara legal.”

“Dan tolong pastikan satu rupiah pun uang keluargaku tidak digunakan menutup masalah perusahaannya.”

Sinta tidak bertanya kenapa.

Ia hanya menjawab, “Kirim semua dokumen yang kamu punya.”

Setelah itu aku menghubungi kepala kantor keluarga kami.

Aku meminta satu hal.

Jangan ada seorang pun menggunakan nama keluarga Adiputri untuk membantu Raka.

Aku tidak ingin menghancurkan perusahaannya.

Tetapi aku juga tidak akan menyelamatkannya dari akibat perbuatannya sendiri.

Pukul dua pagi, bel rumah berbunyi.

Raka pulang.

Aku sedang duduk di ruang keluarga ketika ia masuk.

Dasi sudah dilepas.

Rambutnya berantakan.

“Kirana.”

Aku tidak menjawab.

Ia duduk di kursi berseberangan.

“Aku sudah menyuruh Nadia pulang.”

“Bagus.”

“Aku akan memecatnya besok.”

Aku mengangkat mata.

“Karena dia selingkuhanmu atau karena dia mungkin membuat perusahaanmu kehilangan kontrak?”

Wajah Raka mengeras.

“Tidak perlu bicara seperti itu.”

“Kenapa? Karena sekarang menyakitkan?”

“Kirana, hubungan aku dengan Nadia…”

Ia berhenti.

Aku menunggu.

“Sudah sejauh mana?”

Raka mengusap wajah.

“Tidak seperti yang kamu pikirkan.”

Aku mengeluarkan salinan transaksi apartemen dan meletakkannya di meja.

“Rp650 juta.”

Ia diam.

Aku mengeluarkan foto transaksi cincin.

“Rp86 juta.”

Kemudian tagihan restoran, hotel Bandung, perjalanan bisnis ke Bali dengan dua tiket kelas bisnis padahal rapat resminya diadakan daring.

“Masih belum seperti yang kupikirkan?”

Raka menundukkan kepala.

“Aku khilaf.”

Hanya dua kata.

Begitu ringan.

Seolah tiga tahun pernikahan kami hanyalah gelas yang tidak sengaja tersenggol.

“Aku ingin bercerai.”

Kepalanya langsung terangkat.

“Jangan gila.”

“Aku sangat sadar.”

“Kita bisa memperbaiki ini.”

“Aku tidak mau.”

“Kirana!”

Suaranya naik.

“Semua pasangan punya masalah!”

“Tidak semua suami membeli apartemen untuk sekretarisnya menggunakan uang rekening bersama.”

Ia berdiri.

“Aku akan kembalikan uangnya.”

“Uang bisa dikembalikan.”

Aku menatapnya.

“Kepercayaan tidak.”

Raka berjalan mondar-mandir.

Kemudian sesuatu yang sangat buruk terjadi.

Ekspresinya berubah.

Bukan lagi bersalah.

Melainkan marah.

“Kamu sengaja datang malam ini, kan?”

Aku mengerutkan kening.

“Kamu sengaja mempermalukanku karena dari awal kamu tahu keluargamu bisa menghentikan kontrak.”

Di situlah aku akhirnya memahami cara berpikirnya.

Bahkan setelah ketahuan berselingkuh, pikirannya masih mencari cara menjadikan aku pelaku.

“Aku datang karena aku istrimu.”

“Jangan pura-pura!”

“Kamu yang menyuruhku tidak datang karena malu mengakui aku sebagai istrimu.”

“Karena kamu selama ini memang tidak pernah mau masuk ke duniaku!”

Aku hampir tertawa.

“Duniamu?”

“Ya!”

Ia menunjuk ke sekeliling.

“Tiga tahun aku berjuang sendiri membangun nama! Sementara kamu memilih tinggal di rumah dan tidak pernah cerita siapa keluargamu!”

Aku menatapnya lama.

Kemudian aku bertanya satu hal.

“Kalau sejak awal kamu tahu aku berasal dari keluarga Adiputri, apakah kamu akan memperlakukanku lebih baik?”

Raka berhenti.

Ia tidak menjawab.

Itulah jawaban paling jujur yang pernah kudapat darinya.

Aku berdiri.

“Besok pengacaraku akan menghubungimu.”

Lalu aku masuk kamar dan mengunci pintu.

Audit dimulai Senin pagi.

Aku tidak ikut campur.

Justru aku meminta secara tertulis agar namaku dikeluarkan dari tim pengambilan keputusan terkait kontrak perusahaan Raka untuk menghindari konflik kepentingan.

Pak Surya setuju.

Tim compliance Nusantara Artha bekerja bersama auditor eksternal.

Hasil awal keluar empat hari kemudian.

Masalahnya jauh lebih besar daripada perselingkuhan.

Fikri Gunawan, staf senior pengadaan Surya Nusa, ternyata telah mengirim beberapa informasi rahasia tender kepada Nadia melalui akun email pribadi.

Sebagai imbalan, perusahaan yang dikendalikan kakak Nadia menerima pembayaran berkala dari vendor milik rekan bisnis Raka.

Tidak ada bukti bahwa Raka memerintahkan pengiriman file pertama.

Namun audit digital menemukan sesuatu yang tidak bisa ia bantah.

Raka menerima file tersebut.

Ia membukanya.

Ia bahkan meneruskan sebagian isinya kepada kepala tim penawaran dengan pesan:

“Sesuaikan angka kita. Jangan sampai kelihatan terlalu presisi.”

Kalimat itu menghancurkan pembelaannya.

Ia tahu.

Mungkin bukan dalang sejak awal.

Tetapi ketika keuntungan datang ke tangannya, ia memilih diam.

Kontrak Rp168 miliar resmi dibatalkan.

Surya Nusa memasukkan perusahaan Raka ke daftar evaluasi khusus dan melaporkan hasil pemeriksaan kepada pihak terkait sesuai prosedur hukum serta tata kelola internal.

Fikri diberhentikan setelah proses disipliner.

Nadia juga tidak bisa lagi bersembunyi.

Tiga perusahaan vendor yang menerima pembayaran ternyata saling terhubung melalui keluarga dan teman dekatnya.

Total transaksi mencurigakan yang sedang diperiksa mencapai lebih dari Rp6 miliar.

Aku mengetahui semua itu dari Sinta.

Aku tidak merasa senang.

Tapi aku juga tidak merasa kasihan.

Beberapa orang tidak jatuh karena didorong.

Mereka jatuh karena terlalu lama berdiri di atas sesuatu yang mereka tahu rapuh.

Seminggu kemudian, Nadia datang ke rumahku.

Aku hampir tidak membukakan pintu.

Namun ia berdiri di luar pagar hampir dua puluh menit.

Akhirnya aku menemuinya di teras.

Ia tidak lagi memakai pakaian mewah.

Jam Cartier itu juga sudah tidak ada.

“Aku mau bicara.”

“Aku dengar.”

Nadia menatapku.

“Pak Raka menyalahkan saya untuk semuanya.”

Aku tidak terkejut.

“Lalu?”

“Dia bilang semua skema vendor ide saya.”

“Apakah benar?”

Nadia diam.

Aku mengerti.

“Sebagian.”

Ia menelan ludah.

“Awalnya hanya komisi.”

“Komisi ilegal.”

Ia menunduk.

“Lalu Fikri menawarkan informasi tender.”

“Dan kamu menerimanya.”

Nadia mengangguk.

“Aku mengirimkannya ke Pak Raka. Dia marah waktu pertama kali.”

Aku mengangkat alis.

“Tapi?”

“Besoknya dia tanya apakah ada informasi lain.”

Aku tidak merasakan apa-apa saat mendengar itu.

Mungkin hatiku sudah selesai.

Nadia mulai menangis.

“Saya salah.”

Aku tetap diam.

“Pak Raka bilang setelah kontrak besar ini cair, dia akan menceraikan Ibu.”

Kalimat itu terasa seperti sebuah pisau yang datang terlambat.

Tetapi masih tajam.

Nadia melanjutkan.

“Dia bilang pernikahannya dengan Ibu sudah tidak ada artinya. Dia bilang Ibu tidak punya ambisi dan tidak mengerti dunianya.”

Aku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Karena akhirnya semuanya terdengar begitu absurd.

Laki-laki yang perusahaannya mendapat kesempatan pertama karena istrinya justru mengatakan istrinya tidak punya ambisi.

“Kenapa kamu memberitahuku ini?”

Nadia menjawab tanpa ragu.

“Karena sekarang dia mau menjadikan saya satu-satunya tersangka.”

Jadi bukan penyesalan.

Ketakutan.

Aku mengangguk.

“Kalau kamu punya bukti, serahkan ke auditor dan pengacaramu.”

“Ibu tidak mau membantu saya?”

“Tidak.”

Wajahnya jatuh.

“Aku juga tidak akan menghalangi prosesmu.”

Aku berdiri.

“Tapi jangan datang kepadaku berharap aku menyelamatkanmu dari keputusan yang kamu buat sendiri.”

Sebelum pergi, Nadia menoleh.

“Kalung malam itu…”

Tanganku spontan menyentuh liontin safir.

“Saya benar-benar tidak tahu itu peninggalan ibu Ibu.”

“Kalau pun bukan, kamu tetap tidak berhak menyentuh orang lain tanpa izin.”

Ia menunduk.

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Nadia tidak membalas.

Proses perceraianku dengan Raka berlangsung hampir lima bulan.

Ia menolak pada awalnya.

Kemudian mencoba meminta mediasi.

Ia datang membawa bunga.

Mengirim surat.

Menelepon ayahku.

Bahkan sempat berdiri selama satu jam di depan kantor Adiputri Capital berharap aku mau bertemu.

Aku tidak keluar.

Pada mediasi terakhir, Raka duduk tepat di depanku.

Tubuhnya terlihat lebih kurus.

Perusahaannya belum bangkrut, tetapi kehilangan kontrak besar membuat beberapa investor menarik diri.

Ia harus menjual dua kendaraan perusahaan dan satu gudang untuk menjaga arus kas.

Aku tidak mengambil satu rupiah pun dari bisnisnya.

Aku hanya meminta pengembalian bagianku dari uang apartemen Nadia yang berasal dari rekening bersama serta pembagian aset perkawinan sesuai hak masing-masing.

Raka akhirnya berbicara.

“Aku masih mencintaimu.”

Aku memandangnya.

“Tidak.”

Ia tampak terpukul.

“Kamu mencintai kenyamanan yang kuberikan.”

“Kirana…”

“Waktu aku memasak untukmu, mengurus rumah, menemanimu ketika kamu gagal mendapatkan proyek, kamu menganggap itu kewajibanku.”

Ia diam.

“Waktu kamu melihat aku sebagai ibu rumah tangga biasa, kamu malu membawaku ke depan klien.”

Aku menarik napas.

“Tapi begitu tahu siapa keluargaku, kamu mendadak takut kehilangan aku.”

Wajahnya memerah.

“Aku salah.”

“Iya.”

“Aku bisa berubah.”

“Mungkin.”

Matanya langsung mengangkat.

Aku melanjutkan.

“Tapi perubahanmu bukan lagi tanggung jawabku.”

Itulah percakapan terakhir kami sebagai suami istri.

Perceraian kami kemudian diputus secara resmi.

Saat keluar dari pengadilan, aku berhenti sebentar di anak tangga.

Tidak ada perasaan menang.

Tidak ada musik dramatis.

Tidak ada tepuk tangan.

Hanya udara Jakarta yang panas dan suara kendaraan dari jalan raya.

Tetapi untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku merasa ringan.

Enam bulan setelah malam di hotel, aku kembali bekerja penuh waktu.

Bukan karena ingin membuktikan sesuatu kepada Raka.

Aku kembali karena akhirnya sadar bahwa selama ini aku terlalu lama mengecilkan bagian diriku sendiri.

Ayah memberiku satu ruang kerja lama di kantor pusat.

Di hari pertama, aku menemukan foto Ibu di dalam laci.

Di belakang foto itu ada tulisan tangannya.

“Jangan hidup hanya supaya orang lain merasa nyaman dengan ukuranmu.”

Aku membacanya berkali-kali.

Lalu meletakkan foto itu di meja.

Proyek pertama yang kupimpin bukan proyek miliaran rupiah.

Aku justru mengusulkan program pembiayaan dan pendampingan untuk perusahaan logistik kecil milik perempuan di Jawa, Sumatra, Sulawesi, dan Kalimantan.

Aku tahu rasanya mempunyai kemampuan tetapi dianggap sekadar pelengkap.

Aku juga tahu betapa mudahnya sebuah sistem memberi ruang kepada orang yang punya akses dan menutup pintu kepada orang yang sebenarnya layak.

Setahun kemudian, program itu membantu puluhan usaha memperoleh kontrak secara transparan.

Pak Surya masih sering menggodaku tentang malam di hotel.

Suatu kali dalam rapat ia berkata, “Saya masih ingat wajah semua orang ketika saya memanggil kamu Kirana.”

Aku tertawa.

“Yang paling pucat siapa?”

Ia tidak menjawab.

Kami sama-sama tahu.

Tentang Raka, aku hanya mendengar kabar sesekali.

Setelah restrukturisasi, ia kehilangan posisi direktur utama karena investor lain menuntut perubahan manajemen.

Perusahaannya tetap berjalan dalam skala lebih kecil di bawah tim profesional baru.

Raka tidak masuk penjara hanya karena kehilangan kontrak; proses atas pelanggaran bisnis dan bukti yang ditemukan berjalan sesuai hasil pemeriksaan pihak berwenang, bukan berdasarkan keinginanku.

Aku sengaja tidak mengikuti detailnya.

Aku tidak membutuhkan kehancurannya untuk bisa melanjutkan hidup.

Nadia menghadapi konsekuensinya sendiri.

Ia mengembalikan beberapa aset yang terkait transaksi bermasalah dan bekerja sama dalam pemeriksaan terhadap jaringan vendor.

Hubungannya dengan Raka berakhir bahkan sebelum perceraian kami selesai.

Ternyata hubungan yang dibangun dari rahasia tidak bertahan baik ketika masing-masing mulai mencari siapa yang bisa dijadikan kambing hitam.

Suatu sore hampir dua tahun setelah kejadian itu, aku menghadiri sebuah forum bisnis di hotel yang sama.

Saat melewati lantai dua puluh satu, langkahku sempat melambat.

Ballroom itu masih ada.

Karpetnya sudah diganti.

Lampunya berbeda.

Namun aku masih ingat persis tempat Nadia berdiri menghalangi jalanku.

Aku masih ingat tamparan itu.

Aku tidak bangga pernah menampar seseorang.

Kalau bisa mengulang malam tersebut, mungkin aku akan memilih memanggil keamanan hotel ketika Nadia menarik kalungku.

Tetapi ada satu hal yang tidak akan kuubah.

Aku tetap akan datang.

Aku tetap akan membuka pintu itu.

Karena malam tersebut bukan malam ketika semua orang mengetahui siapa aku.

Malam itu adalah saat aku sendiri akhirnya mengingat siapa diriku.

Dulu kupikir menjadi istri yang baik berarti menahan banyak hal, mengecilkan kebutuhan sendiri, dan selalu menjaga harga diri suami bahkan ketika ia tidak menjaga harga diriku.

Aku salah.

Cinta tidak meminta seseorang menghilang supaya pasangannya bisa bersinar.

Pernikahan juga bukan tempat di mana satu orang terus memberi sementara yang lain perlahan merasa semua itu memang haknya.

Aku pernah meninggalkan dunia yang kubangun sendiri demi rumah tangga.

Keputusan itu tidak salah.

Yang salah adalah membiarkan orang lain menggunakan keputusan tersebut sebagai alasan untuk merendahkanku.

Sekarang kalung safir milik Ibu masih sering kupakai.

Bukan untuk menunjukkan harga.

Bukan pula sebagai simbol keluarga besar.

Setiap kali liontin itu menyentuh leherku, aku hanya teringat satu kalimatnya.

Jangan mengecilkan dirimu.

Dan kali ini, aku tidak akan melupakannya lagi.