Aku Menolak Cucu Profesor Hukum Terkenal Saat Wawancara, Karena Nama Keluarganya Adalah Nama yang Dicuri dari Nenekku
Bagian 1
Kakek biologisku adalah seorang pencuri.
Bukan pencuri uang atau perhiasan.
Ia mencuri nama nenekku, mengambil dokumen yang membuktikan siapa dirinya, lalu membawa perempuan lain keluar dari daerah pegunungan dengan identitas yang seharusnya menjadi milik nenekku.
Lima puluh tahun kemudian, laki-laki itu dikenal sebagai Profesor Arif Pranoto, guru besar hukum yang sering berbicara tentang keadilan di ruang kuliah.
Perempuan yang pergi bersamanya dikenal publik sebagai Sri Lestari Pranoto, pelukis nasional yang berkali-kali diwawancarai tentang integritas dan martabat manusia.
Sri Lestari adalah nama nenekku.

Perempuan yang wajahnya terpampang di katalog pameran itu bukan dia.
Nenekku yang sebenarnya menghabiskan hampir seluruh hidupnya di sebuah desa pegunungan di Jawa Tengah.
Ia dipanggil Lastri oleh orang-orang kampung setelah dokumen aslinya hilang. Ketika mencoba mengatakan bahwa nama yang dipakai perempuan terkenal di Jakarta itu adalah namanya, hampir tak seorang pun percaya.
Ada yang mengatakan ia iri.
Ada yang mengatakan ia ingin mengambil keuntungan dari orang sukses.
Yang paling kejam menyebutnya perempuan murahan yang pernah mengejar-ngejar lelaki kota dan kemudian mengarang cerita setelah ditinggalkan.
Nenek tidak pernah bisa membersihkan namanya sepenuhnya.
Ia meninggal dengan mata yang sulit terpejam, meninggalkan sebuah kotak kayu tua kepada ibuku.
Di dalamnya ada beberapa surat, kartu peserta program pengabdian pendidikan dari tahun 1970-an, foto hitam-putih, dan salinan pengaduan yang pernah ia kirimkan ke kantor pemerintah puluhan tahun lalu.
Ibuku menyimpan semuanya.
Ia juga menyimpan satu kalimat yang sering diucapkan nenek.
“Kalau suatu hari kamu bisa keluar dari sini, jangan hidup dengan nama orang lain. Pakai hidupmu sendiri.”
Ibuku bekerja hampir tiga puluh tahun sebagai guru sekolah dasar.
Dengan gajinya, ia menyekolahkanku.
Aku mendapatkan beasiswa, masuk fakultas hukum, bekerja sambil belajar, lalu menempuh perjalanan panjang yang tidak pernah bisa dibayangkan nenekku.
Pada usia tiga puluh delapan tahun, aku menjadi partner di Pradana, Sutedja & Partners, salah satu firma hukum terbesar di Jakarta.
Dan pada musim penerimaan lulusan baru tahun itu, aku duduk sebagai ketua panel wawancara.
Perempuan muda yang duduk di depanku bernama Kirana Pranoto.
Usianya baru dua puluh dua tahun.
Penampilannya rapi, jawabannya terstruktur, dan hampir setiap pertanyaan teknis dapat ia jawab tanpa terburu-buru.
Ia lulus dengan nilai tertinggi dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia.
Ia pernah menjadi juara kompetisi peradilan semu tingkat nasional.
Enam artikelnya telah dimuat di jurnal mahasiswa dan beberapa publikasi hukum.
Pak Bima, partner yang duduk di sebelah kiriku, bahkan sempat menulis angka sembilan di lembar penilaiannya.
Aku membuka halaman berikutnya.
Kemudian tanganku berhenti.
Pada bagian informasi keluarga tertulis dua nama.
Kakek: Prof. Dr. Arif Pranoto.
Nenek: Sri Lestari Pranoto, pelukis.
Aku membaca nama kedua itu sekali.
Lalu sekali lagi.
Ruangan terasa sangat sunyi.
Aku teringat kartu peserta yang pernah kutemukan di kotak nenek ketika masih kuliah.
SRI LESTARI.
Di samping nama itu ada foto seorang perempuan muda dengan rambut dikepang sederhana.
Wajah nenekku.
Bukan wajah perempuan yang selama puluhan tahun berdiri di depan kamera sebagai pelukis terkenal.
Aku mengangkat kepala.
Baru saat itulah aku benar-benar memperhatikan wajah Kirana.
Matanya.
Bentuk hidungnya.
Garis dagunya.
Ada sesuatu yang membuat jari-jariku mengeras di ujung map.
Aku pernah melihat garis wajah itu dalam foto lama.
Pada foto seorang laki-laki muda bernama Arif Pranoto.
Aku menutup berkasnya.
“Terima kasih sudah datang, Kirana.”
Ia tersenyum kecil.
Aku berkata, “Kamu tidak lolos.”
Senyumnya berhenti.
“Maaf?”
“Aku bilang kamu tidak lolos wawancara.”
Pak Bima langsung menoleh kepadaku.
Partner lain di ujung meja, Bu Rina, bahkan mengangkat alis.
Pak Bima mendekat sedikit lalu berkata pelan, “Nadira, dia juara nasional saat umur dua puluh tahun. Nilainya paling tinggi hari ini. Coba dipertimbangkan lagi.”
Suaranya memang rendah.
Namun ruang rapat terlalu tenang.
Kirana mendengarnya.
Punggungnya menjadi lebih tegak.
Aku tetap memandangnya.
“Aku sudah mempertimbangkannya.”
Aku menggeser map ke sisi meja.
“Kirana Pranoto, kamu tidak melewati panel yang kupimpin. Terima kasih.”
Wajahnya berubah.
“Boleh saya tahu alasannya?”
Aku seharusnya menjawab dengan kalimat profesional.
Aku seharusnya berbicara tentang penilaian keseluruhan, kecocokan, atau proses internal.
Namun lima puluh tahun kebisuan duduk bersamaku di meja itu.
“Prestasi bukan satu-satunya hal yang dinilai di firma ini,” kataku.
Kirana menatapku semakin tajam.
“Apa maksud Ibu?”
“Orang yang bekerja di bidang hukum juga membawa cara ia memandang tanggung jawab, kekuasaan, dan integritas.”
Aku berhenti sebentar.
Jari-jariku menekan ujung map yang mulai terlipat.
“Dan nama keluargamu bukan nilai tambah di hadapanku.”
Wajah Kirana memerah.
“Apa?”
Pak Bima tampak hendak menyela, tetapi aku mengangkat tangan.
“Wawancara selesai.”
Kirana berdiri.
Kedua telapak tangannya menempel di meja.
“Jadi Ibu memang sengaja menargetkan saya?”
Aku tidak menjawab.
Ia mengembuskan napas keras.
“Mungkin Ibu belum tahu siapa keluarga saya.”
“Aku tahu.”
Jawabanku membuatnya terdiam sesaat.
Tetapi hanya sesaat.
“Kakek saya guru besar emeritus Fakultas Hukum. Sampai sekarang universitas masih mengundangnya mengajar.”
Ia menunjuk berkasnya.
“Nenek saya pelukis nasional. Kedua orang tua saya, semasa hidup, bekerja sebagai hakim di lingkungan Mahkamah Agung.”
Nada suaranya semakin tinggi.
“Saya lulus dengan nilai terbaik. Saya juara kompetisi nasional. Saya punya enam publikasi sebelum lulus.”
Ia menatapku seolah sedang menungguku mengakui kesalahan.
“Bagian mana dari saya yang tidak memenuhi syarat?”
“Wawancara selesai, Kirana.”
“Tidak. Saya ingin alasan.”
Aku memandangnya.
“Sudah kuberikan.”
Kirana tertawa pendek tanpa humor.
“Ini tidak profesional.”
Kalimat itu mengenai tempat yang tidak ingin kuakui.
Karena sebagian diriku tahu ia benar.
Namun sebelum aku sempat mengatakan apa pun, ia mengambil mapnya.
“Kakek saya sudah bekerja sama dengan firma ini bertahun-tahun.”
Ia menatapku lurus.
“Kalau beliau tahu bagaimana Ibu memperlakukan saya hari ini, satu telepon darinya bisa membuat posisi Ibu jauh lebih sulit daripada yang Ibu kira.”
Ruangan mendadak semakin sunyi.
Pak Bima meletakkan pulpennya.
Bu Rina yang sebelumnya diam kini menatap Kirana tanpa ekspresi.
Aku justru merasa dadaku menjadi lebih tenang.
Ancaman itu terlalu akrab.
Bukan karena aku pernah mendengarnya langsung.
Karena sepanjang hidup, keluargaku hidup di bawah akibat orang-orang yang percaya nama besar memberi mereka hak menentukan nasib orang lain.
Aku berkata, “Terima kasih. Sekarang silakan keluar.”
Kirana memasukkan dokumennya ke dalam tas dengan gerakan cepat.
Di depan pintu ia menoleh.
“Kita lihat saja apakah Ibu masih bisa setenang ini setelah kakek saya menelepon.”
Kemudian ia pergi.
Pak Bima langsung menghadapku.
“Nadira, sebenarnya ada apa?”
Bu Rina juga terlihat ingin bertanya.
Aku hanya merapikan lembar penilaian.
“Kita masih punya tiga kandidat.”
“Nadira.”
“Panggil kandidat berikutnya.”
Tidak ada yang berbicara lagi.
Tiga wawancara setelah Kirana berjalan jauh lebih tenang.
Dua kandidat mendapat rekomendasi kuat.
Satu masuk daftar cadangan.
Aku kembali ke ruanganku menjelang sore dengan kepala yang mulai berat.
Belum lima menit aku duduk, pintu dibuka tanpa ketukan.
Farid Santoso, salah satu senior partner, masuk sambil membawa telepon.
“Nadira, kamu kehilangan akal?”
Aku mengangkat wajah.
“Kalau soal Kirana, aku sudah menduga.”
“Tentu soal Kirana.”
Ia menutup pintu.
“Kenapa kamu menolaknya?”
“Karena dia tidak lolos panel yang kupimpin.”
“Jangan bicara seperti aku orang luar.”
Farid menarik kursi tanpa diminta.
“Anak itu salah satu kandidat terbaik yang pernah masuk ke sini. Kakeknya juga sudah menjadi konsultan akademik kita lebih dari sepuluh tahun.”
Aku diam.
Farid melanjutkan, “Prof. Arif merekomendasikan banyak pengacara ke firma ini. Kita beberapa kali mengadakan seminar bersama kampus lewat beliau. Kamu tahu itu.”
“Aku tahu.”
“Kalau begitu kenapa?”
Aku menatap Farid.
“Ada alasan yang tidak bisa kujelaskan dalam lima menit.”
“Kalau alasanmu personal, justru kamu seharusnya mengundurkan diri dari panel.”
Kalimat itu membuatku terdiam.
Farid menunjuk meja.
“Keluarkan pengumuman koreksi. Bilang ada kesalahan administratif. Kita masukkan Kirana ke tahap berikutnya.”
“Tidak.”
“Nadira.”
“Berkasnya sudah dikembalikan.”
Wajah Farid menegang.
“Nadira, jangan membuat urusan ini lebih besar.”
Tepat ketika ia selesai bicara, telepon di tangannya berdering.
Farid melihat layar.
Perubahan wajahnya hanya membutuhkan satu detik.
Ia berdiri.
Aku tidak perlu bertanya siapa yang menelepon.
Sebelum keluar, Farid menatapku lama.
Tatapannya mengatakan satu hal dengan sangat jelas.
Aku sudah membuat masalah besar.
Namun aku tidak takut.
Hari itu sudah kutunggu terlalu lama.
Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇
Bagian 2
Farid kembali ke ruanganku dua puluh menit kemudian, kali ini tidak membanting pintu.
Ia justru menutupnya pelan.
“Prof. Arif.”
Aku mengangguk.
“Tentu.”
“Ia marah.”
“Aku juga sudah menduga.”
Farid menarik napas.
“Dia bilang kalau Kirana tidak dipanggil kembali, dia akan mempertimbangkan ulang semua kerja sama akademik dengan firma.”
Aku menatapnya.
“Dia benar-benar mengatakan itu?”
“Kurang lebih.”
“Jadi cucunya mengancamku dengan nama kakeknya, lalu kakeknya menelepon dan melakukan persis seperti yang ia ancamkan.”
Farid tidak langsung menjawab.
Untuk pertama kalinya sejak masuk, ia terlihat tidak nyaman.
“Kirana tetap kandidat yang kuat.”
“Aku tidak menyangkal itu.”
“Lalu apa yang sebenarnya terjadi?”
Aku membuka laci paling bawah.
Dari dalam tas kerjaku, aku mengeluarkan satu foto yang selalu kubawa sejak nenek meninggal.
Foto itu memperlihatkan nenek saat berusia sekitar dua puluh tahun.
Di belakangnya ada tulisan tangan yang mulai pudar.
Sri Lestari, peserta program pengabdian pendidikan, 1974.
Aku meletakkannya di depan Farid.
“Perempuan ini nenekku.”
Farid menatap foto.
Aku membuka ponsel lalu mencari foto katalog pameran yang sudah kusimpan bertahun-tahun.
Di sana berdiri seorang perempuan lain di samping lukisan besar, dengan keterangan:
Sri Lestari Pranoto.
Farid berpindah memandang foto di meja dan layar ponsel.
“Aku tidak mengerti.”
“Nama itu milik nenekku.”
Aku menceritakannya.
Tidak semuanya.
Hanya bagian yang sudah bisa kubuktikan.
Tentang program pengabdian di daerah terpencil.
Tentang Arif Pranoto yang berada di wilayah yang sama.
Tentang dokumen nenek yang hilang.
Tentang perempuan lain yang keluar dari sana menggunakan nama Sri Lestari.
Tentang pengaduan yang tidak pernah benar-benar ditindaklanjuti.
Tentang ibuku yang tumbuh dengan mendengar orang-orang menyebut ibunya pembohong.
Farid duduk diam cukup lama.
Kemudian ia berkata, “Kalau ini benar…”
“Jangan bilang kalau.”
Aku langsung menyesal setelah mengucapkannya.
Farid tidak membalas dengan marah.
Ia justru berkata, “Aku pengacara, Nadira. Kamu juga. Kita tidak boleh meminta orang menerima tuduhan sebesar ini hanya karena kita yang mengatakannya.”
Aku menatap foto nenek.
Ia benar.
Dan aku membenci kenyataan bahwa ia benar.
Farid melanjutkan, “Yang lebih sulit, Kirana bukan kakeknya.”
Aku menutup mata sebentar.
“Aku tahu.”
“Kamu menolaknya sebelum dia mengancammu.”
Aku tidak menjawab.
“Kamu tahu artinya?”
“Tahu.”
“Kalau dia membuat pengaduan resmi tentang proses rekrutmen, firma tidak bisa berpura-pura tidak terjadi apa-apa.”
“Aku juga tahu itu.”
Malam itu aku pulang ke apartemen ibuku di Depok.
Ibu sedang melipat pakaian ketika aku datang.
Begitu melihat wajahku, ia hanya bertanya, “Kamu ketemu keluarga mereka?”
Aku berhenti.
Entah bagaimana, ibu selalu tahu.
Aku duduk dan menceritakan semuanya.
Tentang Kirana.
Tentang ancamannya.
Tentang Prof. Arif yang menelepon firma.
Dan tentang keputusanku menolaknya bahkan sebelum ancaman itu keluar.
Ibu tidak memarahiku.
Itu justru lebih berat.
Ia hanya membuka lemari dan mengeluarkan kotak kayu nenek.
“Nenekmu seumur hidup marah karena orang menghukumnya untuk sesuatu yang tidak ia lakukan,” kata ibu.
Tangannya berhenti di atas tutup kotak.
“Jangan sampai kita melakukan hal yang sama kepada cucu orang yang menyakitinya.”
Aku menunduk.
“Tapi dia mengancamku.”
“Itu perbuatannya sendiri. Nilai itu.”
Ibu mendorong kotak ke arahku.
“Yang dilakukan kakeknya, urus dengan kakeknya.”
Di dalam kotak masih ada semua benda yang kukenal sejak remaja.
Kartu peserta.
Foto.
Surat penempatan.
Dan satu lembar yang hampir selalu kulewati karena tulisannya sudah pudar.
Salinan pengaduan nenek.
Di sudut kiri bawah terdapat cap penerimaan sebuah kantor wilayah pendidikan bertanggal 17 Agustus 1976.
Aku membacanya perlahan.
Nenek menulis bahwa dokumennya telah diambil Arif Pranoto dengan alasan akan membantu mengurus kepulangan peserta program.
Ia menyebut nama seorang perempuan lain.
Maya Kartika.
Dan satu kalimat membuatku membaca ulang tiga kali.
“Perempuan tersebut sekarang menggunakan nama saya, Sri Lestari, pada dokumen perjalanan dan berkas pendidikan yang dibawa Saudara Arif.”
Aku mengangkat kepala.
“Ibu pernah membaca ini?”
“Pernah.”
“Kenapa Ibu tidak pernah melakukan apa-apa?”
Ibu tersenyum tipis.
“Karena ketika aku masih muda, kita bahkan tidak punya uang untuk bolak-balik ke kota mencari arsip. Setelah itu aku sibuk membesarkanmu.”
Ia menyentuh tepi kertas.
“Nenekmu tidak pernah minta mereka jatuh miskin. Dia cuma ingin suatu hari ada orang yang percaya bahwa namanya memang miliknya.”
Keesokan paginya aku melakukan sesuatu yang seharusnya sudah kulakukan bertahun-tahun lalu.
Aku membuat salinan digital seluruh dokumen.
Aku menyimpan aslinya di tempat aman.
Kemudian aku meminta cuti dari seluruh proses rekrutmen Kirana.
Pada siang hari, surat pengaduannya tiba di firma.
Ia menuduhku menggunakan masalah keluarga sebagai dasar keputusan profesional.
Untuk pertama kalinya sejak wawancara itu, aku membaca namanya tanpa melihat kakeknya.
Dan aku tahu ibu benar.
Aku telah memilih sasaran yang salah.
Namun di bagian terakhir pengaduan, Kirana juga menulis bahwa ucapannya mengenai pengaruh kakeknya “terjadi dalam keadaan emosional dan tidak dimaksudkan sebagai ancaman resmi”.
Masalahnya, tiga orang berada di ruangan ketika ia mengatakannya.
Sore itu, komite internal memutuskan evaluasi Kirana harus diulang oleh panel baru tanpa aku.
Aku menerima keputusan itu.
Lalu Bu Rina menyerahkan satu lembar catatan kepadaku.
“Kamu perlu lihat ini.”
Itu ringkasan panggilan Prof. Arif kepada Farid.
Di bawahnya tertulis satu kalimat yang dicatat sekretaris:
“Jika firma ini memilih mempertahankan Nadira Sasmita sebagai partner yang dapat mempermalukan keluarga saya, tidak ada alasan kami mempertahankan hubungan profesional.”
Aku memandangi kalimat itu lama.
Lima puluh tahun berlalu.
Caranya masih sama.
Mengambil sesuatu dari orang lain, lalu bersikap seolah dirinya yang berhak menentukan siapa boleh memiliki apa.
Kali ini aku tidak akan melawannya melalui cucunya.
Aku akan mendatanginya dengan namaku sendiri.
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Aku tidak langsung menelepon Arif Pranoto.
Dulu, mungkin aku akan melakukannya malam itu juga.
Aku akan mengatakan bahwa aku cucu Sri Lestari yang sebenarnya, menyebut semua yang dilakukan keluarganya, lalu menunggu reaksinya.
Namun kemarahan bukan bukti.
Dan setelah apa yang kulakukan kepada Kirana, aku tidak ingin mengulangi kesalahan dengan cara berbeda.
Aku mengambil cuti dua hari.
Bersama ibu, aku menyusun dokumen nenek menurut tanggal.
Kartu peserta program tahun 1974.
Surat penempatan.
Foto peserta.
Salinan surat pengaduan tahun 1976 dengan cap penerimaan.
Beberapa surat pribadi.
Dan catatan kelahiran ibu dari desa yang mencantumkan nama ibunya sebagai Sri Lestari.
Aku tidak mengambil dokumen itu untuk menyerang siapa pun di media.
Aku bahkan tidak memberi tahu rekan-rekan firma selain Farid dan komite etik.
Aku ingin satu hal terlebih dahulu.
Memastikan kebenarannya dapat berdiri tanpa bergantung pada cerita keluargaku.
Aku menghubungi kantor arsip provinsi yang menyimpan sebagian dokumen program pendidikan lama.
Prosesnya tidak cepat.
Tidak ada pegawai yang tiba-tiba membuka lemari dan menyerahkan seluruh sejarah keluargaku dalam satu map rapi.
Aku harus mengisi permohonan.
Menjelaskan kepentingan keluarga.
Menunjukkan dokumen yang sudah kami miliki.
Sebagian arsip bahkan belum terdigitalisasi.
Seminggu kemudian aku baru mendapatkan jadwal untuk melihat daftar peserta yang memang terbuka untuk penelitian administrasi.
Nama Sri Lestari tercatat.
Tempat lahirnya sesuai dengan desa asal nenek.
Tanggal lahirnya sesuai.
Nomor pesertanya sama dengan kartu tua di kotak kayu.
Namun ada satu kejanggalan.
Pada daftar kepulangan peserta dua tahun kemudian, nama yang sama tercatat keluar bersama rombongan yang berbeda.
Di kolom catatan terdapat nomor surat yang tidak cocok dengan surat penempatan awal.
Aku meminta salinan yang secara prosedural boleh diberikan.
Kemudian aku mencari arsip pendidikan dari lembaga seni tempat perempuan yang dikenal sebagai Sri Lestari Pranoto pernah belajar.
Aku tidak mendapat berkas pribadi lengkap.
Aku memang tidak berhak.
Tetapi katalog lama dan daftar mahasiswa yang sudah menjadi arsip publik menunjukkan ia mulai menggunakan nama Sri Lestari pada tahun yang sama ketika nenek membuat pengaduan.
Sebelum tahun itu, ada jejak seorang mahasiswa bernama Maya Kartika.
Setelahnya, nama itu hilang dari katalog.
Belum cukup untuk membuktikan semuanya.
Tetapi cukup untuk membuat pertanyaan nenek tidak lagi terdengar seperti cerita seorang perempuan desa yang kecewa.
Aku menyerahkan semua yang kami punya kepada seorang pengacara independen yang tidak bekerja di firmaku.
Bukan karena aku tidak tahu hukum.
Justru karena aku terlalu dekat dengan masalah ini.
Ia membaca dokumen selama hampir dua jam.
“Kalau tujuanmu memenjarakan mereka setelah lima puluh tahun, aku tidak akan menjanjikan apa pun,” katanya.
“Bukan itu.”
“Kalau tujuanmu memperbaiki catatan identitas dan meminta lembaga terkait meninjau sejarah administratifnya, ada jalur yang bisa dicoba. Hasilnya tidak cepat.”
“Aku tidak butuh cepat.”
Aku melihat foto nenek di atas mejanya.
“Aku cuma tidak mau namanya mati sebagai kebohongan.”
Sementara itu, masalah Kirana berjalan sendiri di firma.
Aku sengaja tidak ikut campur.
Panel baru memanggilnya kembali.
Dua hari kemudian Farid datang ke ruanganku.
“Kirana tidak lolos.”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
“Bukan nilai akademiknya.”
Farid duduk.
“Panel menanyakan pernyataannya tentang kakeknya. Dia mengaku mengatakan itu. Tapi saat ditanya apakah mengancam memakai hubungan keluarga untuk menekan partner firma bertentangan dengan standar profesional, dia malah bilang semua orang di industri ini memakai koneksi.”
Aku menahan napas.
Farid melanjutkan, “Mungkin dia benar bahwa koneksi itu ada. Tapi cara dia menganggapnya wajar membuat panel khawatir.”
“Siapa yang membuat keputusan?”
“Bima, Rina, dan HR. Kamu sama sekali tidak masuk penilaian.”
Aku mengangguk.
Ada rasa lega.
Bukan karena Kirana gagal.
Karena untuk pertama kalinya, kegagalannya menjadi akibat dari pilihannya sendiri, bukan dari dosa kakeknya.
Namun urusan denganku belum selesai.
Sore itu aku meminta HR mengirimkan permintaan pertemuan kepada Kirana.
Bukan wawancara.
Bukan negosiasi.
Pertemuan pribadi dengan Bu Rina sebagai saksi.
Kirana datang dua hari kemudian.
Ia duduk di tempat berbeda dari ruang wawancara pertama.
Tidak ada map lamaran di tangannya.
“Apa lagi?” tanyanya.
Nada suaranya datar.
“Aku ingin meminta maaf.”
Ia tampak tidak siap mendengar itu.
Aku melanjutkan sebelum keberanianku hilang.
“Aku menolakmu sebelum kamu mengancamku. Aku melakukan itu karena melihat nama keluargamu.”
Kirana tidak berkata apa-apa.
“Itu tidak adil.”
Wajahnya tetap kaku.
“Jadi sekarang Ibu mengaku?”
“Iya.”
“Kalau begitu saya seharusnya diterima.”
“Tidak.”
Alisnya berkerut.
“Keputusan panel kedua bukan keputusanku. Mereka menilai ucapanmu sendiri.”
Ia tertawa kecil.
“Jadi Ibu minta maaf tapi tetap merasa menang?”
“Aku tidak merasa menang.”
Aku meletakkan kedua tangan di meja.
“Aku salah menggunakan ruang wawancara untuk menghukum keluarga orang yang menyakiti keluargaku. Kamu salah ketika mengancam akan memakai kakekmu untuk menghancurkan karierku. Dua hal itu bisa sama-sama benar.”
Kirana memandang Bu Rina, lalu kembali kepadaku.
“Apa sebenarnya yang dilakukan keluarga saya?”
Aku sudah memikirkan pertanyaan itu berhari-hari.
Aku mengeluarkan salinan dokumen, bukan aslinya.
Foto nenek berada paling atas.
Kirana melihatnya.
Aku mendorong salinan kartu peserta ke depan.
Kemudian pengaduan tahun 1976.
Kirana membaca tanpa bicara.
Matanya berhenti pada nama Maya Kartika.
“Apa ini?”
“Nama yang digunakan nenekmu sebelum ia mulai dikenal sebagai Sri Lestari.”
“Tidak mungkin.”
“Aku juga berharap ada penjelasan lain.”
“Tidak.”
Kirana mendorong kertas menjauh.
“Nenek saya lahir dengan nama itu.”
Aku tidak berdebat.
Aku hanya berkata, “Periksa sendiri.”
Ia menatapku.
“Jangan percaya padaku kalau kamu tidak mau. Cari arsipnya. Tanya keluargamu. Tanggal dan nomor dokumennya ada di situ.”
“Apa Ibu mau menghancurkan mereka?”
Pertanyaan itu terdengar lebih muda daripada semua kalimat yang pernah ia ucapkan kepadaku.
“Tidak.”
“Lalu kenapa sekarang?”
Aku menatap foto nenek.
“Karena lima puluh tahun lalu, nenekku mencoba mengatakan siapa dirinya dan tidak ada yang mau mendengarkan.”
Kirana tidak menyentuh dokumen lagi.
Sebelum pergi, ia berkata, “Saya tetap tidak memaafkan cara Ibu memperlakukan saya saat wawancara.”
“Aku mengerti.”
“Dan kalau tuduhan ini salah…”
“Kamu boleh datang kembali dan mengatakan itu langsung kepadaku.”
Ia berdiri.
“Tapi kalau benar?”
Aku menjawab, “Itu keputusanmu mau menjadi orang seperti apa setelah mengetahuinya.”
Kirana pergi membawa salinan dokumen.
Hampir dua minggu tidak ada kabar darinya.
Pada minggu ketiga, aku menerima telepon dari nomor yang tidak kusimpan.
“Nadira?”
Suara laki-laki tua.
Aku mengenalinya bahkan tanpa pernah berbicara langsung sebelumnya.
Arif Pranoto.
“Akhirnya,” katanya, “kamu menunjukkan siapa dirimu.”
Aku duduk tegak.
“Saya menunjukkan dokumen kepada cucu Anda.”
“Kamu memanfaatkan anak muda untuk membalas masalah generasi lama.”
“Saya tidak meminta Kirana melakukan apa pun.”
“Kamu menanamkan kebencian di kepalanya.”
“Kalau dokumennya palsu, bantah dengan dokumen.”
Ia diam.
Hanya dua detik.
Tetapi cukup lama.
“Ada hal-hal pada masa itu yang tidak kamu mengerti.”
“Saya siap mendengarkan.”
“Negara sedang kacau. Administrasi di daerah terpencil berantakan. Banyak dokumen diperbaiki secara informal.”
“Apakah nama Sri Lestari milik perempuan yang kemudian Anda nikahi?”
Ia tidak menjawab pertanyaan itu.
“Nenekmu bukan orang suci.”
Aku merasakan tangan kiriku mengepal.
Namun aku memaksanya terbuka.
“Saya tidak bertanya apakah dia orang suci.”
“Nenekmu membuat banyak keputusan buruk.”
“Apakah nama Sri Lestari miliknya?”
“Kamu bicara seperti pengadilan.”
“Saya pengacara.”
“Aku kakekmu.”
Kalimat itu membuatku hampir tertawa.
Bukan karena lucu.
Karena selama tiga puluh delapan tahun hidupku, laki-laki itu tidak pernah menjadi apa pun bagiku.
“Saya punya kakek dalam catatan biologi,” kataku. “Itu berbeda dengan punya keluarga.”
Napasnya terdengar berat di telepon.
“Kamu pikir setelah lima puluh tahun bisa mengubah semuanya?”
“Tidak.”
Aku menatap kotak kayu nenek yang sekarang kusimpan di rak ruang kerja.
“Saya cuma akan mengubah bagian yang masih bisa diperbaiki.”
Arif menurunkan suaranya.
“Berapa yang kamu mau?”
Aku benar-benar terdiam.
“Apa?”
“Jangan berpura-pura.”
“Apa maksud Anda?”
“Kamu dan ibumu. Berapa?”
Aku berdiri tanpa sadar.
Lima puluh tahun.
Seorang profesor hukum.
Ratusan kuliah tentang etika.
Puluhan artikel tentang keadilan.
Dan di ujung semua itu, ketika berhadapan dengan satu nama yang pernah ia ambil, pertanyaan pertamanya tetap harga.
“Saya tidak menelepon Anda untuk uang.”
“Kamu semua selalu bilang begitu sebelum angka disebut.”
Aku memejamkan mata.
“Pembicaraan ini selesai.”
“Nadira.”
Aku memutus sambungan.
Tanganku gemetar.
Bukan karena takut.
Karena akhirnya aku memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah bisa dijelaskan ibu.
Nenek tidak gagal membuktikan siapa dirinya karena ceritanya tidak masuk akal.
Ia gagal karena orang yang mencuri darinya memiliki lebih banyak pendidikan, lebih banyak koneksi, lebih banyak akses ke kota, dan lebih banyak orang yang bersedia percaya kepada mereka.
Ketika seorang perempuan desa berkata, “Itu namaku,” orang menertawakannya.
Ketika profesor mengatakan, “Dia berbohong,” orang mencatatnya sebagai fakta.
Keesokan harinya Arif mengirim surat melalui pengacaranya.
Bahasanya jauh lebih hati-hati.
Ia membantah adanya “pencurian identitas yang disengaja” dan menyebut peristiwa itu sebagai kekacauan administrasi masa lalu.
Tidak ada ancaman langsung.
Tidak ada tawaran uang.
Aku menyerahkan surat tersebut kepada pengacara independen yang menangani permohonan koreksi kami.
“Ini bukan pengakuan,” katanya.
“Aku tahu.”
“Tapi menarik karena dia tidak menyangkal bahwa ada perubahan identitas.”
“Aku juga memperhatikannya.”
Kami melanjutkan proses.
Bukan ke media.
Bukan ke acara televisi.
Bukan lewat unggahan panjang di media sosial.
Kami mengirimkan dokumen kepada instansi yang relevan dan meminta pemeriksaan arsip.
Universitas tempat Arif menjadi profesor emeritus juga menerima pengaduan etik karena sebagian riwayat yang ia gunakan dalam ceramah autobiografisnya menyebut keberangkatan dari daerah pengabdian bersama perempuan bernama Sri Lestari.
Akademi seni menerima permintaan peninjauan terhadap biografi pelukis Sri Lestari Pranoto.
Mereka tidak langsung mencabut gelar.
Tidak ada rapat dramatis.
Tidak ada satpam yang datang mengambil penghargaan dari rumah mereka.
Hanya surat.
Permintaan klarifikasi.
Jadwal pemeriksaan.
Dokumen yang harus dijawab.
Untuk pertama kalinya, keluarga itu harus menjelaskan sesuatu kepada orang lain.
Sebulan kemudian Kirana datang ke firmaku lagi.
Kali ini ia datang bukan sebagai pelamar.
Bu Rina meneleponku dari lantai bawah.
“Nadira, ada seseorang ingin bertemu.”
Kirana menungguku di ruang tamu kecil.
Ia terlihat lebih kurus.
Begitu aku duduk, ia mengeluarkan amplop.
“Aku tidak datang untuk minta pekerjaan.”
Ia tidak lagi memanggilku Ibu.
Aku mengangguk.
“Aku tahu.”
“Aku sudah bicara dengan kakek.”
Aku menunggu.
“Dia bilang dokumen nenekmu memang pernah ada padanya.”
Kalimat itu keluar pelan.
“Katanya waktu itu dia hanya membantu mengurus kepulangan.”
“Lalu?”
Kirana menatap lantai.
“Dia bilang perempuan yang sekarang kukenal sebagai nenekku memang bernama Maya sebelum pindah ke kota.”
Aku tidak bergerak.
Meski sudah melihat jejaknya di arsip, mendengar kalimat itu tetap terasa berbeda.
“Dia bilang perubahan nama dilakukan karena keadaan.”
“Apa keadaannya?”
“Kakek tidak mau menjelaskan.”
Kirana tertawa pendek.
“Setiap kali kutanya kenapa harus memakai nama orang lain, dia bilang aku terlalu muda untuk menilai masa itu.”
Aku mengenal kalimat semacam itu.
Cara paling mudah menghindari pertanggungjawaban adalah membuat pertanyaan terdengar naif.
Kirana melanjutkan, “Aku juga bertanya kepada nenek.”
Aku mengangkat mata.
“Dia bilang Sri Lestari sudah menjadi namanya selama hampir lima puluh tahun dan tidak ada gunanya membicarakan siapa yang memakai lebih dulu.”
Tanganku berhenti di atas meja.
Kirana membuka amplop.
Di dalamnya ada salinan satu surat.
Bukan bukti ajaib.
Bukan pengakuan.
Hanya surat yang dikirim pengacara keluarganya kepada universitas sebagai tanggapan pemeriksaan.
Di salah satu paragraf tertulis bahwa penggunaan nama Sri Lestari oleh Maya Kartika “bermula dari proses penyesuaian dokumen pada masa penempatan daerah”.
Aku membaca kalimat itu dua kali.
“Kenapa kamu memberikannya kepadaku?”
“Karena surat ini juga dikirim ke kami sebagai anggota keluarga.”
Ia menelan ludah.
“Dan karena kalau seseorang menggunakan nama orang lain, itu bukan penyesuaian.”
Aku mengembalikan surat tersebut.
“Kamu tidak harus berada di pihakku.”
“Aku tidak berada di pihakmu.”
Kirana menatapku.
“Aku berada di pihak fakta.”
Untuk pertama kalinya aku melihat kemiripan lain pada wajahnya.
Bukan dengan Arif.
Dengan sesuatu yang kupahami dari diriku sendiri.
Keras kepala.
Mungkin sifat itu memang turun lewat garis keluarga.
“Aku tetap marah kepadamu,” katanya.
“Kamu berhak.”
“Wawancara itu seharusnya menilai aku.”
“Benar.”
“Kalau aku tidak mengancammu waktu itu…”
Ia berhenti.
“Mungkin aku masih punya alasan mengatakan semua kegagalanku karena kamu.”
Aku tidak menyelanya.
“Tapi aku mengancammu.”
Ia menekan bibir.
“Aku bahkan tidak sadar itu ancaman saat mengatakannya. Di rumah kami, kalimat seperti ‘Kakek akan menelepon’ dianggap biasa.”
Itulah bagian yang paling menyedihkan.
Bukan kekuasaan yang dipamerkan.
Kekuasaan yang sudah begitu lama dianggap normal hingga orang tidak sadar sedang menggunakannya.
“Aku sudah menerima tawaran dari firma lain,” kata Kirana.
“Bagus.”
“Firma yang tidak punya hubungan dengan keluargaku.”
Kali ini aku benar-benar tersenyum sedikit.
“Lebih bagus.”
Ia hampir tersenyum juga, tetapi urung.
Sebelum pergi ia berkata, “Aku tidak tahu apakah suatu hari kita bisa menyebut diri kita keluarga.”
“Kita tidak perlu memutuskan itu sekarang.”
Ia mengangguk.
“Aku cuma ingin kamu tahu satu hal.”
“Apa?”
“Aku tidak akan memakai nama kakek untuk membungkam proses ini.”
Setelah ia pergi, aku duduk sendirian selama beberapa menit.
Aku tidak merasa menang.
Tidak ada rasa puas melihat keluarga lain retak.
Aku hanya merasa sesuatu yang sangat lama akhirnya bergerak satu sentimeter.
Dan kadang satu sentimeter setelah lima puluh tahun sudah berarti banyak.
Proses administrasi memakan waktu berbulan-bulan.
Sebagian dokumen sudah rusak.
Beberapa pejabat yang terlibat telah lama meninggal.
Ada bagian yang tidak mungkin direkonstruksi dengan sempurna.
Namun bukti yang tersisa konsisten.
Nomor peserta program pada kartu nenek cocok dengan daftar awal.
Tanggal lahir cocok.
Tempat lahir cocok.
Foto cocok dengan arsip sekolah desa.
Pengaduan tahun 1976 terbukti memang diterima kantor wilayah.
Sementara penggunaan nama Sri Lestari oleh Maya Kartika baru muncul dalam arsip setelah keberangkatan dari daerah penempatan.
Enam bulan setelah wawancara Kirana, kami menerima surat keputusan administratif pertama.
Bahasanya dingin.
Tidak ada kalimat puitis.
Tidak ada permintaan maaf besar.
Tetapi satu paragraf membuat ibu menangis.
Dalam arsip sejarah program, identitas peserta bernama Sri Lestari dikoreksi sesuai data kelahiran nenekku.
Catatan tambahan menyebut adanya penggunaan identitas tersebut oleh pihak lain pada periode setelah penempatan dan bahwa persoalan itu pernah diprotes oleh pemilik identitas asli pada 1976.
Hanya itu.
Satu paragraf.
Ibu membacanya berulang kali.
“Jadi sekarang ada yang percaya Nenek?”
Aku memegang tangannya.
“Sekarang arsipnya yang bicara.”
Akademi seni mengambil keputusan berbeda.
Mereka tidak menghapus karya perempuan yang selama puluhan tahun dikenal sebagai Sri Lestari Pranoto.
Lukisan-lukisannya tetap karya yang ia buat.
Namun biografi resminya diperbarui.
Namanya dicantumkan sebagai Maya Kartika, kemudian dikenal secara profesional dengan nama Sri Lestari Pranoto.
Dalam catatan kuratorial dijelaskan bahwa penggunaan nama tersebut sedang dikoreksi karena berkaitan dengan identitas orang lain dari program penempatan lama.
Bagi sebagian orang, perubahan itu mungkin terlihat kecil.
Bagi ibu, tidak.
Selama puluhan tahun, ketika mengetik nama Sri Lestari di katalog pameran, dunia hanya menemukan perempuan lain.
Sekarang setidaknya ada catatan yang mengatakan:
Nama itu memiliki sejarah lain.
Universitas mengambil waktu lebih lama terhadap Arif.
Mereka tidak memecat seorang profesor yang sudah lama pensiun.
Mereka juga tidak mencabut semua karya akademiknya.
Tetapi kerja sama kehormatannya dihentikan selama proses etik.
Undangan kuliah yang biasanya datang setiap semester tidak lagi dikirim.
Firma kami juga menghentikan kerja sama akademik dengannya.
Bukan karena aku meminta.
Komite manajemen memutuskan konflik kepentingan dan tekanan yang ia lakukan terhadap proses rekrutmen sudah cukup untuk meninjau hubungan tersebut.
Farid datang kepadaku setelah rapat.
“Aku mau bilang sesuatu.”
“Apa?”
“Dulu aku terlalu takut kehilangan koneksi.”
Aku tidak menjawab.
Ia melanjutkan, “Ketika Arif menelepon pertama kali, pikiranku cuma satu: jangan sampai firma kehilangan hubungan penting.”
“Wajar.”
“Wajar bukan berarti benar.”
Aku mengangguk.
Kami tidak membicarakannya lagi.
Aku juga menerima konsekuensi atas tindakanku sendiri.
Komite etik firma mencatat bahwa aku tidak seharusnya memimpin wawancara setelah menyadari adanya konflik pribadi.
Selama satu musim rekrutmen berikutnya, aku tidak menjadi ketua panel.
Aku menerima keputusan itu tanpa membantah.
Beberapa partner bertanya apakah menurutku sanksi tersebut memalukan.
Tidak.
Justru itu perbedaan yang selama ini kucari.
Kesalahan diakui.
Ada konsekuensi.
Lalu orang memperbaiki cara bekerja.
Bukan menggunakan nama besar untuk membuat kesalahan menghilang.
Setahun setelah semua dimulai, ibu mengajakku kembali ke desa tempat nenek dimakamkan.
Kami membawa salinan surat koreksi arsip.
Bukan untuk ditempel di balai desa.
Bukan untuk menunjukkan kepada orang-orang yang dulu mengejeknya.
Sebagian dari mereka bahkan sudah tidak ada.
Ibu hanya memasukkannya ke dalam plastik bening, lalu menaruhnya di antara dokumen keluarga.
“Kalau Nenek masih hidup, kira-kira dia senang?” tanyaku.
Ibu diam cukup lama.
“Mungkin dia akan ngomel karena kita lama sekali.”
Aku tertawa.
Ibu ikut tertawa.
Kemudian matanya kembali merah.
“Tapi iya. Dia akan senang.”
Beberapa minggu setelah itu, aku menerima satu pesan dari Kirana.
Kami tidak sering berkomunikasi.
Pesannya pendek.
Ia sudah mulai bekerja di firma barunya.
Tidak ada foto meja mewah.
Tidak ada cerita kemenangan.
Ia hanya menulis bahwa partner senior di tempatnya meminta semua associate baru memperkenalkan latar belakang mereka.
Ketika gilirannya tiba, Kirana hanya menyebut universitas dan bidang hukum yang ia minati.
Tidak menyebut kakeknya.
Tidak menyebut orang tuanya.
“Aneh,” tulisnya, “ternyata tidak membawa nama mereka ke ruangan terasa lebih ringan.”
Aku membaca pesan itu dua kali.
Lalu membalas:
“Semoga kariermu nanti dikenal karena pekerjaanmu sendiri.”
Ia membalas dengan satu kata.
“Semoga.”
Aku tidak tahu apakah kami suatu hari akan menjadi dekat.
Aku juga tidak tahu apakah Arif pernah menyesali semuanya.
Ia tidak pernah meminta maaf kepada ibu.
Perempuan yang memakai nama nenekku juga tidak pernah menghubungi kami.
Mungkin mereka akan menghabiskan sisa hidup dengan menyebut semuanya sebagai keadaan zaman.
Itu pilihan mereka.
Aku tidak lagi menunggu pengakuan untuk mengetahui apa yang benar.
Di apartemen ibu, kotak kayu nenek sekarang disimpan di lemari kecil yang baru.
Kartu peserta asli berada di dalam map bebas asam.
Salinan pengaduan disimpan terpisah.
Di halaman paling depan, ibu menambahkan satu lembar hasil koreksi resmi.
Nama:
Sri Lestari.
Bukan nama samaran.
Bukan nama yang dipinjamkan.
Bukan identitas milik orang terkenal.
Nama nenekku.
Sebelum pulang malam itu, aku menutup lemari lalu memutar kuncinya.
Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, nama itu berada di tempat yang benar dan tidak ada orang lain yang memegang kuncinya.
Menurutmu, apakah Nadira benar meminta maaf kepada Kirana tetapi tetap melanjutkan perjuangan untuk memulihkan nama neneknya?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
