Aku Baru Tahu Keluargaku Menjodohkanku Sejak Kecil, tetapi Perempuan yang Menggantikan Tempatku Sudah Menikah Dengannya

Avatar penulis
Cerita 01
28 menit baca 179 tayangan
Aku Baru Tahu Keluargaku Menjodohkanku Sejak Kecil, tetapi Perempuan yang Menggantikan Tempatku Sudah Menikah Dengannya
Indeks

Aku Baru Tahu Keluargaku Menjodohkanku Sejak Kecil, tetapi Perempuan yang Menggantikan Tempatku Sudah Menikah Dengannya

Bagian 1

Saat keluarga Wijaya akhirnya menjemputku pulang, aku sudah menjadi dokter bedah saraf termuda di rumah sakit tempatku bekerja yang dipercaya memimpin operasi-operasi berisiko tinggi.

Selama dua puluh tiga tahun, keluarga kandungku tidak pernah hadir dalam hidupku. Bahkan tentang kesepakatan perjodohan yang dibuat kedua keluarga saat aku masih bayi, aku baru mengetahuinya setelah mobil yang membawaku memasuki gerbang rumah mereka.

Yang lebih aneh, perempuan yang selama dua puluh tiga tahun dibesarkan sebagai putri keluarga Wijaya sudah lebih dulu menikah dengan laki-laki yang dulu dipersiapkan untukku.

Namanya Nadira Wijaya.

Dan suaminya, Arga Hartono.

Aku Baru Tahu Keluargaku Menjodohkanku Sejak Kecil, tetapi Perempuan yang Menggantikan Tempatku Sudah Menikah Dengannya

Sore ketika hasil tes DNA itu masuk, aku baru saja keluar dari ruang operasi setelah hampir dua belas jam berdiri.

Pasienku seorang profesor pensiunan berusia tujuh puluh tiga tahun dengan aneurisma intrakranial di percabangan arteri serebri tengah. Letaknya membuat setiap gerakan harus dihitung dengan sangat hati-hati. Sedikit saja salah, pembuluh darah bisa pecah saat operasi berlangsung.

Ketika sarung tanganku akhirnya kulepas, ujung jariku masih terasa kaku.

Seorang perawat menyerahkan ponsel yang sejak pagi kutitipkan di ruang staf.

“Dok, ada beberapa pesan masuk. Yang satu dari laboratorium genetika.”

Aku mengangguk dan membukanya sambil berjalan menuju ruang ganti.

Hasil pemeriksaan sudah tersedia.

Aku memasukkan tanggal lahir dan kode verifikasi, lalu membuka dokumennya.

Probabilitas hubungan biologis: 99,99 persen.

Aku membaca angka itu dua kali.

Tidak ada ledakan emosi.

Tidak ada tangisan.

Aku cuma berdiri beberapa detik di depan loker sambil masih mengenakan pakaian operasi, kemudian mengunci layar ponsel.

Mungkin karena aku sudah mengetahui sejak kecil bahwa aku bukan anak kandung orang tua yang membesarkanku.

Di kota kecil tempatku tumbuh, rahasia keluarga jarang benar-benar menjadi rahasia. Saat aku berumur tiga tahun, aku pernah mendengar seorang tetangga mengatakan di depan ibuku, “Anak itu kan bukan anak kalian sendiri.”

Ibuku hanya menggandeng tanganku lebih erat.

Ayah dan Ibu membuka klinik kecil. Penghasilannya tidak besar, tetapi aku tidak pernah merasa kekurangan sesuatu yang penting.

Mereka membelikanku buku ketika uang sedang sempit.

Mengantarkanku mengikuti ujian masuk sekolah.

Menunggu di luar ketika aku mengikuti seleksi pendidikan kedokteran.

Saat aku diterima dan biaya mulai terasa berat, Ayah menambah jam praktik.

Aku baru menyadari bertahun-tahun kemudian bahwa beliau beberapa kali menunda mengganti motornya supaya biaya kuliahku tidak terlambat.

Ayah meninggal lima tahun lalu karena kanker lambung.

Setahun kemudian, Ibu menyusul.

Beberapa hari sebelum meninggal, Ibu memanggilku ke samping tempat tidurnya.

Tangannya sudah sangat kurus, tetapi genggamannya masih kuat.

“Kirana,” katanya pelan, “orang tua kandungmu tidak membuangmu.”

Aku diam.

Ibu mengeluarkan selembar kertas tua dari dalam amplop.

“Ada kekeliruan saat kamu lahir. Kamu tertukar dengan bayi lain. Kami mengetahuinya bertahun-tahun kemudian, tapi waktu itu kami tidak punya keberanian dan tidak punya cukup bukti untuk datang ke mereka.”

Di kertas itu ada satu nama keluarga dan alamat lama.

Wijaya.

“Kamu tidak harus mencari mereka,” kata Ibu. “Ibu cuma tidak mau membawa rahasia ini sampai mati.”

Aku tidak pernah pergi ke alamat tersebut.

Bukan karena marah.

Aku hanya tidak melihat alasan untuk melakukannya.

Hidupku sudah berjalan.

Aku menyelesaikan pendidikan jauh lebih cepat daripada kebanyakan orang karena sejak sekolah aku beberapa kali mengikuti program akselerasi. Jalanku memang tidak biasa, dan hampir seluruh masa mudaku habis di ruang kuliah, laboratorium, bangsal, serta ruang operasi.

Karierku pun berkembang dengan kecepatan yang sering membuat orang mempertanyakan umurku.

Aku memimpin tim operasi pada kasus-kasus tertentu, menjadi wakil kepala unit bedah saraf di rumah sakit rujukan tempatku bekerja, dan ikut menulis penelitian yang akhirnya diterbitkan di jurnal internasional.

Aku tidak punya rumah besar.

Mobilku biasa saja.

Sebagian besar pakaianku bahkan kubeli ketika sedang diskon.

Namun aku tidak merasa hidupku menunggu untuk diselamatkan siapa pun.

Sampai tiga bulan lalu, seorang laki-laki berusia sekitar enam puluh tahun datang menemuiku di rumah sakit.

Namanya Pak Surya.

Ia memperkenalkan diri sebagai pengurus rumah tangga keluarga Wijaya.

“Keluarga sudah mencari Dokter Kirana cukup lama,” katanya.

Saat itu aku sedang memeriksa hasil CT seorang pasien tumor meningioma besar.

Aku bahkan tidak langsung menatapnya.

“Kalau yakin saya orangnya, lakukan tes DNA.”

Pak Surya terdiam sebentar.

“Baik.”

Tidak ada pelukan.

Tidak ada cerita sedih.

Tidak ada acara keluarga mendadak.

Aku meminta bukti, dan mereka menyetujuinya.

Sekarang bukti itu sudah ada.

Aku mandi, berganti pakaian, lalu memasukkan blouse putih ke dalam loker.

Aku mengenakan hoodie abu-abu yang warnanya mulai pudar, celana jeans, dan sepatu kanvas.

Di cermin, aku terlihat seperti kebanyakan perempuan yang baru selesai bekerja terlalu lama.

Tanpa riasan.

Rambut diikat sederhana.

Mata lelah.

Ibu dulu sering mengatakan mataku terlalu tajam.

“Kalau kamu menatap orang begitu, rasanya seperti kamu sedang mencari bagian mana yang perlu dibedah,” candanya.

Aku tersenyum tipis mengingatnya.

Begitu keluar dari pintu utama rumah sakit, sebuah sedan hitam sudah menunggu.

Pak Surya berdiri di samping pintu belakang.

“Nona Kirana.”

Aku menoleh kepadanya.

“Kakek Anda ingin bertemu.”

Aku memandang mobil itu beberapa detik.

Kemudian masuk.

Di perjalanan, Pak Surya menyerahkan sebuah map tebal.

“Ini informasi dasar keluarga. Bapak meminta saya memberikannya supaya Anda tidak datang tanpa mengetahui siapa-siapa.”

Aku membuka halaman pertama.

Wijaya Group.

Bisnis mereka bergerak di properti, layanan kesehatan, distribusi farmasi, dan investasi.

Kepala keluarga saat ini adalah Darma Wijaya, tujuh puluh delapan tahun.

Ayah biologisku bernama Hendrawan Wijaya, direktur utama perusahaan keluarga.

Ia memiliki tiga anak.

Putra pertama, Rendra Wijaya.

Putra kedua, Adrian Wijaya.

Dan seorang putri yang seharusnya berada di urutan terakhir.

Aku.

Aku membalik halaman.

Tanganku berhenti.

Nadira Wijaya.

Putri yang selama ini dibesarkan keluarga Wijaya.

Status: menikah dengan Arga Hartono.

Ada foto pernikahan mereka.

Nadira berdiri dengan gaun putih, tersenyum sambil menggandeng seorang laki-laki tinggi dengan setelan gelap.

Aku memperhatikan foto itu beberapa detik.

“Siapa laki-laki ini?”

Pak Surya menoleh sebentar.

“Pak Arga Hartono.”

“Hubungannya dengan keluarga?”

Pak Surya terlihat ragu.

“Keluarga Hartono sudah lama dekat dengan keluarga Wijaya.”

Aku menunggu.

Ia akhirnya melanjutkan.

“Dulu, sebelum Anda lahir, Kakek Darma dan Kakek Hartono pernah membuat kesepakatan bahwa cucu mereka akan dipertemukan ketika dewasa. Secara praktis, orang-orang keluarga menyebutnya perjodohan.”

Aku menatap kembali foto itu.

“Dan yang dimaksud cucu perempuan Wijaya adalah saya?”

“Seharusnya begitu.”

“Seharusnya?”

Pak Surya menarik napas pelan.

“Karena selama bertahun-tahun semua orang mengira Nona Nadira adalah putri kandung keluarga Wijaya, keluarga Hartono juga menganggap dialah orang yang dimaksud.”

“Kapan mereka menikah?”

“Hampir dua tahun lalu.”

“Sedangkan hasil yang menunjukkan Nadira bukan anak kandung baru diketahui tiga bulan lalu?”

“Benar.”

Itu penting.

Artinya Nadira tidak menikahi seseorang setelah mengetahui aku ada.

Ketika pernikahan itu berlangsung, ia masih hidup dengan identitas yang diberikan kepadanya sejak bayi.

Aku menutup map.

Setidaknya satu hal menjadi jelas.

Aku tidak bisa menuduh seseorang mencuri sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak tahu bukan miliknya.

Namun tetap saja ada sesuatu yang ganjil saat menyadari bahwa selama dua puluh tiga tahun seseorang tumbuh memakai nama keluarga yang seharusnya menjadi milikku, memanggil orang tua kandungku sebagai Mama dan Papa, duduk di meja makan mereka, dan pada akhirnya menikah dengan orang yang sejak dulu dipersiapkan kedua keluarga untuk putri kandung keluarga Wijaya.

Aku menyandarkan kepala ke kursi.

“Lucu juga.”

Pak Surya mungkin mengira aku tersinggung.

Ia cepat-cepat berkata, “Nona Kirana, mengenai Pak Arga, keluarga sebenarnya…”

“Aku tidak mengatakan aku menginginkannya.”

Pak Surya langsung diam.

Aku melihat keluar jendela.

“Aku bahkan belum pernah bertemu orangnya.”

Rumah keluarga Wijaya berada di kawasan perumahan privat di pinggir Jakarta.

Mobil melewati dua pos keamanan sebelum masuk ke halaman utama.

Rumahnya besar, tetapi tidak berlebihan. Bangunan tiga lantai dengan taman luas dan pohon-pohon tua yang tampaknya sudah ada jauh sebelum kompleks di sekitarnya berkembang.

Saat aku turun, pintu depan sudah terbuka.

Seorang laki-laki tua berdiri di tengah ruang tamu.

Di belakangnya ada pasangan berusia sekitar lima puluhan.

Aku tidak perlu diperkenalkan untuk mengetahui siapa mereka.

Kakek.

Ayah.

Ibu.

Kakek Darma melangkah maju dengan bantuan tongkat.

Begitu melihat wajahku, matanya langsung memerah.

“Kirana?”

Aku berdiri beberapa langkah darinya.

Tangannya terangkat seolah ingin menyentuh wajahku, tetapi berhenti di tengah jalan.

Aku tidak mundur.

Aku juga tidak maju.

“Selamat sore, Pak Darma.”

Wajahnya berubah.

Bukan marah.

Lebih seperti seseorang yang baru sadar bahwa hubungan darah tidak bisa memotong jarak dua puluh tiga tahun hanya dengan satu panggilan sayang.

Ia menundukkan kepala sebentar.

“Hendrawan,” katanya kepada laki-laki di belakangnya. “Lihat anakmu.”

Ayah biologisku melangkah mendekat.

“Kirana.”

Suaranya serak.

“Ayah minta maaf.”

Aku menatapnya beberapa detik.

“Tidak perlu meminta maaf untuk hal yang tidak bisa diubah.”

Ibuku, Maya, mulai menangis.

Ia memegang pergelangan tanganku.

“Kamu pasti susah sekali selama ini.”

Aku perlahan menarik tanganku.

“Orang tua yang membesarkan saya sangat baik.”

Maya diam.

“Aku tidak tumbuh sendirian,” lanjutku. “Aku punya Ayah dan Ibu.”

Aku melihat rasa sakit di wajahnya.

Namun aku tidak mengatakan itu untuk menyakitinya.

Itu kenyataan.

Makan malam sudah disiapkan.

Di meja, Pak Darma mendorong sebuah kartu ke arahku.

“Ini untukmu.”

Aku tidak mengambilnya.

“Apa?”

“Rekening dengan dana yang sudah kami siapkan. Kami tahu uang tidak mengganti waktu, tapi setidaknya…”

“Berapa?”

“Dua miliar rupiah untuk sekarang. Nanti soal kepemilikan saham keluarga juga akan dibicarakan.”

Aku menatap kartu itu.

“Tidak perlu.”

Semua orang terdiam.

“Kirana,” kata Hendrawan pelan.

“Aku tidak kekurangan uang.”

Aku meletakkan tangan di meja.

“Penghasilanku cukup. Aku punya tabungan. Apartemenku masih dicicil, tapi cicilannya sanggup kubayar sendiri.”

Pak Darma memandangku cukup lama sebelum menarik kembali kartu tersebut.

Aku tidak berniat mempermalukan mereka.

Aku hanya tidak ingin pertemuan pertama kami berubah menjadi transaksi ganti rugi.

Tak lama kemudian dua laki-laki datang.

Yang pertama, Rendra, berusia tiga puluh tahun. Cara bicaranya singkat dan tenang.

Yang kedua, Adrian, dua puluh tujuh tahun. Ia bekerja di unit layanan kesehatan dan farmasi keluarga.

Rendra duduk di depanku.

“Kamu Kirana?”

Aku mengangguk.

Ia memperhatikan wajahku sesaat.

“Kamu mirip sekali dengan almarhumah Nenek.”

Adrian bertanya, “Sekarang praktik di mana?”

Aku menyebut nama rumah sakit.

Ia berhenti mengangkat gelas.

“Bedah saraf?”

“Ya.”

“Dokter spesialis?”

Aku mengangguk.

“Wakil kepala unit.”

Kedua alisnya naik.

“Umurmu dua puluh tiga?”

“Dua puluh empat.”

“Kok bisa secepat itu?”

“Jalur pendidikan dan pelatihanku tidak biasa.”

Adrian masih terlihat sulit percaya.

Rendra malah tersenyum tipis.

“Jadi keluarga kita kehilangan seorang anak dua puluh tiga tahun, lalu anak itu pulang sudah jadi dokter yang lebih sibuk dari semua orang di meja ini.”

Aku kembali makan.

Untuk pertama kalinya malam itu, suasana sedikit lebih ringan.

Kami baru setengah selesai ketika Pak Surya masuk membawa telepon rumah.

“Pak Darma, keluarga Hartono menelepon.”

Kakek langsung menoleh.

“Mereka mengundang keluarga kita ke acara ulang tahun Pak Surya Hartono besok malam.”

Rendra menghela napas kecil.

Aku mengangkat kepala.

“Siapa Pak Surya Hartono?”

“Kakeknya Arga,” jawab Adrian.

Aku mengerti.

Keluarga laki-laki di foto itu.

Pak Surya, pengurus rumah, menambahkan, “Ulang tahunnya yang kedelapan puluh. Banyak kerabat dan mitra bisnis lama akan datang. Keluarga Wijaya juga selalu hadir setiap tahun.”

Aku meletakkan sendok.

Maya langsung berkata, “Kalau kamu belum nyaman, tidak perlu ikut.”

Ayahku ikut menatapku.

“Kita bisa bilang kamu masih sibuk.”

Aku memandang mereka satu per satu.

Kemudian teringat foto pernikahan di dalam map.

Perempuan yang selama dua puluh tiga tahun hidup di tempatku.

Laki-laki yang pernah dipersiapkan untukku.

Dan dua keluarga yang rupanya sudah saling terikat jauh sebelum aku mengetahui semua itu.

Aku mengambil gelas air.

“Aku ikut.”

Maya tampak terkejut.

Aku minum satu teguk lalu menambahkan dengan tenang, “Kenapa tidak?”

Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇

Bagian 2

Keesokan harinya aku tetap masuk rumah sakit seperti biasa.

Tidak ada alasan membatalkan jadwal hanya karena malam nanti aku harus bertemu keluarga Hartono.

Sekitar pukul empat sore, setelah visite terakhir, Maya mengirim pesan menanyakan apakah aku perlu dijemput.

Aku menjawab bahwa aku akan datang sendiri.

Aku juga menolak gaun yang katanya sudah disiapkan.

Aku punya satu gaun biru tua sederhana untuk acara resmi, dan menurutku itu cukup.

Ketika tiba di hotel tempat acara berlangsung, keluarga Wijaya sudah menunggu di ruang penerima tamu.

Baru di sanalah aku melihat Nadira untuk pertama kalinya.

Ia berdiri di samping seorang laki-laki yang langsung kukenal dari foto.

Arga Hartono.

Nadira mengenakan gaun krem dengan potongan sederhana. Wajahnya sedikit pucat ketika melihatku.

Aku tidak tahu apa yang kuharapkan.

Mungkin tatapan menantang.

Mungkin ketakutan.

Ternyata yang kulihat justru seseorang yang tampak sama canggungnya denganku.

Maya mendekat.

“Kirana, ini Nadira.”

Nadira menatapku.

“Hai.”

“Hai.”

Tidak ada pelukan.

Aku juga tidak menginginkannya.

Arga mengulurkan tangan.

“Arga.”

“Kirana.”

Kami berjabat tangan singkat.

Tidak ada kilat romantis.

Tidak ada rasa bahwa aku baru menemukan laki-laki yang seharusnya menjadi milikku.

Yang berdiri di hadapanku hanyalah suami perempuan lain.

Dan itu sudah cukup jelas.

Sebelum kami masuk, Nadira tiba-tiba berkata, “Boleh bicara sebentar?”

Kami berdiri agak jauh dari yang lain.

Ia meremas tali tas kecilnya.

“Aku tahu soal kesepakatan keluarga dulu.”

Aku menunggu.

“Tapi aku baru tahu bahwa seharusnya kamu yang dimaksud setelah hasil tes keluar.”

“Aku juga baru tahu kemarin.”

Nadira mengangkat wajah.

“Aku tidak merebut Arga darimu.”

“Aku tahu.”

Jawabanku membuatnya terdiam.

Aku melanjutkan, “Kalian menikah sebelum siapa pun tahu aku anak kandung keluarga Wijaya. Aku tidak akan berpura-pura bahwa kamu sengaja melakukan sesuatu yang waktu itu bahkan tidak kamu ketahui.”

Bahu Nadira sedikit turun.

Namun kemudian ia berkata pelan, “Aku cuma ingin meminta satu hal.”

Aku langsung tahu percakapan ini belum selesai.

“Apa?”

“Kalau nanti ada orang bertanya soal keluarga… jangan membicarakan pertukaran bayi itu malam ini.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena banyak orang belum tahu.”

“Dan?”

Nadira menarik napas.

“Keluarga Hartono baru tahu tiga minggu lalu. Mama bilang lebih baik masalah ini disampaikan pelan-pelan.”

Aku tidak menjawab.

Ia buru-buru menambahkan, “Aku bukan menyuruhmu berbohong. Cuma jangan menjelaskan semuanya.”

“Aku tidak datang untuk mengadakan konferensi pers.”

“Aku tahu.”

“Tapi kalau seseorang bertanya siapa aku?”

Nadira terdiam terlalu lama.

“Itu yang perlu kamu tanyakan kepada Mama.”

Kalimat itu membuatku menoleh ke arah Maya.

Ia sedang berbicara dengan seorang perempuan dari tim acara.

Beberapa menit kemudian, seorang staf membawa kartu tempat duduk.

Namaku tertulis sebagai:

Dr. Kirana Prameswari, tamu keluarga Wijaya.

Aku membaca tulisan itu sekali.

Di meja yang sama, kartu Nadira bertuliskan:

Nadira Wijaya Hartono, putri keluarga Wijaya.

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Belum.

Acara berlangsung cukup tenang sampai Pak Surya Hartono, lelaki berusia delapan puluh tahun yang menjadi pusat perayaan, meminta bertemu denganku di ruang kecil di samping ballroom.

Pak Darma ikut masuk.

Begitu pintu tertutup, Pak Surya Hartono memandang wajahku lama sekali.

“Jadi kamu cucu Darma yang sebenarnya.”

Pak Darma menundukkan kepala.

“Surya…”

“Aku tidak sedang menyalahkanmu.”

Pak Surya Hartono kembali menatapku.

“Dulu kami membuat banyak keputusan untuk anak-anak bahkan sebelum mereka bisa bicara. Termasuk soal Arga.”

Aku tersenyum tipis.

“Untungnya Arga sudah bisa memilih sendiri sekarang.”

Lelaki tua itu tertawa kecil.

“Jawaban yang bagus.”

Kemudian wajahnya menjadi serius.

“Pernikahan Arga dan Nadira tidak akan kami ganggu.”

“Aku juga tidak meminta itu.”

“Aku tahu.”

Ia mengangguk.

“Justru itu sebabnya aku ingin mengatakannya langsung kepadamu.”

Saat kami keluar, Maya sudah menunggu.

Ia tampak lega sampai seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun menghampiriku.

“Dokter Kirana?”

“Ya?”

“Saya Livia dari konsultan komunikasi keluarga Wijaya.”

Aku menatapnya.

Ia membuka tablet.

“Bu Maya meminta kami menyiapkan pernyataan singkat kalau ada media bisnis yang bertanya tentang kehadiran Dokter malam ini. Saya cuma mau memastikan ejaannya benar.”

Aku mengerutkan kening.

“Pernyataan apa?”

Livia menatap Maya.

Wajah ibuku berubah.

“Livia, nanti saja.”

Namun aku sudah mengulurkan tangan.

“Boleh saya lihat?”

Perempuan itu ragu, lalu menyerahkan tabletnya.

Di layar tertulis satu paragraf.

“Kirana Prameswari adalah dokter bedah saraf dan kerabat dekat keluarga Wijaya yang selama beberapa tahun terakhir menetap di luar Jakarta.”

Aku membaca bagian itu sekali lagi.

Kerabat dekat.

Bukan putri.

Bukan anak kandung.

Bukan anggota keluarga yang hilang selama dua puluh tiga tahun.

Cuma kerabat dekat.

Aku mengembalikan tablet.

“Siapa yang menyetujui kalimat ini?”

Maya menatapku.

“Kirana, dengarkan dulu.”

“Siapa?”

Ia menunduk sebentar.

“Mama.”

Nadira berdiri beberapa meter di belakangnya.

Dari wajahnya, aku tahu ia sudah pernah melihat kalimat itu.

Aku menatap ibuku lagi.

Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki rumah keluarga Wijaya, aku benar-benar memahami masalah yang sedang kuhadapi.

Mereka memang ingin aku pulang.

Hanya saja mereka belum siap kalau kepulanganku mengubah apa pun.

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Aku tidak membuat keributan malam itu.

Tidak ada alasan mempermalukan Pak Surya Hartono di pesta ulang tahunnya hanya karena keluargaku sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskan keberadaanku.

Aku cuma berkata kepada Livia, “Jangan gunakan pernyataan itu.”

Ia mengangguk cepat.

Maya menyentuh lenganku.

“Kirana, Mama bisa jelaskan.”

“Nanti.”

Aku kembali ke ballroom.

Acara berjalan seperti biasa.

Orang-orang makan.

Beberapa tamu datang menyalami keluarga.

Ada sambutan singkat.

Arga beberapa kali berdiri membantu kakeknya menerima tamu.

Nadira duduk di sampingnya.

Jika aku melihat mereka tanpa mengetahui cerita dua puluh tiga tahun terakhir, mereka tampak seperti pasangan yang sudah terbiasa hidup bersama.

Tidak ada alasan bagiku merusak itu.

Yang membuatku tidak nyaman bukan pernikahan mereka.

Yang membuatku tidak nyaman adalah menyadari bahwa keluarga kandungku ingin mengembalikan aku ke tempat yang mereka anggap milikku, tetapi hanya selama aku tidak mengganggu susunan hidup yang sudah mereka bangun tanpa diriku.

Setelah acara selesai, keluarga Wijaya kembali ke rumah.

Aku ikut karena Kakek memintaku bicara sebelum pulang ke apartemen.

Kami duduk di ruang keluarga.

Tidak ada staf.

Tidak ada tamu.

Aku meletakkan kartu tempat duduk dari acara tadi di meja.

“Siapa yang membuat keputusan bahwa aku akan diperkenalkan sebagai kerabat?”

Maya langsung berkata, “Mama.”

Hendrawan menoleh tajam kepadanya.

“Kamu tidak bilang begitu kepadaku.”

“Aku tidak sempat.”

Rendra duduk di ujung sofa dengan tangan bersilang.

Adrian tampak sama terkejutnya.

Kakek Darma mengambil kartu itu.

Wajahnya berubah.

“Ini maksudnya apa?”

Maya menarik napas.

“Aku cuma ingin mencegah masalah.”

“Masalah apa?” tanyaku.

Ia menatapku.

“Kalau malam ini orang tahu semuanya, besok bisa mulai muncul pertanyaan tentang Nadira. Tentang pernikahannya. Tentang bagaimana dia dibesarkan di keluarga ini.”

“Itu memang faktanya.”

“Kirana.”

“Aku tidak bilang harus diumumkan.”

Suaraku tetap tenang.

“Aku cuma ingin tahu kenapa untuk melindungi Nadira, aku harus dibuat seolah-olah bukan anak keluarga ini.”

Maya mengusap wajahnya.

“Aku baru mendapatkanmu kembali.”

Ia mulai menangis.

“Dan Mama juga tidak sanggup kehilangan Nadira.”

Aku mengerti kalimat itu.

Justru karena aku mengerti, aku tidak langsung marah.

Nadira dibesarkan Maya sejak bayi.

Dua puluh tiga tahun bukan masa yang bisa dihapus dengan satu lembar hasil DNA.

Namun ada perbedaan antara tetap menyayangi seorang anak yang ternyata bukan anak biologis dan menyembunyikan anak biologis supaya susunan lama tidak berubah.

“Aku tidak pernah meminta Mama membuang Nadira.”

“Aku tahu.”

“Aku juga tidak meminta Arga.”

Nadira yang sejak tadi berdiri dekat pintu akhirnya masuk.

“Kirana.”

Aku menoleh.

Ia kelihatan gelisah.

“Aku yang meminta Mama supaya jangan menjelaskan semuanya dulu.”

Ruangan langsung diam.

Maya berkata, “Nadira…”

“Tidak apa-apa, Ma.”

Nadira duduk.

“Aku memang meminta.”

Aku memandangnya.

“Kenapa?”

Ia tidak menjawab cepat.

“Aku takut.”

“Takut apa?”

“Kamu datang, lalu semua orang melihatmu, dan tiba-tiba aku tidak tahu lagi siapa aku di keluarga ini.”

Aku menatapnya tanpa menyela.

Nadira melanjutkan, “Tiga bulan lalu aku masih anak perempuan satu-satunya keluarga Wijaya. Aku masih adik Rendra dan Adrian. Aku masih cucu perempuan Kakek. Lalu hasil tes keluar dan semuanya berubah.”

“Kenyataannya memang berubah.”

“Aku tahu.”

Ia mengusap sudut matanya.

“Aku malu mengakuinya, tapi waktu Mama bilang kita bisa menunggu sebelum mengumumkan siapa kamu, aku setuju.”

“Apakah kamu meminta mereka menyebutku kerabat?”

Ia menunduk.

“Aku tahu soal kalimat itu.”

Itu jawaban yang cukup.

Aku tidak perlu mendengar pengakuan panjang.

“Baik.”

Nadira mengangkat kepala.

“Baik?”

“Sekarang aku tahu.”

Maya mendekat.

“Kirana, jangan pergi malam ini dalam keadaan seperti ini.”

Aku berdiri.

“Aku tidak sedang marah sampai tidak bisa berpikir.”

Aku mengambil tas.

“Justru aku ingin pulang sebelum kita mengatakan sesuatu hanya karena sedang emosional.”

Kakek berdiri perlahan.

“Kirana.”

Aku menatapnya.

“Aku akan kembali kalau ingin bicara lagi.”

Kemudian aku pulang.

Di apartemen, aku tidak langsung tidur.

Aku membuka hasil tes DNA sekali lagi.

Lalu membuka foto Ayah dan Ibu yang membesarkanku.

Mereka berdiri di depan klinik kecil, memakai pakaian sederhana, tersenyum ke kamera.

Tidak pernah sekali pun mereka membuatku merasa harus mengecil supaya orang lain tetap nyaman.

Aku menutup ponsel.

Besok paginya aku masuk rumah sakit lebih awal.

Seorang residen menyerahkan daftar pasien.

Kami mulai visite pukul tujuh.

Hari itu sangat padat sehingga baru lewat jam dua siang aku sempat membuka pesan.

Ada dua belas pesan dari keluarga Wijaya.

Aku tidak langsung membalas.

Salah satunya dari Adrian.

“Kirana, kalau ada waktu, aku ingin bicara. Bukan soal kemarin saja. Ada sesuatu yang baru kuketahui pagi ini.”

Aku meneleponnya saat jam kerja selesai.

“Apa?”

Adrian terdengar tidak nyaman.

“Apakah Papa atau Kakek pernah bicara kepadamu soal pekerjaan?”

“Tidak.”

“Soal Wijaya Medika?”

“Tidak.”

Ia diam.

“Kirana, tadi pagi aku rapat direksi. Namamu ada di proposal restrukturisasi unit rumah sakit dan farmasi.”

Aku berdiri di lorong parkir.

“Dalam kapasitas apa?”

“Penasihat medis grup. Ada rencana memperkenalkanmu sebagai bagian dari kepemimpinan baru.”

“Aku tidak pernah menyetujuinya.”

“Aku tahu.”

“Siapa yang memasukkan namaku?”

“Papa.”

Aku menutup mata sesaat.

“Kirimi dokumennya.”

Lima menit kemudian sebuah PDF masuk.

Aku membukanya di mobil.

Namaku memang tercantum.

Dr. Kirana Prameswari.

Kandidat Chief Medical Advisor.

Di halaman berikutnya terdapat ringkasan pengalaman kerja, publikasi, dan beberapa pencapaian profesional.

Informasinya akurat.

Hampir terlalu akurat.

Ada hal-hal yang hanya bisa didapat dari CV akademikku.

Aku menelepon Hendrawan.

Ia menjawab cepat.

“Kirana.”

“Papa memasukkan namaku ke proposal Wijaya Medika?”

Hening.

Kemudian ia berkata, “Papa mau membicarakannya setelah kamu mulai terbiasa dengan keluarga.”

“Kenapa proposalnya dibuat sebelum bicara denganku?”

“Belum final.”

“Nama dan CV-ku sudah dimasukkan.”

“Kamu anak Papa. Papa pikir kalau suatu hari kamu ingin pindah ke Jakarta…”

“Itu bukan jawabannya.”

Nada suaranya berubah.

“Kirana, posisi itu bagus. Kamu tidak perlu terus bekerja di rumah sakit pemerintah dengan jadwal operasi seperti sekarang.”

Aku menggenggam ponsel lebih erat.

“Papa pernah melihat aku bekerja?”

“Belum.”

“Pernah masuk ruang operasi denganku?”

“Tentu tidak.”

“Pernah bertanya apakah aku mau berhenti?”

Ia terdiam.

Aku melanjutkan, “Papa menemukan aku setelah dua puluh tiga tahun dan dalam tiga bulan sudah membuat rencana karier untukku.”

“Papa cuma ingin memberi sesuatu.”

“Kalau mau memberi, tanya dulu aku membutuhkannya atau tidak.”

“Kirana.”

“Aku tidak mengizinkan nama atau riwayat profesionalku dipakai dalam proposal perusahaan.”

Hendrawan terdengar mulai tersinggung.

“Jangan bicara seolah Papa memanfaatkanmu.”

“Aku tidak bilang begitu. Aku sedang mengatakan batasnya.”

Aku mematikan telepon setelah meminta salinan terbaru proposal dikirim langsung kepadaku.

Malam itu aku mengganti kata sandi email utama dan akun profesional yang selama ini memakai pola lama.

Aku juga menghubungi bagian administrasi rumah sakit dan meminta mereka tidak memberikan dokumen kepegawaian atau surat rekomendasi kepada pihak mana pun tanpa persetujuan tertulisku.

Bukan karena aku menduga keluarga Wijaya akan mencuri dokumen.

Aku hanya tidak ingin hidupku kembali ditata orang lain sebelum aku diajak bicara.

Keesokan harinya Rendra datang ke rumah sakit.

Ia menungguku di kantin.

“Aku tidak datang untuk membela Papa.”

Aku duduk di depannya.

“Bagus.”

Ia mendorong satu map tipis.

“Aku minta sekretaris direksi menarik versi proposal yang memuat namamu. Ini salinan surat revisinya.”

Aku membacanya.

Namaku sudah dihapus.

“Terima kasih.”

Rendra mengangguk.

“Papa marah kepadaku.”

“Itu urusan kalian.”

Ia tertawa kecil.

“Kamu memang benar-benar adikku.”

Aku menatapnya.

“Karena membuat Papa marah?”

“Karena jawabanmu persis seperti jawaban Nenek dulu.”

Aku tidak ikut tertawa.

Rendra menjadi serius.

“Kami melakukan kesalahan.”

“Kesalahan yang mana?”

“Berpikir karena kamu pulang sebagai anggota keluarga, berarti kami langsung boleh mengambil bagian dalam semua keputusanmu.”

Aku menutup map.

“Dua puluh tiga tahun aku hidup tanpa kalian.”

“Aku tahu.”

“Kalian tidak bisa mengejar dua puluh tiga tahun itu dalam tiga minggu.”

Rendra mengangguk.

“Menurutmu apa yang harus kami lakukan?”

Pertanyaan itu justru membuatku diam.

Untuk pertama kalinya sejak aku datang, seseorang dari keluarga itu bertanya sebelum mengambil keputusan.

“Aku tidak tahu.”

“Baik.”

“Tapi mulai dari tidak membuat keputusan atas namaku.”

Ia mengangguk lagi.

“Aku bisa menyampaikan itu.”

“Jangan menyampaikan seolah itu aturan yang cuma berlaku untukku.”

“Maksudmu?”

“Kalau kalian memang menganggap Nadira keluarga, perlakukan juga dia sebagai orang dewasa. Bukan seseorang yang harus dilindungi dari setiap konsekuensi.”

Rendra memperhatikan wajahku.

“Aku akan ingat.”

Beberapa hari berlalu.

Aku tidak datang ke rumah keluarga Wijaya.

Maya mengirim makanan dua kali melalui pengemudi.

Yang pertama kukembalikan karena terlalu banyak.

Yang kedua cuma satu wadah sup dan buah.

Aku menerimanya.

Tidak ada pesan panjang.

Hanya tulisan kecil dari Maya:

“Mama belum tahu makanan apa yang kamu suka. Adrian bilang kamu kadang lupa makan kalau operasi panjang. Kalau tidak suka supnya, tidak perlu dihabiskan.”

Aku makan sup itu malam hari setelah pulang.

Rasanya biasa saja.

Anehnya, justru karena biasa, aku bisa menerimanya.

Seminggu kemudian Nadira menghubungiku.

“Bisa ketemu?”

Kami bertemu di kedai kopi tidak jauh dari rumah sakit.

Ia datang sendirian.

Begitu duduk, ia langsung berkata, “Aku mau minta maaf.”

Aku menunggu.

“Bukan karena menikah dengan Arga.”

“Bagus. Karena aku juga tidak meminta maaf darimu soal itu.”

Nadira mengangguk.

“Aku minta maaf karena tahu Mama hendak menyebutmu kerabat dan aku diam saja.”

Ia menatap meja.

“Waktu itu aku merasa kalau kamu diakui sebagai anak kandung, berarti aku kehilangan posisi.”

“Dan sekarang?”

“Sekarang aku sadar posisiku memang berubah.”

Aku memandangnya.

Ia meneruskan, “Kamu anak kandung mereka. Itu fakta. Aku tidak bisa mempertahankan hidupku dengan meminta semua orang berpura-pura fakta itu tidak ada.”

“Kamu masih menganggap mereka keluargamu?”

“Iya.”

“Kalau begitu itulah hubungan yang harus kamu pertahankan. Bukan status yang bukan milikmu.”

Nadira menelan ludah.

“Kakek ingin mengganti beberapa dokumen keluarga.”

“Itu urusan kalian.”

“Kamu tidak ingin tahu soal saham?”

“Belum.”

Ia tampak heran.

Aku minum kopi.

“Aku baru tahu nama lengkap ayah kandungku minggu lalu. Aku belum mau duduk bicara persentase perusahaan.”

Nadira tersenyum tipis untuk pertama kalinya.

“Aku mengira kamu akan datang mengambil semuanya.”

“Termasuk suamimu?”

Wajahnya langsung merah.

Aku hampir tertawa.

“Nadira, aku bahkan tidak mengenal Arga.”

“Aku tahu.”

“Dan dia bukan kursi yang bisa dikembalikan kepada pemilik asli.”

Nadira menunduk.

“Aku malu sekarang.”

“Bagus. Berarti kita tidak perlu membicarakan itu lagi.”

Ia benar-benar tertawa kecil.

Ketegangan di antara kami tidak hilang.

Namun setidaknya bentuknya berubah.

Sebelum pulang, Nadira berkata, “Ada satu hal lagi.”

“Apa?”

“Arga sempat marah kepadaku karena aku ikut meminta Mama menunda penjelasan soal kamu.”

Aku tidak menjawab.

“Dia bilang kalau pernikahan kami hanya bisa aman dengan menyembunyikan siapa kamu, berarti yang bermasalah bukan keberadaanmu.”

Kalimat itu cukup masuk akal.

“Aku setuju dengannya.”

Nadira mengangguk.

“Aku juga sekarang.”

Dua minggu kemudian, Kakek datang ke rumah sakit tanpa rombongan.

Aku menemukannya duduk di ruang tunggu dengan tongkat di antara kedua lutut.

“Kenapa tidak menelepon dulu?”

“Kalau menelepon, kamu mungkin bilang sibuk.”

“Aku memang sibuk.”

Ia tertawa.

“Aku sudah tahu.”

Kami makan di kantin rumah sakit.

Kakek melihat menu cukup lama sebelum memilih bubur.

Ia makan pelan.

“Kirana.”

“Ya?”

“Aku ingin memperbaiki sesuatu.”

Aku menunggu.

“Bukan dengan uang.”

Aku meletakkan sendok.

“Bagus.”

Ia tersenyum kecil.

“Kami tidak akan membuat pengumuman besar. Aku juga tidak ingin hidupmu jadi bahan berita. Tapi mulai sekarang kalau ada urusan keluarga, kamu akan diperkenalkan sebagaimana adanya.”

“Sebagai?”

“Cucuku.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Nadira tetap cucuku juga,” lanjutnya.

“Itu keputusan Kakek.”

“Dan kamu?”

Aku berpikir.

“Aku belum tahu panggilan apa yang nyaman.”

Ia mengangguk.

“Tidak apa-apa.”

Tidak ada tuntutan bahwa aku harus langsung memanggilnya Kakek.

Itu membuatku lebih mudah duduk di sana.

Sebelum pulang ia mengeluarkan sebuah kunci dari sakunya.

Aku langsung mengerutkan kening.

“Kalau ini rumah atau mobil, aku tidak mau.”

Ia terkekeh.

“Bukan.”

Ia meletakkan kunci kecil di meja.

“Kunci rumah keluarga.”

Aku menatapnya.

“Kamar yang mereka siapkan untukmu tetap ada. Tapi kamu tidak harus tinggal di sana.”

“Aku sudah punya apartemen.”

“Aku tahu.”

“Lalu untuk apa?”

“Supaya kalau suatu hari kamu mau datang dan kami sedang di halaman belakang, kamu tidak perlu menunggu Pak Surya membukakan pintu.”

Aku tidak mengambilnya segera.

Kakek juga tidak mendorongnya ke tanganku.

Ia hanya meninggalkannya di meja.

Ketika kami berpisah, kunci itu masih ada di dekat gelasku.

Lima menit kemudian, sebelum kembali ke ruang operasi, aku memasukkannya ke saku blouse.

Bukan berarti semuanya sudah selesai.

Justru setelah itu kami mulai menghadapi banyak hal yang sebelumnya ditunda.

Hendrawan datang menemuiku tiga hari kemudian.

Ia tidak membawa proposal.

Tidak membawa kartu bank.

Tidak membawa dokumen saham.

Ia cuma datang sendiri.

Kami duduk di restoran kecil di seberang rumah sakit.

“Ayah minta maaf soal Wijaya Medika.”

Itu pertama kalinya ia meminta maaf untuk sesuatu yang konkret, bukan untuk dua puluh tiga tahun yang terlalu besar dan terlalu abstrak.

Aku menghargai perbedaannya.

“Aku menerima permintaan maafnya.”

Wajahnya sedikit lega.

“Tapi aku tetap tidak mau masuk perusahaan.”

“Ayah sudah mengerti.”

“Aku juga tidak mau namaku dipakai untuk promosi grup rumah sakit.”

“Baik.”

“Kalau suatu hari ada penelitian atau kerja sama resmi antara tempatku bekerja dan perusahaan kalian, prosesnya harus lewat jalur institusi.”

Ia mengangguk.

“Baik.”

Aku menatapnya.

“Papa tidak keberatan aku memanggil Papa?”

Ia membeku.

Aku hampir menyesal mengatakannya.

Kemudian matanya memerah.

“Tidak.”

Ia berdeham.

“Tidak keberatan.”

Kami tidak membahas hal itu lagi.

Satu bulan kemudian keluarga Wijaya mengadakan makan siang kecil.

Bukan acara bisnis.

Hanya keluarga.

Aku datang terlambat karena ada kasus gawat darurat.

Saat memasuki rumah, aku melihat sepatu Nadira dan Arga di dekat pintu.

Rendra sedang menelepon di teras.

Adrian berdebat dengan Pak Darma soal obat tekanan darahnya.

Maya berada di dapur.

Tidak ada fotografer.

Tidak ada konsultan komunikasi.

Tidak ada kartu tempat duduk.

Maya menoleh ketika melihatku.

“Kirana.”

“Ada makanan?”

Ia tertawa sambil menyeka tangan.

“Banyak.”

Aku meletakkan tas.

Nadira keluar dari ruang makan.

Raut wajahnya tidak lagi setegang pertemuan pertama kami.

“Kamu telat.”

“Ada pasien perdarahan otak.”

“Berhasil?”

“Operasinya selesai. Dua hari ke depan masih perlu dipantau.”

Arga muncul di belakangnya.

“Dokter memang selalu datang paling akhir?”

“Kalau keluarganya cukup sabar.”

Ia tertawa.

Kami makan siang bersama.

Tidak semuanya nyaman.

Beberapa kali ada jeda karena tidak ada yang tahu harus membicarakan apa.

Maya sempat bertanya apakah aku mau pindah lebih dekat ke rumah mereka, lalu langsung menambahkan, “Cuma tanya.”

Aku menjawab, “Tidak.”

Ia mengangguk.

“Baik.”

Itu saja.

Tidak ada bujukan.

Tidak ada kalimat tentang keluarga harus tinggal dekat.

Perubahan kecil, tetapi aku melihatnya.

Beberapa bulan berikutnya, hubungan kami tumbuh dengan cara yang tidak rapi.

Aku masih tinggal di apartemenku.

Aku masih bekerja di rumah sakit yang sama.

Nama belakangku tetap Prameswari, nama yang diberikan orang tua yang membesarkanku.

Ketika Hendrawan pernah bertanya apakah aku mau menambahkan Wijaya secara resmi, aku menjawab belum.

Ia tidak memaksa.

Soal saham keluarga baru kami bicarakan beberapa bulan kemudian bersama penasihat profesional keluarga.

Aku tidak menolak hanya karena takut dianggap membeli kasih sayang, tapi aku juga tidak menandatangani apa pun pada hari yang sama.

Aku membawa dokumen pulang.

Membacanya sendiri.

Meminta penjelasan dari penasihat independen.

Baru setelah mengerti, aku mengambil keputusan.

Bukan karena aku curiga semua orang.

Aku cuma terbiasa bertanggung jawab terhadap hidupku sendiri.

Nadira tetap bagian keluarga.

Pernikahannya dengan Arga juga tetap berjalan.

Namun satu perubahan penting terjadi.

Ia berhenti menggunakan dirinya sebagai alasan agar keberadaanku dikecilkan.

Ketika seorang kerabat jauh suatu kali bertanya di acara keluarga, “Jadi sebenarnya siapa anak perempuan Pak Hendrawan?”

Nadira menjawab sendiri.

“Kirana anak kandung Papa. Aku dibesarkan keluarga ini sejak bayi.”

Orang itu tampak bingung.

Nadira menambahkan, “Ceritanya panjang. Tapi kami tidak perlu pura-pura lagi.”

Aku mendengarnya dari seberang meja.

Kami tidak saling mengatakan apa pun.

Namun ketika ia lewat di belakang kursiku, tangannya menyentuh bahuku sebentar.

Maya juga berubah perlahan.

Ia masih sering ingin melakukan terlalu banyak.

Pernah suatu malam ia mengirim tiga kotak makanan ke apartemenku meski aku sudah mengatakan satu cukup.

Aku menelepon.

“Ma.”

Ia langsung diam.

Itu pertama kalinya aku memanggilnya begitu.

“Ya?”

“Besok jangan kirim lagi.”

“Oh.”

“Bukan karena makanannya tidak enak.”

“Lalu?”

“Kulkasku kecil.”

Ia tertawa sampai aku harus menjauhkan ponsel dari telinga.

Hubungan kami tidak menjadi hubungan ibu-anak sempurna hanya karena satu panggilan.

Ada dua puluh tiga tahun yang tidak bisa dikejar.

Ketika aku sakit ringan, refleks pertamaku masih mengingat Ibu yang membesarkanku.

Ketika mendapat penghargaan di rumah sakit, aku masih membawa bunga ke makam Ayah dan Ibu terlebih dahulu sebelum pergi ke rumah keluarga Wijaya.

Aku tidak melihat itu sebagai penghinaan terhadap keluarga kandungku.

Mereka juga mulai belajar untuk tidak melihatnya begitu.

Pada peringatan kematian Ibu, Maya pernah bertanya apakah ia boleh ikut ke makam.

Aku sempat diam cukup lama.

Akhirnya aku berkata, “Boleh.”

Ia datang membawa bunga.

Tidak banyak bicara.

Di depan makam, Maya hanya membungkuk dan berkata lirih, “Terima kasih sudah membesarkan anak saya.”

Aku berdiri di sampingnya.

Untuk pertama kalinya sejak tes DNA itu keluar, aku menangis.

Bukan karena akhirnya menemukan keluarga kaya.

Bukan karena kehilangan perjodohan.

Bukan karena merasa kehidupanku dicuri.

Aku menangis karena dua bagian hidupku yang selama ini seolah saling meniadakan akhirnya berada di tempat yang sama.

Sore itu, dalam perjalanan pulang, Maya tidak mencoba memelukku.

Ia hanya duduk di sebelahku.

Dan itu cukup.

Enam bulan setelah pertama kali datang ke rumah keluarga Wijaya, aku selesai operasi hampir pukul sembilan malam.

Aku membuka ponsel.

Ada pesan dari grup keluarga yang baru dibuat setelah semua orang meminta persetujuanku sebelum memasukkan nomor.

Adrian menulis:

“Kakek marah karena makan malam belum dimulai. Katanya Kirana belum datang.”

Rendra membalas:

“Dia operasi. Makan saja dulu.”

Kakek menulis:

“Tidak.”

Nadira kemudian mengirim foto meja makan.

Maya menambahkan:

“Kami sisakan sup. Tidak perlu buru-buru.”

Aku berdiri sebentar di depan loker.

Di dalam tas ada kunci apartemen.

Di kantong kecil sebelahnya ada kunci rumah keluarga Wijaya yang diberikan Kakek berbulan-bulan lalu.

Aku sebenarnya lelah.

Besok pagi aku harus kembali ke rumah sakit sebelum pukul tujuh.

Namun malam itu aku tetap mengemudi ke rumah mereka.

Ketika sampai, gerbang sudah terbuka.

Aku memarkir mobil, berjalan ke pintu depan, lalu untuk pertama kalinya tidak menekan bel.

Aku mengeluarkan kunci kecil itu.

Memasukkannya ke lubang kunci.

Dan membuka pintu sendiri.

Menurutmu, apakah Kirana benar memberi kesempatan kedua kepada keluarganya tanpa mengorbankan batas yang sudah ia bangun?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.