Pamanku Diam-Diam Memberiku Rp90 Juta Saat Menikah, Setahun Kemudian Istrinya Meminta “Rp5 Juta” Itu Kembali…

Avatar penulis
Cerita 01
25 menit baca 93 tayangan
Pamanku Diam-Diam Memberiku Rp90 Juta Saat Menikah, Setahun Kemudian Istrinya Meminta “Rp5 Juta” Itu Kembali…
Indeks

Pamanku Diam-Diam Memberiku Rp90 Juta Saat Menikah, Setahun Kemudian Istrinya Meminta “Rp5 Juta” Itu Kembali

Bagian 1

Amplop cokelat yang diselipkan Paman Hadi ke tanganku di dalam mobil pengantin terasa terlalu tebal untuk sekadar berisi Rp5 juta. Sebelum pintu mobil ditutup, ia menggenggam jariku sebentar dan berkata pelan, “Kalau ada yang tanya, bilang Paman kasih lima juta saja.”

Aku belum sempat bertanya apa pun ketika ia sudah mundur dari pintu.

Mobil bergerak menuju hotel tempat resepsi diadakan.

Pamanku Diam-Diam Memberiku Rp90 Juta Saat Menikah, Setahun Kemudian Istrinya Meminta “Rp5 Juta” Itu Kembali…

Aku, Laras Widya, duduk di kursi belakang dengan ujung gaun pengantin menumpuk di kakiku. Telapak tanganku basah oleh keringat meski pendingin udara menyala cukup dingin.

Amplop itu tidak dilem.

Aku membuka sedikit salah satu sudutnya.

Uang pecahan seratus ribuan memenuhi bagian dalamnya. Bukan satu atau dua ikat. Ada banyak.

Ponselku bergetar.

Pesan dari Paman Hadi hanya satu kalimat.

Jangan sampai Tante Rina tahu.

Aku menatap layar beberapa detik sebelum memasukkan amplop itu ke bagian terdalam tas.

Arman, suamiku yang baru beberapa jam resmi menikah denganku, duduk di sebelah sambil membalas pesan. Sudut bibirnya terangkat sedikit, seolah seseorang baru saja mengirim sesuatu yang membuatnya senang.

Aku tidak memperhatikannya terlalu lama.

Saat itu pikiranku hanya dipenuhi amplop dari Paman Hadi.

Mobil berhenti di depan hotel. Confetti ditembakkan dari sisi pintu masuk, lalu terdengar suara beberapa saudara memanggil kami agar segera turun.

Arman menyimpan ponselnya dan mengulurkan tangan.

“Ayo.”

Senyumnya rapi sekali.

Aku meletakkan tanganku di tangannya.

Telapak tanganku dingin.

Baru ketika acara masuk ke jeda sebelum kami berkeliling menyapa tamu, aku berhasil pergi ke toilet.

Aku mengunci pintu salah satu bilik, mengeluarkan amplop itu, lalu menghitung isinya dengan tangan gemetar.

Rp90 juta.

Aku sampai menghitung dua kali karena pada hitungan pertama aku kehilangan urutan.

Paman Hadi adalah adik bungsu Mama.

Ketika Mama meninggal enam tahun lalu, Paman sedang mengurus proyek bangunan di Kalimantan dan tidak sempat pulang sebelum pemakaman.

Dalam beberapa jam terakhir hidupnya, Mama terus menyebut satu nama.

“Hadi.”

Sampai bertahun-tahun kemudian pun aku masih ingat suara Mama ketika mengucapkan nama itu.

Aku bersandar pada pintu bilik. Dinding di belakang kepalaku terasa dingin.

Di luar, seseorang membuka keran. Suara air mengalir memenuhi toilet.

Aku memasukkan uang itu kembali ke amplop lalu menyelipkannya ke tas.

Ketika keluar, Rani, sahabatku sejak kuliah yang menjadi pendamping pengantin, sudah menunggu.

“Tante kamu cari. Mau foto keluarga.”

Aku menyerahkan tas kepadanya.

“Tolong pegang sebentar.”

“Kenapa?”

“Pokoknya jangan kasih ke siapa pun. Termasuk Ibu Arman.”

Rani menatapku, tetapi tidak bertanya lagi.

Ia memeluk tas itu ke dada.

Tante Rina berdiri di dekat meja keluarga sambil berbicara dengan manajer hotel. Begitu melihatku, wajahnya langsung berubah cerah.

“Laras, sini.”

Ia menarik tanganku dan memperhatikanku dari kepala sampai kaki.

“Cantik sekali hari ini.”

Tatapannya berhenti di pergelangan tanganku.

“Gelang perak punya Mama kamu kok nggak dipakai?”

“Aku simpan. Takut hilang.”

“Harusnya dipakai.”

Tante Rina menghela napas.

“Kalau Mama kamu masih ada, pasti senang melihat kamu menikah.”

Aku hanya tersenyum kecil.

Mama mertua, Bu Sulastri, datang membawa segelas jus jeruk.

“Eh, Bu Rina. Saya tadi dengar Paman Hadi cuma kasih Laras lima juta?”

Kata “cuma” diucapkannya sedikit lebih keras daripada yang diperlukan.

Senyum Tante Rina berubah kaku selama sepersekian detik.

“Yang penting niatnya, Bu.”

“Ya, benar.”

Bu Sulastri tersenyum, lalu melihatku.

“Tapi Paman kamu kan kontraktor. Keponakan perempuan menikah sekali seumur hidup, masa cuma lima juta?”

Dadaku langsung terasa sesak.

“Ibu,” kataku, “berapa pun yang Paman kasih, itu tetap pemberian.”

Bu Sulastri mengangkat bahu.

“Ibu cuma bilang saja.”

Ia menyodorkan jus kepadaku.

“Minum. Bibirmu kering.”

Aku menerima gelas itu tetapi tidak meminumnya.

Ketika kami mulai berkeliling meja, Paman Hadi duduk agak belakang bersama Tante Rina dan putra mereka, Dimas.

Sejak tadi ia sibuk mengupas kacang.

Saat aku dan Arman sampai di meja mereka, Paman berdiri.

Aku mengangkat gelas.

“Terima kasih, Paman.”

Ia mengetukkan gelasnya pelan pada gelasku.

“Sudah, sudah.”

Tante Rina terkekeh.

“Mau terima kasih apanya? Lima juta buat Pamanmu itu bukan uang besar.”

Jari Paman Hadi yang sedang memegang kulit kacang berhenti.

Aku membungkukkan badan sedikit lebih dalam kepadanya.

Ketika berdiri lagi, aku melihat matanya merah.

Ia segera duduk dan kembali mengupas kacang.

Namun satu butir kacang yang dipegangnya tidak pernah masuk ke mulut. Kulitnya justru hancur menjadi serpihan kecil di atas meja.

Setelah resepsi selesai, Bu Sulastri kembali menghentikanku di dekat pintu hotel.

“Betul Pamanmu cuma kasih lima juta?”

Aku mengangguk.

Ia berdecak.

“Jasnya saja kelihatannya mahal. Kalau cuma segitu, buat apa bergaya?”

Aku menarik lenganku perlahan dari tangannya.

Arman berdiri beberapa meter dari kami sambil menelepon.

Aku mendekat dan mendengar ia berkata, “Besok.”

Lalu setelah beberapa detik, “Tempat biasa.”

Suaranya sangat pelan.

Begitu menutup telepon, ia menoleh kepadaku.

“Capek?”

“Lumayan.”

“Pulang, yuk.”

Di mobil, tas berisi Rp90 juta itu berada di pangkuanku.

Arman menyetir sambil sesekali menguap.

Tiba-tiba ia bertanya, “Paman kamu kasih berapa?”

“Lima juta.”

“Oke.”

Setelah jeda singkat, ia menambahkan, “Ibu ngomel soal itu dari tadi. Jangan dimasukin hati. Dua-tiga hari juga lupa.”

Aku memandang lampu jalan yang berlalu satu per satu di balik jendela.

Uang di dalam tas terasa seperti batu.

Beberapa hari setelah pesta, aku menyetorkannya ke deposito atas namaku sendiri dan menyimpan semua dokumen di map terpisah.

Arman tidak tahu.

Bu Sulastri juga tidak.

Bahkan aku tidak tahu mengapa aku begitu hati-hati.

Aku hanya teringat pesan Paman Hadi.

Jangan sampai Tante Rina tahu.

Tiga bulan setelah menikah, aku mulai merasa ada sesuatu yang berubah pada Arman.

Awalnya sebuah telepon tengah malam.

Ponselnya bergetar di meja samping tempat tidur. Arman tertidur lelap.

Aku mengangkatnya karena kupikir mungkin ada urusan penting.

“Halo?”

Penelepon langsung menutup sambungan.

Nama di layar membuatku berhenti.

Nia Prameswari.

Pagi berikutnya aku menyerahkan ponselnya setelah sarapan.

“Tadi malam Nia telepon.”

Tangan Arman berhenti sepersekian detik sebelum mengambil ponsel.

“Oh. Anak baru bagian perencanaan.”

“Telepon tengah malam?”

“Mungkin ada pekerjaan.”

“Kalian dekat?”

“Biasa.”

“Dia punya nomor pribadi kamu?”

Arman menatapku.

“Nomor kantor semua orang ada di grup.”

Jawabannya terdengar masuk akal.

Aku tidak melanjutkan.

Tetapi nama Nia tinggal di kepalaku.

Setelah itu aku mulai melihat kebiasaan-kebiasaan kecil yang sebelumnya tidak kuperhatikan.

Ponsel Arman selalu diletakkan dengan layar menghadap meja.

Ia membawa ponsel bahkan ketika mandi.

Jika notifikasi WhatsApp muncul ketika kami sedang makan, tangannya segera bergerak.

Kadang ia menghapus notifikasi terlebih dahulu baru membuka aplikasi.

Tidak ada satu pun yang bisa disebut bukti.

Namun hal-hal kecil itu menumpuk seperti pasir di dalam sepatu.

Tidak cukup besar untuk membuat kita berhenti berjalan.

Tapi cukup untuk terasa pada setiap langkah.

Pada saat yang sama, pekerjaanku juga sedang tidak baik-baik saja.

Aku bekerja sebagai account supervisor di sebuah agensi iklan di Bandung. Pertengahan tahun itu ada seleksi untuk posisi manajer.

Angka penjualanku tertinggi di tim.

Presentasiku direvisi enam kali.

Pada hari wawancara, aku bahkan membeli blazer baru karena kupikir akhirnya aku punya kesempatan.

Posisi itu jatuh kepada keponakan salah satu direktur yang baru dua tahun bekerja.

Di pantry kantor, aku mendengar dua orang berbisik.

“Ya mau gimana? Dia punya orang.”

Aku menghabiskan kopi, mencuci cangkir, lalu kembali bekerja.

Malam itu Arman tidak pulang.

Katanya ada revisi proyek sampai dini hari.

Aku duduk sendirian di meja makan dan mengeluarkan dokumen deposito Rp90 juta pemberian Paman Hadi.

Semuanya masih utuh.

Bunga yang masuk pun tidak pernah kusentuh.

Entah mengapa melihat nama sendiri tercetak pada dokumen itu membuat napasku sedikit lebih tenang.

Bulan demi bulan berjalan.

Hampir sebelas bulan setelah pernikahan kami, telepon dari Tante Rina masuk saat aku baru selesai rapat pagi.

Aku melihat namanya di layar dan langsung merasa tidak nyaman, meski tidak tahu kenapa.

Aku menelepon balik.

Tiga dering kemudian, ia menjawab.

“Laras.”

Suaranya ramah sekali.

“Kamu sibuk?”

“Sedikit. Ada apa, Tante?”

“Tidak ada apa-apa, kok.”

Ia tertawa kecil.

“Kebetulan Dimas mau beli rumah.”

Aku menunggu.

“Uang mukanya masih kurang sekitar Rp200 juta. Tante sama Paman sudah kumpulkan dari tabungan, tapi belum cukup.”

Aku tetap diam.

Lalu ia berkata cepat, “Dulu Paman kasih kamu lima juta waktu menikah, kan?”

Jari yang memegang ponsel mulai kaku.

“Itu bisa dipakai dulu untuk bantu Dimas. Nanti kalau kondisi kami sudah longgar, Tante ganti.”

Dari belakang suara Tante Rina terdengar televisi.

Lalu suara Dimas.

“Bu, telepon siapa?”

Tante Rina menjauhkan ponsel dari mulutnya.

Jawabannya tidak jelas.

Beberapa detik kemudian ia kembali.

“Laras?”

“Iya.”

“Bagaimana? Lima juta dulu saja. Dimas kan sepupu kamu sendiri.”

Aku menatap layar laptop di depanku tanpa melihat apa pun yang tertulis di sana.

“Tante.”

“Iya?”

“Paman Hadi tahu Tante meminta uang ini kepadaku?”

Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇

Bagian 2

Di seberang telepon tidak terdengar jawaban selama beberapa detik.

Lalu Tante Rina terkekeh.

“Ya nanti Tante bilang.”

Aku duduk lebih tegak.

“Berarti Paman belum tahu?”

“Laras, jangan dibuat rumit. Ini cuma lima juta.”

Bukan jumlah uangnya yang membuatku sulit bernapas.

Cara ia mengatakannya justru membuatku semakin yakin bahwa Paman Hadi tidak tahu.

“Aku mau bicara dulu sama Paman.”

Suara Tante Rina berubah.

“Kamu ini kenapa? Dimas bukan orang lain.”

“Aku tahu.”

“Pamanmu dulu membantu kamu. Sekarang keluarga butuh bantuan, masa harus pakai rapat segala?”

Aku menahan diri beberapa detik.

“Kalau Paman bilang iya, nanti kita bicara lagi.”

Aku menutup telepon sebelum percakapan berubah menjadi pertengkaran.

Sore harinya, sepulang kantor, aku menelepon Paman Hadi dari parkiran.

Ia menjawab setelah dering kelima.

“Halo, Laras?”

“Paman sedang bisa bicara?”

“Bisa. Kenapa?”

Aku langsung bertanya, “Tante Rina minta uang yang Paman kasih waktu aku menikah. Katanya untuk uang muka rumah Dimas.”

Sunyi.

Bukan satu atau dua detik.

Cukup lama hingga aku memeriksa layar untuk memastikan sambungan belum putus.

“Jangan kasih,” katanya akhirnya.

Aku memejamkan mata.

“Paman belum tahu?”

“Belum.”

“Dia pikir uangnya lima juta.”

Paman Hadi menarik napas panjang.

“Biarkan dia pikir begitu.”

Aku tidak menjawab.

Lalu ia berkata lebih pelan, “Uang itu memang Paman kasih buat kamu. Bukan titipan. Bukan pinjaman. Jangan dipakai untuk menutup keputusan orang lain.”

“Tapi Tante bilang Dimas kekurangan uang muka.”

“Itu urusan yang harus dibicarakan Dimas dengan orang tuanya. Bukan dengan kamu.”

Aku menatap kemudi mobilku.

“Kenapa dulu Paman kasih sebanyak itu?”

Di ujung sana terdengar suara kendaraan berat lewat.

Ketika Paman bicara lagi, nadanya berubah.

“Waktu Mama kamu sakit, Paman janji mau pulang. Paman nggak sempat.”

Aku diam.

“Paman bukan kasih uang itu untuk mengganti Mama kamu. Nggak ada uang yang bisa begitu. Paman cuma ingin ada sesuatu yang benar-benar atas nama kamu ketika kamu memulai rumah tangga.”

Ia berhenti sebentar.

“Kamu simpan saja.”

Aku hampir mengatakan bahwa uang itu masih utuh, tetapi mengurungkan niat.

Sebelum menutup telepon, Paman berpesan, “Kalau Tante menelepon lagi, bilang suruh bicara sama Paman.”

Malam itu Arman pulang hampir pukul sebelas.

Aku sedang di ruang makan ketika ia masuk.

“Tante Rina telepon aku,” katanya sambil melepas sepatu.

Aku mengangkat kepala.

Cepat juga.

“Dia bilang kamu nggak mau bantu Dimas lima juta.”

“Aku bilang aku mau bicara dulu sama Paman.”

“Cuma lima juta, Ras.”

“Masalahnya bukan lima juta.”

Arman membuka kulkas.

“Terus apa?”

“Paman yang kasih. Kalau orang yang memberi saja belum tahu istrinya meminta kembali, aku pikir wajar kalau aku tanya.”

Arman mengambil air mineral.

“Kamu dari dulu terlalu hitung-hitungan sama keluarga.”

Kalimat itu membuatku menatapnya.

“Keluarga siapa?”

Ia menutup pintu kulkas sedikit lebih keras.

“Ya keluarga kamu.”

“Kalau begitu kenapa kamu yang marah?”

Arman tidak menjawab.

Ia membawa botol ke kamar.

Beberapa menit kemudian ia keluar lagi untuk mandi. Ponselnya tertinggal di meja makan karena sedang diisi daya.

Aku tidak menyentuhnya.

Aku sedang membereskan gelas ketika layarnya menyala.

Sebuah pesan WhatsApp muncul.

Foto profil perempuan berambut sebahu yang sudah beberapa kali kulihat sekilas di layar Arman.

Nia.

Pesannya hanya terlihat sebagian.

Aku sudah capek kalau setiap kali ketemu harus menunggu kamu bilang lembur dulu ke Laras…

Tanganku berhenti di atas gelas.

Tidak ada yang perlu kutebak dari kalimat itu.

Aku berdiri cukup lama sampai layar kembali gelap.

Malam itu aku tidak bertanya kepada Arman.

Untuk pertama kalinya dalam sebelas bulan, aku membuka mutasi rekening bersama yang kami pakai untuk cicilan mobil, listrik, belanja, dan kebutuhan rumah.

Aku mengecek tiga bulan ke belakang.

Lalu enam bulan.

Ada transfer yang tidak kukenal.

Rp4.500.000.

Rp7.000.000.

Rp3.250.000.

Semua menuju nama yang sama.

Nia Prameswari.

Jumlah seluruhnya Rp14.750.000.

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Aku membaca mutasi itu berkali-kali.

Tanggal transfer pertama jatuh pada malam ketika Arman bilang harus menemani klien makan malam.

Transfer kedua dua hari setelah ulang tahunku, saat ia pulang hampir pukul dua pagi dan mengatakan timnya sedang mengejar tenggat.

Transfer ketiga masuk tiga minggu lalu.

Sumber uangnya rekening bersama.

Rekening tempat gajiku juga masuk setiap bulan.

Aku tidak membangunkan Arman malam itu.

Aku juga tidak memotret wajahnya saat tidur, tidak mengambil ponselnya, tidak membuka pesan-pesannya.

Aku hanya mengunduh mutasi rekening dari aplikasi bank milikku sendiri dan menyimpan salinan di email pribadi.

Setelah itu aku membuka slip gajiku, daftar cicilan, tagihan rumah, dan semua dokumen yang selama ini kusimpan tanpa benar-benar memikirkan siapa mengendalikan apa.

Sekitar pukul dua pagi, aku mengubah kata sandi email pribadi dan mobile banking rekening milikku sendiri.

Bukan rekening bersama.

Hanya milikku.

Aku juga memindahkan rekening penerima gaji mulai bulan berikutnya ke rekening pribadi yang dulu jarang kupakai.

Aku tidur menjelang subuh.

Paginya Arman makan roti di meja dapur seperti biasa.

Aku duduk di depannya.

“Nia itu siapa?”

Pisau mentega di tangannya berhenti.

Sekali lagi, jedanya hanya sangat pendek.

Tetapi sekarang aku sudah mengenali jeda itu.

“Sudah pernah aku bilang. Anak kantor.”

“Aku bukan tanya pekerjaannya.”

Arman meletakkan pisau.

“Kamu buka HP aku?”

“Nggak.”

“Terus?”

“Aku lihat pesan yang muncul ketika HP kamu di meja.”

Wajahnya berubah.

Aku melanjutkan sebelum ia sempat membentuk alasan.

“Aku juga cek rekening bersama.”

Arman menghela napas keras.

“Laras.”

“Ada Rp14.750.000 yang kamu transfer ke Nia.”

“Itu ada penjelasannya.”

“Aku dengar.”

Ia bangkit dari kursi, berjalan ke dispenser, lalu kembali tanpa mengambil air.

“Nia ada masalah keluarga. Aku bantu.”

“Tiga kali?”

“Ya.”

“Kenapa dari rekening bersama?”

“Karena waktu itu saldo rekeningku sendiri nggak cukup.”

Aku menatapnya.

“Kenapa perempuan yang cuma teman kantor bisa kirim pesan bahwa dia capek menunggu kamu bilang lembur dulu ke istrimu?”

Wajah Arman langsung pucat.

Untuk beberapa detik ia tidak mengatakan apa pun.

Lalu ia melakukan hal yang sejak tadi kutakutkan.

Ia tidak membantah.

“Hubungan aku sama Nia nggak seperti yang kamu pikir.”

Aku hampir tertawa, tetapi tidak ada yang lucu.

“Kalau kamu harus bohong soal lembur supaya bisa ketemu dia, seperti apa seharusnya aku pikir?”

Arman mengusap wajah.

“Kami dekat.”

“Sejak kapan?”

“Beberapa bulan.”

“Berapa bulan?”

Ia tidak menjawab.

Aku menunggu.

“Enam.”

Aku mengangguk kecil.

Enam bulan berarti ketika aku sedang menyiapkan presentasi promosi yang gagal itu, hubungan mereka sudah berjalan.

Ketika aku pulang membawa makanan karena mengira ia lembur, ia mungkin tidak berada di kantor.

Ketika aku bertanya kenapa ponselnya selalu dibawa ke kamar mandi, ia bilang semua orang sekarang begitu.

“Ada hubungan fisik?”

Arman mengalihkan pandangan.

Aku tidak mengulang pertanyaan.

Jawabannya sudah ada.

Ia duduk kembali.

“Aku salah.”

Aku merapatkan kedua tangan di atas meja agar tidak terlihat gemetar.

“Apakah Ibu tahu?”

Pertanyaan itu membuat kepalanya terangkat cepat.

Aku langsung mengerti.

“Jadi Ibu tahu.”

“Nggak semuanya.”

“Seberapa banyak?”

Arman menekan bibir.

“Ibu pernah lihat kami makan.”

“Berdua?”

Ia mengangguk.

“Terus kamu bilang apa?”

“Aku bilang Nia teman kantor.”

“Dan Ibu percaya?”

Arman tidak menjawab.

Jawabannya kembali jelas.

Aku bangkit.

“Aku mau kerja.”

“Laras, jangan begini.”

Aku mengambil tas.

“Begini bagaimana?”

“Kita belum selesai ngomong.”

“Aku harus masuk kantor.”

“Aku bisa jelaskan malam nanti.”

Aku membuka pintu.

“Jangan hapus apa pun dari rekening bersama.”

Ia menatapku.

“Apa maksudmu?”

“Persis seperti yang aku bilang.”

Hari itu aku hampir tidak bisa bekerja.

Namun aku memaksakan diri menyelesaikan dua rapat klien dan satu revisi kampanye.

Saat jam makan siang, Tante Rina menelepon dua kali.

Aku tidak mengangkat.

Lalu sebuah pesan masuk.

Paman kamu sudah tua. Jangan karena uang lima juta hubungan keluarga jadi rusak.

Aku membaca kalimat itu sekali, kemudian menyimpan ponsel.

Tidak sampai lima menit kemudian Paman Hadi menelepon.

“Tante kamu hubungi kamu?”

“Iya.”

“Jangan ditanggapi dulu.”

Dari suaranya aku tahu mereka baru saja bertengkar.

“Paman baik-baik saja?”

“Baik.”

Aku ragu sebelum akhirnya berkata, “Paman, uang yang dulu Paman kasih masih utuh.”

Ia diam.

“Aku taruh deposito.”

“Bagus.”

“Kalau sekarang aku butuh untuk diriku sendiri?”

Pertanyaanku membuatnya diam lebih lama.

“Kamu butuh apa?”

Aku memandang orang-orang di kantor yang sedang makan di pantry.

“Aku mungkin harus tinggal sendiri sementara.”

Paman tidak langsung bertanya.

Ia hanya berkata, “Kalau itu yang kamu perlukan, uang itu memang punya kamu.”

Aku menelan ludah.

“Aku takut Tante akan tahu jumlahnya.”

“Kamu urus rumah tanggamu dulu. Tante urusan Paman.”

Aku tidak menjelaskan apa yang terjadi dengan Arman.

Belum.

Sepulang kerja aku tidak langsung pulang.

Aku menemui Rani di sebuah kedai kopi dekat kantornya.

Aku hanya menunjukkan mutasi rekening.

Rani membacanya tanpa bicara.

Lalu aku menceritakan pesan Nia.

“Dia mengaku?” tanya Rani.

“Dia bilang mereka dekat enam bulan.”

“Terus?”

“Aku belum tahu.”

Rani mengembalikan ponselku.

“Kamu mau pulang malam ini?”

Aku memikirkan pertanyaan itu.

“Aku harus ambil dokumen.”

“Aku temani.”

“Jangan. Aku masih bisa pulang sendiri.”

Rani tidak memaksa.

Namun sebelum kami berpisah, ia berkata, “Kalau perlu tempat tidur, kamar tamuku kosong.”

Malam itu Arman sudah menunggu di ruang keluarga.

Bu Sulastri juga ada.

Aku berhenti di pintu.

Keberadaannya justru membuat semuanya lebih jelas.

“Kenapa Ibu di sini?”

Bu Sulastri berdiri.

“Arman cerita kalian sedang ada masalah.”

“Dia cerita apa?”

“Katanya kamu salah paham soal teman kantor.”

Aku menatap Arman.

“Kalau cuma salah paham, kenapa Ibu perlu datang?”

Bu Sulastri menyela.

“Kamu jangan langsung membesar-besarkan. Rumah tangga baru setahun. Laki-laki punya teman perempuan itu bukan berarti macam-macam.”

Aku melepas sepatu.

“Arman sudah mengaku mereka punya hubungan.”

Bu Sulastri terdiam.

Aku memandangnya.

“Ibu sudah pernah lihat mereka makan berdua, kan?”

Wajahnya berubah.

“Arman cerita?”

“Jadi benar.”

“Waktu itu Ibu pikir cuma teman.”

“Kalau cuma teman, kenapa Ibu tidak pernah cerita kepadaku?”

Bu Sulastri mulai defensif.

“Memangnya Ibu harus lapor semua yang Ibu lihat?”

Aku tidak menjawab.

Aku berjalan ke kamar.

Arman mengikuti.

“Kamu mau apa?”

“Ambil dokumen dan pakaian beberapa hari.”

“Laras.”

Aku menarik koper kecil dari lemari.

“Jangan bikin keputusan ketika emosi.”

Aku membuka laci tempat map dokumen disimpan.

“Aku belum bikin keputusan soal pernikahan.”

“Terus kenapa pergi?”

“Karena malam ini aku nggak mau tidur satu rumah dengan kamu.”

Arman berdiri di depan lemari.

“Aku bisa berhenti ketemu Nia.”

Aku berhenti melipat pakaian.

“Berarti sampai pagi tadi kamu masih berencana ketemu dia?”

Ia langsung sadar ucapannya salah.

“Bukan begitu.”

“Arman, aku tidak sedang minta kamu menyusun jawaban yang benar.”

Aku memasukkan pakaian ke koper.

“Aku cuma mau kamu jangan menghalangi pintu.”

Ia bergeser.

Aku mengambil map sertifikat deposito, salinan dokumen nikah, slip gaji, dan beberapa dokumen rekening.

Arman melihat map itu.

“Kamu punya deposito?”

Aku tidak menjawab.

“Sejak kapan?”

“Sudah lama.”

“Berapa?”

Aku menutup koper.

“Itu bukan pembicaraan kita malam ini.”

Wajahnya berubah.

“Kita suami istri.”

“Dan rekening bersama kita kamu pakai kirim uang ke perempuan yang kamu temui diam-diam.”

Bu Sulastri muncul di ambang pintu.

“Kamu punya tabungan rahasia?”

Aku menatapnya.

“Uang itu pemberian keluargaku sebelum aku menikah.”

“Berapa?”

Aku mengambil koper.

“Saya mau pergi dulu, Bu.”

Bu Sulastri menghalangi sedikit.

“Jangan pergi malam-malam. Nanti tetangga mikir apa?”

Kalimat itulah yang akhirnya membuatku benar-benar tenang.

Bukan pertanyaan apakah aku aman.

Bukan pertanyaan apa yang dilakukan anaknya.

Tetangga.

Aku menggeser koper melewati pintu.

“Besok kalau tetangga tanya, bilang aku sedang tinggal di tempat teman.”

Aku tinggal bersama Rani selama empat hari.

Hari kedua, aku membuat janji konsultasi dengan seorang advokat keluarga atas rekomendasi teman kantor.

Aku tidak datang untuk langsung mengajukan perceraian.

Aku datang karena aku tidak ingin membuat keputusan besar hanya berdasarkan kemarahan.

Aku membawa dokumen rekening bersama, bukti pendapatanku, dokumen deposito, dan pesan dari Paman Hadi yang masih kusimpan sejak hari pernikahan.

Advokat itu menjelaskan apa yang perlu kudokumentasikan dan apa yang sebaiknya tidak kulakukan.

“Jangan memindahkan uang dari rekening bersama hanya untuk menghukum pasangan,” katanya.

Aku mengangguk.

“Aku tidak berniat.”

“Untuk deposito ini, simpan bukti asal dan tanggal penerimaannya.”

Aku menunjukkan pesan Paman.

Ia menyarankan agar aku juga menyimpan catatan transfer atau setoran awal jika ada.

Tidak ada janji bahwa semua persoalan akan selesai cepat.

Itu justru membuatku percaya pada penjelasannya.

Malam keempat, Arman datang ke apartemen Rani.

Rani meneleponku dari ruang depan.

“Dia di bawah.”

Aku turun.

Arman terlihat belum tidur cukup.

“Aku sudah selesai sama Nia,” katanya begitu melihatku.

Aku tidak langsung menjawab.

“Dia tahu kamu datang ke sini?”

“Nggak.”

“Kamu bilang apa ke dia?”

“Bahwa semuanya selesai.”

Aku mengangguk.

“Lalu?”

Arman terlihat bingung.

“Maksud kamu?”

“Aku harus bagaimana dengan informasi itu?”

Ia menarik napas.

“Aku ingin kamu pulang.”

“Aku belum mau.”

“Berapa lama?”

“Aku nggak tahu.”

“Laras, aku sudah mengaku salah.”

“Bukan itu saja.”

“Apa lagi?”

“Uang dari rekening bersama.”

“Aku ganti.”

“Dengan uang dari mana?”

Ia terdiam.

“Gaji bulan depan.”

“Berarti cicilan atau kebutuhan rumah yang berkurang.”

Arman mengusap tengkuk.

“Aku bisa cari cara.”

“Itu yang dari dulu kamu lakukan. Cari cara setelah mengambil keputusan sendiri.”

Ia menatapku lama.

“Aku minta kesempatan.”

Aku tidak menjawab ya atau tidak.

“Aku perlu waktu.”

Dua hari kemudian, masalah dari keluargaku meledak.

Tante Rina akhirnya tahu bahwa pemberian Paman Hadi bukan Rp5 juta.

Paman sendiri yang mengaku setelah mereka terus bertengkar soal permintaan kepada Dimas.

Ponselku mulai berdering pukul tujuh pagi.

Aku tidak mengangkat dua panggilan pertama.

Panggilan ketiga kuangkat.

“Rp90 juta?”

Suara Tante Rina begitu keras hingga aku menjauhkan ponsel dari telinga.

“Paman kasih kamu sembilan puluh juta?”

Aku tidak menyangkal.

“Kamu diam saja selama setahun?”

“Itu permintaan Paman.”

“Kamu tahu uang sebanyak itu bisa dipakai Dimas untuk rumah?”

Aku menutup mata.

“Tante, itu bukan uang Dimas.”

“Pamanmu dapat uang juga karena selama ini Tante yang mengurus rumah! Masa dia boleh memberi sembilan puluh juta tanpa bicara?”

“Itu masalah Tante dengan Paman.”

“Laras!”

Aku memotong sebelum suaranya semakin tinggi.

“Paman bilang uang itu untuk aku. Aku tidak akan memberikannya ke Dimas.”

“Kamu tega sama sepupumu?”

“Aku belum pernah bicara sama Dimas soal rumah.”

Tante Rina terdiam sebentar.

Aku melanjutkan, “Kalau Dimas memang butuh bicara sama aku, suruh dia telepon sendiri.”

Ia menutup sambungan.

Sore harinya Dimas benar-benar menelepon.

Suara sepupuku terdengar malu.

“Kak Laras, aku baru dengar soal semuanya.”

Aku menunggu.

“Aku nggak pernah minta Ibu telepon Kakak.”

“Rumahnya bagaimana?”

“Masih cari. Memang dana kami kurang, tapi aku sama istri sudah sepakat kalau belum cukup ya tunda.”

“Berarti kamu tidak minta Rp5 juta dariku?”

“Nggak.”

Aku menarik napas.

Dimas melanjutkan, “Ibu lagi panik karena takut harga rumah naik. Dia nelepon beberapa saudara. Aku baru tahu kemarin.”

Aku percaya kepadanya bukan karena ia keluarga.

Aku percaya karena penjelasannya cocok dengan perilaku Tante Rina sejak awal.

Ia tidak pernah menyerahkan telepon kepada Dimas.

Ia tidak pernah mengatakan Dimas sendiri meminta.

Ia terus memakai kalimat, “Dimas keluarga sendiri.”

Setelah panggilan itu, aku mengirim satu pesan kepada Tante Rina.

Aku sudah bicara dengan Dimas. Uang dari Paman tetap kusimpan. Tolong jangan meminta lagi.

Tante tidak menjawab.

Paman Hadi menelepon malamnya.

“Maaf kamu jadi kena masalah.”

“Bukan salah Paman.”

“Kalau Tante marah, biar Paman yang hadapi.”

“Paman juga jangan bertengkar terus karena aku.”

Ia tertawa kecil tanpa terdengar benar-benar senang.

“Bukan karena kamu. Ini cuma masalah yang sudah terlalu lama ditunda.”

Aku tidak bertanya lebih jauh.

Aku sendiri punya masalah yang selama berbulan-bulan kutunda.

Dua minggu setelah aku meninggalkan rumah, aku bertemu Arman di sebuah kafe.

Ia sudah mengganti Rp14.750.000 ke rekening bersama dengan menjual kamera dan beberapa barang hobinya.

Aku tahu karena saldo masuk terlihat jelas.

“Aku nggak mau uang itu jadi alasan kita terus bertengkar,” katanya.

“Bukan uangnya yang jadi alasan.”

“Aku tahu.”

Untuk pertama kalinya, ia tidak mencoba mengecilkan masalah.

Arman mengatakan hubungan dengan Nia sudah benar-benar selesai. Ia juga mengaku bahwa hubungan itu dimulai dari makan siang, lalu percakapan pribadi, kemudian pertemuan di luar kantor.

Tidak ada satu titik dramatis ketika semuanya berubah.

Justru itulah yang paling sulit kuterima.

Ia membuat puluhan keputusan kecil.

Membalas pesan.

Menghapus notifikasi.

Mengatakan lembur.

Mengirim uang.

Bertemu lagi.

Berbohong lagi.

Semua keputusan itu dibuat ketika ia masih pulang ke rumah dan tidur di sampingku.

“Aku takut kalau jujur sejak awal kamu akan pergi,” katanya.

Aku memandangnya.

“Jadi kamu memilih bohong supaya aku tetap tinggal.”

Arman menunduk.

“Iya.”

Jawaban itu lebih menyakitkan daripada semua alasan sebelumnya.

Namun setidaknya itu jawaban yang jujur.

“Aku belum bisa pulang,” kataku.

“Kalau aku tunggu?”

“Terserah kamu.”

“Masih ada kemungkinan?”

Aku tidak bisa memberinya jawaban yang ia inginkan.

“Aku belum tahu.”

Selama dua bulan berikutnya kami tinggal terpisah.

Kami tidak bertemu setiap hari.

Kadang hanya membicarakan cicilan mobil, tagihan, atau barang yang masih tertinggal.

Arman mulai menemui konselor pernikahan sendiri. Aku tahu karena ia memberitahuku, tetapi ia tidak pernah menjadikannya alat untuk menekan agar aku pulang.

Bu Sulastri beberapa kali mengirim pesan.

Awalnya isinya masih sama.

Rumah tangga jangan dibuang cuma karena satu kesalahan.

Kemudian setelah aku tidak merespons, bahasanya berubah.

Ibu tidak bermaksud membela Arman. Ibu cuma takut kalian menyesal.

Aku tetap tidak membalas.

Bukan karena ingin menghukum.

Aku hanya belum punya sesuatu yang perlu kukatakan.

Pada bulan ketiga, aku memutuskan pindah dari apartemen Rani ke sebuah unit kecil sewaan dekat kantor.

Untuk uang muka sewa dan deposit, aku akhirnya mencairkan sebagian deposito pemberian Paman Hadi.

Itulah pertama kalinya sejak hari pernikahan aku menyentuh uang itu.

Bukan untuk membayar utang Dimas.

Bukan untuk menutup cicilan Arman.

Bukan untuk membuktikan apa pun kepada Tante Rina.

Aku memakainya untuk mendapatkan satu tempat dengan pintu yang bisa kututup sendiri.

Ketika menandatangani perjanjian sewa, tanganku tidak gemetar seperti hari pernikahan.

Hanya sedikit dingin.

Aku membeli kasur sederhana, meja kerja kecil, dan rak dua tingkat.

Tidak ada sofa baru.

Tidak ada televisi besar.

Aku bahkan membawa panci lama dari rumah karena itu memang kubeli sebelum menikah.

Arman membantuku mengirim dua kotak buku.

Ia tidak masuk sampai aku mengizinkan.

Saat berdiri di depan pintu, ia berkata, “Aku masih mau memperbaiki semuanya.”

Aku memegang daun pintu.

“Aku tahu.”

“Kalau suatu hari kamu bisa percaya lagi…”

Aku menghentikannya.

“Jangan tunggu versi aku yang mungkin nggak pernah ada.”

Ia menatapku cukup lama.

Lalu mengangguk.

Itu pertama kalinya aku melihat Arman menerima jawaban yang tidak bisa ia atur.

Sebulan kemudian aku memutuskan mengajukan proses perceraian.

Keputusan itu bukan muncul karena satu pertengkaran.

Bukan pula karena Tante Rina.

Bahkan bukan hanya karena Nia.

Aku menghabiskan berbulan-bulan menanyakan pada diriku sendiri apakah aku masih ingin membangun kembali hubungan dengan seorang laki-laki yang selama setengah tahun menjalani dua versi kehidupan sambil menggunakan uang rumah tangga untuk salah satunya.

Jawabanku akhirnya tidak berubah lagi.

Tidak.

Ketika kusampaikan kepada Arman, ia menangis.

Aku juga.

Ia meminta maaf tanpa meminta keputusan itu dibatalkan.

“Kalau dulu aku berhenti sebelum sejauh ini…” katanya.

Aku tidak menjawab dengan kalimat besar tentang takdir atau harga diri.

Aku hanya berkata, “Tapi kamu nggak berhenti.”

Ia mengangguk.

Proses berikutnya tidak cepat.

Masih ada dokumen yang harus diurus.

Ada barang yang harus dibagi.

Cicilan mobil harus diputuskan.

Ada hari-hari ketika aku bangun dan masih secara otomatis ingin mengirim pesan kepada Arman tentang sesuatu yang lucu.

Ada juga malam ketika apartemen kecilku terasa terlalu sunyi.

Sementara itu hubunganku dengan Tante Rina belum pulih.

Ia berhenti meminta uang, tetapi selama beberapa bulan tidak pernah menelepon.

Dimas sesekali mengirim kabar.

Ia dan istrinya akhirnya memilih rumah yang lebih kecil di pinggiran Bandung dan menunda pembelian beberapa bulan sampai uang muka mereka cukup.

Tidak ada bencana.

Tidak ada yang hidupnya hancur karena aku tidak memberikan Rp90 juta.

Paman Hadi datang menemuiku sekitar enam bulan setelah aku pindah.

Ia membawa satu kotak makanan dari tempat yang dulu sering didatangi Mama.

Kami duduk di meja kecil apartemenku.

Matanya menyapu ruangan.

“Cukup?”

“Cukup.”

“Uangnya masih ada?”

Aku tertawa kecil.

“Sebagian besar.”

Aku menjelaskan berapa yang kupakai untuk sewa dan kebutuhan pindah.

Paman mengangguk.

“Bagus.”

“Aku kadang merasa bersalah.”

“Karena?”

“Tante marah. Dimas mau rumah. Aku malah pakai uangnya buat diriku.”

Paman Hadi menyandarkan punggung ke kursi.

“Laras.”

Aku menatapnya.

“Waktu Paman kasih uang itu, Paman tidak bilang, ‘Simpan sampai ada anggota keluarga yang merasa lebih berhak.’”

Aku tersenyum tipis.

Ia lalu menunjuk pergelangan tanganku.

“Kamu masih punya gelang Mama?”

Aku bangkit mengambil kotak kecil dari laci.

Gelang perak itu ada di dalam.

Sudah agak kusam.

Paman memegangnya sebentar, lalu mengembalikan kepadaku.

“Mama kamu dulu paling keras kalau soal uang miliknya sendiri.”

Aku mengangkat alis.

“Serius?”

“Kamu kira dia selalu lembut?”

Ia tertawa.

“Dulu Paman pernah pinjam uang tanpa bilang buat beli motor. Dia datang ke kos Paman, ambil kuncinya, dan bilang motor itu nggak boleh dipakai sebelum uangnya balik.”

Aku tertawa sampai mata berair.

Cerita kecil itu terdengar jauh lebih hidup daripada semua kalimat tentang Mama yang selama ini sering diucapkan orang pada acara keluarga.

Sebelum pulang, Paman berdiri di depan pintu.

“Tante kamu masih kesal.”

“Aku tahu.”

“Biar saja dulu.”

Aku mengangguk.

Ia lalu berkata, “Kalau nanti dia sudah bisa bicara tanpa menghitung uangmu, baru kalian bicara lagi.”

Aku tidak tahu apakah hari itu akan datang.

Tapi aku tidak lagi merasa harus mengejarnya.

Hampir setahun setelah aku meninggalkan rumah, proses perceraianku dengan Arman masih menyisakan beberapa urusan administratif, tetapi keputusan kami sudah tidak berubah.

Kami tidak menjadi musuh.

Kami juga tidak berpura-pura menjadi sahabat.

Kadang hubungan berakhir bukan dengan seseorang menjadi monster.

Kadang seseorang hanya melakukan cukup banyak hal salah sampai orang lain tidak lagi bersedia menyerahkan hidupnya pada janji bahwa kali berikutnya akan berbeda.

Pada suatu Jumat sore, deposito yang tersisa jatuh tempo.

Aku datang ke bank setelah pulang kerja.

Petugas bertanya apakah aku ingin mencairkan semuanya.

Aku melihat angka di layar.

Dulu jumlah itu terasa seperti bom yang diselipkan diam-diam ke tanganku pada hari pernikahan.

Kemudian terasa seperti rahasia.

Lalu seperti jalan keluar.

Sekarang hanya uang.

Uang yang harus kujaga dengan masuk akal.

“Perpanjang sebagian,” kataku.

“Sisanya masuk rekening pribadi saya.”

Setelah selesai, aku pulang ke apartemen.

Di dekat pintu tidak ada sepatu Arman.

Tidak ada Bu Sulastri yang bertanya apa kata tetangga.

Tidak ada telepon dari Tante Rina yang menanyakan apakah uangku bisa dipakai orang lain.

Aku membuka laci meja, memasukkan dokumen deposito yang baru, lalu meletakkan gelang perak Mama di sampingnya.

Setelah itu aku menutup laci dan menguncinya.

Kuncinya kumasukkan ke gantungan kunci apartemenku sendiri.

Menurutmu, apakah Laras seharusnya memberi Arman kesempatan kedua setelah perselingkuhan dan penggunaan uang bersama tanpa izinnya?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.