Keluarga Kaya Meninggalkan Bayi karena Tanda Lahir di Wajahnya, Enam Bulan Kemudian Mereka Datang Membawa Rp700 Juta

Avatar penulis
Cerita 01
28 menit baca 129 tayangan
Keluarga Kaya Meninggalkan Bayi karena Tanda Lahir di Wajahnya, Enam Bulan Kemudian Mereka Datang Membawa Rp700 Juta
Indeks

Keluarga Kaya Meninggalkan Bayi karena Tanda Lahir di Wajahnya, Enam Bulan Kemudian Mereka Datang Membawa Rp700 Juta

Bagian 1

Pada 15 November 2018, seorang bayi perempuan lahir di sebuah rumah sakit swasta di Bekasi dengan tanda lahir gelap yang menutupi sebagian pipi kirinya. Belum satu jam usianya, kakek dan nenek dari pihak ibu sudah membicarakan bagaimana caranya agar bayi itu tidak pernah dibawa pulang ke rumah mereka.

Ibunya, Laras Pranoto, masih belum sadar penuh setelah persalinan yang berat. Ia tidak mendengar ketika ayahnya, Arief Pranoto, berkata kepada petugas rumah sakit bahwa keluarga mereka tidak akan menerima bayi itu.

Arief bukan orang yang terbiasa mendengar kata tidak. Ia memiliki perusahaan pemasok komponen industri di kawasan Cikarang, rumah besar di perumahan mahal, dan nama yang cukup dikenal di kalangan pengusaha setempat. Istrinya, Ratna, bahkan lebih keras soal penampilan keluarga.

Keluarga Kaya Meninggalkan Bayi karena Tanda Lahir di Wajahnya, Enam Bulan Kemudian Mereka Datang Membawa Rp700 Juta

Bagi Ratna, tanda lahir di wajah cucunya bukan sekadar perbedaan fisik.

“Itu tidak normal,” katanya pelan kepada suaminya di lorong rumah sakit. “Orang akan bertanya macam-macam.”

Petugas administrasi yang mendampingi mereka berkali-kali menjelaskan bahwa kondisi bayi harus diperiksa dokter terlebih dahulu dan bahwa keluarga tidak bisa begitu saja meninggalkan seorang anak dengan ucapan lisan.

Namun Arief tetap pada keputusannya.

Setelah pembicaraan panjang dengan pihak rumah sakit dan petugas sosial yang dipanggil, Arief serta Ratna menandatangani pernyataan bahwa mereka tidak bersedia membawa bayi itu pulang dan meminta pengasuhan bayi diproses melalui dinas sosial. Mereka beralasan keluarga sedang tidak sanggup mengasuh.

Alasan itu terdengar ganjil dari pasangan yang datang dengan mobil berharga ratusan juta rupiah dan memiliki beberapa pegawai rumah tangga.

Yang lebih ganjil, Laras tidak pernah ikut menandatangani apa pun hari itu.

Ipda Maya Pratiwi sedang berada di rumah sakit untuk urusan pekerjaan ketika melihat seorang perawat mendorong boks bayi melewati koridor menuju ruangan lain. Tangisan dari dalam boks tipis dan terputus-putus.

Maya sebenarnya bisa terus berjalan.

Namun ia berhenti.

Bayi itu mengenakan topi putih kecil. Pipinya masih kemerahan. Di sisi kiri wajahnya terdapat bercak gelap yang jelas terlihat bahkan dari jarak beberapa langkah.

“Ada apa dengan bayinya?” tanya Maya.

Perawat yang mengenalnya hanya menjawab singkat, “Sedang diproses dengan petugas sosial, Bu. Keluarganya tidak membawa pulang.”

Maya menatap bayi itu beberapa detik lebih lama.

Tangannya yang kecil mengepal lalu membuka lagi.

Maya pulang sore itu dengan perasaan yang tidak bisa ia lepaskan. Saat suaminya, AKP Dimas Santoso, sedang mengganti pakaian sepulang dinas, Maya menceritakan apa yang dilihatnya.

Dimas seorang penyidik yang sudah cukup lama bekerja menangani perkara yang membuatnya terbiasa mendengar kebohongan, penelantaran, dan alasan manusia menyakiti satu sama lain. Namun kali itu ia hanya duduk di tepi tempat tidur sambil mendengarkan.

Mereka sudah menikah enam tahun.

Tiga tahun terakhir mereka mencoba memiliki anak.

Mereka pernah datang ke dokter, menjalani pemeriksaan, mengubah jadwal kerja, dan berusaha berhenti memikirkan komentar keluarga yang selalu dimulai dengan, “Kapan punya momongan?”

Tidak ada yang berhasil.

Maya tidak pernah menganggap seorang anak sebagai pengganti atas kegagalan mereka memiliki anak biologis. Karena itu, ketika malam itu ia berkata, “Kalau memang anak itu membutuhkan keluarga, bagaimana kalau kita mendaftar untuk mengasuhnya?” Dimas tidak langsung menjawab.

Ia bertanya satu hal.

“Kamu yakin bukan karena kasihan sesaat?”

Maya terdiam cukup lama.

“Aku tidak tahu apakah aku sudah siap menjadi ibu,” jawabnya akhirnya. “Tapi aku tahu bayi itu tidak seharusnya tumbuh dengan merasa wajahnya alasan seseorang meninggalkannya.”

Keesokan harinya mereka mencari informasi melalui jalur resmi.

Prosesnya jauh dari sederhana. Ada asesmen, dokumen pekerjaan, pemeriksaan kondisi rumah, wawancara, surat keterangan kesehatan, dan evaluasi dari petugas sosial. Untuk sementara bayi tersebut ditempatkan dalam pengasuhan yang diawasi sambil statusnya diproses.

Maya dan Dimas tidak keberatan menunggu.

Saat pertama kali diberi kesempatan menggendongnya lebih lama, Maya melihat tanda gelap di pipi bayi itu dari dekat. Seorang dokter telah menjelaskan bahwa tanda tersebut perlu dipantau, tetapi saat itu tidak menunjukkan sesuatu yang membahayakan.

Maya menyentuh jari bayi itu.

“Bukan salahmu,” bisiknya.

Beberapa minggu kemudian, mereka mulai menjadi keluarga asuh dalam proses yang diatur petugas sosial. Mereka memilih nama Nadira Kirana Santoso.

Kirana karena Maya menyukai maknanya yang berkaitan dengan cahaya.

Nadira karena Dimas berkata seorang anak tidak perlu diberi nama yang mengingatkannya bahwa ia pernah dibuang.

Di rumah, justru orang-orang di sekitar mereka yang membuat keadaan tidak selalu mudah.

Seorang tetangga pernah bertanya terang-terangan apakah Maya tidak takut tanda di wajah Nadira akan menjadi masalah saat anak itu besar.

Seorang kerabat Dimas menyarankan mereka memilih anak lain.

“Masih bayi saja sudah begitu. Nanti kasihan kalian kalau orang-orang ngomong.”

Dimas menatap kerabatnya tanpa meninggikan suara.

“Kalau orang-orang ngomong, yang perlu belajar sopan itu orang-orangnya. Bukan anaknya yang harus diganti.”

Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan serupa di rumah mereka.

Maya belajar bangun setiap dua jam. Dimas belajar menyiapkan susu sambil setengah tidur. Mereka memasang jadwal kontrol bayi di pintu kulkas dan saling berkirim pesan mengenai popok, obat, suhu tubuh, serta siapa yang bisa pulang lebih cepat.

Tanda lahir di pipi Nadira perlahan menjadi sesuatu yang nyaris tidak mereka pikirkan.

Bagi Maya, itu hanya bagian dari wajah anak yang akan mencari dirinya setiap kali mendengar suara pintu dibuka.

Bagi Dimas, masalah sesungguhnya justru muncul enam bulan kemudian.

Suatu sore pada Mei 2019, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah mereka.

Ratna Pranoto turun bersama seorang pria berjas bernama Adrian Wijaya, pengacara yang selama bertahun-tahun menangani urusan bisnis keluarga Pranoto.

Maya sedang menggendong Nadira ketika membuka pintu.

Ratna langsung memandang pipi cucunya.

Tatapan itu membuat Maya tanpa sadar memeluk Nadira sedikit lebih erat.

“Kami datang untuk mengambil cucu kami,” kata Ratna.

Maya tidak mempersilakan mereka masuk sebelum Dimas tiba dari ruang belakang.

Adrian kemudian menjelaskan bahwa Laras telah pulih dan menyesali keputusan keluarganya. Menurutnya, keluarga Pranoto ingin membawa Nadira kembali dan menyelesaikan semua persoalan tanpa proses panjang.

Dimas bertanya, “Kalau Laras yang menginginkan anaknya, kenapa dia tidak datang?”

Ratna menjawab bahwa kondisi psikologis putrinya belum stabil.

“Laras masih rapuh. Kami yang mengurus semuanya.”

Dimas menatap Adrian.

“Kalau memang ada keberatan terhadap proses pengasuhan, ajukan melalui jalur yang benar. Kami akan datang kalau dipanggil.”

Ratna menarik napas pendek.

Lalu Adrian meletakkan sebuah map di atas meja teras.

Isinya bukan surat pengadilan.

Bukan permohonan resmi.

Melainkan tawaran tertulis.

Rp700 juta.

Uang itu, menurut Adrian, akan diberikan kepada Maya dan Dimas apabila mereka berhenti mempermasalahkan keluarga Pranoto, bersedia menyerahkan Nadira, dan tidak menceritakan keadaan kelahirannya kepada siapa pun.

Maya membaca angka itu dua kali.

Kemudian menutup map.

“Anak bukan barang yang bisa dibayar lalu dipindahkan tangan,” katanya.

Ratna segera menyela.

“Jangan salah paham. Itu sebagai bentuk terima kasih karena kalian sudah merawatnya.”

“Kalau begitu tidak perlu ada kalimat tentang kami harus diam,” jawab Dimas.

Adrian tidak membantah.

Dimas mengembalikan map tersebut.

“Kalau Laras ingin bicara sebagai ibu kandung, kami tidak akan menghalangi jalur resmi. Tapi kami tidak akan menukar Nadira dengan uang.”

Ratna berdiri dengan wajah kaku.

Sebelum pergi, ia berkata, “Kalian tidak tahu keluarga seperti apa yang sedang kalian hadapi.”

Kalimat itu baru terasa maknanya tiga hari kemudian.

Maya menerima telepon dari nomor tidak dikenal saat berangkat kerja.

Seorang laki-laki hanya berkata, “Jangan membuat urusan keluarga orang lain jadi masalah besar.”

Telepon berikutnya datang malam hari.

Kemudian sebuah akun anonim mengunggah tuduhan bahwa Maya memanfaatkan pekerjaannya untuk “merebut bayi orang kaya”. Beberapa hari kemudian muncul cerita lain yang menuduhnya pernah memiliki masalah disiplin di tempat kerja.

Tidak satu pun benar.

Dimas meminta Maya menyimpan tangkapan layar dan catatan waktu telepon.

Mereka tidak membalas akun mana pun.

Ketika Dimas melihat sepeda motor yang sama dua kali berada tidak jauh dari rumah mereka, ia berhenti menganggap semuanya sebagai kebetulan.

Ia melaporkan ancaman tersebut melalui jalur internal agar penanganannya tidak dilakukan olehnya sendiri. Setelah itu, untuk persoalan masa lalu Laras, Dimas hanya mengumpulkan hal-hal yang bisa diperoleh secara sah sebagai orang tua yang sedang mempertahankan pengasuhan Nadira.

Pertanyaan pertamanya sederhana.

Mengapa keluarga yang pernah membuang bayi itu karena wajahnya tiba-tiba bersedia membayar ratusan juta rupiah untuk mengambilnya kembali?

Pertanyaan kedua lebih mengganggu.

Mengapa Laras sendiri belum pernah muncul?

Dimas mulai memeriksa kembali salinan dokumen yang diberikan kepada mereka selama proses pengasuhan. Di antara dokumen itu ada pernyataan keluarga, catatan penyerahan kepada petugas sosial, serta informasi dasar mengenai kondisi Laras ketika melahirkan.

Satu hal segera terlihat.

Tidak ada tanda tangan Laras pada surat yang menyatakan keluarga tidak bersedia membawa bayi pulang.

Dimas kemudian meminta pengacaranya membantu mengajukan permintaan dokumen yang memang dapat diakses melalui proses pengasuhan. Pada saat yang sama, ia menelusuri informasi publik mengenai Laras.

Media sosial Laras hampir seluruhnya berhenti diperbarui beberapa minggu sebelum kelahiran Nadira.

Namun pada unggahan lama terdapat beberapa foto pameran seni.

Dalam salah satu foto, Laras berdiri di samping seorang laki-laki kurus berambut sedikit panjang yang memegang kuas. Komentar lama dari teman-temannya menunjukkan mereka pernah berpacaran.

Namanya Bima Mahendra.

Dimas tidak langsung menghubunginya.

Ia mencari tahu terlebih dahulu dari sumber terbuka dan beberapa kenalan umum. Bima bukan penipu, bukan mantan pegawai keluarga Pranoto, dan sejauh yang bisa diketahui Dimas, tidak pernah terlibat masalah hukum.

Ia seorang pelukis lepas.

Sekarang ia tinggal di rumah kontrakan kecil di pinggiran Tangerang Selatan dan menerima pekerjaan desain serta mural untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Hubungannya dengan Laras berakhir sekitar awal 2018.

Waktunya membuat Dimas berhenti lebih lama di depan kalender.

Akhirnya ia menghubungi Bima dan mengatakan bahwa ada persoalan keluarga lama yang perlu dibicarakan. Dimas tidak memberi detail melalui telepon.

Bima awalnya menolak.

Ketika Dimas menyebut nama Laras, suara di seberang berubah.

Mereka bertemu di sebuah kedai kopi sederhana pada sore hari.

Bima datang mengenakan kemeja yang bagian lengannya masih memiliki noda cat. Ia tampak lebih curiga daripada takut.

“Apa Laras kenapa?” pertanyaannya.

Dimas tidak langsung menjawab. Ia bertanya lebih dulu tentang hubungan mereka.

Bima mengatakan mereka pernah berencana menikah.

Masalahnya bukan Laras.

Masalahnya Arief Pranoto.

Arief mendatangi tempat tinggal Bima setelah mengetahui hubungan mereka. Ia mengatakan dengan jelas bahwa putrinya tidak akan menikah dengan pelukis yang penghasilannya tidak tetap.

Beberapa minggu kemudian nomor Laras tidak lagi bisa dihubungi.

Bima mencoba datang ke rumah keluarga Pranoto sekali, tetapi petugas keamanan tidak mengizinkannya masuk.

Ia mengira Laras akhirnya menyerah pada tekanan keluarganya.

“Aku juga berhenti mengejar,” katanya. “Kalau dia memilih keluarganya, aku tidak mau terus membuat hidupnya susah.”

Dimas menanyakan kapan terakhir kali mereka bertemu.

Bima menyebut bulan yang membuat perhitungan kehamilan Nadira menjadi mungkin.

Dimas kemudian mengeluarkan satu foto Nadira yang sudah dicetak, foto biasa saat bayi itu berusia sekitar lima bulan.

Ia meletakkannya di meja.

Bima memandang foto tersebut.

Tidak menyentuhnya.

“Ini siapa?”

“Namanya Nadira,” kata Dimas.

Bima masih menatap wajah bayi itu.

Dimas melanjutkan dengan hati-hati, “Dia lahir 15 November tahun lalu. Ibunya Laras Pranoto.”

Bima mengangkat kepala dengan cepat.

Wajahnya kehilangan warna.

Beberapa detik ia tidak mampu berkata apa-apa.

Kemudian bibirnya bergerak pelan.

“Laras… punya anak?”

Dimas mengangguk.

“Ada kemungkinan besar,” katanya, “Nadira adalah anakmu.”

Bima kembali menatap foto bayi itu.

Tangannya yang berada di atas meja mulai gemetar.

Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇

Bagian 2

Bima tidak langsung bertanya bagaimana cara mengambil Nadira. Justru itu yang pertama kali diperhatikan Dimas.

Ia bertanya satu hal berkali-kali.

“Laras tahu anaknya masih hidup?”

Dimas tidak bisa menjawab.

“Itu yang sedang kami coba pastikan.”

Bima mengeluarkan ponselnya, membuka penyimpanan lama, lalu mencari sesuatu hampir lima menit. Ia akhirnya menunjukkan sebuah tangkapan layar pesan dari Laras tertanggal Maret 2018.

Aku harus bicara sama kamu. Ini penting. Tolong jangan blokir aku dulu.

Bima menjelaskan pesan itu masuk dari nomor baru setelah hubungan mereka diputus keluarga Laras. Ia membalas malam itu, tetapi tidak pernah mendapat jawaban lagi. Beberapa hari kemudian nomor tersebut tidak aktif.

“Aku pikir dia berubah pikiran,” katanya.

Dimas meminta Bima tidak mengirimkan salinan apa pun sebelum mereka berbicara dengan pengacara masing-masing. Ia juga menegaskan bahwa kemungkinan biologis bukan bukti.

“Kalau memang perlu tes DNA, itu harus lewat proses yang benar.”

Bima mengangguk.

Lalu ia bertanya apakah boleh melihat Nadira dari jauh.

Dimas menolak untuk saat itu.

Bukan karena ingin menjauhkan Bima, melainkan karena Nadira bukan alat pembuktian yang bisa diperlihatkan kepada setiap orang yang muncul membawa cerita masa lalu.

Dua hari setelah pertemuan itu, Maya menerima telepon dari seorang perempuan.

Suara di seberang terdengar ragu.

“Ini Bu Maya?”

“Iya.”

“Saya Laras.”

Maya berdiri dari kursi ruang makan.

Untuk sesaat ia tidak tahu harus mengatakan apa.

Laras lebih dulu bertanya, “Anak saya… ada sama Ibu?”

Maya menatap Nadira yang sedang tidur di boks.

“Ada.”

Tangis Laras terdengar pelan.

Bukan tangisan keras. Hanya napas yang berulang kali gagal diselesaikan.

Maya menunggu.

Akhirnya Laras berkata, “Mereka bilang bayi saya meninggal.”

Kalimat itu mengubah seluruh persoalan.

Maya tidak bertanya panjang lewat telepon. Ia hanya meminta Laras tidak datang sendirian ke rumah mereka dan menawarkan pertemuan di tempat netral dengan pendamping hukum.

Laras setuju.

Keesokan siangnya, Laras datang bersama seorang teman perempuan yang dipercaya. Tubuhnya tampak lebih kurus daripada foto-foto lama. Ketika melihat Maya, ia langsung bertanya apakah Nadira sehat.

“Sehat,” jawab Maya. “Dia sedang tumbuh gigi. Kalau malam agak rewel.”

Laras menutup mulut dengan kedua tangan.

Ia tidak meminta dibawa pulang hari itu.

Ia tidak menuduh Maya mencuri anaknya.

Ia hanya berkata bahwa setelah sadar pascapersalinan, ibunya mengatakan bayinya mengalami komplikasi dan tidak tertolong. Laras sempat meminta melihat jenazah, tetapi Ratna mengatakan rumah sakit sudah menangani semuanya karena kondisi Laras belum memungkinkan.

Selama berbulan-bulan Laras percaya.

Sampai ia menemukan salinan tagihan rumah sakit di lemari kerja ayahnya. Di situ tercantum pemeriksaan bayi hingga beberapa hari setelah tanggal kelahiran.

Ia mulai bertanya.

Arief marah.

Ratna kemudian mengubah cerita. Katanya bayi memang hidup, tetapi sudah diserahkan karena kondisi fisiknya akan membuat Laras menderita.

“Itu pertama kali saya tahu anak saya dibuang,” kata Laras.

Maya menggenggam ujung meja agar tangannya tidak gemetar.

“Kenapa baru sekarang menghubungi kami?”

“Ayah mengambil ponsel saya waktu saya mulai mencari informasi. Nomor saya diganti. Saya hampir tidak boleh pergi sendiri.” Laras menunduk. “Pengacara keluarga bilang kalian minta uang kalau kami mau Nadira kembali.”

Maya menatap Dimas.

Itulah kebohongan berikutnya.

Bukan hanya mereka yang diberi cerita palsu.

Laras pun dibuat percaya Maya dan Dimas sedang menjadikan Nadira sebagai alat tawar.

Dimas menunjukkan salinan penawaran Rp700 juta yang sebelumnya diberikan Adrian.

Laras membaca halaman pertama, lalu halaman kedua.

Pada bagian tentang kerahasiaan, wajahnya berubah.

“Saya tidak pernah menyetujui ini.”

“Apakah kamu pernah meminta orang tuamu membayar kami?” tanya Dimas.

“Tidak.”

Maya akhirnya bertanya soal Bima.

Laras terdiam cukup lama sebelum menjawab.

“Bima ayahnya.”

Tidak ada kata mungkin.

Tidak ada keraguan.

“Ayah tahu?” tanya Maya.

Laras mengangguk.

“Sejak saya hamil dua bulan.”

Di situlah alasan keluarga Pranoto mulai terlihat jauh lebih besar daripada sekadar tanda lahir di wajah Nadira.

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Laras tidak mengucapkan semuanya sekaligus.

Ia perlu beberapa kali berhenti karena sebagian ingatannya tentang hari persalinan masih bercampur dengan obat, kelelahan, dan cerita yang selama berbulan-bulan diberikan orang tuanya.

Namun satu hal ia ingat dengan jelas.

Ayahnya mengetahui kehamilan itu sejak awal.

Ketika Laras akhirnya mengaku bahwa Bima adalah ayah bayi yang dikandungnya, Arief tidak pernah menanyakan apakah Bima ingin bertanggung jawab. Ia hanya mengatakan hubungan tersebut sudah selesai dan meminta Laras berhenti menyebut namanya.

Ratna mengambil pendekatan berbeda.

Ia berkata keluarga akan tetap mendampingi Laras selama kehamilan asalkan tidak ada lagi hubungan dengan Bima.

Laras yang saat itu takut, bergantung secara finansial pada orang tuanya, dan belum siap menghadapi seluruh keluarga besar, menurut.

Nomornya diganti.

Akun medianya dikurangi aksesnya.

Saat Bima mencoba datang, Laras diberi tahu bahwa laki-laki itu hanya mencari keuntungan karena tahu keluarga Pranoto kaya.

“Aku percaya setengahnya,” kata Laras kepada Maya. “Setengah lagi aku cuma capek melawan.”

Ia menatap foto Nadira yang diletakkan Maya di meja, tidak berani mengambilnya tanpa izin.

Ketika Nadira lahir dengan tanda gelap di pipinya, keadaan memburuk.

Ratna panik mengenai apa yang akan dikatakan kerabat. Arief menyebut tanda itu sebagai masalah yang akan membuat orang membicarakan Laras, kehamilan di luar rencana keluarga, dan siapa ayah anak tersebut.

Dengan kata lain, tanda lahir itu memang menjadi alasan mereka menolak Nadira.

Namun bukan satu-satunya alasan.

Nadira juga merupakan bukti hidup bahwa Arief gagal memutus hubungan putrinya dengan laki-laki yang dianggap tidak pantas.

“Mereka tidak mau orang bertanya wajahnya mirip siapa,” kata Laras.

Setelah persalinan, tekanan darah Laras turun dan ia harus mendapat penanganan lebih lanjut. Saat sadar, bayi sudah tidak ada.

Ratna mengatakan anaknya meninggal.

Laras menangis selama berminggu-minggu untuk seorang bayi yang sebenarnya sedang hidup dan, pada waktu yang hampir bersamaan, mulai diasuh Maya serta Dimas.

Maya mendengarkan tanpa mencoba menenangkan dengan kalimat yang terlalu mudah.

Ia sendiri marah.

Tetapi kemarahan itu tidak boleh membuat mereka mengambil keputusan mengenai Nadira hanya berdasarkan siapa yang paling terluka.

“Kalau semua ini benar,” kata Maya, “kita tetap harus memikirkan Nadira dulu.”

Laras mengangguk.

“Saya tahu.”

Jawaban itu membuat Maya sedikit terkejut.

Laras melanjutkan, “Saya ingin anak saya. Tapi saya juga tidak bisa datang setelah enam bulan lalu bilang kalian harus menyerahkannya ke saya seolah kalian tidak pernah merawat dia.”

Dimas kemudian mengusulkan langkah pertama yang tidak menyenangkan siapa pun, tetapi diperlukan.

Mereka harus berhenti menyelesaikan persoalan melalui pertemuan pribadi.

Dokumen harus dikumpulkan.

Pengacara yang mewakili kepentingan masing-masing harus terlibat.

Petugas sosial yang menangani Nadira perlu diberi tahu mengenai adanya dugaan bahwa persetujuan keluarga saat awal penyerahan tidak menggambarkan kehendak Laras.

Ancaman terhadap Maya dan Dimas juga tetap harus diperiksa sebagai persoalan terpisah.

Malam itu, setelah Laras pergi, Maya duduk di lantai kamar Nadira.

Anak itu sudah tertidur.

Dimas masuk membawa dua gelas air dan duduk di samping istrinya.

Maya berkata pelan, “Kalau prosesnya mengatakan Nadira harus kembali ke Laras?”

Dimas tidak menjawab cepat.

“Kita ikuti prosesnya.”

“Itu bukan jawaban.”

“Aku tahu.”

Maya menatap anak yang selama enam bulan terakhir memanggilnya dengan tangisan setiap kali lapar, sakit, atau takut.

Dimas akhirnya berkata, “Aku juga takut kehilangan dia. Tapi kita tidak bisa membenci keluarga Laras karena memperlakukan anak seperti milik mereka, lalu kita sendiri melakukan hal yang sama.”

Maya menunduk.

Kalimat itu menyakitkan justru karena benar.

Mereka sepakat pada satu hal.

Apa pun hasil akhirnya, Nadira tidak boleh diperebutkan seperti rumah, rekening, atau saham perusahaan.

Dua hari kemudian Dimas menghubungi Bima.

Mereka bertemu lagi, kali ini bersama pengacara.

Bima hampir tidak bicara ketika mendengar Laras telah dihubungi.

Saat Laras masuk ke ruangan, keduanya berdiri.

Tidak ada adegan pelukan.

Tidak ada musik yang tiba-tiba membuat masa lalu terasa sederhana.

Bima hanya berkata, “Kenapa kamu tidak bilang?”

Laras menjawab, “Aku mencoba.”

Kemudian Bima bertanya, “Setelah itu?”

Laras menatapnya.

“Setelah itu aku takut.”

Bima mengangguk sekali.

Wajahnya menunjukkan bahwa ia memahami alasan tersebut tanpa berarti luka lama langsung hilang.

Mereka bicara hampir dua jam.

Bima mengetahui bahwa Laras masih menyimpan beberapa hasil pemeriksaan kehamilan. Laras mengetahui Bima masih menyimpan pesan terakhirnya.

Mereka juga sepakat menjalani pemeriksaan DNA melalui prosedur yang disarankan kuasa hukum setelah status mereka perlu dipastikan dalam proses pengasuhan.

Hasilnya keluar beberapa waktu kemudian.

Bima adalah ayah biologis Nadira.

Saat menerima hasil tersebut, ia tidak datang ke rumah Maya dan Dimas sambil membawa koper bayi.

Ia justru meminta waktu bertemu.

“Nadira mengenal kalian sebagai orang tuanya,” katanya. “Aku tidak akan membuat dia membayar kesalahan orang dewasa.”

Maya menghargai kalimat itu, tetapi belum sepenuhnya mempercayai Bima.

Kepercayaan tidak dibangun dari satu pertemuan.

Bima memahami.

Ia mulai mengikuti proses yang disarankan petugas sosial. Pertemuannya dengan Nadira dilakukan perlahan dan didampingi.

Pada pertemuan pertama, Bima membawa boneka kecil berbentuk kelinci.

Nadira tidak tertarik.

Ia justru merangkak menuju botol minum milik Maya.

Bima tertawa canggung.

“Berarti selera hadiahku buruk.”

Beberapa minggu kemudian, Nadira mulai mengenali wajahnya.

Laras menjalani proses yang lebih berat secara emosional.

Setiap kali Nadira menangis dan mencari Maya, Laras terlihat terpukul.

Namun ia tidak mencoba merebut anak itu dari pelukan Maya.

Suatu sore, setelah Nadira jatuh saat belajar berdiri, Laras secara refleks maju.

Maya lebih dekat dan lebih cepat mengangkatnya.

Laras berhenti dua langkah dari mereka.

Nadira memeluk leher Maya sambil menangis.

Laras berdiri diam.

Maya bisa melihat betapa berat momen itu baginya.

Setelah Nadira tenang, Maya berkata, “Mau gendong?”

Laras mengangguk.

Maya menyerahkan Nadira perlahan.

Untuk pertama kalinya, Nadira tidak langsung menangis ketika berada di pelukan ibu kandungnya.

Laras tidak mengatakan apa-apa.

Ia hanya mengusap punggung anak itu sampai Nadira mulai bermain dengan ujung kerudung tipis yang dikenakannya.

Di sisi lain, persoalan dengan Arief dan Ratna semakin buruk sebelum akhirnya mulai kehilangan kekuatan.

Arief mengirim pesan kepada Laras dan meminta putrinya pulang.

Laras menolak.

Ia memilih tinggal sementara di apartemen kecil milik seorang sahabat.

Untuk pertama kalinya sejak lulus kuliah, ia membuka rekening yang tidak terhubung dengan perusahaan atau orang tuanya. Ia juga mulai mencari pekerjaan sendiri menggunakan pengalaman administrasi yang pernah dimilikinya.

Arief kemudian meminta Adrian, pengacara keluarga, menghentikan semua komunikasi dengan Maya dan Dimas.

Namun ada satu masalah.

Dimas sudah menyimpan salinan penawaran Rp700 juta.

Maya menyimpan catatan panggilan.

Beberapa akun yang menyebarkan tuduhan terhadap Maya menghapus unggahan setelah laporan resmi dibuat, tetapi tangkapan layarnya sudah tersimpan.

Penyelidikan atas intimidasi tidak berubah menjadi penangkapan dramatis dalam semalam.

Tidak ada polisi yang datang ke rumah Arief lalu menyeretnya di depan tetangga.

Yang terjadi jauh lebih biasa dan justru lebih menyulitkan baginya.

Ia mulai dipanggil untuk memberikan keterangan.

Orang-orang yang menghubungi Maya harus menjelaskan dari mana mereka mendapat nomor pribadinya.

Adrian juga dimintai penjelasan mengenai dokumen penawaran yang menggunakan namanya.

Dalam pertemuan berikutnya, Adrian datang tanpa Ratna.

Ia tampak lebih hati-hati.

“Saya perlu menyampaikan sesuatu,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa saat pertama kali diminta mendekati Maya dan Dimas, ia diberi tahu bahwa Laras mengetahui dan menyetujui rencana keluarga mengambil kembali bayi tersebut.

Ia tidak pernah berbicara langsung dengan Laras mengenai penawaran uang.

Dimas bertanya, “Jadi Anda membuat penawaran tanpa memastikan ibu kandung bayi menginginkannya?”

Adrian menarik napas.

“Saya mengikuti instruksi klien saya.”

“Laras juga klien Anda?”

Adrian tidak langsung menjawab.

Itu sudah cukup.

Laras kemudian mengganti pendamping hukumnya.

Keputusan tersebut sederhana, tetapi menjadi salah satu langkah pertama yang benar-benar memutus kendali ayahnya.

Arief bereaksi dengan menghentikan kartu kredit tambahan yang selama ini digunakan Laras dan menolak membayar biaya apartemennya.

Laras tidak memohon.

Ia menjual beberapa barang pribadi yang tidak dibutuhkan, pindah ke tempat sewa yang lebih kecil, dan mulai bekerja di perusahaan distribusi milik seorang kenalan lama yang tidak memiliki hubungan bisnis dengan ayahnya.

Gajinya tidak besar dibandingkan kehidupan yang dulu ia jalani.

Namun ketika Ratna menelepon dan berkata, “Kamu sengaja mempermalukan Papa,” Laras akhirnya menjawab dengan kalimat yang selama ini tidak berani ia ucapkan.

“Yang membuat malu bukan saya pindah dari rumah. Yang membuat malu adalah kalian bilang anak saya meninggal.”

Ratna menangis.

Ia mengatakan semua yang dilakukan mereka adalah untuk melindungi Laras.

“Kamu waktu itu tidak siap punya anak. Kamu belum menikah. Orang akan bicara.”

Laras tidak membantah bahwa ia memang takut.

“Tapi takut saya bukan izin untuk membuang anak saya.”

Ratna terdiam.

Laras melanjutkan, “Kalau dulu Mama bilang Nadira hidup dan bertanya apa yang mau saya lakukan, mungkin saya juga akan panik. Mungkin saya akan menangis. Mungkin saya akan butuh bantuan. Tapi itu harusnya keputusan yang saya ikut buat.”

Percakapan tersebut tidak memperbaiki hubungan mereka.

Namun setelah itu Laras berhenti menjawab telepon berulang dari ibunya.

Ia hanya bersedia berkomunikasi melalui pesan untuk hal yang benar-benar perlu.

Arief jauh lebih sulit menerima kehilangan kendali.

Dalam satu pertemuan mediasi, ia akhirnya berhadapan langsung dengan Maya, Dimas, Laras, dan Bima.

Petugas serta pendamping hukum hadir.

Arief datang dengan wajah tenang.

Ia tidak menyangkal bahwa ia pernah meminta bayi diserahkan.

Ia justru mencoba menjelaskan tindakan tersebut.

“Laras baru melahirkan. Kondisinya buruk. Anak itu juga memiliki kelainan di wajah. Saya mengambil keputusan yang menurut saya paling aman untuk keluarga.”

Dokter sudah menjelaskan sebelumnya bahwa tanda lahir Nadira tidak bisa begitu saja disebut “kelainan” yang membuatnya tidak layak dibesarkan di rumah.

Maya menahan diri untuk tidak memotong.

Bima yang akhirnya bertanya.

“Untuk keluarga siapa?”

Arief menatapnya.

Bima melanjutkan, “Karena untuk Nadira jelas bukan.”

Arief tidak menjawab pertanyaan itu.

Sebaliknya ia menyerang Bima.

“Kamu tidak punya pekerjaan tetap. Kamu pikir kamu bisa menjadi ayah hanya karena hasil tes mengatakan begitu?”

Bima mengangguk pelan.

“Saya memang belum tahu apakah saya bisa menjadi ayah yang baik.”

Jawaban itu membuat Arief terdiam sesaat.

Bima melanjutkan, “Makanya saya belajar. Tapi saya tidak akan bilang anak saya mati cuma karena saya malu sama hidup saya sendiri.”

Laras menunduk.

Maya melihat tangan Laras mengepal di atas pangkuannya.

Arief beralih kepada putrinya.

“Kamu mau membuang keluargamu untuk orang-orang ini?”

Laras mengangkat kepala.

“Tidak.”

Arief tampak hendak tersenyum.

Laras melanjutkan, “Saya cuma berhenti membiarkan Papa menentukan siapa yang boleh disebut keluarga saya.”

Itu bukan kalimat yang langsung menyelesaikan semuanya.

Arief tidak meminta maaf.

Ratna yang duduk di sebelahnya menangis, tetapi masih beberapa kali mencoba mengatakan mereka hanya ingin melindungi nama baik Laras.

Mediasi hari itu berakhir tanpa rekonsiliasi.

Namun ada perubahan penting.

Arief berhenti menjadi orang yang menentukan ke mana Nadira pergi.

Proses mengenai pengasuhan anak dilanjutkan berdasarkan kepentingan Nadira, bukan kehendak keluarga terkaya di ruangan.

Karena terdapat persoalan serius mengenai persetujuan awal Laras dan karena status pengangkatan anak sebelumnya belum berjalan sesederhana yang dibayangkan semua pihak, penyelesaiannya membutuhkan waktu.

Maya dan Dimas menjalani pemeriksaan ulang.

Laras serta Bima juga dinilai kesiapan dan kondisi hidupnya.

Petugas melihat hubungan Nadira dengan semua orang yang terlibat.

Tidak ada keputusan yang dibuat hanya berdasarkan siapa orang tua biologis atau siapa yang sudah mengeluarkan biaya paling banyak.

Selama proses itu, Nadira tetap tinggal bersama Maya dan Dimas karena merekalah pengasuh utama yang dikenalnya sejak bayi.

Laras mendapat jadwal pertemuan rutin.

Bima juga.

Awalnya semuanya terasa aneh.

Maya pernah pulang dari satu pertemuan lalu menangis di kamar mandi karena melihat Nadira tertawa ketika Bima membuat gambar kucing dengan telinga terlalu besar.

Ia merasa bersalah karena cemburu.

Dimas tidak menertawakannya.

“Cemburu bukan berarti kamu mau melakukan hal yang salah,” katanya. “Yang penting apa yang kita lakukan setelah merasa begitu.”

Maya mengusap wajah.

“Aku takut suatu hari dia tidak butuh aku.”

Dimas menjawab, “Anak tidak berhenti membutuhkan satu orang hanya karena belajar menyayangi orang lain.”

Beberapa bulan berikutnya membuktikan bahwa kenyataan jauh lebih berantakan daripada slogan itu, tetapi juga lebih baik.

Laras belajar mengganti popok tanpa meminta bantuan Maya.

Bima membeli kursi bayi bekas untuk rumah kontrakannya, lalu mengirim foto kepada petugas pendamping untuk memastikan pemasangannya benar.

Maya berhenti berdiri di dekat pintu selama seluruh jadwal kunjungan.

Dimas mulai bisa minum kopi bersama Bima tanpa pembicaraan selalu terasa seperti pemeriksaan saksi.

Mereka tidak menjadi sahabat.

Tidak perlu.

Yang mereka perlukan hanya satu kesepakatan yang terus diulang melalui tindakan.

Nadira bukan hadiah yang dimenangkan siapa pun.

Menjelang usia satu tahun, Nadira semakin aktif.

Ia suka mencoret kertas yang diberikan Bima.

Ia tidur lebih cepat jika Maya menyanyikan lagu yang sama setiap malam.

Ia akan mencari Dimas ketika mendengar suara kunci motor.

Dan ketika Laras datang, Nadira sudah mulai mengulurkan tangan lebih dulu.

Suatu kali Laras menangis setelah melihat itu.

Kali ini Maya tidak berpaling.

“Kamu boleh senang,” katanya.

Laras menghapus air matanya.

“Saya takut Ibu sakit hati.”

Maya menggeleng.

“Saya mungkin tetap sakit hati sedikit. Tapi itu urusan saya. Dia tidak perlu dibuat merasa bersalah karena sayang sama kamu.”

Hubungan Maya dan Laras justru mulai berubah setelah percakapan itu.

Mereka tidak lagi berbicara hanya sebagai dua perempuan yang takut kehilangan anak yang sama.

Maya mulai memahami bahwa Laras juga kehilangan enam bulan pertama kehidupan putrinya karena kebohongan orang tuanya.

Laras mulai memahami bahwa enam bulan itu bukan ruang kosong.

Ada perempuan lain yang begadang ketika Nadira demam.

Ada laki-laki lain yang berjalan bolak-balik di ruang tamu saat Nadira tidak mau tidur.

Ada rumah yang menjadi tempat pertama Nadira mengenal rasa aman.

Ketika pembahasan mengenai pola pengasuhan jangka panjang dilakukan, Laras mengejutkan pendampingnya.

Ia mengatakan tidak ingin Nadira dipindahkan secara mendadak.

“Saya ingin menjadi ibunya,” katanya. “Tapi kalau caranya dengan mencabut dia dari dua orang yang selama ini dia anggap orang tua, saya cuma mengulangi apa yang dilakukan orang tua saya.”

Bima mendukungnya.

Akhirnya, setelah evaluasi panjang dan beberapa penyesuaian melalui proses yang didampingi profesional, mereka mencapai pengaturan yang membuat Nadira tetap tinggal bersama Maya dan Dimas sebagai rumah utama untuk masa itu, sementara Laras dan Bima memiliki hubungan yang diakui serta jadwal keterlibatan yang bertahap dan jelas.

Urusan legal mengenai bentuk pengasuhan permanen membutuhkan proses lebih panjang dan tidak selesai dalam satu pertemuan.

Namun perang memperebutkan Nadira selesai.

Tidak ada lagi tawaran uang.

Tidak ada lagi orang datang ke rumah menuntut bayi diserahkan.

Tidak ada lagi cerita bahwa Laras menginginkan sesuatu yang tidak pernah ia katakan.

Yang tersisa adalah pekerjaan lebih sulit, yaitu empat orang dewasa belajar menempatkan kebutuhan seorang anak di atas luka masing-masing.

Arief dan Ratna tidak langsung mendapat tempat dalam kehidupan Nadira.

Laras menetapkan batas itu sendiri.

Ia mengatakan mereka boleh mengajukan permintaan bertemu setelah intimidasi terhadap Maya dan Dimas berhenti sepenuhnya dan setelah mereka bersedia mengakui apa yang dilakukan.

Ratna beberapa kali mencoba mengirim mainan mahal.

Laras mengembalikannya.

“Mama tidak bisa mulai dari hadiah,” katanya melalui pesan.

Beberapa bulan kemudian Ratna meminta bertemu Laras seorang diri.

Ia datang tanpa Arief.

Untuk pertama kalinya ia tidak membawa pengacara.

Ratna mengatakan ia sering memikirkan hari di rumah sakit.

Ia mengaku bahwa ketika melihat tanda lahir di pipi Nadira, pikirannya langsung tertuju pada komentar keluarga besar, rekan bisnis, dan orang-orang yang mengetahui Laras pernah berhubungan dengan Bima.

“Aku takut hidupmu hancur,” katanya.

Laras mendengarkan.

Kemudian bertanya, “Kalau waktu bisa diulang, Mama akan bawa Nadira pulang?”

Ratna menangis sebelum menjawab.

“Aku tidak tahu.”

Laras mengangguk.

Jawaban itu menyakitkan, tetapi lebih berguna daripada permintaan maaf palsu.

“Kalau begitu Mama belum siap bertemu dia.”

Ratna tidak membantah.

Hubungan mereka tidak terputus sepenuhnya, tetapi Laras tidak lagi kembali tinggal bersama orang tuanya.

Ia mempertahankan pekerjaannya.

Bima tetap melukis dan mengambil proyek desain.

Mereka berdua tidak langsung kembali menjadi pasangan.

Masa lalu mereka terlalu rumit untuk diperlakukan seolah enam belas bulan terakhir tidak pernah terjadi.

Bima pernah bertanya apakah Laras ingin mencoba lagi.

Laras menjawab, “Aku belum tahu.”

Bima menerima jawaban itu.

Mereka memilih belajar menjadi orang tua Nadira terlebih dahulu sebelum memutuskan apakah hubungan mereka masih memiliki tempat untuk dibangun kembali.

Bagi Maya, bagian tersulit justru terjadi ketika keadaan mulai tenang.

Selama berbulan-bulan ia hidup dalam ketakutan bahwa sebuah mobil akan berhenti di depan rumah dan seseorang akan membawa Nadira pergi.

Ketika ketakutan itu perlahan hilang, ia baru menyadari betapa tegang dirinya selama ini.

Ia memasang kamera pintu bukan untuk memata-matai siapa pun, tetapi karena setelah ancaman yang pernah mereka alami, petugas menyarankan pengamanan rumah yang wajar.

Dimas mengganti beberapa kunci setelah mereka menemukan satu kunci cadangan lama tidak tercatat.

Mereka juga memindahkan seluruh dokumen pengasuhan Nadira ke lemari terkunci.

Bukan karena ingin menyembunyikannya dari Laras dan Bima.

Justru sebaliknya.

Salinan dokumen yang relevan dibagikan melalui pengacara masing-masing.

Tidak ada lagi satu pihak yang memegang seluruh cerita.

Pada ulang tahun pertama Nadira, mereka tidak membuat pesta besar.

Maya memasak di rumah.

Dimas membeli kue kecil.

Laras datang membawa pakaian anak, sementara Bima membawa gambar bunga yang ia buat sendiri dengan nama Nadira di bagian bawah.

Tanda lahir di pipi Nadira masih terlihat jelas.

Tidak ada yang mencoba menutupinya untuk foto.

Saat Nadira memasukkan tangannya ke krim kue lalu menempelkannya ke kemeja Dimas, semua orang tertawa.

Maya mengambil foto.

Di gambar itu ada Nadira, Dimas, Laras, dan Bima.

Maya sendiri tidak masuk karena berada di belakang kamera.

Laras melihat hasil fotonya.

“Lain kali kita pakai timer,” katanya.

Maya menatapnya beberapa detik.

Kemudian mengangguk.

Enam bulan sesudahnya, proses mengenai masa depan Nadira masih belum sepenuhnya selesai di atas kertas. Beberapa dokumen masih harus diperiksa dan beberapa kesepakatan masih dievaluasi.

Namun Nadira tidak lagi hidup di tengah perebutan.

Arief juga tidak lagi mengirim orang atau pesan kepada Maya dan Dimas.

Laporan mengenai intimidasi tetap berjalan sesuai prosedur. Beberapa pihak yang terlibat telah dimintai pertanggungjawaban berdasarkan peran masing-masing, tetapi Dimas tidak menjadikan perkara itu sebagai alat balas dendam.

Yang paling berat bagi Arief bukan kehilangan perusahaan atau rumahnya.

Ia tidak kehilangan keduanya.

Ia tetap seorang pengusaha kaya.

Namun uang yang dulu membuat hampir semua orang di sekitarnya menuruti keputusan kini tidak bisa membeli satu hal yang paling ia inginkan.

Hak untuk menentukan siapa yang boleh berada dalam kehidupan putrinya dan cucunya.

Suatu sore, Maya pulang lebih awal.

Nadira yang sudah bisa berjalan beberapa langkah berlari kecil dari ruang tengah dan hampir jatuh sebelum mencapai pintu.

Maya cepat menangkapnya.

Di meja terdapat satu gambar buatan Bima yang belum selesai diwarnai, botol susu yang tadi disiapkan Dimas, dan buku anak yang Laras tinggalkan pada kunjungan sebelumnya.

Dulu Maya mungkin akan melihat semua benda itu sebagai tanda bahwa orang lain perlahan memasuki tempatnya.

Sekarang tidak.

Ia membawa Nadira ke kamar setelah anak itu mulai mengantuk.

Sebelum mematikan lampu, Maya membuka lemari kecil di sudut ruangan untuk mengambil selimut.

Di rak paling atas tersimpan map dokumen Nadira.

Map yang dulu membuatnya takut karena setiap halaman terasa seperti sesuatu yang bisa digunakan untuk mengambil anak itu darinya.

Sekarang map itu tetap terkunci rapi, tetapi bukan lagi pusat kehidupan mereka.

Maya menutup lemari.

Nadira sudah memejamkan mata dengan satu tangan menggenggam ujung bajunya.

Tanda lahir gelap di pipinya masih sama seperti hari ketika Maya pertama kali melihatnya di koridor rumah sakit.

Yang berubah adalah orang-orang di sekelilingnya.

Dulu tanda itu dijadikan alasan untuk meninggalkannya.

Kini tidak seorang pun di rumah itu merasa perlu menjelaskan mengapa Nadira pantas dicintai.

Menurutmu, apakah Laras benar memilih jalan yang tepat dengan tidak langsung mengambil Nadira dari keluarga yang membesarkannya?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.