Di Hari Pernikahanku, Paman Diam-Diam Menyelipkan Rp450 Juta dan Menyuruhku Mengaku Hanya Rp25 Juta—Setahun Kemudian Bibiku Menelepon Meminta Uang Itu Kembali untuk Rumah Putranya dan Satu Rahasia Membalikkan Seluruh Keluarga
Bagian 1 — Amplop yang Terlalu Tebal di Hari Pernikahanku Membuatku Menyimpan Rahasia, sementara Suamiku Mulai Menyembunyikan Nama Perempuan Lain dari Rumah Kami
Amplop itu terlalu tebal untuk berisi Rp25 juta.
Aku menyadarinya bahkan sebelum mobil pengantin keluar dari halaman gedung pernikahan di Yogyakarta.
Paman Arif duduk sebentar di sampingku sebelum keluarga memanggilnya turun. Wajahnya berkeringat, padahal pendingin mobil menyala penuh.
Tanpa banyak bicara, ia memasukkan sebuah amplop cokelat ke dalam tasku.
Tangannya menutup tanganku erat.
“Kalau ada yang bertanya,” bisiknya, “bilang Paman cuma kasih Rp25 juta.”
Aku menatapnya bingung.
“Kenapa?”
Paman Arif tidak menjawab.
Ia hanya menoleh ke arah pintu mobil, memastikan istrinya, Tante Mira, tidak berada di dekat sana.
“Jangan buka di sini. Dan jangan bilang siapa-siapa. Termasuk suamimu.”
Pintu mobil tertutup.
Aku masih belum sempat bertanya ketika kendaraan mulai bergerak.
Dimas, suamiku yang baru sah beberapa jam lalu, duduk di sebelahku sambil sibuk membalas pesan.
Aku menunduk melihat tasku.
Amplop cokelat itu seperti batu.
Beberapa detik kemudian ponselku bergetar.
Pesan dari Paman Arif.
“Untuk bagian hidup yang seharusnya menjadi milikmu. Simpan sendiri.”
Dadaku terasa sesak.
Aku baru membuka amplop itu di toilet hotel setelah acara memasuki sesi foto keluarga.
Tanganku gemetar ketika menemukan bukan uang tunai, melainkan bukti deposito dan salinan transfer atas namaku.
Rp450.000.000.
Aku membaca angka itu sampai tiga kali.
Empat ratus lima puluh juta rupiah.
Paman Arif adalah adik kandung almarhumah ibuku. Sejak Ibu meninggal enam tahun sebelumnya, hubungan kami tidak pernah terlalu dekat karena Paman bekerja di proyek konstruksi luar kota.
Tapi setiap Lebaran, ia selalu menelepon.
Setiap ulang tahunku, selalu ada pesan pendek.
Dan hari ini, ia memberikan hampir setengah miliar rupiah sambil meminta semua orang percaya bahwa pemberiannya hanya Rp25 juta.
Aku sedang memasukkan dokumen itu kembali ketika pintu toilet diketuk.
“Nadia?”
Suara sahabatku, Rani.
Aku buru-buru keluar.
“Semua nyari kamu. Tante Mira juga.”
Aku menyerahkan tas kepada Rani.
“Pegang sebentar. Jangan kasih siapa pun.”
Rani menatap wajahku, lalu tasku.
Namun ia tidak bertanya.
Di luar, Tante Mira sudah berdiri bersama keluarga Dimas.
Begitu melihatku, ia tersenyum lebar.
“Nadia, sini. Foto keluarga dulu.”
Di sebelahnya, ibu mertuaku, Bu Ratna, sedang mengobrol sambil memegang gelas sirup.
Entah bagaimana pembicaraan mereka sampai pada masalah uang.
Bu Ratna tertawa kecil.
“Saya dengar Mas Arif kasih Nadia Rp25 juta?”
Tante Mira langsung menjawab.
“Iya. Lumayanlah.”
Nada suaranya terdengar aneh.
Bu Ratna mengangkat alis.
“Mas Arif kan kontraktor. Keponakan perempuan satu-satunya menikah, cuma Rp25 juta?”
Aku melihat perubahan kecil pada wajah Tante Mira.
Bukan malu.
Melainkan kesal.
Seolah-olah Rp25 juta itu saja sudah terlalu banyak.
Ia tertawa kaku.
“Anak kami sendiri juga masih banyak kebutuhan.”
Lalu tangannya menyentuh lenganku.
“Benar kan, Nad? Pamanmu kasih Rp25 juta?”
Aku menatapnya beberapa detik.
“Iya, Tante.”
Dari kejauhan aku melihat Paman Arif sedang berdiri di dekat meja tamu.
Ia mendengar jawabanku.
Wajahnya tidak berubah, tetapi bahunya seperti turun sedikit.
Malam itu, saat aku dan Dimas pulang ke rumah baru kami, pertanyaan pertama Bu Ratna sebelum kami masuk mobil adalah soal uang.
“Amplop dari keluarga kamu sudah dicatat semua?”
“Sudah.”
“Yang dari Paman Arif Rp25 juta itu jangan langsung dipakai. Bagus buat cicilan mobil.”
Aku hanya tersenyum.
Dimas yang sedang membuka pintu mobil berkata santai, “Uang nikahan kan nanti kita gabung saja.”
Tanganku otomatis memegang tas lebih erat.
Untuk pertama kalinya sejak akad, aku teringat ucapan Paman Arif.
Jangan bilang siapa-siapa.
Termasuk suamimu.
Aku tidak tahu kenapa, tetapi malam itu aku menurut.
Uang Rp450 juta itu kusimpan dalam deposito atas namaku sendiri.
Tidak pernah kusentuh.
Tidak pernah kuceritakan.
Tiga bulan pertama pernikahan kami berjalan normal.
Setidaknya dari luar.
Dimas bekerja sebagai supervisor pemasaran di sebuah perusahaan properti. Ia sering pulang malam, tetapi sejak sebelum menikah memang pekerjaannya seperti itu.
Masalah dimulai ketika suatu malam ponselnya bergetar di meja samping tempat tidur.
Dimas sudah tidur.
Nama yang muncul di layar adalah:
“Salsa Project”.
Aku tidak berniat membaca.
Tapi panggilan masuk berhenti, lalu sebuah pesan muncul.
“Besok jangan lupa tempat biasa. Aku sudah bilang ke Mama kamu.”
Aku membeku.
Pagi harinya aku bertanya.
“Siapa Salsa?”
Dimas bahkan tidak terlihat terkejut.
“Anak marketing.”
“Kenapa dia bilang sudah bicara ke Mama?”
Ia sedang mengoles roti.
Tangannya berhenti sebentar.
“Dia kenal Mama. Dulu satu kompleks.”
Jawabannya cepat.
Terlalu cepat.
Aku mencoba melupakan.
Namun setelah itu, ponselnya selalu diletakkan terbalik.
Ia membawa ponsel ke kamar mandi.
Notifikasi WhatsApp selalu dihapus dari layar sebelum dibuka.
Dan nama “Salsa Project” beberapa kali muncul setelah pukul sebelas malam.
Aku tidak menuduh.
Aku hanya mulai memperhatikan.
Delapan bulan setelah menikah, aku melihat sesuatu yang lebih aneh.
Dimas sedang mandi ketika laptop kerjanya berbunyi.
Sebuah email terbuka otomatis.
Subjeknya tentang pemesanan unit apartemen.
Nama calon pembeli:
Salsa Anindita.
Alamat kontak darurat:
Ratna Wulandari.
Nama ibu mertuaku.
Aku belum sempat membaca lebih jauh ketika Dimas keluar dari kamar mandi.
Ia langsung menutup laptop.
“Apa yang kamu lakukan?”
Nada suaranya membuatku terkejut.
“Cuma lihat email masuk.”
“Itu data kantor.”
Untuk pertama kalinya selama pernikahan kami, ia mengambil laptop dariku seperti sedang merebut sesuatu.
Malam itu aku tidak tidur.
Namun aku juga belum punya bukti.
Sampai sebelas bulan setelah pernikahan, Tante Mira meneleponku.
Suaranya begitu manis sampai terasa dibuat-buat.
“Nadia, Tante mau minta bantuan sedikit.”
“Ada apa?”
“Raka mau ambil rumah di Sleman.”
Raka adalah putra tunggal Paman Arif dan Tante Mira.
“Harganya naik terus. Kalau tidak diambil sekarang sayang.”
Aku menunggu.
“Uang mukanya masih kurang sekitar Rp350 juta.”
Lalu ia tertawa kecil.
“Kamu ingat kan dulu Pamanmu kasih Rp25 juta waktu menikah?”
Aku diam.
“Pakai dulu uang itu buat bantu sepupumu.”
Aku masih tidak menjawab.
Tante Mira melanjutkan dengan nada seolah keputusan sudah dibuat.
“Transfer saja minggu ini. Nanti kalau keadaan sudah longgar, Tante ganti.”
Aku berdiri dari meja kerja dan berjalan ke lorong kantor.
“Tante.”
“Iya?”
“Paman Arif tahu Tante menelepon saya?”
Hening.
Hanya dua detik.
Tapi cukup.
“Kenapa mesti tanya Paman? Ini kan cuma uang keluarga.”
“Kalau cuma Rp25 juta, kenapa Tante tidak minta langsung kepada Paman?”
Nada suaranya berubah.
“Nadia, kamu sekarang sudah menikah. Jangan pelit sama keluarga sendiri.”
Aku menggenggam ponsel lebih kuat.
Kemudian terdengar suara Raka dari belakang.
“Ma, bilang sama Mbak Nadia jangan sok susah. Dia nikah sama orang berada.”
Aku menutup mata.
Tante Mira mungkin mengira aku tidak mendengar.
“Nadia, pokoknya Tante tunggu kabar malam ini.”
Sebelum sambungan terputus, aku mengatakan satu kalimat.
“Tante, kalau Paman cuma memberi saya Rp25 juta, kenapa Tante kelihatannya begitu takut saya bertanya langsung kepadanya?”
Telepon langsung dimatikan.
Aku berdiri sendirian di lorong kantor.
Dan untuk pertama kalinya dalam setahun, aku sadar bahwa rahasia Rp450 juta itu mungkin bukan sekadar hadiah pernikahan.
Malamnya, aku menelepon Paman Arif.
Telepon baru tersambung pada dering kelima.
“Nadia?”
Aku langsung bertanya.
“Paman, Tante Mira minta uang pernikahan saya untuk uang muka rumah Raka.”
Sunyi.
Lama sekali.
Kemudian suara Paman Arif terdengar pelan.
“Dia minta berapa?”
“Dia bilang Rp25 juta.”
Napas Paman terdengar berat.
Aku menunggu.
Lalu ia mengatakan sesuatu yang membuat seluruh tubuhku dingin.
“Nadia… jangan transfer satu rupiah pun. Dan apa pun yang terjadi malam ini, jangan sampai Dimas tahu jumlah sebenarnya.”
Aku terdiam.
“Kenapa?”
Paman Arif menarik napas.
“Karena Rp450 juta itu bukan uang Paman.”
“Lalu uang siapa?”
Suara Paman nyaris berbisik.
“Itu uang ibumu.”
#DramaKeluarga #KisahPernikahan #RahasiaKeluarga #PengkhianatanSuami #CeritaIndonesia
Bagian 2 — Ketika Bibiku Menagih Uang Pernikahan, Satu Pertanyaan tentang Paman Membuka Kebohongan Lama dan Membuatku Menyelidiki Rekening Suamiku Sendiri Malam Itu
Aku tidak langsung mengerti.
“Ibu sudah meninggal enam tahun lalu.”
“Aku tahu.”
“Jadi maksud Paman apa?”
Paman Arif meminta kami bertemu keesokan paginya di sebuah warung kopi dekat Kotabaru.
Ia datang sendirian membawa map biru yang warnanya sudah pudar.
Di dalamnya ada fotokopi sertifikat tanah, bukti penjualan, dan surat tulisan tangan ibuku.
Sebelum meninggal, Ibu ternyata memiliki sebidang tanah warisan di Kulon Progo.
Saat sakit, ia menitipkan pengurusan tanah itu kepada Paman Arif.
Tanah tersebut baru berhasil dijual dua tahun lalu.
Setelah pajak dan biaya lain, bagian milik Ibu yang seharusnya jatuh kepadaku adalah sekitar Rp430 juta.
Paman menambahkan Rp20 juta dari uangnya sendiri.
“Itulah Rp450 juta itu.”
Aku hampir tidak bisa bicara.
“Kenapa tidak bilang sejak awal?”
Paman menunduk.
“Karena Tante Mira tahu tanah itu sudah terjual.”
Dadaku langsung menegang.
“Dia mengira uangnya sudah Paman masukkan ke usaha.”
Paman tersenyum pahit.
“Dia mau uang itu dipakai membantu Raka membeli rumah.”
Aku menatap surat tulisan tangan Ibu.
Di bagian bawah tertulis:
Untuk Nadia. Jangan biarkan siapa pun menentukan hidupmu hanya karena mereka pernah memberimu tempat bergantung.
Mataku panas.
Selama ini kukira itu hadiah dari Paman.
Ternyata ia hanya mengembalikan sesuatu yang memang milikku.
“Kenapa Paman bilang cuma Rp25 juta?”
“Supaya Tante Mira berhenti menghitung uangmu.”
Sebelum kami berpisah, Paman berkata satu hal lagi.
“Paman juga tidak tahu keadaan rumah tanggamu. Tapi ibumu menyimpan uang ini untuk memastikan kamu selalu punya jalan pulang.”
Kalimat itu terus terngiang saat aku kembali ke rumah.
Dan malam itu, tanpa sengaja, aku melihat jalan pulang itu memang akan kubutuhkan.
Dimas sedang mandi.
Ponselnya tertinggal di sofa karena sedang diisi daya.
Aku tidak membuka WhatsApp.
Aku hanya melihat notifikasi aplikasi bank yang muncul di layar.
“Transfer berhasil Rp7.500.000.”
Penerima: Salsa Anindita.
Jantungku berdegup keras.
Beberapa detik kemudian muncul notifikasi berikutnya.
“Pembayaran angsuran Apartemen Aruna Residence.”
Aku merasa telingaku berdenging.
Dimas keluar dari kamar mandi.
Begitu melihat wajahku, ia langsung mengambil ponselnya.
“Kamu buka HP aku?”
“Siapa Salsa sebenarnya?”
Ia mendesah.
“Mulai lagi.”
“Aku lihat transfer.”
Wajahnya berubah.
Hanya sedikit.
Tapi cukup.
“Itu urusan kantor.”
“Angsuran apartemen juga urusan kantor?”
Dimas terdiam.
Kemudian ia marah.
Bukan menjelaskan.
Marah.
“Kamu sekarang memeriksa rekening suami sendiri?”
Aku justru menjadi lebih tenang.
“Kalau tidak ada yang kamu sembunyikan, kenapa kamu panik?”
Dimas menunjuk ke arahku.
“Jangan bikin rumah ini seperti ruang interogasi.”
Ia mengambil kunci mobil dan pergi.
Dua puluh menit kemudian Bu Ratna meneleponku.
“Nadia, kamu bertengkar sama Dimas?”
Aku belum mengatakan apa pun kepada siapa pun.
Berarti Dimas langsung menelepon ibunya.
Bu Ratna mulai membelanya.
“Salsa itu teman lama keluarga. Jangan cemburuan.”
Aku menggenggam ponsel.
“Bu Ratna tahu Dimas membayar cicilan apartemennya?”
Hening.
Jawabannya datang terlambat.
“Dimas cuma membantu.”
Saat itu juga aku tahu.
Mereka semua tahu.
Aku mulai memeriksa dokumen keuangan kami.
Selama menikah, Dimas selalu mengatakan sebagian besar gajinya masuk investasi kantor.
Namun dari mutasi rekening bersama, aku menemukan transfer rutin ke rekening lain hampir setiap bulan.
Rp5 juta.
Rp7 juta.
Rp8,5 juta.
Jumlahnya sudah lebih dari Rp80 juta dalam sepuluh bulan.
Dan yang paling membuatku muak, sebagian berasal dari uang yang kukirim ke rekening bersama untuk biaya rumah.
Keesokan harinya aku menemui pihak pengelola Aruna Residence.
Aku tidak bisa meminta data pribadi pembeli.
Namun aku tidak perlu.
Saat keluar dari lobby, aku melihat Salsa.
Ia sedang berjalan bersama Dimas.
Dimas membawa dua gelas kopi.
Salsa memegang kunci unit.
Mereka tertawa.
Dimas lalu mengusap sesuatu di rambut perempuan itu dengan gerakan yang terlalu akrab untuk disebut hubungan kerja.
Aku tidak mendekat.
Aku mengambil foto.
Satu.
Dua.
Tiga.
Kemudian aku pulang.
Malamnya Tante Mira menelepon lagi.
Kali ini tidak memakai suara manis.
“Besok transfer Rp25 juta itu. Raka harus bayar booking rumah.”
“Tante sudah bicara dengan Paman?”
“Nadia!”
“Apa?”
“Jangan kurang ajar.”
Aku hampir tertawa.
“Uang itu milik saya.”
Tante Mira langsung berteriak.
“Kalau bukan karena keluarga kami, ibumu dulu sudah tidak punya siapa-siapa!”
Kalimat itu membuatku berhenti.
“Apa Tante bilang?”
Ia terlambat menyadari kesalahannya.
Aku berkata pelan.
“Besok kita bicara bersama Paman.”
“Tidak perlu!”
“Perlu.”
Lalu aku menambahkan,
“Sekalian panggil Raka. Saya juga akan membawa Dimas dan Bu Ratna.”
Tante Mira terdiam.
“Kamu mau bikin masalah keluarga jadi tontonan?”
“Bukan.”
Aku memandang tiga foto Dimas dan Salsa yang baru saja kucetak.
“Saya cuma ingin semua orang yang merasa berhak atas uang saya hadir ketika saya menjelaskan uang siapa yang selama ini sebenarnya mereka incar.”
Aku menutup telepon.
Belum sempat meletakkan ponsel, sebuah pesan dari nomor tidak dikenal masuk.
Foto pertama menunjukkan Dimas masuk ke apartemen Salsa.
Foto kedua memperlihatkan Bu Ratna duduk makan bersama mereka.
Di bawahnya hanya ada satu kalimat:
“Mbak Nadia, mereka bukan baru melakukan ini. Saya tetangga unit sebelah. Dimas sudah sering menginap di sini sejak sebelum pernikahan kalian.”
Tanganku menjadi dingin.
Lalu satu foto terakhir masuk.
Salsa sedang mengenakan gelang emas.
Aku mengenali gelang itu.
Karena gelang tersebut adalah hadiah pernikahan dari almarhumah ibuku yang selama enam bulan ini dikatakan Dimas “hilang saat dibawa ke toko untuk diperbaiki”.
Saat itulah aku berhenti menangis.
Aku membuka lemari.
Mengambil koper.
Dan memasukkan semua bukti ke dalamnya.
Besok, bukan hanya Tante Mira yang akan mengetahui apa sebenarnya isi amplop pernikahanku.
Dimas juga akan mengetahui bahwa perempuan yang ia anggap terlalu takut kehilangan rumah tangga ternyata sudah memiliki cukup bukti untuk meninggalkannya tanpa membawa satu rupiah pun yang bukan miliknya.
Bagian 3 — Di Hadapan Dua Keluarga, Bukti Transfer dan Pesan Rahasia Membuat Mereka Kehilangan Segalanya, sementara Aku Memulai Hidup Baru Tanpa Hutang Budi
Pertemuan dilakukan di rumah Paman Arif.
Tante Mira duduk dengan wajah masam.
Raka berada di sebelahnya.
Dimas datang bersama Bu Ratna.
Mereka semua mengira pembicaraan hanya mengenai Rp25 juta.
Aku datang terakhir bersama Paman Arif.
Sebuah map biru ada di tanganku.
Begitu aku duduk, Tante Mira langsung bicara.
“Nadia, Tante tidak suka caramu memperbesar masalah kecil.”
Aku meletakkan map di meja.
“Kalau kecil, kenapa semua orang sampai dikumpulkan?”
Raka mendecakkan lidah.
“Mbak, cuma pinjam Rp25 juta.”
Aku menatapnya.
“Siapa bilang uangnya Rp25 juta?”
Ruangan langsung diam.
Tante Mira menatap Paman Arif.
Wajahnya berubah.
Paman membuka suara.
“Yang kuberikan kepada Nadia Rp450 juta.”
Bu Ratna hampir berdiri.
“Apa?”
Dimas menoleh cepat kepadaku.
“Empat ratus lima puluh juta?”
Aku tidak menjawabnya.
Tante Mira langsung menatap suaminya.
“Kamu bohong sama aku?”
Paman Arif menggeleng.
“Uang itu bukan uangku.”
Ia mengeluarkan salinan surat tanah.
“Ini hasil penjualan bagian tanah milik almarhumah Mbak Sari. Uangnya hak Nadia.”
Tante Mira pucat.
“Bukannya tanah itu sudah masuk modal usaha?”
“Tidak pernah.”
“Kamu bilang—”
“Aku bilang urusannya sudah selesai. Bukan uangnya menjadi milik kita.”
Raka mulai terlihat panik.
“Terus rumahku bagaimana?”
Paman menatap putranya.
“Rumahmu tanggung jawabmu.”
Tante Mira memukul meja.
“Arif! Anakmu sendiri mau beli rumah!”
Paman tidak meninggikan suara.
“Dan Nadia adalah anak kakakku yang sudah meninggal. Aku hanya mengembalikan haknya.”
Tante Mira berbalik kepadaku.
“Kamu sudah punya suami. Untuk apa perempuan pegang uang sebanyak itu sendiri?”
Aku hampir tersenyum.
Kalimat itu seperti membuka pintu untuk bagian kedua.
“Bagus Tante menyinggung suami.”
Aku mengeluarkan beberapa lembar mutasi rekening.
Dimas langsung menegang.
“Apa ini?”
“Lebih dari Rp80 juta uang rumah tangga kita ditransfer ke Salsa dalam sepuluh bulan.”
Bu Ratna menyela.
“Itu bukan urusan keluarga ini.”
Aku mengeluarkan foto.
Dimas dan Salsa di lobby apartemen.
Dimas memegang kopi.
Dimas masuk ke unit Salsa.
Lalu foto Bu Ratna makan bersama mereka.
Aku meletakkannya satu per satu.
“Sekarang sudah menjadi urusan saya.”
Dimas berdiri.
“Nadia, kita bisa bicara di rumah.”
“Rumah mana?”
Aku menatapnya.
“Rumah kita, atau apartemen Salsa?”
Tidak ada yang bergerak.
Bu Ratna akhirnya berkata,
“Dimas cuma membantu Salsa karena perempuan itu hidup sendiri.”
Aku mengeluarkan foto terakhir.
Gelang emas milik ibuku berada di pergelangan Salsa.
“Apa membantu orang hidup sendiri juga berarti memberikan barang peninggalan ibu istri?”
Wajah Dimas benar-benar kehilangan warna.
“Nadia, dengarkan dulu—”
“Aku sudah mendengarkan selama setahun.”
Aku berdiri.
“Sekarang giliran kalian.”
Aku menjelaskan bahwa pagi itu aku sudah berkonsultasi dengan pengacara.
Rekening bersama kami telah kubekukan untuk penarikan sepihak sesuai prosedur bank sampai pembagian dana jelas.
Bukti transfer telah disalin.
Bukti kepemilikan gelang kusimpan.
Aku juga sudah meninggalkan rumah.
“Dan deposito Rp450 juta?”
Dimas menatapku.
Aku tersenyum tipis.
“Tidak pernah menjadi harta yang kamu kelola. Dana itu berasal dari hak waris Ibu dan sudah terdokumentasi sebelum kamu mengetahuinya.”
Untuk pertama kalinya, Dimas terlihat benar-benar takut.
Bukan takut kehilangan aku.
Takut kehilangan uang yang baru lima menit lalu ia tahu keberadaannya.
“Nadia, jangan terburu-buru soal perceraian.”
Aku memandang lelaki yang selama setahun kupanggil suami.
“Aneh.”
“Apa?”
“Waktu kukira kamu selingkuh, kamu marah. Waktu aku menemukan bukti transfer, kamu pergi. Tapi begitu dengar aku punya Rp450 juta, tiba-tiba kamu ingin menyelamatkan pernikahan.”
Ia tidak mampu menjawab.
Paman Arif menunduk.
Raka juga diam.
Pertemuan itu berakhir jauh lebih cepat daripada yang dibayangkan Tante Mira.
Ia tidak mendapatkan Rp25 juta.
Apalagi Rp450 juta.
Paman Arif juga membatalkan rencana menjual salah satu aset usahanya untuk membantu uang muka rumah Raka.
“Kalau ingin rumah,” katanya kepada anaknya, “menabunglah.”
Dua bulan kemudian Raka membatalkan pembelian karena tidak mampu menutup uang muka.
Tante Mira tidak berbicara denganku hampir setahun.
Aku tidak mengejarnya.
Sementara itu, proses perceraianku berjalan.
Dimas akhirnya mengakui hubungannya dengan Salsa sudah melewati batas sebelum pernikahan kami.
Hubungan itu kemudian berakhir bahkan sebelum perceraian kami selesai.
Aku mendengar Salsa marah setelah mengetahui apartemen yang selama ini dikira akan dibantu lunas ternyata masih penuh cicilan dan Dimas tidak memiliki tabungan sebanyak yang ia katakan.
Bu Ratna beberapa kali menghubungiku.
Awalnya menyalahkan.
Kemudian membujuk.
Terakhir meminta maaf.
Aku menerima permintaan maafnya.
Tetapi tidak kembali.
Gelang milik Ibu dikembalikan setelah pengacaraku mengirimkan permintaan resmi disertai bukti foto dan bukti pembelian lama.
Gelang itu sekarang kusimpan di kotak kecil bersama surat tulisan tangan Ibu.
Sedangkan Rp450 juta?
Aku tidak menghabiskannya untuk membalas siapa pun.
Sebagian kujadikan uang muka sebuah rumah kecil di Bantul.
Bukan rumah mewah.
Dua kamar.
Halaman sempit.
Ada pohon mangga kecil di depan.
Sebagian lagi tetap kusimpan sebagai dana darurat.
Enam bulan setelah pindah, Paman Arif datang membawa satu pot tanaman melati.
Kami duduk di teras.
Ia memandangi rumah itu lama sekali.
“Ibumu pasti senang.”
Aku tersenyum.
“Dulu saya sempat berpikir Paman memberi saya terlalu banyak.”
Paman menggeleng.
“Paman tidak memberi apa-apa.”
Ia melihat ke halaman.
“Paman cuma memastikan sesuatu yang ditinggalkan ibumu akhirnya sampai kepada orang yang tepat.”
Aku menatap gelang di pergelangan tanganku.
Dulu aku mengira amplop tebal pada hari pernikahanku adalah sebuah rahasia yang harus kutakuti.
Ternyata bukan.
Amplop itu adalah pintu keluar yang disiapkan ibuku jauh sebelum aku sadar bahwa suatu hari aku mungkin membutuhkannya.
Dan orang-orang yang paling keras menuntut uang itu akhirnya memberiku satu pelajaran sederhana:
Keluarga yang benar-benar mencintaimu tidak pernah menghitung berapa banyak uang yang bisa mereka ambil darimu.
Mereka justru memastikan, ketika semua pintu tertutup, kamu masih memiliki satu kunci untuk membuka hidupmu sendiri.

