Sebelum Menikah Aku Diam-Diam Mengunci Tabunganku Lewat Notaris—Sepuluh Hari Kemudian Suami dan Ibunya Membawaku ke Bank untuk Memindahkan Separuhnya, Tanpa Tahu Satu Dokumen Sudah Menunggu
Bagian 1 — Sepuluh Hari Setelah Akad, Mertuaku Membuka Data Tabunganku dan Meminta Separuhnya Dipindahkan, Sementara Suamiku Justru Menyodorkan Pulpen
Sepuluh hari setelah akad nikah, suamiku membawaku ke sebuah bank di Surabaya.
Ibunya sudah menunggu di sana.
Di atas meja customer service ada map cokelat, fotokopi KTP-ku, dan sebuah formulir pemindahan dana yang beberapa bagiannya sudah diisi.
Nominalnya membuatku berhenti bernapas selama beberapa detik.
Rp630 juta.
Tepat separuh dari tabungan yang kukumpulkan sebelum menikah.
Yang paling membuatku dingin bukan angka itu.
Melainkan tanda tangan suamiku yang sudah tergores di bagian bawah sebagai pihak yang mengetahui.
Namaku tinggal satu.
Aku menoleh kepada lelaki yang baru sepuluh hari kupanggil suami.
“Ini apa, Mas?”
Wajah Dimas langsung menegang.
Namun sebelum dia menjawab, ibu mertuaku, Bu Ratih, menarik kursi di sebelahnya sambil tersenyum.
“Duduk dulu, Naya. Jangan langsung berpikir macam-macam. Kita keluarga.”
Kalimat “kita keluarga” itulah yang selama sepuluh hari terakhir paling sering kudengar.
Dan anehnya, setiap kalimat itu muncul, selalu ada sesuatu milikku yang ingin mereka atur.
Namaku Anindya, biasa dipanggil Naya.
Aku bekerja sebagai koordinator pelatihan bahasa Inggris di sebuah lembaga pendidikan di Surabaya. Selama tujuh tahun bekerja, aku hidup cukup sederhana. Aku masih memakai motor yang kubeli saat pertama kali mendapat kontrak tetap, jarang membeli barang bermerek, dan hampir seluruh bonus tahunan kusimpan.
Ketika ayah meninggal tiga tahun lalu, aku juga menerima bagian dari hasil penjualan sebidang tanah kecil milik keluarga di Sidoarjo.
Total uang yang terkumpul sebelum aku menikah dengan Dimas mencapai sekitar Rp1,26 miliar.
Dimas tidak pernah tahu angka persisnya.
Dia hanya tahu aku punya tabungan.
Aku sengaja tidak menyembunyikan fakta bahwa aku memiliki uang sendiri, tetapi aku juga tidak pernah merasa wajib menunjukkan saldo rekeningku.
Sebelum menikah, kami sudah bicara.
Penghasilan pribadi tetap dikelola masing-masing.
Biaya rumah dibagi sesuai kemampuan.
Pembelian besar dibicarakan bersama.
Aku bahkan pernah bertanya langsung kepadanya saat kami makan malam dua bulan sebelum akad.
“Kalau nanti menikah, kamu keberatan kalau aku tetap punya rekening sendiri?”
Dimas tertawa.
“Kenapa harus keberatan? Aku juga punya rekening sendiri. Nikah bukan berarti semua harus dicampur.”
Aku mempercayai jawabannya.
Tapi ibuku tidak.
Tiga minggu sebelum pernikahan, Ibu memintaku menemui seorang notaris kenalan keluarga.
Awalnya aku tersinggung.
“Ibu pikir Dimas mau mengambil uangku?”
Ibu hanya menjawab tenang.
“Ibu tidak mengenal masa depan. Dokumen bukan dibuat karena kita membenci seseorang. Dokumen dibuat supaya ketika manusia berubah, fakta tidak ikut berubah.”
Kalimat itu terus teringat di kepalaku.
Akhirnya aku membuat pencatatan resmi mengenai aset yang kumiliki sebelum pernikahan sekaligus perjanjian pemisahan harta yang disusun secara sah. Dokumen itu kemudian kami urus sesuai prosedur agar tercatat sebagai bagian dari perjanjian perkawinan kami.
Dimas mengetahuinya.
Tapi dia tidak tahu rincian saldo setiap rekeningku.
Saat menandatangani dokumen sebelum akad, dia bahkan bercanda.
“Serius sekali kamu.”
Aku menjawab, “Supaya nanti kita tidak ribut soal uang.”
Dia tersenyum.
“Justru bagus.”
Aku menyimpan satu salinan akta di rumah Ibu dan satu lagi di safe deposit box.
Kupikir perkara itu selesai.
Ternyata itu baru permulaan.
Pada tiga hari pertama setelah menikah, Bu Ratih sangat baik kepadaku.
Ia datang membawa rawon, membantu mencuci gorden, bahkan membeli dua set wadah makanan baru untuk apartemen kami.
Hari keempat, ia mulai bertanya.
“Naya, gajimu masuk tanggal berapa?”
Aku menjawab sambil tertawa kecil, “Akhir bulan, Bu.”
Hari kelima:
“Kalau bonus tahunan biasanya berapa?”
Hari keenam:
“Deposito sekarang bunganya berapa, ya?”
Hari ketujuh, aku pulang kerja dan mendapati Bu Ratih sedang membuka laci meja kerjaku.
Ia langsung menutupnya.
“Ibu cari charger.”
Padahal charger ponsel berada di ruang tamu.
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Malamnya, aku bertanya kepada Dimas.
“Mas, Ibu tadi buka laci dokumenku.”
Dimas sedang bermain ponsel.
“Mungkin nggak sengaja.”
“Dia bilang cari charger.”
“Ya mungkin lupa charger ditaruh di mana.”
Aku menatapnya.
“Aku taruh charger di meja TV.”
Dimas menghela napas.
“Naya, jangan bikin hal kecil jadi besar. Ibu cuma penasaran. Dia memang begitu.”
Aku diam.
Dua hari kemudian, hal yang jauh lebih aneh terjadi.
Aku menerima notifikasi bahwa akun mobile banking-ku sempat mengalami percobaan login dari perangkat baru.
Tidak berhasil.
Aku segera mengganti PIN dan kata sandi.
Ketika kutanyakan kepada Dimas apakah dia pernah mencoba masuk, wajahnya sempat berubah.
“Buat apa aku masuk rekeningmu?”
Aku tidak menjawab.
Malam itu aku memindahkan buku tabungan, kartu cadangan, dokumen deposito, dan beberapa berkas penting dari apartemen ke rumah ibuku.
Dimas tidak tahu.
Keesokan paginya, Bu Ratih menelepon.
Suaranya manis seperti biasa.
“Naya, Sabtu nanti jangan buat acara, ya. Ibu mau ajak kalian ke bank. Ada urusan keluarga.”
“Urusan apa, Bu?”
“Nanti saja. Lebih enak dibicarakan langsung.”
Aku langsung tahu ini bukan tentang makan siang.
Namun aku tetap datang.
Dan sekarang aku duduk di depan formulir pemindahan Rp630 juta.
Bu Ratih merapikan ujung jilbabnya.
“Ibu jelaskan, ya. Dimas sedang mempertimbangkan membeli rumah tapak di daerah Wiyung. Apartemen kalian terlalu kecil kalau nanti punya anak.”
Aku menatap Dimas.
“Kita belum pernah membicarakan beli rumah.”
Dimas menunduk sebentar.
“Makanya sekarang dibicarakan.”
Bu Ratih melanjutkan.
“Harga rumah yang bagus sekitar Rp1,7 miliar. Dimas punya dana, tapi belum cukup. Ibu juga akan membantu. Kalau kamu masukkan Rp630 juta ke rekening keluarga, semuanya akan lebih mudah.”
“Kenapa harus Rp630 juta?”
Pertanyaanku membuat keduanya diam sepersekian detik.
Kemudian Bu Ratih tersenyum lagi.
“Ya… kira-kira saja.”
Aku menarik formulir itu lebih dekat.
Rp630.000.000.
Bukan Rp600 juta.
Bukan Rp650 juta.
Persis separuh saldoku.
Aku mengangkat wajah.
“Siapa yang memberi tahu Ibu jumlah tabunganku?”
Bu Ratih berhenti tersenyum.
Dimas langsung menyela.
“Naya, jangan fokus ke situ dulu.”
Aku tertawa pendek.
“Justru itu satu-satunya hal yang mau kubahas.”
Suasana meja berubah.
Petugas bank yang duduk di depan kami pura-pura memeriksa monitor.
Bu Ratih merendahkan suara.
“Naya, setelah menikah jangan terlalu hitung-hitungan. Suami istri itu harus terbuka.”
“Terbuka berarti meminta?”
“Bukan meminta. Menggabungkan.”
“Kenapa rekening tujuan hanya atas nama Dimas?”
Dimas langsung mengambil formulir dari tanganku.
“Nanti bisa ditambahkan.”
Aku menunjuk kolom rekening.
“Itu rekening pribadi kamu.”
“Naya…”
“Dan rumah yang katanya mau dibeli itu atas nama siapa?”
Bu Ratih menjawab cepat.
“Atas nama Dimas dulu. Lebih praktis.”
Aku menatap keduanya bergantian.
Tiba-tiba semuanya terasa sangat jelas.
Percobaan membuka laci.
Pertanyaan tentang deposito.
Percobaan login mobile banking.
Sekarang formulir pemindahan separuh tabunganku.
Ini bukan keputusan yang muncul pagi tadi.
Mereka sudah merencanakannya.
Aku berdiri.
Bu Ratih langsung menahan tanganku.
“Naya, duduk.”
Aku menarik tanganku perlahan.
“Tidak, Bu.”
Dimas ikut berdiri.
Wajahnya mulai memerah.
“Kamu mempermalukan kami di depan orang.”
“Aku?”
Aku nyaris tertawa.
“Mas, kalian membawa fotokopi identitasku, mengetahui saldo rekeningku tanpa izin, mengisi formulir pemindahan uangku, lalu sekarang aku yang mempermalukan kalian?”
Dimas mendekat dan berbicara melalui gigi yang terkatup.
“Kamu istriku.”
“Lalu?”
“Aku punya hak tahu kondisi keuangan keluarga.”
“Mengetahui tidak sama dengan mengambil.”
Bu Ratih akhirnya kehilangan nada lembutnya.
Ia memukul meja kecil dengan ujung jari.
“Uang sebanyak itu untuk apa kamu simpan sendiri? Kamu sudah menikah. Mau berjaga-jaga kalau suatu hari cerai?”
Aku membeku.
Bukan karena takut.
Karena kalimat itu akhirnya membuktikan sesuatu.
Aku memandang Dimas.
“Mas, menurut kamu juga begitu?”
Dia tidak langsung menjawab.
Namun kemudian tangannya mengambil pulpen dari meja.
Dia meletakkannya tepat di depan formulir.
“Naya, transfer saja dulu.”
Dadaku serasa ditimpa benda berat.
Dimas melanjutkan.
“Ini cuma separuh. Separuh lagi tetap kamu pegang.”
Aku menatap pulpen itu.
Lalu wajah lelaki yang sepuluh hari lalu mengucapkan ijab kabul.
“Kalau aku menolak?”
Dimas mengusap wajahnya kasar.
“Jangan bikin aku memilih antara kamu dan Ibu untuk masalah yang sebenarnya sederhana.”
Bu Ratih menyandarkan tubuh.
“Kalau dari awal kamu tidak siap menyatukan kehidupan dengan anak saya, seharusnya jangan menikah.”
Aku memasukkan ponsel ke tas.
Kemudian aku mengambil formulir itu.
Kurobek menjadi dua.
Lalu empat.
Wajah Bu Ratih seketika berubah.
“NAYA!”
Aku meletakkan sobekan kertas di meja.
“Bu, saya memang menyiapkan jalan keluar sebelum menikah.”
Dimas menatapku tajam.
“Maksud kamu?”
Aku tersenyum untuk pertama kalinya pagi itu.
“Dan sekarang saya bersyukur sekali sudah melakukannya.”
Sebelum pergi, aku menatap Dimas tepat di mata.
“Pulanglah dulu. Malam ini kita bicara.”
“Bicara apa?”
Aku membuka pintu ruang pelayanan.
“Bicara tentang siapa yang membocorkan saldo rekeningku.”
“Dan kenapa orang itu sebaiknya mulai menyiapkan penjelasan.”
Malam itu, saat aku pulang ke apartemen, ternyata Bu Ratih sudah lebih dulu berada di sana.
Di meja makan tergeletak map biru milikku yang seharusnya tersimpan di lemari terkunci.
Kuncinya patah.
Dan di tangan Dimas ada fotokopi halaman pertama akta notaris yang kubuat sebelum menikah.
Wajahnya gelap.
“Naya.”
Dia mengangkat dokumen itu.
“Kamu dari awal memang sudah merencanakan kalau pernikahan kita gagal, ya?”
Aku belum sempat menjawab ketika Bu Ratih melemparkan satu lembar kertas lain ke meja.
Kertas itu membuat darahku mendidih.
Surat tersebut bukan milikku.
Itu rancangan perjanjian utang.
Debitur: Dimas Prasetyo.
Jumlah: Rp580 juta.
Tujuan penggunaan dana: modal usaha keluarga.
Dan di bagian jaminan tertulis sesuatu yang tidak pernah kusetujui.
“Dana milik istri.”
Saat itulah aku sadar.
Mereka bukan cuma mengincar separuh tabunganku.
Mereka sudah mencoba menjadikan uangku jaminan untuk utang yang bahkan tidak pernah kuketahui.
Aku menutup pintu apartemen perlahan.
“Baik,” kataku.
“Sekarang jangan ada yang pulang dulu.”
“Karena malam ini kita selesaikan semuanya.”
#DramaKeluarga #KisahRumahTangga #MertuaDanMenantu #SuamiIstri #CeritaViral
Bagian 2 — Dokumen Utang Itu Membuka Rencana Sebenarnya, dan Satu Rekaman Suamiku Membuat Alasan “Demi Keluarga” Terdengar Jauh Lebih Kotor
Aku duduk di kursi makan.
Dimas masih memegang salinan akta notaris.
Bu Ratih berdiri di dekat jendela dengan tangan terlipat.
Tidak ada lagi senyum hangat.
Tidak ada lagi suara lembut seorang ibu yang katanya hanya ingin membantu anaknya.
“Jelaskan surat utang ini,” kataku.
Dimas menjawab cepat.
“Itu baru draft.”
“Kenapa uangku ditulis sebagai jaminan?”
“Belum dipakai.”
“Kenapa ditulis kalau aku belum pernah setuju?”
Bu Ratih memotong.
“Karena kalau usaha ini jadi, kamu juga akan menikmati hasilnya.”
Aku menatapnya.
“Usaha apa?”
Keheningan muncul.
Akhirnya Dimas menjawab.
Adik laki-lakinya, Fajar, ternyata ingin membuka distributor bahan bangunan bersama seorang teman.
Modal awal yang mereka butuhkan hampir Rp1,4 miliar.
Bu Ratih sudah menjanjikan bahwa Dimas akan menyediakan Rp600 juta.
Masalahnya, Dimas tidak punya uang sebanyak itu.
Tabungannya hanya sekitar Rp170 juta.
Sebagian bahkan masih dialokasikan untuk cicilan mobil.
“Jadi sejak kapan kalian memutuskan tabunganku akan menutup kekurangannya?”
“Nggak seperti itu.”
“Sejak kapan?”
Dimas menghantam meja.
“Jangan interogasi aku!”
Aku justru semakin tenang.
“Kalau kamu tidak bisa menjawab, berarti cukup lama.”
Bu Ratih maju satu langkah.
“Fajar itu adiknya. Kalau usaha maju, keluarga kita juga maju.”
“Keluarga kita?”
Aku menunjuk diriku sendiri.
“Termasuk saya?”
“Tentu.”
“Kalau begitu kenapa satu pun saham perusahaan tidak atas nama saya?”
Bu Ratih terdiam.
Aku mengambil draft utang.
“Kenapa semua keuntungan untuk Fajar dan partnernya, tetapi uang jaminannya milik saya?”
“Jangan bicara seperti orang luar!” bentaknya.
Aku tersenyum pahit.
“Justru kalian yang memperlakukan saya seperti dompet dari luar.”
Dimas membuang napas keras.
“Naya, sudah. Kita bisa perbaiki detailnya.”
“Tidak ada yang perlu diperbaiki.”
Aku membuka tas.
Mengeluarkan sebuah map tipis berwarna hitam.
Wajah Dimas berubah ketika melihat cap notaris.
“Apa lagi itu?”
“Salinan lengkap yang tadi kamu cari.”
Aku meletakkannya di meja.
“Semua aset yang kumiliki sebelum pernikahan sudah dicatat. Rekening, deposito, hasil penjualan aset keluarga, semuanya.”
Bu Ratih langsung membalik beberapa halaman dengan cepat.
Wajahnya semakin tegang.
“Ini maksudnya uangmu benar-benar dipisahkan?”
“Benar.”
“Dimas tanda tangan?”
“Benar.”
Ia menoleh tajam kepada anaknya.
Dimas langsung membela diri.
“Waktu itu aku nggak tahu jumlahnya sebesar ini!”
Kalimat itu membuat ruangan sunyi.
Aku menatapnya lama.
“Jadi masalahmu bukan perjanjiannya.”
“Tapi karena setelah tahu jumlah uangku, kamu menyesal sudah menandatangani.”
Dimas tidak menjawab.
Aku kembali bertanya.
“Sekarang pertanyaan kedua. Dari mana Ibu tahu saldo rekeningku?”
Bu Ratih memalingkan wajah.
Aku mengambil ponsel.
“Aku sudah meminta bank memeriksa jejak akses yang mencurigakan. Besok aku juga akan membuat laporan resmi jika diperlukan.”
Wajah Dimas langsung pucat.
“Nggak usah dibesar-besarkan.”
Aku menatapnya.
“Kenapa takut kalau kalian tidak melakukan apa-apa?”
Beberapa detik kemudian, Dimas duduk.
Bahunya jatuh.
Akhirnya ia mengaku.
Dua minggu sebelum pernikahan, ketika aku meminta bantuannya mencetak dokumen melalui laptopku, ia menemukan foto halaman ringkasan deposito yang pernah kusimpan untuk kebutuhan pajak.
Dia memotretnya.
Setelah menikah, dia menunjukkan foto itu kepada ibunya.
Bu Ratih lalu menghitung kira-kira total asetku.
“Tapi kami nggak membobol bank kamu,” katanya cepat.
Aku tertawa tanpa suara.
Seolah fakta bahwa mereka hanya menggeledah dokumen pribadiku membuat semuanya lebih baik.
Kemudian Dimas melakukan kesalahan terbesar malam itu.
Ponselnya berbunyi.
Sebuah pesan suara masuk dari Fajar.
Dimas buru-buru mengambilnya.
Namun terlambat.
Notifikasi muncul di layar yang menghadap ke arahku.
Aku sempat membaca potongan pesannya.
“Mas, kalau Mbak Naya masih keras, bilang saja rumah mau dibeli. Jangan bahas modal toko dulu…”
Aku menatap Dimas.
Dia langsung mematikan layar.
“Buka.”
“Nggak perlu.”
“Buka, Mas.”
“Itu obrolan pribadi.”
Aku tertawa pendek.
“Uangku boleh menjadi urusan keluargamu, tapi percakapan kalian tiba-tiba pribadi?”
Bu Ratih mencoba meraih ponsel itu.
Aku lebih cepat.
Bukan mengambilnya.
Aku hanya menyalakan perekam suara di ponselku sendiri dan meletakkannya di meja.
“Silakan lanjut.”
Bu Ratih menunjuk wajahku.
“Kamu mengancam kami?”
“Tidak. Saya memastikan besok tidak ada yang bilang percakapan malam ini tidak pernah terjadi.”
Dimas akhirnya meledak.
“Ya! Kami memang mau pakai sebagian uang itu buat Fajar!”
Aku diam.
“Puas?”
“Belum.”
“Fajar sudah keluar dari pekerjaannya. Kesempatan bisnis ini cuma sekali. Kamu punya uang menganggur lebih dari satu miliar sementara keluarga suamimu butuh modal. Salahnya di mana?”
Aku hampir tidak mengenali orang di depanku.
“Kesalahannya karena kamu berbohong tentang rumah.”
“Karena kalau bilang soal Fajar, kamu pasti menolak!”
“Benar.”
“Nah!”
Dimas mengangkat kedua tangannya seolah baru membuktikan sesuatu.
“Makanya Ibu bilang harus dilakukan pelan-pelan.”
Aku merasa dadaku dingin.
Bukan lagi marah.
Lebih buruk.
Aku sudah selesai.
Aku berdiri.
Mengambil beberapa pakaian penting yang sejak siang sebenarnya sudah kukemas.
Dimas melihat koper kecilku keluar dari kamar.
Ekspresinya berubah.
“Kamu mau ke mana?”
“Rumah Ibu.”
“Kita baru menikah sepuluh hari!”
“Dan dalam sepuluh hari itu kamu mencoba menjadikan tabunganku modal usaha adikmu.”
Dimas menahan koperku.
“Kamu keluar dari pintu ini, jangan harap semuanya bisa kembali seperti dulu.”
Aku melepaskan tangannya.
“Itulah rencananya.”
Bu Ratih mendengus.
“Kamu kira karena punya uang kamu bisa seenaknya meninggalkan suami?”
Aku berhenti di pintu.
“Bukan karena saya punya uang, Bu.”
“Saya pergi karena ternyata suami saya menganggap tanda tangan saya bisa digantikan oleh tekanan keluarganya.”
Aku pulang ke rumah Ibu malam itu.
Namun pukul sebelas lewat empat puluh tujuh, satu pesan masuk dari Dimas.
Sebuah foto.
Foto akta perjanjian perkawinan kami.
Di bawahnya hanya ada satu kalimat.
“Kalau kamu tetap keras, besok aku akan urus supaya dokumen ini dibatalkan.”
Aku baru hendak menjawab ketika pesan kedua masuk.
Kali ini dari nomor Bu Ratih.
“Datang besok jam sembilan. Kita selesaikan secara keluarga. Jangan membawa orang lain.”
Aku membaca pesan itu dua kali.
Lalu tersenyum.
Karena mereka tidak tahu satu hal.
Besok pukul sembilan aku memang akan datang.
Tapi aku tidak akan datang sendirian.
Bagian 3 — Mereka Mengira Aku Akan Datang Memohon, Namun Notaris, Pengacara, dan Bukti Percakapan Mengubah Pertemuan Keluarga Menjadi Hari Mereka Kehilangan Semuanya
Keesokan paginya aku tiba di rumah Bu Ratih pukul sembilan tepat.
Di ruang tamu sudah ada Dimas, Bu Ratih, Fajar, dan seorang paman mereka bernama Pak Harun.
Sepertinya mereka sengaja mengumpulkan keluarga agar aku tertekan.
Bu Ratih menunjuk kursi.
“Nah. Akhirnya datang juga.”
Aku tidak duduk.
“Masuk, Pak.”
Pintu terbuka.
Yang pertama masuk adalah Bu Mirna, notaris yang menangani dokumen kami.
Di belakangnya berjalan Pak Arief, seorang pengacara yang direkomendasikan kantor tempatku bekerja.
Senyum Bu Ratih langsung hilang.
“Kamu membawa pengacara?”
“Saya membawa orang yang mengerti dokumen yang Ibu ancam akan batalkan.”
Dimas berdiri.
“Naya, ini urusan suami istri.”
Aku menatapnya.
“Kemarin urusan suami istri kita dibahas bersama ibu dan adikmu. Jadi hari ini aku pikir boleh membawa dua orang juga.”
Pak Harun berdeham.
Suasana berubah canggung.
Bu Mirna membuka salinan akta.
Dengan nada tenang ia menjelaskan bahwa perjanjian yang kami buat tidak bisa tiba-tiba lenyap hanya karena salah satu pihak berubah pikiran setelah mengetahui besarnya aset pasangan.
Terlebih dokumen tersebut dibuat dan ditandatangani tanpa paksaan melalui prosedur yang telah dijelaskan kepada kedua pihak.
Wajah Dimas semakin pucat.
“Tapi kalau kami masih suami istri?”
Pak Arief menjawab.
“Status perkawinan tidak memberi seseorang hak untuk mengambil aset pasangan dengan kebohongan, tekanan, atau menggunakan tanda tangan tanpa persetujuan.”
Ia lalu meletakkan fotokopi draft utang di meja.
Fajar langsung berdiri.
“Itu cuma rancangan!”
“Bagus,” jawab Pak Arief. “Berarti belum terlambat untuk berhenti.”
Kemudian aku memutar rekaman malam sebelumnya.
Suara Dimas memenuhi ruang tamu.
“Ya! Kami memang mau pakai sebagian uang itu buat Fajar!”
Lalu terdengar kalimatnya sendiri:
“Karena kalau bilang soal Fajar, kamu pasti menolak. Makanya Ibu bilang harus dilakukan pelan-pelan.”
Tidak ada satu orang pun bergerak.
Fajar menunduk.
Bu Ratih memegang sandaran sofa.
Pak Harun menatap keponakannya dengan wajah tidak percaya.
Aku mematikan rekaman.
“Sekarang kita tidak perlu berdebat siapa yang salah ingat.”
Dimas mendekatiku.
Suaranya lebih pelan.
“Naya, kita bisa mulai ulang.”
Aku menatap lelaki itu.
Untuk beberapa detik aku masih bisa melihat Dimas yang dulu.
Lelaki yang mengantarku pulang saat hujan.
Yang menunggu tiga jam di rumah sakit ketika ibuku menjalani pemeriksaan.
Yang pernah berkata bahwa pernikahan harus membuat dua orang merasa aman.
Mungkin semua kenangan itu memang nyata.
Tapi kenyataan hari ini juga nyata.
“Aku cuma mau tanya satu hal,” kataku.
Dimas mengangguk cepat.
“Kalau saldo tabunganku cuma Rp20 juta, apakah kalian tetap akan memaksaku menggabungkan uang?”
Mulutnya terbuka.
Tidak ada jawaban.
Aku mengangguk perlahan.
“Itu jawabannya.”
Bu Ratih tiba-tiba menangis.
“Naya, Ibu cuma ingin membantu Fajar punya masa depan.”
Aku menoleh kepadanya.
“Dan untuk masa depan anak Ibu, Ibu bersedia mengambil masa aman saya.”
“Bukan mengambil…”
“Kalau saya harus dibohongi agar mau menyerahkan uang, namanya bukan meminta.”
Bu Ratih terdiam.
Aku kemudian mengeluarkan kunci apartemen dari tas.
Meletakkannya di meja.
“Aku tidak akan kembali tinggal bersama Dimas.”
Dimas menatap kunci itu lama.
“Kamu mau cerai?”
“Aku akan memproses semuanya secara resmi.”
Wajahnya seperti kehilangan warna.
“Naya, cuma gara-gara uang?”
Aku menggeleng.
“Bukan.”
“Kalau cuma uang, masalah ini selesai saat aku menolak transfer.”
“Aku pergi karena kamu tahu aku akan berkata tidak, lalu kamu memilih mencari cara supaya aku tidak punya kesempatan berkata tidak.”
Itulah akhirnya.
Proses setelahnya tidak singkat, tetapi jauh lebih tenang daripada sepuluh hari pertama pernikahanku.
Aku tidak pernah menyerahkan Rp630 juta itu.
Tidak ada satu rupiah pun dari tabungan pranikahku yang masuk ke usaha Fajar.
Bank juga memperbarui seluruh pengamanan rekeningku setelah aku melaporkan percobaan akses mencurigakan.
Rencana distributor Fajar akhirnya gagal setelah calon partnernya mengetahui bahwa modal yang dijanjikan ternyata belum tersedia.
Dimas terpaksa menjual mobilnya untuk menutup uang muka beberapa kewajiban bisnis yang telanjur ia buat bersama adiknya.
Bu Ratih sempat beberapa kali menghubungiku.
Pesannya berubah dari marah, menjadi menyalahkan, lalu menjadi memohon.
Aku tidak membalasnya selain untuk hal yang berkaitan langsung dengan proses hukum dan administrasi.
Beberapa bulan kemudian, pernikahanku dengan Dimas resmi berakhir.
Aku tidak merasa menang ketika keluar dari gedung tempat kami menyelesaikan urusan terakhir.
Aku justru merasa ringan.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku tidak perlu bertanya siapa yang membuka laciku.
Tidak perlu takut siapa yang sedang menghitung uangku.
Tidak perlu mendengar kata “keluarga” digunakan sebagai alasan untuk menghapus batas.
Enam bulan kemudian aku menggunakan sebagian kecil tabunganku untuk mengambil satu keputusan yang benar-benar kuinginkan sendiri.
Aku membayar uang muka sebuah rumah mungil di kawasan Sidoarjo, tidak jauh dari rumah ibuku.
Bukan rumah mewah.
Hanya dua kamar tidur, halaman kecil, dan jendela besar menghadap pohon mangga.
Hari pertama pindahan, Ibu datang membawa dua gelas kopi.
Ia berdiri di ruang tamuku yang masih penuh kardus.
“Kamu menyesal dulu Ibu suruh ke notaris?”
Aku tertawa.
“Sekarang malah pengin traktir notarisnya makan.”
Ibu ikut tertawa.
Kemudian wajahnya menjadi serius.
“Naya, uang itu penting. Tapi bukan karena jumlahnya.”
Aku menatapnya.
“Karena uang memberi pilihan?”
Ibu menggeleng.
“Karena dari cara seseorang memperlakukan milikmu, kamu sering bisa melihat bagaimana dia akan memperlakukan dirimu.”
Aku tidak menjawab.
Dari jendela, cahaya sore masuk ke lantai rumahku.
Di atas meja ada map hitam yang dulu kusembunyikan karena takut Dimas menganggapku tidak percaya kepadanya.
Sekarang aku memahami sesuatu.
Kepercayaan tidak pernah berarti menyerahkan seluruh perlindungan diri kepada orang lain.
Dan cinta yang sehat tidak akan meminta bukti kesetiaan dalam bentuk saldo rekening.
Sepuluh hari pernikahan itu memang mengambil banyak hal dariku.
Rencana masa depan.
Keyakinan.
Nama seseorang yang pernah kupikir akan menemaniku sampai tua.
Namun satu hal yang tidak berhasil mereka ambil adalah hakku menentukan apa yang terjadi pada hidupku sendiri.
Dan ternyata, itu jauh lebih berharga daripada Rp630 juta yang pernah mereka coba pindahkan dari rekeningku.

