Empat Puluh Tahun Setelah Suamiku “Meninggal”, Cucuku Mengusirku dari Rumah—Lalu Satu Nama di Meja Makan Membuka Kebohongan yang Disembunyikan Seluruh Keluargaku Selama Puluhan Tahun dan Membuat Mereka Membayar Semuanya

Avatar penulis
Cerita 03
20 menit baca 411 tayangan
Empat Puluh Tahun Setelah Suamiku “Meninggal”, Cucuku Mengusirku dari Rumah—Lalu Satu Nama di Meja Makan Membuka Kebohongan yang Disembunyikan Seluruh Keluargaku Selama Puluhan Tahun dan Membuat Mereka Membayar Semuanya
Indeks

Empat Puluh Tahun Setelah Suamiku “Meninggal”, Cucuku Mengusirku dari Rumah—Lalu Satu Nama di Meja Makan Membuka Kebohongan yang Disembunyikan Seluruh Keluargaku Selama Puluhan Tahun dan Membuat Mereka Membayar Semuanya

Bagian 1 — Di Makan Malam Kepulangan Anakku, Cucuku Menghinaku dalam Bahasa Inggris—Lalu Satu Nama Membuat Kuburan Suamiku Terasa Lebih Dingin dari Biasanya

Dua belas tahun aku membesarkan Keisha seolah-olah dia anakku sendiri.

Malam ketika dia pulang dari Singapura bersama ayah dan ibunya, gadis itu justru melempar udang ke wajahku dan mengatakan sesuatu yang membuat makam suamiku yang sudah empat puluh tahun seperti terbuka kembali.

Namaku Sari Wulandari.

Usiaku enam puluh delapan tahun.

Aku tinggal di sebuah rumah tua dua lantai di Sleman, Yogyakarta, rumah yang dibangun sedikit demi sedikit dari hasil usaha katering dan batik yang kurintis setelah suamiku meninggal.

Setidaknya, selama empat puluh tahun aku percaya dia sudah meninggal.

Suamiku, Surya Pranoto, dinyatakan tewas dalam kecelakaan kapal pada tahun 1986.

Aku masih ingat hari petugas datang membawa jam tangan, cincin kawin, dan dompetnya.

Jenazah yang ditemukan dalam kondisi sulit dikenali.

Aku tidak diizinkan membuka kain penutupnya terlalu lama.

“Keluarga sebaiknya mengingat almarhum seperti terakhir kali melihatnya,” kata seseorang waktu itu.

Aku percaya.

Aku menangis sampai tidak bisa berdiri.

Putra kami, Arman, baru berusia enam tahun.

Sejak hari itu aku menjadi ibu sekaligus ayah.

Aku menjual gelang pernikahanku untuk membayar uang sekolahnya.

Aku menerima pesanan nasi kotak sampai tengah malam.

Tanganku pernah melepuh karena minyak panas, tetapi pagi berikutnya aku tetap mengantar Arman ke sekolah dengan sepeda.

Ketika Arman menikah dengan Livia dan kemudian bekerja di Singapura, aku mengira perjuanganku akhirnya terbayar.

Namun delapan bulan setelah Keisha lahir, mereka menitipkan bayi itu kepadaku.

“Cuma sementara, Bu,” kata Arman.

Sementara itu berubah menjadi dua belas tahun.

Saat Keisha demam empat puluh derajat, aku yang menggendongnya ke IGD.

Ketika dia ingin kursus piano, aku mengurangi belanja lauk agar biaya lesnya cukup.

Saat sekolah mengadakan Hari Orang Tua dan kursi untuk ayah-ibunya kosong, aku duduk sendirian di barisan belakang sambil membawa botol minum kesukaannya.

Karena itulah malam kepulangan mereka seharusnya menjadi malam yang paling membahagiakan bagiku.

Aku memasak sejak pukul lima pagi.

Rendang.

Sop buntut.

Udang saus mentega.

Sambal terasi yang dulu sangat disukai Arman.

Bahkan taplak meja putih yang hanya kupakai saat Lebaran kuturunkan dari lemari.

Namun sejak duduk, Arman, Livia, dan Keisha hampir tidak berbicara kepadaku.

Mereka bercakap-cakap dalam bahasa Inggris.

Aku hanya mengerti beberapa kata.

Keisha beberapa kali menatapku sambil menahan tawa.

Lalu dia berkata kepada ayahnya dalam bahasa Inggris, cukup keras agar semua orang mendengar.

Aku tidak memahami seluruh kalimatnya.

Tetapi kata “embarrassing” dan “village” pernah kudengar dari televisi.

Arman tertawa kecil.

Livia ikut tersenyum sambil menatap ponselnya.

Aku mencoba tidak berpikir buruk.

Kulihat Keisha beberapa kali melirik piring udang.

Kukira dia menginginkannya.

Aku mengambil udang terbesar, mengupas kulitnya, kemudian meletakkannya di piring Keisha.

“Makanlah. Dulu kamu suka yang ini.”

Tangannya langsung menyapu piring.

Udang itu terlempar.

Saus mentega mengenai pipiku, lalu menetes ke kerah bajuku.

Aku membeku.

Keisha malah tertawa.

“Aku nggak mau makanan yang sudah dipegang tangan Nenek!”

Ruangan seketika sunyi.

Aku mengambil tisu.

“Keisha.”

Nada suaraku tidak keras.

Mungkin justru karena terlalu tenang, dia berhenti tertawa.

“Kamu sudah tiga belas tahun. Kalau tidak mau makan, bilang baik-baik. Jangan melempar makanan kepada orang.”

Keisha mendorong kursinya.

“Aku nggak mau duduk dekat Nenek.”

“Baju Nenek bau dapur.”

Aku menatap Arman.

Kupikir paling tidak anak yang kubesarkan dengan darah dan air mata akan menegur putrinya.

Dia justru menghela napas.

“Bu, Keisha baru pulang. Dia perlu adaptasi.”

“Adaptasi berarti boleh melempar makanan?”

Livia akhirnya meletakkan ponselnya.

“Ibu juga jangan membesar-besarkan. Anak seusia dia emosinya memang begitu.”

“Dia sudah cukup besar untuk tahu sopan santun.”

Wajah Livia berubah.

“Keisha sering cerita selama tinggal bersama Ibu dia harus mencuci piring sendiri, melipat bajunya sendiri, bahkan uang jajannya dibatasi.”

Aku hampir tertawa karena tak percaya.

“Itu yang kalian sebut penderitaan?”

Aku menunjuk Keisha.

“Aku mengajarinya mencuci piring yang dia pakai sendiri. Melipat pakaian sendiri. Dan kalau dia meminta sepatu tiga juta padahal sepatu lamanya masih bagus, tentu aku tidak membelikannya.”

“Lihat, kan?” Keisha memotong. “Nenek selalu merasa paling benar.”

Arman bersandar di kursinya.

“Bu, orang tua di luar negeri punya kehidupan masing-masing. Mereka nggak menghabiskan hidup cuma mengurus cucu sampai lupa merawat diri seperti Ibu.”

Kalimat itu jauh lebih sakit daripada udang yang dilemparkan Keisha.

Aku menatap anakku lama.

“Jadi menurutmu aku seperti ini karena salahku?”

“Jangan mulai menghitung pengorbanan lagi.”

Arman mengusap kening.

“Kami tahu Ibu sudah membantu. Tapi bukan berarti semua orang harus berutang seumur hidup.”

Aku tidak menjawab.

Ada sesuatu di dalam dadaku yang perlahan mati.

Lalu Keisha tiba-tiba berkata,

“Makanya Kakek Surya benar.”

Tanganku berhenti di atas meja.

Arman langsung menoleh.

Livia menjatuhkan sendoknya.

Aku kira telingaku salah.

“Siapa?”

Keisha masih kesal sehingga tidak menyadari wajah orang tuanya berubah.

“Kakek Surya.”

Aku memandangnya.

“Surya siapa?”

Keisha mendengus.

“Ya Kakek Surya, suami Nenek.”

Arman berdiri begitu cepat sampai kursinya bergeser.

“Keisha, cukup.”

Tetapi terlambat.

Gadis itu menunjuk sekeliling rumah.

“Kalau Nenek nggak keras kepala tinggal di rumah ini, Kakek Surya sama Nenek Ratna sudah bisa pulang sejak dulu!”

Untuk beberapa detik aku tidak mendengar apa pun.

Hanya suara kipas angin di dinding.

Aku bahkan bisa mendengar detak jam tua milik Surya yang selama empat puluh tahun kusimpan di ruang keluarga.

Aku perlahan berdiri.

“Arman.”

Anakku menghindari tatapanku.

“Siapa Ratna?”

“Bu…”

“Dan kenapa anakmu bilang ayahmu bisa pulang?”

Livia buru-buru berkata, “Keisha cuma salah bicara.”

Aku menatapnya.

“Anak tiga belas tahun tidak mungkin salah menyebut nama laki-laki yang dikuburkan empat puluh tahun lalu.”

Keisha akhirnya tampak bingung.

“Memangnya Nenek nggak tahu?”

“Diam!” bentak Arman.

Keisha terkejut.

Aku tidak.

Aku justru merasa seluruh tubuhku menjadi dingin.

“Berikan ponselmu.”

Keisha memeluk ponselnya.

“Nggak mau.”

“Keisha,” kataku, “tunjukkan foto kakek yang kamu maksud.”

Arman bergerak mendekat.

Aku lebih cepat.

Keisha, mungkin karena panik, membuka galeri dan menggeser beberapa foto.

Lalu sebuah foto muncul.

Seorang pria tua duduk di restoran di Marina Bay.

Rambutnya putih.

Tubuhnya jauh lebih kurus.

Di sampingnya ada perempuan sekitar tujuh puluh tahun memakai kebaya modern berwarna biru tua.

Di belakang mereka berdiri Arman dan Livia.

Keisha merangkul lelaki tua itu sambil tersenyum.

Dadaku berhenti bernapas.

Orang mungkin mengatakan wajah berubah setelah empat puluh tahun.

Tetapi aku mengenali telinga kirinya yang sedikit terlipat.

Bekas luka panjang di alis.

Dan jari kelingking tangan kanan yang bengkok sejak terjepit mesin ketika kami baru menikah.

Aku pernah mencium jari itu ratusan kali.

Itu Surya.

Suamiku.

Laki-laki yang makamnya kubersihkan setiap menjelang Ramadan.

Laki-laki yang setiap tahun kupanjatkan doa.

Laki-laki yang membuatku hidup sebagai janda selama empat puluh tahun.

Ternyata sedang tersenyum sambil memeluk cucuku.

Aku mengangkat wajah.

“Sejak kapan?”

Tak seorang pun menjawab.

“SEJAK KAPAN KALIAN TAHU DIA MASIH HIDUP?”

Arman akhirnya berkata pelan,

“Lima belas tahun.”

Lututku nyaris kehilangan tenaga.

“Lima belas… tahun?”

“Dia yang menghubungiku pertama kali.”

“Dan selama lima belas tahun kamu pulang ke rumah ini, makan masakanku, melihat aku menaruh bunga di makam ayahmu…”

Suaraku mulai bergetar.

“…sementara kamu tahu orang di dalam kubur itu bukan dia?”

Arman mengepalkan tangan.

“Situasinya nggak sesederhana itu.”

“Sesederhana apa lagi?”

Aku tertawa.

Entah mengapa suaranya terdengar asing.

“Kalian membawa cucuku bertemu dia?”

Tidak ada jawaban.

“Berapa kali?”

Keisha berkata lirih, “Hampir setiap liburan.”

Aku menutup mata.

Sekarang aku mengerti kenapa Keisha berubah selama setahun terakhir.

Mengapa setiap menyebut kakeknya dia tersenyum aneh.

Mengapa Arman terus mendesakku menjual rumah.

Tiba-tiba Livia berkata,

“Bu, sebenarnya kami memang datang untuk membicarakan rumah ini.”

Aku membuka mata.

Arman mengeluarkan map cokelat dari tasnya.

“Besok ada notaris yang datang.”

Dia meletakkan beberapa lembar dokumen di meja.

“Kita sudah mendapat pembeli. Nilainya Rp5,6 miliar.”

Aku tidak menyentuhnya.

“Rumah siapa yang kalian jual?”

“Bu, dengarkan dulu.”

“Rumah siapa?”

Arman menghela napas panjang.

“Kalau Ibu tanda tangan, semuanya selesai. Ibu bisa pindah ke rumah kecil yang lebih mudah dirawat. Ayah dan Tante Ratna juga tidak perlu terus tinggal di luar negeri.”

Aku menatap anakku sendiri seolah baru pertama kali melihat wajahnya.

Jadi inilah alasannya mereka pulang.

Bukan untuk merindukanku.

Bukan untuk berterima kasih karena aku membesarkan anak mereka.

Mereka datang membawa dokumen untuk mengusirku dari rumahku sendiri agar laki-laki yang berpura-pura mati dan perempuan yang hidup bersamanya bisa kembali.

Aku menarik kursi dan duduk.

Aneh.

Aku tidak menangis lagi.

“Baik.”

Arman tampak lega.

“Jadi Ibu mau tanda tangan?”

Aku menatap foto Surya sekali lagi.

Lalu aku tersenyum.

Senyum pertama malam itu.

“Suruh ayahmu datang sendiri besok.”

Wajah Arman memucat.

“Untuk apa?”

Aku melipat tisu yang masih terkena saus udang, meletakkannya tepat di atas dokumen penjualan, lalu berkata,

“Kalau orang mati ingin mengambil rumahku, setidaknya biarkan dia mengetuk pintuku dengan tangannya sendiri.”

#DramaKeluarga #KisahKehidupan #PengkhianatanKeluarga #RahasiaKeluarga #CeritaIndonesia

Bagian 2 — Foto Lama, Transfer Bulanan, dan Sertifikat Rumah Membuktikan Suamiku Tak Pernah Mati—Lebih Menyakitkan, Anakku Sudah Mengetahuinya Selama Bertahun-tahun Secara Diam-diam

Malam itu mereka mengira aku masuk kamar untuk menangis.

Aku memang menangis.

Tetapi hanya dua puluh menit.

Setelah itu aku mengambil sebuah koper kecil dari bawah tempat tidur.

Di dalamnya kusimpan dokumen yang tak pernah disentuh siapa pun selama puluhan tahun.

Sertifikat tanah.

Bukti pembelian.

Surat warisan dari ayahku.

Dokumen renovasi rumah.

Dan satu map berisi semua surat yang berkaitan dengan kematian Surya.

Tanah tempat rumah kami berdiri bukan milik Surya.

Ayahku memberikannya kepadaku tiga tahun sebelum aku menikah.

Rumah lamanya pernah hampir roboh.

Bangunan dua lantai yang sekarang ingin dijual Arman dibangun dari uang usaha katering dan batikku setelah Surya “meninggal”.

Tidak ada satu rupiah pun milik mereka di dalamnya.

Pukul enam pagi aku menelepon Maya, teman lama yang sudah dua puluh tahun bekerja sebagai pengacara sebelum pensiun.

Aku tidak menjelaskan panjang.

Aku hanya berkata,

“May, orang mati mau menjual rumahku.”

Dia diam beberapa detik.

“Jam delapan aku ke sana.”

Sebelum Maya datang, aku menemukan sesuatu yang bahkan lebih buruk.

Tablet lama Keisha tertinggal di meja makan.

Layarnya masih menampilkan grup keluarga.

Aku tidak perlu membuka sandi apa pun.

Sebuah pesan baru muncul di layar.

Papa Surya: Pastikan Mama Sari tanda tangan sebelum aku datang. Aku tidak mau ribut.

Di bawahnya Arman membalas:

Tenang, Pa. Kalau perlu kami bilang rumah itu terlalu besar untuk beliau. Developer sudah menunggu.

Tanganku dingin.

Aku memotret layar dengan ponselku sendiri.

Kemudian pesan lain masuk dari Livia:

Uang muka dari Pak Denny bagaimana? Dia mulai menagih.

Maya tiba empat puluh menit kemudian.

Setelah membaca dokumen penjualan yang dibawa Arman, wajahnya berubah.

“Ini belum akta jual beli,” katanya.

“Tapi mereka sudah membuat perjanjian awal dengan pihak ketiga.”

“Tanpa izinku?”

“Dan di sini ada pernyataan bahwa pemilik pada prinsipnya setuju.”

Aku menunjuk tanda tangan.

“Itu bukan tanda tanganku.”

Maya langsung menatapku.

“Jangan sentuh dokumen ini lagi.”

Ternyata Arman sudah menerima uang tanda jadi Rp350 juta dari calon pembeli dengan janji bahwa aku akan menandatangani transaksi dalam tiga hari.

Lebih buruk lagi, mereka menggunakan salinan KTP-ku yang dulu kuberikan kepada Livia untuk mengurus administrasi sekolah Keisha.

Aku duduk sangat tenang ketika Maya menjelaskan kemungkinan konsekuensinya.

Aneh.

Empat puluh tahun lalu, mendengar Surya meninggal membuatku merasa dunia runtuh.

Pagi itu, mengetahui dia hidup justru membuat pikiranku sangat jernih.

Sekitar pukul sembilan, aku menelepon seseorang yang tidak pernah kuhubungi selama hampir tiga puluh tahun.

Pak Darto.

Dulu dia bekerja bersama Surya di perusahaan pelayaran.

Sekarang usianya lebih dari tujuh puluh.

Begitu mendengar nama Surya, dia langsung diam.

“Bu Sari… Ibu akhirnya tahu?”

Kalimat itu membuat dadaku sesak.

“Jadi Bapak juga tahu?”

“Aku baru tahu bertahun-tahun setelah kejadian.”

Darto mengaku pernah melihat Surya di Balikpapan pada akhir 1990-an memakai nama Hendra Wijaya.

Saat dikejar, Surya memohon agar keberadaannya dirahasiakan.

Katanya dia sudah memiliki kehidupan baru bersama seorang perempuan bernama Ratna.

“Dia bilang kalau kembali, banyak masalah lama akan terbuka.”

“Masalah apa?”

Darto menarik napas.

“Sebelum kecelakaan kapal, Surya punya utang usaha besar.”

Aku langsung teringat.

Setelah kematiannya, selama hampir tujuh tahun aku memang membayar utang yang menurut penagih pernah dipakai untuk usaha Surya.

Aku menjual emas.

Menjual sepeda motor.

Mengambil pesanan makanan untuk ratusan orang.

“Ada satu lagi,” kata Darto.

“Surya sebenarnya tidak berada dalam daftar resmi penumpang saat kapal berangkat.”

Aku merasakan tengkukku dingin.

Lalu bagaimana dompet dan cincinnya ditemukan?

Darto tidak bisa memastikan.

Tetapi dia mengatakan ada seorang pekerja kontrak yang meninggal dan tubuhnya sulit dikenali.

Identifikasi pada masa itu jauh dari sempurna.

Aku menutup telepon.

Maya segera menyuruhku menyerahkan semua informasi kepada pihak berwenang melalui jalur resmi, bukan menyelidiki sendiri.

Aku menurut.

Untuk pertama kalinya selama puluhan tahun, aku berhenti menjadi perempuan yang menyelesaikan semua masalah sendirian.

Siang hari, Arman masuk ke ruang tamu.

“Ibu belum siap-siap?”

“Untuk apa?”

“Notaris datang jam dua.”

“Aku membatalkannya.”

Wajahnya langsung berubah.

“Ibu jangan emosional.”

“Aku sangat tenang.”

“Kalau transaksi batal, ada uang yang harus dikembalikan.”

“Uang siapa?”

Arman terdiam.

Aku menatapnya.

“Rp350 juta?”

Wajahnya seketika pucat.

“Ibu tahu dari mana?”

Aku tersenyum.

“Kenapa? Bukankah rumah ini katanya milik keluarga? Kenapa pemilik rumah tidak boleh tahu kalian sudah menerima uang dari calon pembeli?”

Livia muncul dari lorong.

“Bu, uang itu cuma tanda jadi.”

“Tanda jadi untuk barang milik siapa?”

Tidak ada jawaban.

Aku menunjuk pintu.

“Mulai hari ini, jangan satu pun dari kalian mengambil atau memindahkan dokumen dari rumah ini.”

Arman kehilangan kesabaran.

“Ibu mau apa sebenarnya?”

“Aku ingin melihat ayahmu.”

“Ibu pikir dengan membuat masalah semuanya akan selesai?”

Aku berdiri.

“Masalah?”

Aku mendekatinya.

“Empat puluh tahun aku datang ke makam seorang laki-laki yang ternyata masih hidup.”

“Lima belas tahun anakku tahu kebenarannya.”

“Dua belas tahun aku membesarkan cucuku sementara kalian membawanya diam-diam menemui orang yang menipuku.”

“Sekarang kalian ingin menjual rumahku menggunakan tanda tangan palsu.”

Aku menatap tepat ke matanya.

“Coba jelaskan bagian mana yang menurutmu kubuat sendiri?”

Bel rumah berbunyi.

Arman menoleh.

Livia mendadak gugup.

Aku tahu siapa yang datang karena sepuluh menit sebelumnya Keisha menerima pesan.

Kakek sudah dekat.

Aku berjalan menuju pintu.

Tanganku tidak gemetar.

Ketika pintu terbuka, seorang pria tua berdiri di halaman.

Di sampingnya ada perempuan berambut pendek memakai blus krem.

Empat puluh tahun.

Empat puluh tahun aku membayangkan bagaimana rasanya jika suatu hari Surya tiba-tiba muncul di depanku.

Ternyata rasanya bukan seperti bertemu hantu.

Rasanya seperti melihat penipu yang sangat tua.

Surya menatapku lama.

Kemudian bibirnya bergerak.

“Sari.”

Aku tersenyum tipis.

“Nama saya masih sama.”

Ratna mencoba tersenyum.

“Mungkin kita sebaiknya bicara sebagai keluarga.”

Aku membuka pintu lebih lebar.

“Silakan.”

Surya masuk.

Matanya langsung melihat sekeliling rumah.

Bukan melihatku.

Rumah.

Dinding.

Tangga.

Lemari.

Seolah sedang memeriksa properti yang sebentar lagi menjadi miliknya.

Lalu dia duduk di kursi yang dulu kubeli setelah enam bulan menabung.

“Aku tahu kamu marah,” katanya.

“Aku tidak datang untuk bertengkar.”

Aku duduk di seberangnya.

“Aku juga tidak.”

Wajahnya sedikit santai.

“Sari, masa lalu biarlah masa lalu.”

Dia mengeluarkan sebuah pena dari saku.

“Kita selesaikan urusan rumah. Setelah itu aku jelaskan semuanya.”

Aku menatap pena itu.

Lalu kukeluarkan sebuah map merah dan meletakkannya di meja.

Surya mengernyit.

“Apa itu?”

“Bukan surat penjualan.”

Aku membuka halaman pertama.

“Ini salinan sertifikat tanah atas namaku.”

Halaman berikutnya.

“Ini bukti rumah dibangun memakai uang usahaku.”

Halaman berikutnya.

“Dan ini surat dari pengacara mengenai tanda tangan palsu yang digunakan anak kita.”

Wajah Arman berubah.

Ratna berdiri.

Surya tidak bergerak.

Aku menutup map.

“Ada satu pertanyaan terakhir.”

Aku menatap laki-laki yang selama empat puluh tahun kuberi bunga di makam.

“Besok pagi aku akan menyerahkan semua yang kumiliki kepada pihak berwenang.”

Ruangan menjadi sunyi.

“Jadi sebelum mereka bertanya kepadamu…”

Aku mendorong foto lama kecelakaan kapal ke hadapannya.

“…ceritakan sendiri bagaimana seorang laki-laki yang dikuburkan tahun 1986 bisa duduk di rumahku tahun ini dan meminta aku menyerahkan kunci kepadanya.”

Untuk pertama kalinya sejak datang, wajah Surya benar-benar kehilangan warna.

Bagian 3 — Ketika Mereka Datang Menuntut Rumah, Aku Membuka Wasiat dan Rekaman Notaris—Empat Puluh Tahun Kebohongan Akhirnya Dibayar di Depan Semua Orang

Surya tidak langsung menjawab.

Dia hanya menatap foto lama di atas meja.

Ratna akhirnya duduk perlahan.

Arman justru marah.

“Ibu sengaja menjebak kami?”

Aku menoleh kepadanya.

“Menjebak?”

“Kalian datang ke rumahku membawa dokumen yang sudah menggunakan tanda tanganku tanpa izin.”

Aku menunjuk Surya.

“Laki-laki ini membiarkanku mengira dia mati selama empat puluh tahun.”

Lalu aku menunjuk Arman.

“Kamu menyembunyikan keberadaannya selama lima belas tahun.”

“Sekarang kalian yang merasa dijebak?”

Arman diam.

Surya akhirnya membuka mulut.

“Aku memang pergi.”

Hanya itu.

Tidak ada tangisan.

Tidak ada permintaan maaf.

“Aku masih muda. Aku terlilit utang. Hubungan kita juga sudah buruk.”

Aku hampir tertawa.

“Hubungan kita buruk?”

“Kamu selalu menuntut.”

“Aku menuntut apa?”

“Uang belanja?”

“Uang sekolah anakmu?”

“Atau kamu marah karena aku bertanya ke mana gajimu pergi setiap bulan?”

Surya menunduk.

Ratna memotong,

“Bu Sari, waktu itu semua orang melakukan kesalahan.”

Aku menatapnya.

“Kamu tahu dia punya istri?”

Ratna terdiam.

Itu sudah cukup sebagai jawaban.

Ternyata Surya mengenalnya beberapa bulan sebelum kecelakaan.

Setelah kapal tenggelam, kekacauan identifikasi korban memberinya kesempatan.

Dia menghilang.

Beberapa tahun kemudian dia menggunakan identitas lain untuk membangun kehidupan baru.

Ratna ikut bersamanya.

Mereka pindah dari kota ke kota, kemudian menetap cukup lama di Malaysia.

“Kenapa tidak pernah pulang?” tanyaku.

Surya menjawab,

“Awalnya takut.”

“Setelah sepuluh tahun?”

Dia diam.

“Dua puluh?”

Diam lagi.

“Empat puluh?”

Tidak ada jawaban.

Aku akhirnya mengerti.

Bukan rasa takut yang membuatnya terus bersembunyi.

Dia nyaman.

Selama dia hidup sebagai orang lain, akulah yang membayar utangnya.

Akulah yang membesarkan Arman.

Akulah yang menanggung semua akibat dari keputusannya.

Dia bebas.

Lima belas tahun lalu, ketika Arman menemukannya melalui kenalan bisnis di Singapura, Surya mulai mengirim uang.

Bukan kepadaku.

Kepada Arman.

Dia membantu uang muka apartemen anakku.

Membayar sekolah internasional Keisha.

Membiayai beberapa liburan keluarga.

Itulah alasan Arman membelanya.

Bukan karena cinta seorang anak kepada ayah yang hilang.

Karena uang.

“Papa sudah menyesal,” kata Arman.

“Menyesal tetapi tidak pernah datang meminta maaf?”

Aku menatapnya.

“Menyesal tetapi ketika tahu aku membesarkan anakmu, dia tetap diam?”

Tidak ada jawaban.

Kemudian aku mengeluarkan dokumen terakhir.

Itu bukan wasiat.

Itu surat perjanjian penjualan rumah yang sudah disiapkan melalui pengacaraku sendiri.

Mereka semua terkejut.

“Ibu jadi menjual rumah?” tanya Livia.

“Ya.”

Mata Arman langsung berubah.

Aku bahkan bisa melihat harapan muncul kembali.

“Kepada siapa?”

“Kepada sebuah yayasan pendidikan perempuan dan pusat pelatihan UMKM.”

Wajahnya membeku.

“Mereka akan mengubah bagian depan menjadi ruang pelatihan. Bangunan belakang tetap dipertahankan karena punya nilai sejarah.”

Arman berdiri.

“Ibu nggak bisa mengambil keputusan sebesar itu sendiri!”

Aku menatapnya tenang.

“Kenapa tidak?”

“Itu rumah keluarga!”

“Tanahnya dari ayahku.”

“Bangunannya kubayar.”

“Sertifikatnya atas namaku.”

“Dan selama dua belas tahun kalian bahkan tidak tinggal di sini.”

Aku meletakkan pena di meja.

“Jadi keluarga mana yang kamu maksud?”

Arman mulai meninggikan suara.

“Lalu bagian kami?”

Akhirnya keluar juga.

Bukan “bagaimana dengan Ibu?”

Bukan “Ibu akan tinggal di mana?”

Tetapi bagian kami.

Aku tersenyum.

“Tidak ada.”

Livia menarik lengan suaminya.

“Arman, duduk.”

Namun semuanya sudah terlambat.

Maya masuk dari ruang belakang bersama seorang notaris dan dua saksi.

Sejak awal mereka berada di rumah.

Bukan untuk membuat pertunjukan.

Aku membutuhkan saksi karena aku tidak lagi percaya kepada orang-orang yang menyebut diri mereka keluargaku.

Surya berdiri.

“Sari, jangan keterlaluan.”

Untuk pertama kalinya malam itu aku kehilangan kesabaran.

Aku menepuk meja.

“Keterlaluan?”

“Empat puluh tahun aku hidup sebagai jandamu!”

“Empat puluh tahun aku merasa bersalah setiap kali berpikir mungkin aku kurang menjadi istri yang baik!”

“Setiap tahun aku datang ke kuburanmu!”

“Ketika Arman menikah, aku menangis karena berpikir ayahnya tidak sempat melihat!”

“Ketika cucumu lahir, aku membawa fotonya ke makam dan berkata, ‘Surya, kita sudah punya cucu.’”

Air mataku akhirnya jatuh.

“Ternyata saat itu kamu hidup nyaman dengan perempuan lain.”

Tidak seorang pun berani berbicara.

Aku mengusap air mata.

“Jadi jangan pernah lagi mengatakan aku keterlaluan karena akhirnya memilih hidupku sendiri.”

Proses setelah hari itu tidak selesai dalam semalam.

Aku tidak ingin membuat cerita seolah hukum bekerja seperti sinetron.

Pengacaraku menyerahkan dugaan pemalsuan tanda tangan dan dokumen transaksi kepada pihak yang berwenang.

Arman akhirnya harus mengembalikan Rp350 juta kepada calon pembeli.

Karena sebagian uang sudah dipakai, dia menjual mobilnya dan menarik tabungan investasi untuk menutup kekurangan.

Hubungannya dengan mitra bisnis yang mengenalkannya kepada pembeli juga hancur.

Urusan identitas dan kematian Surya jauh lebih rumit.

Dokumen lama diperiksa kembali.

Catatan kependudukan ditelusuri.

Orang-orang yang masih hidup dimintai keterangan.

Kasus itu berjalan berbulan-bulan.

Surya dan Ratna tidak pernah jadi penghuni rumahku seperti yang mereka rencanakan.

Mereka menyewa rumah kecil di pinggiran kota selama proses hukum dan administrasi berlangsung.

Yang paling ironis, Arman tidak mengajak mereka tinggal bersamanya.

Apartemennya terlalu kecil, katanya.

Aku hampir tertawa ketika mendengarnya.

Ternyata bakti memang jauh lebih mudah dibicarakan ketika rumah yang dipakai adalah rumah orang lain.

Keisha berbeda.

Tiga minggu setelah malam itu, dia datang sendirian.

Tidak membawa koper.

Tidak membawa ayah atau ibunya.

Dia berdiri di teras hampir sepuluh menit sebelum berani mengetuk pintu.

“Nek…”

Aku tidak langsung mempersilahkannya masuk.

Dia menangis.

“Aku minta maaf.”

Aku tetap diam.

“Ayah dan Mama bilang Nenek sengaja menjauhkan Kakek dari keluarga.”

Dia menunduk.

“Mereka bilang rumah ini sebenarnya milik Kakek.”

Aku bertanya,

“Lalu karena itu kamu merasa boleh melempar makanan ke wajahku?”

Keisha menangis lebih keras.

“Nggak.”

“Karena itu kamu boleh menghina orang yang membesarkanmu?”

“Nggak.”

Aku membuka pintu sedikit lebih lebar.

“Aku bisa memaafkanmu suatu hari nanti.”

Dia mengangkat wajah.

“Tapi memaafkan bukan berarti berpura-pura tidak pernah terjadi.”

Keisha mengangguk.

Sejak itu dia datang setiap Minggu.

Awalnya hanya duduk.

Kemudian membantu menyapu.

Mencuci piringnya sendiri tanpa kusuruh.

Suatu sore dia membawa kotak kecil.

Di dalamnya ada sepasang anting sederhana.

“Aku beli dari uang tabunganku.”

“Untuk apa?”

“Dulu Nenek jual perhiasan buat Ayah sekolah, kan?”

Aku hampir menangis.

“Aku nggak bisa mengganti semuanya.”

Dia menggenggam tanganku.

“Tapi aku mau mulai dari sesuatu.”

Aku tidak mengambil anting itu.

Aku mengembalikannya.

“Simpan.”

“Kalau benar ingin mengganti sesuatu, jadilah manusia yang tidak mempermalukan orang hanya karena pakaian, bahasa, atau uangnya.”

Keisha mengangguk sambil menangis.

Kali ini aku memeluknya.

Bukan karena lukaku sudah hilang.

Tetapi karena aku tidak ingin kebencian empat puluh tahun diwariskan kepada generasi berikutnya.

Delapan bulan kemudian rumah itu resmi terjual.

Aku tidak memberi tahu Arman jumlah akhirnya.

Dia juga tidak berhak tahu.

Sebagian uang kupakai membeli rumah satu lantai yang lebih kecil di dekat Kaliurang.

Ada halaman depan.

Dua pohon mangga.

Dapur dengan jendela besar menghadap kebun.

Sebagian lainnya kuinvestasikan untuk masa tuaku.

Dan sesuai rencanaku, aku memberikan dana awal kepada pusat pelatihan perempuan untuk membantu ibu-ibu yang ingin memulai usaha makanan rumahan.

Hari pertama pindah, aku membawa satu benda dari rumah lama.

Jam dinding milik Surya.

Keisha bertanya,

“Kenapa jam itu masih dibawa?”

Aku tersenyum.

Kemudian kulepas baterainya.

“Bukan untuk disimpan.”

Aku membuka tempat sampah.

Dan menjatuhkan jam itu ke dalam.

“Untuk mengingatkan Nenek bahwa waktu yang berhenti empat puluh tahun lalu tidak harus berhenti selamanya.”

Aku tidak pernah kembali membersihkan makam Surya.

Nama di batu itu kemudian ditangani sesuai proses administrasi yang semestinya ketika identitas sebenarnya diperiksa.

Tentang Arman, aku belum memaafkannya.

Mungkin suatu hari.

Mungkin tidak.

Aku tidak lagi memaksa diriku menjadi ibu yang selalu mengerti hanya karena pernah melahirkannya.

Dia sudah dewasa ketika memilih berbohong selama lima belas tahun.

Pilihan orang dewasa memiliki harga.

Suatu pagi, hampir setahun setelah semuanya terbongkar, aku duduk di teras rumah baruku.

Keisha sedang belajar membuat sambal di dapur.

Tangannya kepedasan dan dia berteriak memanggilku.

Aku tertawa.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, suara tawa itu tidak terasa berat.

Dulu aku berpikir kehilangan Surya adalah tragedi terbesar dalam hidupku.

Ternyata aku salah.

Tragedi terbesar adalah menghabiskan empat puluh tahun berkabung untuk seseorang yang bahkan tidak merasa bersalah meninggalkanku.

Dan keberuntungan terbesar adalah mengetahui kebenaran sebelum sisa hidupku ikut mereka rampas.

Mereka memang mengambil empat puluh tahun dariku.

Tetapi rumahku tidak.

Harga diriku tidak.

Dan yang paling penting, sisa hidupku juga tidak.

Kali ini, aku memilih hidup untuk diriku sendiri.