Saat Aku Pergi Membawa Kehamilan yang Tak Ia Inginkan, Arga Membiarkanku Naik Bus Sendirian—Tiga Tahun Kemudian Seorang Bocah Memanggilku Ibu di Depannya dan Wajahnya Seketika Pucat tanpa Mampu Berkata Apa-apa
Catatan: Kisah ini sepenuhnya fiksi. Pembaca diharapkan menyikapinya dengan bijak dan rasional.
Bagian 1 — Aku Mengira Arga Akan Menyusul ke Terminal, tetapi Satu Pesan Darinya Membuktikan Bahwa Kepergianku Memang Sudah Ia Tunggu Sejak Lama
Tiga tahun lalu, aku duduk sendirian di kursi nomor 17 sebuah bus malam jurusan Jakarta–Malang dengan satu koper, uang Rp1,8 juta, dan janin berusia sebelas minggu di dalam perutku.
Sampai bus menutup pintu, aku masih menoleh ke luar jendela.
Aku menunggu Arga.
Aku bahkan sengaja memilih kursi dekat kaca agar bisa segera melihatnya jika ia berlari masuk ke terminal.
Bodoh sekali.
Saat itu aku masih berpikir lelaki yang bersamaku hampir enam tahun mungkin akan sadar pada detik terakhir.
Mungkin dia akan mengetuk kaca.
Mungkin dia akan mengatakan, “Jangan pergi.”
Mungkin dia akan mengaku bahwa kalimat-kalimat yang ia ucapkan sore tadi hanya keluar karena panik.
Tidak ada siapa pun.
Yang datang hanya sebuah pesan WhatsApp ketika bus mulai bergerak meninggalkan Terminal Kampung Rambutan.
Arga: Jangan bikin semuanya tambah rumit. Pulanglah ke rumah Mbakmu dulu. Kalau masalah itu sudah selesai, kita bisa bicara lagi.
Aku membaca kalimat itu lima kali.
“Masalah itu.”
Begitulah ia menyebut anak kami.
Tanganku gemetar ketika mengetik.
Aku: Maksudmu bayinya?
Tiga menit kemudian balasannya muncul.
Arga: Aku belum siap jadi ayah. Tolong sekali ini jangan keras kepala.
Setelah itu masuk notifikasi transfer Rp3 juta.
Keterangan transfernya hanya dua kata.
Biaya klinik.
Aku langsung mematikan ponsel.
Untuk pertama kalinya sejak mengetahui kehamilanku, aku menangis tanpa suara.
Dua hari sebelumnya, aku masih percaya hidupku hanya sedang mengalami masa sulit.
Perusahaan desain interior tempatku bekerja di Jakarta melakukan pengurangan pegawai. Namaku termasuk dalam daftar.
Arga saat itu sedang merintis usaha furnitur bersama dua temannya.
Pendapatan belum stabil.
Kami memang belum kaya.
Tetapi selama hampir enam tahun bersama, kami selalu berbicara tentang pernikahan.
Tentang rumah kecil.
Tentang anak.
Bahkan Arga pernah menunjuk foto kamar anak di Pinterest sambil berkata, “Kalau nanti punya anak cowok, kamarnya begini.”
Karena itu ketika test pack menunjukkan dua garis, aku tidak takut.
Aku gugup, tentu saja.
Tetapi aku juga bahagia.
Aku membeli sepasang kaus kaki bayi berwarna putih sebelum menemui Arga.
Aku membayangkan dia akan terdiam beberapa detik, lalu memelukku.
Yang terjadi justru sebaliknya.
Kami bertemu di sebuah kedai kopi di Rawamangun.
Begitu aku menunjukkan hasil pemeriksaan dokter, wajahnya berubah.
“Berapa minggu?”
“Sebelas.”
“Kok baru bilang?”
“Aku baru yakin setelah periksa.”
Arga mengusap wajah berkali-kali.
“Naura, ini bukan waktu yang tepat.”
Aku masih berusaha tersenyum.
“Tidak ada waktu yang benar-benar sempurna, Ga.”
“Aku serius.”
“Aku juga.”
Dia berdiri dan berjalan mendekati jendela.
“Aku baru tanda tangan sewa workshop setahun. Cicilan mesin masih jalan. Klien belum tetap. Kamu malah baru kena PHK.”
Aku menatap punggungnya.
“Jadi?”
“Jadi pikir realistis.”
Darahku terasa dingin.
“Aku datang bukan untuk meminta kamu membayar semuanya.”
“Bukan soal uang saja!”
Beberapa orang menoleh.
Arga merendahkan suara.
“Aku belum mau hidupku berhenti sekarang.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada yang ia sadari.
“Berhenti?”
Aku menatapnya.
“Punya anak denganku berarti hidupmu berhenti?”
Dia tidak menjawab.
Aku kemudian menanyakan satu hal yang sebenarnya menentukan semuanya.
“Kalau aku mempertahankan bayi ini, kamu bagaimana?”
Arga terdiam lama.
Lalu berkata, “Pulanglah ke Malang dulu.”
Aku hampir tidak percaya.
“Maksudmu?”
“Tinggal sama Mbak Lestari. Sampai semuanya lebih jelas.”
“Lalu kamu?”
“Aku tetap di Jakarta.”
“Dan kita?”
“Kenapa semuanya harus diputuskan hari ini?”
Aku menelan ludah.
“Mungkin karena anak kita sudah ada hari ini.”
Wajahnya langsung mengeras.
“Aku capek kalau kamu terus menekan seperti ini.”
Aku bangkit.
“Baik.”
Arga terlihat terkejut.
Aku memasukkan hasil USG kembali ke tas.
“Aku pulang ke Malang.”
Dia tetap berdiri.
Aku mengambil napas panjang.
“Tapi setelah aku pergi, jangan pernah bilang aku meninggalkanmu tanpa alasan.”
Aku berjalan keluar.
Setengah langkah sebelum pintu, aku sengaja melambat.
Aku berharap mendengar kursi bergeser.
Tidak ada.
Itulah sebabnya malam itu aku benar-benar naik bus.
Dan Arga benar-benar membiarkanku pergi.
Sesampainya di Malang, Mbak Lestari hanya memelukku.
Ia tidak bertanya kenapa Arga tidak datang.
Tidak memaksaku menceritakan apa pun.
Saat melihat keterangan transfer “biaya klinik”, kakakku menangis lebih keras daripada aku.
“Kalau kamu mau mempertahankan anakmu,” katanya, “tinggal di sini. Kita cari jalan bersama.”
Aku mengembalikan Rp3 juta itu ke rekening Arga pada pagi berikutnya.
Keterangan transferku:
Tidak diperlukan.
Setelah itu aku mengganti nomor.
Bukan karena ingin menyembunyikan diri.
Nomor lama terus menerima telepon dari ibu Arga.
Bu Ratih.
Telepon pertama masih terdengar sopan.
“Naura, Tante mengerti kamu kecewa. Tapi jangan hancurkan masa depan Arga hanya karena satu kesalahan.”
Telepon kedua berubah.
“Kalian bahkan belum menikah. Kalau kamu memaksakan kelahiran anak itu, nanti siapa yang malu?”
Telepon ketiga membuatku berhenti menjawab.
“Keluarga kami tidak akan mengakui apa pun.”
Aku tidak pernah menelepon lagi.
Rafi lahir tujuh bulan kemudian.
Beratnya 3,1 kilogram.
Rambut hitam tebal.
Mata panjang.
Dan lesung kecil di pipi kirinya sama persis seperti Arga.
Aku menangis ketika pertama kali melihatnya.
Bukan karena masih mencintai ayahnya.
Aku menangis karena anak yang dahulu disebut “masalah” itu ternyata menjadi alasan terbesarku untuk bertahan hidup.
Aku mulai menerima pekerjaan desain dari rumah.
Mbak Lestari dan suaminya memiliki workshop kayu kecil di Batu. Aku membuat desain meja belajar dan rak mainan anak.
Awalnya hanya lima pesanan.
Kemudian dua puluh.
Lalu sebuah toko perlengkapan anak di Surabaya meminta kami menjadi pemasok.
Tiga tahun berlalu.
Usaha kecil kami berkembang menjadi merek furnitur anak bernama Ruang Kecil.
Tidak besar.
Tidak mewah.
Tetapi cukup untuk membayar gaji sembilan orang dan membuatku tidak lagi menghitung uang setiap kali Rafi demam.
Aku kira Jakarta sudah menjadi bagian hidup yang selesai.
Sampai kami mendapat undangan mengikuti pameran furnitur nasional di ICE BSD.
Aku datang bersama Mbak Lestari dan dua staf.
Hari kedua pameran, aku sedang berbicara dengan calon distributor ketika Rafi berlari dari area bermain.
“Mama!”
Aku berjongkok.
“Kenapa lari-lari?”
Rafi tertawa dan memeluk leherku.
Saat aku berdiri sambil menggandeng tangannya, seorang lelaki berdiri sekitar empat meter di depan kami.
Tubuhku membeku.
Arga.
Dia berubah.
Lebih rapi.
Lebih kurus.
Mengenakan kemeja hitam dengan kartu peserta pameran tergantung di dada.
Tetapi aku masih mengenali matanya.
Dan untuk beberapa detik, mata itu tidak menatapku.
Ia menatap Rafi.
Dahi anakku.
Hidungnya.
Lesung pipinya.
Bahkan cara Rafi menggigit bibir ketika bingung.
Wajah Arga perlahan kehilangan warna.
“Naura…”
Aku menarik Rafi sedikit lebih dekat.
Arga melangkah maju.
Matanya merah.
“Umurnya berapa?”
Aku tidak menjawab.
“Naura.”
Suaranya pecah.
“Berapa umur anak itu?”
“Tiga tahun bulan depan.”
Arga seperti terkena pukulan.
Dia menghitung sesuatu dalam kepalanya.
Kemudian menatapku dengan kemarahan yang hampir membuatku tertawa.
“Kamu serius?”
Aku diam.
“Kamu melahirkan anakku dan tidak mengatakan apa pun?”
Beberapa orang mulai memperhatikan kami.
Aku membungkuk dan meminta staf membawa Rafi ke stan.
Setelah anakku pergi, barulah aku menatap Arga.
Dia langsung berkata,
“Kamu sembunyikan anakku selama tiga tahun?”
Aku tertawa kecil.
Dingin.
“Anakmu?”
“Jangan bermain kata denganku.”
“Aku tidak bermain.”
Aku membuka tas.
Mengambil ponsel.
“Aku tidak pernah menyembunyikan siapa pun, Ga.”
Aku membuka folder lama yang sudah tiga tahun tidak pernah kusentuh.
Lalu menunjukkan tangkapan layar percakapan terakhir kami.
Kalau masalah itu sudah selesai, kita bisa bicara lagi.
Di bawahnya ada bukti transfer.
Rp3.000.000 — Biaya klinik.
Wajah Arga langsung kaku.
Aku menatap matanya.
“Yang kamu lihat tadi adalah bayi yang kamu minta kuselesaikan sebelum aku boleh kembali.”
Dan saat Arga hendak membuka mulut, aku menekan satu file rekaman yang sudah kusimpan selama tiga tahun.
Suara Arga sendiri terdengar dari ponselku.
Jelas.
Dingin.
Dan kalimat pertama rekaman itu membuat wajahnya seketika pucat.
#DramaKeluarga #KisahKehidupan #CeritaIndonesia #KonflikKeluarga #KisahPenuhMakna
Bagian 2 — Tiga Tahun Kemudian Arga Menemukan Wajahnya Sendiri pada Putraku, lalu Satu Berkas Lama Membuat Tuduhannya Berbalik Menghantam Dirinya di Depan Keluarga
“Aku tidak pernah meminta kamu mempertahankannya. Kalau kamu tetap memilih bayi itu, jangan seret namaku nanti.”
Suara dari ponselku membuat Arga membeku.
Aku mematikan rekaman.
“Masih mau bilang aku menyembunyikan anakmu?”
Arga menelan ludah.
“Itu… aku sedang emosi.”
“Anak itu tetap tumbuh meski kamu sedang emosi.”
“Aku tidak pernah bermaksud benar-benar meninggalkan kalian.”
Aku hampir tertawa.
“Lalu menurutmu apa arti tiga tahun tanpa satu kali datang?”
“Aku pikir kamu menggugurkannya!”
“Nah.”
Aku mengangguk.
“Berarti kamu memang berharap begitu.”
Dia terdiam.
Tepat saat itu terdengar suara perempuan dari belakang.
“Arga?”
Bu Ratih.
Aku mengenal suaranya sebelum melihat wajahnya.
Perempuan itu mendekat bersama seorang wanita muda yang kemudian kuketahui sebagai adik Arga.
Saat matanya bertemu denganku, langkahnya berhenti.
Lalu ia melihat ke arah stan kami.
Rafi sedang duduk menggambar bersama Mbak Lestari.
Wajah Bu Ratih berubah.
“Anak siapa itu?”
Tidak ada yang menjawab.
Ia menatap Arga.
“Ga?”
Arga berkata pelan,
“Anakku.”
Bu Ratih langsung memegang dadanya.
Beberapa detik kemudian, bukannya meminta maaf, kalimat pertama yang keluar justru membuat darahku kembali panas.
“Kamu sengaja membawa anak itu sekarang untuk meminta apa?”
Mbak Lestari yang mendengar dari kejauhan langsung berdiri.
Aku mengangkat tangan, memberi tanda bahwa aku bisa mengatasinya.
“Aku tidak datang mencari keluarga Ibu.”
Bu Ratih tertawa sinis.
“Tiga tahun tidak muncul, sekarang bisnis Arga sedang berkembang baru datang membawa anak?”
Aku menatap kartu peserta di dada Arga.
Ternyata perusahaannya memang membuka stan besar dua lorong dari kami.
Ironis.
Perempuan yang dulu katanya akan menghancurkan masa depannya ternyata sekarang berdiri sebagai peserta pameran yang sama.
“Aku bahkan tidak tahu Arga ada di sini.”
“Semua perempuan bisa bilang begitu.”
Arga memotong.
“Bu, cukup.”
Tetapi Bu Ratih justru mendekati Rafi.
“Mari sini, Nak.”
Aku langsung berdiri di depannya.
“Jangan sentuh anak saya.”
“Itu cucuku.”
“Dia bahkan tidak mengenal Ibu.”
“Aku neneknya!”
Nada suaranya naik.
Rafi mulai ketakutan.
Aku memberi kode kepada staf untuk membawanya ke ruang belakang.
Bu Ratih mencoba melewatiku.
Petugas keamanan pameran datang karena keributan mulai menarik perhatian.
Aku berkata dengan tenang,
“Kalau Ibu masih memaksa mendekati anak saya, saya akan minta keamanan mengeluarkan Ibu.”
Bu Ratih menatapku seolah aku baru saja menamparnya.
“Kamu berani menghalangi keluarga kandungnya?”
Aku menatap lurus.
“Tiga tahun lalu Ibu sendiri yang bilang keluarga Ibu tidak akan mengakui anak ini.”
Ia mendadak diam.
Arga menoleh.
“Apa?”
Aku memandang Arga.
“Kamu tidak tahu?”
“Tahu apa?”
Aku tidak langsung menjawab.
Malam itu, setelah pameran selesai, Arga menungguku di lobi hotel tempat peserta menginap.
Aku sebenarnya ingin melewatinya.
Tetapi dia berdiri di depan lift.
“Lima menit.”
“Tidak.”
“Naura, aku cuma mau tahu apa yang terjadi.”
“Kamu sudah tahu bagian terpenting.”
“Kenapa Ibuku meneleponmu?”
Aku akhirnya berhenti.
“Karena dua hari setelah aku sampai Malang, ibumu menelepon.”
Wajahnya mengeras.
“Apa katanya?”
Aku menceritakan semuanya.
Arga berkali-kali menggeleng.
“Ibu tidak pernah bilang padaku.”
“Itu urusan kalian.”
“Aku sungguh tidak tahu.”
Aku menatapnya beberapa detik.
“Baik. Anggap kamu tidak tahu.”
Dia terlihat sedikit lega.
Sampai aku melanjutkan.
“Tetapi pesanmu sendiri kamu tahu, kan?”
Arga terdiam.
“Transfer Rp3 juta itu kamu tahu?”
Diam.
“Kamu tidak mencariku ke Malang juga pilihanmu.”
“Nomormu tidak aktif.”
“Alamat kakakku kamu tahu.”
Dia menunduk.
Aku menekan tombol lift.
Sebelum pintu terbuka, Arga berkata,
“Setidaknya seharusnya kamu memberi tahu saat Rafi lahir.”
Aku menatapnya.
“Aku melakukannya.”
Arga langsung mengangkat kepala.
“Apa?”
Aku membuka email dan menunjukkan foto sebuah amplop cokelat.
Di dalamnya dahulu ada fotokopi surat kelahiran Rafi, satu foto bayi, dan surat pendek dariku.
Tidak ada tuntutan uang.
Tidak ada permintaan menikah.
Aku hanya menulis bahwa anak kami lahir sehat dan suatu hari nanti, jika Arga ingin bertanggung jawab, ia tahu harus mencari kami di mana.
Aku mengirimkannya melalui pos tercatat ke alamat rumah orang tuanya karena saat itu workshop Arga sudah pindah.
“Aku tidak pernah menerima itu.”
“Aku tahu.”
“Dari mana kamu tahu?”
Aku memperbesar foto bukti pengiriman.
Di sana ada nama penerima.
Ratih Kusumawardani.
Tanda tangan di bawahnya jelas.
Arga menatap layar lama sekali.
“Aku simpan bukti penerimaannya,” kataku.
“Surat tentang kelahiran Rafi sampai ke rumahmu tiga tahun lalu.”
Aku mengambil kembali ponselku.
“Yang menerimanya adalah ibumu.”
Saat lift terbuka, Arga tidak masuk.
Ia hanya berdiri di tempat yang sama dengan wajah pucat.
Dan dari belakang kami terdengar suara Bu Ratih yang ternyata baru masuk ke lobi.
“Arga…”
Arga berbalik perlahan.
Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, tatapan yang ia berikan kepada ibunya benar-benar dingin.
“Surat apa yang Ibu sembunyikan dariku selama tiga tahun?”
Bu Ratih tidak menjawab.
Namun wajahnya sudah menjelaskan semuanya.
Bagian 3 — Saat Arga Memaksa Mengambil Hak sebagai Ayah, Rekaman Suara dan Satu Keputusan Pengadilan Membuat Semua Pilihan Lamanya Dibayar Tunai di Depan Semua Orang
Bu Ratih akhirnya mengaku malam itu.
Ia memang menerima suratku.
Ia bahkan melihat foto Rafi.
Tetapi amplop itu tidak pernah diberikan kepada Arga.
“Aku melakukan itu demi kamu,” katanya.
Arga menatap ibunya dengan mata merah.
“Demi aku?”
“Kamu baru membangun usaha. Kalau waktu itu kamu tahu anak itu lahir, kamu pasti pergi ke Malang dan semua rencanamu berantakan.”
Aku berdiri beberapa meter dari mereka dan hampir ingin tertawa.
Lagi-lagi semua orang merasa berhak memutuskan hidup Rafi atas nama masa depan Arga.
Bu Ratih menunjuk kepadaku.
“Lagi pula dia sendiri pergi.”
Aku langsung menjawab,
“Karena anak saya disebut masalah dan diberi uang untuk klinik.”
Ruangan mendadak hening.
Arga menutup wajah.
Tetapi aku tidak merasa menang.
Aku hanya lelah.
“Aku pulang besok,” kataku. “Jangan datang ke kamar kami. Jangan mendekati Rafi tanpa izinku.”
Arga mengejarku.
“Naura, aku ingin tes DNA.”
Aku berhenti.
Bukan karena tersinggung.
Justru aku merasa lucu.
“Tentu.”
Dia mungkin tidak menyangka aku akan menyetujuinya semudah itu.
“Aku tidak takut tes apa pun.”
Sebulan kemudian hasil pemeriksaan keluar.
Kemungkinan hubungan biologis antara Arga dan Rafi lebih dari 99,9 persen.
Sejak saat itu Arga berubah dari lelaki yang tiga tahun menghilang menjadi lelaki yang menelepon hampir setiap hari.
Ia ingin bertemu Rafi.
Ingin mengirim uang.
Ingin datang ke Malang.
Bahkan suatu sore ia mengatakan,
“Aku ingin Rafi tinggal beberapa hari denganku.”
Aku langsung menolak.
“Tidak.”
“Aku ayahnya.”
“Secara biologis, iya.”
“Naura!”
“Dia tidak mengenalmu.”
“Aku bisa mengenalnya.”
“Pelan-pelan.”
Arga mulai marah.
“Aku kehilangan tiga tahun!”
Aku menatapnya melalui panggilan video.
“Bukan kehilangan.”
Aku mengoreksi.
“Kamu menyerahkannya.”
Kalimat itu membuatnya diam.
Beberapa minggu setelah itu, kami duduk dalam mediasi bersama pendamping hukum masing-masing.
Aku tidak berniat menjauhkan Rafi selamanya dari ayah biologisnya.
Tetapi aku juga tidak akan membiarkan Arga datang setelah tiga tahun lalu bertingkah seolah hubungan darah otomatis memberinya hak memasuki kehidupan seorang anak sesukanya.
Semua bukti kutaruh di meja.
Percakapan WhatsApp.
Bukti transfer “biaya klinik”.
Rekaman suara.
Bukti surat kelahiran yang diterima Bu Ratih.
Catatan biaya persalinan dan kesehatan Rafi.
Tidak untuk mempermalukan siapa pun.
Aku hanya ingin satu hal dicatat dengan jelas:
Aku tidak pernah menyembunyikan anak kami.
Arga-lah yang memilih tidak mencarinya.
Kesepakatan akhirnya dibuat.
Arga boleh bertemu Rafi secara bertahap.
Pertemuan awal dilakukan dengan kehadiranku atau Mbak Lestari sampai Rafi merasa aman.
Tidak boleh membawa Rafi pergi tanpa persetujuan.
Tidak boleh datang tiba-tiba ke sekolah.
Tidak boleh menggunakan status sebagai ayah untuk menekan anak.
Arga juga menyetujui biaya kebutuhan Rafi secara rutin dan membuat tabungan pendidikan atas nama anak.
Bu Ratih tidak diberi akses menjemput Rafi sendiri setelah insiden di pameran.
Ia marah besar.
“Jadi aku harus minta izin hanya untuk melihat cucuku?”
Aku menjawab,
“Ibu pernah memilih tidak mengakui dia sebelum melihat wajahnya. Sekarang Ibu harus belajar bahwa menjadi keluarga bukan sekadar mengucapkan kata cucu.”
Bu Ratih tidak punya jawaban.
Arga pun mendapat pelajaran yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Pada pertemuan pertamanya dengan Rafi, ia datang membawa mobil-mobilan listrik mahal.
Rafi memandangnya sebentar lalu bertanya,
“Om mau main balok?”
Arga tertegun.
“Om?”
Aku melihat rahangnya menegang.
Tetapi dia tidak membantah.
Mereka duduk di lantai hampir dua jam.
Rafi tidak menyentuh mobil-mobilan itu.
Ia hanya meminta Arga membantunya membangun garasi dari balok kayu.
Ketika Arga hendak pulang, Rafi bertanya,
“Om besok datang lagi?”
Aku melihat mata Arga langsung berkaca-kaca.
Saat itulah dia mungkin baru memahami harga sesungguhnya dari tiga tahun yang telah dilewatkannya.
Bukan uang.
Bukan biaya sekolah.
Bukan mainan.
Dia kehilangan saat Rafi belajar berjalan.
Kata pertama.
Demam pertamanya.
Hari pertama masuk kelompok bermain.
Dan semuanya tidak bisa dikembalikan hanya karena sekarang dia menyesal.
Enam bulan berlalu.
Arga mulai lebih teratur.
Tidak ada lagi tuntutan.
Tidak ada lagi kalimat “aku ayahnya” setiap kali keinginannya ditolak.
Dia datang sesuai jadwal.
Membaca buku untuk Rafi.
Mengantar biaya sekolah tepat waktu.
Bahkan suatu hari dia meminta maaf kepadaku tanpa mencoba mencari alasan.
“Aku dulu mengira kamu tidak mungkin benar-benar pergi.”
Aku tersenyum tipis.
“Lucunya, aku juga mengira kamu akan mengejarku.”
Arga menunduk.
“Kalau aku datang ke terminal malam itu…”
Aku memotong.
“Jangan hidup dari kalimat kalau.”
Dia menatapku.
“Aku tidak akan kembali menjadi pasanganmu, Ga.”
Wajahnya terlihat sakit, tetapi kali ini dia tidak membantah.
“Aku sudah memaafkan banyak hal. Tapi memaafkan tidak berarti mengulang hidup yang sama.”
Dia mengangguk perlahan.
“Aku mengerti.”
Setahun setelah pertemuan kami di Jakarta, Ruang Kecil membuka showroom pertama di Malang.
Mbak Lestari menangis saat papan nama dipasang.
Rafi berlari ke sana kemari memakai kaus kuning sambil membawa balon.
Arga datang setelah meminta izin lebih dulu.
Bu Ratih juga datang.
Ia berdiri jauh di belakang dan tidak mencoba mengambil Rafi dari tanganku.
Sebelum pulang, ia menghampiriku.
“Naura.”
Aku menoleh.
Perempuan yang dulu menyuruhku menghilang itu menundukkan kepala.
“Tante salah.”
Hanya dua kata.
Tidak menghapus masa lalu.
Tetapi setidaknya kali ini ia tidak mencari alasan.
Aku mengangguk.
“Jangan minta maaf pada saya saja.”
Aku melihat Rafi.
“Pastikan Ibu tidak pernah membuat dia merasa kelahirannya adalah kesalahan.”
Bu Ratih menangis.
Hari mulai sore ketika para tamu pulang.
Aku sedang membereskan meja kasir ketika mendengar Rafi memanggil dari depan.
“Ayah Arga!”
Tanganku berhenti.
Arga juga membeku.
Rafi berlari menghampirinya sambil membawa gambar rumah yang dibuatnya sendiri.
“Ini buat Ayah.”
Arga berjongkok.
Tangannya gemetar saat menerima kertas itu.
Matanya langsung merah.
Dia memeluk Rafi perlahan, seolah takut anak itu akan berubah pikiran.
Aku hanya berdiri beberapa meter dari mereka.
Tidak cemburu.
Tidak menyesal.
Dan tidak ingin kembali.
Aku akhirnya memahami sesuatu yang dulu tidak kupahami ketika duduk sendirian di bus malam itu.
Kadang-kadang akhir yang bahagia bukanlah dua orang yang pernah saling mencintai akhirnya kembali bersama.
Kadang akhir yang bahagia adalah seorang perempuan berani pergi saat dirinya tidak dihargai, seorang anak tumbuh tanpa pernah merasa dirinya beban, dan seorang lelaki akhirnya dipaksa menjalani konsekuensi dari pilihan yang dulu ia anggap sepele.
Arga mendapatkan kesempatan menjadi ayah.
Tetapi dia tidak mendapatkan kembali tiga tahun yang pernah dia buang.
Dan aku?
Aku tidak lagi menunggu siapa pun mengejarku.
Karena sekarang aku sudah tahu jalan pulangku sendiri.

