Rekening Rahasia Itu Membongkar Pengkhianatan Keluarga, Namun Keputusan Maya Berikutnya Justru Membuat Ardi Kehilangan Segalanya

Avatar penulis
Cerita 05
6 menit baca 367 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — Rekening Rahasia Itu Membongkar Pengkhianatan Keluarga, Namun Keputusan Maya Berikutnya Justru Membuat Ardi Kehilangan Segalanya

Ibu mertuaku tidak langsung menjawab.

Wajahnya yang tadi pucat perlahan berubah tegang. Tangannya mencengkeram ujung meja begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Ardi menatap ibunya seolah baru pertama kali melihat perempuan yang membesarkannya itu.

—Ibu… kenapa rekening penerima uang itu atas nama Ibu?

—Pasti ada kesalahan.

Jawaban itu keluar terlalu cepat.

Pengacara di sampingku menggeleng.

—Tidak ada kesalahan. Kami sudah memeriksanya melalui dokumen transaksi. Dana itu masuk ke rekening Ibu sebelum dipindahkan lagi.

Bima tiba-tiba menyela.

—Itu hanya rekening perantara!

Aku menoleh kepadanya.

—Kalau begitu jelaskan.

Dia terdiam.

Perempuan muda yang datang bersamanya mulai tampak gelisah.

—Bima, sebenarnya apa yang terjadi?

Bima mencoba meraih tangannya.

—Sari, dengarkan aku dulu.

Perempuan bernama Sari itu mundur.

—Jangan sentuh aku.

Dia menatap ibu mertuaku.

—Bima mengatakan Ibu sudah menjual sebidang tanah keluarga dan memberikan uang itu kepada kami untuk membeli rumah.

Ibu mertuaku langsung membentak.

—Aku tidak pernah mengatakan begitu!

Sari menatap Bima dengan mata membesar.

—Jadi kamu berbohong?

Suasana di warung menjadi semakin kacau.

Namun aku tidak lagi tertarik mendengar mereka saling menyalahkan.

Aku hanya ingin mengetahui satu hal.

—Uangnya sekarang di mana?

Pengacara membuka dokumen berikutnya.

Sebagian dana telah digunakan untuk membayar uang muka rumah.

Sebagian lagi ditransfer ke sebuah rekening investasi.

Dan jumlah terakhir masih berada di rekening ibu mertuaku.

Ardi memukul meja.

—Jadi selama ini Mas tidak sedang menyelamatkan usaha?

Bima membalas dengan suara keras.

—Usahaku memang punya utang!

—Tapi uang itu tidak digunakan untuk membayar utang!

—Aku hanya ingin memulai hidup baru!

Kalimat itu membuat semua orang diam.

Sari menatapnya.

—Hidup baru?

Bima menelan ludah.

Tatapannya menghindar.

Sari tiba-tiba mengerti.

—Dengan aku?

Bima tidak menjawab.

Sari tertawa getir.

Kemudian dia menunjuk anak laki-laki kecil yang sejak tadi berdiri di sampingnya.

—Kamu bilang kepadaku bahwa proses perceraianmu sudah hampir selesai. Kamu bilang istrimu sudah setuju berpisah.

Mata Ardi membesar.

—Istri Mas bahkan tidak tahu soal itu. Dia pulang ke rumah orang tuanya karena mengira Mas sedang berusaha menyelesaikan utang.

Sari membeku.

Air matanya mulai menggenang.

Dia menatap Bima beberapa detik sebelum berbalik pergi.

Bima mengejarnya.

Namun sebelum keluar, Sari berhenti.

—Jangan pernah datang mencariku lagi.

Lalu dia membawa anaknya pergi.

Bima berdiri di depan pintu seperti orang kehilangan arah.

Aku tidak merasa kasihan.

Pilihan-pilihan yang dia buat telah membawa dirinya sendiri ke titik itu.

Petugas bank kemudian menjelaskan bahwa karena terdapat dugaan pemalsuan tanda tangan dan penyalahgunaan dokumen, proses penyitaan warung dihentikan.

Namun perkara pinjaman tidak otomatis hilang.

Pihak bank akan melakukan pemeriksaan internal dan meminta pertanggungjawaban dari pihak yang benar-benar terlibat.

Ardi langsung menatapku.

—Maya…

Aku tahu apa yang ingin dia katakan.

Dia ingin meminta maaf.

Mungkin juga ingin meminta pertolongan.

Tapi aku mengangkat tangan.

—Belum selesai.

Aku menatap pengacara.

Dia mengeluarkan satu dokumen lagi.

Kali ini wajah Ardi berubah.

—Apa itu?

—Surat pernyataan yang saya tandatangani tiga minggu lalu.

Aku meletakkannya di depannya.

—Aku sudah melaporkan kehilangan salinan dokumen kepemilikan dan menyatakan secara tertulis bahwa aku tidak pernah memberi izin kepada siapa pun untuk menggunakan warung sebagai jaminan.

Ardi menatapku lama.

—Jadi sejak awal kamu sudah tahu?

—Aku tahu ada sesuatu yang kalian sembunyikan. Aku hanya belum tahu seberapa jauh kalian berani melangkah.

Ibu mertuaku tiba-tiba menangis.

—Maya, Ibu salah.

Aku menatapnya tanpa berkata apa-apa.

Dia mendekat.

—Ibu hanya ingin menolong Bima. Dia anak pertama Ibu. Ibu tidak tega melihat hidupnya hancur.

—Jadi Ibu tega menghancurkan hidup saya?

Dia terdiam.

—Warung ini peninggalan ibu saya.

Suaraku tetap tenang.

—Selama bertahun-tahun, ketika Ardi tidak punya penghasilan tetap, uang dari warung ini yang membayar kebutuhan kami. Ketika Ibu sakit, saya yang membayar sebagian biaya pengobatan. Ketika Bima pertama kali terlilit utang, saya juga pernah membantu.

Aku memandang mereka satu per satu.

—Tapi kalian tetap merasa berhak mengambil sesuatu milik saya tanpa bertanya.

Ardi menundukkan kepala.

—Aku salah.

—Bukan hanya salah, Ardi.

Aku menarik napas.

—Kamu mengkhianati kepercayaan orang yang hidup bersamamu.

Dia menatapku dengan mata merah.

—Beri aku satu kesempatan.

Aku tidak menjawab.

Sebaliknya, aku mengambil tas dan menyerahkan pengelolaan warung kepada pegawaiku untuk hari itu.

Sebelum pergi, aku berkata:

—Mulai hari ini, jangan datang ke warung tanpa izin saya.

Ibu mertuaku tampak terkejut.

—Maya!

Aku berhenti di pintu.

—Saya membutuhkan waktu untuk memutuskan apa yang akan saya lakukan dengan pernikahan ini.

Lalu aku pergi.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak pulang ke rumah yang kutinggali bersama Ardi.

Aku menginap di rumah seorang sahabat lama.

Malam itu, aku hampir tidak tidur.

Bukan karena kehilangan.

Melainkan karena akhirnya aku menyadari betapa lama aku hidup dengan kebiasaan memaafkan orang sebelum mereka benar-benar memahami kesalahannya.

Keesokan harinya, pengacara menelepon.

Pihak bank menemukan lebih banyak kejanggalan.

Bima ternyata bekerja sama dengan seorang perantara untuk membuat dokumen seolah-olah aku menyetujui jaminan.

Ardi memang menyerahkan salinan dokumen milikku.

Namun menurut hasil pemeriksaan awal, dia tidak menerima uang dari transaksi tersebut.

Itu tidak membuatnya tidak bersalah.

Tetapi ada satu fakta lain yang jauh lebih mengejutkan.

Ibu mertuaku ternyata mengetahui rencana Bima sejak awal.

Bahkan rekening miliknya sengaja digunakan untuk menyembunyikan aliran uang.

Aku menutup mata ketika mendengarnya.

Jadi semuanya bukan keputusan impulsif.

Mereka merencanakannya.

Dua hari kemudian, Ardi datang ke warung sendirian.

Dia tidak masuk.

Dia berdiri di luar sampai aku selesai bekerja.

Ketika aku keluar, dia berkata:

—Aku sudah pindah dari rumah Ibu.

Aku tidak menjawab.

—Aku juga sudah memberikan semua informasi yang aku tahu kepada bank dan pengacara.

—Bagus.

—Maya, aku tidak meminta kamu langsung memaafkanku.

Untuk pertama kalinya, kalimatnya terdengar berbeda.

Tidak ada alasan.

Tidak ada kata “tapi”.

Dia hanya berkata:

—Aku ingin bertanggung jawab.

Aku menatapnya.

—Tanggung jawab bukan berarti mendapatkan aku kembali.

Ardi mengangguk.

—Aku tahu.

Lalu dia menyerahkan sesuatu.

Bukan bunga.

Bukan hadiah.

Melainkan surat pernyataan bahwa dia bersedia menanggung bagian kewajiban hukum dan finansial yang timbul akibat tindakannya tanpa menyeret aset milikku.

Aku menerimanya.

—Aku akan meminta pengacaraku memeriksa ini.

—Silakan.

Dia pergi.

Aku mengira itulah akhir pembicaraan kami.

Namun seminggu kemudian, ketika penyelidikan terhadap Bima semakin dalam, sebuah fakta baru muncul.

Uang yang masih berada di rekening ibu mertuaku tiba-tiba hendak dipindahkan.

Dan permintaan pemindahan itu dilakukan hanya beberapa jam setelah kejadian di warung.

Yang lebih mengejutkan, rekening tujuan bukan milik Bima.

Pengacara meletakkan hasil pemeriksaan di hadapanku.

Aku membaca nama pemilik rekening tersebut dua kali.

Kemudian aku mengangkat kepala.

—Siapa orang ini?

Pengacara menarik napas panjang.

—Itulah yang ingin saya bicarakan dengan Anda. Karena orang ini ternyata sudah menerima transfer rutin dari ibu mertua Anda selama hampir tujuh tahun.

Aku menatap angka-angka di halaman itu.

Tujuh tahun.

Jauh sebelum usaha Bima bangkrut.

Jauh sebelum masalah pinjaman ini muncul.

Dan saat itulah aku sadar bahwa skandal yang hampir merenggut warungku mungkin hanya permukaan dari rahasia keluarga yang jauh lebih besar.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)