BAGIAN 3 — Setelah Pengkhianatan Terbongkar, Laras Memilih Hidup Baru dan Kebenaran Akhirnya Mengembalikan Semua yang Dirampas
Arga menatap layar tanpa berkedip.
—Ayah?
Petugas bank mengangguk.
—Rekening itu dibuka lima tahun lalu.
Aku langsung teringat ayah mertua yang sepanjang makan malam hampir tidak pernah berbicara. Dia selalu terlihat lelah, pendiam, dan seolah tidak mengetahui urusan bisnis keluarga.
Ternyata mungkin justru dialah orang yang mengetahui semuanya.
Beberapa jam kemudian, kebenaran mulai terurai.
Ayah Arga datang sendiri ke bank.
Dia tidak melarikan diri.
Dia membawa dua koper berisi arsip lama perusahaan.
Saat memasuki ruang pemeriksaan, wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua.
—Saya sudah menunggu hari ini terlalu lama.
Arga berdiri.
—Ayah tahu semuanya?
Pria itu menatap anaknya.
—Lebih banyak daripada yang seharusnya.
Dia mengaku rekening atas namanya memang digunakan untuk menerima dana perusahaan. Namun bukan untuk mencuri.
Lima tahun sebelumnya, ketika mengetahui istrinya mulai memalsukan transaksi demi menutup utang, dia diam-diam membuat rekening terpisah untuk menyelamatkan dana yang masih bisa dipertanggungjawabkan.
Masalahnya, dia tidak pernah berani menghentikan istrinya.
—Saya pikir kalau saya menjaga uangnya, suatu hari semuanya bisa diperbaiki.
Aku menatapnya.
—Sementara identitas orang lain digunakan?
Dia menunduk.
—Itulah kesalahan terbesar saya. Saya diam terlalu lama.
Bima ditemukan sore itu di sebuah hotel dekat terminal antarkota.
Dia tidak membawa uang.
Ibu mertuaku bersamanya.
Pemindahan dana terakhir berhasil diblokir oleh bank.
Sinta datang ke kantor pemeriksa bersama pengacaranya dan menyerahkan ponsel lama yang berisi percakapan dengan Bima.
Dari situlah semuanya menjadi jelas.
Bima selama berbulan-bulan menggunakan identitasku untuk mencoba memperoleh kredit baru. Sinta membantu pada awalnya, tetapi setelah mengetahui dokumen tersebut dipalsukan, dia ingin berhenti.
Bima mengancam akan membatalkan pernikahan dan menyeretnya sebagai satu-satunya pelaku.
Ironisnya, pernikahan yang direncanakan mereka tidak pernah terjadi.
Sinta memilih memberikan kesaksian dan menghadapi konsekuensi atas perbuatannya.
Bima pun akhirnya harus mempertanggungjawabkan tindakannya.
Sedangkan ibu mertuaku tidak lagi bisa mengendalikan cerita dengan mengatakan bahwa semua itu dilakukan “demi keluarga”.
Bukti terlalu banyak.
Beberapa minggu berikutnya adalah masa paling melelahkan dalam hidupku.
Aku menjalani pemeriksaan.
Bertemu pengacara.
Mengurus pemulihan identitas.
Membatalkan seluruh pengajuan kredit yang menggunakan namaku.
Bank akhirnya menyatakan apartemenku bebas dari klaim apa pun.
Tanah peninggalan ibuku juga diperiksa kembali.
Karena proses pengalihannya terbukti menggunakan informasi yang menyesatkan dan terkait transaksi bermasalah, penyelesaian hukum dilakukan sehingga nilai kerugianku harus dikembalikan.
Namun ada satu hal yang lebih mengejutkan.
Deposito yang dibuat Arga atas namaku masih utuh.
Uang itu berasal dari bagian terbesar hasil penjualan tanah ibuku.
Arga ternyata tidak pernah menyentuhnya.
Suatu sore, sekitar dua bulan setelah semuanya terbongkar, dia datang ke apartemenku.
Dia tidak membawa bunga.
Tidak membawa hadiah.
Hanya sebuah amplop.
Aku membiarkannya berdiri di depan pintu.
—Apa ini?
—Dokumen perceraian.
Aku menatapnya.
Arga tersenyum tipis, tetapi matanya terlihat lelah.
—Aku sudah menandatanganinya.
Aku membuka amplop.
Benar.
Dia tidak menuntut apartemen.
Tidak meminta deposito.
Tidak meminta harta apa pun.
—Kenapa?
—Karena kali ini aku ingin kamu benar-benar punya pilihan.
Aku menatap laki-laki yang baru beberapa bulan lalu kupanggil suami.
Sebagian diriku masih marah.
Sebagian lainnya masih mengingat lelaki yang memasakkan bubur ketika aku sakit, menungguku pulang lembur, dan diam-diam memperbaiki sandal ibuku yang kusimpan sebagai kenangan.
Mungkin kasih sayangnya nyata.
Tetapi kebohongannya juga nyata.
Dan cinta tidak menghapus akibat dari kebohongan.
—Aku belum bisa memaafkanmu, kataku.
Arga mengangguk.
—Aku tahu.
—Mungkin suatu hari aku bisa.
—Aku tidak akan menunggumu dengan tuntutan apa pun.
Dia berbalik.
Sebelum pergi, aku memanggilnya.
—Arga.
Dia menoleh.
—Terima kasih karena akhirnya mengatakan yang sebenarnya.
Matanya memerah.
—Maaf karena aku membutuhkan waktu terlalu lama.
Kami berpisah hari itu tanpa pelukan.
Tanpa janji.
Anehnya, itulah percakapan paling jujur dalam hubungan kami.
Enam bulan kemudian, hidupku berubah.
Aku menjual apartemen lama.
Bukan karena ingin melupakan semuanya, tetapi karena aku tidak lagi ingin hidup di tempat yang setiap sudutnya mengingatkanku pada siapa diriku sebelum mengetahui kebenaran.
Dengan uangku sendiri, ditambah dana yang berhasil dipulihkan, aku membeli sebuah rumah kecil di lingkungan yang tenang.
Ada halaman sempit di belakang.
Aku menanam melati di sana karena ibuku menyukai aromanya.
Aku juga membuka usaha konsultasi administrasi dan keuangan kecil bersama dua teman lama. Kami membantu pemilik usaha keluarga memahami kontrak, pinjaman, dan perlindungan aset agar mereka tidak mudah dimanfaatkan orang terdekat.
Untuk pertama kalinya, pengalaman burukku berubah menjadi sesuatu yang berguna bagi orang lain.
Ayah Arga menjual sebagian aset pribadinya untuk membantu menyelesaikan kewajiban perusahaan kepada pihak-pihak yang dirugikan.
Suatu hari dia datang menemuiku.
Dia meletakkan sebuah kotak kecil di meja.
Di dalamnya terdapat dokumen asli tanah milik ibuku dan sebuah foto lama yang terselip di arsip transaksi.
Foto ibuku berdiri di depan tanah itu sambil tersenyum.
Aku hampir menangis.
—Saya seharusnya menghentikan semua ini lebih awal, katanya.
Aku mengangguk.
—Ya, seharusnya.
Aku tidak mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.
Karena memang tidak.
Tetapi aku menerima foto itu.
Kadang-kadang memaafkan bukan berarti mengatakan bahwa seseorang tidak bersalah.
Memaafkan berarti kita berhenti membiarkan kesalahan mereka menentukan kehidupan kita.
Setahun berlalu.
Suatu pagi aku menerima pesan dari Arga.
Hanya satu kalimat.
Aku sudah menyelesaikan seluruh kewajibanku dalam penyelidikan. Semoga kamu sehat.
Aku membaca pesan itu lama.
Kemudian menjawab:
Aku baik. Semoga kamu juga belajar hidup dengan lebih jujur.
Tidak ada balasan selama beberapa menit.
Kemudian muncul:
Aku sedang belajar.
Aku tersenyum kecil.
Kami tidak kembali bersama.
Setidaknya tidak saat itu.
Aku tidak membutuhkan akhir bahagia berupa pernikahan kedua atau janji bahwa cinta akan menyelesaikan segalanya.
Kebahagiaanku ternyata berbentuk lain.
Aku mendapatkan kembali namaku.
Asetku.
Kepercayaanku pada diriku sendiri.
Dan yang paling penting, hak untuk menentukan siapa yang boleh berada dalam hidupku.
Dua tahun setelah malam makan malam itu, aku berdiri di halaman rumahku sambil menyiram melati ketika sebuah mobil berhenti di depan pagar.
Arga keluar.
Aku terdiam.
Dia tampak berbeda.
Lebih kurus, lebih sederhana, tetapi wajahnya jauh lebih tenang.
Dia tidak langsung masuk.
Hanya berdiri di luar pagar.
—Aku sedang lewat, katanya.
Aku mengangkat alis.
—Dua tahun berlalu dan kamu masih buruk dalam berbohong.
Dia tertawa.
Untuk pertama kalinya, aku ikut tertawa tanpa merasa sakit.
Arga mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Bukan cincin.
Bukan surat.
Sebuah bibit pohon mangga kecil.
—Dulu ibumu juga punya pohon mangga di tanah itu, kan?
Aku terkejut.
—Bagaimana kamu tahu?
—Aku melihatnya di foto lama.
Dia mengangkat bibit itu sedikit.
—Kupikir halamanmu masih punya tempat.
Aku memandang halaman belakang.
Memang masih ada satu sudut kosong.
Kemudian aku membuka pagar.
—Kamu boleh menanamnya.
Arga menatapku seakan tidak yakin.
—Hanya pohonnya, kataku. —Jangan terlalu percaya diri.
Dia tersenyum.
—Baik.
Kami menanam pohon itu bersama.
Tidak ada janji untuk kembali menjadi suami istri.
Tidak ada pengampunan ajaib.
Yang ada hanyalah dua orang yang pernah saling menyakiti, kemudian memilih menjadi lebih baik daripada masa lalu mereka.
Beberapa bulan kemudian, Arga sesekali datang membantu merawat pohon itu.
Kami mulai minum kopi bersama.
Lalu makan siang.
Perlahan.
Tanpa kebohongan.
Tanpa campur tangan keluarga.
Kali ini aku tidak memberikan kepercayaan secara cuma-cuma.
Dia harus mendapatkannya kembali sedikit demi sedikit.
Dan dia menerimanya.
Pada ulang tahun ketiga rumah baruku, pohon mangga itu akhirnya berbuah untuk pertama kalinya.
Aku memetik satu buah dan menyerahkannya kepada Arga.
—Lumayan.
Dia tertawa.
—Berarti aku boleh menanam pohon kedua?
Aku menggeleng.
—Jangan serakah.
Kami tertawa bersama.
Aku memandang bunga melati yang tumbuh di dekat teras, lalu pohon mangga muda di sudut halaman.
Dulu aku mengira kehilangan pernikahanku berarti kehilangan masa depan.
Ternyata aku salah.
Aku hanya kehilangan kehidupan yang dibangun di atas kebohongan.
Sebagai gantinya, aku mendapatkan kesempatan membangun sesuatu yang baru—dengan batas yang jelas, dengan harga diri, dan dengan kebenaran.
Apakah suatu hari aku dan Arga akan menikah lagi?
Aku tidak tahu.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak membutuhkan jawabannya.
Karena akhir bahagiaku bukanlah mendapatkan seorang suami kembali.
Akhir bahagiaku adalah mendapatkan diriku sendiri kembali.
Aku menatap rumah kecil yang kubeli dengan pilihanku sendiri, usaha yang kubangun dengan tanganku sendiri, dan halaman yang sekarang dipenuhi tanaman yang kupilih sendiri.
Lalu aku teringat malam ketika ibu mertuaku meletakkan sebuah kunci di meja dan menyuruhku meninggalkan apartemenku demi orang lain.
Saat itu mereka mengira aku adalah perempuan baru dalam keluarga yang harus belajar di mana tempatku.
Sekarang aku akhirnya tahu jawabannya.
Tempatku bukan di bawah siapa pun.
Bukan di belakang suami.
Bukan di bawah perintah keluarga.
Tempatku adalah di kehidupan yang kupilih sendiri.
Dan kali ini, siapa pun yang ingin berjalan di sampingku harus datang dengan satu hal yang tidak bisa lagi kutawar:
kejujuran.
