BAGIAN 2 — AKTA KELAHIRAN ITU MEMBUKA RAHASIA MASA LALU, NAMUN PENGKHIANATAN SEBENARNYA JUSTRU TERSEMBUNYI DI BALIK SURAT WASIAT PALSU
Aku membaca nama di dokumen itu berkali-kali.
Nadira.
Tanggal lahirku.
Nama orang tua kandung di kolom berikutnya bukan nama ibu yang membesarkanku.
Tanganku gemetar hebat.
—Ini palsu.
Suaraku terdengar seperti milik orang lain.
Sari menggeleng perlahan.
—Bukan.
Aku menatapnya tajam.
—Diam! Empat tahun aku tidak berada di sini, lalu saat kembali, kau tinggal di rumah ibuku, memakai gelangnya, mengaku sebagai putrinya, dan sekarang kalian ingin mengatakan bahwa justru aku anak angkat?
Arga melangkah maju.
—Nadira, dengarkan semuanya dulu.
—Buka pintunya.
—Aku menguncinya karena pegawai dan pelanggan masih ada di bawah. Aku tidak ingin mereka mendengar masalah keluarga kita.
—Buka!
Arga langsung membuka kunci.
Aku menunjuk pintu.
—Sekarang bicara.
Sari menarik napas panjang.
Lebih dari tiga puluh tahun lalu, ibu yang membesarkanku mempunyai seorang sahabat dekat bernama Ratih. Keduanya tumbuh bersama seperti saudari.
Ratih menikah muda, tetapi suaminya meninggal ketika ia sedang mengandung.
Beberapa bulan setelah melahirkanku, Ratih mengalami kecelakaan.
Dia tidak selamat.
Tidak ada keluarga dekat yang bersedia mengambil bayi yang ditinggalkannya.
Saat itulah ibu membawaku pulang.
—Jadi… ibuku bukan ibu kandungku?
Sari menunduk.
—Secara darah, bukan. Tapi baginya, Kak Nadira adalah anaknya.
Aku tertawa pahit.
—Lalu kau?
Sari mengusap air matanya.
—Aku anak kandungnya.
Dunia seakan kembali berputar.
Ternyata setelah mengadopsiku, bertahun-tahun kemudian ibu menikah dan melahirkan Sari.
Namun pernikahan itu berakhir buruk.
Ayah kandung Sari membawa bayi mereka pergi setelah perceraian. Karena pertengkaran keluarga dan masalah hukum, ibu kehilangan hak untuk tinggal bersama putrinya.
Selama bertahun-tahun, beliau hanya dapat menemui Sari diam-diam.
—Kenapa ibu tidak pernah memberitahuku?
—Karena beliau takut.
—Takut apa?
Sari menatapku.
—Takut Kakak mengira kasih sayangnya selama ini palsu setelah tahu Kakak diadopsi. Dan beliau juga takut aku membencimu karena Kakak mendapatkan kehidupan bersamanya yang tidak pernah kumiliki.
Aku tidak mampu menjawab.
Tiba-tiba kenangan masa kecil menyerbu pikiranku.
Ibu menunggu di depan sekolah saat hujan.
Ibu begadang ketika aku demam.
Ibu menjual perhiasannya agar aku bisa melanjutkan kuliah.
Darah atau bukan, tidak satu pun kenangan itu berubah.
Aku memandang Arga.
—Sejak kapan kau tahu?
—Delapan bulan sebelum ibu meninggal.
Dadaku sesak.
—Dan kau menyembunyikannya dariku selama hampir lima tahun?
—Itu permintaan ibu.
Arga membuka laci mesin jahit dan mengeluarkan sebuah buku catatan tipis.
Di halaman terakhir terdapat tulisan tangan ibu.
“Arga, jangan beri tahu Nadira sampai dia pulang dan menemukan semuanya sendiri. Aku mengenal anakku. Jika diberi tahu saat berada jauh, dia akan meninggalkan pekerjaannya dan pulang. Aku tidak ingin hidupnya berhenti hanya karena rahasiaku.”
Air mataku akhirnya jatuh.
Aku membalik wajah.
Namun satu pertanyaan belum terjawab.
—Surat wasiat palsu itu bagaimana?
Ekspresi Sari berubah.
—Aku tidak mengajukannya.
Aku membeku.
—Pengacaraku menyebut namamu.
—Tiga hari lalu seseorang datang membawa dokumen dan mengatakan aku hanya perlu menandatangani formulir untuk memperbarui data keluarga. Aku bodoh. Aku menandatanganinya.
Arga segera berkata:
—Karena itu aku menunggu sampai kau datang. Aku baru mengetahui pagi tadi bahwa tanda tangan Sari dipakai untuk mengajukan klaim warisan.
—Siapa yang melakukannya?
Belum ada yang menjawab ketika ponsel Arga berbunyi.
Dia melihat layar.
Wajahnya berubah.
—Pengelola lama usaha.
Aku mengenal orang itu.
Pak Hadi.
Selama hampir dua puluh tahun dia membantu ibu mengurus pembelian kain, pembayaran pemasok, dan pembukuan.
Arga menyalakan pengeras suara.
—Pak Hadi?
Suara laki-laki tua terdengar.
—Nadira sudah pulang?
Aku menatap Arga.
Dia menjawab hati-hati.
—Sudah.
Di seberang terdengar helaan napas.
—Kalau begitu sudah terlambat.
—Apa maksud Bapak?
—Kalian seharusnya tidak membuka kamar itu.
Telepon terputus.
Aku langsung menelepon pengacaraku dan memintanya memeriksa seluruh transaksi aset selama empat tahun terakhir.
Satu jam kemudian, kami duduk di ruang kerja bawah.
Laporan pertama tiba melalui email.
Aku membaca halaman demi halaman.
Lalu berhenti.
Ada pinjaman dalam jumlah sangat besar yang diajukan dengan jaminan sebagian aset usaha.
Tanda tangan pemilik tercantum di sana.
Namaku.
Padahal pada tanggal dokumen itu ditandatangani, aku berada ribuan kilometer jauhnya.
—Tanda tanganku dipalsukan.
Arga mengangguk.
—Aku juga baru menemukannya beberapa bulan lalu.
Aku membanting dokumen ke meja.
—Kenapa tidak langsung melapor?
—Karena aku membutuhkan bukti.
Dia membuka laptop.
Di dalamnya terdapat ratusan salinan transaksi.
Selama bertahun-tahun, Pak Hadi memindahkan uang sedikit demi sedikit melalui perusahaan pemasok fiktif.
Renovasi toko yang kukira menggunakan uang Arga ternyata dilakukan untuk menyelamatkan usaha.
Arga menjual apartemen kecil miliknya, melunasi utang paling mendesak, lalu mengubah toko lama menjadi ruang pamer agar bisnis kembali menghasilkan uang.
Jam mahal di tangannya?
Bukan miliknya.
Itu sampel produk milik rekan bisnis yang harus dikembalikan minggu depan.
Aku menutup mata.
Semua yang kulihat sejak datang ternyata berbeda dari kesimpulanku sendiri.
Namun tiba-tiba pengacaraku menelepon lagi.
—Nadira, saya menemukan sesuatu.
—Apa?
—Pinjaman palsu bukan masalah terbesar.
Aku berdiri.
—Lalu apa?
Suara pengacaraku terdengar tegang.
—Ada permohonan penjualan rumah yang diajukan dua minggu lalu. Jika tidak dibatalkan sebelum besok siang, prosesnya dapat masuk tahap berikutnya.
Darahku seperti berhenti mengalir.
—Siapa pembelinya?
Dia menyebut nama sebuah perusahaan.
Arga langsung berdiri.
—Perusahaan itu milik anak Pak Hadi.
Saat itulah terdengar suara benda jatuh dari ruang pamer.
Kami berlari keluar.
Pintu depan terbuka.
Seorang pegawai berdiri pucat sambil menunjuk meja kasir.
—Pak Arga… tadi ada seseorang masuk sebentar.
Di atas meja terdapat sebuah amplop putih.
Aku membukanya.
Hanya ada satu kalimat.
“Kalau ingin rumah itu tetap menjadi milik keluargamu, datang sendiri malam ini dan bawa dokumen asli peninggalan ibumu.”
Aku menatap Arga.
Tetapi kali ini aku tidak merasa takut.
Aku mengambil ponsel.
—Tidak. Aku tidak akan datang sendiri.
Aku menoleh kepada Sari.
—Dan mulai malam ini, kita berhenti menyimpan rahasia.
(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)
