KETIKA KEBENARAN TERUNGKAP, NADIRA MEMILIH MENYELAMATKAN KELUARGA, BUKAN MEMPERTAHANKAN LUKA YANG TELAH MEMISAHKAN MEREKA

Avatar penulis
Cerita 05
7 menit baca 289 tayangan
Indeks

BAGIAN 3 — KETIKA KEBENARAN TERUNGKAP, NADIRA MEMILIH MENYELAMATKAN KELUARGA, BUKAN MEMPERTAHANKAN LUKA YANG TELAH MEMISAHKAN MEREKA

Malam itu aku tidak memenuhi permintaan Pak Hadi seperti yang dia harapkan.

Aku datang bersama pengacara.

Arga menunggu di mobil lain.

Sari tetap berada di rumah dengan salinan seluruh dokumen.

Dan sebelum berangkat, semua bukti sudah kami serahkan kepada pihak berwenang.

Pertemuan berlangsung di sebuah gudang lama yang dahulu digunakan untuk menyimpan kain.

Pak Hadi berdiri di dekat meja kayu.

—Kau mirip ibumu.

Aku berhenti beberapa meter darinya.

—Ibu mempercayai Bapak.

Dia tersenyum getir.

—Itulah kesalahannya.

Aku menahan emosi.

—Kenapa?

Selama bertahun-tahun, Pak Hadi merasa usaha itu seharusnya menjadi miliknya.

Menurutnya, dialah yang membangun jaringan pemasok, mengurus pekerja, dan menyelamatkan bisnis setiap kali ibu mengalami kesulitan.

Ketika ibu meninggal dan semuanya diwariskan kepadaku, dia merasa dikhianati.

Lalu aku pergi ke luar negeri.

Baginya, itu kesempatan.

Awalnya dia hanya mengambil uang sedikit.

Kemudian jumlahnya semakin besar.

Saat Arga mulai mencurigai pembukuan, Pak Hadi membuat pinjaman palsu dengan tanda tanganku agar usaha terlihat tenggelam dalam utang.

Rencananya sederhana.

Membuat perusahaan bangkrut, membeli aset dengan harga murah melalui perusahaan anaknya, kemudian mengambil alih semuanya.

Namun Arga justru menyelamatkan bisnis.

Karena itulah Sari digunakan.

Pak Hadi mengetahui rahasia keluarga dari dokumen lama ibu. Dia menemui Sari, memanipulasinya agar menandatangani beberapa formulir, kemudian membuat surat wasiat palsu untuk menciptakan sengketa warisan.

Jika aku dan Sari saling menggugat, status kepemilikan akan kacau.

Di tengah kekacauan itu, dia berharap proses penjualan bisa diselesaikan.

—Jadi Bapak menghancurkan nama ibu hanya demi bangunan ini?

Aku bertanya.

Pak Hadi menatapku.

—Bukan bangunannya. Usahanya.

Aku menggeleng.

—Bapak masih tidak mengerti. Usaha itu tidak pernah dibangun oleh satu orang.

Aku mengeluarkan ponsel.

—Dan pembicaraan kita sudah cukup.

Wajahnya berubah.

Beberapa menit kemudian, pihak berwenang datang.

Aku tidak merasa menang ketika melihat Pak Hadi dibawa pergi.

Yang kurasakan justru sedih.

Seseorang yang pernah makan semeja bersama keluarga kami akhirnya menghancurkan dirinya sendiri karena keserakahan.

Dalam minggu-minggu berikutnya, pengacaraku bekerja tanpa henti.

Permohonan penjualan dibekukan.

Dokumen pinjaman palsu diperiksa.

Klaim warisan menggunakan nama Sari ditarik.

Bukti transaksi selama bertahun-tahun diserahkan untuk proses hukum.

Rumah dan usaha akhirnya aman.

Namun setelah semua kekacauan mereda, masih ada persoalan yang lebih sulit.

Kami bertiga.

Aku, Sari, dan Arga.

Suatu sore aku duduk bersama Sari di kamar ibu.

Gelang emas itu terletak di antara kami.

—Ambillah.

Sari mendorongnya kepadaku.

Aku tidak menyentuhnya.

—Ibu memberikannya kepadamu.

—Tapi Kakak lebih lama bersamanya.

Aku menatap perempuan yang beberapa minggu sebelumnya masih kuanggap penyusup.

Kini aku bisa melihat sesuatu yang tidak kulihat pada hari pertama.

Matanya.

Sangat mirip mata ibu.

—Sari, apakah kau membenciku?

Dia terkejut.

Kemudian air matanya jatuh.

—Dulu iya.

Jawaban jujurnya justru membuatku tersenyum tipis.

—Kenapa?

—Karena Kakak mendapatkan semuanya yang kuinginkan. Sarapan buatan ibu. Hari pertama sekolah bersama ibu. Dimarahi ibu. Dipeluk ibu saat sakit. Bahkan mendengar ibu mengomel pasti terasa seperti hadiah bagiku.

Aku tidak mampu menahan air mata.

Sari melanjutkan:

—Tapi setelah mengenal Kakak melalui cerita ibu, aku sadar Kakak tidak mengambil apa pun dariku. Orang dewasa di sekitar kami yang membuat keputusan. Kita hanya dua anak yang tidak tahu apa-apa.

Aku menggenggam tangannya.

Untuk pertama kalinya, kami menangis bersama.

Gelang itu akhirnya tidak dimiliki salah satu dari kami.

Kami memasukkannya ke kotak kaca kecil di ruang kerja ibu, berdampingan dengan foto beliau.

Di bawahnya kami meletakkan tulisan sederhana:

“Untuk dua putriku.”

Beberapa hari kemudian, aku menemui Arga di teras belakang.

Dia sedang memperbaiki kursi tua.

Aku berdiri cukup lama sebelum bertanya:

—Kenapa kau tetap bertahan?

Arga menghentikan pekerjaannya.

—Apa?

—Empat tahun. Aku hampir tidak pernah menghubungimu. Kau bisa saja meninggalkan semuanya.

Dia tersenyum lelah.

—Aku pernah ingin melakukannya.

Aku terdiam.

—Setiap kali marah, aku berpikir, biarkan saja Nadira pulang dan melihat usahanya sudah hancur. Biar dia tahu bagaimana rasanya meninggalkan semua beban kepada orang lain.

—Lalu?

—Lalu aku ingat ibumu.

Sebelum meninggal, ibu pernah meminta Arga berjanji satu hal.

Bukan menjaga bangunan.

Bukan menjaga uang.

Melainkan memastikan bahwa ketika aku pulang, aku masih mempunyai tempat yang bisa kusebut rumah.

Dadaku terasa sesak.

—Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?

—Karena kalau sebuah janji terus disebutkan, lama-lama terdengar seperti tuntutan balas jasa.

Aku tertawa kecil sambil menangis.

Untuk pertama kalinya sejak pulang, aku benar-benar melihat suamiku.

Bukan lelaki dengan jam mahal.

Bukan orang yang menyembunyikan Sari.

Bukan seseorang yang kuanggap mengambil alih peninggalan ibu.

Melainkan lelaki yang selama empat tahun mempertahankan sesuatu yang bahkan tidak tercatat atas namanya.

—Arga.

—Ya?

—Aku masih marah kepadamu.

Dia mengangguk.

—Aku tahu.

—Kau menyimpan terlalu banyak rahasia.

—Aku tahu.

—Dan aku tidak bisa langsung berpura-pura semuanya baik-baik saja.

—Aku juga tidak meminta itu.

Aku duduk di sampingnya.

—Tapi mungkin… kita bisa mulai lagi.

Tangannya berhenti bergerak.

Dia menatapku seolah takut salah mendengar.

—Mulai lagi?

Aku mengangguk.

—Bukan kembali ke empat tahun lalu. Kita tidak mungkin menjadi orang yang sama lagi. Mulai dari sekarang saja.

Matanya memerah.

Arga tidak memelukku.

Dia hanya mengulurkan tangannya perlahan.

Aku menatap tangan itu beberapa detik.

Kemudian menggenggamnya.

Enam bulan berlalu.

Kasus hukum belum sepenuhnya selesai, tetapi usaha kami sudah pulih.

Aku memutuskan tidak kembali bekerja di luar negeri.

Bukan karena ingin mengorbankan karier, melainkan karena untuk pertama kalinya aku tahu apa yang benar-benar ingin kubangun.

Aku dan Sari mengembangkan kembali usaha batik ibu.

Dia menangani desain.

Aku mengurus bisnis dan pemasaran.

Arga menangani keuangan, tetapi kali ini dengan satu aturan baru dariku:

—Tidak boleh ada rahasia.

Dia mengangkat kedua tangan.

—Bahkan kalau aku membeli kopi tanpa bilang?

—Terutama soal kopi mahal.

Sari tertawa dari belakang meja.

Rumah yang dahulu terasa penuh kebohongan perlahan berubah.

Kami membuka kembali jendela kamar ibu.

Membersihkan mesin jahitnya.

Mengembalikan papan kayu lama ke dinding ruang pamer, tepat di bawah papan nama baru.

Kami sengaja mempertahankan keduanya.

Yang lama mengingatkan kami dari mana semuanya berasal.

Yang baru mengingatkan bahwa hidup tidak harus berhenti hanya karena masa lalu berubah.

Setahun setelah kepulanganku, pada hari peringatan ibu, kami bertiga makan malam sederhana.

Tidak ada tamu.

Tidak ada acara besar.

Sari memasak makanan kesukaan ibu.

Arga membuat teh.

Aku membawa sebuah kotak dari kamar atas.

Di dalamnya ada album foto.

Aku menemukan satu halaman kosong di bagian paling belakang.

Aku menempelkan foto baru di sana.

Foto kami bertiga di depan toko.

Aku dan Sari berdiri berdampingan.

Arga berada sedikit di belakang kami.

Di atas pintu, papan nama lama milik ibu masih terlihat.

Sari memperhatikan foto itu cukup lama.

—Kalau ibu melihat ini, kira-kira beliau akan berkata apa?

Aku tersenyum.

—Mungkin beliau akan marah karena kita baru bisa akur setelah membuat masalah sebesar ini.

Arga tertawa.

Sari ikut tertawa sambil mengusap matanya.

Aku menutup album.

Selama bertahun-tahun aku mengira keluarga ditentukan oleh satu hal sederhana: siapa yang melahirkan kita, siapa yang namanya tertulis di akta kelahiran, siapa yang memiliki rumah, dan siapa yang mendapatkan warisan.

Ternyata aku salah.

Sebuah dokumen memang memberitahuku bahwa aku adalah anak angkat.

Namun dokumen itu tidak bisa menghapus malam-malam ketika ibu menjagaku saat sakit.

Tes DNA membuktikan bahwa Sari adalah putri kandung ibu.

Namun itu tidak membuat kasih sayang ibu kepadaku menjadi lebih kecil.

Dan empat tahun perpisahan membuktikan bahwa pernikahanku dengan Arga tidak sempurna.

Tetapi ketidaksempurnaan tidak selalu berarti sesuatu harus dibuang.

Kadang-kadang sesuatu hanya perlu dibangun kembali dengan lebih jujur.

Malam semakin larut.

Sebelum pulang ke kamar, aku berhenti di depan kotak kaca tempat gelang ibu disimpan.

Di sampingnya terdapat foto beliau tersenyum.

Aku menyentuh kaca itu perlahan.

—Bu, akhirnya kami bertemu.

Sari berdiri di belakangku.

Dia menggenggam lenganku.

—Kak.

Aku menoleh.

Satu kata sederhana itu kini tidak lagi terdengar asing.

Aku tersenyum dan menggenggam tangannya.

Di luar, lampu ruang pamer masih menyala hangat.

Arga sedang menutup pintu toko.

Dan untuk pertama kalinya sejak pesawatku mendarat setahun lalu, aku tidak lagi merasa sedang kembali ke rumah peninggalan seseorang.

Aku sedang berdiri di rumahku sendiri.

Rumah Sari.

Rumah Arga.

Rumah yang pernah hampir direnggut oleh kebohongan, tetapi akhirnya diselamatkan oleh kebenaran.

Aku kehilangan satu keyakinan tentang asal-usulku.

Namun sebagai gantinya, aku mendapatkan seorang adik perempuan yang selama ini tidak kuketahui keberadaannya, seorang suami yang akhirnya belajar bahwa cinta tidak boleh dibangun di atas rahasia, dan kesempatan kedua untuk meneruskan sesuatu yang ibu perjuangkan sepanjang hidupnya.

Ternyata warisan terbesar yang beliau tinggalkan bukanlah rumah itu.

Bukan usaha batik.

Bukan pula gelang emas.

Melainkan jalan yang akhirnya membawa kedua putrinya pulang ke tempat yang sama.

Dan kali ini, tidak ada seorang pun dari kami yang berniat pergi lagi.