Bagian 3 — Pagi Akad yang Batal Membuka Kebohongan Bisnis Mereka, dan Setahun Kemudian Aku Menikah Tanpa Mengorbankan Harga Diri Keluargaku untuk Siapa Pun

Avatar penulis
Cerita 02
14 menit baca 913 tayangan
Bagian 3 — Pagi Akad yang Batal Membuka Kebohongan Bisnis Mereka, dan Setahun Kemudian Aku Menikah Tanpa Mengorbankan Harga Diri Keluargaku untuk Siapa Pun
Indeks

Bagian 3 — Pagi Akad yang Batal Membuka Kebohongan Bisnis Mereka, dan Setahun Kemudian Aku Menikah Tanpa Mengorbankan Harga Diri Keluargaku untuk Siapa Pun

Aku tidak langsung menelepon Dimas.

Aku menyimpan foto dokumen itu.

Lalu menghubungi satu orang yang selama ini jarang sekali kumintai bantuan.

Mbak Sari, sepupuku yang bekerja sebagai pengacara korporasi.

Aku mengirimkan seluruh file.

Rundown yang memindahkan Bapak dan Ibu.

Screenshot taruhan Dimas dan Kirana.

Email tambahan paket senilai Rp286 juta.

Proposal yang mencatut “dukungan finansial keluarga Wicaksana”.

Dan terakhir, dokumen yang menggunakan tanda tanganku.

Tiga menit kemudian, Mbak Sari menelepon.

“Laras, dengar baik-baik. Jangan tanda tangan apa pun. Jangan membuat ancaman di chat. Besok kita ketemu pihak hotel secara langsung.”

“Kalau tanda tangannya dipalsukan?”

“Biar kita verifikasi dulu. Jangan tuduh sebelum ada pemeriksaan.”

Nada bicaranya tenang.

Itu justru membuatku sedikit lebih tenang.

Aku tiba di hotel orang tuaku sekitar pukul satu lewat.

Bapak membukakan pintu dengan kaus putih dan sarung.

Wajahnya masih mengantuk.

Begitu melihat koperku, dia langsung sadar ada sesuatu yang salah.

“Kenapa?”

Aku masuk.

Ibu muncul dari kamar mandi dengan rambut masih setengah basah.

“Bukannya besok kamu harus bangun pagi?”

Aku tidak tahu harus mulai dari mana.

Jadi aku hanya mengeluarkan selendang sogan dari koper.

Bagian yang robek terlihat jelas.

Ibu langsung mendekat.

“Ini kenapa?”

Aku menahan napas.

“Dipakai orang lain.”

“Siapa?”

“Kirana.”

Bapak tidak berkata apa-apa.

Aku menunjukkan rundown.

Dua nama mereka yang dicoret.

Meja belakang.

Orang tua Kirana menggantikan kursi mereka.

Lalu screenshot taruhan.

Lalu proposal bisnis.

Aku sudah bersiap melihat Bapak marah.

Namun dia justru duduk perlahan di kursi dekat jendela.

Matanya tertuju pada dokumen itu lama sekali.

Ibu yang pertama bersuara.

“Jadi karena Bapak sama Ibu bukan orang penting, kami boleh dipindah ke belakang?”

Aku langsung meraih tangannya.

“Bu…”

Ibu tersenyum kecil.

Senyum yang jauh lebih menyakitkan daripada tangisan.

“Ibu cuma tanya.”

Bapak akhirnya mengangkat kepala.

“Besok tetap dibatalkan?”

“Iya.”

“Sudah yakin?”

“Iya.”

“Kalau begitu tidur.”

Aku terdiam.

Bapak mengambil selendang dari tanganku.

“Nanti kain ini bisa dijahit lagi.”

Lalu dia menunjuk dadaku.

“Yang penting jangan memaksa menjahit sesuatu yang dari awal memang sudah sobek.”

Malam itu aku tidur di antara Bapak dan Ibu seperti ketika masih kecil.

Tidak ada gaun.

Tidak ada jadwal makeup.

Tidak ada alarm pukul empat pagi.

Dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, aku tidur tanpa rasa cemas tentang hal apa lagi yang harus kutoleransi demi menjadi “calon istri yang dewasa”.

Pukul enam tiga puluh pagi, ponselku penuh pesan.

Dari keluarga Dimas.

Dari teman-teman.

Dari WO.

Dari beberapa kerabat yang sudah tiba di hotel.

Aku hanya membalas satu jenis pesan.

Acara dibatalkan karena keputusan pribadi saya. Mohon tidak menyalahkan kedua orang tua saya. Semua biaya keluarga yang sudah datang akan saya selesaikan.

Pukul tujuh lewat sedikit, Mbak Sari tiba.

Kami berempat sarapan.

Bapak tetap makan bubur ayam seperti tidak terjadi apa-apa.

Ibu malah sibuk memisahkan daun bawang dari mangkukku karena sejak kecil aku tidak menyukainya.

Hal sesederhana itu membuat dadaku sesak.

Orang yang akan kusingkirkan ke meja belakang demi menjaga perasaan Dimas adalah orang yang bahkan masih mengingat makanan kecil yang tidak kusukai.

Pukul 07.55 kami turun ke ballroom.

Hotel masih sibuk.

Bunga putih memenuhi koridor.

Papan besar bertuliskan nama DIMAS & LARAS berdiri di depan pintu.

Beberapa staf yang mengenaliku tampak canggung.

Di ruang meeting kecil dekat ballroom sudah ada general manager hotel, manajer banquet, Bagas, dua orang keluarga Dimas, dan Dimas sendiri.

Kirana duduk di ujung meja.

Dimas langsung berdiri.

“Kamu akhirnya datang.”

Aku menarik kursi untuk Bapak dan Ibu.

Mereka duduk di sebelahku.

Kirana menunduk.

Dimas memandang orang tuaku sebentar, lalu berkata, “Om, Tante, maaf kalau masalah tempat duduk jadi salah paham.”

Bapak tidak menjawab.

Mbak Sari membuka laptop.

“Lebih baik kita fokus pada dokumen.”

Manajer hotel mengeluarkan kontrak asli.

Nama penanggung jawab utama memang Dimas dan aku.

Tetapi setiap penambahan biaya di atas Rp50 juta harus disetujui kedua pihak.

Paket empat meja corporate senilai Rp286 juta ternyata ditambahkan tiga hari lalu.

Persetujuan Dimas ada.

Persetujuan atas namaku juga ada.

Masalahnya, tanda tangan itu tidak cocok dengan kontrak pertama.

Tidak terlalu berbeda.

Tapi berbeda.

Aku biasa membentuk huruf L dengan tarikan naik kecil.

Di dokumen baru, huruf L dibuat lurus.

Aku menunjukkannya.

Dimas langsung menyahut.

“Laras pernah minta aku bantu tanda tangan dokumen kalau dia sibuk.”

Aku menatapnya.

“Kapan?”

“Banyak kali.”

“Sebutkan satu.”

Dia terdiam.

Mbak Sari berkata, “Kami tidak akan memperdebatkan ini di sini. Hotel cukup mencatat bahwa klien yang namanya tercantum membantah memberikan persetujuan.”

Manajer mengangguk.

Kemudian dia berkata sesuatu yang membuat suasana berubah.

“Ada satu hal lagi.”

Dia menoleh kepada Dimas.

“Pembayaran paket tambahan belum masuk. Pak Dimas meminta fasilitas tempo tujuh hari karena menyatakan setelah acara akan ada settlement melalui rekening gabungan keluarga.”

Aku langsung menoleh.

“Rekening gabungan apa?”

Tidak ada jawaban.

Manajer membuka email cetak.

Dimas menyebut rencana pembukaan rekening keluarga setelah menikah dan bahkan mencantumkan estimasi aset.

Termasuk depositoku.

Apartemenku.

Dan nilai bengkel serta rumah Bapak di Malang.

Ibu memegang lenganku.

Bapak masih diam.

Tetapi rahangnya mengeras.

Aku bertanya kepada Dimas, “Dari mana kamu dapat angka nilai rumah Bapak?”

Dia mengusap wajah.

“Laras, ini cuma proyeksi.”

“Dari mana?”

“Kita pernah ngobrol.”

“Kita tidak pernah ngobrol tentang menjadikan aset orang tuaku sebagai dasar proposal bisnismu.”

Dimas mulai meninggikan suara.

“Aku melakukan semua ini untuk masa depan kita!”

Bapak akhirnya berbicara.

“Mas Dimas.”

Hanya dua kata.

Dimas langsung diam.

Bapak menatapnya.

“Saya memang cuma punya bengkel batik kecil.”

“Rumah saya juga bukan rumah mewah.”

“Tapi selama empat puluh tahun kerja, saya tidak pernah menawarkan uang orang lain seolah itu milik saya.”

Ruangan sunyi.

Dimas mencoba menjelaskan.

“Om salah paham.”

Bapak menggeleng.

“Saya tidak salah paham.”

“Saya hanya terlambat mengenal calon menantu saya.”

Kalimat itu membuat wajah Dimas memerah.

Ibunya yang sejak tadi duduk di belakang akhirnya masuk ke pembicaraan.

“Pak Hadi, jangan terlalu keras. Anak muda kalau mau usaha memang perlu terlihat meyakinkan di depan investor.”

Ibu menatapnya.

“Dengan mencantumkan rumah kami?”

“Kan nanti kalau sudah menikah semua jadi keluarga.”

Ibu tertawa kecil.

“Kalau begitu kenapa saat pembagian kursi, kami bukan keluarga?”

Tidak seorang pun bisa menjawab.

Aku hampir menangis.

Bukan karena sedih.

Karena untuk pertama kalinya Ibu tidak memilih diam.

Bagas kemudian menyerahkan ponselnya kepada manajer hotel.

“Ada satu hal yang sebaiknya Bu Laras tahu.”

Dimas langsung menatap tajam.

“Bagas.”

Tetapi Bagas tidak mundur.

“Maaf, Mas. Saya nggak mau ikut masalah hukum.”

Dia membuka grup internal wedding organizer.

Ternyata dua hari lalu Dimas yang memerintahkan perubahan kursi.

Bagas sempat bertanya apakah aku sudah setuju.

Balasan Dimas jelas.

Nggak usah kasih tahu Laras. Dia akan ribut. Besok kalau sudah acara, dia pasti nggak berani batal.

Di bawahnya Kirana menulis.

Taruh Papa Mama aku depan saja. Sekalian Kak Dimas bisa ngobrol proyek sama Papa.

Kemudian ada pesan lain.

Kalau Laras protes, nanti aku bantu bujuk. Dia biasanya paling cuma nangis.

Aku tidak merasakan marah lagi.

Rasanya justru kosong.

Selama ini mereka bukan tidak mengerti bahwa aku akan terluka.

Mereka mengerti.

Mereka hanya yakin lukaku tidak akan punya konsekuensi.

Aku menutup file.

“Kita batalkan.”

Manajer hotel mengangguk.

Sesuai kontrak, sebagian deposit memang hangus.

Aku kehilangan uang cukup besar.

Namun anehnya aku tidak merasa rugi.

Ada harga yang jauh lebih mahal daripada uang muka gedung.

Yaitu hidup bertahun-tahun dengan seseorang yang menganggap batasmu hanya sebagai tantangan untuk dilewati.

Dimas berdiri.

“Kalau kamu keluar sekarang, selesai.”

Aku menatapnya.

“Itu memang tujuan saya datang.”

Dia membeku.

Aku melepaskan cincin pertunangan.

Meletakkannya di atas meja.

Bukan dilempar.

Bukan dibanting.

Hanya kutaruh.

“Semoga bisnis yang kamu bangun dari nama orang lain bisa bertahan tanpa namaku.”

Lalu aku berdiri.

Kirana tiba-tiba mengejarku sampai koridor.

“Laras!”

Aku berhenti.

Dia menangis.

“Aku minta maaf soal kursi.”

Aku menunggu.

“Tapi jangan hancurkan hidup Kak Dimas cuma karena aku.”

Aku menatapnya.

“Kirana, aku tidak menghancurkan hidup siapa pun.”

“Dia membuat dokumennya.”

“Dia memakai namaku.”

“Dia mencatut aset keluargaku.”

“Dia yang memilih.”

Kirana terdiam.

Aku melanjutkan.

“Dan kamu bukan alasan utama pernikahan ini batal.”

Wajahnya berubah.

“Maksudmu?”

“Kamu hanya alasan terakhir yang kubutuhkan untuk berhenti berbohong kepada diriku sendiri.”

Aku pergi.

Acara pagi itu resmi dibatalkan.

Sebagian keluarga pulang.

Sebagian tetap makan di restoran hotel karena makanan sudah terlanjur disiapkan.

Bapak malah berkata daripada dibuang, biarkan keluarga dan staf makan.

Aku menyetujui.

Satu-satunya permintaanku: papan namaku diturunkan.

Siang itu aku duduk bersama hampir tiga puluh anggota keluarga di restoran.

Tidak ada pelaminan.

Tidak ada musik.

Aku masih mengenakan kemeja putih dan celana hitam.

Ibu duduk di sebelahku.

Bapak membagi sambal kepada sepupu.

Anehnya, makan siang itu terasa lebih seperti keluarga dibanding seluruh persiapan pernikahanku selama delapan bulan.

Masalah dengan Dimas tidak berhenti di sana.

Dua minggu kemudian, pemeriksaan dokumen menunjukkan bahwa memang terdapat beberapa persetujuan transaksi yang dikirim menggunakan namaku tanpa otorisasi.

Aku memilih menempuh jalur resmi.

Tidak berteriak di media sosial.

Tidak memposting wajahnya.

Tidak membuat video balas dendam.

Pengacara mengirim somasi.

Akses seluruh rekening dan dokumen bersama dihentikan.

Kunci apartemen diganti.

Barang-barang Dimas dikirim ke rumah keluarganya dengan daftar inventaris.

Untuk dokumen yang tanda tangannya dipersoalkan, kami meminta pemeriksaan.

Pada akhirnya Dimas menandatangani penyelesaian hukum, mengakui bahwa beberapa persetujuan dibuat tanpa kuasa tertulis dariku, serta menanggung kewajiban biaya yang ia tambahkan sendiri.

Hal yang paling memukulnya justru bukan dariku.

Pak Arman, ayah Kirana, ternyata sama sekali tidak pernah menjanjikan investasi.

Dia hanya pernah berkata akan “melihat peluang”.

Namun Dimas sudah menggunakan nama beliau dalam tiga proposal.

Ketika Pak Arman mengetahui hal itu, dia menarik diri.

Dua calon mitra lain ikut meminta klarifikasi.

Bisnis Dimas tidak bangkrut dalam sehari seperti di sinetron.

Kenyataan jauh lebih lambat.

Dan justru karena itu lebih menyakitkan.

Satu kontrak batal.

Lalu proyek peluncuran produk ditunda.

Satu vendor meminta pembayaran tunai karena tidak mau lagi memberikan tempo.

Karyawan yang sebelumnya percaya janji ekspansi mulai keluar.

Enam bulan kemudian, kantor Dimas pindah dari gedung besar di Kuningan ke ruko kecil di Tebet.

Bukan karena aku menghancurkannya.

Melainkan karena selama ini sebagian citra yang dia jual memang dibangun di atas sesuatu yang tidak benar-benar dia miliki.

Kirana juga tidak mendapatkan akhir yang ia bayangkan.

Sebulan setelah pernikahan batal, dia dan Dimas resmi berpacaran.

Aku mengetahuinya dari sepupu Dimas yang masih berteman denganku.

Aku tidak marah.

Malah terasa seperti konfirmasi terakhir bahwa keputusanku benar.

Hubungan mereka bertahan lima bulan.

Kirana kemudian pergi setelah mengetahui Dimas menggunakan nama ayahnya lagi dalam sebuah pertemuan bisnis tanpa izin.

Lucu.

Hal yang dulu dianggap “terlalu sensitif” ketika terjadi padaku akhirnya terasa tidak bisa diterima ketika menimpa keluarganya sendiri.

Aku tidak merayakan perpisahan mereka.

Aku sedang terlalu sibuk membangun hidupku kembali.

Aku mengembalikan fokus pada pekerjaan.

Aku mulai membantu Bapak memasarkan batiknya secara digital.

Bukan karena bengkel kami kekurangan uang.

Aku hanya baru menyadari selama bertahun-tahun aku terlalu sibuk membangun masa depan bersama Dimas hingga jarang melihat apa yang sedang dibangun orang tuaku.

Ibu memperbaiki selendang yang robek.

Bekas jahitannya masih terlihat.

Aku pernah menawarkan membeli kain baru.

Ibu menolak.

“Biarkan bekasnya ada.”

“Kenapa?”

“Biar kamu ingat, barang yang robek masih bisa diselamatkan kalau memang bahannya bagus.”

Dia berhenti menjahit sebentar.

“Tapi manusia beda.”

“Kalau tabiatnya yang rusak, jangan kamu habiskan hidup jadi tukang jahit.”

Aku tertawa sampai menangis.

Dalam proses menyelesaikan refund hotel, aku beberapa kali bertemu dengan Raka Mahendra.

Dia adalah direktur operasional kelompok hotel yang menangani beberapa properti di Jakarta dan Bandung.

Aku sebenarnya pernah mengenalnya secara profesional dua tahun sebelumnya.

Hubungan kami hanya sebatas rapat.

Dia bahkan hadir lima menit dalam salah satu pertemuan mengenai acara pernikahanku sebelum semuanya batal.

Setelah kejadian itu, Raka tidak pernah bertanya gosip.

Tidak pernah berkata, “Aku sudah tahu Dimas seperti itu.”

Dia hanya mengirim email pendek.

Proses refund yang menjadi hak Anda sudah selesai. Dokumen terlampir. Semoga urusan keluarga Anda segera tenang.

Itu saja.

Tiga bulan kemudian kami bertemu lagi dalam proyek pengembangan produk UMKM untuk hotel.

Bengkel batik Bapak terpilih sebagai salah satu pemasok amenity pouch.

Aku menduga Raka membantu.

Jadi aku bertanya langsung.

“Apakah kamu memasukkan usaha Bapak karena kenal denganku?”

Dia menggeleng.

“Tim procurement memilih berdasarkan sampel.”

“Serius?”

“Kalau kualitasnya jelek, saya justru akan coret meski pemiliknya ayah kamu.”

Jawabannya menyebalkan.

Tapi aku menyukainya.

Enam bulan setelah pernikahan batal, Raka datang ke Malang untuk inspeksi produksi.

Bapak menyuruhnya duduk di bangku plastik di depan bengkel.

Aku nyaris meminta maaf.

Raka malah melepas jasnya, menggulung lengan kemeja, lalu duduk sambil minum kopi sachet buatan Bapak.

Dia bertanya tentang pewarna alam.

Tentang motif.

Tentang kapasitas pekerja.

Tidak sekali pun dia bertanya nilai tanah.

Tidak sekali pun dia menyinggung aset.

Sore harinya sebelum pulang, dia membeli dua lembar kain menggunakan uangnya sendiri.

Ibu baru berkomentar setelah mobil Raka pergi.

“Yang itu sopan.”

Aku langsung menggeleng.

“Bu.”

“Apa?”

“Jangan mulai.”

Ibu tertawa.

Aku memang tidak ingin memulai apa pun.

Setidaknya belum.

Aku masih belajar membedakan perhatian dengan manipulasi.

Masih belajar bahwa seseorang yang sering meminta maaf belum tentu menghormati kita.

Dan seseorang yang tidak pandai berkata manis belum tentu tidak peduli.

Raka tidak mengejarku.

Kami makan malam pertama kali hampir sembilan bulan setelah pernikahan batal.

Itu pun dia bertanya terlebih dahulu.

“Kalau kamu belum nyaman, bilang saja.”

Aku bertanya, “Kalau aku bilang tidak?”

“Saya cari makan sendiri.”

Aku tertawa.

Malam itu kami makan soto Betawi.

Tidak ada restoran mewah.

Tidak ada buket seratus tangkai.

Tidak ada janji masa depan.

Hanya dua orang dewasa yang berbicara.

Tiga bulan kemudian kami resmi berpacaran.

Sebelum itu, Raka datang ke Malang.

Bukan untuk meminta izin seolah aku barang milik keluarga.

Dia hanya ingin memperkenalkan diri secara benar kepada Bapak dan Ibu.

Bapak bertanya banyak hal.

Pekerjaan.

Keluarga.

Cara mengelola utang.

Bahkan kebiasaan ketika marah.

Raka menjawab semuanya.

Kemudian Bapak menanyakan satu hal.

“Kalau suatu hari Laras tidak setuju dengan kamu?”

Raka berpikir beberapa detik.

“Ya kami debat, Pak.”

Bapak menahan senyum.

“Bukan disuruh diam?”

“Kalau dia diam, justru saya takut.”

Aku hampir tersedak teh.

Setahun empat bulan setelah akad yang batal, Raka melamarku.

Tidak di restoran.

Tidak di luar negeri.

Dia datang ke bengkel batik Bapak pada Minggu pagi.

Membawa ibunya.

Membawa kakaknya.

Tidak ada kamera tersembunyi.

Tidak ada dekorasi.

Dia duduk di ruang tamu dan berkata langsung kepada orang tuaku.

“Saya ingin menikah dengan Laras kalau Laras sendiri bersedia.”

Kemudian dia menoleh kepadaku.

“Kalau tidak, saya tetap beli batik Pak Hadi.”

Bapak tertawa paling keras.

Aku mengatakan iya.

Pernikahan kami dilaksanakan enam bulan kemudian.

Jauh lebih kecil.

Hanya sekitar seratus delapan puluh tamu.

Aku tidak menggunakan ballroom terbesar.

Aku tidak memakai kebaya ratusan juta.

Kebaya akadku dibuat oleh penjahit langganan Ibu.

Selendang sogan yang dulu robek akhirnya kupakai.

Jahitannya masih terlihat.

Aku sengaja tidak menutupinya.

Ketika memasuki ruangan sebelum akad, aku berhenti sebentar.

Barisan paling depan hanya berisi keluarga.

Bapak.

Ibu.

Ibu Raka.

Kakak-kakaknya.

Tidak ada “tamu strategis” yang mengambil tempat orang tua.

Tidak ada kursi keluarga yang dikorbankan demi networking.

Raka bahkan meminta tim acara menyediakan dua kursi kosong di sebelah Bapak dan Ibu supaya mereka tidak berdesakan ketika prosesi sungkeman.

Aku menatapnya.

“Kenapa sampai dua kursi kosong?”

Dia menjawab santai.

“Supaya mertua saya nyaman.”

Aku menunduk karena tiba-tiba mataku panas.

Saat sungkeman, aku berlutut di depan Bapak.

Bapak meletakkan tangan di kepalaku.

Dia berbisik,

“Sekarang tempat Bapak benar?”

Aku menangis sambil tertawa.

“Paling depan.”

Ibu langsung ikut menangis.

Setelah acara selesai, kami berfoto.

Tidak ada foto keluarga yang dibuat hanya demi tampilan.

Tidak ada orang yang dipindahkan karena dianggap tidak cukup penting.

Sebelum pulang, aku melihat selendang di bahuku.

Bekas robekannya masih ada.

Tipis.

Nyaris tak terlihat bagi orang lain.

Namun aku tahu persis letaknya.

Dulu aku menganggap bekas itu sebagai simbol malam terburuk dalam hidupku.

Sekarang tidak lagi.

Itu mengingatkanku pada satu keputusan yang akhirnya menyelamatkanku.

Berani pergi sebelum akad bukan berarti aku gagal mempertahankan hubungan.

Aku justru berhasil mempertahankan sesuatu yang lebih penting.

Harga diriku.

Harga diri Bapak dan Ibu.

Dan hak untuk memilih keluarga seperti apa yang ingin kubangun.

Beberapa minggu setelah menikah, aku menerima satu pesan dari nomor yang sudah lama tidak tersimpan.

Dimas.

Selamat. Aku dengar kamu menikah. Semoga kali ini kamu bahagia.

Aku membaca pesan itu sekali.

Tidak membalas.

Tidak memblokir.

Tidak marah.

Aku hanya menghapus percakapannya.

Raka yang sedang membuat kopi bertanya dari dapur,

“Siapa?”

Aku meletakkan ponsel.

“Orang dari cerita lama.”

Dia mengangguk.

Tidak bertanya lagi.

Aku berjalan ke dapur.

Bapak dan Ibu akan datang sore itu.

Raka sudah membeli ikan kesukaan Bapak.

Ibu mengirim pesan bahwa dia membawa sambal buatan sendiri.

Rumah kami kecil dibanding rumah keluarga Raka.

Tidak ada ballroom.

Tidak ada meja VIP.

Namun di meja makan kami, tidak ada satu pun anggota keluarga yang harus membuktikan bahwa dirinya cukup penting untuk mendapat tempat.

Dan akhirnya aku mengerti.

Pernikahan yang baik bukan tentang siapa yang berhasil kita pertahankan di depan pelaminan.

Melainkan tentang siapa yang tetap kita hormati ketika tidak ada satu pun tamu yang melihat.

Malam ketika dua nama orang tuaku dicoret dari kursi keluarga, aku kehilangan calon suami.

Tetapi tepat pada malam itu pula, aku mendapatkan kembali diriku sendiri.

Dan ternyata, itu adalah awal dari hidup yang jauh lebih baik.