Saat Aku Pergi Membawa Kehamilan yang Tak Diinginkannya, Arga Membiarkanku Naik Bus Sendirian—Tiga Tahun Kemudian Seorang Bocah Memanggilku Ibu di Depannya dan Wajahnya Seketika Pucat tanpa Mampu Berkata Apa-apa

Avatar penulis
Cerita 03
16 menit baca 1,174 tayangan
Auto Draft
Indeks

Saat Aku Pergi Membawa Kehamilan yang Tak Diinginkannya, Arga Membiarkanku Naik Bus Sendirian—Tiga Tahun Kemudian Seorang Bocah Memanggilku Ibu di Depannya dan Wajahnya Seketika Pucat tanpa Mampu Berkata Apa-apa

Bagian 1 — Ketika Dua Garis Merah Mengubah Semua Rencana Kami, Aku Baru Sadar Lelaki yang Kucintai Selama Lima Tahun Tak Pernah Benar-Benar Memilihku

Malam aku meninggalkan Jakarta, aku duduk sendirian di kursi plastik Terminal Kampung Rambutan dengan satu koper, sebuah ransel, dan kehidupan kecil berusia sembilan minggu di dalam perutku.

Bus menuju Surabaya berangkat pukul delapan.

Pukul tujuh lewat lima puluh, aku masih menatap pintu masuk terminal.

Bodoh memang.

Setelah semua yang terjadi, sebagian kecil dalam diriku masih percaya Arga akan muncul.

Mungkin ia akan datang sambil terengah-engah.

Mungkin ia akan menarik koperku.

Mungkin ia akan berkata, “Jangan pergi. Kita cari jalan bersama.”

Lima menit sebelum bus berangkat, ponselku akhirnya bergetar.

Pesan dari Arga.

Bukan “Tunggu aku.”

Bukan “Kita menikah saja.”

Hanya dua kata.

“Jaga diri.”

Aku menatap layar sampai tulisan itu kabur oleh air mata.

Saat itulah aku mengerti bahwa seorang perempuan bisa mencintai seseorang selama lima tahun dan tetap tidak benar-benar mengenalnya.

Tiga hari sebelumnya, aku masih duduk bersama Arga di sebuah kedai kopi kecil di Tebet.

Di depanku ada secangkir teh jahe yang sudah dingin.

Di depannya ada laptop, dua ponsel, dan gambar desain interior restoran yang terus ia revisi.

Studio desain miliknya baru berjalan delapan bulan.

Arga selalu mengatakan tahun pertama adalah masa paling menentukan.

Aku selalu mengerti.

Saat ulang tahunku dibatalkan karena ia bertemu klien, aku mengerti.

Saat Lebaran ia hanya dua hari menemui keluargaku karena harus kembali ke Jakarta, aku mengerti.

Saat uang tabungan bersama yang katanya untuk menikah dipakai membeli komputer baru untuk studio, aku juga mengerti.

Aku terlalu sering mengerti sampai lupa bertanya apakah ia pernah berusaha memahami diriku.

Hari itu, aku meletakkan sebuah amplop putih di samping laptopnya.

“Aku hamil.”

Tangan Arga yang sedang mengetik berhenti.

Ia tidak langsung menatapku.

“Apa?”

“Aku sudah periksa dua kali. Dokter bilang sekitar sembilan minggu.”

Aku mencoba tersenyum.

“Arga… kita menikah saja.”

Akhirnya ia menutup laptop.

Ekspresinya bukan bahagia.

Bukan terkejut seperti calon ayah yang baru mengetahui akan memiliki anak.

Wajahnya justru tampak seperti seseorang baru memberitahunya bahwa bisnisnya memiliki utang besar.

“Nara, bukankah kita sudah sepakat menikah dua tahun lagi?”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa sekarang tiba-tiba begini?”

Aku terdiam.

“Karena aku hamil.”

“Itu bukan jawaban.”

Aku menatapnya tak percaya.

“Kamu mau aku jawab apa?”

Arga mengusap wajah.

“Aku sedang membangun perusahaan dari nol. Tabunganku hampir semuanya masuk ke studio. Dua pegawai belum menerima kenaikan gaji. Cicilan kantor masih jalan. Sekarang kamu minta kita menikah mendadak?”

“Aku tidak meminta pesta.”

“Aku juga tidak bicara soal pesta.”

Nada suaranya mulai meninggi.

“Aku bicara soal menjadi suami dan ayah ketika hidupku sendiri belum stabil.”

Aku memegang amplop itu lebih erat.

“Jadi bagaimana dengan bayi ini?”

“Jangan membuat seolah-olah aku menyuruhmu melakukan sesuatu.”

“Lalu apa yang kamu inginkan?”

Arga diam cukup lama.

Kemudian ia berkata sesuatu yang tidak pernah bisa kulupakan.

“Aku belum menginginkan anak sekarang.”

Bukan “Aku takut.”

Bukan “Berikan aku waktu sampai besok.”

Aku belum menginginkan anak sekarang.

Seakan-akan bayi dalam kandunganku barang pesanan yang datang terlalu cepat dan bisa dikembalikan.

“Kalau begitu aku harus bagaimana?”

“Kamu bisa tinggal dulu dengan Mbak Ayu di Surabaya.”

Aku hampir tertawa karena tidak percaya.

“Kamu menyuruhku pergi?”

“Jangan dipelintir.”

Arga bersandar ke kursi.

“Aku bilang tinggal sementara di sana. Kakakmu punya rumah. Kamu juga sedang tidak bekerja sejak perusahaanmu melakukan pengurangan karyawan. Lebih baik kamu dekat keluarga.”

“Dan kamu?”

“Aku bekerja.”

“Sebagai pacarku?”

Ia menghela napas panjang.

“Nara, jangan membuat semuanya dramatis.”

Kalimat itu menyakitiku lebih daripada bentakan.

Aku mengambil hasil pemeriksaan dari amplop.

“Jawab satu pertanyaan saja.”

“Apa?”

“Kalau aku memutuskan mempertahankan bayi ini, apakah kamu mau menjadi ayahnya?”

Arga memandangku.

Beberapa detik.

Lima detik.

Mungkin sepuluh.

Tetapi bagiku, diam selama itu sudah cukup menjadi jawaban.

“Aku belum siap.”

Aku mengangguk perlahan.

“Baik.”

“Nara…”

“Aku mengerti.”

“Aku tidak bilang tidak mau selamanya.”

Aku memasukkan surat dokter ke tas.

“Berapa lama?”

“Entahlah. Setahun? Dua tahun? Sampai keadaan studio lebih baik.”

“Anak tidak bisa tetap berada di dalam perutku sampai perusahaanmu untung.”

“Nara!”

Beberapa orang menoleh.

Aku bangkit.

Arga juga berdiri.

Kupikir ia akan memelukku.

Ternyata ia hanya berkata,

“Jangan mengambil keputusan saat emosi.”

Aku menatap lelaki yang selama lima tahun kupikir akan menjadi suamiku.

“Justru sekarang aku sedang berpikir paling jernih.”

Malamnya aku memesan tiket bus ke Surabaya.

Besok paginya, aku mengirimkan foto hasil USG kepada Arga.

Aku juga menulis alamat rumah Mbak Ayu.

Pesanku sederhana.

“Aku berangkat besok malam. Kalau kamu mau membicarakan anak ini, telepon aku sebelum aku pergi.”

Centang biru muncul pukul 10.17.

Tidak ada jawaban.

Sore berikutnya, aku mengirim pesan terakhir.

“Bus berangkat jam delapan.”

Ia membacanya.

Tetap tidak menelepon.

Dan di terminal itulah aku menerima dua kata terakhir darinya.

“Jaga diri.”

Aku menangis hampir sepanjang perjalanan menuju Surabaya.

Namun ketika bus berhenti di rest area sekitar Cirebon dan aku muntah sampai tubuhku lemas, aku berdiri di depan cermin toilet, menyentuh perutku, lalu berkata pelan,

“Mulai hari ini kita berdua saja. Ibu akan belajar.”

Aku tidak tahu apakah bayi itu bisa mendengar.

Tetapi kalimat itu menjadi janji pertama yang benar-benar kutepati.

Tiga tahun berlalu.

Aku tidak menjadi kaya.

Aku juga tidak berubah menjadi perempuan luar biasa seperti dalam cerita-cerita yang sering muncul di media sosial.

Aku hanya bertahan.

Mbak Ayu memberiku kamar.

Kakak iparku membantu biaya kontrol ketika tabunganku menipis.

Aku menjual dessert box dari dapur rumah.

Setelah Damar lahir, aku menerima pesanan kue ulang tahun.

Sedikit demi sedikit, pelanggan bertambah.

Dari sepuluh kotak sehari menjadi lima puluh.

Dari meja makan rumah Mbak Ayu menjadi dapur sewaan kecil.

Dua tahun kemudian, aku mempekerjakan empat orang.

Aku menamai usaha itu “Dapur Damar”.

Anakku tumbuh menjadi bocah yang cerewet, mudah tertawa, dan sangat suka melihat kendaraan besar.

Ia memiliki mata bulat milikku.

Tetapi ada satu hal yang selalu membuat Mbak Ayu terdiam.

Ketika Damar sedang gugup, ia akan mengusap ujung telunjuknya dengan ibu jari.

Persis seperti Arga.

Aku tidak pernah mengajarinya.

Tiga tahun setelah meninggalkan Jakarta, sebuah perusahaan penyelenggara acara mengundang Dapur Damar menjadi salah satu vendor makanan di pameran desain dan usaha kreatif di ICE BSD.

Aku hampir menolak.

Jakarta menyimpan terlalu banyak kenangan.

Tetapi kontraknya besar.

Jadi aku datang.

Hari kedua pameran berlangsung sangat ramai.

Aku sedang memeriksa pesanan ketika Damar yang dititipkan kepada Mbak Ayu tiba-tiba berlari keluar dari belakang booth.

“Ibu!”

Aku menoleh.

“Damar, jangan lari!”

Ia berbelok terlalu cepat dan menabrak kaki seorang pria.

Kotak kecil berisi brosur yang dipegang pria itu jatuh.

“Maaf, Om,” kata Damar spontan.

Aku bergegas mendekat.

“Maaf, Pak. Anak saya—”

Kalimatku berhenti.

Orang di depanku juga membeku.

Arga.

Tiga tahun mengubah banyak hal darinya.

Rambutnya lebih pendek.

Kemejanya lebih mahal.

Logo studionya terpampang besar di booth beberapa meter di belakang.

Namun cara ia menatapku masih sama.

“Nara?”

Damar memeluk kakiku.

“Ibu, Om ini siapa?”

Arga menunduk.

Tatapannya jatuh pada wajah Damar.

Lalu pada hidungnya.

Pada bentuk alisnya.

Kemudian pada tangan kecil Damar yang sedang mengusap telunjuk dengan ibu jarinya karena gugup.

Wajah Arga kehilangan warna.

“Namanya siapa?”

Aku menarik Damar mendekat.

“Itu bukan urusanmu.”

“Nara.”

Suara Arga berubah.

“Berapa umurnya?”

Aku tidak menjawab.

Damar justru mengangkat tiga jarinya dengan bangga.

“Aku tiga tahun, Om. Bulan depan tiga tahun empat bulan.”

Arga menghitung sesuatu di kepalanya.

Aku melihat detik ketika ia menemukan jawabannya.

Matanya memerah.

Ia kembali menatapku.

Kemudian menatap Damar.

Lalu kembali kepadaku.

“Nara…”

Suaranya nyaris tak terdengar.

“Siapa ayah anak ini?”

Aku menggenggam tangan Damar erat-erat.

Dan untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, aku melihat ketakutan yang dulu ingin sekali kulihat di wajahnya.

Ketakutan bahwa kali ini, aku benar-benar sudah pergi.

#DramaKeluarga #CeritaIndonesia #KisahKehidupan #IbuDanAnak #CeritaViral

Bagian 2 — Tiga Tahun Setelah Aku Menghilang dari Hidupnya, Satu Panggilan “Ibu” Membuat Arga Menatap Damar Seolah Sedang Melihat Masa Lalunya Sendiri

Aku tidak menjawab pertanyaan Arga.

Aku menggandeng Damar dan berkata kepada Mbak Ayu agar membawanya kembali ke hotel.

Namun Arga berdiri menghalangi jalanku.

“Nara, jawab aku.”

“Menepi.”

“Itu anakku?”

Beberapa pengunjung mulai memperhatikan.

Aku menurunkan suara.

“Jangan membuat keributan di depan anakku.”

“Anakmu?”

Arga tertawa pendek karena gugup.

“Kamu bahkan tidak bisa mengatakan ‘bukan’. Berarti benar, kan?”

Aku menatapnya.

“Ya.”

Satu kata itu membuatnya diam.

“Damar anakmu secara biologis.”

Bibir Arga sedikit terbuka.

Matanya kembali mengikuti Damar yang berjalan bersama Mbak Ayu.

Kemudian ia menatapku dengan wajah yang mendadak penuh luka.

“Kenapa kamu menyembunyikan anakku selama tiga tahun?”

Aku benar-benar tertawa kali ini.

Bukan karena lucu.

Karena kemarahan yang kusimpan bertahun-tahun akhirnya mendapatkan bentuk.

“Aku menyembunyikannya?”

“Kamu pergi. Ganti nomor. Tidak pernah memberitahuku dia lahir.”

“Jangan berbohong.”

“Apa?”

“Aku mengirimkan alamatku sebelum berangkat.”

Arga terdiam.

“Aku mengirim foto USG.”

“Aku ingat.”

“Aku memberitahumu jam keberangkatan bus.”

Rahangnya menegang.

“Kamu tidak datang.”

“Aku pikir kamu cuma butuh waktu.”

“Aku mengirim foto pemeriksaan bulan keempat.”

Arga mengernyit.

“Aku tidak pernah menerima itu.”

“Aku mengirimnya ke alamat studio.”

“Nara, aku serius. Aku tidak pernah—”

“Aku juga mengirim undangan digital aqiqah Damar.”

Wajahnya berubah.

“Aqiqah?”

“Ya.”

“Aku tidak pernah tahu.”

Untuk pertama kalinya, kemarahanku sedikit bercampur kebingungan.

Namun hanya sebentar.

“Satu pesan saja cukup, Arga. Kamu punya nomorku berbulan-bulan sebelum aku menggantinya. Kamu tahu rumah kakakku. Kamu punya emailku. Selama kehamilan, berapa kali kamu mencariku?”

Ia tidak menjawab.

Aku melangkah mendekat.

“Nol.”

“Nara, waktu itu aku—”

“Nol.”

Aku menahan air mata.

“Jadi jangan berdiri di sini tiga tahun kemudian dan bertanya kenapa aku menyembunyikan anakmu.”

Wajahnya memerah.

“Aku memang belum siap waktu itu. Tapi aku tidak pernah bilang tidak menginginkan dia.”

“Kamu pikir meninggalkan perempuan hamil sendirian sambil berkata ‘aku belum siap’ berbeda jauh?”

“Aku mengira kamu akan kembali setelah tenang.”

Kalimat itu membuatku membeku.

“Kamu mengira aku akan kembali?”

Arga terdiam.

Akhirnya aku memahami sesuatu.

Ia memang tidak pernah percaya aku bisa meninggalkannya.

Selama lima tahun, setiap kami bertengkar, akulah yang menelepon lebih dulu.

Akulah yang meminta maaf.

Akulah yang menunggu.

Jadi ketika aku pergi sambil hamil, Arga mungkin tetap yakin suatu hari aku akan muncul kembali di depan pintunya.

“Jadi itu masalahnya,” bisikku.

“Kamu tidak mengejarku karena kamu pikir aku tidak akan mampu hidup tanpamu.”

Arga tidak membantah.

Dua hari berikutnya ia terus menghubungiku.

Aku memblokir satu nomor.

Ia memakai nomor kantor.

Aku memblokir lagi.

Akhirnya sebuah email masuk.

“Aku ingin tes DNA dan membicarakan Damar secara baik-baik.”

Aku setuju pada tes DNA.

Bukan karena aku ragu.

Aku hanya ingin tidak ada lagi ruang baginya untuk membuat tuduhan.

Hasilnya keluar beberapa minggu kemudian.

Arga adalah ayah biologis Damar.

Setelah itu semuanya berubah.

Ia meminta bertemu Damar setiap akhir pekan.

Aku menolak.

Bukan selamanya.

Aku hanya tidak akan menyerahkan anak tiga tahun kepada orang asing yang baru ditemuinya sekali.

Lalu ibunya, Bu Ratih, datang.

Perempuan yang dulu tersenyum kepadaku selama lima tahun itu muncul bersama Arga di rumah Mbak Ayu.

Begitu melihat Damar, ia menangis.

“Cucu Oma…”

Damar langsung bersembunyi di belakangku.

Bu Ratih menatapku dengan kecewa seolah akulah penjahatnya.

“Kenapa kamu tega menjauhkan cucu saya selama ini?”

Aku hampir tidak percaya.

“Saya?”

“Kamu seharusnya menghubungi keluarga kami.”

“Aku pernah.”

Bu Ratih terdiam sangat singkat.

Terlalu singkat untuk tidak kusadari.

Arga menoleh kepada ibunya.

“Ma?”

Bu Ratih segera mengalihkan pembicaraan.

“Yang penting sekarang Damar sudah ditemukan.”

Ditemukan.

Seakan-akan anakku barang hilang.

Ia lalu mulai berbicara soal nama keluarga, sekolah di Jakarta, dan bagaimana Damar sebaiknya lebih sering tinggal bersama Arga.

Saat itulah aku mempersilakan mereka pulang.

Seminggu kemudian, surat dari pengacara datang.

Arga meminta mediasi resmi mengenai pengakuan ayah, biaya hidup, dan jadwal pertemuan dengan Damar.

Aku tidak takut.

Aku menyiapkan semua dokumen.

Catatan kehamilan.

Biaya persalinan.

Foto.

Email.

Pesan lama.

Bukti transfer dari kakakku ketika aku tidak memiliki uang.

Semua yang selama tiga tahun tidak pernah ingin kulihat lagi.

Hari mediasi, Arga duduk di seberangku.

Bu Ratih duduk di sebelahnya.

Pengacaranya mengatakan,

“Klien kami merasa tidak pernah diberi kesempatan mengetahui kelahiran anak.”

Aku membuka laptop.

“Kalau begitu saya ingin menunjukkan sesuatu.”

Pertama, foto USG yang kukirim kepada Arga.

Centang biru.

Kedua, pesan keberangkatan bus.

Centang biru.

Ketiga, email bulan kelima.

Tidak pernah dibalas.

Arga menunduk.

Kemudian kutunjukkan bukti pengiriman paket ke studio Arga dua minggu setelah Damar lahir.

Isinya foto bayi, salinan akta kelahiran sementara, dan surat pendek dariku.

Arga mengangkat kepala.

“Aku tidak pernah melihat paket itu.”

“Aku tahu.”

Semua orang menatapku.

Aku mengeluarkan satu lembar bukti penerimaan kurir.

Nama penerima tertera jelas.

RATIH KUSUMA.

Arga perlahan menoleh kepada ibunya.

Bu Ratih pucat.

“Itu… mungkin resepsionis salah tulis.”

Aku mengeluarkan ponsel lama yang selama ini kusimpan.

“Kalau begitu mungkin Ibu juga lupa ini.”

Aku menekan tombol putar.

Suara Bu Ratih yang tiga tahun lebih muda memenuhi ruangan.

“Nara, jangan kirim apa pun lagi ke Arga. Dia punya masa depan. Kalau kamu memilih melahirkan anak itu, tanggung sendiri keputusanmu. Jangan gunakan bayi untuk mengikat anak saya.”

Ruangan mendadak sunyi.

Arga tidak bergerak.

Aku mematikan rekaman.

Bu Ratih menatap meja.

Dan saat Arga akhirnya menoleh kepadanya, wajahnya bukan lagi wajah seorang anak yang meminta penjelasan.

Itu wajah seorang lelaki yang baru sadar ibunya telah menyembunyikan keberadaan putranya sendiri selama tiga tahun.

“Ma…”

Suara Arga gemetar.

“Apa yang Mama lakukan?”

Bagian 3 — Arga Menuntut Hak sebagai Ayah, tetapi Rekaman Lama dan Satu Surat dari Ibunya Justru Membuktikan Siapa yang Benar-Benar Meninggalkan Kami

Bu Ratih akhirnya mengaku.

Ia menerima paket itu.

Ia membaca suratku.

Ia melihat foto Damar saat baru berusia dua minggu.

Namun ia tidak pernah menyerahkannya kepada Arga.

Menurutnya, saat itu studio Arga baru mendapatkan investor pertama.

Ia takut keberadaan anak akan memaksa Arga menikah, membuatnya kehilangan fokus, lalu menghancurkan usaha yang sudah dibangun.

“Aku cuma ingin melindungimu,” katanya sambil menangis.

Arga berdiri begitu cepat sampai kursinya bergeser.

“Melindungiku dari anakku sendiri?”

“Kamu waktu itu juga bilang belum siap!”

“Belum siap bukan berarti Mama boleh menghapus anakku dari hidupku!”

Aku mendengarkan mereka tanpa merasa menang.

Karena ada satu hal yang harus Arga dengar.

“Jangan jadikan ibumu satu-satunya alasan.”

Arga menoleh kepadaku.

“Nara…”

“Dia memang salah.”

Aku menunjuk bukti penerimaan paket.

“Dia mengambil sesuatu yang bukan haknya.”

Kemudian aku menatap langsung matanya.

“Tapi sebelum ibumu menyembunyikan paket itu, aku sudah memberitahumu bahwa aku hamil.”

Arga membisu.

“Aku memberimu alamat.”

Diam.

“Aku memberitahumu kapan aku pergi.”

Diam.

“Aku menunggu di terminal.”

Matanya mulai merah.

“Kamu tidak datang.”

“Nara…”

“Jadi jangan pulang hari ini lalu meyakinkan dirimu bahwa semua ini terjadi hanya karena ibumu.”

Aku menggeleng.

“Ibumu menutup satu pintu. Tapi kamu sendiri yang memilih berjalan menjauh sejak awal.”

Arga duduk kembali.

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, ia tidak mencari alasan.

Mediasi berlanjut hampir dua bulan.

Kami tidak kembali bersama.

Bahkan ketika Arga meminta kesempatan memperbaiki hubungan kami, jawabanku tetap sama.

“Kamu boleh belajar menjadi ayah Damar. Tapi itu tidak otomatis membuatmu menjadi pasanganku lagi.”

Aku tidak membencinya.

Namun aku juga tidak lagi mencintai versi diriku yang selalu menunggu dia memilihku.

Kami akhirnya membuat kesepakatan tertulis.

Arga bertanggung jawab memberikan nafkah bulanan yang jumlahnya disesuaikan kebutuhan Damar.

Ia juga mengganti sebagian biaya medis, persalinan, dan kebutuhan awal Damar yang selama ini terdokumentasi.

Pertemuannya dengan Damar dilakukan bertahap.

Awalnya dua jam.

Ditemani aku atau Mbak Ayu.

Tidak boleh membawa Damar ke luar kota tanpa persetujuanku.

Tidak boleh mengunggah wajah Damar ke media sosial untuk membangun citra keluarga bahagia.

Dan satu syarat yang paling tidak disukai Bu Ratih:

Untuk sementara, ia tidak boleh bertemu Damar sendirian.

“Kenapa saya dihukum?” protesnya.

Aku menjawab tenang,

“Karena tiga tahun lalu Ibu membuat keputusan tentang anak saya tanpa hak. Kepercayaan tidak kembali hanya karena Ibu menangis.”

Arga tidak membelanya.

Itulah pertama kalinya ia benar-benar menetapkan batas kepada ibunya.

Akibat dari semuanya tidak berhenti di sana.

Selama bertahun-tahun, Arga pernah mengatakan kepada beberapa kerabatnya bahwa aku pergi begitu saja setelah kami bertengkar.

Ketika kebenaran muncul, ia sendiri yang mengumpulkan keluarga terdekat dan memperbaiki cerita itu.

“Nara tidak kabur membawa anakku,” katanya.

“Aku yang membiarkan dia pergi saat hamil.”

Bu Ratih menangis.

Beberapa saudara yang dulu pernah menyebutku keras kepala meminta maaf.

Aku menerima permintaan maaf mereka.

Tetapi aku tidak kembali menjadi bagian dari keluarga itu.

Arga juga harus menerima konsekuensi lain yang lebih sunyi.

Damar tidak langsung memanggilnya Ayah.

Pada pertemuan pertama, Damar memanggilnya “Om Arga”.

Pertemuan kedua tetap “Om Arga”.

Bulan ketiga masih sama.

Suatu sore Arga membawakan sebuah mobil-mobilan mahal.

Damar menerimanya lalu berkata,

“Terima kasih, Om.”

Aku melihat mata Arga berkaca-kaca.

Dulu ia berpikir menjadi ayah adalah sesuatu yang bisa ditunda sampai hidupnya siap.

Sekarang ia mengetahui bahwa hubungan dengan seorang anak tidak bisa dibeli dalam sehari.

Ia harus membangunnya dari awal.

Datang tepat waktu.

Menepati janji.

Menemani Damar menggambar.

Mengobati lututnya saat terjatuh.

Mendengarkan cerita tentang dinosaurus yang diulang lima kali.

Berbulan-bulan kemudian, suatu sore Damar tertidur di sofa setelah bermain.

Arga menyelimutinya.

Saat hendak pulang, ia berdiri di depan pintu.

“Nara.”

“Ya?”

“Aku pernah berpikir kamu tidak akan benar-benar pergi.”

Aku tersenyum tipis.

“Aku tahu.”

“Aku pikir setelah beberapa hari kamu akan menelepon.”

“Aku tahu.”

Ia menunduk.

“Ternyata aku tidak kehilanganmu pada hari kamu naik bus itu.”

Aku menatapnya.

“Aku kehilanganmu jauh sebelum itu. Aku hanya terlalu bodoh untuk menyadarinya.”

Aku tidak menjawab.

Ia tersenyum pahit.

“Terima kasih karena tidak pernah mengajari Damar membenciku.”

“Aku tidak perlu mengajarinya membenci siapa pun.”

Aku membuka pintu.

“Kamu cukup menunjukkan sendiri kamu mau menjadi orang seperti apa mulai sekarang.”

Setahun kemudian, Dapur Damar membuka cabang kecil kedua di Surabaya Barat.

Aku membeli rumah sederhana dengan halaman sempit yang cukup untuk Damar menanam cabai, meskipun hampir semuanya akhirnya mati karena terlalu sering ia siram.

Mbak Ayu masih datang hampir setiap hari.

Bisnisku berkembang.

Damar mulai masuk taman kanak-kanak.

Dan Arga?

Ia masih datang dua kali sebulan.

Kadang Damar memanggilnya Om.

Kadang tanpa sadar ia mulai mengatakan “Ayah Arga”.

Aku tidak pernah memaksanya.

Hubungan mereka tumbuh sesuai kemampuan Damar menerima.

Bu Ratih akhirnya meminta maaf kepadaku tanpa membawa hadiah, tanpa alasan, tanpa kalimat “saya cuma ingin yang terbaik”.

Hanya satu kalimat.

“Saya salah.”

Butuh waktu lama sebelum aku mengizinkannya menemani Damar membeli es krim sendirian.

Namun akhirnya aku memberi kesempatan.

Bukan karena aku melupakan semuanya.

Karena hidupku sudah terlalu penuh untuk terus membawa kemarahan.

Pada ulang tahun Damar yang kelima, kami mengadakan pesta kecil di halaman rumah.

Ketika lilinnya dinyalakan, Damar berdiri di antara aku dan Arga.

“Damar mau minta apa?” tanyaku.

Ia menutup mata.

Lalu membuka lagi.

“Rahasia. Kalau dikasih tahu nanti nggak terkabul.”

Kami semua tertawa.

Saat itu aku sadar sesuatu.

Tiga tahun sebelumnya, aku meninggalkan Jakarta sambil berpikir hidupku sudah hancur.

Ternyata tidak.

Yang hancur hanya rencana lama yang memang tidak layak dipertahankan.

Aku tidak mendapatkan akhir berupa lelaki yang berlari ke terminal lalu memohon agar aku tetap tinggal.

Aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih baik.

Aku belajar bahwa seseorang yang benar-benar ingin tinggal tidak akan membuatmu menunggu di pintu sambil menebak apakah kamu cukup berharga untuk dikejar.

Dan Arga akhirnya membayar harga dari kesalahannya bukan dengan kehilangan uang atau bisnis.

Ia membayar dengan tiga tahun pertama kehidupan putranya yang tidak akan pernah bisa diulang.

Tiga tahun ketika Damar belajar berjalan tanpa tangannya.

Mengucapkan kata pertama tanpa mendengarnya.

Meniup lilin ulang tahun pertama tanpa dirinya.

Tidak ada uang yang bisa membeli kembali semua itu.

Sementara aku?

Aku tidak lagi menunggu siapa pun datang mengejarku.

Karena sekarang aku tahu bagaimana rasanya memilih diriku sendiri—dan tetap berjalan bahkan ketika tidak ada seorang pun yang berlari dari belakang.

Catatan: Cerita ini sepenuhnya fiksi. Pembaca diharapkan menyikapi setiap konflik dan keputusan tokoh secara bijak serta rasional.