Di Hari Aku Diam-Diam Menyiapkan Perceraian Saat Hamil, Suamiku Malah Membawa Cinta Lamanya Pulang—Namun Satu Berkas di Meja Makan Membuat Seluruh Keluarganya Kehilangan Suara Malam Itu dan Menyesal Terlambat

Avatar penulis
Cerita 03
17 menit baca 1,100 tayangan
Di Hari Aku Diam-Diam Menyiapkan Perceraian Saat Hamil, Suamiku Malah Membawa Cinta Lamanya Pulang—Namun Satu Berkas di Meja Makan Membuat Seluruh Keluarganya Kehilangan Suara Malam Itu dan Menyesal Terlambat
Indeks

Di Hari Aku Diam-Diam Menyiapkan Perceraian Saat Hamil, Suamiku Malah Membawa Cinta Lamanya Pulang—Namun Satu Berkas di Meja Makan Membuat Seluruh Keluarganya Kehilangan Suara Malam Itu dan Menyesal Terlambat

Bagian 1 — Dokter yang Menangani Kehamilanku Ternyata Adik Suamiku, dan Malam Itu Aku Melihat Sendiri Perempuan yang Selalu Ia Pilih di Atasku

Hari aku datang sendirian ke sebuah rumah sakit swasta di Surabaya, dokter kandungan yang menerima berkas pemeriksaanku menatap kolom status pernikahan cukup lama.

“Bu Alya,” katanya pelan, “Anda yakin ingin membicarakan pilihan untuk tidak melanjutkan kehamilan ini?”

Aku meremas tali tasku.

“Pernikahan saya akan berakhir.”

Dokter itu mengangkat wajah.

Lalu ia menurunkan maskernya.

Darahku seperti berhenti mengalir sesaat.

“Nabila?”

dr. Nabila Wiratama.

Adik kandung suamiku.

Perempuan yang selama tiga tahun terakhir selalu memanggilku “Mbak Alya” setiap kali kami bertemu saat Lebaran.

Ia juga tampak sama terkejutnya.

“Mbak… Raka tahu kamu hamil?”

“Tidak.”

“Kamu belum memberi tahu Mas Raka?”

“Belum.”

Aku menarik napas.

“Dan untuk sekarang aku tidak ingin dia tahu.”

Nabila menutup berkas di depannya.

Tatapannya berubah dari seorang adik menjadi seorang dokter.

Ia menjelaskan dengan hati-hati bahwa keinginanku saja tidak otomatis membuat prosedur penghentian kehamilan bisa dilakukan secara legal. Ada syarat medis dan aturan yang ketat. Ia menyarankan pemeriksaan lanjutan dan konseling sebelum aku mengambil keputusan apa pun.

Usia kandunganku baru sebelas minggu.

Masih sangat kecil.

Tapi cukup besar untuk membuatku muntah hampir setiap pagi selama tiga minggu terakhir.

Cukup besar untuk membuatku terbangun tengah malam dan meletakkan telapak tangan di perut sambil bertanya pada diri sendiri:

Apakah aku sanggup membesarkan anak dari seorang lelaki yang bahkan tidak menyadari istrinya hamil?

Nabila terdiam lama.

“Mbak, aku tidak mau ikut campur rumah tangga kalian. Tapi… Mas Raka pasti perlu tahu.”

Aku tersenyum tipis.

“Selama tiga tahun menikah, kakakmu bahkan jarang tahu aku sedang demam.”

Nabila tidak bisa menjawab.

Aku berdiri, mengambil hasil pemeriksaan, lalu berjalan menuju pintu.

Sebelum keluar, ia memanggilku.

“Mbak Alya.”

Aku menoleh.

“Mas Raka mungkin memang buruk menunjukkan perasaan. Tapi aku rasa dia tidak membencimu.”

Aku tersenyum lagi.

Itulah masalahnya.

Aku tidak pernah membutuhkan seseorang yang sekadar “tidak membenciku”.

Aku pernah menginginkan suami.

Seseorang yang bertanya apakah aku sudah makan.

Yang tahu aku takut suara petir.

Yang ingat aku alergi udang.

Yang menyadari ketika selama tiga minggu istrinya selalu berlari ke kamar mandi setiap pagi.

Tetapi selama seribu lebih hari menjadi istri Raka Wiratama, sebagian besar percakapan kami hanya terdiri dari:

“Aku pulang malam.”

“Siapkan pakaian untuk acara besok.”

“Akhir pekan aku ke Jakarta.”

“Jangan tunggu.”

Saat keluar dari rumah sakit, ponselku berdering.

Raka.

“Halo?”

“Malam ini ikut aku ke acara peluncuran proyek Arunika Residence.”

Tidak ada “kamu di mana?”

Tidak ada “suaramu kenapa?”

Aku berdiri di trotoar rumah sakit sambil memegang hasil USG anaknya.

“Jam berapa?”

“Tujuh. Pakai yang formal.”

“Baik.”

Malam itu menjadi terakhir kalinya aku menjawab permintaannya dengan kata itu.


Gaun sudah tergantung di kamar ketika aku pulang.

Hitam.

Lengan panjang.

Ukuran yang tepat.

Bukan Raka yang memilihnya.

Sekretaris pribadinya, Tania, yang memesankan.

Lucu.

Perempuan yang bekerja dengannya delapan jam sehari mengetahui ukuranku lebih baik daripada lelaki yang tidur di sebelahku selama tiga tahun.

Aku memakai gaun itu.

Di depan cermin, perutku masih tampak datar.

Tak seorang pun akan tahu di dalam tubuhku ada sebuah kehidupan kecil yang bahkan ayahnya belum ketahui.

Pukul enam lewat lima belas, mobil Raka berhenti di depan rumah.

Begitu aku masuk, ia sedang berbicara melalui headset.

“Investor Singapura minta revisi angka sebelum Jumat.”

Lima belas menit.

Dua puluh menit.

Tiga puluh menit.

Sampai kami tiba di hotel tempat acara berlangsung, percakapannya tidak pernah berhenti.

Ketika turun, barulah ia memandangku.

“Kamu kelihatan pucat.”

Untuk sesaat, sesuatu di dadaku bergerak.

Lalu ia menambahkan:

“Jangan sampai sakit di depan investor.”

Aku tertawa kecil dalam hati.

Tentu saja.

Bukan karena khawatir.

Karena citra.

Keluarga Wiratama adalah salah satu keluarga bisnis lama di Surabaya. Mereka bergerak di bidang properti, hotel, dan pusat perbelanjaan.

Raka menjadi direktur utama PT Wiratama Hospitality ketika usianya baru tiga puluh tiga.

Di media bisnis, ia disebut tenang, tajam, disiplin.

Bagiku, tiga kata itu memiliki arti lain.

Dingin.

Jauh.

Dan selalu sibuk.

Sedangkan aku?

Alya Prameswari.

Menurut sebagian kerabatnya, aku hanyalah perempuan lulusan desain interior dari keluarga biasa yang beruntung dinikahi pewaris keluarga Wiratama.

Mereka tidak pernah tertarik mengetahui bahwa aku memiliki studio sendiri.

Mereka juga tidak pernah bertanya berapa klien yang kutangani.

Bagi mereka, pekerjaanku hanyalah “kesibukan kecil supaya tidak bosan di rumah”.

Acara baru berjalan tiga puluh menit ketika seorang perempuan bergaun putih memasuki ballroom.

Aku langsung mengenalinya meski hanya pernah melihat fotonya.

Celine Maheswari.

Teman kuliah Raka.

Mantan kekasih Raka.

Dan menurut cerita keluarga Wiratama, perempuan yang “seharusnya” menikah dengannya seandainya lima tahun lalu Celine tidak memilih pindah ke Melbourne.

Raka berdiri begitu melihatnya.

Aku hampir tertawa.

Tiga tahun menikah, bahkan ketika aku pulang setelah operasi usus buntu, ia hanya bangkit setengah badan dari sofa.

Tetapi untuk Celine…

Ia berdiri penuh.

“Celine?”

Perempuan itu tersenyum.

“Surprise.”

Mereka berjabat tangan.

Terlalu lama.

“Aku baru kembali dua minggu lalu,” katanya.

“Kenapa tidak bilang?”

“Takut Pak Direktur terlalu sibuk.”

Raka tersenyum.

Senyum yang sangat jarang kulihat di rumah.

Kemudian Celine menatapku.

“Ini Alya, ya?”

Seolah-olah namaku sudah terlalu sering mereka bicarakan.

Aku mengulurkan tangan.

“Halo.”

“Aku sering dengar tentang kamu.”

Kalimat paling sopan yang bisa terasa seperti tamparan.

Celine duduk di meja kami.

Malam itu aku menemukan sisi Raka yang selama ini kukira tidak pernah ada.

Ia ternyata bisa menarik kursi untuk perempuan.

Bisa menuangkan air.

Bisa bertanya apakah makanan terlalu pedas.

Bisa mengingat seseorang tidak suka daun ketumbar.

Bahkan ketika seorang tamu membawa dua gelas anggur, Raka mengambil satu dari tangan Celine.

“Dia tidak kuat minum.”

Aku menatap gelasku sendiri.

Saat ulang tahun pernikahan kedua kami, aku demam 39 derajat tetapi tetap menemani Raka menghadiri makan malam perusahaan.

Ia tidak sadar sampai sopir mengatakan wajahku pucat.

Sekarang aku paham.

Raka bukan lelaki yang tidak perhatian.

Ia hanya tidak pernah memilih memberikan perhatiannya kepadaku.

Aku pergi ke toilet sebelum acara selesai.

Di dekat wastafel, dua perempuan sedang berbicara.

“Celine balik untuk proyek Arunika, kan?”

“Iya. Katanya keluarga Bu Ratih sendiri yang minta.”

“Wah, kasihan istrinya Raka.”

“Kasihan apa? Hidup di rumah puluhan miliar, pakai mobil mewah, kurang apa?”

“Tapi mantan pacar suaminya dibawa masuk ke perusahaan.”

Perempuan satunya tertawa kecil.

“Kalau memang istri Raka punya kemampuan, kenapa harus takut?”

Aku menatap bayanganku di cermin.

Aneh.

Biasanya kata-kata seperti itu menyakitkan.

Malam itu tidak.

Aku justru merasa ringan.

Karena untuk pertama kalinya aku berhenti berharap Raka akan berubah.


Keesokan paginya aku menemui sahabatku, Siska, seorang pengacara keluarga di kawasan Darmo.

Begitu melihatku, ia hanya bertanya satu hal.

“Sudah cukup?”

Aku mengangguk.

“Buatkan gugatan cerai.”

Siska menatapku cukup lama.

“Kamu yakin?”

“Yakin.”

“Harta bersama?”

“Aku tidak mau menyentuh aset keluarga Wiratama.”

“Mobil?”

“Bukan milikku.”

“Rumah?”

“Bukan.”

“Tabungan bersama?”

“Ambil saja bagianku sesuai dokumen, lalu nanti kita selesaikan secara resmi. Aku tidak mau perang.”

Siska bersandar.

“Alya, kamu hamil.”

Aku menatapnya.

Ia satu-satunya orang selain Nabila yang tahu.

“Aku tahu.”

“Dan kamu tetap pergi?”

“Justru karena aku hamil.”

Aku tidak mau anakku tumbuh melihat ibunya duduk satu meja dengan ayahnya setiap malam tetapi merasa sendirian.

Siska membuka laptop.

“Ada satu hal lagi. Proyek Arunika.”

Aku mengangguk.

Dua tahun terakhir, studio milikku—Ruang Pulang Studio—menjadi konsultan konsep interior untuk proyek hotel baru keluarga Wiratama.

Mereka tahu aku ikut mengerjakannya.

Yang tidak banyak diketahui keluarga Raka adalah struktur kontraknya.

Konsep desain, identitas ruang, gambar konseptual dan lisensi penggunaan desain tetap menjadi milik studionya sampai seluruh pembayaran serta perjanjian lisensi final selesai.

“Celine sekarang dimasukkan sebagai Creative Strategy Director,” kata Siska.

“Aku tahu.”

“Kalau mereka mengalihkan desainmu kepadanya tanpa persetujuanmu, itu masalah.”

“Aku juga tahu.”

“Jadi?”

Aku menutup map.

“Aku berharap mereka cukup pintar untuk tidak melakukannya.”

Ternyata aku terlalu optimistis.


Pukul empat sore aku pulang.

Di ruang keluarga, ibu mertuaku, Ratih Wiratama, duduk bersama Celine.

Mereka sedang memilih sampel marmer.

Celine tersenyum begitu melihatku.

“Alya! Pas sekali. Aku sedang melihat konsep Arunika.”

Aku menatap lembaran di meja.

Itu desain milikku.

Bahkan anotasi pensil di sisi kanan berasal dari tanganku.

Bu Ratih berkata santai,

“Celine mulai bantu Raka. Kamu kan selama ini juga cuma bantu-bantu konsep.”

Cuma membantu.

Dua tahun kerja.

Puluhan malam tanpa tidur.

Ratusan revisi.

Disebut “cuma membantu”.

Aku naik ke kamar tanpa berdebat.

Mengeluarkan dua koper.

Barang-barang milikku ternyata sedikit sekali.

Beberapa pakaian sebelum menikah.

Laptop.

Buku.

Foto orang tuaku.

Dan kotak kecil berisi hasil USG.

Tas, perhiasan, jam tangan, dan pakaian mahal pemberian keluarga Wiratama kutinggalkan.

Aku sedang menutup koper ketika pintu terbuka.

Bu Ratih berdiri di sana.

“Apa-apaan ini?”

“Aku akan pergi.”

“Mau ke mana?”

“Rumahku sendiri.”

Wajahnya berubah.

“Kalian bertengkar?”

“Tidak.”

“Lalu?”

Aku berdiri.

“Aku akan menceraikan Raka.”

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Bu Ratih benar-benar kehilangan kata-kata.

Beberapa detik kemudian wajahnya mengeras.

“Kamu pikir perceraian bisa dijadikan ancaman?”

“Ini bukan ancaman.”

“Kalau kamu mau pergi, silakan.”

Ia melipat tangan.

“Tapi jangan harap membawa apa pun milik keluarga kami.”

“Aku tidak berniat.”

“Bagus.”

Aku mengangkat koper.

Namun sebelum aku sempat keluar, ia berkata,

“Kalau begitu turun sebentar.”

“Untuk apa?”

“Ada dokumen yang perlu kamu tanda tangani.”

Di ruang makan, Celine sudah menunggu.

Di depan kursiku terdapat sebuah map cokelat.

Bu Ratih membukanya.

Aku membaca halaman pertama.

Lalu halaman kedua.

Mereka tidak hanya ingin aku melepaskan hak atas aset keluarga Wiratama.

Mereka juga ingin aku menandatangani pengalihan seluruh hak desain proyek Arunika Residence kepada perusahaan mereka—supaya Celine bisa mengambil alih proyek yang kubangun hampir dua tahun.

Bu Ratih mendorong pena ke arahku.

“Kalau memang kamu mau pergi dengan baik-baik, tanda tangani ini. Setelah itu kamu bebas pergi ke mana pun.”

Aku menatap Celine.

Ia tersenyum kecil.

Saat itulah aku sadar.

Mereka bukan takut aku membawa harta keluarga ini.

Mereka takut aku membawa sesuatu yang sebenarnya sejak awal tidak pernah menjadi milik mereka.

#DramaKeluarga #KisahPernikahan #PerempuanBerani #CeritaIndonesia #KarmaItuNyata

Bagian 2 — Saat Aku Mengemasi Koper, Ibu Mertuaku Mengira Aku Sedang Mengancam—Sampai Satu Nama dalam Akta Perusahaan Membuatnya Berdiri Gemetar Ketakutan

Aku tidak langsung mengambil pena.

Sebaliknya, aku membaca halaman terakhir sekali lagi.

“Siapa yang menyiapkan dokumen ini?”

Bu Ratih menghela napas tidak sabar.

“Legal perusahaan.”

“Sudah dibaca Raka?”

“Tidak perlu membahas Raka untuk hal kecil seperti ini.”

Aku tertawa pelan.

Hal kecil.

Hak desain sebuah proyek hotel bernilai ratusan miliar rupiah disebut hal kecil.

Celine menyilangkan kaki.

“Alya, mungkin kamu salah paham. Aku tidak berniat mengambil pekerjaanmu. Perusahaan hanya membutuhkan struktur yang lebih profesional setelah aku masuk.”

“Profesional?”

“Ya. Investor asing lebih nyaman kalau proyek kreatif dipegang orang dengan pengalaman internasional.”

Aku mengangguk.

“Jadi karena kamu pernah bekerja empat tahun di Melbourne, desain yang kubuat otomatis menjadi milikmu?”

Wajahnya berubah sedikit.

Bu Ratih mengetuk meja.

“Jangan emosional.”

“Aku sangat tenang.”

Aku membuka tas, mengambil map biru, lalu meletakkannya di atas dokumen mereka.

“Karena kebetulan aku juga membawa berkas.”

Bu Ratih menatap curiga.

“Apa itu?”

“Perjanjian desain asli Arunika.”

Celine berhenti tersenyum.

Aku membuka halaman yang sudah kutandai.

“Pasal delapan. Seluruh hak kekayaan intelektual tetap berada pada Ruang Pulang Studio sampai perjanjian lisensi final ditandatangani dan pembayaran tahap akhir diselesaikan.”

Aku menggeser halaman berikutnya.

“Dan ini klausul lain. Pengalihan pekerjaan kepada pihak ketiga tanpa izin tertulis pemilik desain dianggap pelanggaran material.”

Bu Ratih memucat sedikit.

Celine buru-buru berkata,

“Tapi itu hanya formalitas.”

“Bagi pengacara, tidak.”

Aku mengeluarkan lembar lain.

“Dan ini pemberitahuan resmi bahwa sejak tadi siang, semua penggunaan desain kami untuk presentasi baru dibekukan sampai masalah pengalihan tanpa izin diselesaikan.”

Bu Ratih berdiri.

“Kamu sengaja mau menghancurkan proyek keluarga?”

“Tidak.”

Aku menatapnya.

“Saya sedang melindungi pekerjaan saya.”

Pintu depan terbuka.

Raka masuk.

Begitu melihat dua koper di dekat tangga, langkahnya berhenti.

“Ada apa?”

Bu Ratih langsung menghampirinya.

“Istrimu mau menceraikanmu, lalu sekarang dia mengancam proyek Arunika.”

Raka menatapku.

“Cerai?”

Aku mengeluarkan amplop putih dan meletakkannya di meja.

“Surat dari pengacaraku.”

Ia tidak menyentuhnya.

“Alya, kita bicara di kamar.”

“Tidak perlu.”

“Aku bilang kita bicara.”

Tiga tahun lalu, aku mungkin akan mengikutinya.

Hari itu aku tetap duduk.

“Kamu boleh bicara di sini.”

Rahangnya mengeras.

“Karena Celine?”

Aku hampir tertawa.

“Tidak semua hal tentang Celine.”

“Lalu apa?”

“Karena aku lelah menjadi istri seseorang yang bahkan tidak sadar aku berhenti minum kopi dua bulan lalu.”

Raka terdiam.

Aku membuka tasku hendak mengambil kunci mobil.

Kotak kecil berisi hasil USG terjatuh.

Foto hitam putih itu meluncur tepat di depan sepatunya.

Semua orang diam.

Raka membungkuk mengambilnya.

Wajahnya berubah.

“Apa ini?”

Tak ada gunanya berbohong lagi.

“Aku hamil.”

Ia menatap tanggal pemeriksaan.

“Sebelas minggu?”

“Ya.”

“Kamu hamil sebelas minggu dan aku baru tahu sekarang?”

Kalimat itu membuat sesuatu di dalam diriku akhirnya pecah.

“Kamu tinggal satu rumah denganku sebelas minggu dan baru sadar sekarang.”

Sunyi.

Bahkan Bu Ratih tidak berkata apa-apa.

Raka menatapku seperti baru pertama kali benar-benar melihat wajahku.

“Kenapa kamu tidak bilang?”

“Setiap kali aku ingin bicara, kamu sedang menelepon.”

Aku menelan ludah.

“Setiap kali aku menunggu kamu pulang, kamu bilang jangan menunggu.”

“Setiap kali kita makan bersama, ponselmu diletakkan di antara kita.”

Aku menunjuk foto USG di tangannya.

“Jadi jangan tanya kenapa aku tidak memberitahumu.”

“Tanyakan kenapa selama sebelas minggu kamu tidak pernah cukup lama memandang istrimu untuk menyadari ada sesuatu yang berubah.”

Celine menyela.

“Raka, jangan sampai kamu mengambil keputusan karena rasa bersalah.”

Aku menoleh padanya.

Menarik.

Belum lima menit Raka mengetahui dirinya akan menjadi ayah, perempuan itu sudah takut kehilangan posisinya.

Raka tidak menjawab.

Aku mengambil koper.

Bu Ratih tiba-tiba berkata,

“Kamu tidak bisa membawa cucuku pergi begitu saja!”

Aku berhenti.

Untuk pertama kalinya aku menatapnya tanpa menyebutnya “Ibu”.

“Anak ini bukan aset keluarga Wiratama.”

Wajahnya menegang.

“Dan aku tidak akan melarang Raka menjadi ayah kalau dia benar-benar mau menjadi ayah.”

Aku melihat Raka.

“Tapi aku tidak akan tinggal dalam pernikahan mati hanya supaya orang luar menganggap keluarga kalian sempurna.”

Aku berjalan keluar.

Tak seorang pun menahanku.

Malam itu aku tidur di apartemen kecil dekat studio.

Pukul sepuluh lewat empat puluh, Siska menelepon.

“Alya, ada perkembangan.”

“Apa?”

“Investor Arunika baru menerima salinan email internal.”

Aku duduk tegak.

“Email apa?”

“Email Celine kepada pihak investor.”

Aku memejamkan mata.

Siska melanjutkan,

“Dia menawarkan konsep desain Arunika kepada investor seolah-olah hak desain sudah berada di bawah kendalinya. Bahkan ada pembicaraan soal jatah saham untuk posisi barunya.”

Aku belum sempat menjawab ketika sebuah pesan masuk.

Dari Raka.

Hanya satu foto.

Foto layar laptop.

Email Celine.

Di bawahnya terdapat satu kalimat dari Raka:

Kamu tahu soal ini?

Aku belum membalas ketika pesan kedua masuk.

Investor membekukan pencairan dana proyek malam ini.

Lalu pesan ketiga.

Celine bilang Ibu sudah menyetujui semuanya.

Dan beberapa detik kemudian:

Alya… sebenarnya apa yang mereka lakukan di belakangku?

Bagian 3 — Ketika Suamiku Akhirnya Memintaku Tinggal, Aku Sudah Menandatangani Perceraian—dan Keserakahannya Sendiri Mengubah Rumah Mewah Itu Menjadi Tempat Paling Sunyi

Aku tidak membalas malam itu.

Bukan karena ingin menghukum Raka.

Aku hanya sudah terlalu lelah menjadi orang yang membereskan masalah keluarganya.

Keesokan paginya, semuanya mulai terbuka.

Ternyata selama dua bulan terakhir Celine dan Bu Ratih beberapa kali melakukan pertemuan dengan calon investor tanpa melibatkan tim kreatif resmi.

Celine ingin memperoleh posisi permanen sekaligus kepemilikan kecil dalam perusahaan baru yang akan mengelola Arunika Residence.

Masalahnya, nilai terbesarnya dalam negosiasi adalah konsep hotel yang tidak ia buat.

Ia menunjukkan render dari studioku.

Presentasi milikku.

Bahkan kalimat dalam konsep brand yang kutulis sendiri pukul tiga pagi enam bulan sebelumnya.

Nama Ruang Pulang Studio dihapus.

Diganti dengan namanya.

Ketika investor meminta bukti pengalihan hak, Bu Ratih yakin aku akan menandatangani dokumen itu tanpa membaca.

Mungkin selama tiga tahun mereka terlalu terbiasa melihatku mengalah.

Mereka lupa orang pendiam bukan berarti bodoh.

Audit internal dimulai.

Dewan komisaris memanggil Raka.

Karena ia direktur utama, kelalaiannya tetap dianggap tanggung jawab.

Dana proyek dibekukan.

Peluncuran ditunda.

Celine dicopot dari seluruh keterlibatan proyek sebelum kontrak permanennya sempat ditandatangani.

Perusahaan investornya meminta pertanggungjawaban terhadap materi presentasi yang digunakan tanpa otorisasi.

Tidak ada adegan dramatis polisi datang menyeret siapa pun.

Tidak ada kebangkrutan dalam semalam.

Kenyataan jauh lebih menyakitkan.

Nama baik bisnis yang dibangun puluhan tahun mulai dipertanyakan oleh mitra mereka sendiri.

Raka dinonaktifkan sementara dari jabatan direktur utama sampai audit tata kelola selesai.

Bu Ratih harus menjelaskan di depan komisaris mengapa ia mencampuri negosiasi proyek tanpa kewenangan formal.

Dan Celine?

Tiga hari setelah investor menghentikan pembicaraan mengenai saham untuknya, ia mengundurkan diri dan pindah ke Jakarta.

Perempuan yang katanya kembali karena “ingin membantu Raka” ternyata tidak bertahan bahkan satu minggu ketika posisi yang dijanjikan kepadanya hilang.


Dua minggu kemudian aku bertemu Raka di kantor Siska untuk mediasi.

Ia terlihat berbeda.

Bukan lebih miskin.

Bukan lebih berantakan.

Hanya seperti seseorang yang akhirnya tidak punya tempat untuk bersembunyi di balik pekerjaan.

Setelah urusan dokumen selesai, ia meminta bicara empat mata.

“Alya.”

Aku menunggu.

“Aku sudah membaca semua pesan lama kita.”

Aku tidak mengerti.

“Pesan?”

“Chat tiga tahun terakhir.”

Ia tersenyum pahit.

“Hampir semuanya kamu yang bertanya kapan aku pulang.”

Aku diam.

“Dan hampir semuanya kujawab singkat.”

Ia mengusap wajah.

“Aku pikir selama aku menyediakan rumah, uang, keamanan… aku sudah melakukan tugasku.”

“Itu bukan pernikahan, Raka.”

“Aku tahu sekarang.”

“Sayangnya sekarang terlambat.”

Ia memandang perutku yang mulai sedikit terlihat.

“Apa benar tidak ada kesempatan?”

Aku menggeleng.

“Aku memaafkanmu.”

Matanya sedikit berbinar.

Namun aku melanjutkan,

“Tapi memaafkan tidak berarti aku harus kembali.”

Senyumnya hilang.

Aku mendorong dokumen perceraian ke arahnya.

“Kita bisa belajar menjadi orang tua yang baik tanpa berpura-pura masih menjadi pasangan yang baik.”

Lama sekali ia menatap tanda tanganku.

Lalu akhirnya ia mengambil pena.

Hari itu Raka melakukan sesuatu yang selama tiga tahun tidak pernah berhasil ia lakukan.

Ia menghormati pilihanku.

Ia menandatangani.


Proyek Arunika akhirnya berjalan kembali empat bulan kemudian.

Bukan melalui kerja sama lama.

Investor memutuskan membuat kontrak langsung dengan Ruang Pulang Studio untuk menyelesaikan konsep desain, sementara perusahaan Wiratama tetap menjadi mitra pembangunan setelah struktur pengelolaannya diperbaiki.

Aku tidak mendapatkan proyek itu karena menjadi mantan istri Raka.

Aku mendapatkannya karena portofolioku memang layak.

Dan untuk pertama kalinya, namaku tertulis besar dalam kontrak.

Bukan “istri Direktur Utama”.

Bukan “menantu keluarga Wiratama”.

Alya Prameswari.

Creative Director, Ruang Pulang Studio.

Bu Ratih datang ke kantorku satu kali.

Ia tidak membawa sopir masuk.

Tidak membawa asisten.

Ia duduk di depanku dan berkata,

“Saya salah menilaimu.”

Aku tidak menjawab.

“Mungkin selama ini saya mengira karena kamu jarang melawan, kamu bisa menerima semuanya.”

Aku tersenyum.

“Saya bukan menerima, Bu.”

“Saya hanya pernah berharap keluarga ini suatu hari akan menganggap saya keluarga.”

Ia menunduk.

Sebelum pulang, ia meminta izin untuk tetap menjadi nenek bagi anakku.

Aku tidak langsung mengatakan ya.

Aku hanya berkata,

“Nanti kita lihat dari tindakan.”

Karena setelah semua yang kulewati, aku akhirnya mengerti:

Hubungan keluarga bukan hak otomatis.

Kepercayaan harus dibangun.


Enam bulan kemudian, aku melahirkan seorang bayi perempuan.

Namanya Kirana.

Raka datang ke rumah sakit satu jam setelah aku melahirkan.

Kali ini tanpa laptop.

Tanpa telepon bisnis.

Tanpa asisten.

Ia berdiri di dekat ranjang cukup lama sebelum bertanya,

“Boleh aku menggendongnya?”

Aku mengangguk.

Tangannya gemetar ketika menerima Kirana.

Aku tidak tahu apakah ia menangis.

Aku sengaja memalingkan wajah ke jendela.

Beberapa hubungan memang tidak perlu diselamatkan agar manusia di dalamnya bisa menjadi lebih baik.

Kami tidak kembali bersama.

Raka tetap ayah Kirana.

Ia datang sesuai jadwal.

Belajar mengganti popok.

Mengetahui susu mana yang cocok.

Mengingat tanggal vaksin.

Dan ketika pekerjaannya bentrok dengan waktu bersama anaknya, untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia mulai berkata kepada kantornya:

“Jadwalkan ulang. Saya ada urusan keluarga.”

Sedangkan aku?

Aku tidak lagi bangun setiap pagi menebak-nebak apakah seseorang mencintaiku.

Aku membangun studionya.

Membesarkan Kirana.

Membeli rumah kecil dengan halaman yang cukup untuk satu pohon mangga dan ayunan.

Tidak semewah rumah keluarga Wiratama.

Tetapi setiap sudutnya terasa seperti milikku.

Suatu sore, ketika Kirana tertidur di dadaku, aku menemukan foto USG yang pernah jatuh di depan kaki Raka.

Di belakangnya masih ada tulisan tanggal pemeriksaan pertama.

Hari ketika aku datang ke rumah sakit dengan pikiran bahwa hidupku sudah berakhir.

Ternyata aku salah.

Hari itu bukan akhir hidupku.

Itu hanya hari ketika akhirnya aku berhenti meminta seseorang memilihku—

dan mulai memilih diriku sendiri.