BAGIAN 3+4 – Kakakku Menarik Gerobak Bakso dengan Motorku Setiap Hari, Lalu Dia Menertawakanku Saat Aku Minta Isi Gas

Avatar penulis
Cerita 06
6 menit baca 421 tayangan
Kakakku Menarik Gerobak Bakso dengan Motorku Setiap Hari, Lalu Dia Menertawakanku Saat Aku Minta Isi Gas
Indeks

Kakakku Menarik Gerobak Bakso dengan Motorku Setiap Hari, Lalu Dia Menertawakanku Saat Aku Minta Isi Gas

BAGIAN 1 — Motor yang Dianggap Milik Bersama

“Tang aja dulu, Rak. Cuma sebentar.” Itu kalimat yang paling sering kudengar setiap subuh sejak kakakku, Deni, mulai jualan bakso keliling. Yang dia sebut cuma sebentar selalu berarti motorku hilang sampai siang, bensin habis, dan tabung gas tiga kilo di dapur ikut lenyap ke gerobaknya.

Awalnya aku diam. Deni punya istri dan dua anak, sedangkan aku masih lajang dan kerja sebagai teknisi pendingin. Kata ibu, adik memang seharusnya membantu kakak yang ekonominya lagi susah. Aku menuruti itu berbulan-bulan. Aku tetap isi bensin, servis motor, bahkan pernah membayar denda STNK telat karena Deni lupa bawa surat-surat.

Masalahnya mulai meledak ketika aku dapat panggilan servis mendadak di luar kota kecil dekat rumah kami. Jam enam pagi aku mau berangkat, tapi motorku belum balik. Aku menelepon Deni berkali-kali, tak diangkat. Baru jam tujuh dia muncul sambil tertawa bersama dua sepupuku.

“Motornya kupakai lebih jauh hari ini. Laris, Rak,” katanya enteng.

Aku menahan emosi. “Aku bilang semalam aku ada kerja pagi. Kenapa tabung gas di dapur juga dibawa? Ibu mau masak pakai apa?”

Deni malah menepuk pundakku di depan sepupu-sepupu kami. “Jangan kaku amat. Rezeki keluarga ini juga. Masa sama abang sendiri hitung-hitungan?”

Sepupuku ikut nyengir. Saat itu rasanya bukan cuma motorku yang dipinjam tanpa batas, tapi juga harga diriku. Aku berdiri di halaman dengan tas kerja di tangan, telat berangkat, dan ditertawakan seolah permintaanku untuk dihargai itu sesuatu yang lucu.

BAGIAN 2 — Gerobak Itu Berdiri karena Milik Orang Lain

Aku tetap berangkat naik ojek, tapi sepanjang jalan dadaku panas. Sorenya aku pulang lebih cepat dan langsung mengecek isi dompet di laci dapur. Uang dua ratus ribu yang kusisihkan untuk isi bensin dan bayar cicilan servis hilang. Ibu bilang mungkin terpakai belanja. Tapi ketika kulihat di dekat kompor, selang regulator cadangan untuk tabung gas juga sudah dipindah ke gerobak Deni.

Malamnya aku bicara baik-baik. “Mas, kalau memang mau pakai motor dan gas, ayo kita buat aturan. Minimal isi bensin dan bilang kalau mau pakai. Aku juga kerja pakai motor itu.”

Deni belum menjawab, tapi istrinya, Wulan, lebih dulu menyela. “Jualan bakso ini buat semua orang makan. Jangan mentang-mentang motornya atas nama kamu, jadi semaumu sendiri.”

Aku mengangkat kepala. “Betul, atas nama saya. Pajak saya yang bayar. Servis saya yang bayar. Kalau buat usaha, ya jangan pakai seenaknya.”

Deni berdiri dan membentak, suaranya keras sekali sampai ayah keluar kamar. “Kamu tuh dari dulu susah lihat abang maju! Baru motormu dipakai sedikit sudah besar kepala.”

Aku memandang gerobak bakso di depan rumah, tabung gas hijau terikat di samping, dan kunci motor yang masih ada di tangan Deni. Saat itulah aku memutuskan berhenti jadi sumber daya gratis.

“Mulai besok, motor itu tidak keluar dari rumah tanpa izinku. Tabung gas juga tidak dipakai untuk dagangan kalau belum diganti,” kataku.

Deni tertawa mengejek. “Memangnya kamu tega bikin anak-anakku nggak makan?”

Aku menatapnya lurus. “Jangan pakai anak-anak untuk menutupi kebiasaanmu memakai barang orang tanpa tanggung jawab.”

Malam itu juga aku mengambil kunci cadangan, menyimpan STNK di laci kamarku, dan memindahkan tabung gas ke rumah tetangga sebelah yang sudah kuberi tahu lebih dulu. Pagi harinya, Deni baru sadar gerobaknya tak bisa jalan.

 

BAGIAN 3 — Pagi ketika Gerobak Tak Bergerak

Subuh berikutnya, Deni mengetuk pintu kamarku keras-keras. “Kunci motornya mana?” suaranya terdengar campur panik dan marah. Aku keluar sambil membawa helm.

“Aku pakai buat kerja,” jawabku singkat.

“Tabung gas juga hilang!” teriaknya lagi.

Ibu yang baru bangun ikut keluar. Aku menjelaskan bahwa tabung gas kupindahkan karena ibu sendiri kemarin tak bisa masak akibat dibawa Deni tanpa bilang. Ayah duduk di kursi teras, diam, tapi wajahnya kaku. Untuk pertama kalinya, semua orang melihat usaha bakso itu berdiri bukan di atas kerja Deni semata, melainkan di atas motor, gas, dan ongkos orang lain.

Deni mencoba meminjam motor tetangga, tapi gagal. Dua pelanggan yang biasa menunggu di ujung gang berbalik pergi ketika tahu dia tak jadi keliling. Menjelang jam sembilan, dia pulang sambil menendang roda gerobak. “Puas sekarang?” katanya kepadaku.

Aku meletakkan buku kecil berisi catatan servis, bukti isi bensin, dan pajak motor di meja. “Aku tidak sedang menjatuhkanmu. Aku cuma berhenti membiarkanmu bergantung pada sesuatu yang kamu anggap pasti bisa kamu ambil kapan saja.”

Ayah akhirnya bicara. “Deni, kalau jualanmu memang usaha keluarga, kenapa yang bayar semuanya adikmu?” Pertanyaan itu lebih keras daripada bentakan mana pun.

BAGIAN 4 — Saat Harga Diri Tak Lagi Dipinjamkan

Siang itu suasana rumah sangat tegang. Wulan menyindirku dari dapur, ibu gelisah karena takut kami berkelahi lagi, dan Deni mondar-mandir seperti singa lapar. Tapi justru karena semua sedang panas, aku mengajukan solusi yang paling masuk akal.

“Mas, aku bisa bantu satu bulan ke depan,” kataku. “Bukan dengan meminjamkan motor gratis, tapi dengan membantu cari motor bekas kredit ringan atau pinjam modal kecil yang jelas. Tapi mulai hari ini, semua harus ada tanggung jawab. Isi bensin sendiri. Pajak kalau dipakai usaha, ikut urunan. Gas juga ganti.”

Deni menolak karena merasa dipermalukan. Namun dua hari tanpa jualan membuat nada bicaranya berubah. Ia akhirnya datang ke kamarku malam-malam, tak lagi membentak. “Kalau aku cicil uang servis yang dulu-dulu, motor itu boleh kupakai lagi setengah hari?” tanyanya.

Itu bukan kemenangan besar yang dramatis. Tapi bagiku, itu adalah perubahan paling penting: pertama kalinya kakakku meminta, bukan mengambil.

Sebulan kemudian, Deni berhasil menyewa motor khusus untuk gerobaknya. Uang hasil jualan memang tak sebanyak dulu karena harus keluar biaya sendiri, tapi ia tak lagi datang ke dapur mengambil tabung gas seenaknya. Ibu bisa memasak tanpa panik, aku bisa berangkat kerja tanpa takut telat, dan ayah beberapa kali sengaja memuji di depan keluarga besar bahwa rumah kami lebih tenang sejak semuanya jelas.

Aku belajar sesuatu yang pahit tapi perlu: kadang orang menyebutmu keluarga hanya saat mereka butuh akses ke barang, waktu, atau tenaga milikmu. Begitu akses itu ditutup, barulah mereka dipaksa melihat bahwa yang selama ini mereka nikmati memang punya harga.

END

Kini motor itu tetap kupakai untuk nafkahku sendiri, dan bila ada yang ingin meminjam, mereka tahu satu hal: bantuanku tidak lagi datang bersama hak untuk meremehkanku.