Mesin Cuci Itu Kubeli dari Gajiku—Tapi Saat Aku Melarang Adik Ipar Memakainya untuk Laundry, Mertuaku Menyebutku Perusak Rezeki

Avatar penulis
Cerita 06
7 menit baca 699 tayangan
Auto Draft
Indeks

Mesin Cuci Itu Kubeli dari Gajiku—Tapi Saat Aku Melarang Adik Ipar Memakainya untuk Laundry, Mertuaku Menyebutku Perusak Rezeki

 

BAGIAN 1 — Mesin yang Selalu Dipakai Orang Lain

Aku pulang kerja lebih cepat hari itu karena anak tetangga yang biasa menjemput seragam anakku mendadak sakit. Yang ada di kepalaku cuma satu: mencuci seragam putihnya sebelum malam. Tapi begitu masuk ke dapur belakang, mesin cuci yang kubeli dengan uang THR dua tahun lalu sudah berputar penuh. Di sampingnya ada tiga karung baju dengan kertas nama dijepit pakai peniti.

“Lina, aku mau cuci seragam Arga dulu. Bisa berhenti sebentar?” tanyaku pada adik iparku yang sedang duduk sambil main ponsel.

Dia melirik tanpa berdiri. “Sebentar lagi. Ini cucian orang. Kalau telat, aku yang dimarahin pelanggan.”

Aku terdiam. Pelanggan? Selama ini aku tahu Lina sering menitip cuci baju saudara, tapi baru kali itu aku melihat karung-karung dengan tag nama, botol pewangi, dan buku catatan setoran. Ternyata bukan titip biasa. Dia menjalankan laundry kiloan kecil-kecilan dari rumah, pakai mesin cuci, air, dan listrik yang selama ini kubayar bersama suamiku.

“Kalau buat usaha, kenapa nggak pernah ngomong?” suaraku mulai meninggi. “Tagihan listrik naik terus. Air juga. Detergen yang kubeli habis duluan. Minimal bilang.”

Lina berdiri. “Ya ampun, Mbak Nia. Mesin cuci doang kok dihitung-hitung. Kita ini keluarga, bukan kos-kosan.”

Kalimat itu seperti memukul tepat di dada. Aku belum sempat menjawab ketika mertuaku keluar dari ruang tengah. Beliau melihat karung cucian, lalu menatapku seolah aku yang membuat gaduh.

“Kamu ini kenapa sih, Nia? Lina lagi cari tambahan. Bukannya didukung malah dipersulit,” katanya.

Aku menahan emosi. “Saya nggak melarang cari tambahan, Bu. Tapi ini mesin saya. Listrik dan air juga saya yang paling banyak bayar. Saya cuma minta dipakai dengan aturan.”

Mertua mendengus. “Dari dulu barang yang masuk rumah ini ya buat keluarga. Jangan mentang-mentang beli sendiri jadi merasa paling berhak.”

Aku memandang putaran mesin cuci itu seperti memandang diriku sendiri: terus bekerja, terus dipakai, tanpa pernah ditanya apakah aku keberatan. Saat itulah aku sadar, yang dianggap kewajiban di rumah ini bukan cuma uangku, tapi juga barang-barang yang kubawa.

BAGIAN 2 — Bukan Bantuan, Tapi Bisnis

Malamnya aku sengaja memeriksa meteran listrik dan tagihan air di aplikasi. Dalam tiga bulan terakhir, pemakaian melonjak jauh. Aku juga menemukan nota servis lama yang kusimpan, berisi peringatan teknisi: mesin jangan dipakai berlebihan setiap hari karena dinamonya mulai lemah. Selama ini kupikir kenaikan itu karena rumah lebih ramai. Ternyata ada usaha yang berjalan diam-diam.

Saat makan malam, aku mencoba bicara baik-baik. “Lina, kalau memang mau lanjut laundry, ayo kita atur. Kamu iuran listrik, air, dan beli detergen sendiri. Mesin juga dipakai bergantian.”

Belum selesai aku bicara, Lina meletakkan sendok keras-keras. “Aku bantu rumah ini juga. Uangku buat beli beras. Masa hal beginian harus dibikin kayak perjanjian kantor?”

Suamiku, Bimo, menatapku seolah menyuruhku mengalah. Tapi yang membuatku benar-benar tersinggung adalah ketika mertuaku berkata di depan Bimo dan ayah mertua, “Sejak awal saya bilang, perempuan kalau terlalu pegang uang suka jadi pelit.”

Pelit. Padahal hampir setiap bulan aku yang menutup kekurangan listrik, beli gas, beli detergen, bahkan membayar servis kalau ada alat rusak. Lina tak pernah sekali pun datang membawa tagihan dan berkata, “Mbak, ini bagianku.”

Keesokan paginya teknisi yang kupanggil datang memeriksa mesin. Ia membuka bagian belakang, lalu berkata, “Bu, ini dipakai berat ya? Bearing-nya aus. Kalau terus dipaksa, bisa jebol.” Lina yang mendengar dari pintu tetap pasang muka tak bersalah.

Aku langsung mengambil keputusan. “Mas, setelah dicek, tolong bantu angkat mesin ini ke mobil pickup jam sore. Saya titipkan dulu di rumah kakak saya sampai selesai servis.”

Lina mendadak maju. “Mbak serius? Pesanan aku banyak!”

Aku menatapnya lurus. “Karena itu seharusnya dari awal kamu jujur. Aku nggak akan terus membiarkan barangku dipakai untuk bisnis yang bahkan aku baru tahu hari ini.”

Sore itu, saat mesin cuci diangkat keluar, beberapa karung cucian pelanggan masih menumpuk di teras. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa bersalah sama sekali.

 

BAGIAN 3 — Pagi tanpa Putaran Mesin

Jam tujuh pagi, teras rumah sudah ramai. Seorang ibu datang menanyakan seragam sekolah anaknya. Yang lain menunggu mukena dan sprei yang dijanjikan selesai sebelum siang. Lina kelabakan menjawab satu per satu bahwa mesin sedang diservis. Begitu pelanggan ketiga mulai kesal, mertuaku memanggilku dengan wajah merah.

“Kamu lihat sendiri kan, orang-orang datang! Sekarang bagaimana?” bentaknya.

Aku meletakkan nota servis dan tangkapan layar tagihan di meja makan. “Begini, Bu. Tagihan listrik naik hampir dua kali lipat. Air juga. Detergen setiap minggu habis. Dan mesin itu hampir rusak total. Kalau dari awal Lina bilang dia buka laundry, kita bisa atur biaya dan jam pakai. Yang saya tolak bukan rezekinya, tapi caranya memakai milik orang tanpa izin.”

Lina masih mencoba membalikkan keadaan. Katanya ia juga sering membantu masak dan belanja. Tapi salah satu pelanggan yang mendengar justru bertanya, “Jadi selama ini laundry-nya pakai mesin Mbak Nia?” Pertanyaan sederhana itu membuat Lina terdiam. Untuk pertama kalinya, kebohongan yang disembunyikan di balik kata keluarga terdengar jelas di telinga semua orang.

Bimo yang tadinya menyuruhku sabar akhirnya memeriksa sendiri aplikasi listrik di ponselnya. Dia menatap angka-angka itu lama sekali. “Kok bisa naik sebanyak ini?” gumamnya.

Aku tak meninggikan suara. “Karena ada usaha yang berjalan tiap hari. Aku tidak marah karena Lina cari uang. Aku marah karena semua orang merasa aku wajib menanggung biayanya tanpa diminta izin.”

Siang itu rumah jadi kacau. Seragam anak Lina sendiri belum dicuci. Dua pelanggan meminta uang kembali. Ayah mertua yang biasanya diam ikut bicara pelan, “Kalau memang ini usaha, ya harus dipisah. Jangan sembunyi-sembunyi pakai barang orang.

BAGIAN 4 — Harga dari Kata Pelit

Aku memberi pilihan yang menurutku sangat wajar: kalau Lina mau lanjut usaha, ia harus membeli mesin sendiri atau menyewa mesin selama milikku masih kuservis. Kalau nanti milikku kembali, ia bisa memakainya dengan iuran tetap untuk listrik, air, dan detergen, plus jadwal yang jelas.

Lina awalnya menolak mentah-mentah. Dia bilang aku mempermalukannya di depan pelanggan. Aku hampir tertawa mendengarnya, karena yang mempermalukan Lina bukan aku, melainkan fakta bahwa dia mengambil keuntungan dari barang orang lain sambil menuduhku pelit.

Menjelang malam, salah satu pelanggan mengunggah status WhatsApp yang isinya keluhan karena cuciannya tertunda. Dua pelanggan lain membatalkan langganan. Saat itulah mertuaku mulai berubah nada. Beliau datang ke kamarku dan berkata pelan, “Kalau mesin itu balik nanti, kita bicara lagi baik-baik.”

Aku mengangguk, tapi kali ini aku tidak memberi ruang abu-abu. “Boleh, Bu. Tapi saya mau semua jelas. Saya tetap bagian dari keluarga ini, bukan sumber daya yang bisa dipakai tanpa batas.”

Bimo meminta maaf malam itu. Bukan permintaan maaf besar dengan kalimat indah, hanya kalimat sederhana yang justru lebih berarti. “Aku salah karena dari awal membiarkan semuanya. Aku kira kamu akan selalu maklum.”

Seminggu kemudian, setelah mesin selesai servis, aku menaruhnya kembali di rumah dengan aturan tertulis di pintu dapur belakang: jam pakai, iuran, siapa yang beli detergen, dan siapa yang bertanggung jawab bila rusak. Lina memilih berhenti menerima laundry tetangga daripada membayar biaya. Anehnya, sejak itu tagihan rumah turun, pertengkaran berkurang, dan aku bisa mencuci seragam anakku tanpa menunggu belas kasihan siapa pun.

Rupanya kadang-kadang batas yang tegas bukan merusak rezeki keluarga. Batas itu justru menyelamatkan harga diri orang yang terlalu lama dianggap pasti mengalah.

END

Sejak hari itu, aku berhenti merasa bersalah karena melindungi milikku sendiri. Di rumah ini, aku masih membantu—tetapi bantuan tidak lagi dianggap hak otomatis orang lain.