SEBELUM MENIKAH, CALON IBU MERTUAKU MENYIRAM WAJAH IBUKU—TELEPON AYAH BEBERAPA JAM KEMUDIAN MENGHANCURKAN RAHASIA MEREKA
“Apakah kamu benar-benar berharap putraku menikah dengan keluarga yang membawa perempuan buta ke acara makan malam seperti ini?”
Ucapan Ratih Wijaya menghantam meja seperti tamparan keras.
Nadira Prameswari merasakan kedua tangannya mendadak dingin. Di sebelahnya, ibunya, Lestari, duduk diam di balik kacamata hitam dengan satu tangan bertumpu pada tongkat putih.
Di seberang meja, Ratih tersenyum angkuh di ruang makan privat sebuah restoran mewah di kawasan SCBD, Jakarta.

Makan malam itu seharusnya menjadi perayaan pertunangan Nadira dan Arga Wijaya.
Namun sejak kedua orang tua Nadira tiba, Ratih terus menilai mereka seolah sedang menghitung harga setiap benda yang mereka kenakan.
Pertama, ia mengkritik jas abu-abu sederhana milik Surya, ayah Nadira.
Kemudian, tanpa rasa sungkan, ia bertanya, “Pak Surya sebenarnya bekerja sebagai apa?”
“Saya mengelola beberapa pusat distribusi di Bekasi dan Tangerang,” jawab Surya tenang.
Ratih tertawa kecil.
“Oh, perdagangan grosir.”
Ia melirik suaminya, Hendra.
“Kita berada di kelas yang berbeda. Perusahaan konstruksi keluarga kami menangani proyek bernilai ratusan miliar rupiah setiap tahun.”
Hendra menunduk.
Arga juga tidak mengatakan apa-apa.
Nadira menunggu tunangannya menghentikan ibunya. Ia berharap Arga mengingat bahwa perempuan yang sedang dihina itu akan menjadi ibu mertuanya.
Namun Arga hanya berbisik, “Mama, sudahlah.”
Ratih tidak berhenti.
Ketika pelayan menjelaskan kepada Lestari bahwa mangkuk sup berada sedikit di sebelah kanan tangannya, Ratih memasang wajah jijik.
“Lihat? Semua harus diberi tahu. Setelah kalian menikah, apa putraku juga harus merawat ibumu?”
“Ibu saya sangat mandiri,” jawab Nadira tegas.
“Tapi dia tidak bisa melihat.”
Lestari menarik napas perlahan.
Tiga tahun sebelumnya, sebuah penyakit langka telah merusak saraf optiknya. Surya dan Nadira membawanya berobat ke Jakarta, Singapura, bahkan Jerman. Namun belum ada dokter yang berhasil memulihkan penglihatannya.
Meski demikian, Lestari tidak pernah meminta belas kasihan siapa pun.
“Tidak bisa melihat bukan berarti saya tidak tahu bagaimana seseorang memperlakukan orang lain,” katanya tenang. “Malam ini, saya belajar banyak tentang Anda.”
Wajah Ratih memerah.
“Anda sedang menghakimi saya?”
“Saya sedang mengenal Anda.”
Keheningan memenuhi ruangan.
Saat Lestari hendak meraih gelas air, tongkatnya terlepas dan jatuh di dekat kursi Ratih.
Nadira membungkuk untuk mengambilnya, tetapi Ratih mendorong tongkat itu dengan ujung sepatunya hingga masuk ke bawah lemari pajangan.
“Merepotkan sekali.”
Nadira bangkit dengan wajah tidak percaya.
“Bu Ratih!”
Arga langsung memegang lengannya.
“Nadira, tolong jangan memperbesar masalah.”
Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada semua hinaan Ratih.
Ratih mengambil segelas anggur putih.
“Kenyataannya, keluarga seperti kalian memang berada jauh di bawah kami.”
Hendra akhirnya berkata, “Ratih, cukup.”
Namun istrinya sudah mengangkat tangan.
Isi gelas itu disiramkan tepat ke wajah Lestari.
Kacamata hitamnya basah. Anggur mengalir di pipi dan lehernya, lalu meninggalkan noda pada kebaya berwarna gading yang ia pilih khusus untuk malam itu.
“Ibu!”
Nadira berdiri begitu cepat hingga kursinya terjatuh.
Surya ikut bangkit.
Lestari tidak berteriak ataupun menangis. Ia hanya mengulurkan tangan, mencari suaminya.
Surya menggenggam tangan itu, lalu membersihkan wajah istrinya dengan serbet. Setelah itu, ia menatap Ratih dengan ketenangan yang jauh lebih menakutkan daripada kemarahan.
“Saya tidak akan pernah melupakan perbuatan Anda.”
Ratih justru tertawa.
“Jangan berlebihan. Dia juga tidak bisa melihat nodanya.”
Sesuatu di dalam diri Nadira akhirnya patah.
Ia melepaskan cincin pertunangannya dan meletakkannya di atas meja.
“Hubungan kita selesai, Arga.”
“Nadira…”
“Aku tidak akan menikah denganmu.”
Ratih berteriak marah, tetapi Nadira tidak lagi mendengarnya.
Surya mengambil tongkat Lestari, kemudian menuntun istrinya keluar. Sebelum pergi, ia menatap Hendra.
“Malam ini, keluarga Anda telah menunjukkan siapa kalian sebenarnya.”
Di area parkir, Surya mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.
“David, besok pagi saya ingin laporan lengkap mengenai Wijaya Konstruksi. Periksa seluruh kontrak, utang, pelanggaran, dan keterlibatan mereka dengan Prameswari Group serta Yayasan Cahaya Asa.”
Tidak seorang pun di restoran mengetahui siapa pria dengan jas abu-abu sederhana itu sebenarnya.
Dan mereka tidak pernah membayangkan apa yang akan terjadi setelahnya.
Keesokan paginya, Hendra sedang memimpin rapat direksi ketika sekretarisnya masuk dengan wajah pucat.
“Pak, ada surat penghentian kerja sama dari Prameswari Logistics.”
Hendra mengangkat kepala.
“Apa maksudmu?”
“Mereka membatalkan fasilitas distribusi material untuk tiga proyek kita. Selain itu, bank meminta peninjauan ulang kredit karena jaminan pendapatan proyek tersebut tidak lagi berlaku.”
Ratih, yang ikut duduk di ruang rapat, langsung menyela.
“Prameswari Logistics? Apa hubungannya dengan keluarga perempuan itu?”
Sekretaris itu menelan ludah.
“Pak Surya Prameswari adalah pemilik Prameswari Group.”
Ruangan mendadak sunyi.
Perusahaan Surya bukan sekadar pengelola beberapa gudang. Prameswari Group mengendalikan jaringan distribusi bahan bangunan, alat berat, dan logistik industri di berbagai kota di Pulau Jawa.
Nilai perusahaannya jauh lebih besar daripada Wijaya Konstruksi.
Surya memang tidak suka memamerkan kekayaan. Ia lebih sering memakai mobil lama dan jas sederhana. Bahkan Nadira tumbuh tanpa mengetahui jumlah pasti kekayaan keluarganya karena Surya selalu mengajarinya bahwa harga diri tidak ditentukan oleh saldo rekening.
Wajah Ratih kehilangan warna.
“Tidak mungkin.”
Hendra memejamkan mata.
“Aku pernah mendengar namanya. Kupikir itu orang lain.”
Pintu ruang rapat kembali terbuka. Kali ini kepala bagian hukum masuk membawa dua map.
“Ada masalah lain, Pak. Yayasan Cahaya Asa menghentikan rekomendasi sosial untuk proyek rumah susun kita di Bekasi. Tanpa rekomendasi itu, pemerintah daerah akan meninjau ulang izin kemitraan.”
Ratih berdiri.
“Semua ini hanya karena segelas anggur?”
Hendra memukul meja.
“Bukan karena anggur! Ini karena kamu mempermalukan seorang perempuan penyandang disabilitas di depan saksi, lalu menganggap keluarganya tidak berharga!”
Ratih masih mencoba menyangkal.
“Kita bisa menemui mereka. Aku akan menjelaskan bahwa semua itu hanya kesalahpahaman.”
Namun masalah yang muncul ternyata jauh lebih besar.
Laporan yang diminta Surya memperlihatkan bahwa Wijaya Konstruksi terlilit utang hampir Rp180 miliar. Dua proyek apartemen mereka terlambat, satu proyek menggunakan material yang tidak sesuai kontrak, dan pembayaran kepada sejumlah pemasok sudah menunggak selama berbulan-bulan.
Yang paling mengejutkan, nama Nadira tercantum dalam sebuah rancangan perjanjian investasi sebesar Rp75 miliar.
Tanda tangannya belum ada.
Namun dokumen itu telah dipersiapkan tiga bulan sebelum pernikahan.
Surya meletakkan salinan dokumen tersebut di depan putrinya.
“Kamu pernah melihat ini?”
Nadira membaca halaman pertama. Dadanya terasa sesak.
“Tidak pernah.”
Menurut dokumen itu, setelah menikah, Nadira akan menginvestasikan dana pada proyek keluarga Wijaya. Sebagai suaminya, Arga akan diberi kuasa mengelola dana tersebut.
“Ayah mendapatkannya dari mana?”
“Direktur keuangan Wijaya Konstruksi mengirimkannya secara anonim. Dia takut dijadikan kambing hitam kalau perusahaan runtuh.”
Nadira memandang nama Arga di bagian bawah dokumen.
“Jadi mereka tidak hanya ingin aku menikah dengan Arga.”
“Mereka membutuhkan uangmu,” kata Surya. “Pernikahan itu bagian dari rencana menyelamatkan perusahaan.”
Saat itulah ponsel Nadira berdering.
Arga.
Ia membiarkannya berdering sampai berhenti.
Beberapa detik kemudian, sebuah pesan masuk.
Aku perlu menjelaskan semuanya. Aku menunggumu di kedai kopi tempat kita pertama kali bertemu. Datanglah sendiri.
Nadira hampir menghapus pesan itu. Namun Lestari, yang duduk di sampingnya, berkata, “Pergilah.”
“Ibu yakin?”
“Kamu tidak harus memaafkannya. Tapi dengarkan apa yang hendak dia katakan supaya kamu tidak menghabiskan hidup dengan bertanya-tanya.”
Nadira akhirnya datang dengan syarat pertemuan berlangsung di tempat ramai.
Arga sudah menunggu dengan wajah kusut. Tidak ada pakaian mahal atau jam tangan mewah seperti biasanya. Di depannya tergeletak sebuah map cokelat.
“Aku tahu soal rancangan investasi,” kata Nadira tanpa duduk.
Arga terdiam.
“Kamu mengetahuinya?”
“Jawab aku. Apakah kamu berniat menikahiku karena uang?”
“Awalnya tidak.”
Nadira tertawa getir.
“Jawaban yang luar biasa.”
“Aku mencintaimu. Tapi tiga bulan lalu, Ayah mengatakan perusahaan akan bangkrut jika tidak mendapat suntikan dana. Mama lalu mengetahui ayahmu memiliki Prameswari Group.”
“Lalu kalian menyusun dokumen tanpa sepengetahuanku.”
“Aku tidak menandatanganinya.”
“Tapi kamu juga tidak menghentikannya.”
Arga menunduk.
Nadira teringat bagaimana pria itu memegang lengannya di restoran dan memintanya tenang saat ibunya dipermalukan.
“Kenapa kamu diam ketika ibumu menyiram wajah ibuku?”
Arga mengepalkan tangan.
“Aku terbiasa diam agar Mama berhenti marah.”
“Tidak. Kamu diam karena selama ini orang lain selalu menanggung akibatnya.”
Arga mendorong map cokelat ke arahnya.
“Ini bukti yang kamu perlukan. Ada salinan laporan proyek, transfer ilegal, dan rekaman rapat. Mama memindahkan uang perusahaan ke rekening pribadi. Ayah tahu sebagian, tapi tidak semuanya.”
“Kenapa kamu memberikannya kepadaku?”
“Karena aku baru sadar mereka juga berniat menjadikanku kambing hitam. Tanda tanganku dipalsukan dalam dua transaksi.”
Nadira tidak menyentuh map itu.
“Serahkan kepada pengacaramu atau pihak berwenang. Jangan kepadaku.”
“Aku pikir ayahmu bisa menyelamatkan perusahaan.”
“Ayahku tidak akan menutup kejahatan kalian hanya demi menyelamatkan sebuah perusahaan.”
Wajah Arga runtuh.
“Lalu bagaimana dengan kita?”
“Tidak pernah ada ‘kita’ yang jujur setelah kamu membiarkan keluargamu merencanakan semua itu.”
Nadira berbalik dan meninggalkannya.
Tiga hari kemudian, rekaman penghinaan di restoran menyebar di media sosial. Seorang pelayan rupanya merekam bagian akhir kejadian karena khawatir situasi berubah semakin buruk.
Dalam waktu singkat, masyarakat mengetahui bahwa perempuan yang disiram anggur itu adalah Lestari Prameswari, pendiri Yayasan Cahaya Asa, lembaga yang selama bertahun-tahun membangun pusat pelatihan kerja bagi penyandang disabilitas.
Beberapa mitra Wijaya Konstruksi menghentikan kerja sama. Bank membekukan pencairan kredit baru. Dua pemasok mengajukan gugatan atas tagihan yang belum dibayar.
Namun Surya tidak pernah memerintahkan siapa pun menghancurkan keluarga Wijaya.
Ia hanya menghentikan fasilitas yang selama ini diberikan karena hubungan pribadi.
Sisanya adalah akibat dari kebohongan mereka sendiri.
Seminggu kemudian, Ratih datang ke rumah Nadira.
Ia tidak lagi mengenakan pakaian mahal. Rambutnya berantakan dan suaranya bergetar.
“Aku ingin bicara dengan ibumu.”
Lestari menerima Ratih di ruang tamu.
Ratih berdiri di hadapannya selama beberapa saat, seolah menunggu Lestari mempersilakannya duduk.
Lestari tidak melakukannya.
“Saya datang untuk meminta maaf,” kata Ratih. “Perusahaan kami berada di ambang kehancuran. Kalau Pak Surya bersedia mengaktifkan kembali kontrak—”
“Jadi Anda tidak datang untuk meminta maaf,” potong Lestari. “Anda datang untuk bernegosiasi.”
Ratih terdiam.
“Saya kehilangan kendali malam itu.”
“Tidak,” jawab Lestari. “Anda justru menunjukkan kendali penuh. Anda memilih kata-kata Anda, mendorong tongkat saya, mengangkat gelas, lalu menyiramkannya. Semua dilakukan dengan sengaja.”
“Saya siap meminta maaf di depan umum.”
“Jika itu bisa membantu Anda mendapatkan kembali kontrak?”
Ratih menunduk.
Lestari meraba meja di sampingnya dan mengambil sebuah amplop.
“Di dalam amplop ini ada surat dari Yayasan Cahaya Asa. Kami menawarkan Anda kesempatan mengikuti program kerja sosial selama enam bulan di pusat pelatihan penyandang disabilitas.”
Ratih mengangkat kepala.
“Anda ingin mempermalukan saya?”
“Tidak. Saya ingin Anda belajar melihat manusia tanpa bertanya berapa nilai kekayaannya.”
“Kalau saya melakukannya, apakah kontrak kami dikembalikan?”
“Tidak.”
Ratih menatapnya tidak percaya.
“Lalu apa untungnya bagi saya?”
Lestari tersenyum tipis.
“Itulah pertanyaan yang menunjukkan mengapa Anda membutuhkannya.”
Ratih meremas amplop itu dan pergi tanpa berpamitan.
Dua bulan kemudian, Wijaya Konstruksi resmi mengajukan restrukturisasi utang. Hendra mengundurkan diri setelah penyelidikan menemukan kelalaian dalam laporan keuangan.
Ratih diperiksa terkait pemindahan dana perusahaan.
Arga bekerja sama dengan penyidik dan menyerahkan semua bukti yang dimilikinya. Ia tidak dipenjara, tetapi kehilangan jabatan dan sebagian besar harta keluarganya.
Nadira mengira cerita itu telah selesai.
Ternyata belum.
Suatu pagi, dokter Lestari menelepon dari Singapura. Ada terapi eksperimental baru untuk kerusakan saraf optik tertentu. Peluang keberhasilannya kecil, tetapi hasil pemeriksaan menunjukkan Lestari memenuhi kriteria.
Setelah menjalani prosedur dan pemulihan selama berbulan-bulan, Lestari mulai dapat membedakan cahaya.
Kemudian bayangan.
Lalu bentuk wajah.
Hari ketika perban terakhir dilepas, Nadira berdiri di hadapan ibunya sambil menahan napas.
Lestari berkedip berkali-kali. Air mata mengalir di pipinya.
“Nadira?”
“Iya, Bu.”
Lestari mengangkat tangan dan menyentuh wajah putrinya.
“Kamu jauh lebih cantik daripada yang kuingat.”
Nadira tertawa sambil menangis dan memeluknya.
Surya berdiri di belakang mereka dengan mata merah. Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, Lestari dapat melihat suaminya lagi.
Namun kejutan terbesar datang saat mereka kembali ke Jakarta.
Di pusat pelatihan Yayasan Cahaya Asa, seorang perempuan sedang membantu peserta tunanetra mempelajari sistem pembaca layar komputer.
Perempuan itu mengenakan kemeja sederhana. Tidak ada perhiasan mahal di tangannya.
Ratih Wijaya.
Ia ternyata kembali ke yayasan dua minggu setelah meninggalkan rumah Lestari. Awalnya hanya untuk memperbaiki citranya. Namun setelah mendampingi seorang peserta bernama Maya, yang kehilangan penglihatan akibat kecelakaan tetapi tetap berjuang menjadi penerjemah, sesuatu dalam dirinya berubah.
Ratih melihat Lestari berdiri di pintu dan membeku.
“Anda… bisa melihat?”
“Sedikit,” jawab Lestari. “Cukup untuk mengenali wajah seseorang yang sedang berusaha berubah.”
Ratih menunduk. Air matanya jatuh.
“Saya tidak meminta kontrak apa pun. Saya hanya ingin mengatakan bahwa saya benar-benar menyesal.”
Lestari mengangguk.
“Saya memaafkan Anda.”
Ratih mengangkat wajahnya, terkejut.
“Tapi memaafkan bukan berarti menghapus akibat perbuatan Anda,” lanjut Lestari. “Anda tetap harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi.”
“Saya mengerti.”
Di luar gedung, Nadira melihat Arga berdiri di dekat gerbang. Ia tampak lebih kurus, tetapi jauh lebih tenang.
“Aku tidak datang untuk memintamu kembali,” katanya. “Aku hanya ingin mengembalikan ini.”
Ia menyerahkan sebuah kotak kecil berisi cincin pertunangan yang dulu ditinggalkan Nadira di restoran.
“Aku tidak menginginkannya.”
“Aku tahu. Tapi cincin ini dibeli dengan uangmu.”
Nadira mengernyit.
Arga menunjukkan bukti transfer. Enam bulan sebelum pertunangan, Ratih ternyata menggunakan dana dari rekening investasi bersama yang pernah dibuat Nadira dan Arga untuk membeli cincin tersebut.
Itulah bukti terakhir bahwa rencana keluarga Wijaya sudah dimulai jauh lebih awal daripada yang mereka kira.
Nadira menerima kotak itu, bukan sebagai kenangan, melainkan sebagai barang miliknya yang telah diambil tanpa izin.
Ia menjual cincin tersebut seharga Rp420 juta.
Seluruh uangnya digunakan untuk membangun ruang teknologi baru di Yayasan Cahaya Asa. Di dekat pintu masuk, Nadira memasang sebuah papan kecil bertuliskan:
Harga diri tidak ditentukan oleh apa yang terlihat oleh mata, melainkan oleh apa yang dipilih oleh hati.
Setahun kemudian, Nadira menikah.
Bukan dengan Arga.
Ia menikah dengan David Mahendra, penasihat hukum ayahnya yang selama bertahun-tahun mengenal keluarganya tanpa pernah memperlakukan mereka berdasarkan kekayaan.
Pernikahan itu berlangsung sederhana di taman pusat pelatihan Yayasan Cahaya Asa.
Lestari berjalan mendampingi putrinya. Penglihatannya belum pulih sepenuhnya, tetapi ia dapat melihat cahaya pagi, warna bunga, dan senyum di wajah Nadira.
Di antara para tamu, Ratih duduk di barisan belakang bersama para peserta yayasan yang kini menjadi sahabat-sahabatnya.
Setelah acara selesai, Lestari menghampirinya.
“Dulu Anda berkata keluarga kami berada di bawah keluarga Anda,” kata Lestari.
Ratih menahan napas.
Lestari lalu tersenyum.
“Ternyata tidak ada keluarga yang berada di atas atau di bawah. Hanya ada orang yang bersedia belajar dan orang yang menolak berubah.”
Ratih mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
Dari kejauhan, Nadira memperhatikan kedua perempuan itu.
Malam ketika anggur disiramkan ke wajah ibunya, Nadira mengira ia telah kehilangan masa depan yang seharusnya menjadi miliknya.
Namun sebenarnya, malam itulah ia diselamatkan dari pernikahan yang dibangun di atas kebohongan.
Ayahnya memang melakukan panggilan yang tidak pernah diduga keluarga Wijaya.
Namun bukan kekayaan Surya yang akhirnya menghancurkan mereka.
Yang meruntuhkan keluarga itu adalah kesombongan, utang, dan kebohongan mereka sendiri.
Dan hal paling tidak terduga bukanlah kebangkrutan Wijaya Konstruksi ataupun pulihnya sebagian penglihatan Lestari.
Melainkan kenyataan bahwa perempuan yang pernah berkata seorang tunanetra tidak pantas berada di meja makannya, akhirnya menghabiskan hari-harinya membantu orang-orang tunanetra menemukan tempat mereka di dunia.
Sementara Nadira memperoleh sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sebuah pernikahan mewah:
Kesempatan untuk melihat kebenaran sebelum semuanya terlambat.
Bagian 2
Keesokan paginya, Hendra Wijaya sedang memimpin rapat direksi ketika sekretarisnya masuk tanpa mengetuk pintu.
Wajah perempuan itu pucat. Tangannya mencengkeram sebuah map biru.
“Pak, kita menerima pemberitahuan penghentian kerja sama dari Prameswari Logistics.”
Hendra berhenti berbicara.
“Apa maksudmu dihentikan?”
“Seluruh fasilitas pengiriman bahan bangunan untuk tiga proyek kita di Bekasi, Depok, dan Tangerang ditangguhkan. Mulai hari ini.”
Ratih, yang duduk di sebelah suaminya, langsung berdiri.
“Prameswari? Apa hubungannya perusahaan itu dengan keluarga Nadira?”
Sekretaris tersebut memandang Hendra, seolah berharap atasannya sendiri yang menjawab.
Namun Hendra tampak sama bingungnya.
“Siapa sebenarnya Surya Prameswari?” tanyanya.
“Pendiri dan pemegang saham utama Prameswari Group, Pak.”
Keheningan memenuhi ruangan.
Prameswari Group bukan hanya memiliki beberapa pusat distribusi seperti yang dikatakan Surya saat makan malam. Perusahaan itu mengelola jaringan logistik, pergudangan, dan pasokan alat berat di berbagai wilayah Indonesia.
Nilai asetnya beberapa kali lebih besar daripada Wijaya Konstruksi.
Ratih perlahan duduk kembali.
“Tidak mungkin. Pria itu memakai jas murah.”
Sekretaris tersebut tidak menjawab.
Pintu kembali terbuka. Kali ini direktur keuangan masuk membawa laptop.
“Pak Hendra, bank juga meminta evaluasi ulang fasilitas kredit kita. Pendapatan dari proyek Bekasi sebelumnya dijadikan dasar pembayaran pinjaman. Setelah jalur pasokan dihentikan, bank menganggap proyek itu berisiko gagal.”
“Berapa lama kita bisa bertahan?” tanya Hendra.
Direktur keuangan menarik napas.
“Kalau semua pemasok meminta pembayaran tunai, mungkin tiga minggu.”
Ratih memukul meja.
“Mereka tidak bisa menghancurkan kita hanya karena sebuah kejadian kecil di restoran!”
Hendra menoleh tajam.
“Kamu menyiram wajah seorang perempuan tunanetra dan menghinanya di depan keluarganya. Itu bukan kejadian kecil.”
“Aku akan meminta maaf.”
“Kamu tidak menyesal.”
“Aku bisa berpura-pura.”
Untuk pertama kalinya selama tiga puluh tahun pernikahan mereka, Hendra memandang istrinya seperti sedang melihat orang asing.
Namun masalah terbesar belum datang.
Direktur keuangan membuka sebuah dokumen di layar laptop.
“Ada satu hal lagi. Pak Surya meminta audit atas semua transaksi yang melibatkan perusahaan kita selama lima tahun terakhir.”
“Apa dia berhak melakukannya?” tanya Ratih.
“Untuk transaksi melalui perusahaan miliknya, ya.”
Direktur itu menggeser layar ke arah Hendra.
Sebuah daftar transfer muncul.
Sejumlah uang dalam nilai berbeda telah dikirim setiap bulan ke sebuah perusahaan konsultan bernama Bintang Utama Advisory. Totalnya hampir Rp32 miliar.
Nama Ratih tercatat sebagai penerima manfaat terakhir.
Wajah Hendra langsung berubah.
“Kamu bilang uang ini digunakan untuk biaya perizinan.”
Ratih tidak menjawab.
“Kamu bilang semua transfer sudah disetujui auditor!”
“Aku bisa menjelaskannya.”
“Jelaskan sekarang.”
Ratih menatap semua orang di ruang rapat, lalu meraih tasnya.
“Bukan di sini.”
Ia keluar tanpa menoleh lagi.
Pada saat yang sama, Nadira duduk di ruang kerja ayahnya di rumah mereka di Pondok Indah. Gaun yang terkena anggur milik ibunya tergantung di dekat jendela setelah dicuci, tetapi noda samar masih terlihat di bagian kerah.
Surya meletakkan sebuah map cokelat di atas meja.
“Ayah ingin kamu membacanya sendiri.”
Nadira membuka map itu.
Di halaman pertama tertulis:
RANCANGAN PERJANJIAN INVESTASI DAN KUASA PENGELOLAAN ASET
Namanya tercantum sebagai pihak yang akan menyetor modal sebesar Rp75 miliar setelah menikah dengan Arga.
Di halaman berikutnya, ada rancangan surat kuasa yang memberi Arga hak untuk mengelola dana tersebut atas nama mereka berdua.
“Aku tidak pernah melihat dokumen ini.”
“Karena mereka belum sempat meminta tanda tanganmu.”
“Mereka ingin menunggu sampai setelah pernikahan?”
Surya mengangguk.
“Berdasarkan surel yang kami temukan, Arga akan mengatakan bahwa dokumen itu diperlukan untuk menggabungkan aset kalian sebagai suami istri.”
Nadira merasa mual.
Pernikahan mereka tinggal dua minggu lagi.
Undangan sudah disebarkan. Gedung telah dibayar. Kebaya pengantin selesai dijahit. Nadira bahkan sudah memilih lagu yang akan dimainkan ketika ia berjalan menuju Arga.
Kini semua kenangan itu terasa seperti properti dalam sebuah pertunjukan.
“Apakah Arga tahu?”
“Itu yang belum bisa Ayah pastikan.”
Ponsel Nadira berdering.
Arga menelepon untuk kesebelas kalinya sejak malam sebelumnya.
Lestari, yang duduk di sofa, berkata pelan, “Jawablah.”
“Untuk apa, Bu?”
“Supaya kamu mendengar kebenaran dari mulutnya sendiri.”
Nadira menerima panggilan itu dan menyalakan pengeras suara.
“Apa?”
Suara Arga terdengar serak.
“Aku harus bertemu denganmu. Ada sesuatu yang perlu kuserahkan.”
“Kirim melalui pengacara.”
“Ini tentang dokumen investasi dan perusahaan keluargaku.”
Nadira menatap ayahnya.
Surya mengangguk kecil.
Mereka sepakat bertemu di kedai kopi di kawasan Kuningan. Nadira tidak datang sendiri. David Mahendra, kepala tim hukum Prameswari Group, duduk dua meja di belakangnya.
Arga sudah menunggu dengan sebuah USB hitam dan map tebal.
“Aku tidak datang untuk meminta cincin itu kembali,” katanya.
“Bagus, karena cincin itu sudah bukan urusanmu.”
Arga mendorong USB tersebut ke arah Nadira.
“Di dalamnya ada rekaman rapat, laporan rekening, dan percakapan WhatsApp Mama dengan beberapa orang di perusahaan.”
“Bagaimana kamu mendapatkannya?”
“Direktur keuangan memberikannya kepadaku semalam. Dia takut semua kesalahan akan dibebankan kepadanya.”
Nadira tidak menyentuh USB itu.
“Kamu tahu tentang rencana menggunakan uangku?”
Arga terdiam cukup lama hingga Nadira tidak membutuhkan jawaban lain.
“Sejak kapan?”
“Tiga bulan lalu.”
“Dan kamu masih melamarku?”
“Aku sudah melamarmu sebelum mengetahui keadaan perusahaan.”
“Tapi setelah mengetahuinya, kamu tetap diam.”
“Ayahku bilang itu hanya investasi sementara. Setelah proyek selesai, uangnya akan dikembalikan.”
“Kenapa tidak pernah membicarakannya denganku?”
Arga mengusap wajahnya.
“Karena Mama bilang kamu akan menolak kalau tahu perusahaan sedang bermasalah.”
“Jadi kalian menunggu sampai aku menjadi istrimu agar aku lebih sulit mengatakan tidak.”
“Aku berniat menjelaskannya setelah pernikahan.”
Nadira tertawa kecil, tetapi tidak ada kegembiraan di dalamnya.
“Kamu bahkan tidak mampu membela ibuku saat ia dihina. Bagaimana mungkin aku percaya kamu akan membelaku setelah uangku masuk ke perusahaan keluargamu?”
“Aku panik malam itu.”
“Kamu tidak panik, Arga. Kamu memilih.”
“Aku terbiasa menenangkan Mama.”
“Tidak. Kamu terbiasa membiarkan orang lain menjadi korban supaya hidupmu tetap nyaman.”
Arga menunduk.
Setelah beberapa saat, ia berkata, “Ada sesuatu yang lebih buruk.”
Ia membuka map dan mengeluarkan salinan laporan bank.
Ratih tidak hanya menyiapkan investasi Rp75 miliar. Ia juga mencoba menjadikan saham Nadira di salah satu anak perusahaan Prameswari Group sebagai jaminan pinjaman.
Tanda tangan Nadira di formulir awal telah dipalsukan.
“Aku baru melihat dokumen ini tiga hari lalu,” ujar Arga. “Aku bertengkar dengan Mama. Dia berkata semuanya akan menjadi sah setelah kita menikah.”
Nadira membaca tanda tangan palsu itu. Bentuknya hampir sempurna.
Hanya satu bagian yang keliru—huruf terakhir selalu ditulis Nadira dengan garis pendek, bukan panjang.
“Siapa yang membuatnya?”
Arga mengeluarkan ponselnya.
“Ada rekaman suara Mama.”
Ia memutar sebuah percakapan.
Suara Ratih terdengar jelas.
Setelah mereka menikah, Nadira akan menjadi bagian dari keluarga kita. Apa miliknya juga akan menjadi milik Arga. Jangan bertingkah seolah kita mencuri dari orang asing.
Lalu terdengar suara Hendra:
Kalau dia menolak?
Dia tidak akan menolak. Arga akan membuatnya merasa bersalah. Perempuan seperti Nadira selalu ingin membuktikan bahwa mereka istri yang baik.
Nadira mematikan rekaman.
“Apakah ayahmu terlibat?”
“Dia tahu soal investasi, tapi aku tidak yakin dia tahu tentang tanda tangan palsu.”
“Dan kamu?”
“Aku tahu mereka menyiapkan surat kuasa. Aku tidak tahu tanda tanganmu sudah dipalsukan.”
Nadira menatap pria yang dua minggu sebelumnya masih ia bayangkan akan menjadi ayah dari anak-anaknya.
“Aku tidak tahu bagian mana yang lebih menyakitkan,” katanya. “Kebohonganmu atau kenyataan bahwa kamu masih mencoba membedakan kejahatan yang kamu ketahui dan kejahatan yang tidak kamu ketahui.”
Mata Arga memerah.
“Aku mencintaimu.”
“Cinta tanpa keberanian hanyalah kalimat yang digunakan orang lemah untuk mempertahankan sesuatu yang tidak pantas mereka miliki.”
Nadira bangkit.
“Kuserahkan USB ini kepada pengacara.”
“Apa yang akan terjadi kepada keluargaku?”
“Untuk pertama kalinya, itu bukan tanggung jawabku.”
Ketika Nadira hendak pergi, Arga berkata, “Ada satu hal yang harus kamu ketahui tentang ibumu.”
Nadira berhenti.
“Apa maksudmu?”
“Mama pernah bertemu Ibu Lestari sebelum malam di restoran.”
Nadira berbalik.
Arga menunjukkan tangkapan layar sebuah pesan. Ratih pernah menghubungi Lestari satu bulan sebelumnya dan mengajaknya bertemu diam-diam.
Dalam pesan itu, Ratih meminta Lestari membujuk Nadira menandatangani perjanjian investasi setelah menikah. Sebagai imbalannya, Ratih berjanji akan membiayai pengobatan mata Lestari di luar negeri.
Nadira hampir tidak mampu bernapas.
“Ibuku tidak pernah menceritakan ini.”
“Karena dia menolak. Mama marah besar. Sejak saat itu, dia menganggap ibumu sebagai penghalang.”
Kini Nadira memahami sesuatu yang sebelumnya tidak masuk akal.
Penghinaan Ratih di restoran bukan ledakan emosi spontan.
Ratih sengaja menyerang Lestari karena perempuan itu menolak menjual masa depan putrinya.
Nadira pulang dan langsung menemui ibunya.
“Kenapa Ibu tidak pernah menceritakan pertemuan dengan Ratih?”
Lestari terdiam.
Surya yang berdiri di dekat jendela ikut menoleh.
“Ibu bertemu dia?” tanyanya.
Lestari merapatkan kedua tangannya di pangkuan.
“Dia datang ke yayasan satu bulan lalu.”
“Apa yang dia katakan?”
“Dia menawarkan biaya pengobatan jika Ibu membujukmu menginvestasikan uang di perusahaan mereka.”
“Dan Ibu menolak.”
“Tentu saja.”
“Kenapa Ibu menyembunyikannya dariku?”
Lestari tersenyum sedih.
“Karena kamu terlihat bahagia. Ibu ingin memberi Arga kesempatan untuk membuktikan bahwa dia berbeda dari ibunya.”
“Tapi dia tidak berbeda.”
“Ibu tahu itu malam kemarin.”
Nadira berlutut di depan ibunya.
“Andai Ibu memberitahuku lebih awal, semua ini tidak akan terjadi.”
Lestari menyentuh rambut putrinya.
“Mungkin. Tapi kalau Ibu melarangmu menikah tanpa bukti, kamu mungkin mengira Ibu tidak menyukai keluarga Arga. Kamu harus melihat pilihannya dengan matamu sendiri.”
Kata “melihat” membuat Nadira menangis.
Perempuan yang kehilangan penglihatannya justru menjadi satu-satunya orang yang mampu melihat niat keluarga Wijaya dengan jelas.
Penyelidikan berlangsung cepat setelah USB Arga diserahkan kepada pihak berwenang.
Bukti menunjukkan Ratih memindahkan puluhan miliar rupiah dari Wijaya Konstruksi melalui perusahaan konsultan fiktif. Sebagian dana digunakan untuk membeli apartemen di Singapura atas nama orang lain.
Namun kejutan berikutnya menghancurkan Hendra.
Pemilik apartemen itu bukan Ratih.
Melainkan Arga.
“Aku tidak pernah membeli apartemen apa pun,” kata Arga saat dipanggil penyidik.
Dokumen menunjukkan tanda tangannya juga dipalsukan. Ratih rupanya menempatkan aset tersebut atas nama putranya agar jika penyalahgunaan dana terbongkar, Arga yang menanggung akibat hukumnya.
Selama bertahun-tahun, Arga mengira ibunya mengendalikan hidupnya karena terlalu mencintainya.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa bagi Ratih, ia pun hanya alat.
Hendra mengajukan gugatan cerai. Ia juga menyerahkan dokumen tambahan dan mengundurkan diri dari perusahaan.
Wijaya Konstruksi tidak langsung bangkrut. Di bawah pengawasan pengadilan dan pengelola baru, perusahaan melakukan restrukturisasi. Beberapa aset pribadi Ratih dijual untuk membayar tunggakan gaji pegawai dan utang kepada pemasok kecil.
Surya menolak membeli perusahaan itu meski ditawarkan dengan harga murah.
“Aku tidak ingin membangun keuntungan dari reruntuhan keluarga orang lain,” katanya kepada Nadira. “Yang bersalah harus bertanggung jawab, tetapi para pegawai tidak seharusnya kehilangan nafkah karena keserakahan pemiliknya.”
Ia justru membantu membentuk dana darurat bersama beberapa kreditur agar para pekerja tetap menerima gaji selama restrukturisasi.
Enam bulan kemudian, Ratih dijatuhi hukuman atas pemalsuan dokumen dan penyalahgunaan dana perusahaan.
Sebelum sidang terakhir, ia meminta bertemu Lestari.
Pertemuan itu berlangsung di sebuah ruangan kecil dengan pengawasan petugas. Nadira duduk di samping ibunya.
Ratih terlihat jauh berbeda. Rambutnya mulai beruban dan tidak ada lagi perhiasan di lehernya.
“Saya tidak meminta Anda mencabut laporan,” katanya.
“Lalu mengapa ingin bertemu saya?” tanya Lestari.
Ratih menatap tongkat putih di tangan Lestari.
“Karena saya ingin mengetahui mengapa Anda menolak tawaran saya. Biaya pengobatan itu sangat besar. Anda mungkin bisa melihat lagi.”
Lestari terdiam sejenak.
“Karena penglihatan saya bukan alasan untuk menjual masa depan anak saya.”
“Anda tidak pernah tergoda?”
“Tentu saja tergoda. Saya ingin melihat wajah putri saya saat menikah. Saya ingin melihat rambut suami saya yang katanya sudah semakin putih. Setiap pagi, saya ingin membuka mata dan tidak hanya menemukan kegelapan.”
Suara Lestari mulai bergetar.
“Tetapi jika harga agar saya bisa melihat adalah membuat anak saya hidup bersama orang yang memanfaatkannya, lebih baik saya tetap berada dalam gelap.”
Nadira menggenggam tangan ibunya sambil menangis.
Ratih menunduk. Untuk pertama kalinya, kesombongan di wajahnya lenyap sepenuhnya.
“Saya tidak pernah mencintai Arga seperti Anda mencintai Nadira,” bisiknya. “Saya hanya mencintai gambaran tentang putra yang bisa saya kendalikan.”
Lestari tidak menjawab.
Beberapa penyesalan memang layak didengar, tetapi tidak semua luka harus segera disembuhkan demi membuat pelakunya merasa lega.
Setelah pertemuan itu, kehidupan berjalan perlahan.
Nadira membatalkan pesta pernikahan dan meminta pihak gedung menyumbangkan makanan yang sudah dipesan kepada beberapa rumah singgah. Ia menjual cincin pertunangannya dan menggunakan uangnya untuk membeli perangkat pembaca layar bagi pusat pelatihan Yayasan Cahaya Asa.
Arga meninggalkan perusahaan keluarganya.
Ia memulai kembali hidupnya sebagai staf proyek di sebuah perusahaan kecil di Surabaya. Beberapa kali ia menulis surat kepada Nadira, tetapi tidak pernah meminta kesempatan kedua.
Dalam surat terakhirnya, ia menulis:
Aku pernah mengira diam berarti menjaga kedamaian. Sekarang aku tahu, diam di hadapan ketidakadilan berarti memilih pihak yang melakukan ketidakadilan. Aku kehilanganmu bukan karena ibuku. Aku kehilanganmu karena pilihanku sendiri.
Nadira menyimpan surat itu, bukan karena masih berharap, melainkan karena untuk pertama kalinya Arga tidak menyalahkan siapa pun selain dirinya sendiri.
Setahun berlalu.
Suatu pagi, Nadira menerima telepon dari rumah sakit di Singapura. Seorang dokter menjelaskan bahwa ada prosedur baru yang mungkin membantu kondisi saraf optik Lestari.
Surya segera menyiapkan semuanya, tetapi Lestari ragu.
“Aku tidak ingin kalian berharap terlalu tinggi.”
Nadira memeluknya.
“Kita tidak pergi untuk mengejar keajaiban, Bu. Kita pergi karena ada kesempatan.”
Operasi berlangsung berjam-jam.
Setelah beberapa minggu, Lestari mulai mampu membedakan terang dan gelap. Kemudian ia melihat bayangan. Beberapa bulan setelahnya, ia dapat mengenali bentuk manusia dari jarak dekat.
Penglihatannya tidak pulih sepenuhnya.
Namun pada suatu sore di taman rumah mereka, Lestari meminta Nadira berdiri di bawah sinar matahari.
“Jangan bergerak,” katanya.
Nadira berdiri sambil menahan napas.
Lestari menatapnya lama. Matanya berair.
“Aku bisa melihat garis wajahmu.”
Nadira menutup mulutnya agar tidak terisak.
“Benarkah?”
“Tidak jelas. Tetapi cukup.”
Lestari mengangkat tangan dan menyentuh pipi putrinya.
“Selama tiga tahun aku takut tidak akan pernah melihatmu memakai gaun pengantin.”
Nadira tersenyum pahit.
“Mungkin aku memang tidak akan menikah.”
“Kegagalan memilih satu orang bukan berarti kamu gagal menemukan cinta.”
Dua tahun setelah malam di restoran, Nadira menikah.
Bukan dengan Arga.
Ia menikah dengan David Mahendra, pengacara yang mendampinginya ketika bukti pertama diserahkan. Hubungan mereka tidak dimulai dari perasaan dramatis. David hanya terus hadir—mengantar dokumen tanpa alasan tersembunyi, mendengarkan tanpa memaksakan nasihat, dan menghormati kedua orang tua Nadira tanpa mengetahui berapa nilai kekayaan mereka.
Pernikahan berlangsung sederhana di taman Yayasan Cahaya Asa.
Tidak ada ballroom mewah. Tidak ada ratusan tamu yang hanya datang untuk melihat kemegahan. Yang hadir adalah keluarga, sahabat, para pegawai lama, dan peserta pelatihan yang dibantu Lestari selama bertahun-tahun.
Ketika Nadira muncul dengan kebaya putih, Lestari berdiri di samping Surya.
Ia memicingkan mata, berusaha menangkap bentuk putrinya di antara cahaya pagi.
Lalu ia tersenyum.
“Aku bisa melihatnya,” bisiknya.
Surya menahan tangis.
Nadira berjalan menghampiri mereka dan memeluk ibunya.
“Apa Ibu bisa melihat gaunku?”
“Tidak seluruhnya.”
Lestari menyentuh wajahnya.
“Tapi Ibu bisa melihat bahwa kali ini kamu bahagia.”
Setelah upacara selesai, seorang petugas yayasan menyerahkan sebuah paket tanpa nama pengirim kepada Nadira.
Di dalamnya ada sebuah kotak kayu kecil dan sepucuk surat.
Kotak itu berisi kacamata hitam milik Lestari yang terkena siraman anggur pada malam pertunangan. Kacamata tersebut telah diperbaiki dan dibersihkan.
Suratnya berasal dari Ratih.
Bu Lestari dan Nadira,
Dulu saya mengira kemampuan melihat membuat saya lebih tinggi daripada orang lain. Ternyata saya memiliki mata, tetapi menjalani hidup dalam kebutaan yang saya pilih sendiri.
Saya tidak meminta pengampunan kedua kali. Saya hanya mengembalikan benda yang seharusnya tidak pernah saya kotori. Di tempat saya menjalani hukuman, saya sekarang membantu mengajarkan membaca kepada beberapa perempuan yang tidak pernah menyelesaikan sekolah. Mungkin ini kecil, tetapi untuk pertama kalinya saya melakukan sesuatu tanpa bertanya apa keuntungan bagi saya.
Terima kasih karena tidak menyelamatkan saya dari akibat perbuatan saya. Jika saat itu Anda menolong saya mempertahankan perusahaan, saya mungkin tidak akan pernah berubah.
Lestari meminta Nadira membacakan surat itu dua kali.
Kemudian ia memegang kacamata tersebut.
“Apa Ibu mau memakainya lagi?” tanya Nadira.
Lestari menggeleng.
“Tidak. Simpan di ruang yayasan.”
“Sebagai pengingat tentang penghinaan itu?”
“Bukan.”
Lestari tersenyum.
“Sebagai pengingat bahwa seseorang masih bisa berubah setelah melakukan kesalahan paling buruk dalam hidupnya.”
Nadira memandang ibunya dengan haru.
Di hari pernikahannya, ia akhirnya memahami panggilan telepon yang dilakukan ayahnya malam itu.
Surya tidak menelepon untuk membalas dendam.
Ia menelepon karena sudah mengetahui bahwa Wijaya Konstruksi berada dalam masalah. Selama berbulan-bulan, ia diam-diam mempertahankan jalur distribusi perusahaan itu demi melindungi masa depan Nadira setelah menikah.
Malam penghinaan tersebut membuatnya menyadari bahwa semua bantuan itu justru sedang digunakan untuk menjebak putrinya.
Telepon itu bukan perintah untuk menghancurkan keluarga Wijaya.
Itu adalah keputusan untuk berhenti menyelamatkan mereka.
Pada akhirnya, bukan Surya yang meruntuhkan keluarga tersebut.
Ratih telah menghancurkannya sedikit demi sedikit melalui kesombongan, kebohongan, dan keinginannya mengendalikan semua orang.
Namun dari keruntuhan itu, sesuatu yang tidak terduga tumbuh.
Arga akhirnya belajar bertanggung jawab atas pilihannya.
Hendra memilih kejujuran meski terlambat.
Ratih menemukan kemanusiaan di tempat yang tidak pernah ia bayangkan.
Lestari kembali melihat sebagian dunia.
Dan Nadira menemukan cinta yang tidak memintanya mengorbankan harga diri.
Saat matahari sore menyentuh taman, Lestari berdiri di samping putrinya dan memandang samar-samar ke arah para tamu.
“Dulu Ratih mengatakan keluarga kita berada di bawah keluarganya,” ujar Nadira.
Lestari tersenyum kecil.
“Tidak ada keluarga yang berada di atas atau di bawah hanya karena uang.”
“Lalu apa yang membedakan mereka?”
“Cara mereka memperlakukan orang yang dianggap tidak bisa memberikan keuntungan.”
Nadira menyandarkan kepala di bahu ibunya.
Malam ketika segelas anggur disiramkan ke wajah Lestari, Nadira mengira ia telah kehilangan masa depan.
Sebenarnya, malam itu ia baru saja diselamatkan darinya.
Dan perempuan yang dianggap tidak bisa melihat itulah yang sejak awal melihat kebenaran paling jelas.
