Lima Belas Menit Sebelum Berangkat ke Bandara, Putriku yang Berusia 6 Tahun Memeluk Leherku dan Berbisik, “Kalau Ayah Pergi, Mama Meneteskan Sesuatu ke Jusku, Lalu Merekamku.” Aku Menoleh ke Dapur. Nadira Berdiri Sambil Tersenyum, Masih Memegang Gelas Itu. Aku Berpura-pura Berangkat, Membatalkan Penerbangan, Lalu Kembali untuk Menyelamatkan Putriku. Namun Salinan Cadangan dari Sebuah Kamera Membuktikan bahwa Sasaran Sebenarnya Bukan Hanya Anakku.

Avatar penulis
Cerita 04
21 menit baca 556 tayangan
Lima Belas Menit Sebelum Berangkat ke Bandara, Putriku yang Berusia 6 Tahun Memeluk Leherku dan Berbisik, “Kalau Ayah Pergi, Mama Meneteskan Sesuatu ke Jusku, Lalu Merekamku.” Aku Menoleh ke Dapur. Nadira Berdiri Sambil Tersenyum, Masih Memegang Gelas Itu. Aku Berpura-pura Berangkat, Membatalkan Penerbangan, Lalu Kembali untuk Menyelamatkan Putriku. Namun Salinan Cadangan dari Sebuah Kamera Membuktikan bahwa Sasaran Sebenarnya Bukan Hanya Anakku.
Indeks

Tunangan Saya Membungkuk di Samping Ranjang Rumah Sakit dan Berbisik, “Meninggallah Sebelum Jumat, Sayang. Uangnya Lebih Cepat Cair Kalau Kamu Berhenti Bernapas.” Dia Mencium Kening Saya, Yakin Saya Terjebak dalam Koma. Padahal Saya Mendengar Setiap Kata Beracunnya—dan Beberapa Menit Kemudian, Asisten Rumah Tangga yang Selalu Dianggap Tak Terlihat Menemukan Rahasia yang Bisa Membuat Kami Berdua Dibungkam.

BAGIAN 1

Lima malam sebelumnya, mobil mewahku mengalami kecelakaan di Jalan Tol Dalam Kota Jakarta setelah seseorang sengaja merusak selang remnya.

Sopirku, Pak Darto, meninggal di lokasi kejadian.

Lima Belas Menit Sebelum Berangkat ke Bandara, Putriku yang Berusia 6 Tahun Memeluk Leherku dan Berbisik, “Kalau Ayah Pergi, Mama Meneteskan Sesuatu ke Jusku, Lalu Merekamku.” Aku Menoleh ke Dapur. Nadira Berdiri Sambil Tersenyum, Masih Memegang Gelas Itu. Aku Berpura-pura Berangkat, Membatalkan Penerbangan, Lalu Kembali untuk Menyelamatkan Putriku. Namun Salinan Cadangan dari Sebuah Kamera Membuktikan bahwa Sasaran Sebenarnya Bukan Hanya Anakku.

Aku tersadar di dalam ambulans dengan beberapa tulang rusuk retak, rasa darah memenuhi mulut, dan satu pikiran yang terasa lebih menyakitkan daripada seluruh luka di tubuhku:

Orang yang menginginkan kematianku tahu persis ke mana aku akan pergi malam itu.

“Katakan kepada semua orang bahwa kesadaran saya tidak merespons,” perintahku kepada dokter pribadiku.

Dokter Adrian menatapku seolah aku baru saja kehilangan akal sehat.

“Pak Rendra, kondisi Anda memang serius. Tetapi berpura-pura koma bukan perkara sederhana.”

“Justru karena kondisiku serius, mereka akan mempercayainya.”

Aku menahan sakit ketika menarik napas.

“Kalau orang itu tahu aku masih sadar, dia akan mencoba lagi. Aku perlu tahu siapa yang paling diuntungkan jika aku mati.”

Dokter Adrian terdiam cukup lama. Kami telah saling mengenal selama hampir dua puluh tahun. Dia tahu aku bukan orang yang mudah menuduh tanpa alasan.

Akhirnya, dia mengangguk.

Sebelum matahari terbit, seluruh Jakarta percaya bahwa Rendra Wijaya, pemilik Wijaya Sentosa Group, terbaring dalam keadaan koma.

Luka-lukaku nyata.

Koma itu tidak.

Selama lima hari, aku berbaring tanpa bergerak di sebuah kamar VIP rumah sakit swasta di kawasan Kuningan. Aku membiarkan orang-orang yang selama ini kupercaya berdatangan dan memperlihatkan wajah asli mereka.

Mereka mengira aku tidak bisa mendengar.

Mereka keliru.

Hari pertama, Arman, penasihat bisnis yang telah bekerja bersamaku selama lima belas tahun, menangis di dekat jendela. Namun, setelah memastikan perawat keluar, dia menelepon seseorang.

“Kalau Pak Rendra tidak sadar sampai akhir pekan, rapat pemegang saham harus dipercepat,” katanya pelan. “Kita tidak boleh membiarkan perusahaan tanpa kendali.”

Hari kedua, sepupuku, Bastian, datang membawa dua orang anggota direksi.

Di samping ranjangku, mereka membicarakan rencana untuk “menyegarkan kepemimpinan perusahaan”, seolah tubuhku sudah berada di liang lahat.

“Cara lama Rendra sudah tidak cocok,” kata Bastian. “Kalau dia tidak bangun, kita harus memikirkan masa depan keluarga.”

Masa depan keluarga.

Kalimat itu hampir membuatku membuka mata.

Perusahaan yang mereka perebutkan kubangun dari sebuah gudang kecil milik ayahku di Surabaya. Ketika Bastian masih menghabiskan uang di luar negeri, aku bekerja tujuh belas jam sehari agar bisnis itu tidak bangkrut.

Sekarang dia berdiri di samping ranjangku dan membicarakan pengambilalihan dengan nada seorang pewaris sah.

Hari ketiga, seorang anggota dewan yang karier politiknya kubantu sejak awal datang bersama ajudannya. Di depan kamera wartawan, dia menyebutku sahabat dan saudara.

Setelah kamera dimatikan, dia berkata kepada Arman, “Saya siap mendukung proses peralihan, asalkan kesepakatan kita tetap berlaku.”

Hari keempat, bahkan pengacaraku membahas kemungkinan penggunaan surat kuasa darurat, pengalihan kendali atas beberapa perusahaan, serta akses sementara ke rekening investasiku di Singapura.

Semua itu dibicarakan di dekat kepalaku.

Tanpa rasa malu.

Tanpa sedikit pun keraguan.

Aku ingin bangkit dan menghancurkan mereka satu per satu.

Namun, aku bertahan.

Aku harus menemukan orang yang memerintahkan perusakan rem mobilku.

Kemudian Laras datang.

Laras Prameswari adalah tunanganku. Kami dijadwalkan menikah tiga bulan lagi di Bali.

Setiap kali ada dokter, perawat, atau wartawan di ruangan, dia memainkan peran sebagai calon istri yang hancur karena kesedihan.

Gaun hitam sederhana.

Riasan wajah tipis.

Tidak memakai lipstik.

Satu tetes air mata jatuh pada saat yang sempurna.

Dia menggenggam tanganku sambil berbisik, “Bangunlah, Mas. Aku menunggumu.”

Jika ada penghargaan untuk kepedihan palsu, Laras pasti memenangkannya.

Namun, ketika kami hanya berdua, dia berubah menjadi orang lain.

Pada kunjungan pertamanya, dia berdiri di samping ranjangku dan menatap monitor jantung.

“Kamu seharusnya menyerahkan semuanya ketika aku memintanya,” bisiknya.

Aku tidak bergerak.

Keesokan harinya, dia mengeluh karena harus menunda pernikahan.

“Selalu begini,” katanya sambil merapikan rambut di depan cermin. “Bahkan saat terbaring tak berdaya pun kamu masih membuat semua orang menunggu.”

Lalu dia tertawa kecil.

“Dasar lelaki tua yang keras kepala.”

Usiaku baru empat puluh enam tahun.

Aku mulai mengingat berbagai hal yang sebelumnya kuanggap sepele.

Pertanyaannya tentang isi surat wasiatku.

Keinginannya mengetahui nilai pertanggungan asuransi jiwaku.

Desakannya agar namanya dimasukkan sebagai penerima manfaat di beberapa rekening.

Dua minggu sebelum kecelakaan, dia bahkan menanyakan apakah saham perusahaan dapat langsung berpindah kepada pasangan jika pemiliknya meninggal sebelum pernikahan.

Saat itu, aku mengira dia hanya sedang mempersiapkan masa depan kami.

Sekarang setiap pertanyaan terdengar seperti bagian dari rencana.

Kemudian tibalah sore pada hari kelima.

Aroma parfumnya tercium sebelum napasnya menyentuh telingaku.

Laras duduk di tepi ranjang. Jemarinya menyapu rambut dari dahiku dengan gerakan lembut.

“Kasihan sekali kamu,” katanya.

Dia menunggu sampai suara langkah perawat menghilang di lorong.

Kemudian dia membungkuk semakin dekat.

“Meninggallah sebelum Jumat, Sayang,” bisiknya. “Uangnya lebih cepat cair kalau kamu berhenti bernapas.”

Darahku seakan membeku.

Setiap otot dalam tubuhku berteriak agar aku bangkit dan mencengkeram tangannya.

Namun, aku tetap diam.

Laras mencium keningku.

“Jangan menyulitkan semuanya lagi.”

Dia lalu mengambil tasnya dan berjalan keluar dengan tenang.

Pintu menutup.

Aku menghitung detik dalam hati sambil memaksa napasku tetap teratur.

Jumat.

Kenapa harus sebelum Jumat?

Apakah ada dokumen yang akan berlaku? Rapat pemegang saham? Pembayaran asuransi? Atau seseorang akan datang untuk menyelesaikan apa yang gagal dilakukan di jalan tol?

Tiga menit kemudian, terdengar langkah kaki yang lebih pelan memasuki kamar.

“Pak Rendra?”

Aku mengenali suara itu.

Sari Handayani.

Dia telah bekerja sebagai asisten rumah tangga di penthouse-ku selama enam bulan. Perempuan asal Klaten itu jarang bicara dan selalu menundukkan kepala ketika ada tamu.

Bagi orang seperti Laras dan Bastian, Sari hanyalah bagian dari rumah—seperti meja, tirai, atau vas bunga.

Mereka berbicara bebas di dekatnya karena tidak pernah menganggapnya cukup penting untuk memperhatikan sesuatu.

Sari mengganti bunga lili putih di meja samping ranjang.

“Saya tidak suka bunga ini,” gumamnya. “Baunya seperti rumah duka yang sedang berpura-pura menjadi tempat pernikahan.”

Aku hampir tersenyum.

Kemudian dia menarik selimut hingga menutupi bahuku. Bukan karena ada orang yang melihat, tetapi karena dia sungguh mengira aku mungkin merasa kedinginan.

“Saya mendengar perkataan Bu Laras,” bisiknya.

Detak jantungku meningkat.

Monitor di samping ranjang berbunyi sedikit lebih cepat.

Sari menoleh ke layar, lalu kembali menatap wajahku.

“Saya juga mendengar dia kemarin,” lanjutnya. “Dia bilang kesedihan hanya berguna kalau ada yang memotretnya.”

Sari menelan ludah.

“Orang seperti saya dibayar untuk berpura-pura tidak mendengar apa pun.”

Dia melangkah semakin dekat.

“Tapi yang dia katakan barusan bukan ucapan orang yang sedang berduka.”

Suaranya bergetar.

“Itu sebuah hitungan mundur.”

Ruangan mendadak terasa sunyi.

“Saya rasa mereka akan menyelesaikan apa yang gagal dilakukan kecelakaan itu.”

Tangannya menyentuh jemariku di balik selimut.

Aku menggerakkan jari kelingkingku.

Sari membeku.

Napasnya tertahan ketika perlahan-lahan aku membuka mata.

Wajahnya langsung pucat. Bibirnya terbuka, tetapi sebelum dia sempat menjerit, aku mengumpulkan seluruh kekuatan untuk mengucapkan kata-kata pertamaku dalam lima hari.

“Kunci pintunya.”

Sari tidak langsung bergerak.

Dia berdiri mematung, menatapku dengan mata membesar, seolah orang yang telah meninggal baru saja berbicara kepadanya.

“Pak Rendra… Anda sadar?”

“Kunci pintunya sekarang.”

Nada suaraku lemah, tetapi cukup tegas untuk membuatnya bergerak. Sari bergegas menuju pintu, memutarnya hingga terkunci, lalu menutup tirai kaca yang menghadap ke lorong.

Ketika kembali ke ranjang, tangannya masih gemetar.

“Sejak kapan Bapak sadar?”

“Sejak di ambulans.”

Sari menutup mulutnya.

“Jadi Bapak mendengar semuanya?”

“Termasuk perkataan Laras.”

Aku berusaha mengangkat tubuh, tetapi rasa sakit menusuk tulang rusukku. Sari segera membantu menaikkan sandaran ranjang.

“Kenapa kamu datang ke sini?” tanyaku. “Kamu bukan keluarga. Pihak rumah sakit seharusnya tidak memberimu izin masuk.”

Wajah Sari berubah.

Ada ketakutan di sana, tetapi juga sesuatu yang lebih berat: rasa bersalah.

“Saya memakai kartu akses milik Bu Laras.”

Dia mengeluarkan sebuah kartu dari saku seragamnya.

“Dia meninggalkannya di penthouse tadi malam.”

“Kenapa Laras kembali ke penthouse?”

“Untuk mengambil dokumen dari ruang kerja Bapak.”

Aku menatapnya tajam.

“Dokumen apa?”

Sari memandang pintu, memastikan tidak ada yang mendengarkan. Kemudian dia merogoh bagian dalam tas kain yang dibawanya dan mengeluarkan sebuah ponsel lama.

“Saya menemukan ini di belakang lemari arsip.”

Layar ponsel itu retak. Di bagian belakangnya terdapat stiker kecil bertuliskan nama Pak Darto—sopirku yang meninggal dalam kecelakaan.

Dadaku terasa sesak.

“Itu milik Darto.”

Sari mengangguk.

“Dan di dalamnya ada rekaman suara Bu Laras.”

Sebelum dia sempat menjelaskan lebih jauh, gagang pintu tiba-tiba bergerak dari luar.

Seseorang mencoba masuk.

Kemudian terdengar suara Laras dari balik pintu.

“Sari? Aku tahu kamu ada di dalam.”

Sari menatapku dengan wajah ketakutan.

Laras mengetuk sekali lagi, kali ini lebih keras.

“Buka pintunya. Sekarang.”

Aku mematikan layar ponsel Darto dan menyelipkannya di bawah bantal.

Saat itulah Sari membisikkan kalimat yang membuatku sadar bahwa kecelakaan itu bukan hanya tentang hartaku.

“Pak Rendra, di dalam rekaman itu, Bu Laras tidak sedang berbicara dengan sepupu atau pengacara Bapak.”

“Lalu dengan siapa?”

Sari menatapku lurus-lurus.

“Dengan dokter yang setiap malam menyuntikkan obat ke infus Bapak.”

Di luar, Laras berhenti mengetuk.

Lalu kami mendengar suara kunci cadangan dimasukkan ke lubang pintu.

BAGIAN 2 — REKAMAN TERAKHIR PAK DARTO

Kunci cadangan berputar perlahan di lubang pintu.

Sari menatapku dengan wajah pucat. Aku segera memejamkan mata dan kembali merebahkan kepala. Rasa sakit dari tulang rusuk yang retak menusuk hingga ke punggung, tetapi aku memaksa tubuhku diam.

“Masukkan ponselnya ke saku seragammu,” bisikku.

Sari melakukannya tepat ketika pintu terbuka.

Laras masuk bersama seorang pria berkacamata dan berjas putih. Aku mengenal langkahnya sebelum mendengar suaranya.

Dokter Reza Mahendra.

Dokter jaga yang setiap malam memeriksa infusku.

Laras memandang Sari dari ujung kepala hingga kaki.

“Kenapa pintunya dikunci?”

“Saya sedang mengganti pakaian pasien, Bu.”

“Kamu bukan perawat.”

“Saya hanya membersihkan air yang tumpah.”

Tidak ada air di lantai.

Laras menatap sekeliling, lalu mendekati ranjang. Jemarinya menyentuh pergelangan tanganku. Aku menjaga napas tetap lambat.

“Dia bergerak?” tanyanya.

“Tidak, Bu.”

“Lalu kenapa monitor jantungnya tadi meningkat?”

Sari menunduk. “Mungkin karena saya menggeser tubuhnya.”

Dokter Reza melangkah ke sisi infus. Dari saku jasnya, ia mengambil sebuah ampul kecil tanpa label.

Aku hanya bisa melihat bayangannya dari celah tipis kelopak mata.

“Apa itu?” tanya Sari.

Dokter Reza berhenti.

“Obat untuk pasien.”

“Tapi biasanya perawat yang memberikannya.”

Ruangan mendadak sunyi.

Laras tersenyum, tetapi matanya tidak ikut tersenyum.

“Kamu banyak bertanya hari ini.”

“Saya hanya khawatir, Bu.”

“Kekhawatiran bukan bagian dari pekerjaanmu.”

Laras mengambil tasnya, lalu mengeluarkan sebuah amplop berisi uang.

“Pulanglah. Ibumu sedang sakit di Klaten, bukan? Uang ini cukup untuk membayar pengobatan beliau beberapa bulan.”

Sari tidak menyentuh amplop itu.

“Apa yang harus saya lakukan sebagai gantinya?”

Senyum Laras menghilang.

“Kamu cukup melupakan apa pun yang kamu dengar di ruangan ini.”

“Apa yang saya dengar?”

Laras memperhatikannya selama beberapa detik, berusaha mengetahui apakah Sari sedang berpura-pura bodoh.

Akhirnya, dia meletakkan amplop di meja.

“Kamu lebih pintar daripada yang terlihat.”

Sari mengangkat wajahnya.

“Orang sering mengatakan itu ketika baru sadar bahwa saya bukan perabot.”

Aku hampir membuka mata saat mendengar keberaniannya.

Dokter Reza menggenggam ampul lebih erat.

Laras berkata dingin, “Keluar.”

Sari mengambil keranjang cucian dan berjalan menuju pintu. Saat melewati dokter Reza, ia sengaja menjatuhkan sebotol cairan pembersih.

Botol itu berguling ke bawah meja.

“Maaf, Dok.”

Ketika mereka semua menoleh ke lantai, Sari menekan tombol panggil perawat yang tersembunyi di sisi ranjangku.

Kemudian dia pergi.

Aku kini sendirian bersama dua orang yang ingin memastikan aku tidak melewati hari Jumat.

Dokter Reza memasukkan cairan dari ampul ke dalam alat suntik.

“Dosis ini cukup?” tanya Laras.

“Cukup untuk membuat kondisinya memburuk secara bertahap. Tidak akan terlihat mencurigakan. Dengan cedera seperti ini, semua orang akan menganggap tubuhnya menyerah.”

“Berapa lama?”

“Beberapa menit setelah masuk ke infus.”

Laras memandang jam tangannya.

“Lakukan.”

Reza baru saja mendekati selang infus ketika pintu terbuka.

Seorang perawat bernama Intan masuk dengan langkah cepat.

“Maaf, Dok. Tombol panggilan pasien menyala.”

Laras menoleh tajam ke arahku.

Dokter Reza segera menyembunyikan alat suntik di belakang telapak tangannya.

“Mungkin tertekan saat pasien digeser,” jawabnya.

Perawat Intan memeriksa panel di samping ranjang.

“Siapa yang mengubah pengaturan infus?”

“Saya,” kata Reza.

“Tidak ada instruksi baru di sistem.”

“Saya akan memasukkannya nanti.”

Perawat Intan tampak ragu. “Sesuai prosedur, obat tambahan harus dicatat sebelum diberikan.”

Dokter Reza menarik napas panjang.

“Saudari Intan, saya dokter penanggung jawab malam ini.”

“Dan saya perawat yang namanya akan diperiksa kalau terjadi sesuatu.”

Ketegangan menyelimuti ruangan.

Akhirnya, Reza memasukkan kembali alat suntik ke sakunya.

“Kita lanjutkan setelah pergantian sif.”

Dia dan Laras keluar bersama.

Namun, sebelum pintu menutup, Laras berbalik memandangku.

Aku tidak bisa melihat seluruh ekspresinya, tetapi aku merasakan kecurigaannya.

Rencana kami hanya memiliki sedikit waktu.

Begitu langkah mereka menghilang, aku membuka mata.

Perawat Intan terlonjak mundur.

“Pak Rendra?”

“Tolong jangan berteriak.”

Wajahnya kehilangan warna.

“Bapak sadar?”

“Saya membutuhkan Dokter Adrian. Hanya dia. Jangan masukkan apa pun ke dalam infus saya dan jangan biarkan Dokter Reza kembali.”

Intan melihat ke arah pintu, lalu ke monitor.

“Ini harus dilaporkan.”

“Laporkan kepada Dokter Adrian. Kalau orang lain mengetahuinya, nyawa Sari juga terancam.”

Mendengar nama Sari, keraguannya berubah menjadi perhatian.

“Apa yang terjadi?”

“Saya belum bisa menjelaskan semuanya. Tetapi obat yang hendak diberikan Dokter Reza tidak tercatat, bukan?”

Intan mengangguk pelan.

“Dan ini bukan pertama kalinya,” katanya.

Aku menatapnya.

“Jelaskan.”

“Selama tiga malam terakhir, ada perubahan pada catatan obat Bapak. Setiap kali saya bertanya, Dokter Reza mengatakan sistem mengalami kesalahan.”

“Apakah catatan lama masih tersimpan?”

“Di server cadangan rumah sakit.”

“Buat salinannya sebelum seseorang menghapusnya.”

Intan mengangguk. Sebelum keluar, ia menukar kantong infusku dengan cairan baru yang masih tersegel.

Dua puluh menit kemudian, Dokter Adrian tiba bersama Sari. Mereka masuk melalui lift pelayanan agar tidak terlihat oleh Laras.

Sari menyerahkan ponsel Pak Darto kepadaku.

Layarnya terkunci.

“Kita membutuhkan kata sandi,” kata Adrian.

Aku memikirkan Pak Darto. Ia telah bekerja untukku selama dua belas tahun. Dia jarang membicarakan dirinya, kecuali tentang putri semata wayangnya yang sedang kuliah keperawatan di Yogyakarta.

“Coba tanggal lahir putrinya,” kataku.

Sari mengetik delapan angka.

Ponsel terbuka.

Di dalamnya terdapat beberapa foto mobilku, pesan-pesan singkat, dan tiga rekaman suara. Rekaman terakhir dibuat dua jam sebelum kecelakaan.

Aku menekan tombol putar.

Awalnya hanya terdengar suara perkakas dan kendaraan dari garasi penthouse. Kemudian suara Laras muncul.

“Kamu yakin remnya akan gagal setelah mereka masuk jalan tol?”

Suara lelaki menjawab, “Tidak langsung. Kalau terlalu cepat, petugas akan curiga.”

Itu bukan suara Dokter Reza.

Itu suara Arman, penasihat bisnisku.

Laras berkata, “Pastikan sopirnya tidak sempat menghubungi siapa pun.”

Pak Darto rupanya bersembunyi di dekat mereka. Napasnya terdengar cepat.

Lalu percakapan berlanjut.

“Setelah Rendra meninggal,” kata Arman, “dokumen pertunangan tidak cukup untuk memberimu hak atas perusahaan.”

“Aku tidak membutuhkan seluruh perusahaan. Aku hanya butuh akses ke Yayasan Wijaya.”

Aku mengerutkan kening.

Yayasan Wijaya mengelola dana pendidikan sebesar hampir empat ratus miliar rupiah. Dana itu tidak bisa diwariskan kepada anggota keluarga. Bahkan aku tidak dapat menggunakannya untuk kepentingan pribadi.

Arman tertawa kecil.

“Pada hari Jumat, dewan akan menyetujui pemindahan dana investasi ke rekening pengelola baru. Tanda tangan digital Rendra sudah kita miliki.”

“Dan kalau audit dilakukan?”

“Reza akan memastikan Rendra meninggal sebelum sempat membantahnya.”

Rekaman berhenti.

Sari menutup mulut dengan kedua tangan.

Aku merasa seperti baru saja ditabrak untuk kedua kalinya.

Bukan hanya Laras.

Arman, orang yang membantuku membangun perusahaan, telah merancang semuanya.

Namun, ada sesuatu yang tidak masuk akal.

“Kenapa Pak Darto tidak langsung memberitahuku?” tanyaku.

Sari membuka rekaman kedua.

Suara Pak Darto terdengar berbisik.

“Pak Rendra, kalau Bapak mendengarkan ini, mungkin saya sudah tidak sempat menjelaskan. Saya menemukan dokumen atas nama Yayasan Bintang Timur. Mereka memakai nama yayasan itu untuk menerima uang. Tapi saya mengenali alamat kantornya.”

Pak Darto berhenti sejenak.

“Alamat itu adalah rumah lama milik keluarga Bapak di Surabaya.”

Darahku seolah berhenti mengalir.

Rumah lama itu telah dijual delapan tahun sebelumnya.

Setidaknya, itulah yang dikatakan Arman kepadaku.

Kami segera membuka dokumen dan foto dalam ponsel. Di antara gambar-gambar itu terdapat salinan akta pendirian Yayasan Bintang Timur.

Ketua pembinanya adalah Arman.

Bendaharanya Laras.

Namun nama pendirinya membuat tanganku gemetar.

Ratih Wijaya.

Nama ibuku.

Ibuku telah meninggal dua belas tahun lalu.

“Mereka menggunakan identitas orang yang sudah meninggal,” kata Adrian.

Aku menggeleng.

“Ibuku tidak pernah menandatangani dokumen ini.”

Sari memperbesar foto tanda tangan di bagian bawah.

“Pak, lihat tanggal pendiriannya.”

Tertulis tujuh belas tahun lalu.

Lima tahun sebelum ibuku meninggal.

Aku mengenali tanda tangannya.

Itu asli.

Ruangan menjadi sunyi.

Untuk pertama kalinya, muncul kemungkinan yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan Laras: mungkin ibuku pernah terlibat dalam sesuatu yang selama ini disembunyikan dariku.

Kami memutar rekaman ketiga.

Kali ini hanya ada suara Pak Darto.

“Saya pergi ke Surabaya dan bertemu seseorang yang tinggal di rumah lama itu. Namanya Ibu Marni. Dia mengatakan Yayasan Bintang Timur memang didirikan oleh ibu Bapak, tetapi bukan untuk mencuri uang.”

Suara Pak Darto bergetar.

“Yayasan itu didirikan untuk melindungi seorang anak.”

Rekaman berhenti mendadak.

“Anak siapa?” tanya Sari.

Aku tidak menjawab.

Saat itulah ponsel Sari berdering. Nomor tak dikenal muncul di layar.

Dia mengangkatnya dengan pengeras suara.

“Sari Handayani?” suara laki-laki bertanya.

“Benar.”

“Kami dari keamanan rumah sakit. Ada seseorang menunggu Anda di lobi. Seorang perempuan bernama Marni.”

Aku dan Adrian saling berpandangan.

“Jangan suruh dia naik,” kataku. “Bawa dia melalui lift pelayanan.”

Setengah jam kemudian, seorang perempuan berusia sekitar enam puluh tahun memasuki kamar dengan membawa map cokelat tua. Begitu melihatku duduk dalam keadaan sadar, air matanya jatuh.

“Kamu sangat mirip ibumu,” katanya.

“Siapa Anda?”

“Saya menjaga rumah di Surabaya. Dan saya membesarkan anak yang diselamatkan ibumu.”

Ia membuka map.

Di dalamnya terdapat akta kelahiran seorang bayi perempuan, surat tulisan tangan ibuku, serta puluhan bukti transfer yang dilakukan selama bertahun-tahun.

Nama bayi itu membuat semua orang menoleh kepada Sari.

Sari Handayani.

Sari mundur satu langkah.

“Tidak mungkin.”

Ibu Marni menggenggam tangannya.

“Ibumu bekerja di pabrik milik keluarga Wijaya. Ketika pabrik itu terbakar, pemilik lama mencoba menyalahkan para pekerja. Ibu kandungmu meninggal setelah menyelamatkan banyak orang. Ibu Pak Rendra mendirikan yayasan untuk menjamin masa depanmu dan anak-anak korban lainnya.”

Sari menatapku, bingung dan hancur.

“Lalu kenapa saya tidak pernah tahu?”

“Karena setelah Ibu Ratih meninggal, Arman mengambil alih administrasi yayasan,” jawab Marni. “Dia menghentikan bantuan, mengganti pengurus, lalu menggunakan yayasan untuk memindahkan uang.”

Aku akhirnya memahami semuanya.

Arman bukan hanya ingin mengambil dana pendidikan milik perusahaanku. Dia sedang menutupi pencurian yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Pak Darto menemukan jejaknya.

Karena itu, dia harus disingkirkan.

Aku hanyalah korban berikutnya.

“Kenapa Sari bekerja di rumahku?” tanyaku.

Ibu Marni menjawab, “Pak Darto yang mengaturnya. Dia ingin Sari berada dekat dengan Anda karena curiga ada orang dalam perusahaan yang menyalahgunakan nama almarhum ibu Anda. Dia berharap Sari menemukan bukti.”

Sari menangis tanpa suara.

Selama ini, ia mengira dirinya hanya seorang pembantu rumah tangga yang tidak dianggap siapa pun. Padahal kehadirannya di rumahku adalah bagian dari usaha terakhir Pak Darto untuk mengungkap kebenaran.

Aku menggenggam tangannya.

“Pak Darto meninggal karena berusaha melindungi kita.”

Sari menyeka air matanya.

“Kalau begitu, kita tidak boleh membiarkan kematiannya sia-sia.”

Jumat pagi, berita tentang kondisiku memburuk sengaja disebarkan.

Laras, Arman, Bastian, pengacaraku, dan beberapa anggota direksi berkumpul di ruang rapat utama Wijaya Sentosa Group. Mereka percaya aku hanya memiliki waktu beberapa jam.

Dari kamar rumah sakit, aku mengikuti rapat melalui sambungan video rahasia bersama penyidik kepolisian dan auditor independen.

Arman berdiri di ujung meja.

“Karena Pak Rendra tidak mampu menjalankan tugasnya, kita harus menyetujui pemindahan sementara dana investasi Yayasan Wijaya.”

Bastian mengangkat tangan pertama.

Beberapa orang mengikutinya.

Laras duduk di samping Arman dengan pakaian berkabung. Di hadapannya terdapat surat kuasa bertanda tangan digitalku.

“Dengan persetujuan ini,” kata Arman, “dana sebesar tiga ratus delapan puluh miliar rupiah akan dialihkan kepada pengelola baru.”

“Yayasan Bintang Timur?” tanya salah seorang direktur.

“Benar.”

Arman menyerahkan dokumen kepada notaris.

Tepat ketika pena menyentuh kertas, layar besar di ruang rapat menyala.

Wajahku muncul.

Seluruh ruangan membeku.

Laras menjatuhkan gelas.

Bastian berdiri begitu cepat hingga kursinya terbalik.

“Selamat pagi,” kataku. “Maaf membuat kalian menunggu kematianku.”

Arman tampak seperti kehilangan kemampuan berbicara.

“Rendra?”

“Aku mendengar semuanya. Termasuk rencana agar aku meninggal sebelum Jumat.”

Laras mulai mundur dari meja.

Pintu ruang rapat terbuka. Petugas kepolisian masuk bersama penyidik keuangan.

Arman mencoba meraih ponselnya, tetapi seorang petugas lebih cepat menghentikannya.

“Ini salah paham,” katanya. “Rendra sedang tidak stabil. Dia mengalami trauma.”

Aku memutar rekaman Pak Darto melalui pengeras suara.

Suara Arman memenuhi ruang rapat:

“Reza akan memastikan Rendra meninggal sebelum sempat membantahnya.”

Wajah Arman runtuh.

Laras menutup mata.

Bastian mulai bersumpah bahwa dirinya tidak mengetahui rencana kecelakaan. Mungkin itu benar. Namun, bukti menunjukkan ia menerima sejumlah uang untuk mendukung pengalihan dana.

Dokter Reza ditangkap di rumah sakit. Di dalam lokernya ditemukan beberapa ampul tanpa label serta catatan pembayaran dari perusahaan milik Arman.

Pengacaraku ternyata tidak terlibat dalam kecelakaan, tetapi ia sengaja mengabaikan kejanggalan dokumen demi mendapatkan posisi dalam kepemimpinan baru. Izin praktiknya kemudian diperiksa oleh organisasi profesi.

Laras meminta berbicara denganku.

Aku menyetujuinya satu minggu kemudian, dengan dua penyidik berada di dalam ruangan.

Dia tidak lagi mengenakan gaun hitam yang mahal. Wajahnya pucat, rambutnya diikat seadanya.

“Aku tidak pernah bermaksud semua ini terjadi,” katanya.

“Kamu menyuruh seorang dokter menghentikan napasku.”

“Arman bilang tidak ada jalan lain.”

“Selalu ada jalan lain.”

Air mata mengalir di pipinya.

“Aku mencintaimu.”

Aku menatap perempuan yang hampir menjadi istriku.

“Tidak. Kamu mencintai kehidupan yang bisa kamu miliki setelah aku tidak ada.”

Dia terdiam.

Sebelum dibawa keluar, Laras menoleh.

“Apakah kamu pernah benar-benar ingin menikahiku?”

Aku menjawab jujur.

“Ya. Itulah bagian yang paling menyakitkan.”

Beberapa bulan kemudian, proses hukum masih berjalan. Arman, Laras, dan Dokter Reza menghadapi berbagai dakwaan terkait percobaan pembunuhan, pemalsuan dokumen, dan penggelapan dana. Bastian kehilangan seluruh jabatannya dan diwajibkan mengembalikan uang yang diterimanya.

Namun, kemenangan tidak terasa seperti kemenangan.

Pak Darto tetap tidak pulang.

Aku menemui putrinya di Yogyakarta dan menyerahkan rekaman terakhir ayahnya. Kukatakan bahwa Pak Darto bukan sekadar sopir yang meninggal dalam kecelakaan. Ia adalah orang yang menyelamatkan dua nyawa dan melindungi masa depan ribuan anak.

Putrinya menangis saat memeluk ponsel itu.

“Ayah selalu bilang orang jujur mungkin tidak selalu menang cepat,” katanya, “tetapi kebenaran tahu jalan pulang.”

Aku tidak mampu menjawab.

Aku hanya memeluknya seperti seorang ayah.

Yayasan Bintang Timur kemudian dikembalikan pada tujuan awalnya. Dana yang dicuri berhasil dilacak, meskipun tidak semuanya dapat dipulihkan.

Aku meminta Sari menjadi ketua pengawasnya.

Dia langsung menolak.

“Saya tidak punya pendidikan untuk jabatan sebesar itu.”

“Kamu memiliki sesuatu yang lebih langka daripada gelar.”

“Apa?”

“Keberanian untuk mengatakan kebenaran ketika semua orang lain memilih diam.”

Sari akhirnya menerima dengan satu syarat: beasiswa pertama harus dinamai Beasiswa Darto Santoso, untuk anak-anak pekerja yang ingin belajar keperawatan, teknik, atau hukum.

Setahun kemudian, kami membuka pusat pendidikan pertama di rumah lama keluargaku di Surabaya. Bangunan itu direnovasi, tetapi kami mempertahankan satu dinding bata yang hangus dari kebakaran puluhan tahun lalu.

Bukan untuk mengabadikan tragedi.

Melainkan agar setiap anak yang masuk memahami bahwa sesuatu yang baik bisa dibangun dari tempat yang pernah hancur.

Pada hari peresmian, aku berdiri di halaman bersama Sari dan Ibu Marni.

Sari tidak lagi memakai seragam asisten rumah tangga. Namun, ia masih perempuan yang sama—tenang, tajam, dan tidak tertarik pada pujian.

“Pak Rendra,” katanya, “ada sesuatu yang belum pernah saya tanyakan.”

“Apa?”

“Mengapa Bapak menggerakkan jari saat saya menyentuh tangan Bapak?”

Aku tersenyum.

“Karena selama lima hari, semua orang yang datang hanya membicarakan apa yang akan mereka ambil dariku.”

Aku memandang anak-anak yang berlarian membawa buku baru.

“Kamu satu-satunya orang yang datang dan menarik selimutku karena mengira aku kedinginan.”

Mata Sari berkaca-kaca.

“Saya hanya melakukan hal kecil.”

“Hal kecil itulah yang menyelamatkan hidupku.”

Di salah satu ruangan, kami memasang foto Ibu Ratih dan Pak Darto berdampingan. Di bawahnya hanya tertulis satu kalimat:

Untuk mereka yang dianggap biasa, tetapi memilih melakukan hal luar biasa.

Aku datang ke rumah sakit sebagai lelaki yang percaya bahwa kekuasaan membuatku mampu melihat semua orang.

Aku keluar dari sana setelah mengetahui betapa butanya aku selama ini.

Orang-orang berpakaian mahal telah merencanakan kematianku di depan wajahku.

Seorang dokter hampir mengakhiri hidupku demi uang.

Orang-orang yang kusebut keluarga sudah membagi warisanku sebelum tubuhku dingin.

Namun perempuan yang selama berbulan-bulan diperlakukan seperti perabotlah yang melihat bahaya, menyimpan bukti, dan berani mengulurkan tangan.

Laras pernah membisikkan bahwa uang bergerak lebih cepat ketika aku berhenti bernapas.

Dia salah.

Uang memang bisa berpindah tangan.

Kekuasaan bisa direbut.

Tanda tangan bahkan bisa dipalsukan.

Namun kebenaran bergerak dengan caranya sendiri—pelan, sunyi, sering kali melalui orang yang tidak pernah diperhatikan siapa pun.

Dan ketika akhirnya sampai ke tujuan, tidak ada pintu terkunci, nama besar, ataupun kebohongan mahal yang mampu menghentikannya.

Pada hari itu, sambil memandang nama Pak Darto di pintu ruang beasiswa, aku akhirnya mengerti:

Aku berpura-pura koma untuk menemukan siapa yang ingin membunuhku.

Tetapi justru dalam keheningan itulah aku menemukan orang-orang yang benar-benar membuat hidupku layak diselamatkan.

TAMAT