Lima Tahun Setelah Perceraian, Aku Pulang ke Yogyakarta untuk Membuat Mantan Istriku Menyesal—Namun Satu Map Cokelat di Lemari Anakku Membuat Lututku Runtuh di Lantai dan Membalik Semua yang Kupercaya

Avatar penulis
Cerita 03
13 menit baca 1,090 tayangan
Auto Draft
Indeks

Lima Tahun Setelah Perceraian, Aku Pulang ke Yogyakarta untuk Membuat Mantan Istriku Menyesal—Namun Satu Map Cokelat di Lemari Anakku Membuat Lututku Runtuh di Lantai dan Membalik Semua yang Kupercaya

Bagian 1 — Aku Datang dengan Mobil Baru dan Dendam Lama, Yakin Nadira Akan Menyesal Saat Melihat Hidupku Tanpa Dirinya yang Kini Jauh Lebih Baik

Namaku Farhan Pratama. Umurku tiga puluh enam tahun, dan selama lima tahun terakhir aku membangun hidup dengan satu bahan bakar yang tidak pernah berani kuakui: dendam.

Dulu aku tinggal di rumah kecil di Sleman bersama istriku, Nadira, dan putra kami, Naufal, yang saat itu baru empat tahun. Rumah itu sederhana, cicilannya sering membuat kami menghitung sisa uang belanja. Tetapi di sanalah kami pernah makan mi instan bertiga saat listrik padam dan berjanji tidak akan saling meninggalkan.

Janji itu hancur pada suatu malam bulan November.

Nadira baru delapan bulan bekerja sebagai staf administrasi di perusahaan properti milik Rendra Mahesa. Sejak pindah pekerjaan, ia sering pulang terlambat. Ponselnya selalu senyap. Kadang saat aku masuk kamar, ia buru-buru mematikan layar.

Malam itu, ketika ia sedang mandi, layar ponselnya menyala di meja makan.

“Aku tidak sabar menunggumu besok. Jangan kecewakan aku lagi.”

Nama pengirimnya: Pak Rendra.

Tanganku gemetar. Aku membuka percakapan itu. Ada kalimat, “Aku akan lakukan yang kamu mau,” dan, “Tolong jangan hubungi Farhan.”

Ketika Nadira keluar, aku sudah berdiri dengan ponselnya di tangan.

“Siapa Rendra?”

Wajahnya pucat.

Aku masih berharap ia akan menjelaskan semuanya sebagai kesalahpahaman. Tetapi Nadira hanya diam.

“Jawab aku!”

Ia menatapku lama, lalu berkata, “Aku sudah tidak bisa lanjut seperti ini.”

Aku bertanya apakah ia mencintai lelaki itu.

“Iya.”

Satu kata itu menghancurkan delapan tahun pernikahan kami.

Malam itu Naufal terbangun karena suara kami. Ia berdiri di lorong sambil memeluk boneka dinosaurus dan bertanya kenapa Mama menangis. Nadira segera mengusap wajah, menggendongnya, lalu menyuruhku tidur di kamar tamu.

Aku tidak tidur sama sekali.

Pagi harinya aku masih menunggu penjelasan, tetapi Nadira hanya berkata bahwa semakin cepat kami berpisah, semakin baik untuk semua orang.

Kalimat itu membuatku yakin ia bahkan tidak menyesal.

Ayahku mencoba membujukku agar tidak mengambil keputusan saat marah. Aku menolak. Aku juga menolak ketika Nadira meminta agar kami membicarakan jadwal bertemu Naufal setelah perceraian.

Bagiku saat itu, semua yang berhubungan dengannya terasa seperti penghinaan baru.

Dua minggu kemudian aku menandatangani perceraian. Aku tidak memperebutkan rumah. Aku juga tidak memperebutkan hak tinggal utama Naufal. Saat itu aku terlalu hancur untuk melihat wajah anakku tanpa membayangkan ibunya.

Aku pindah ke Surabaya dan memutus semua kontak.

Nomor baru. Alamat baru. Akun media sosial baru.

Aku bekerja seperti orang kesurupan. Siang menjadi programmer perusahaan logistik, malam mengerjakan proyek lepas.

Dua tahun kemudian aku mendirikan perusahaan perangkat lunak bersama dua teman. Tahun keempat, kami sudah menangani jaringan gudang dan distributor di beberapa kota.

Aku membeli rumah dan mobil yang dulu hanya bisa kulihat dari balik kaca showroom.

Aku punya karyawan yang memanggilku “Pak Farhan”.

Tetapi setiap kali sendirian, yang kuingat tetap jawaban Nadira.

“Iya.”

Lima tahun setelah perceraian, teman lama bernama Arif menghubungiku.

Dari Arif aku mendengar Nadira masih tinggal di rumah lama. Katanya, hubungan Nadira dan Rendra tidak bertahan lama. Rendra pindah ke Jakarta, sementara Nadira bekerja sebagai admin klinik dan mengambil pekerjaan tambahan dari rumah.

“Dia hidup biasa saja,” kata Arif. “Kalau dibandingkan kamu sekarang, jauh.”

Saat itulah sebuah rencana muncul.

Aku akan pulang.

Bukan untuk meminta penjelasan.

Aku hanya ingin Nadira melihat bahwa lelaki yang dulu ia buang kini berhasil tanpa dirinya.

Sabtu sore aku mengendarai mobil baruku menuju Yogyakarta.

Tujuan pertamaku sekolah Naufal.

Aku berdiri di seberang gerbang saat anak-anak keluar. Butuh beberapa menit sampai aku mengenalinya.

Ia lebih tinggi daripada bayanganku, rambutnya sedikit bergelombang seperti Nadira, tetapi cara mengernyitkan dahi persis sepertiku.

“Naufal?”

Ia menoleh.

Aku tidak tahu bagaimana memperkenalkan diri kepada anak yang sudah lima tahun tidak kutemui.

“Aku Farhan,” kataku. “Ayahmu.”

Wajahnya membeku.

Aku bersiap menerima kemarahan atau penolakan.

Tetapi ia hanya bertanya, “Ayah benar-benar pulang?”

Aku mengangguk.

Naufal tidak memelukku. Ia memandangiku seperti sedang mencocokkan wajahku dengan foto lama.

“Mama bilang Ayah tinggal jauh karena bekerja,” katanya.

“Dia bilang begitu?”

“Iya. Mama tidak pernah bilang Ayah jahat.”

Kami duduk di warung dekat sekolah. Naufal bercerita tentang nilai matematikanya, futsal, dan bagaimana Nadira sering mengambil shift tambahan.

“Kalau Mama lembur, aku kadang makan telur sama kecap,” katanya. “Tapi Mama selalu bangun pagi buat bikin bekal.”

Setiap kalimatnya menekan sesuatu di dadaku.

Malam itu aku menelepon Nadira.

Suaranya berubah saat mendengar namaku.

“Kamu di Yogya?”

“Iya.”

“Sudah bertemu Naufal?”

Kami sepakat bertemu di kedai kopi di Jalan Kaliurang.

Aku datang dengan kemeja mahal dan jam tangan yang sengaja kupilih. Saat itu aku benar-benar ingin ia melihat semua simbol keberhasilanku.

Nadira datang dengan blouse sederhana dan tas kain. Wajahnya lebih kurus.

“Kamu kelihatan sehat,” katanya.

“Hidupku baik.”

“Syukurlah.”

Aku menunggu tatapan iri atau penyesalan.

Tidak ada.

Nadira justru bertanya apakah aku ingin bertemu Naufal secara rutin.

“Aku pikir kamu ingin tahu kenapa aku kembali,” kataku.

Ia memegang cangkirnya.

“Kalau kamu ingin membuatku menyesal karena kehilangan kamu, Farhan, kamu terlambat.”

Aku menatapnya tajam.

“Aku sudah menyesal setiap hari selama lima tahun. Tapi bukan karena rumahmu, mobilmu, atau pekerjaanmu.”

Sebelum aku sempat bertanya, kliniknya menelepon. Nadira pergi setelah meminta maaf.

Dua hari kemudian aku datang ke rumah lama untuk menjemput Naufal makan malam.

Saat ia berganti pakaian, aku menunggu di ruang tengah.

Naufal berteriak dari kamar, “Ayah, tolong ambil jaket hitam di lemari atas!”

Aku masuk ke kamarnya.

Saat menarik jaket, sebuah map cokelat tua jatuh dari rak.

Isinya berserakan.

Aku membungkuk untuk merapikannya.

Lalu mataku menangkap namaku sendiri.

FARHAN PRATAMA.

Tanggalnya tiga minggu sebelum malam ketika aku menemukan pesan Rendra.

Tanganku membeku saat membaca judul dokumen itu.

“Laporan Pendampingan Korban Intimidasi dan Pelecehan di Tempat Kerja.”

Nama korban: Nadira Azzahra.

Nama terlapor: Rendra Mahesa.

Di halaman kedua ada satu kalimat yang membuat lututku kehilangan tenaga.

“Terduga pelaku mengancam akan menyeret suami korban, Farhan Pratama, ke dalam perkara pemalsuan akses sistem perusahaan apabila korban menolak mengikuti instruksinya.”

#DramaKeluarga #KisahRumahTangga #CeritaIndonesia #KisahPenuhMakna #RahasiaMasaLalu

Bagian 2 — Map Cokelat Itu Membongkar Satu Kebohongan Besar, dan Nama Lelaki yang Kubenci Ternyata Menyimpan Ancaman terhadap Keluargaku Sejak Jauh Sebelum Kami Bercerai

Aku masih duduk di lantai ketika Naufal masuk ke kamar.

“Ayah kenapa?”

Aku buru-buru memasukkan kertas-kertas itu ke dalam map, tetapi tanganku gemetar terlalu keras.

“Ini punya Mama?”

Naufal mengangguk.

“Dulu Mama simpan di kamarnya. Waktu lemari rusak, dipindah ke sini.”

Aku membawa map itu ke ruang tengah dan membaca semuanya.

Ada salinan percakapan lengkap dengan Rendra.

Pesan-pesan yang lima tahun lalu kulihat ternyata hanya potongan kecil dari rangkaian ancaman yang panjang.

“Aku akan lakukan yang kamu mau” bukan pengakuan cinta.

Kalimat lengkapnya berbunyi:

“Aku akan lakukan yang kamu mau untuk rapat besok, asal jangan bawa nama Farhan dan jangan datang ke rumah kami.”

Ada juga tangkapan layar saat Rendra menulis bahwa akses sistem perusahaan pernah digunakan dari laptop yang sebelumnya kupinjamkan kepada Nadira.

Ia mengancam akan membuat seolah-olah aku mencuri data calon pembeli dan menjualnya kepada pesaing.

Aku bekerja sebagai programmer saat itu.

Tuduhan seperti itu bisa menghancurkan karierku bahkan sebelum sempat dibuktikan salah.

Di dalam map ada kartu nama seorang pengacara bantuan hukum, berita acara konsultasi, serta catatan bahwa Nadira diminta mengumpulkan bukti tanpa memancing Rendra bertindak lebih jauh.

Pintu depan terbuka.

Nadira masuk sambil membawa kantong belanja.

Begitu melihat map di tanganku, ia berhenti.

Wajahnya langsung kehilangan warna.

“Aku seharusnya tidak membacanya,” kataku. “Tapi sekarang aku sudah baca.”

Naufal berdiri canggung di antara kami. Nadira memintanya masuk kamar, lalu duduk di kursi seberangku.

“Kenapa?” tanyaku. “Kenapa kamu bilang kamu mencintai dia?”

Nadira menutup mata sebentar.

“Karena malam itu kamu sudah mau pergi ke kantornya.”

Aku teringat.

Dalam kemarahanku, aku memang sempat mengambil kunci motor dan berkata akan mencari Rendra.

“Dia tahu alamat rumah kita,” lanjut Nadira. “Dia pernah mengirim foto Naufal saat dijemput dari TK. Dia bilang kalau aku membuat keributan, dia akan memastikan kamu dituduh membobol sistem perusahaan dan dia akan membuat hidup kita tidak tenang.”

Dadaku terasa dingin.

“Kenapa tidak bilang polisi?”

“Aku sudah datang ke lembaga bantuan hukum. Mereka bilang kami butuh bukti lebih kuat. Aku takut kalau kamu tahu, kamu akan langsung menemuinya. Aku kenal kamu, Farhan.”

Aku tidak bisa menyangkalnya.

“Tapi perceraian?”

Nadira menatap meja.

“Setelah malam itu, kamu tidak mau mendengar apa pun. Kamu menyebutku pengkhianat. Kamu bilang kalau aku masih punya sedikit rasa malu, jangan pernah cari kamu lagi.”

Aku ingat kata-kata itu.

Dan mendadak aku membencinya.

Bukan Nadira.

Diriku sendiri yang mengucapkannya.

“Aku pikir kalau kamu pergi ke Surabaya, setidaknya kamu jauh dari Rendra,” katanya. “Aku pikir setelah kasusnya selesai, aku bisa menjelaskan.”

“Apa yang terjadi pada kasusnya?”

Nadira terdiam beberapa detik.

“Rendra tidak pernah jadi pacarku. Tidak pernah tinggal denganku. Tidak pernah menyentuhku dengan persetujuanku.”

Suara Nadira bergetar pada kalimat terakhir.

Aku menunduk.

Ia melanjutkan bahwa beberapa bulan setelah perceraian, dua karyawan lain juga melapor.

Perusahaan melakukan pemeriksaan internal.

Rendra diberhentikan setelah ditemukan pemalsuan dokumen dan manipulasi biaya proyek. Perkara intimidasi tidak berakhir dengan hukuman besar, tetapi cukup untuk membuatnya keluar dari Yogyakarta.

“Lalu kamu mencoba menghubungiku?”

Nadira tertawa kecil tanpa bahagia.

“Dua puluh tiga kali.”

Ia mengambil sebuah kotak dari lemari bawah.

Di dalamnya ada amplop-amplop dengan namaku.

Sebagian memiliki stempel kembali karena alamat tidak ditemukan. Ada cetakan email yang gagal terkirim.

Ada foto Naufal setiap ulang tahun, masing-masing dengan tulisan tanggal di belakangnya.

Aku membuka salah satu surat.

Hanya satu paragraf yang sanggup kubaca.

“Aku tidak meminta kamu memaafkanku. Aku cuma ingin kamu tahu bahwa Naufal masih menunggu ayahnya, dan aku tidak pernah mengajarinya membencimu.”

Aku menutup surat itu.

Nadira berkata, “Aku memang salah. Aku memilih berbohong karena takut. Aku membuat keputusan tentang hidupmu tanpa hak. Tapi aku tidak pernah mengkhianatimu seperti yang kamu pikirkan.”

Aku datang ke Yogyakarta untuk membuat perempuan ini merasa kecil.

Yang mengecil justru diriku sendiri.

Namun belum selesai.

Saat aku bertanya dari mana Arif mendapat cerita bahwa Nadira dan Rendra hidup bersama selama setahun, wajah Nadira berubah.

“Arif?”

“Iya.”

Nadira berdiri, masuk ke kamar, lalu kembali membawa satu dokumen lain.

Itu salinan hasil pemeriksaan internal perusahaan lama.

Di bagian daftar penerima transfer, ada nama yang sangat kukenal.

Arif Setiawan.

Di sebelahnya tercatat tiga pembayaran dari perusahaan vendor milik saudara Rendra.

Dan di catatan bawah tertulis:

“Diduga memberikan informasi pribadi keluarga Farhan Pratama kepada pihak Rendra.”

Aku menatap angka dan tanggal itu.

Salah satu transfer dilakukan dua hari sebelum Rendra mengirim foto Naufal kepada Nadira.

Orang yang selama lima tahun kuanggap sahabat ternyata bukan hanya menyampaikan kebohongan kepadaku.

Ia mungkin orang yang membantu Rendra menemukan keluargaku sejak awal.

Bagian 3 — Aku Ingin Membalas Nadira, tetapi Orang yang Akhirnya Jatuh Justru Lelaki yang Merusak Rumah Kami dan Kesombonganku Sendiri Selama Lima Tahun Penuh

Malam itu aku tidak langsung menemui Arif.

Lima tahun lalu aku menghancurkan hidupku karena bertindak sebelum memahami seluruh cerita.

Aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama.

Keesokan paginya aku membawa salinan dokumen kepada pengacara perusahaan kami di Surabaya.

Nadira juga menghubungi kembali lembaga bantuan hukum yang dulu mendampinginya.

Kami mengumpulkan bukti lama, riwayat transfer, surat elektronik, serta kesaksian dua mantan karyawan yang pernah mengalami intimidasi serupa.

Baru setelah semuanya tersusun, aku menghubungi Arif.

Kami bertemu di sebuah rumah makan dekat Tugu.

Ia datang sambil tersenyum lebar, memelukku, lalu bertanya kapan aku akan memperlihatkan kantor baruku.

Aku meletakkan salinan daftar transfer di meja.

Senyumnya hilang.

“Aku cuma kasih informasi,” katanya cepat. “Aku tidak tahu Rendra bakal sejauh itu.”

“Alamat rumahku. Jadwal sekolah anakku. Nomor Nadira. Itu bukan cuma informasi.”

Arif menunduk.

Ia mencoba menjelaskan bahwa saat itu ia terlilit utang dan Rendra menawarkan uang.

Katanya ia tidak pernah berniat menghancurkan rumah tanggaku.

Tetapi satu kalimatnya membuat darahku mendidih.

“Lagipula kalian memang sudah sering bertengkar, kan?”

Aku berdiri.

Lima tahun lalu mungkin aku akan memukulnya.

Hari itu aku hanya berkata, “Mulai sekarang, jelaskan semuanya kepada penyidik.”

Laporan baru diajukan dengan bukti yang sebelumnya tidak pernah tersambung menjadi satu rangkaian.

Dua mantan karyawan bersedia memberikan keterangan tambahan.

Audit lama perusahaan Rendra juga dibuka kembali setelah ditemukan dokumen vendor yang belum pernah diperiksa tuntas.

Prosesnya tidak selesai dalam semalam.

Butuh berbulan-bulan.

Rendra akhirnya menghadapi persidangan atas pemalsuan dokumen, intimidasi, dan beberapa perbuatan lain yang ditemukan dari pemeriksaan lanjutan.

Ia kehilangan posisinya di perusahaan barunya.

Pengadilan kemudian menjatuhkan hukuman penjara setelah beberapa saksi dan bukti transaksi menguatkan perkara.

Arif juga kehilangan pekerjaannya setelah keterlibatannya terbukti dalam penyalahgunaan data pribadi dan penerimaan uang.

Ia diwajibkan memberikan keterangan resmi dan menghadapi proses hukum terpisah.

Anehnya, ketika kabar itu datang, aku tidak merasa menang.

Tidak ada rasa puas seperti yang selama lima tahun kubayangkan.

Yang ada hanya satu pikiran.

Semua ini tidak mengembalikan lima tahun Naufal yang kulewatkan.

Maka aku berhenti mengejar kemenangan dan mulai melakukan sesuatu yang jauh lebih sulit.

Aku belajar menjadi ayah lagi.

Aku datang ke latihan futsal Naufal meski harus berangkat pagi dari Surabaya.

Aku membantu tugas matematikanya lewat panggilan video.

Aku ikut rapat sekolah.

Untuk pertama kalinya, aku tahu makanan favoritnya bukan mi goreng seperti saat kecil, melainkan soto ayam tanpa daun bawang.

Suatu malam setelah pertandingan sekolah, Naufal tertidur di kursi belakang mobil.

Aku dan Nadira duduk di depan dalam diam.

“Aku minta maaf,” kataku.

Nadira menatap lurus ke jalan.

“Bukan karena aku percaya pada pesan itu,” lanjutku. “Siapa pun bisa salah paham. Aku minta maaf karena setelah itu aku tidak pernah sekali pun berusaha memastikan kamu dan Naufal baik-baik saja. Aku menghukum kalian berdua untuk sesuatu yang bahkan tidak kupahami.”

Air mata Nadira jatuh.

Tetapi ia tidak langsung memaafkanku.

Dan memang seharusnya begitu.

Kami mulai konseling keluarga.

Bukan untuk kembali menikah, melainkan supaya kami bisa berbicara tanpa mengulang luka lama.

Selama berbulan-bulan, hubungan kami hanya tentang Naufal.

Lalu perlahan, sesuatu berubah.

Bukan cinta lama yang tiba-tiba hidup lagi.

Lebih seperti dua orang yang akhirnya mengenal versi baru satu sama lain.

Setahun setelah aku pulang ke Yogyakarta, kami berdiri di halaman rumah kecil yang sama.

Cat dindingnya sudah diganti.

Atap teras sudah diperbaiki.

Tidak ada pesta besar.

Tidak ada dekorasi mewah.

Hanya keluarga dekat, beberapa sahabat yang benar-benar kami percaya, dan Naufal yang berdiri di antara kami sambil menahan senyum.

Aku dan Nadira menikah kembali dalam akad sederhana.

Sebelum para tamu datang, aku sempat berdiri sendiri di ruang tengah.

Di tempat itulah dulu aku pernah merasa sebagai lelaki paling terhina di dunia.

Kini aku mengerti sesuatu yang jauh lebih pahit.

Dendam membuatku bekerja keras, tetapi juga membuatku buta.

Selama lima tahun aku ingin Nadira menyesal karena kehilangan diriku.

Pada akhirnya, akulah yang harus hidup dengan penyesalan karena pernah meninggalkan anakku dan menolak mencari kebenaran.

Nadira tidak pernah meminta aku membayar lima tahun itu.

Naufal juga tidak.

Karena itu aku berjanji pada diriku sendiri: sisa hidupku bukan untuk membalas masa lalu, melainkan memastikan dua orang yang pernah kutinggalkan tidak perlu lagi bertanya apakah aku akan pulang.

Kali ini, aku benar-benar tinggal.