Setiap Kali Suamiku Melewati Batas Demi Cinta Pertamanya, Aku Menagih Harga—Saat Modal dan Bungaku Kembali, Aku Menyerahkan Nama Istri CEO Itu Kepadanya di Depan Semua Orang pada Gala Perusahaan

Avatar penulis
Cerita 03
16 menit baca 1,295 tayangan
Auto Draft
Indeks

Setiap Kali Suamiku Melewati Batas Demi Cinta Pertamanya, Aku Menagih Harga—Saat Modal dan Bungaku Kembali, Aku Menyerahkan Nama Istri CEO Itu Kepadanya di Depan Semua Orang pada Gala Perusahaan

Bagian 1 — Saat Adrian Membawa Cinta Lamanya ke Rumah dan Memintaku Pindah Kamar, Aku Menambahkan Biaya untuk Setiap Batas yang Ia Langgar

Aku sudah lupa kapan tepatnya pernikahanku dengan Adrian berubah menjadi daftar harga.

Mungkin sejak pertama kali ia membatalkan makan malam ulang tahun pernikahan kami demi menjemput Kirana di bandara.

Mungkin sejak ia mulai menyimpan nomor perempuan itu dengan nama samaran.

Atau mungkin sejak aku sadar bahwa meminta seorang laki-laki memilihmu dengan tulus jauh lebih melelahkan daripada sekadar membuatnya membayar setiap kali ia menyakitimu.

Malam ketika semuanya benar-benar berubah, aku sedang duduk di ruang keluarga rumah kami di Pondok Indah, Jakarta Selatan, memeriksa laporan investasi di tablet.

Pintu depan terbuka.

Adrian masuk lebih dulu.

Di belakangnya berdiri Kirana Maheswari.

Mantan penyanyi yang beberapa tahun terakhir lebih sering tampil sebagai presenter televisi, perempuan yang namanya pernah Adrian sebut dalam tidur ketika perusahaan kami bahkan belum memiliki kantor sendiri.

Ia membawa dua koper besar.

Aku mengangkat mata.

Adrian tidak tampak bersalah.

“Nara,” katanya datar, “Kirana akan tinggal di sini sementara.”

Aku menutup tablet.

“Berapa lama?”

“Belum tahu.”

Kirana tersenyum tipis.

Ia mengenakan gaun krem sederhana, tetapi tas di lengannya bernilai hampir sama dengan mobil pertama yang dulu kubelikan untuk Adrian.

“Aku sebenarnya sudah bilang mau tinggal di apartemen,” katanya lembut. “Tapi Adrian khawatir kondisiku.”

Aku menoleh kepada suamiku.

“Kondisi apa?”

Adrian mengembuskan napas seperti orang yang dipaksa menjelaskan sesuatu yang seharusnya sudah kumengerti.

“Kirana sedang hamil.”

Ruangan mendadak terasa terlalu sunyi.

Aku tidak bertanya siapa ayahnya.

Tidak perlu.

Cara Adrian berdiri setengah langkah di depan perempuan itu sudah cukup memberikan jawaban yang paling menyakitkan.

Namun aku juga tidak menangis.

Aku hanya mengambil ponsel.

Membuka kalkulator.

Adrian langsung menegang.

“Nara.”

Aku mengetik beberapa angka.

“Kamar tamu di lantai dua kosong. Dia bisa tinggal di sana.”

“Kirana sulit naik turun tangga.”

“Kalau begitu kamar kerja di bawah.”

“Dokter menyarankan kamar yang lebih luas dan tenang.”

Aku menatapnya.

“Kamar utama?”

Adrian diam.

Kirana buru-buru menggenggam lengannya.

“Sudahlah, Dri. Aku tidak masalah di mana saja.”

Nada suaranya terdengar begitu sopan hingga hampir meyakinkan.

Hampir.

Adrian justru semakin tegas.

“Kamu pindah ke kamar sebelah. Kirana menempati kamar utama untuk sementara.”

Aku tersenyum.

“Baik.”

Wajah Adrian berubah, mungkin karena ia sudah bersiap menghadapi tangisan atau amarah.

Aku memutar layar kalkulator ke arahnya.

“Rp2,4 miliar.”

“Apa?”

“Biaya mengambil kamar utama.”

Rahangnya mengeras.

“Nara, jangan mulai lagi.”

“Aku belum selesai.”

Aku menunjuk koridor menuju kamar tidur kami.

“Lemari walk-in itu dirancang berdasarkan ukuranku. Kamar mandi dirombak sesuai pilihanku. Balkon direnovasi dengan uang pribadiku. Dan yang paling penting, kamar itu adalah satu-satunya ruang di rumah ini yang selama sembilan tahun secara terbuka menunjukkan bahwa aku adalah istrimu.”

Aku menambahkan angka.

“Karena sekarang perempuan yang sedang mengandung anakmu akan menempatinya, ada tambahan kompensasi penghinaan.”

Layar berubah menjadi Rp3,2 miliar.

Kirana memucat.

Adrian menatapku seolah aku baru mengatakan sesuatu yang menjijikkan.

“Kamu benar-benar sudah kehilangan hati.”

Aku tertawa kecil.

“Aneh.”

“Ketika kamu kehilangan kesetiaan, kamu menyebutnya keadaan.”

“Ketika aku kehilangan hati, kamu menyebutnya kesalahan.”

“Nara!”

“Transfer saja.”

Ia mengusap wajah dengan kasar.

“Semua harus dihitung dengan uang?”

“Sekarang, iya.”

Aku mendekatinya.

“Dulu aku menghitung berapa kali kamu pulang larut.”

“Berapa kali kamu berbohong.”

“Berapa kali aku menunggumu.”

“Berapa kali aku memaafkanmu.”

“Itu melelahkan.”

Aku mengetuk layar ponsel.

“Angka jauh lebih sederhana.”

Kirana menunduk, kemudian berkata pelan, “Aku tidak ingin menjadi penyebab kalian bertengkar.”

Aku menatapnya.

“Tenang saja. Kamu bukan penyebabnya.”

Ia mengangkat kepala.

“Penyebabnya berdiri di sebelahmu.”

Wajah Adrian langsung mengeras.

Namun beberapa detik kemudian ia mengambil ponselnya.

Suara notifikasi terdengar.

Rp3.200.000.000 masuk ke rekeningku.

Aku melihat saldo itu cukup lama.

Bukan karena jumlahnya besar.

Melainkan karena setelah bertahun-tahun, angka yang kutunggu akhirnya semakin dekat.

“Terima kasih.”

Aku bangkit.

“Kamar utama milik kalian mulai malam ini.”

“Nara.”

Aku berhenti.

Adrian tampaknya terganggu oleh ketenanganku.

“Kamu bahkan tidak ingin bertanya soal bayi ini?”

Aku menatapnya sebentar.

“Aku sedang menunggu hasil yang lebih penting.”

“Hasil apa?”

“Saldo akhir.”

Ia tidak mengerti.

Bagus.

Semakin sedikit ia memahami rencanaku, semakin mudah aku menyelesaikannya.

Sembilan tahun lalu, ketika perusahaan logistik Adrian hampir bangkrut karena dua investor menarik dana bersamaan, tidak ada bank yang mau memberinya pinjaman.

Ayahnya menolak membantu.

Teman-temannya berhenti mengangkat telepon.

Aku yang datang.

Aku menjual rumah batik tua peninggalan kakekku di Laweyan, Solo.

Rumah dengan halaman belakang tempat ibuku menikah.

Tempat aku belajar membatik bersama nenek.

Tempat yang seharusnya tidak pernah dijual.

Nilainya saat itu Rp18 miliar.

Semua uangnya masuk ke perusahaan Adrian.

Ia menangis ketika menerima transfer.

Ia memelukku sampai bahuku basah.

“Aku akan kembalikan semuanya,” katanya.

“Rumah itu juga.”

“Suatu hari aku akan membelinya kembali untukmu.”

Aku percaya.

Ternyata manusia memang paling mudah ditipu oleh seseorang yang dicintainya sendiri.

Malam itu aku memindahkan barang-barangku dari kamar utama.

Aku hanya membawa pakaian, dokumen, laptop, dan sebuah kotak kayu kecil berisi foto keluarga.

Hadiah Adrian kutinggalkan.

Jam.

Perhiasan.

Tas.

Kotak musik.

Bahkan cincin berlian yang diberikannya saat ulang tahun pernikahan kelima.

Semua kuambil fotonya.

Satu per satu.

Lalu kuunggah ke akun marketplace barang mewah bekas yang selama ini kubuat diam-diam.

Judulnya singkat.

“Hadiah dari pernikahan yang sudah tidak diperlukan. Harga bisa dinegosiasikan, kenangan tidak termasuk.”

Dalam dua jam, tiga tas terjual.

Sebuah jam laku.

Satu gelang berlian mendapat penawaran tinggi.

Pukul sebelas malam, aku menerima pesan dari notaris di Solo.

Bu Ratih: Pemilik rumah Laweyan bersedia menjual. Tetapi beliau meminta pelunasan maksimum dalam tiga puluh hari. Harga akhirnya Rp27,5 miliar.

Tanganku berhenti.

Rumah itu masih ada.

Pohon sawo tua di halaman belakang masih ada.

Pintu jatinya masih sama.

Bahkan ubin bermotif bunga yang dipilih nenekku belum diganti.

Aku sudah melihat foto terbarunya.

Sudah sembilan tahun aku menunggu kesempatan membelinya kembali.

Aku membuka catatan keuangan.

Semua “kompensasi” Adrian selama dua tahun terakhir tercatat rapi.

Membatalkan liburan karena Kirana sakit: Rp700 juta.

Menyewa apartemen untuk Kirana: Rp1,1 miliar.

Memberikan kalung yang seharusnya menjadi hadiah ulang tahunku: Rp850 juta.

Menghapus fotoku dari acara perusahaan karena Kirana hadir: Rp1,6 miliar.

Dan malam ini: Rp3,2 miliar.

Aku menghitung semuanya.

Masih kurang.

Rp2,8 miliar lagi.

Hanya sedikit.

Terdengar tawa dari kamar utama.

Lalu langkah kaki.

Pintu kamar tamuku dibuka tanpa diketuk.

Kirana berdiri di sana mengenakan jubah mandi milikku.

Bukan miliknya.

Milikku.

Ia menyandarkan bahu ke kusen pintu.

“Maaf, Kak Nara. Adrian bilang aku boleh memakai barang-barang di kamar utama.”

Aku menatap jubah itu.

Ia tersenyum.

“Termasuk ini.”

Aku mengambil ponsel.

Membuka kalkulator.

Kirana terkekeh.

“Mau menagih lagi?”

“Benar.”

Aku mengetik.

“Rp300 juta.”

Wajahnya berubah.

“Hanya karena jubah mandi?”

“Bukan.”

Aku mengangkat mata.

“Rp50 juta untuk memakai barang pribadiku tanpa izin.”

“Rp100 juta karena datang ke kamarku untuk pamer.”

“Rp150 juta karena mengira aku masih cukup mencintai Adrian untuk merasa cemburu.”

Senyumnya hilang.

Aku berdiri dan mendekat.

“Kirana, dengarkan baik-baik.”

“Ambil kamarku.”

“Ambil kursiku di mobil.”

“Ambil tempatku di sebelahnya saat acara perusahaan.”

“Kalau mau, ambil juga nama belakangnya.”

“Tapi setiap kali kalian mengambil sesuatu yang dulu menjadi milikku…”

Aku tersenyum tipis.

“…aku akan memastikan nilainya kembali kepadaku dalam bentuk yang tidak bisa dikhianati.”

Tiba-tiba Adrian muncul di belakangnya.

Ia jelas mendengar semuanya.

Tatapannya dingin.

“Keterlaluan.”

Aku menunjukkan layar.

“Kalau begitu jangan bayar.”

Adrian mencibir.

“Aku memang tidak akan membayar.”

“Bagus.”

Aku mengunci ponsel.

“Mulai besok aku akan kembali memakai kamar utama.”

Wajah Kirana berubah panik.

Adrian langsung mengeluarkan ponselnya.

Beberapa detik kemudian notifikasi bank terdengar.

Rp300 juta.

Aku tersenyum.

“Transaksi selesai.”

Aku menutup pintu di depan wajah mereka.

Namun sebelum sempat kembali ke tempat tidur, ponselku berbunyi lagi.

Pesan dari sekretaris lama Adrian, Maya.

Nara, aku tidak tahu apakah aku seharusnya memberitahumu.

Besok pagi dewan direksi rapat tertutup.

Adrian akan menghapus namamu dari daftar pendiri perusahaan.

Dan di gala ulang tahun perusahaan minggu depan, Kirana akan diperkenalkan kepada mitra bisnis sebagai perempuan yang akan mendampinginya ke depan.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Lalu tiga kali.

Akhirnya aku membuka kalkulator lagi.

Kali ini aku tidak tersenyum.

Karena untuk pertama kalinya, Adrian bukan sedang mengambil kamar, kursi, atau sebuah acara dariku.

Ia sedang mencoba menghapus sejarah.

Dan harga untuk itu…

akan jauh lebih mahal.

#DramaKeluarga #CeritaPernikahan #WanitaBerani #KisahPengkhianatan #CeritaViral

Bagian 2 — Ketika Namaku Dihapus dari Gala Perusahaan, Aku Menagih Lebih Mahal dan Menemukan Dokumen Lama yang Bisa Mengubah Seluruh Permainan Keluarga

Pagi berikutnya Adrian sarapan seperti tidak terjadi apa-apa.

Kirana duduk di sampingnya.

Kursi yang biasanya kutempati sudah bergeser ke ujung meja.

Aku mengambil kopi.

Adrian tidak mengangkat wajah ketika berkata, “Gala ulang tahun perusahaan Jumat depan, kamu tidak perlu datang.”

Aku menyeruput kopi.

“Berapa anggaran dekorasinya?”

Ia menatapku.

“Apa?”

“Aku hanya ingin tahu seberapa mahal pesta tempat istrinya sendiri dilarang hadir.”

“Nara, jangan mempersulit.”

“Kirana sedang mulai kembali ke publik. Aku ingin memperkenalkannya kepada beberapa mitra.”

“Sebagai apa?”

Hening.

Kirana langsung menyela.

“Kak, jangan salah paham. Aku hanya menemani Adrian.”

Aku tertawa kecil.

“Orang yang hanya menemani tidak biasanya meminta namaku dihapus dari daftar pendiri.”

Sendok di tangan Adrian berhenti.

Sekarang ia tahu aku sudah mendengar soal rapat.

“Perusahaan sudah berkembang,” katanya. “Daftar pendiri itu harus disesuaikan dengan struktur profesional.”

“Profesional?”

Aku menaruh cangkir.

“Ketika gudang pertama perusahaan kebanjiran di Marunda, siapa yang tidur tiga malam di sana?”

Ia diam.

“Ketika pelanggan terbesar mau memutus kontrak, siapa yang terbang ke Surabaya dan bernegosiasi sampai jam dua pagi?”

Diam lagi.

“Ketika gaji karyawan tertunggak empat bulan, siapa yang menjual rumah warisan keluarganya?”

Wajah Kirana mulai tidak nyaman.

Adrian menjawab dingin.

“Semua itu sudah lama.”

“Benar.”

Aku mengangguk.

“Karena itulah aku hanya meminta uang.”

“Rp4 miliar.”

Ia tertawa tidak percaya.

“Untuk tidak datang ke gala?”

“Rp1,5 miliar karena menghapus namaku dari panggung.”

“Rp1 miliar karena menggunakan jaringan relasi yang selama bertahun-tahun kubangun.”

“Rp1,5 miliar karena kamu akan membawa perempuan yang sedang mengandung anakmu ke tempat yang selama ini memperkenalkanku sebagai istri.”

“Aku bahkan memberi diskon.”

Adrian berdiri.

“Kamu sudah gila.”

Aku hanya membuka aplikasi bank.

“Tidak perlu bayar.”

“Kalau begitu aku akan datang.”

“Kamu berani?”

Aku mengangkat alis.

“Kenapa tidak?”

“Aku punya undangan.”

“Namaku masih tercatat sebagai komisaris nonaktif di beberapa dokumen lama.”

“Dan aku masih istrimu secara hukum.”

Kirana menggenggam tangan Adrian.

Gerakan kecil itu sudah cukup.

Lima menit kemudian, Rp4 miliar masuk.

Aku tidak berkata apa-apa.

Aku langsung mengirim pesan kepada Bu Ratih.

Saya akan melunasi rumah Laweyan minggu ini.

Untuk pertama kalinya setelah sembilan tahun, dadaku terasa ringan.

Modal rumah itu kembali.

Bahkan lebih.

Tetapi ketika aku membuka brankas kecil untuk mengambil dokumen identitasku, sebuah map tua terjatuh.

Map cokelat.

Logo kantor notaris masih tercetak di sudut.

Aku hampir membuangnya.

Lalu melihat tanggal.

Sembilan tahun lalu.

Malam ketika uang hasil penjualan rumah Laweyan masuk ke perusahaan Adrian.

Aku membukanya.

Di dalamnya ada perjanjian pendanaan yang dibuat atas saran almarhum ayahku.

Aku sudah lupa.

Mungkin karena saat itu aku terlalu percaya kepada Adrian untuk membaca ulang isi dokumen.

Dana Rp18 miliar bukan dicatat sebagai hadiah.

Bukan pula sebagai harta bersama.

Itu adalah pinjaman pemegang kepentingan kepada PT Arunika Trans Logistik.

Jatuh tempo tujuh tahun.

Jika belum dibayar setelah jatuh tempo, aku memiliki hak meminta konversi utang menjadi saham berdasarkan valuasi pada saat dana diberikan, maksimal 21 persen.

Tanganku membeku.

Tujuh tahun sudah lewat dua tahun lalu.

Tidak pernah dibayar.

Aku membaca setiap halaman.

Tanda tangan Adrian ada.

Tanda tangan dua saksi ada.

Cap notaris ada.

Aku langsung menelepon pengacara keluarga, Pak Seno.

Sore itu kami bertemu di kantornya.

Ia membaca dokumen selama hampir empat puluh menit.

Lalu melepas kacamatanya.

“Nara.”

“Ya?”

“Adrian tidak hanya berutang kepada Anda.”

“Secara kontraktual, Anda bisa meminta penyelesaian melalui pembayaran penuh beserta bunga yang disepakati…”

Ia menunjuk satu klausul.

“…atau menjalankan opsi konversi.”

“Berapa nilai dua puluh satu persen perusahaan sekarang?”

Ia tersenyum tipis.

“Jauh lebih mahal dari rumah Anda.”

Aku tidak langsung menjawab.

Aku tidak ingin merebut perusahaan.

Aku tidak ingin berperang bertahun-tahun.

Aku hanya ingin mengambil apa yang memang milikku dan pergi.

“Kalau aku memilih penyelesaian tunai?”

“Kita bisa mengirimkan somasi.”

“Dan jika dia menolak?”

“Kita ajukan sengketa.”

Aku menutup map.

“Jangan kirim dulu.”

Pak Seno mengerutkan kening.

“Kenapa?”

Aku melihat tanggal gala perusahaan.

Jumat.

Empat hari lagi.

“Karena Adrian ingin menghapus namaku dari sejarah perusahaan di depan semua orang.”

Aku tersenyum.

“Kurasa dia berhak mengetahui berapa mahal harga sebuah penghapus.”

Malam sebelum gala, Kirana datang ke kamarku.

Kali ini ia tidak tersenyum.

“Aku tahu kamu membenciku.”

“Aku tidak punya energi sebanyak itu.”

“Adrian mencintaiku.”

“Selamat.”

“Kami akan membangun keluarga.”

“Bagus.”

Ia tampak kesal karena tidak berhasil memancing reaksiku.

Kemudian ia mengeluarkan sebuah amplop.

“Surat cerai.”

Aku melihatnya.

“Adrian menyuruhmu mengantarkannya?”

“Dia ingin semuanya selesai baik-baik.”

Aku membuka amplop.

Di dalamnya ada rancangan penyelesaian.

Aku mendapat sebuah apartemen.

Satu mobil.

Dan Rp5 miliar.

Sebagai imbalan, aku melepaskan seluruh tuntutan terhadap perusahaan.

Aku hampir tertawa.

Kirana salah mengartikan diamku.

“Menurutku jumlah itu sangat besar.”

Aku memandangnya.

“Kirana, tahukah kamu kenapa Adrian masih kaya?”

Ia menggeleng.

“Karena selama sembilan tahun dia selalu salah menghitung harga yang harus dibayarnya.”

Aku mengambil pena.

Bukan untuk menandatangani.

Aku menulis satu angka besar di halaman pertama.

Rp86.000.000.000.

Lalu kukembalikan amplop itu.

Kirana pucat.

“Ini apa?”

“Harga terbaru.”

“Untuk bercerai?”

“Bukan.”

Aku tersenyum.

“Untuk melunasi utang lama sebelum aku memutuskan apakah dua puluh satu persen Arunika Trans Logistik masih ingin kutukar dengan uang.”

Ia menatapku seolah baru sadar bahwa permainan yang selama ini dianggapnya lucu ternyata tidak pernah berada di tangan Adrian.

“Bawa ini kepadanya.”

Aku menutup pintu.

“Dan bilang…”

“Besok malam aku tetap datang ke gala.”


Bagian 3 — Pada Malam Mereka Mengumumkan Penggantiku sebagai Nyonya Rumah, Aku Datang Membawa Bukti Utang, Saham, dan Kunci Kehidupan Baru yang Sudah Kubeli Sendiri

Ballroom hotel di SCBD penuh ketika aku datang.

Aku mengenakan kebaya hitam sederhana rancangan desainer Solo.

Tidak ada berlian dari Adrian.

Tidak ada tas pemberiannya.

Bahkan cincin pernikahan sudah kulepas.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sembilan tahun, tidak ada satu benda pun di tubuhku yang berasal darinya.

Beberapa orang menatap kaget.

Adrian sedang berdiri di panggung bersama Kirana.

Perempuan itu mengenakan gaun biru tua.

Tangannya menggenggam lengan Adrian seperti posisi itu sudah menjadi miliknya.

Aku baru melangkah beberapa meter ketika Adrian turun dari panggung.

“Apa yang kamu lakukan di sini?”

“Aku menghadiri ulang tahun perusahaan yang kubantu selamatkan.”

“Nara.”

Ia menahan suaranya.

“Kita sudah sepakat kamu tidak datang.”

Aku membuka ponsel.

“Tidak.”

“Kamu membayar agar aku tidak datang sebagai istri yang mendampingimu.”

“Aku datang sebagai kreditur.”

Wajahnya langsung berubah.

Pak Seno muncul dari belakangku.

Bersamanya dua perwakilan hukum perusahaan.

Adrian melihat map di tangannya dan mendadak pucat.

“Kita bicara di ruang belakang.”

“Kenapa?”

Aku menatap panggung.

“Tadi kamu berniat menghapus namaku di depan semua orang.”

“Bukankah lebih efisien kalau kita menyelesaikannya di tempat yang sama?”

Beberapa komisaris mulai mendekat.

Ketua dewan, Pak Hartono, mengambil dokumen dari tangan Pak Seno.

Semakin ia membaca, semakin dalam kerutan di dahinya.

“Adrian,” katanya akhirnya, “kenapa kewajiban ini tidak pernah dilaporkan sebagai sengketa potensial?”

“Aku…”

Adrian menatapku.

“Nara tidak pernah menagih.”

Aku tertawa kecil.

“Aku menagih setiap hari.”

“Kamu hanya terlalu sibuk membayar hal-hal lain.”

Ruangan menjadi sunyi.

Aku menyerahkan surat resmi.

Ada dua pilihan.

Perusahaan membayar pokok, bunga kontraktual, dan kompensasi sesuai hasil audit.

Atau aku menjalankan opsi konversi.

Berdasarkan dokumen pendanaan awal, persentasenya dapat mencapai dua puluh satu persen setelah proses verifikasi dan persetujuan korporasi.

Aku tidak mengancam.

Tidak berteriak.

Tidak membongkar perselingkuhan Adrian melalui mikrofon.

Aku hanya berdiri di sana dengan dokumen yang ditandatanganinya sendiri sembilan tahun lalu.

Itu jauh lebih efektif.

Pertemuan darurat berlangsung hampir dua jam.

Kirana akhirnya duduk sendirian di sudut ballroom.

Tidak ada lagi fotografer yang mendekatinya.

Tidak ada lagi mitra bisnis yang meminta berkenalan.

Menjelang tengah malam, Adrian keluar dari ruang rapat.

Wajahnya kelelahan.

“Apa yang sebenarnya kamu inginkan?”

Pertanyaan itu hampir membuatku kasihan.

Hampir.

“Apa menurutmu aku ingin perusahaanmu?”

“Kamu meminta puluhan miliar.”

“Aku meminta milikku.”

“Aku bisa memberikan lebih.”

“Tidak perlu.”

“Nara…”

Ia mendekat.

“Jangan lakukan ini karena marah.”

Aku menatap laki-laki yang pernah membuatku menjual rumah keluargaku demi menyelamatkan mimpinya.

“Adrian, ini bukan marah.”

“Kalau aku masih marah, berarti aku masih berharap.”

“Aku sudah melewati tahap itu.”

Beberapa minggu berikutnya berlangsung melalui pengacara dan auditor.

Tidak ada adegan dramatis.

Tidak ada orang masuk penjara.

Tidak ada perusahaan runtuh dalam semalam.

Yang terjadi jauh lebih realistis.

Dan menurutku, jauh lebih memuaskan.

Dewan menolak membiarkan sengketa kepemilikan berlarut-larut karena perusahaan sedang menyiapkan pendanaan baru.

Akhirnya disepakati penyelesaian tunai.

Nilainya sedikit lebih rendah daripada angka pertama yang kami tuntut, tetapi tetap cukup untuk mengembalikan dana awal, bunga, dan hak ekonomiku selama bertahun-tahun.

Setelah pajak dan biaya hukum, aku menerima jumlah yang membuatku tidak perlu lagi menghitung penghinaan sekecil apa pun.

Aku juga menandatangani perceraian.

Tidak meminta rumah Pondok Indah.

Tidak meminta mobil Adrian.

Tidak meminta perhiasan.

Aku hanya mengambil barang milikku sendiri.

Pada hari terakhir, Adrian berdiri di depan pintu kamar tamu.

“Kirana sudah pindah.”

Aku terus memasukkan buku ke koper.

“Baik.”

“Bayinya bukan alasan semuanya terjadi.”

“Aku tahu.”

“Aku yang salah.”

Tanganku berhenti sebentar.

Dulu aku menunggu kalimat itu selama bertahun-tahun.

Sekarang setelah mendapatkannya, rasanya biasa saja.

“Nara.”

Aku menoleh.

“Apa masih ada harga yang bisa kubayar supaya kamu tidak pergi?”

Untuk pertama kalinya, aku tersenyum tanpa rasa pahit.

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena benda yang masih punya harga berarti masih dijual.”

“Aku sudah tidak menjual diriku kepadamu.”

Sebulan kemudian, aku kembali ke Solo.

Mobil berhenti di depan rumah tua di Laweyan.

Pintu jatinya sudah dipoles.

Pohon sawo di halaman masih berdiri.

Ubin bunga peninggalan nenek masih utuh.

Bu Ratih menyerahkan sebuah amplop.

Di dalamnya ada sertifikat dan kunci.

Atas namaku.

Aku berdiri cukup lama di ambang pintu.

Lalu menangis.

Bukan karena Adrian.

Bukan karena Kirana.

Bukan karena sembilan tahun pernikahan yang berakhir.

Aku menangis karena akhirnya bisa membawa diriku sendiri pulang.

Rumah itu kemudian kuubah menjadi studio batik dan galeri kecil.

Aku mempekerjakan pengrajin lokal.

Sebagian ruang belakang kujadikan kelas untuk perempuan yang ingin memulai usaha rumahan.

Hidupku tidak berubah menjadi sempurna.

Aku tetap harus bekerja.

Tetap menghadapi masalah.

Tetap belajar tidur sendiri.

Tetapi untuk pertama kalinya, ketenanganku tidak bergantung pada kesetiaan siapa pun.

Beberapa bulan kemudian aku membaca berita bahwa Adrian mundur sementara dari posisi direktur utama setelah konflik internal dengan dewan.

Hubungannya dengan Kirana juga berakhir sebelum anak itu lahir.

Aku tidak mencari tahu alasannya.

Itu bukan lagi urusanku.

Yang kutahu hanya satu.

Dulu orang-orang menertawakanku karena mengubah luka menjadi angka.

Mereka bilang aku perempuan mata duitan.

Mungkin mereka benar dalam satu hal.

Aku memang akhirnya memilih uang.

Bukan karena uang lebih penting daripada cinta.

Tetapi karena ketika cinta yang salah membuatku kehilangan rumah, martabat, dan diriku sendiri…

uang itulah yang memberiku jalan untuk membeli semuanya kembali.

Semua kecuali satu hal.

Waktu.

Karena itu, di kehidupan baruku, aku berjanji tidak akan pernah lagi menghabiskan waktu menunggu seseorang menghargai batas yang sudah berkali-kali ia injak.

Aku sudah mengembalikan semua yang pernah diberikan Adrian kepadaku.

Hadiah.

Rumah.

Nama belakang.

Dan status sebagai istrinya.

Sebaliknya, aku mengambil kembali seluruh milikku.

Modal.

Bunga.

Rumah peninggalan keluarga.

Harga diri.

Dan diriku sendiri.

Kali ini, tidak ada satu pun yang akan kujual lagi.