Setelah Kebenaran Utang Lama Terungkap, Nara dan Arga Memilih Memulai Kembali Bukan Karena Anak, Melainkan Karena Mereka Masih Saling Mencintai

Avatar penulis
Cerita 05
7 menit baca 158 tayangan
Indeks

BAGIAN 3 — Setelah Kebenaran Utang Lama Terungkap, Nara dan Arga Memilih Memulai Kembali Bukan Karena Anak, Melainkan Karena Mereka Masih Saling Mencintai

Nama yang disebutkan ayah membuat Arga berdiri membeku.

Orang itu adalah mantan rekan bisnis kakaknya.

Bertahun-tahun lalu, setelah kakak Arga meninggal, dialah yang membantu mengurus sebagian dokumen usaha.

Ayah menjelaskan bahwa utang tersebut sebenarnya telah dibayar tunai secara bertahap.

Namun ketika pembayaran terakhir dilakukan, kakak Arga sedang sakit.

Uang itu diterima oleh rekan bisnisnya.

—Ayah punya bukti?

Arga bertanya.

Ayah mengangguk.

—Ada kuitansi.

Ternyata selama bertahun-tahun, kuitansi itu tersimpan bersama dokumen perusahaan lama.

Ayah tidak pernah membicarakannya karena menganggap masalah tersebut telah selesai.

Arga pun tidak pernah tahu.

Beberapa hari kemudian, setelah aku diperbolehkan pulang, semuanya mulai diperiksa kembali.

Tidak ada pertengkaran besar.

Tidak ada balas dendam.

Kami hanya mengumpulkan dokumen, mencocokkan catatan lama, dan meminta bantuan pihak yang memahami persoalan hukum serta keuangan.

Hasilnya menjelaskan hampir semua kebingungan.

Uang pelunasan memang pernah diberikan.

Tetapi tidak pernah tercatat sebagai pembayaran utang.

Sebagian dokumen lama juga tidak pernah diserahkan kepada keluarga Arga.

Mantan rekan bisnis kakaknya akhirnya mengakui bahwa saat perusahaan sedang kacau, ia menahan beberapa pembayaran untuk menutup masalah keuangannya sendiri.

Keluarga memilih menyelesaikan persoalan itu melalui jalur yang semestinya.

Namun bagiku, kebenaran tersebut membawa pelajaran yang jauh lebih menyakitkan.

Pernikahanku tidak hancur karena wanita lain.

Tidak karena pengkhianatan.

Bahkan bukan karena uang.

Pernikahan kami hancur karena dua orang yang saling mencintai memilih membuat kesimpulan sendiri daripada duduk dan mengatakan kebenaran.

Arga mengira menyembunyikan masalah berarti melindungiku.

Aku mengira diamnya berarti pengkhianatan.

Kami sama-sama merasa sedang mempertahankan harga diri.

Pada akhirnya, kami kehilangan hampir satu tahun kehidupan bersama.

Setelah aku pulang dari rumah sakit, Arga tidak langsung pindah bersamaku.

Aku juga tidak memintanya.

Dia datang setiap pagi membawa sarapan.

Memandikan bayi.

Mengganti popok.

Mencuci botol susu.

Kemudian pulang pada malam hari.

Minggu pertama, aku bertanya:

—Kamu tidak bekerja?

—Aku mengambil cuti.

—Berapa lama?

—Cukup lama.

Aku menatap curiga.

—Jangan bilang kamu meninggalkan pekerjaan.

Arga tertawa.

—Tidak. Aku sudah belajar. Sekarang kalau mengambil keputusan besar, aku akan memberitahumu.

Aku ikut tertawa.

Kalimat sederhana itu terasa seperti awal baru.

Kami memberi nama putri kami Kirana.

Bukan karena nama itu memiliki hubungan dengan masa lalu.

Aku hanya menyukai artinya yang mengingatkanku pada cahaya.

Beberapa minggu berikutnya, Arga belajar menjadi ayah.

Dia sangat buruk dalam memasang popok.

Pertama kali melakukannya, bagian belakang justru berada di depan.

Aku tertawa sampai bekas luka persalinanku terasa sakit.

—Jangan tertawa. Ini lebih sulit daripada mengurus laporan toko.

—Kamu memasangnya terbalik!

—Kirana tidak protes.

Seolah memahami namanya disebut, bayi kecil itu langsung menangis.

Aku menatap Arga.

—Nah. Sekarang dia protes.

Rumah kecilku yang dahulu terasa sepi mulai dipenuhi suara.

Tangisan bayi.

Suara air.

Suara Arga berjalan mondar-mandir tengah malam sambil menggendong Kirana.

Namun ada satu hal yang tidak pernah dia lakukan.

Dia tidak pernah meminta kami menikah lagi.

Suatu malam aku akhirnya bertanya:

—Kamu tidak ingin kita kembali?

Arga yang sedang membuat susu berhenti bergerak.

—Ingin.

—Lalu kenapa tidak pernah bilang?

Dia menaruh botol di meja.

—Karena dulu aku terlalu sering mengambil keputusan untukmu.

Dia menatapku.

—Kali ini aku ingin kamu memilih tanpa tekanan.

—Bukan karena Kirana.

—Bukan karena rumah.

—Bukan karena kita pernah bersama delapan tahun.

—Kalau kamu memilihku lagi, aku ingin itu karena kamu memang masih ingin menjalani hidup bersamaku.

Aku tidak langsung menjawab.

Karena untuk pertama kalinya, Arga memberikan sesuatu yang dulu tidak kami miliki dalam pernikahan.

Ruang untuk berbicara.

Kami mulai berkencan lagi.

Kedengarannya aneh.

Dua orang yang pernah menikah, bercerai, lalu memiliki seorang anak bersama pergi minum kopi seperti pasangan baru.

Pada kencan pertama, Kirana ikut bersama kami.

Setengah jam kemudian dia menangis.

Arga menggendongnya sambil berkata:

—Sepertinya dia tidak menyukai tempat yang kupilih.

Aku menjawab:

—Selera dia mengikuti ibunya.

Kami tertawa.

Perlahan, aku mengenal Arga lagi.

Bukan Arga yang ada dalam ingatanku.

Bukan suami yang pernah membuatku kecewa.

Melainkan seorang pria yang telah belajar dari kesalahannya.

Dan dia juga mengenalku kembali.

Aku belajar mengatakan ketika marah.

Mengatakan ketika takut.

Mengatakan ketika membutuhkan bantuan.

Tidak lagi berharap dia membaca pikiranku.

Enam bulan berlalu.

Suatu sore, Arga membawaku dan Kirana ke sebuah rumah.

Aku mengenalinya sejak melihat pagar depan.

Rumah yang dulu ingin kami beli.

Rumah dalam dokumen itu.

Arga menyerahkan kunci kepadaku.

—Ini milikmu dan Kirana.

Aku tidak mengambilnya.

—Milik kita.

Dia terdiam.

Aku tersenyum.

—Kalau kamu masih mau.

Mata Arga langsung memerah.

—Nara…

—Tapi ada syarat.

—Apa saja.

—Tidak ada lagi keputusan sepihak.

—Setuju.

—Tidak ada rahasia dengan alasan melindungi.

—Setuju.

—Kalau marah, kita bicara.

—Setuju.

Aku menatapnya.

—Dan kalau suatu hari kita bertengkar besar lagi, tidak boleh ada yang mengucapkan kata cerai hanya karena emosi.

Arga tertawa kecil.

—Yang itu harus ditulis dan ditempel di ruang tamu.

Aku akhirnya menyerahkan Kirana kepadanya.

Lalu mengambil kunci rumah.

Setahun setelah hari aku melahirkan, kami kembali mendaftarkan pernikahan.

Tidak ada pesta besar.

Tidak ada ratusan tamu.

Hanya keluarga dekat dan beberapa sahabat.

Kali ini aku mengenakan gaun sederhana.

Arga berdiri di depanku dengan Kirana dalam gendongannya.

Ketika kami selesai menandatangani dokumen, dia tidak langsung pergi.

Dia menatapku.

—Nara.

—Apa?

—Kali ini kalau aku melakukan kesalahan, jangan langsung meninggalkanku.

Aku tersenyum.

—Kalau kamu melakukan kesalahan, aku akan marah dulu.

—Lalu?

—Lalu kita bicara.

Dia mengangguk.

—Bagus.

—Tapi kamu juga begitu.

—Aku janji.

Malam pertama di rumah baru, listrik tiba-tiba padam.

Aku dan Arga sama-sama terdiam.

Lalu kami saling memandang.

Beberapa detik kemudian, kami tertawa bersamaan.

Arga menyalakan senter ponselnya.

—Tagihannya sudah kubayar. Ini gangguan dari luar.

Aku tertawa lebih keras.

—Aku bahkan belum menuduhmu.

—Aku cuma berjaga-jaga.

Dari kamar, Kirana mulai menangis.

Kami berdua berjalan ke arahnya.

Arga lebih cepat menggendongnya.

Aku berdiri di samping mereka.

Dalam cahaya kecil dari ponsel, aku melihat suamiku mengusap punggung putri kami.

Dulu aku mengira rumah adalah bangunan yang harus kami beli.

Kemudian aku mengira rumah adalah sesuatu yang hilang bersama perceraian.

Sekarang aku baru mengerti.

Rumah bukan sekadar dinding, sertifikat, atau nama yang tertulis dalam dokumen.

Rumah adalah tempat di mana dua orang cukup berani untuk mengatakan apa yang sebenarnya mereka rasakan.

Tempat seseorang boleh salah, tetapi harus mau memperbaiki.

Tempat tidak ada yang harus menebak apakah dirinya masih dicintai.

Arga meraih tanganku.

—Kenapa melihatku begitu?

Aku menggeleng.

—Tidak apa-apa.

—Kamu menangis?

—Tidak.

—Nara.

Aku tertawa sambil menghapus air mata.

—Aku cuma berpikir kita membuang waktu hampir setahun karena sama-sama keras kepala.

Arga diam sebentar.

—Aku juga pernah menyesalinya.

Aku memandang Kirana.

—Sekarang?

Dia ikut melihat putri kami.

—Sekarang aku tidak mau membuang satu hari pun lagi.

Aku menggenggam tangannya lebih erat.

Kami tidak bisa mengubah hari ketika menandatangani perceraian.

Tidak bisa mengambil kembali malam-malam ketika aku menjalani kehamilan sendirian.

Tidak bisa menghapus luka yang pernah kami berikan satu sama lain.

Tetapi ternyata akhir dari sebuah pernikahan tidak selalu berarti akhir dari sebuah cinta.

Kadang-kadang dua orang memang harus kehilangan jalan pulang lebih dulu untuk memahami bagaimana seharusnya mereka membangun rumah.

Dan kali ini, aku tidak lagi menunggu Arga datang menyelamatkanku.

Kami berjalan pulang bersama.

Di antara kami ada Kirana yang akhirnya tertidur dengan tenang.

Di depan kami ada rumah yang lampunya akan segera menyala kembali.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak takut memikirkan masa depan.

Karena sekarang kami tahu satu hal sederhana yang dulu terlambat kami pelajari:

Cinta tidak bertahan karena dua orang tidak pernah melakukan kesalahan. Cinta bertahan ketika keduanya berhenti bersembunyi di balik diam, lalu memilih untuk saling mendengar dan memperbaiki semuanya bersama-sama.