Di Balik Dokumen Bertanggal Hari Perceraian, Arga Menyimpan Janji Lama yang Membuat Nara Menyadari Kesalahpahaman Mereka Belum Benar-Benar Berakhir

Avatar penulis
Cerita 05
6 menit baca 142 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — Di Balik Dokumen Bertanggal Hari Perceraian, Arga Menyimpan Janji Lama yang Membuat Nara Menyadari Kesalahpahaman Mereka Belum Benar-Benar Berakhir

Pintu ruang bersalin menutup tepat di depan mata Arga.

Aku tidak lagi bisa melihat wajahnya.

Namun satu kalimat pada dokumen itu terus berputar di kepalaku.

Masa berlaku: setelah anak pertama Nara lahir.

Bagaimana mungkin?

Aku sendiri baru mengetahui kehamilanku tiga minggu setelah perceraian.

Sedangkan dokumen itu ditandatangani pada hari kami resmi berpisah.

Kontraksi berikutnya datang begitu kuat hingga aku tidak sempat memikirkan apa pun.

—Nara, dengarkan saya. Tarik napas perlahan.

Aku mengikuti instruksi dokter.

Namun beberapa menit kemudian, suara alat pemantau kembali berubah.

Dokter berbicara cepat dengan perawat.

Aku tidak memahami semuanya.

Aku hanya menangkap beberapa kata tentang kondisi bayi yang harus terus diawasi.

Ketakutan langsung memenuhi dadaku.

—Dokter… anak saya baik-baik saja?

—Kami sedang menanganinya. Anda harus tetap tenang.

Tetap tenang.

Mudah sekali mengatakannya.

Selama berbulan-bulan aku meyakinkan diri bahwa aku mampu menjalani semuanya sendiri.

Aku pergi kontrol sendiri.

Membeli pakaian bayi sendiri.

Merakit tempat tidur bayi sendiri.

Bahkan ketika kakiku membengkak dan aku kesulitan tidur, aku tetap mengatakan kepada diriku sendiri bahwa aku tidak membutuhkan siapa pun.

Tetapi saat mendengar denyut jantung anakku berubah, semua keberanian itu runtuh.

Tanpa sadar aku memanggil satu nama.

—Arga…

Aku bahkan terkejut mendengar suaraku sendiri.

Seorang perawat mendekat.

—Apakah Arga suami Anda?

Aku menutup mata.

—Mantan suami.

Beberapa detik kemudian aku berbisik:

—Dan dia ayah bayi ini.

Perawat itu terdiam sesaat.

Kemudian dia keluar.

Aku tidak tahu apa yang terjadi di luar.

Belakangan aku baru mengetahui bahwa ketika perawat mengatakan bayi itu adalah anaknya, Arga sampai harus berpegangan pada dinding.

Dia tidak bertanya apakah aku yakin.

Tidak meminta tes apa pun.

Dia hanya menundukkan kepala, menutupi wajah dengan kedua tangan, lalu menangis untuk pertama kalinya di depan orang lain.

Tidak lama kemudian pintu kembali terbuka.

—Nara.

Aku mengenali suara itu.

Arga sudah mengenakan pakaian pelindung.

Dia berdiri beberapa langkah dariku dengan mata merah.

—Kenapa kamu masuk?

—Kamu memanggilku.

Hanya empat kata.

Namun pertahanan yang kubangun selama hampir setahun seperti retak sekaligus.

Arga mendekat, tetapi tidak langsung menyentuhku.

—Boleh aku memegang tanganmu?

Aku tidak menjawab.

Kontraksi berikutnya datang.

Aku refleks meraih tangannya.

Arga langsung menggenggamku.

—Aku di sini.

Kalimat itu membuat air mataku jatuh.

Dulu, ketika hidup kami belum serumit ini, dia sering mengatakan hal yang sama.

Saat aku sakit.

Saat proyek pertamaku gagal.

Saat ibuku harus dirawat.

Aku di sini.

Ternyata setelah semua yang terjadi, bagian paling lemah dalam diriku masih mengingat tiga kata itu.

Persalinan berlangsung lama.

Arga tidak meninggalkan sisiku.

Ketika aku kehilangan tenaga, dia mengingatkanku bernapas.

Ketika aku menangis karena takut, dia hanya menggenggam tanganku lebih erat.

Lalu terdengar tangisan.

Kecil.

Nyaring.

Hidup.

Aku langsung menangis.

—Bayiku…

Dokter tersenyum.

—Seorang anak perempuan.

Aku menoleh kepada Arga.

Dia tidak mengatakan apa pun.

Pria yang selalu berusaha terlihat kuat itu berdiri dengan air mata mengalir tanpa suara.

Ketika bayi kami diletakkan sebentar di dekatku, Arga menatap wajah kecil itu seperti takut berkedip.

—Dia…

Suaranya bergetar.

—Dia mirip kamu.

Aku tertawa sambil menangis.

—Baru lahir. Mirip dari mana?

Arga ikut tertawa.

Untuk beberapa detik, kami kembali menjadi Nara dan Arga yang dulu.

Bukan dua orang yang bercerai.

Bukan dua orang yang menyimpan luka.

Hanya seorang ibu dan seorang ayah yang baru saja melihat anak mereka untuk pertama kalinya.

Setelah kondisiku stabil, aku dipindahkan ke kamar perawatan.

Arga menunggu di luar.

Aku tahu masih ada sesuatu yang harus diselesaikan.

—Masuklah.

Dia duduk di kursi dekat ranjang.

Aku langsung bertanya:

—Dokumen itu apa?

Arga terdiam.

—Aku ingin mendengarnya darimu.

Dia akhirnya mengangguk.

—Itu bukan dokumen yang kubuat karena mengetahui kamu hamil.

—Lalu kenapa tertulis tentang anak pertamaku?

Arga mengusap wajah.

—Karena rumah yang ingin kita beli dulu sebenarnya sudah kubeli.

Aku terpaku.

—Apa?

—Uang muka yang kita kumpulkan memang berkurang karena pengobatan keponakanku. Tapi beberapa bulan kemudian aku menjual bagian kepemilikanku di dua toko dan menggunakan uang itu untuk menyelesaikan pembayaran rumah.

Aku menatapnya tidak percaya.

—Setelah kita bercerai?

—Sebelum.

—Kenapa?

Arga tersenyum pahit.

—Karena aku pernah berjanji akan memberimu rumah itu.

Aku mulai memahami.

Namun masih ada bagian yang tidak masuk akal.

—Lalu dokumen penerima manfaat?

—Hari kita bercerai, aku pergi ke kantor notaris.

Arga menunduk.

—Aku tahu kamu tidak akan menerima rumah itu kalau langsung kuberikan kepadamu.

—Jadi aku membuat pengaturan kepemilikan. Kamu tetap menjadi penerima manfaat utama. Kalau suatu hari kamu punya anak, hak atas rumah itu akan beralih menjadi milikmu dan anak pertamamu.

Aku terdiam.

—Kenapa anakku?

Jawabannya membuat dadaku sesak.

—Karena dulu kamu pernah mengatakan bahwa kalau kita punya anak, kamu ingin dia memiliki tempat yang selalu bisa disebut rumah.

Aku ingat.

Bertahun-tahun lalu, saat kami masih tinggal di kontrakan sempit, aku pernah mengatakannya sambil bercanda.

Arga ternyata mengingatnya.

—Tapi saat itu kita sudah bercerai.

—Aku tahu.

—Kamu bahkan tidak tahu anak itu akan menjadi anakmu.

—Aku juga tahu.

Arga menatapku.

—Aku tidak membuat dokumen itu untuk anakku, Nara.

—Aku membuatnya untuk anakmu.

Aku membeku.

Dia melanjutkan:

—Aku berpikir suatu hari kamu mungkin menikah lagi. Mungkin punya keluarga baru. Mungkin punya anak dengan orang lain.

Suaranya semakin pelan.

—Kalau hari itu datang, aku ingin rumah yang pernah kita impikan tetap menjadi milikmu dan anakmu.

Air mataku kembali jatuh.

—Kenapa melakukan sejauh itu?

Arga menatapku lama sekali.

—Karena perceraian membuatmu berhenti menjadi istriku.

—Tapi tidak pernah membuatku berhenti mencintaimu.

Kamar itu mendadak sunyi.

Aku menoleh ke tempat tidur bayi.

Putri kami tertidur dengan tangan kecil mengepal di dekat wajah.

Hampir setahun lalu, kami memilih diam.

Hari ini, aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.

—Arga.

—Ya?

Aku menarik napas.

—Aku juga belum pernah berhenti mencintaimu.

Dia menatapku seolah tidak yakin mendengar dengan benar.

Namun aku mengangkat tangan.

—Tapi jangan salah paham. Aku belum mengatakan kita kembali bersama.

Arga tersenyum dengan mata masih merah.

—Aku tahu.

—Kita punya terlalu banyak hal yang harus diperbaiki.

—Aku tahu.

—Dan kali ini tidak boleh ada rahasia.

Dia mengangguk.

—Tidak akan ada lagi.

Aku memandang bayi kami.

Kemudian untuk pertama kalinya setelah hampir setahun, aku membiarkan Arga menggenggam tanganku tanpa melepaskannya.

Tetapi kami belum tahu bahwa ujian terakhir justru menunggu di luar rumah sakit.

Karena sore itu, ayahku datang.

Dan ketika melihat dokumen utang lama di atas meja, wajahnya langsung pucat.

—Nara…

Aku menatapnya.

Ayah perlahan duduk.

Kemudian mengucapkan kalimat yang membuat Arga dan aku sama-sama terdiam.

—Utang itu sebenarnya sudah Ayah lunasi bertahun-tahun lalu.

Aku membeku.

—Kalau sudah lunas… kenapa dokumennya masih ada?

Ayah mengangkat wajah.

—Karena orang yang menerima uang pelunasannya bukan kakak Arga.

—Lalu siapa?

Ayah menarik napas panjang.

—Orang yang selama ini kalian berdua percaya paling tahu tentang kematian kakaknya.

Dan saat nama itu akhirnya disebutkan, Arga langsung berdiri.

Karena orang tersebut masih hidup.

Dan dia adalah orang yang sejak awal membuat kami saling salah paham.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)