Sehari Sebelum Ulang Tahun Pernikahan, Ponsel Suamiku Mengingatkan Jadwal Program Bayi Tabung dengan Sahabat Masa Kecilnya—Satu Foto Lalu Membongkar Pengkhianatan yang Disembunyikannya Bertahun-Tahun Tanpa Penyesalan
Bagian 1 — Pesan Klinik di Ponselnya Membuatku Membuka Mata, tetapi Unggahan Perempuan Itu Menunjukkan Pengkhianatan Mereka Jauh Lebih Lama dari Dugaanku Selama Ini
Sehari sebelum ulang tahun pernikahan kami yang keempat, aku sedang membereskan meja kerja Dimas ketika layar ponselnya tiba-tiba menyala.
Sebuah pesan pengingat muncul.
“Yth. Bapak Dimas Pratama, kami mengingatkan jadwal konsultasi lanjutan program fertilitas bersama Ibu Rania Maheswari besok pukul 09.30. Harap membawa dokumen pemeriksaan sebelumnya.”
Tanganku berhenti di udara.
Aku membaca nama itu tiga kali.
Rania Maheswari.
Sahabat masa kecil suamiku.
Perempuan yang selama dua tahun terakhir selalu disebut Dimas sebagai “adik sendiri”.
Aku, Kirana Adhisty, istrinya yang sah selama hampir empat tahun, bahkan tidak pernah diajak Dimas menjalani konsultasi kesuburan.
Setiap kali aku membicarakan anak, jawabannya selalu sama.
“Perusahaan belum stabil.”
“Aku belum siap jadi ayah.”
“Kita masih punya banyak waktu.”
Namun besok—tepat pada hari ulang tahun pernikahan kami—dia memiliki jadwal di klinik fertilitas bersama perempuan lain.
Suara pintu kamar mandi membuatku tersentak.
Aku segera meletakkan ponselnya kembali.
Dimas keluar sambil mengeringkan rambut.
Dia mengambil ponselnya, membaca sesuatu, lalu wajahnya berubah sesaat sebelum kembali tersenyum kepadaku.
“Sayang, ada masalah dengan vendor luar negeri.”
Aku menatapnya.
“Masalah apa?”
“Tim regional minta aku berangkat mendadak malam ini. Mungkin dua atau tiga hari.”
Besok adalah hari pernikahan kami.
Dia bahkan tidak menyebutnya.
Dimas mendekat, mencium keningku sekilas.
“Nanti setelah pulang aku ganti semuanya. Kita makan malam di mana pun kamu mau.”
Aku hanya mengangguk.
Lima belas menit kemudian dia duduk di ruang kerja sambil tersenyum menatap layar laptop.
Katanya sedang mengurus pekerjaan.
Tetapi WhatsApp Web masih terbuka ketika dia pergi mengambil kopi.
Aku tidak perlu menyentuh apa pun.
Notifikasi percakapan mereka muncul sendiri.
Rania: “Aku masih deg-degan. Setelah semua pemeriksaan dan suntikan hormon ini, akhirnya kita sampai sejauh ini.”
Dimas: “Tenang. Aku sudah janji akan membantumu punya anak.”
Rania: “Kalau Kirana tahu?”
Beberapa detik kemudian jawaban Dimas muncul.
“Kenapa harus takut?”
“Apartemen yang dia tinggali aku yang bayar, kartu belanjanya aku yang isi, empat tahun ini dia cuma di rumah.”
“Aku tidak menceraikannya saja seharusnya dia sudah bersyukur.”
Dadaku terasa seperti dipukul sesuatu yang berat.
Lalu Rania membalas.
“Tapi kamu pernah bilang dia ingin punya anak.”
Dimas mengirim emoji tertawa.
“Aku tidak pernah bilang tidak mau punya anak.”
“Aku cuma tidak mau punya anak dengannya.”
Aku berdiri membeku.
Kalimat itu jauh lebih menyakitkan daripada pesan klinik tadi.
Empat tahun.
Empat tahun aku percaya ketika dia pulang tengah malam karena rapat.
Aku percaya ketika perjalanan dinas semakin sering.
Aku percaya ketika dia mulai enggan menyentuhku dan mengatakan tekanan pekerjaan membuatnya kelelahan.
Ternyata masalahnya bukan pekerjaan.
Masalahnya adalah aku.
Atau lebih tepatnya, menurut Dimas, aku tidak pernah cukup berharga untuk menjadi ibu dari anaknya.
Aku kembali ke kamar sebelum dia menyadari sesuatu.
Beberapa menit kemudian, unggahan Instagram Rania muncul.
Foto pertama memperlihatkan gelang pasien dari sebuah pusat fertilitas internasional.
Foto kedua adalah dua cangkir kopi di bandara.
Foto ketiga hanya menunjukkan dua tangan saling menggenggam.
Namun aku mengenali jam di pergelangan tangan lelaki itu.
Jam Omega dengan ukiran kecil “K & D, 12.10”.
Hadiah ulang tahun pertama yang kuberikan kepada Dimas.
Caption Rania jauh lebih jelas.
“Kadang keluarga tidak harus dimulai dari pernikahan. Yang penting ada seseorang yang berani memenuhi janjinya.”
Aku menyimpan tangkapan layar itu.
Lalu menelepon seseorang yang hampir dua tahun tidak pernah kuhubungi untuk urusan pribadi.
“Bu Ratih.”
Pengacaraku langsung menjawab, “Bu Kirana?”
“Aku ingin menyiapkan gugatan cerai.”
Hening beberapa detik.
Kemudian suaranya menjadi serius.
“Baik. Apakah ada bukti perselingkuhan?”
“Ada.”
Aku memandang ke arah ruang kerja tempat Dimas masih tertawa sambil membalas pesan Rania.
“Dan sepertinya bukan itu satu-satunya masalah.”
Ada sesuatu yang tidak pernah diketahui Dimas.
Benar, selama empat tahun terakhir aku tidak bekerja di kantor.
Tetapi bukan karena aku tidak mampu.
Sebelum menikah, aku sudah duduk di jajaran direksi perusahaan investasi keluarga milik mendiang kakekku.
Setelah pernikahan, aku memilih mundur sementara dari aktivitas publik.
Kakek pernah mengatakan satu hal kepadaku sebelum meninggal.
“Kalau seseorang mencintaimu hanya ketika mengetahui nama keluarga dan isi rekeningmu, kamu tidak pernah tahu apakah dia mencintaimu atau fasilitas yang datang bersamamu.”
Karena itulah seluruh investasi pribadiku ditempatkan melalui PT Mahardika Kapital.
Dimas hanya mengenal perusahaan itu sebagai salah satu investor institusional pertama dalam bisnisnya.
Dia tidak pernah mengetahui siapa pemilik sebenarnya.
Ketika perusahaan logistik farmasinya hampir bangkrut lima tahun lalu, Mahardika Kapital menyuntikkan modal awal Rp18 miliar.
Dua putaran investasi berikutnya membuat kepemilikan kami mencapai 42 persen.
Dimas selalu membanggakan dirinya sebagai pengusaha yang membangun semuanya dari nol.
Aku tidak pernah membantah.
Aku mencintainya.
Aku ingin dia memiliki harga dirinya sendiri.
Bahkan apartemen tempat kami tinggal bukan dibeli menggunakan uang Dimas.
Unit itu dimiliki salah satu perusahaan properti keluargaku dan kusewakan secara simbolis melalui perusahaan lain agar Dimas tidak curiga.
Ironisnya, malam itu dia mengatakan kepada Rania bahwa aku “menumpang hidup” kepadanya.
Pagi berikutnya Dimas sudah pergi.
Di meja makan ada telur goreng terlalu matang, dua lembar roti dan secarik kertas.
“Makan yang banyak. Jangan ngambek. Aku pulang bawa hadiah.”
Untuk pertama kalinya sejak menikah, Dimas membuatkan sarapan untukku.
Aku menatapnya cukup lama.
Lalu memasukkannya ke tempat sampah.
Pukul delapan pagi aku menelepon Arif, direktur keuangan Mahardika Kapital.
Dia hampir berteriak ketika mendengar suaraku.
“Bu Kirana? Akhirnya Ibu kembali menghubungi kami.”
“Aku butuh pemeriksaan khusus.”
“Perusahaan mana?”
Aku menjawab pelan.
“PT Sagara Medika Logistik milik Dimas.”
Keheningan di ujung telepon membuatku langsung menyadari ada sesuatu yang tidak beres.
“Pak Arif?”
Dia menarik napas.
“Terus terang, kami sudah beberapa kali ingin melapor kepada Ibu. Tapi instruksi Ibu dulu jelas: selama tidak ada keadaan luar biasa, investasi itu dikelola tanpa melibatkan kehidupan rumah tangga Ibu.”
“Sekarang libatkan aku.”
Aku meminta seluruh transaksi terkait direktur utama, biaya representasi, kendaraan operasional, konsultan, pinjaman dan pembayaran kepada pihak terafiliasi diperiksa.
Hasil awal datang dua jam kemudian.
Sebuah Porsche Macan senilai hampir Rp3 miliar yang selama ini dipakai Rania ternyata dibeli perusahaan.
Sewa apartemen Rania di kawasan Senopati sebesar Rp72 juta per bulan juga dibayar perusahaan.
Tagihan perjalanan ke Jepang, Bali dan Bangkok mereka dimasukkan sebagai “business development”.
Lebih buruk lagi, Rania menerima honor konsultasi Rp95 juta setiap bulan.
Tidak seorang pun di bagian operasional tahu apa pekerjaannya.
Menjelang siang, Dimas mengirim pesan.
“Meeting berjalan lancar. Mungkin besok aku sudah pulang.”
Beberapa detik kemudian foto Rania muncul di Instagram.
Dia sedang duduk di restoran hotel bersama Dimas.
Di meja mereka terdapat map dari pusat fertilitas yang sama.
Komentar teman-teman mereka bermunculan.
“Jadi benar selama ini kalian berdua?”
“Pak Dimas berani juga.”
“Terus istrinya bagaimana?”
Seseorang menjawab.
“Istrinya cuma ibu rumah tangga, kan?”
Yang lain menulis:
“Dulu Dimas sendiri pernah bilang dia salah menikah karena cuma terpikat wajah.”
Aku membaca semuanya.
Kemudian muncul satu komentar dari akun Dimas sendiri.
“Tidak semua orang punya kualitas yang sama untuk membangun masa depan.”
Rania memberikan tanda hati.
Aku menatap layar sampai pandanganku terasa kabur.
Aku pernah menunggunya hingga pukul dua pagi hanya untuk memastikan dia makan setelah pulang bekerja.
Aku pernah membatalkan perjalanan dengan ibuku karena Dimas demam.
Aku pernah mengatakan kepada dokter kandungan bahwa aku ingin mulai mempersiapkan kehamilan.
Ketika kuberitahu, Dimas malah memelukku dan berkata lembut, “Jangan sekarang. Aku takut tidak bisa menjadi ayah yang hadir untuk anak kita.”
Hari itu aku baru mengerti.
Dia mampu menjadi ayah.
Hanya bukan untuk anakku.
Sore harinya dia mengirim foto lain.
“Lihat, semua orang makan bersama. Jangan berpikir aneh-aneh.”
Rania duduk tepat di sampingnya sambil tersenyum ke arah kamera.
Aku menjawab singkat.
“Kalian pulang kapan pun kalian mau.”
“Kalau tidak pulang juga tidak masalah.”
Teleponku langsung berdering.
Begitu kuangkat, Dimas membentak.
“Kirana, maksudmu apa?”
“Semua orang sedang senang karena urusan proyek selesai. Kenapa kamu selalu harus membuat suasana rusak?”
Lalu terdengar suara Rania.
“Mas, jangan marahi Mbak Kirana. Besok kan ulang tahun pernikahan kalian. Wajar kalau dia cemburu.”
Nada suaranya lembut.
Terlalu lembut.
Seolah-olah dialah perempuan yang sedang berusaha menjaga rumah tanggaku.
Aku hampir tertawa.
“Aku tidak marah.”
“Bagus,” kata Dimas dingin. “Belajarlah sedikit lebih dewasa. Jangan setiap kali aku bersama Rania kamu membuat drama.”
Aku menutup telepon.
Tepat saat itu email dari Arif masuk.
Judulnya hanya satu kalimat:
URGENT — PERLU PERSETUJUAN PEMEGANG SAHAM.
Aku membuka lampirannya.
Ada permohonan pinjaman perusahaan senilai Rp26 miliar.
Sebagai bagian persetujuan, tercantum satu surat jaminan dan tanda tangan atas namaku.
Masalahnya…
Aku tidak pernah menandatangani dokumen itu.
Tiga detik kemudian Arif menelepon.
Suaranya terdengar tegang.
“Bu Kirana, ada hal yang jauh lebih serius.”
“Pak Dimas bukan cuma memakai uang perusahaan untuk Rania.”
“Dia diduga memalsukan persetujuan Ibu agar pinjaman itu cair. Dan menurut jadwal bank…”
Arif berhenti sebentar.
“Dana Rp26 miliar itu seharusnya ditransfer besok pagi.”
#DramaKeluarga #PengkhianatanSuami #KisahPernikahan #CeritaViralIndonesia #WanitaBangkit
Bagian 2 — Saat Ia Berbohong Soal Dinas, Aku Menemukan Uang Perusahaan Mengalir untuk Kekasihnya dan Satu Bukti Membuat Semua Orang Panik di Ruang Rapat
Aku tidak tidur malam itu.
Bukan karena menangis.
Aku sudah melewati tahap itu.
Pukul tujuh pagi aku duduk di ruang rapat Mahardika Kapital bersama Bu Ratih, Arif dan dua auditor forensik.
Di layar besar terpampang hampir dua tahun transaksi.
Total pembayaran tidak wajar yang berkaitan langsung dengan Dimas dan Rania mencapai lebih dari Rp8,4 miliar.
Mobil.
Sewa apartemen.
Perjalanan pribadi.
Perhiasan.
Tagihan restoran.
Bahkan sebagian biaya pemeriksaan fertilitas mereka dimasukkan ke laporan perusahaan dengan keterangan “medical executive benefit”.
Tetapi Rp26 miliar itu berbeda.
Dana tersebut hendak dipinjam atas nama Sagara Medika untuk membeli gudang baru.
Setidaknya begitu yang tertulis di proposal.
Auditor menemukan dokumen lain.
Setelah pencairan, Rp12 miliar direncanakan masuk ke perusahaan baru bernama PT Arunika Kreasi Nusantara.
Pemilik 80 persennya?
Rania Maheswari.
Alasannya adalah “pengembangan platform kesehatan keluarga”.
Perusahaan itu baru berdiri lima minggu lalu.
Tidak punya karyawan tetap.
Tidak punya produk.
Alamat kantornya bahkan sama dengan apartemen Rania.
“Batalkan pencairan,” kataku.
Arif mengangguk.
“Bank menunggu konfirmasi pemegang saham utama. Kalau Ibu menyatakan tanda tangan itu palsu, pencairan langsung ditahan.”
“Lakukan.”
Pukul sembilan dua puluh, dana diblokir.
Sembilan belas menit kemudian Dimas menelepon.
Aku membiarkannya berdering.
Lalu pesan masuk.
“Kamu kenal orang Mahardika Kapital?”
Aku tidak menjawab.
Pesan kedua.
“Kirana, jawab.”
Pesan ketiga.
“Kenapa investor tiba-tiba menahan pinjaman perusahaan?”
Aku tersenyum tipis.
Untuk pertama kalinya, pria yang selalu menganggapku tidak mengerti bisnis sedang meminta jawaban dariku mengenai perusahaannya sendiri.
Malamnya Dimas pulang.
Rania ikut bersamanya.
Aku sedang duduk di ruang tamu ketika pintu terbuka.
Dimas masuk lebih dahulu dengan wajah kesal.
Rania berjalan di belakangnya membawa tas kecil dari klinik.
“Kenapa dia ikut pulang?” tanyaku.
Dimas meletakkan koper.
“Karena ada hal yang perlu kita bicarakan seperti orang dewasa.”
Aku mengangguk.
“Silakan.”
Rania duduk.
Dimas berdiri di depanku.
“Aku tahu kamu mungkin melihat sesuatu.”
“Mungkin?”
Dia mengabaikan sindiranku.
“Aku sudah lama berjanji kepada Rania bahwa kalau suatu hari dia ingin punya anak tanpa menikah, aku akan membantunya.”
Aku menatapnya.
“Dengan menjadi ayah biologis anaknya?”
Wajahnya mengeras.
“Jangan membuatnya terdengar kotor.”
Aku hampir tidak percaya.
Dia mengatakan itu di rumah kami.
Di depanku.
Pada malam setelah ulang tahun pernikahan kami.
Rania menyeka sudut matanya.
“Mbak Kirana, aku tidak pernah berniat mengambil Mas Dimas dari Mbak.”
Aku menatapnya.
“Mobil yang dibayar perusahaan suamiku, apartemen yang dibayar perusahaannya, perjalanan bersama suamiku, dan rencana punya anak bersamanya juga bukan mengambil apa pun dariku?”
Wajah Rania berubah.
Dimas langsung membela.
“Jangan serang dia!”
Aku menatap suamiku beberapa detik.
Aneh.
Empat tahun pernikahan kami seperti hilang dalam satu kalimat sederhana itu.
Jangan serang dia.
Aku istrinya.
Tetapi perempuan yang harus dia lindungi adalah Rania.
Kemudian aku bertanya sesuatu.
“Dimas, perusahaanmu sedang mengajukan pinjaman Rp26 miliar?”
Dia terdiam.
Hanya satu detik.
Namun cukup.
“Urusan kantor bukan urusanmu.”
“Benarkah?”
“Ya.”
“Dan PT Arunika Kreasi Nusantara?”
Wajah Rania langsung pucat.
Dimas menatapku tajam.
“Kamu menggeledah barangku?”
“Tidak.”
“Lalu dari mana kamu tahu?”
Aku berdiri.
“Besok datang ke rapat pemegang saham luar biasa.”
Dimas tertawa sinis.
“Untuk apa?”
“Kamu akan tahu.”
Keesokan paginya, pukul sepuluh, ruang rapat lantai dua puluh satu kantor Sagara Medika penuh.
Komisaris.
Direksi.
Legal.
Auditor.
Perwakilan bank.
Dimas duduk di kursi pimpinan dengan wajah tegang.
Rania hadir sebagai “penasihat pengembangan bisnis”.
Ketika aku masuk, Dimas langsung berdiri.
“Kirana?”
Beberapa orang mengenaliku hanya sebagai istrinya.
Aku tidak menjawab.
Sekretaris perusahaan menarik sebuah kursi di sisi kanan meja utama.
Di depannya terdapat papan nama.
PT MAHARDIKA KAPITAL — 42% SAHAM.
Aku duduk di sana.
Dimas tertawa kecil, tetapi suaranya terdengar dipaksakan.
“Jangan bercanda. Itu kursi investor.”
Arif masuk beberapa detik kemudian.
Dia membawa tiga map tebal.
Semua orang berdiri menyambutnya.
Dimas semakin bingung.
“Pak Arif, apa maksud semua ini?”
Arif tidak menjawab Dimas.
Dia malah menoleh kepadaku.
“Selamat pagi, Bu Kirana.”
“Seluruh dokumen audit yang Ibu minta sudah lengkap.”
Suasana mendadak sunyi.
Dimas memandangku.
Lalu memandang papan nama di depanku.
Kemudian kembali menatap Arif.
“Apa maksud Anda memanggil istri saya ‘Bu Kirana’ seperti itu?”
Arif membuka map pertama.
“Karena sejak putaran pendanaan pertama perusahaan ini…”
Dia meletakkan dokumen kepemilikan saham di tengah meja.
“…Bu Kirana adalah pemilik manfaat utama PT Mahardika Kapital.”
Wajah Dimas benar-benar kehilangan warna.
Aku belum sempat mengatakan apa pun ketika auditor menaruh map kedua di depannya.
Di sampulnya tertulis:
DUGAAN PENYALAHGUNAAN DANA, TRANSAKSI PIHAK TERAFILIASI, DAN PEMALSUAN PERSETUJUAN.
Dimas menatapku seperti baru melihat orang asing.
Sedangkan Rania perlahan berdiri dari kursinya.
Dia berbisik dengan suara gemetar.
“Mas… kamu bilang perusahaan ini sepenuhnya milikmu.”
Aku menatap keduanya.
Lalu membuka map ketiga.
Di dalamnya ada gugatan perceraian yang sudah disiapkan.
Dan pagi itu, aku akhirnya memutuskan mereka akan mengetahui harga sebenarnya dari semua penghinaan yang selama ini mereka anggap tidak akan pernah memiliki akibat.
Bagian 3 — Di Depan Direksi dan Keluarganya, Aku Membuka Semua Bukti, Merebut Kembali Milikku, dan Membiarkan Mereka Menanggung Akibat Pilihan Sendiri Sampai Tuntas Hari Itu
Dimas masih berdiri ketika rapat dimulai.
“Kirana, kita bicara di rumah.”
“Tidak.”
“Ini masalah suami istri.”
Aku menunjuk map audit.
“Mobil perusahaan untuk Rania bukan masalah suami istri.”
Aku membuka halaman berikutnya.
“Sewa apartemen Rp72 juta per bulan bukan masalah suami istri.”
Halaman berikutnya.
“Transfer Rp12 miliar ke perusahaan milik Rania juga bukan masalah suami istri.”
Aku berhenti.
“Dan memalsukan tanda tanganku untuk mendapatkan pinjaman Rp26 miliar jelas bukan masalah suami istri.”
Seorang komisaris senior memandang Dimas tajam.
“Pak Dimas, apakah Anda dapat menjelaskan?”
Dimas mulai berkeringat.
“Itu cuma kesalahan administrasi.”
Auditor langsung menyela.
“Tidak.”
Ia menampilkan metadata dokumen pada layar.
“Tanda tangan Bu Kirana berasal dari hasil pemindaian dokumen lama. File dibuat menggunakan laptop yang terdaftar sebagai perangkat kantor direktur utama.”
Dimas tidak mampu menjawab.
Kemudian auditor membuka transaksi Rania.
Rania menangis.
“Aku tidak tahu uang itu uang perusahaan.”
Aku menatapnya.
“Mungkin kamu tidak tahu semuanya.”
“Tapi kamu tahu mobil itu bukan milik Dimas pribadi.”
“Kamu tahu apartemenmu dibayar perusahaan.”
“Dan kamu menandatangani kontrak konsultasi Rp95 juta per bulan meskipun tidak pernah bekerja satu hari pun di sini.”
Dia terdiam.
Aku tidak perlu menghina siapa pun.
Angka-angka sudah melakukannya untukku.
Setelah diskusi hampir dua jam, komisaris mengambil keputusan.
Dimas dinonaktifkan sementara dari jabatan direktur utama sambil menunggu pemeriksaan internal dan proses hukum terkait dokumen pinjaman.
Seluruh kewenangan keuangannya dibekukan.
Rencana transfer kepada perusahaan Rania dibatalkan.
Perusahaan juga menuntut pengembalian fasilitas dan pembayaran yang tidak memiliki dasar pekerjaan jelas.
Kunci Porsche yang selama ini dibanggakan Rania diletakkan di meja.
Dia menangis ketika menyerahkannya.
Dimas akhirnya kehilangan kendali.
Dia menarik tanganku di luar ruang rapat.
“Kirana, kamu sengaja menghancurkanku!”
Aku melepaskan tangannya.
“Aku tidak membuat satu pun transaksi itu.”
“Aku tidak memalsukan satu pun tanda tangan.”
“Aku juga tidak membuatmu pergi menjalani program punya anak bersama perempuan lain.”
“Kamu melakukan semuanya sendiri.”
Nada suaranya tiba-tiba berubah.
“Kita sudah menikah hampir empat tahun.”
Aku menatapnya.
“Aku tahu.”
“Empat tahun tidak berarti apa-apa buatmu?”
Pertanyaan itu hampir membuatku tertawa.
“Seharusnya aku yang menanyakan itu saat kamu duduk di klinik bersama Rania pada hari ulang tahun pernikahan kita.”
Dimas terdiam.
Aku menyerahkan map terakhir.
“Aku sudah mengajukan proses perceraian.”
Tangannya gemetar ketika menerima dokumen itu.
“Kirana…”
“Apartemen juga harus kamu kosongkan.”
Kepalanya langsung terangkat.
“Apa?”
“Apartemen tempat kita tinggal dimiliki perusahaan properti keluargaku.”
Dia menatapku dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Tidak percaya.
Takut.
Malu.
Mungkin juga akhirnya sadar.
“Jadi selama ini…”
Aku mengangguk.
“Ya.”
“Sebagian besar hal yang kamu gunakan untuk merendahkanku selama ini bahkan bukan hasil pemberianmu.”
Malam itu Dimas tidak pulang ke apartemen.
Aku tidak tahu dia pergi ke mana.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak peduli.
Hubungannya dengan Rania juga tidak bertahan seperti yang mereka bayangkan.
Tiga hari kemudian aku mendengar dari seseorang di perusahaan bahwa mereka bertengkar besar.
Rania merasa Dimas menipunya karena selalu mengaku sebagai pemegang kendali tunggal Sagara Medika.
Dimas menuduh Rania hanya tertarik karena mengira dia memiliki uang dan kuasa.
Ironis.
Mereka akhirnya mengatakan kepada satu sama lain persis seperti yang dulu mereka katakan tentangku.
Rencana program fertilitas mereka dihentikan.
Bukan karena aku meminta.
Bukan pula karena aku peduli.
Mereka sendiri membatalkannya setelah hubungan mereka runtuh dan persoalan keuangan mulai diperiksa.
Beberapa minggu kemudian, Rania menghapus semua unggahannya tentang “keluarga tanpa pernikahan”.
Mobil dikembalikan.
Kontrak konsultasinya dihentikan.
Perusahaan meminta pertanggungjawaban atas sejumlah pembayaran yang tidak bisa dibuktikan memiliki hubungan dengan pekerjaan.
Sedangkan Dimas harus menghadapi audit, tuntutan pengembalian dana, serta penyelidikan atas penggunaan dokumen tanpa persetujuanku.
Aku tidak mengambil perusahaannya.
Aku juga tidak membuatnya bangkrut demi balas dendam.
Aku hanya berhenti melindunginya dari konsekuensi tindakannya sendiri.
Beberapa bulan kemudian, restrukturisasi selesai.
Sagara Medika tetap beroperasi.
Ratusan karyawan yang tidak bersalah tetap bekerja.
Manajemen profesional baru ditunjuk.
Dan aku memilih kembali aktif di Mahardika Kapital.
Hari pertamaku kembali ke kantor, Arif meletakkan secangkir kopi di mejaku.
“Selamat datang kembali, Bu.”
Aku melihat Jakarta dari jendela lantai tiga puluh.
Selama bertahun-tahun aku mengecilkan diriku sendiri karena berpikir itulah bentuk cinta.
Aku berhenti datang ke acara bisnis agar Dimas tidak merasa berada di bawah bayanganku.
Aku menyembunyikan keberhasilanku.
Aku membiarkan dia percaya dirinya satu-satunya orang yang membawa uang ke rumah.
Dan sedikit demi sedikit, lelaki yang kucintai mulai menganggap pengorbananku sebagai bukti bahwa aku memang tidak memiliki apa-apa.
Perceraianku akhirnya selesai melalui proses hukum.
Pada pertemuan terakhir kami, Dimas terlihat jauh lebih kurus.
Dia menungguku di luar.
“Aku salah.”
Aku diam.
“Aku terlalu terbiasa kamu selalu ada.”
Dia menunduk.
“Kalau aku bisa mengulang semuanya…”
“Tidak bisa.”
Jawabanku tidak keras.
Tetapi tegas.
Dia menatapku lama.
“Jadi benar-benar tidak ada kesempatan?”
Aku memandang pria yang dulu membuatku rela menyembunyikan separuh hidupku.
Anehnya, tidak ada lagi kemarahan.
“Kesempatan itu ada selama hampir empat tahun, Dimas.”
“Kamu hanya menggunakannya untuk memilih orang lain.”
Aku pergi.
Setahun kemudian aku pindah ke rumah yang lebih kecil di Kebayoran.
Bukan karena kehilangan apa pun.
Aku justru ingin memulai hidup yang tidak dibangun untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain.
Aku kembali bekerja.
Kembali makan siang dengan sahabat-sahabat lama.
Mengajak ibuku bepergian.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku membeli bunga untuk diriku sendiri tanpa menunggu tanggal ulang tahun pernikahan.
Kadang orang bertanya apakah aku menyesal pernah menikah dengan Dimas.
Tidak.
Karena pernikahan itu mengajariku sesuatu yang jauh lebih mahal daripada uang.
Jangan pernah mengecilkan dirimu sendiri agar orang yang kamu cintai merasa lebih besar.
Orang yang benar-benar mencintaimu tidak membutuhkanmu menjadi lemah supaya dia bisa merasa kuat.
Dan hari ketika aku kehilangan seorang suami ternyata bukan hari hidupku berakhir.
Itu adalah hari ketika aku akhirnya mendapatkan kembali diriku sendiri.

