Baru Dua Minggu Menikah, Aku Ditampar Hanya Karena Membuka Laci Meja Makan—Namun Isi Laci Itu Membongkar Rahasia yang Selama Ini Disembunyikan Keluarganya

Avatar penulis
Cerita 03
16 menit baca 355 tayangan
Baru Dua Minggu Menikah, Aku Ditampar Hanya Karena Membuka Laci Meja Makan—Namun Isi Laci Itu Membongkar Rahasia yang Selama Ini Disembunyikan Keluarganya
Indeks

Baru Dua Minggu Menikah, Aku Ditampar Hanya Karena Membuka Laci Meja Makan—Namun Isi Laci Itu Membongkar Rahasia yang Selama Ini Disembunyikan Keluarganya

Bagian 1 — Empat Belas Hari Setelah Pernikahan, Satu Tamparan di Depan Keluarganya Membuatku Sadar Rumah Itu Menyimpan Sesuatu yang Mereka Takut Kubuka

Aku baru menarik laci kecil di bawah meja makan ketika telapak tangan suamiku menghantam pipiku.

PLAK!

Suara tamparan itu terdengar lebih keras daripada denting sendok yang jatuh dari tanganku.

Untuk beberapa detik aku tidak bisa mendengar apa pun selain dengung di telinga kiri.

Di atas meja, semangkuk sayur asem masih mengepulkan uap. Ikan gurame goreng yang tadi baru diletakkan ibu mertuaku masih utuh. Bau sambal terasi memenuhi ruang makan sempit rumah keluarga suamiku di Bekasi.

Semua orang membeku.

Aku menatap lelaki yang baru empat belas hari menjadi suamiku.

Namanya Reza.

Tangannya masih terangkat setengah.

“Aku… aku cuma refleks,” katanya.

Aku memegang pipiku yang terasa terbakar.

“Refleks?”

Reza menelan ludah.

“Kenapa kamu harus buka-buka laci orang?”

Aku bahkan sempat mengira aku salah dengar.

Aku menatap laci kayu yang terbuka hanya sekitar lima sentimeter.

“Aku cari tisu.”

“Itu bukan tempat tisu!”

Nada suaranya justru semakin tinggi.

Aku tertawa pendek.

Bukan karena lucu.

Aku benar-benar tidak tahu reaksi apa lagi yang harus kuberikan.

Empat belas hari lalu lelaki ini berdiri di sampingku di pelaminan, menggenggam tanganku sambil berjanji kepada ayahku bahwa ia akan menjagaku.

Sekarang, hanya karena aku mencari tisu di rumah orang tuanya, dia menamparku di depan seluruh keluarganya.

Yang membuat dadaku lebih sesak bukan hanya tamparannya.

Melainkan reaksi orang-orang di meja itu.

Ibu mertuaku, Bu Ratna, hanya menghela napas.

Adik Reza, Siska, langsung menunduk.

Ayah mertuaku mengambil gelas lalu minum seolah tidak terjadi apa-apa.

Tak seorang pun bertanya apakah aku sakit.

Bu Ratna akhirnya berkata, “Nadira, kamu juga jangan sembarangan buka laci di rumah orang.”

Aku menoleh perlahan.

“Bu, saya baru saja ditampar.”

“Ibu tahu.”

“Tapi yang Ibu tegur malah saya?”

Wajah Bu Ratna berubah kaku.

“Bukan begitu maksud Ibu. Reza memang emosian kalau barang pribadinya dipegang.”

Barang pribadinya?

Aku menatap laci itu lagi.

Meja makan tersebut bahkan milik orang tuanya.

“Aku cuma mencari tisu.”

“Sudahlah.”

Reza menarik kursinya.

“Kamu jangan bikin suasana makin panjang.”

Aku menatapnya.

“Yang bikin panjang siapa? Aku yang mencari tisu atau kamu yang menampar istrimu?”

Dia mengatupkan rahang.

Sejak menikah, sebenarnya perubahan Reza sudah terasa.

Sebelum menikah dia tipe lelaki yang sangat perhatian.

Pulang kerja selalu menelepon.

Kalau aku sakit kepala, dia bisa mengantar obat meski rumah kami dulu berjarak hampir satu jam.

Saat kami menyiapkan pernikahan, Reza bahkan terlihat lebih antusias dibanding aku.

“Kita setelah menikah jangan tinggal sama orang tua,” katanya waktu itu.

“Aku mau kita punya rumah sendiri. Mau sederhana juga nggak apa-apa.”

Karena itu aku setuju ketika dia menyewa sebuah rumah kecil di Tambun.

Namun setelah akad, semuanya berubah sedikit demi sedikit.

Bukan perubahan besar yang langsung membuat orang curiga.

Hanya potongan-potongan kecil.

Reza mulai membawa ponselnya bahkan ketika mandi.

Ia memasang kata sandi baru.

Tiga malam berturut-turut ia pulang lewat pukul sebelas dengan alasan lembur.

Ketika kutanya jadwalnya, jawabannya selalu sama.

“Jangan interogasi aku.”

Suatu malam aku pernah mencoba memeluknya dari belakang ketika dia sedang membuka laptop.

Dia langsung menutup layar.

“Kamu ngagetin!”

Aku sampai mundur.

“Memangnya kamu buka apa?”

“Kerjaan.”

“Kalau cuma kerjaan kenapa ditutup?”

Dia menatapku cukup lama sebelum menjawab.

“Nadira, kita baru menikah. Jangan mulai jadi istri posesif.”

Aku terdiam.

Aku pikir mungkin aku terlalu sensitif.

Aku bahkan meminta maaf.

Sekarang aku merasa bodoh setiap mengingatnya.

Hari itu sebenarnya aku tidak ingin makan siang di rumah Bu Ratna.

Pagi-pagi sekali beliau menelepon Reza.

Katanya ada arisan keluarga nanti sore, jadi kami diminta datang lebih awal.

Aku sempat berkata,

“Aku agak capek. Minggu depan saja bagaimana?”

Reza langsung menjawab,

“Ibu sudah masak.”

Hanya tiga kata.

Tetapi nada suaranya seperti sebuah perintah.

Akhirnya aku ikut.

Sesampainya di rumah orang tuanya, suasana sebenarnya sudah terasa aneh.

Ketika aku masuk dapur dan menawarkan bantuan, Bu Ratna cepat-cepat menutup sebuah lemari.

“Nggak usah, kamu tamu.”

Aku tersenyum.

“Kan sekarang saya bukan tamu lagi, Bu.”

Entah kenapa, bukannya senang, beliau justru terlihat tidak nyaman.

Siska yang sedang memotong buah di meja hanya menatapku sebentar.

Lalu saat Reza keluar membeli es batu bersama ayahnya, Siska tiba-tiba mendekat.

“Mbak Nadira.”

“Ya?”

Dia terlihat ingin mengatakan sesuatu.

“Kalau nanti Mas Reza marah, Mbak jangan…”

Belum sempat menyelesaikan kalimat, suara motor Reza terdengar di halaman.

Wajah Siska langsung berubah.

Dia meninggalkanku begitu saja.

Aku saat itu belum memahami maksudnya.

Sekarang aku mengerti.

Keluarga ini sudah mengenal sisi Reza yang belum pernah kulihat.

Aku berdiri dari kursi.

“Reza.”

“Apa?”

“Minta maaf.”

Dia mengerutkan kening.

“Aku sudah bilang refleks.”

“Itu penjelasan. Bukan permintaan maaf.”

Bu Ratna mencoba menyela.

“Nadira, laki-laki kalau sedang emosi kadang—”

Aku menatap beliau.

“Kalau sedang emosi boleh menampar?”

Bu Ratna diam.

Aku kembali memandang suamiku.

“Bilang kamu salah dan minta maaf.”

Reza terkekeh sinis.

“Aku cuma kena pipimu sedikit.”

Sedikit.

Kata itu membuat sesuatu dalam diriku seperti putus.

Pipiku masih berdenyut.

Tetapi suamiku menyebutnya sedikit.

Aku mengambil tas dari sandaran kursi.

“Aku pulang.”

Reza langsung berdiri.

“Jangan drama!”

Aku berhenti.

“Kamu baru saja memukulku.”

“Terus kamu mau apa? Panggil polisi?”

Aku menatap wajahnya.

“Aku belum bilang begitu.”

“Ya terus?”

Dia melangkah mendekat.

“Kamu mau bikin keluargaku malu gara-gara masalah kecil?”

Aku hampir tidak percaya.

Belum genap setengah bulan menikah, tetapi yang dia khawatirkan bukan istrinya.

Melainkan harga dirinya.

Aku melangkah menuju pintu.

Saat itulah terdengar suara benda jatuh di belakangku.

Siska rupanya mencoba menutup laci yang tadi kubuka.

Sebuah amplop cokelat tipis terjatuh dari dalamnya.

Reza langsung berbalik.

“Siska!”

Nada teriakannya membuat semua orang tersentak.

Dia bergegas mengambil amplop itu.

Tetapi aku lebih dekat.

Tanganku lebih dulu menyentuhnya.

Reza meraih pergelangan tanganku begitu keras sampai kukuku hampir menancap ke kulit sendiri.

“Kasih ke aku.”

Aku menatap tangannya yang mencengkeramku.

“Lepaskan.”

“Kasih amplopnya!”

Bu Ratna buru-buru berdiri.

“Nadira, itu dokumen keluarga. Tidak ada hubungannya sama kamu.”

Kalimat itu justru membuatku semakin curiga.

Aku menarik tanganku kuat-kuat sampai lepas.

Amplop tersebut terbuka.

Dua lembar kertas jatuh ke lantai.

Aku membungkuk mengambil salah satunya.

Dan saat membaca nama yang tertulis di bagian atas, seluruh tubuhku membeku.

SURAT PERNYATAAN PERDAMAIAN.

Nama yang tercantum sebagai pihak pertama adalah:

Reza Pratama.

Tanggal dokumennya hanya delapan bulan sebelum pernikahan kami.

Di bawahnya ada satu kalimat yang membuat tanganku gemetar.

“Pihak pertama berjanji tidak akan melakukan kekerasan fisik, ancaman, maupun intimidasi kembali terhadap pihak kedua…”

Aku mengangkat kepala.

“‘Kembali’?”

Tidak ada yang menjawab.

Aku membaca nama pihak kedua.

Maya Kurniasih.

Aku sama sekali tidak mengenal perempuan itu.

Aku menatap Reza.

“Siapa Maya?”

Wajah suamiku memucat.

“Nadira, kasih sini.”

“Siapa Maya?”

“Bukan urusan kamu.”

Aku tertawa pelan.

“Dokumen ini menyebut suamiku melakukan kekerasan kepada seorang perempuan delapan bulan sebelum menikahiku, dan kamu bilang bukan urusanku?”

Bu Ratna mendekat.

“Nadira, jangan baca sembarangan. Itu cerita lama.”

“Cerita lama apa?”

Reza tiba-tiba merebut kertas dari tanganku.

Kertas itu robek sedikit di bagian sudut.

“CUKUP!”

Aku mundur satu langkah.

Matanya merah.

Untuk pertama kalinya aku tidak melihat lelaki yang kunikahi.

Aku melihat seseorang yang selama ini sangat pandai menyembunyikan dirinya.

Kemudian Siska berkata pelan dari belakangku,

“Mbak…”

Reza menatap tajam adiknya.

“Siska, diam.”

Tetapi kali ini Siska tidak diam.

Matanya berkaca-kaca.

“Mbak Nadira berhak tahu.”

Bu Ratna langsung membentak.

“Siska!”

Siska gemetar.

Lalu dia mengatakan satu kalimat yang membuat seluruh ruang makan terasa dingin.

“Maya itu mantan tunangan Mas Reza.”

Aku terpaku.

Siska menarik napas.

“Dan dia membatalkan pernikahan mereka setelah Mas Reza memukulnya sampai masuk IGD.”

#DramaKeluarga #KisahRumahTangga #CeritaPernikahan #WanitaBerani #KisahViral

Bagian 2 — Mantan Tunangannya Pernah Masuk IGD, tetapi Keluarga Reza Menutupi Semuanya dan Justru Menyiapkan Aku Menjadi Korban Berikutnya Tanpa Peringatan

Aku merasa seperti baru dilempar keluar dari kehidupan yang kukenal.

“Mantan tunangan?”

Aku menatap Reza.

“Kamu bilang sebelum aku kamu tidak pernah serius dengan siapa pun.”

Reza memalingkan wajah.

Bu Ratna buru-buru berkata,

“Mereka memang pernah dekat, tapi tidak sampai menikah.”

“Bu.”

Aku menatapnya.

“Tadi Siska bilang mereka sudah bertunangan.”

Beliau terdiam.

Jawabannya sudah cukup.

Tiba-tiba banyak hal terasa masuk akal.

Mengapa keluarga Reza mendesak agar pernikahan kami dilakukan cepat.

Mengapa Reza tidak pernah mau membicarakan hubungan masa lalunya.

Mengapa beberapa kerabatnya terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu saat resepsi tetapi selalu mengurungkan niat.

Aku memandang Siska.

“Apa yang terjadi pada Maya?”

Siska menggigit bibir.

Reza menunjuk adiknya.

“Kalau kamu ngomong lagi, jangan salahkan aku.”

Aku langsung berdiri di depan Siska.

“Jangan ancam dia.”

Reza tertawa mengejek.

“Kamu sekarang jadi pahlawan?”

Aku mengeluarkan ponsel.

“Aku pulang.”

Dia mendekat.

“Kamu nggak ke mana-mana sebelum kita selesaikan ini.”

Aku mundur.

“Jangan sentuh aku lagi.”

Bu Ratna malah memegang lenganku.

“Nadira, dengarkan Ibu dulu. Kalau kamu pulang dalam keadaan begini, orang tuamu pasti salah paham.”

Aku nyaris tertawa.

“Salah paham bagaimana?”

“Masalah rumah tangga tidak perlu langsung dibawa ke orang tua.”

“Anak Ibu memukul saya.”

“Itu sekali.”

Siska tiba-tiba bersuara.

“Bukan sekali, Bu.”

Ruangan langsung sunyi.

Bu Ratna menatap putrinya.

“Apa maksudmu?”

Siska mengangkat wajah.

“Mas pernah dorong Mbak Nadira waktu acara keluarga setelah akad.”

Aku terkejut.

“Kapan?”

“Hari kedua setelah nikah. Di dapur belakang.”

Aku mengingatnya.

Saat itu aku hampir jatuh setelah bertengkar kecil dengan Reza soal ponselnya.

Dia mengatakan tidak sengaja menyenggolku.

Ternyata Siska melihatnya.

“Terus kenapa kamu tidak bilang?”

Air mata Siska jatuh.

“Karena aku takut.”

Reza menendang kursi di sampingnya.

“Dasar mulut sampah!”

Ayah mertuaku akhirnya berdiri.

“Reza!”

Untuk pertama kalinya suaranya keras.

Tetapi bukannya takut, Reza justru menunjuk ayahnya.

“Bapak diam saja!”

Aku memandang semuanya.

Tak ada lagi alasan bagiku tinggal.

Aku keluar sambil memesan taksi online.

Reza mengikuti sampai teras.

“Kamu pergi sekarang, jangan harap gampang balik.”

Aku menatapnya.

“Aku memang tidak berencana kembali malam ini.”

Dia mencengkeram lengan atas tubuhku.

Refleks aku menjerit.

Siska berlari keluar sambil merekam dengan ponselnya.

“Mas, lepas!”

Begitu menyadari direkam, Reza langsung melepaskan tangan.

Aku melihat kamera Siska.

Untuk pertama kalinya aku mengerti sesuatu.

Orang seperti Reza bisa kehilangan kendali ketika merasa aman.

Tetapi begitu ada bukti, dia langsung sadar.

Aku masuk mobil tanpa menoleh.

Malam itu aku pulang ke rumah kakakku di Depok.

Aku tidak menceritakan semuanya kepada orang tua karena ibuku punya tekanan darah tinggi.

Namun kakakku, Arif, langsung melihat bekas merah di pipi dan memar di lenganku.

Dia hanya bertanya,

“Dia yang lakukan?”

Aku mengangguk.

Arif tidak menyuruhku sabar.

Tidak menyuruhku menjaga rumah tangga.

Dia mengambil foto memarku, mencatat jam kejadian, lalu berkata,

“Besok kita ke dokter. Semua harus ada dokumentasinya.”

Malam itu Reza menelepon dua puluh tujuh kali.

Aku tidak mengangkat.

Kemudian pesan mulai datang.

Awalnya marah.

Kamu keterlaluan mempermalukan aku.

Lalu menyalahkanku.

Kalau kamu nggak kepo, kejadian ini nggak akan ada.

Kemudian berubah lembut.

Aku sayang kamu. Aku lagi stres. Pulang ya.

Lalu ancaman.

Kalau keluargamu ikut campur, aku juga punya cara sendiri.

Aku menyimpan semuanya.

Pukul satu dini hari, Siska mengirim pesan.

Mbak, aku mau kasih sesuatu. Jangan bilang siapa-siapa.

Dia mengirim video kejadian di teras.

Kemudian foto surat perdamaian Maya.

Rupanya sebelum Reza merobeknya, Siska pernah memotret dokumen itu.

Aku bertanya,

Kenapa kamu simpan?

Jawabannya membuat dadaku sesak.

Karena aku takut suatu hari akan ada perempuan lain yang butuh bukti.

Esoknya, melalui seorang teman, aku berhasil menghubungi Maya.

Aku memperkenalkan diri.

Lama sekali dia tidak membalas.

Hampir dua jam kemudian baru muncul satu pesan.

Kamu istrinya?

Iya.

Lalu pesan berikutnya masuk.

Dia sudah mulai memukulmu?

Aku menatap layar sampai pandanganku kabur.

Maya akhirnya menelepon.

Dia bercerita bahwa setahun sebelumnya Reza pernah memukulnya setelah dia menemukan utang pinjaman online dan kebiasaan Reza menggunakan uang milik Maya tanpa izin.

Bukan sekali.

Pertama mendorong.

Lalu mencengkeram.

Kemudian menampar.

Setiap selesai melakukan kekerasan, Reza menangis dan meminta maaf.

Bu Ratna juga selalu menelepon Maya.

“Reza sebenarnya anak baik.”

“Dia sedang tertekan.”

“Kalau kamu meninggalkan dia, hidupnya bisa hancur.”

Sampai pada malam terakhir, Reza memukul wajah Maya dan mendorongnya hingga kepalanya membentur tepi lemari.

Tetangga membawa Maya ke rumah sakit.

Keluarganya melaporkan kejadian tersebut.

Namun akhirnya terjadi perdamaian setelah keluarga Reza memohon dan berjanji Reza akan menjalani konseling.

“Ternyata dia tidak berubah,” kata Maya.

Aku menutup mulut.

Maya kemudian mengatakan sesuatu yang lebih mengejutkan.

“Nadira, kamu tahu kenapa aku meninggalkan Reza?”

“Karena kekerasannya?”

“Itu alasan terbesar. Tapi bukan satu-satunya.”

“Apa lagi?”

“Dia memakai identitasku untuk pinjaman.”

Jantungku serasa berhenti.

Maya melanjutkan,

“Kalau sekarang kalian sudah menikah, cek semua dokumenmu. KTP, rekening, akun bank, email. Jangan tunggu.”

Aku langsung membuka aplikasi mobile banking.

Saldo rekening tabunganku masih aman.

Tetapi ketika aku membuka email, ada satu notifikasi yang sebelumnya masuk folder promosi.

Pengajuan kredit digital sebesar Rp48 juta.

Atas namaku.

Diajukan tiga hari sebelumnya.

Aku tidak pernah mengajukannya.

Tanganku langsung dingin.

Aku memeriksa lampiran.

Foto KTP-ku.

Nomor NPWP-ku.

Bahkan tanda tangan digitalku.

Semuanya ada.

Dan nomor telepon kontak darurat yang tercantum di formulir itu adalah nomor Reza.

Namun sebelum aku sempat menghubungi pihak penyedia kredit, satu pesan dari Reza masuk.

Aku sudah di depan rumah kakakmu. Kalau kamu nggak keluar sekarang, aku masuk sendiri.

Beberapa detik kemudian terdengar gedoran keras dari pintu depan.

BRAK! BRAK! BRAK!

Suara Reza terdengar dari luar.

“NADIRA! KELUAR!”

Arif berdiri.

Aku menahannya.

Tetapi gedoran itu semakin keras.

Lalu Reza berteriak kalimat yang membuat darahku mendidih.

“JANGAN SOK JADI KORBAN! UTANG ITU JUGA BUAT KEPERLUAN KITA!”

Saat itulah aku tahu.

Bukan hanya kekerasan yang sedang kusembunyikan dari keluargaku.

Suamiku ternyata sudah mencuri identitasku untuk berutang.

Dan sekarang dia berdiri tepat di balik pintu.

Bagian 3 — Ketika Reza Datang Mengancam di Rumah Kakakku, Semua Bukti yang Ia Kira Bisa Dihapus Justru Mengakhiri Permainannya untuk Selamanya

Arif tidak membuka pintu.

Dia langsung menelepon keamanan kompleks dan meminta mereka datang.

Aku berdiri beberapa meter dari pintu sambil merekam suara Reza.

“Nadira! Kita suami istri! Itu uang buat kebutuhan rumah tangga!”

Aku menjawab dari dalam.

“Siapa yang memberi izin memakai identitasku?”

Di luar mendadak sunyi.

Lalu dia membentak,

“Jangan bodoh! Nanti aku jelaskan!”

Aku tersenyum pahit.

Kalau aku membuka pintu mungkin dia akan memelukku, menangis, lalu mengatakan semuanya karena tekanan hidup.

Pola yang sama seperti kepada Maya.

Bedanya kali ini aku sudah tahu akhirnya.

Petugas keamanan datang beberapa menit kemudian.

Reza masih mencoba bermain tenang.

Dia mengatakan hanya ingin menjemput istrinya.

Namun saat Arif menunjukkan video cengkeraman di teras dan rekaman ancamannya, sikapnya berubah.

“Keluarga kalian mau hancurkan rumah tangga orang?”

Arif hanya menjawab,

“Yang menampar istri siapa?”

Reza akhirnya pergi.

Malam itu juga aku menghubungi penyedia kredit, memblokir pengajuan, mengganti seluruh kata sandi, serta mengamankan dokumen penting.

Esok paginya aku membuat laporan mengenai penggunaan data pribadiku tanpa izin dan menyerahkan bukti kekerasan yang kumiliki untuk mendapat pendampingan hukum.

Aku juga menjalani pemeriksaan medis sehingga memar di pipi dan lenganku tercatat.

Reza mulai panik.

Tiga hari kemudian dia datang bersama Bu Ratna.

Kali ini tidak ada teriakan.

Bu Ratna menangis di ruang tamu rumah orang tuaku.

“Nadira, Ibu minta maaf. Reza memang salah. Tapi jangan sampai masalah ini menghancurkan masa depannya.”

Aku menatap beliau.

“Bu, waktu dia menampar saya, yang Ibu pikirkan juga masa depan dia.”

Beliau terdiam.

“Waktu saya tahu soal Maya, Ibu juga ingin melindungi dia.”

“Nadira…”

“Sampai dia memakai data saya untuk utang pun, yang Ibu takutkan tetap hidup anak Ibu yang hancur.”

Aku menggeleng.

“Sekali saja, Bu. Pernah tidak Ibu berpikir bagaimana hidup perempuan yang dia sakiti?”

Beliau menangis.

Tetapi kali ini aku tidak merasa bersalah.

Reza duduk di samping ibunya.

Wajahnya kusut.

“Aku akan berubah.”

Kalimat klasik itu akhirnya keluar.

Aku menatapnya.

“Kamu bilang begitu ke Maya juga?”

Wajahnya berubah.

“Aku berbeda sekarang.”

“Apa bedanya?”

“Aku menikah sama kamu.”

Aku hampir tertawa.

Jadi menurutnya pernikahan adalah jaminan perubahan.

Padahal baru dua minggu saja dia sudah melakukan hal yang sama.

Reza mencoba mendekat.

“Aku memang salah soal tamparan itu. Aku minta maaf.”

Akhirnya.

Permintaan maaf yang kutuntut di meja makan dulu akhirnya keluar.

Tetapi rasanya sudah tidak berarti.

Aku bertanya,

“Kalau hari itu aku tidak melihat dokumen Maya, kamu akan cerita?”

Dia diam.

“Kalau aku tidak menemukan pengajuan kredit, kamu akan mengaku?”

Diam lagi.

“Kalau Siska tidak merekam kamu mencengkeramku, kamu akan tetap bilang aku berlebihan?”

Tidak ada jawaban.

Aku menarik napas panjang.

“Aku menerima bahwa kamu akhirnya mengaku salah. Tapi aku tidak kembali.”

Bu Ratna langsung menangis lebih keras.

Reza bangkit.

“Kamu mau cerai cuma gara-gara satu tamparan?”

Aku menatapnya lurus.

“Bukan karena satu tamparan.”

Aku menghitung dengan tenang.

“Karena kamu berbohong tentang masa lalumu. Karena keluargamu menutupinya. Karena kamu mengintimidasi aku. Karena kamu menggunakan identitasku tanpa izin. Karena setelah melakukan semuanya, kamu masih menyalahkanku.”

Aku berhenti sebentar.

“Tamparan itu cuma membuka pintu supaya aku bisa melihat siapa kamu sebenarnya.”

Hari itu mereka pulang tanpa membawaku.

Proses setelahnya tidak sesederhana cerita di televisi.

Ada telepon keluarga.

Ada saudara yang berkata aku terlalu cepat menyerah.

Ada yang mengatakan semua pasangan pasti bertengkar.

Bahkan seorang tante Reza mengirim pesan,

“Perempuan harus pintar menjaga aib suami.”

Aku hanya membalas satu kali.

Kekerasan bukan aib istri yang harus disembunyikan.

Setelah itu semua nomor yang mengganggu kublokir.

Siska tetap berhubungan denganku.

Dia bahkan memberikan keterangan tentang perilaku Reza yang pernah dia lihat.

Untuk pertama kalinya, dia juga berani mengatakan kepada orang tuanya bahwa selama bertahun-tahun seluruh keluarga salah karena terus menutupi kemarahan Reza.

Maya pun bersedia memberikan informasi terkait pola perilaku Reza sebelumnya ketika diperlukan.

Soal pengajuan kredit menggunakan identitasku akhirnya dibatalkan setelah proses verifikasi dan pemeriksaan dokumen.

Aku tidak harus menanggung Rp48 juta yang tidak pernah kupinjam.

Masalah penggunaan dataku tetap diproses sesuai jalur yang kupilih bersama pendamping hukum.

Sementara hubunganku dengan Reza berakhir.

Aku mengajukan perceraian.

Beberapa bulan kemudian, ketika keputusan mengenai pernikahan kami akhirnya selesai, aku keluar dari gedung pengadilan bersama Arif.

Tidak ada musik kemenangan.

Tidak ada adegan dramatis.

Hanya matahari siang, suara kendaraan, dan rasa lega yang sangat sederhana.

Di trotoar aku membuka ponsel.

Ada pesan dari Siska.

Mbak, terima kasih karena waktu itu Mbak tidak diam. Aku juga mulai belajar bahwa marah bukan alasan menyakiti orang.

Aku tersenyum.

Kemudian masuk pesan lain.

Dari Maya.

Sudah selesai?

Aku menjawab,

Sudah.

Dia mengirim emotikon peluk.

Aneh sekali.

Dua perempuan yang hampir tidak pernah bertemu bisa terhubung karena pernah dilukai lelaki yang sama.

Tetapi kami tidak mau selamanya dikenal sebagai korban Reza.

Maya sekarang sibuk menjalankan usaha katering kecilnya.

Aku kembali bekerja di perusahaan tempatku dulu bekerja sebelum menikah.

Enam bulan kemudian aku menyewa apartemen studio kecil di dekat kantor.

Tidak luas.

Tidak mewah.

Tetapi setiap benda di dalamnya kupilih sendiri.

Suatu Minggu pagi, aku sedang makan bubur ayam sendirian ketika tanganku mencari tisu.

Kotak tisunya kosong.

Tanpa sadar aku membuka laci meja.

Aku berhenti sejenak.

Lalu tertawa kecil.

Tidak ada yang membentakku.

Tidak ada tangan yang terangkat.

Tidak ada tatapan yang membuatku takut.

Hanya ada sebungkus tisu baru, gunting kecil, dan beberapa tagihan listrik.

Aku mengambil tisunya lalu menutup laci.

Saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu.

Dulu aku berpikir rumah tangga yang berhasil berarti bertahan selama mungkin.

Sekarang aku tahu, rumah seharusnya menjadi tempat di mana seseorang tidak perlu takut melakukan hal sederhana seperti membuka laci.

Dan meninggalkan orang yang terus menyakitimu bukan berarti kamu gagal menjaga pernikahan.

Kadang-kadang, itu justru pertama kalinya kamu benar-benar menjaga dirimu sendiri.