Di Jamuan Teman, Asisten Kekasihku Menumpahkan Anggur ke Gaunku; Malam Itu Ia Membawanya Pulang, Keesokan Paginya Aku Pergi—Tanpa Ia Tahu Siapa yang Baru Saja Dibuangnya dari Hidupnya

Avatar penulis
Cerita 03
15 menit baca 780 tayangan
Indeks

Di Jamuan Teman, Asisten Kekasihku Menumpahkan Anggur ke Gaunku; Malam Itu Ia Membawanya Pulang, Keesokan Paginya Aku Pergi—Tanpa Ia Tahu Siapa yang Baru Saja Dibuangnya dari Hidupnya

Bagian 1 — Segelas Anggur Merah di Restoran Senopati Membuka Mataku Bahwa Lelaki yang Kubela Bertahun-tahun Ternyata Tak Pernah Benar-Benar Memilihku di Saat Sulit

Malam itu seharusnya hanya makan malam biasa.

Delapan orang teman lama berkumpul di sebuah restoran di Senopati, Jakarta Selatan. Aku datang bersama kekasihku selama hampir lima tahun, Raka Wiratama.

Dan Raka datang bersama asistennya.

Keisya Anindita.

Katanya mereka baru selesai bertemu klien, jadi sekalian saja Keisya ikut.

Aku tidak protes.

Selama setahun terakhir, perempuan itu memang hampir selalu muncul di mana pun Raka berada.

Meeting luar kota? Keisya ikut.

Makan malam dengan vendor? Keisya ikut.

Bahkan saat Raka sakit dan aku membawakan bubur ke apartemennya, Keisya sudah lebih dulu berada di sana membawa obat.

Aneh?

Tentu.

Tapi setiap kali aku bertanya, Raka selalu menjawab sama.

“Dia cuma asisten, Nad. Jangan terlalu dipikirkan.”

Jadi malam itu aku memilih diam.

Sampai Keisya berdiri sambil membawa gelas anggur merah.

“Mbak Nadira,” katanya manis, “aku mau toast. Makasih ya karena selama ini nggak pernah keberatan aku sering ganggu waktu Kak Raka.”

Aku belum sempat menjawab ketika tangannya tiba-tiba miring.

Satu gelas anggur merah tumpah tepat ke bagian depan gaun kremku.

Semua orang terdiam.

Keisya menutup mulut.

“Astaga!”

Ia buru-buru mengambil tisu.

“Maaf banget, Mbak! Aku tuh memang ceroboh. Kak Raka juga sering bilang aku kalau pegang apa-apa pasti bikin masalah.”

Mulutnya meminta maaf.

Matanya tertawa.

Aku mengenali tatapan seperti itu.

Tatapan seseorang yang baru saja melempar batu, lalu menyembunyikan tangan.

Keisya hendak menyentuh gaunku, tetapi aku menahan pergelangan tangannya.

“Nggak usah.”

Wajahnya langsung berubah.

Aku mengambil serbet, menyeka anggur di leherku, kemudian berkata santai,

“Kamu berbakat juga.”

“Berbakat?”

“Iya. Bisa terlihat sebodoh itu padahal semuanya direncanakan.”

Dua teman di sebelahku tak berhasil menahan tawa.

Keisya langsung berkaca-kaca.

“Kak Raka…”

Ia memanggil pelan, seperti anak kecil yang baru dimarahi.

Raka menghela napas.

Kupikir dia akan menegur Keisya.

Ternyata tidak.

Ia justru menatapku dengan senyum kecil.

“Nadira, lidah kamu memang nggak pernah berubah.”

Tangannya mengusap rambutku.

Biasanya aku menyukai gerakan itu.

Malam itu, entah kenapa, terasa menjijikkan.

Keisya menggigit bibir.

“Aku benar-benar nggak sengaja. Kalau Mbak Nadira marah, aku bisa ganti bajunya…”

“Tidak perlu.”

Raka akhirnya melepas jasnya dan menyampirkannya ke pundakku.

“Kita pulang.”

Keisya langsung berdiri.

“Kak Raka, terus aku?”

Raka berhenti sesaat.

Hanya sepersekian detik.

Tapi cukup bagiku untuk melihat keraguannya.

“Ada Dimas dan yang lain. Kamu bisa pulang bareng mereka.”

Mata Keisya semakin merah.

Aku tidak berkata apa-apa.

Di perjalanan pulang, Raka menggenggam tanganku.

Aku membiarkannya.

Entah kenapa, malam itu aku merasa hubungan lima tahun kami sedang berdiri di tepi jurang.

Sesampainya di apartemen, aku mandi dan mengganti pakaian.

Raka membantu mengeringkan rambutku.

Namun ponselnya terus bergetar.

Sekali.

Dua kali.

Lima kali.

Nama yang muncul selalu sama.

Keisya.

Akhirnya Raka mematikan pengering rambut.

“Nad.”

“Hmm?”

“Aku mungkin harus balik sebentar.”

Aku menatap pantulan wajahnya di cermin.

“Kenapa?”

“Dimas bilang Keisya nangis di depan restoran. Katanya nggak mau pulang. Dia merasa semua orang benci dia karena kejadian tadi.”

Aku tertawa kecil.

“Lalu?”

“Aku cuma mau memastikan dia pulang.”

“Raka.”

“Ya?”

“Kita putus.”

Tangannya berhenti.

Beberapa detik kemudian ia malah tertawa.

“Jangan bercanda.”

“Aku serius.”

Raka berjongkok di sampingku.

“Kamu marah karena aku mau menemui dia?”

“Tidak.”

“Kalau begitu?”

Aku menatapnya.

“Aku cuma akhirnya capek.”

Wajahnya berubah sedikit.

“Nadira, aku pergi sebentar. Besok kita ngobrol setelah kamu tenang.”

“Kalau kamu keluar malam ini untuk menemui dia, jangan kembali.”

Raka menatapku cukup lama.

Kemudian ia mencium dahiku.

“Kamu selalu ngomong begini kalau emosi.”

Lalu ia mengambil kunci mobil.

Pintu tertutup.

Aku melihat jam.

22.47.

Untuk pertama kalinya selama lima tahun, aku tidak mengejarnya.

Tidak menelepon.

Tidak mengirim pesan.

Aku bahkan merasa sangat tenang.

Pukul 00.16, sebuah Instagram Story muncul.

Keisya.

Ia berdiri di depan jendela besar sambil memakai kemeja putih kebesaran.

Di tangannya ada mug biru tua.

Aku mengenali mug itu.

Aku membuatnya sendiri saat ulang tahun Raka dua tahun lalu.

Di bagian bawahnya ada tulisan kecil:

N + R, rumah sebelum rumah.

Di latar belakang tampak dapur apartemen Raka.

Seorang lelaki sedang memasak membelakangi kamera.

Tak perlu melihat wajahnya.

Aku mengenali kaus abu-abunya.

Jam tangannya.

Bahkan cara ia menggulung lengan baju.

Caption Keisya pendek.

“Hujan, makanan hangat, dan seseorang yang nggak tega lihat aku nangis.”

Aku menatap foto itu beberapa detik.

Lalu mematikan layar.

Tidak ada air mata.

Hanya rasa jijik yang begitu dalam.

Keesokan paginya, pukul tujuh, Story baru muncul.

Meja makan apartemen Raka penuh makanan.

Bubur ayam.

Croissant.

Buah potong.

Kopi.

Dan tangan seorang pria sedang memegang ponsel.

Casing hitam dengan stiker astronot kecil di sudut kanan.

Aku yang menempelkan stiker itu.

Caption Keisya jauh lebih panjang.

“Aku bilang nggak biasa sarapan. Ada yang malah pesan hampir seluruh menu karena takut aku sakit. Katanya perempuan keras kepala harus dipaksa makan.”

Pada saat bersamaan, pesan Raka masuk.

Udah bangun? Aku beliin kamu bubur favorit. Nanti aku antar. Jangan ngambek lagi ya.

Aku tersenyum.

Luar biasa.

Sarapan untuk perempuan lain dibeli.

Pesan manis untukku dikirim.

Seolah ia bisa menjaga dua perempuan tetap berada di tempatnya masing-masing.

Aku memblokir nomornya.

Lalu memasukkan beberapa pakaian ke koper.

Siang itu aku kembali ke rumah orang tuaku di Menteng.

Mama membuka pintu dan langsung memegang wajahku.

“Kamu sakit?”

“Nggak.”

“Terus kenapa bawa koper?”

Aku memeluknya.

“Ma, aku mau pulang.”

Papa yang sedang membaca koran menurunkannya perlahan.

Ia hanya membutuhkan beberapa detik untuk mengerti.

“Raka?”

Aku menggeleng.

“Nggak penting lagi.”

Papa diam.

Selama ini orang tuaku tidak pernah menyukai keputusan yang kuambil setelah lulus kuliah.

Aku menolak posisi di perusahaan keluarga dan justru melamar sebagai staf biasa di PT Wiratama Transindo, perusahaan milik keluarga Raka.

Aku ingin belajar dari bawah.

Lebih tepatnya…

Aku ingin dekat dengan Raka tanpa membawa nama keluargaku.

Di kantor, hampir semua orang hanya mengenalku sebagai Nadira Mahesa, menggunakan nama belakang Mama.

Hanya jajaran direksi tertentu yang tahu aku putri tunggal Adrian Sasmita, pendiri Kencana Nusantara Group.

Papa melipat korannya.

“Jadi?”

“Aku berubah pikiran soal Surabaya.”

Ia mengerutkan kening.

Tiga bulan sebelumnya, Papa memintaku memimpin persiapan cabang baru Kencana Nusantara di Surabaya.

Aku menolak karena tidak ingin meninggalkan Jakarta.

Tidak ingin meninggalkan Raka.

Sekarang aku justru berkata,

“Aku mau berangkat.”

Mama langsung menggenggam tanganku.

Papa menatapku lama.

“Yakin?”

“Yakin.”

“Bukan karena patah hati?”

“Awalnya mungkin.”

Aku tersenyum.

“Tapi aku nggak mau satu keputusan buruk menentukan seluruh hidupku.”

Untuk pertama kalinya hari itu, Papa tersenyum.

“Senin ikut rapat direksi.”

Aku baru hendak menjawab ketika ponselku berbunyi.

Pesan dari Bimo, teman satu divisi.

NAD, KE KANTOR SEKARANG. GILA. KEISYA DUDUK DI MEJA LO.

Pesan berikutnya muncul.

Raka baru ngumumin dia jadi Project Coordinator. Proposal tender yang tiga bulan lo kerjain dipresentasiin pakai nama Keisya.

Lalu satu foto masuk.

Keisya berdiri di ruang rapat.

Di layar belakangnya terpampang proposal buatanku.

Bahkan grafik yang kususun hingga pukul tiga pagi masih sama.

Yang berbeda hanya satu.

Namaku telah dihapus.

Diganti:

Prepared by: Keisya Anindita.

Dan tepat di bawah fotonya, Bimo mengirim satu kalimat lagi.

Raka bilang ke semua orang kalau lo cuma terlalu emosional, jadi untuk sementara proyek lo dialihkan ke Keisya.

Aku menatap layar lama sekali.

Kemudian menutup koper yang tadi masih terbuka.

Ternyata sebelum pergi, aku masih punya satu urusan yang harus diselesaikan.

#DramaKeluarga #KisahPerempuan #PengkhianatanCinta #CeritaViralIndonesia #PerempuanBangkit

Bagian 2 — Aku Datang untuk Mengundurkan Diri, tetapi Mereka Mencuri Hasil Kerjaku dan Baru Menyesal Saat Mengetahui Siapa Klien Terbesar Mereka

Saat aku masuk ke kantor PT Wiratama Transindo, suasananya mendadak sunyi.

Keisya masih berada di meja kerjaku.

Bahkan botol minumku sudah dipindahkan.

Raka keluar dari ruangannya.

“Nadira.”

Ia berjalan cepat ke arahku.

“Kamu akhirnya datang. Kenapa blokir aku?”

Aku melewatinya tanpa menjawab.

Keisya berdiri.

“Mbak Nadira…”

Aku mengambil map biru dari tasku dan menyerahkannya kepada HR.

“Surat pengunduran diri saya.”

Wajah Raka langsung berubah.

“Kita bicara di ruangan aku.”

“Tidak perlu.”

“Nad.”

“Dan satu lagi.”

Aku menunjuk layar ruang rapat.

“Proposal itu milikku.”

Keisya buru-buru menjawab.

“Raka cuma meminta aku lanjutkan pekerjaan yang belum selesai.”

“Belum selesai?”

Aku tersenyum.

“Proposal itu selesai dua minggu lalu.”

Raka menarik napas.

“Nadira, jangan bikin keributan. Kamu nggak masuk kerja, nomor aku diblokir, tim butuh jalan terus.”

“Aku belum absen satu hari pun ketika file itu dipindahkan ke nama Keisya.”

Ia terdiam.

Aku melanjutkan,

“Dan metadata dokumen masih mencatat siapa pembuatnya.”

Wajah Keisya pucat.

Raka merendahkan suaranya.

“Kita bisa benahi semuanya.”

“Tidak usah.”

Aku meletakkan kartu akses kantor di mejanya.

“Mulai hari ini, bukan urusanku.”

Tiga hari kemudian aku terbang ke Surabaya.

Enam bulan berlalu.

Aku menenggelamkan diri dalam pekerjaan.

Cabang baru Kencana Nusantara berkembang lebih cepat dari proyeksi.

Aku menangani restrukturisasi rantai pasok untuk Jawa Timur, membangun tim sendiri, dan untuk pertama kalinya merasakan sesuatu yang selama bertahun-tahun kulupakan:

aku mampu berdiri tanpa Raka.

Sementara itu, PT Wiratama Transindo sedang mengejar kontrak terbesar mereka tahun itu.

Proyek distribusi dan otomatisasi gudang milik Kencana Nusantara.

Nilainya Rp52 miliar untuk tahap pertama.

Aku baru tahu perusahaan Raka menjadi salah satu peserta tender ketika daftar finalis masuk ke meja komite.

Aku tidak mencoretnya.

Aku juga tidak memberi perlakuan khusus.

Semua mengikuti proses.

Pada hari presentasi final di Surabaya, tiga perusahaan hadir.

Perusahaan kedua adalah Wiratama Transindo.

Pintu ruang rapat terbuka.

Raka masuk bersama Keisya.

Langkahnya langsung berhenti saat melihatku duduk di sisi kanan meja komisaris.

“Nadira?”

Keisya ikut membeku.

Aku menutup laptop.

“Selamat pagi. Silakan duduk.”

Raka tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi Papa masuk bersama Direktur Keuangan.

“Maaf membuat semuanya menunggu.”

Papa duduk di kursi utama.

Kemudian menoleh kepadaku.

“Nadira, nanti setelah presentasi, kamu pimpin sesi evaluasinya.”

Wajah Raka kehilangan warna.

Keisya berbisik,

“Kamu… kerja di sini?”

Aku tersenyum tipis.

“Sudah enam bulan.”

Presentasi dimulai.

Lima menit pertama, aku sudah tahu apa yang terjadi.

Slide milik Keisya terasa sangat familiar.

Struktur analisisnya.

Diagram alurnya.

Bahkan cara penulisan risiko operasional.

Ia menggunakan proposal lama yang pernah ia ambil dariku, lalu mengganti angka.

Keisya menjelaskan dengan percaya diri.

Sampai aku bertanya,

“Bagaimana asumsi waktu bongkar untuk armada antarpulau jika tingkat keterlambatan kapal meningkat sebelas persen?”

Ia diam.

Aku bertanya lagi.

“Di slide 17 Anda menyebut optimasi buffer stock. Rumus perhitungannya berdasarkan apa?”

Keisya menatap Raka.

Raka mengambil alih.

“Kami bisa mengirim penjelasan teknis tertulis.”

Aku mengangguk.

“Tentu.”

Lalu kubuka dokumen lama di laptop.

“Menariknya, saya pernah melihat analisis yang hampir sama.”

Keisya langsung berkata,

“Itu metodologi umum.”

“Termasuk typo yang sama?”

Ruangan sunyi.

Aku memperbesar layar.

Di proposal lama buatanku terdapat kesalahan tulisan: warehosue.

Di proposal Keisya, kesalahan yang sama masih ada.

Beberapa anggota komite saling memandang.

Aku tidak tersenyum.

“Untuk menjaga proses tender tetap objektif, persoalan kepemilikan dokumen ini akan diperiksa tim legal. Presentasi bisa dilanjutkan.”

Raka menatapku seolah baru mengenaliku.

Setelah rapat selesai, ia mengejarku ke lorong.

“Nadira!”

Aku berhenti.

“Kenapa kamu nggak pernah bilang Kencana Nusantara punya keluarga kamu?”

“Karena hubungan kita seharusnya tidak membutuhkan laporan kekayaan.”

“Aku bukan maksud—”

“Raka.”

Aku memotongnya.

“Masalah kita tidak pernah soal siapa Papa saya.”

Ia terdiam.

“Masalahnya adalah ketika kamu mengira aku tidak punya tempat lain untuk pergi, kamu memperlakukanku seolah aku pasti akan tetap menunggumu.”

Sebelum ia menjawab, ponselnya berdering.

Direktur Keuangan perusahaannya menelepon.

Wajah Raka berubah setelah beberapa detik.

“Apa?”

Ia menjauh.

“Apa maksud kamu invoice palsu?”

Keisya yang berdiri beberapa meter dari kami langsung pucat.

Raka menatapnya.

Telepon masih menempel di telinga.

“Ada tujuh belas pembayaran?”

Keisya mundur satu langkah.

“Raka…”

Raka mematikan telepon.

“Apa itu PT Karya Sentosa Mandiri?”

Keisya tidak menjawab.

Raka meraih tabletnya, membuka dokumen yang baru dikirim.

Nama pemilik perusahaan vendor terpampang jelas.

Fajar Anindita.

Nama belakang yang sama dengan Keisya.

Adik kandungnya.

Total pembayaran selama sebelas bulan:

Rp3,86 miliar.

Raka menatap Keisya dengan wajah merah.

“Kamu bilang perusahaan ini vendor independen.”

Keisya menggertakkan gigi.

“Kita ngomong di hotel.”

“Jawab sekarang.”

Beberapa peserta tender mulai memperhatikan.

Keisya tiba-tiba berhenti berpura-pura lembut.

Ia mendekat dan berbisik cukup keras hingga aku mendengarnya.

“Jangan sok jadi korban, Raka.”

Raka terpaku.

Keisya tersenyum dingin.

“Semua pembayaran itu disetujui lewat akun kamu.”

“Aku nggak pernah—”

“Kamu sendiri yang kasih aku akses.”

Wajah Raka membeku.

Keisya melanjutkan,

“Kalau aku jatuh, kamu juga ikut jatuh.”

Dan untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku melihat Raka benar-benar ketakutan.

Bukan karena kehilangan aku.

Melainkan karena ia baru menyadari perempuan yang selama ini selalu ia bela mungkin telah menyeret seluruh perusahaannya ke dalam masalah yang jauh lebih besar daripada perselingkuhan.

Bagian 3 — Saat Penyelidikan Membuka Semua Kebohongan, Mereka Kehilangan Jabatan dan Nama Baik, Sedangkan Aku Akhirnya Mendapat Hidup yang Dulu Kutinggalkan

Tender langsung dihentikan sementara untuk PT Wiratama Transindo.

Bukan karena aku meminta.

Tim legal Kencana Nusantara wajib melakukannya setelah muncul dugaan konflik kepentingan dan manipulasi vendor.

Dua minggu berikutnya, keadaan di perusahaan Raka semakin kacau.

Audit internal menemukan pola yang sama.

PT Karya Sentosa Mandiri mengirim invoice untuk jasa transportasi yang sebagian tidak pernah dilakukan.

Beberapa harga dinaikkan.

Ada dokumen penerimaan barang yang tanda tangannya tidak sesuai.

Keisya memiliki akses administratif karena selama ini Raka memberinya kewenangan jauh melampaui tugas seorang asisten.

Itulah kesalahan terbesar Raka.

Ia terlalu percaya.

Atau mungkin terlalu sibuk menikmati perasaan dibutuhkan oleh perempuan yang selalu memanggilnya setiap kali mengalami “masalah”.

Bimo meneleponku suatu malam.

“Nad, lo tahu yang lebih gila?”

“Apa?”

“Keisya dipecat.”

Aku tidak terkejut.

“Terus?”

“Perusahaan lapor polisi soal dugaan penggelapan dan pemalsuan dokumen. Adiknya juga diperiksa.”

“Raka?”

Bimo terdiam sebentar.

“Dinonaktifkan dari jabatan direktur operasional.”

Aku menutup mata.

Lima tahun lalu, mungkin kabar itu akan menghancurkanku.

Sekarang rasanya hanya seperti membaca berita mengenai seseorang yang pernah kukenal.

Investigasi akhirnya menemukan bahwa Raka tidak menerima aliran uang secara langsung.

Namun beberapa transaksi memang lolos karena ia menyerahkan akses dan persetujuan operasional kepada Keisya tanpa pengawasan yang memadai.

Dewan keluarga Wiratama memutuskan mencopotnya dari jabatan.

Ia tetap harus bertanggung jawab atas kelalaian manajemen dan membantu proses audit.

Perusahaannya tidak bangkrut.

Tapi reputasinya terpukul keras.

Kontrak Rp52 miliar itu akhirnya diberikan kepada peserta lain setelah evaluasi tender diulang oleh komite independen.

Aku bahkan mengundurkan diri dari sesi penilaian akhir agar tak ada seorang pun bisa mengatakan hasil tersebut ditentukan oleh dendam pribadiku.

Tiga bulan kemudian, Raka datang ke Surabaya.

Tanpa Keisya.

Tanpa sopir.

Tanpa jas mahal.

Ia menungguku di lobi kantor hampir dua jam.

Aku akhirnya turun.

“Nadira.”

Ia terlihat jauh lebih kurus.

“Aku cuma minta sepuluh menit.”

Kami duduk di kedai kopi dalam gedung.

Raka tidak menyentuh minumannya.

“Aku minta maaf.”

Aku diam.

“Aku tahu sekarang kedengarannya terlambat.”

“Memang.”

Ia tersenyum pahit.

“Aku kira waktu itu kamu cuma cemburu.”

“Aku memang cemburu.”

Aku tidak menyangkalnya.

“Tapi cemburu bukan masalah utamanya.”

“Lalu apa?”

“Kamu menikmati ketika ada perempuan lain yang bergantung sama kamu.”

Raka menatap meja.

“Setiap kali dia telepon tengah malam, kamu merasa penting. Setiap kali dia menangis, kamu merasa harus menyelamatkannya. Dan setiap kali aku keberatan, kamu menganggap aku akan tetap ada karena selama lima tahun aku selalu memaafkan.”

Matanya merah.

“Aku bodoh.”

“Ya.”

Ia tertawa kecil mendengar jawabanku.

“Ada kesempatan nggak buat kita mulai lagi?”

Aku menatap lelaki yang pernah sangat kucintai itu.

Dulu, hanya mendengar kemungkinan kehilangan Raka saja membuatku sulit bernapas.

Sekarang aku bisa memandangnya tanpa marah.

Tanpa ingin menangis.

Dan saat itulah aku tahu aku benar-benar selesai.

“Nggak ada.”

Raka menelan ludah.

“Aku nggak minta kamu jawab sekarang.”

“Aku menjawab sekarang supaya kamu tidak menunggu.”

Ia menatapku.

Aku melanjutkan,

“Aku sudah memaafkan semuanya, Raka. Tapi memaafkan seseorang bukan berarti harus kembali kepadanya.”

Kami terdiam.

Beberapa menit kemudian ia berdiri.

Sebelum pergi, Raka berkata,

“Semoga kamu bahagia, Nad.”

Aku tersenyum.

“Aku sudah bahagia.”

Dan itu bukan kebohongan.

Setahun setelah malam segelas anggur merah itu, cabang Surabaya yang kupimpin mencatat laba pertama dua kuartal lebih cepat dari target.

Papa menyerahkan pengembangan wilayah Indonesia Timur kepadaku.

Mama masih menelepon hampir setiap malam hanya untuk memastikan aku makan.

Bimo pindah ke perusahaan lain dan sesekali mengirim gosip kantor yang sudah tidak terlalu menarik bagiku.

Kasus Keisya berjalan melalui jalur hukum.

Sebagian kerugian perusahaan berhasil dipulihkan melalui penyitaan aset dan penyelesaian perkara sesuai proses yang berlaku.

Aku tidak pernah bertemu dengannya lagi.

Dan ternyata aku tidak membutuhkan adegan dramatis ketika ia memohon maaf di kakiku.

Melihat hidupku kembali tenang sudah lebih dari cukup.

Pada hari peresmian gudang baru di Sidoarjo, aku berdiri di lantai dua sambil melihat puluhan kendaraan distribusi keluar satu per satu.

Papa berdiri di sampingku.

“Masih menyesal pindah ke Surabaya?”

Aku tersenyum.

“Justru menyesal kenapa baru sekarang.”

Papa tertawa.

Aku membuka ponsel.

Tidak ada lagi foto Raka.

Tidak ada pesan lama.

Tidak ada nomor yang ingin kubuka blokirnya.

Aku baru menyadari sesuatu.

Selama bertahun-tahun, kupikir kehilangan Raka berarti kehilangan masa depan.

Padahal yang hampir hilang justru diriku sendiri.

Aku pernah mengecilkan kemampuan agar bisa bekerja di dekatnya.

Menolak kesempatan agar bisa tinggal satu kota dengannya.

Mengubah jadwal.

Menunda rencana.

Menunggu.

Terus menunggu.

Sampai suatu malam, seorang perempuan menumpahkan segelas anggur merah ke gaunku.

Dulu aku mengira itu penghinaan.

Sekarang aku tahu itu peringatan terbaik yang pernah datang dalam hidupku.

Karena noda anggur itu bisa dicuci dalam satu malam.

Tetapi kalau malam itu aku tetap mempertahankan lelaki yang terus memilih orang lain setiap kali aku membutuhkan dirinya, mungkin aku akan menghabiskan bertahun-tahun untuk membersihkan luka yang jauh lebih sulit hilang.

Aku menatap matahari sore di atas gudang baru kami.

Untuk pertama kalinya setelah waktu yang sangat lama, hidupku tidak berputar mengelilingi siapa pun.

Dan ternyata…

rasanya sangat lega menjadi pusat dari hidupku sendiri.