SUAMIKU MEMINTA CERAI SAAT CINTA PERTAMANYA PULANG DARI SINGAPURA, TAPI SATU JAM SETELAH AKU MENANDATANGANI SURATNYA, REKENINGKU MASUK RP48,6 MILIAR DAN SEBUAH NAMA DI DOKUMEN MEMBUAT DARAHKU MEMBEKU
Bagian 1 — Lima Tahun Aku Mengurus Hidupnya Tanpa Pernah Benar-Benar Dicintai, Lalu Satu Tanda Tangan Membuka Rahasia yang Selama Ini Terkubur
Malam ketika Dimas Ardhana meminta cerai, aku sedang menjahit kembali kancing jasnya yang hampir lepas.
Besok pagi dia harus melakukan presentasi penting di hadapan direksi sebuah perusahaan desain besar di Jakarta.
Aku bahkan sudah menyiapkan obat maag, mencetak ulang bahan presentasi, dan memasukkan charger laptop cadangan ke dalam tas kerjanya.
Dimas berdiri di belakangku cukup lama.
Lalu dia berkata pelan,
“Kirana pulang.”
Jarum di tanganku berhenti.
Ujungnya menusuk jari telunjukku.
Setitik darah muncul.
Aku mengisapnya sebentar lalu bertanya,
“Kirana Safitri?”
Dimas mengangguk.
Nama itu bukan nama asing.
Sebelum menikah denganku, Dimas pernah mencintainya hampir delapan tahun.
Mereka berpisah karena Kirana menerima pekerjaan di Singapura, sementara Dimas memilih tinggal di Indonesia untuk membangun karier bersama perusahaan keluarganya.
Aku tahu kisah itu.
Yang tidak pernah kuketahui adalah bahwa setelah lima tahun menikah, satu kepulangan bisa menghapus semua yang sudah kubangun.
Dimas meletakkan sebuah map cokelat di meja makan.
“Alya, aku ingin kita berpisah.”
Aku menatapnya.
“Karena dia?”
“Bukan.”
Jawabannya cepat.
Terlalu cepat.
“Aku bertemu Kirana kemarin. Kami hanya minum kopi. Tidak terjadi apa-apa.”
“Lalu?”
Dimas menarik kursi.
“Justru setelah bertemu dia, aku sadar aku tidak pernah menjalani hidup yang benar-benar kuinginkan.”
Aku tersenyum kecil.
Aneh sekali.
Selama lima tahun, aku selalu berpikir Dimas memang laki-laki yang dingin.
Dia tidak pernah berselingkuh.
Tidak pernah pulang mabuk.
Tidak pernah lupa ulang tahunku.
Setiap bulan uang rumah tangga masuk tepat waktu.
Ketika Lebaran tiba, dia selalu ikut mudik ke rumah orang tuaku di Yogyakarta.
Di mata keluarga besar, aku mendapatkan suami yang hampir sempurna.
Hanya aku yang tahu rumah kami terlalu sunyi untuk disebut rumah tangga.
Dimas tidak pernah bertanya kenapa aku berhenti melukis.
Tidak pernah tahu aku suka duduk di balkon saat hujan.
Tidak pernah penasaran kenapa setiap ulang tahun aku selalu membeli bunga matahari untuk diriku sendiri.
Kami jarang bertengkar.
Bukan karena kami bahagia.
Kami hanya tidak cukup dekat untuk memiliki sesuatu yang layak dipertengkarkan.
Aku membuka map itu.
Surat kesepakatan perceraian.
Sudah disiapkan pengacara.
Apartemen adalah milik Dimas sebelum menikah.
Mobil atas nama perusahaan.
Tabungan bersama kami sekitar Rp2,4 miliar.
Dia menawarkan Rp1,1 miliar untukku.
Tidak ada anak.
Tidak ada utang bersama.
Rapi.
Cepat.
Seolah lima tahun pernikahan kami hanyalah kontrak sewa yang habis masa berlakunya.
“Ada yang ingin kamu tambahkan?” tanyanya.
“Tidak.”
Dimas tampak sedikit terkejut.
“Mungkin soal mobil?”
“Tidak perlu.”
“Perhiasan?”
“Ambil saja yang berasal dari keluargamu.”
Dia menatapku lebih lama.
“Kamu marah?”
“Haruskah?”
“Alya, kamu tidak perlu berpura-pura kuat.”
Aku hampir tertawa.
“Kalau aku menangis, keputusanmu berubah?”
Dimas diam.
Aku mengambil pulpen.
Sebelum ujungnya menyentuh kertas, dia memanggil namaku.
“Alya Prameswari.”
Aku menatapnya.
Dia berkata,
“Jangan membenciku.”
Aku akhirnya tertawa kecil.
“Tenang. Untuk membenci seseorang sedalam itu, aku masih harus mencintainya lebih banyak daripada yang tersisa sekarang.”
Wajahnya membeku.
Aku menandatangani surat tersebut.
“Besok kita selesaikan semuanya.”
Malam terakhirku di apartemen itu, aku tidur di kamar tamu.
Sekitar pukul sebelas, kudengar suara Dimas dari ruang keluarga.
Dia menelepon seseorang.
Aku tidak perlu menebak siapa.
“Kirana, aku sudah bicara dengannya.”
Hening beberapa detik.
“Tidak. Ini bukan karena kamu.”
“Pernikahan kami memang sudah kosong sejak lama.”
Aku menutup pintu kamar.
Kalimat itu seharusnya menyakitkan.
Anehnya, justru membuatku lega.
Setidaknya setelah lima tahun, akhirnya ada orang lain selain aku yang berani mengakui bahwa rumah tangga ini tidak pernah benar-benar hidup.
Keesokan paginya kami menyelesaikan administrasi perceraian melalui pengacara dan pengadilan sesuai prosedur yang sudah dipersiapkan.
Saat keluar dari kantor pengacara, Dimas masih mengenakan jas yang kancingnya kujahit semalam.
“Aku akan transfer bagian tabunganmu hari ini,” katanya.
Aku mengangguk.
“Kamu tidak harus langsung pergi dari apartemen.”
“Aku pergi hari ini.”
Dimas mengernyit.
“Mau ke mana?”
“Tempatku.”
“Kamu belum punya pekerjaan tetap.”
Nada suaranya berubah seperti suami yang masih merasa berhak mengatur istrinya.
“Jangan membuat keputusan karena emosi. Jakarta mahal.”
Aku hendak menjawab ketika ponselku berdering.
Nomor tak dikenal.
“Halo?”
“Apakah saya berbicara dengan Ibu Alya Prameswari?”
“Ya.”
“Saya Raka Wibisono, kuasa hukum mendiang Ibu Ratih Prameswari.”
Tubuhku menegang.
Tante Ratih adalah adik ibuku.
Dia meninggal enam minggu lalu karena serangan jantung.
Tidak pernah menikah.
Tidak memiliki anak.
Sejak kecil, justru dia yang paling sering mengatakan bahwa aku terlalu berbakat untuk menghabiskan hidup hanya dengan mengurus rumah orang lain.
Setelah pemakamannya, pengacaranya hanya mengatakan ada proses audit aset yang belum selesai.
Raka melanjutkan,
“Proses verifikasi utama sudah selesai pagi ini.”
Aku menjauh beberapa langkah dari Dimas.
“Apa maksudnya?”
“Dana tunai tahap pertama dari warisan Ibu Ratih sebesar Rp48,6 miliar baru saja dilepaskan ke rekening atas nama Anda.”
Aku terdiam.
Satu detik kemudian, notifikasi bank masuk.
Kubuka.
Aku menghitung angka nolnya dua kali.
Tanganku bergetar.
Bukan karena jumlah uangnya.
Karena selama lima tahun terakhir, setiap kali ibu mertua menyebutku perempuan yang hidup dari uang Dimas, sebagian kecil diriku benar-benar mulai percaya.
Sekarang angka di layar itu seperti tamparan yang membangunkanku.
Aku tertawa kecil.
Dimas langsung bertanya,
“Ada apa?”
“Tidak apa-apa.”
Dia melihat wajahku curiga.
“Alya, kalau Rp1,1 miliar menurutmu kurang, kita masih bisa bicara.”
Aku memasukkan ponsel ke tas.
“Tidak perlu.”
“Kamu bahkan tidak punya penghasilan tetap.”
“Dimas.”
Aku menatapnya.
“Mulai hari ini, jangan khawatir aku kelaparan.”
Sebuah Mercedes hitam berhenti di depan gedung.
Seorang pria sekitar empat puluhan turun membawa koper dokumen.
Dia menghampiriku.
“Ibu Alya?”
Aku mengangguk.
“Saya Raka.”
Dia menyerahkan sebuah map.
“Dana tunai hanya bagian kecil.”
Dimas yang berdiri beberapa meter dari kami perlahan mendekat.
Raka membuka lembar pertama.
“Anda juga mewarisi 61 persen saham Nawasena Atelier.”
Dimas langsung berhenti.
Aku tahu kenapa.
Nawasena Atelier bukan perusahaan kecil.
Mereka merancang hotel, pusat komersial, vila, dan kawasan wisata premium di seluruh Indonesia.
Perusahaan Dimas, Arunika Property, sudah hampir tujuh bulan mengejar kontrak kerja sama dengan mereka untuk proyek resor bernilai triliunan rupiah di Lombok.
Raka melanjutkan,
“Besok pukul sembilan pagi ada rapat pemegang saham luar biasa. Anda diminta hadir sebagai pemegang saham pengendali baru.”
Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku melihat Dimas benar-benar kehilangan kata-kata.
Namun ternyata itu belum apa-apa.
Siang harinya, aku kembali ke apartemen untuk mengambil barang.
Begitu pintu terbuka, kudapati ibu Dimas, Bu Marni, sudah berada di kamar tidurku.
Kotak perhiasanku terbuka di atas kasur.
Gelang.
Kalung.
Anting.
Semua dikeluarkan.
“Akhirnya pulang juga,” katanya.
Aku menatap meja.
“Ibu sedang apa?”
“Memisahkan barang keluarga kami supaya tidak ikut kamu bawa.”
Aku berjalan mendekat.
“Tanpa izin membuka barang saya?”
Bu Marni mendengus.
“Lima tahun kamu tidak punya pekerjaan tetap. Memangnya bisa beli semua ini sendiri?”
Dimas datang beberapa menit kemudian.
Bukannya meminta ibunya keluar, dia justru berkata,
“Ma, jangan bikin keributan.”
Aku hampir kagum.
Lima tahun dan dia masih menggunakan kalimat yang sama.
Aku mengambil satu demi satu perhiasan.
Kalung pemberian Bu Marni saat pernikahan, kutaruh kembali.
Anting dari keluarga Dimas, kutinggalkan.
Gelang emas yang diberikan neneknya juga kutinggalkan.
Bu Marni tersenyum puas.
“Nah. Begitu seharusnya.”
Kemudian aku mengambil gelang batu hijau sederhana dari bagian bawah kotak.
Tangannya langsung menyambar.
“Itu juga.”
Aku menahan tangannya.
“Bukan.”
“Sudah ada di rumah anak saya, berarti barang keluarga.”
Aku membuka ponsel.
Ada foto lama.
Aku dan Tante Ratih.
Foto itu diambil dua tahun sebelum aku menikah.
Gelang yang sama sudah melingkar di pergelangan tanganku.
Bu Marni masih tidak mau menyerah.
“Bisa saja kamu mengarang.”
Aku memandang Dimas.
“Menurutmu?”
Dimas menghela napas.
“Ma, gelang itu memang bukan dari keluarga kita.”
Bu Marni menatapku tajam.
“Sudahlah. Bawa saja. Perempuan cerai umur tiga puluh dua, tidak bekerja, nanti juga tahu hidup tidak gampang.”
Aku memasukkan gelang ke dalam tas.
“Benar.”
Dia tersenyum mengejek.
Lalu aku menambahkan,
“Makanya mulai hari ini, anak Ibu urus sendiri.”
Senyumnya lenyap.
Aku menunjuk dapur.
“Obat maag Dimas ada di laci kedua.”
Dimas mengernyit.
“Jadwal servis mobil ada di kalender digital.”
“File pajaknya ada di folder biru.”
“Kemeja untuk perjalanan Bandung belum disetrika.”
“Dan presentasi proyek Lombok baru selesai enam puluh persen.”
Dimas langsung menoleh.
“Apa?”
“Itu presentasi kamu.”
“Kamu bilang akan menyelesaikannya.”
“Aku bilang begitu saat masih menjadi istrimu.”
“Alya, jangan kekanak-kanakan.”
Aku menatapnya datar.
“Kalau perusahaanmu ingin memakai jasaku, bayar.”
“Berapa?”
“Rp85 juta.”
Bu Marni berdiri.
“Kamu sudah gila!”
Aku mengangkat bahu.
“Cari konsultan lain.”
Satu jam kemudian, jasa pindahan datang.
Aku hanya membawa buku, laptop, pakaian, beberapa lukisan, dan barang pribadi.
Ketika kardus terakhir masuk lift, Dimas mengejarku.
“Kamu sebenarnya mau tinggal di mana?”
Pintu lift terbuka.
Raka berdiri di dalam sambil membawa kunci.
“Ibu Alya, penthouse di Senopati sudah dibersihkan. Mobil milik almarhumah juga sudah dipindahkan ke basement.”
Dimas menatap kunci itu.
“Penthouse?”
Raka menjawab tenang,
“Aset pribadi Ibu Ratih yang sekarang menjadi milik Ibu Alya.”
Wajah Dimas berubah.
Aku masuk lift.
Tetapi sebelum pintu tertutup, Raka menyerahkan satu amplop lagi kepadaku.
“Ini surat pribadi dari almarhumah.”
Di dalam mobil, aku membukanya.
Tante Ratih menulis bahwa lima tahun lalu dia menyimpan salinan lengkap proyek terakhir yang pernah kukerjakan sebelum mengundurkan diri dari dunia desain.
Sebuah konsep eco-resort bernama Samudra Nusa.
Proyek yang tidak pernah dipublikasikan.
Proyek yang bahkan Dimas kukira tidak pernah benar-benar membaca.
Baris berikutnya membuat napasku berhenti.
“Dua minggu sebelum Tante meninggal, Arunika Property datang ke Nawasena membawa konsep yang hampir sama persis.”
Tanganku menjadi dingin.
Di dasar amplop terdapat salinan proposal kerja sama.
Kubuka halaman nama perancang utama.
Bukan namaku.
Yang tercetak di sana adalah:
Kirana Safitri.
Perempuan yang baru kembali dari Singapura.
Cinta pertama mantan suamiku.
Dan orang yang besok pagi akan datang bersama Dimas untuk mempresentasikan desain curianku di perusahaan yang sekarang justru menjadi milikku.
#DramaKeluarga #KisahPerempuan #CeritaIndonesia #PengkhianatanCinta #KarmaKehidupan
Bagian 2 — Mantan Suamiku Datang Membawa Cinta Pertamanya untuk Menjual Karyaku Sendiri, Tanpa Tahu Aku Duduk di Kursi Pemegang Saham Terbesar
Pukul delapan lima puluh lima pagi, ruang rapat utama Nawasena Atelier penuh.
Aku datang lebih awal.
Raka memperkenalkanku kepada direksi satu per satu.
Sebagian terkejut mengetahui Tante Ratih menyerahkan sebagian besar saham kepadaku.
Sebagian lain lebih terkejut ketika mengetahui aku pernah bekerja sebagai desainer lanskap sebelum menikah.
Pukul sembilan lewat tujuh menit, pintu terbuka.
Dimas masuk bersama tiga orang dari Arunika Property.
Dan di sampingnya berjalan Kirana.
Cantik.
Tenang.
Blazer krem.
Rambut disanggul sederhana.
Dia belum pernah bertemu denganku secara langsung.
Dimas berhenti ketika melihatku duduk di ujung meja.
“Alya?”
Direktur utama Nawasena mempersilakan mereka duduk.
“Perkenalkan, Ibu Alya Prameswari. Pemegang saham pengendali baru Nawasena Atelier.”
Kirana menoleh cepat ke arah Dimas.
Aku bisa melihat pertanyaan di wajahnya.
Dimas sendiri terlihat seperti baru mendengar suara ledakan.
Namun rapat harus berjalan.
Tim mereka mulai mempresentasikan proyek resor di Lombok.
Slide pertama masih umum.
Slide kedua membahas zonasi.
Slide ketiga membuat kuku jariku menekan telapak tangan.
Kolam refleksi berbentuk setengah bulan.
Jalur pejalan kaki yang mengikuti kontur bukit.
Taman mangrove edukasi.
Paviliun terbuka dengan sistem pengumpulan air hujan.
Semuanya milikku.
Bukan mirip.
Bukan terinspirasi.
Milikku.
Bahkan satu kesalahan kecil pada diagram aliran air yang pernah kuperbaiki dengan pensil lima tahun lalu masih muncul di gambar mereka.
Kirana berdiri di depan layar.
“Konsep ini saya kembangkan dari pengalaman saya menangani beberapa proyek hospitality selama bekerja di Singapura.”
Aku bertanya,
“Kapan konsep awal dibuat?”
“Sekitar delapan bulan terakhir.”
Aku membuka laptop.
“Yakin?”
Kirana tersenyum.
“Tentu.”
Aku menekan remote.
Layar besar berganti.
Muncul gambar lama dengan tanggal metadata lima tahun lalu.
Kemudian sketsa tanganku.
Lalu foto maket.
Lalu email antara aku dan Tante Ratih.
Ruangan menjadi sunyi.
Aku berkata,
“Ini Samudra Nusa. Saya membuat konsep dasarnya lima tahun tiga bulan lalu.”
Wajah Kirana memucat.
Dimas langsung berbicara.
“Mungkin ada kemiripan.”
Aku mengganti slide lagi.
Dua gambar muncul berdampingan.
Sembilan puluh persen sama.
Bahkan jumlah pohon pada area plaza sama.
“Apa ini masih disebut kemiripan?”
Tidak ada yang menjawab.
Direktur legal Nawasena mulai mencatat.
Kirana akhirnya berkata,
“Saya mendapatkan materi awal dari tim Arunika.”
Semua mata beralih ke Dimas.
Dia menggeleng.
“Materi itu sudah ada di arsip perusahaan ketika Kirana masuk sebagai konsultan.”
Aku tertawa pelan.
“Menarik.”
Aku mengeluarkan satu USB.
“Karena file asli berada di laptop pribadi saya.”
Wajah Dimas menegang.
Aku melanjutkan,
“Dan satu-satunya orang di luar Tante Ratih yang pernah saya izinkan melihat seluruh folder adalah suami saya saat itu.”
Sekarang ruangan benar-benar membeku.
Kirana menatap Dimas.
“Kamu bilang itu konsep internal lama.”
Dimas langsung membalas,
“Jangan bicara seolah kamu tidak tahu.”
“Aku tidak tahu itu milik Alya!”
“Namanya ada di metadata!”
“Aku tidak pernah cek!”
Aku tidak menghentikan mereka.
Kadang-kadang kebenaran lebih cepat keluar ketika dua orang takut tenggelam dan mulai saling mendorong.
Direktur Nawasena akhirnya menghentikan rapat.
“Kerja sama ditangguhkan sampai investigasi selesai.”
Dimas menatapku.
“Alya, kita bicara berdua.”
“Tidak perlu.”
“Aku bisa jelaskan.”
“Ada bagian dari ‘mengambil file istrimu lalu memasukkannya ke proposal perusahaan’ yang perlu penjelasan khusus?”
Dia mengepalkan tangan.
“Itu file lima tahun lalu. Kamu sudah meninggalkan dunia desain.”
Aku menatapnya beberapa detik.
Itulah jawabannya.
Bukan permintaan maaf.
Bukan penyesalan.
Dia benar-benar menganggap sesuatu yang kutinggalkan otomatis menjadi milik siapa pun yang mau mengambilnya.
Aku berdiri.
“Tim hukum Nawasena yang akan bicara denganmu.”
Sore harinya, masalah membesar.
Audit digital menemukan file konsep Samudra Nusa pertama kali masuk server Arunika dari akun kerja milik Dimas.
Tanggalnya tiga bulan sebelum Kirana kembali ke Indonesia.
Artinya satu hal menjadi jelas.
Dimas sudah mengambil karyaku sebelum bertemu kembali dengan Kirana.
Setelah Kirana kembali, dia hanya melihat kesempatan sempurna.
Memberikan proyek itu kepada perempuan yang dia cintai.
Membuat Kirana terlihat seperti desainer hebat.
Sekaligus membawa proposal tersebut ke Nawasena.
Malam itu Dimas datang ke penthouse-ku.
Aku tidak membukakan pintu.
Dia menelepon belasan kali.
Akhirnya pesan masuk.
“Alya, aku tidak pernah bermaksud menghancurkanmu.”
Aku membalas satu kalimat.
“Tapi kamu tidak keberatan memakai sesuatu yang kubangun untuk mengangkat perempuan lain.”
Tidak ada balasan selama beberapa menit.
Lalu muncul pesan baru.
“Kirana tidak tahu semuanya.”
Aku menatap layar.
Lucu.
Bahkan ketika dunianya mulai runtuh, hal pertama yang dia lakukan tetap melindungi Kirana.
Keesokan harinya, Bu Marni menelepon.
Nada suaranya berbeda seratus delapan puluh derajat.
“Alya, kapan kamu bisa datang makan malam?”
Aku hampir tidak percaya.
“Untuk apa?”
“Ya ngobrol baik-baik. Dimas sedang banyak masalah.”
“Bukankah saya perempuan cerai yang sebentar lagi akan kehabisan uang?”
Telepon langsung sunyi.
“Alya, jangan simpan perkataan orang tua.”
Aku tersenyum.
“Justru ingatan saya sedang sangat bagus.”
Aku menutup telepon.
Dua hari kemudian, Arunika mengirim surat resmi.
Mereka menawarkan penyelesaian damai.
Kompensasi Rp4 miliar.
Permintaan agar Nawasena tidak membawa persoalan tersebut lebih jauh.
Aku menolak.
Bukan karena uangnya kecil.
Tetapi karena mereka masih mencoba membeli diamku.
Pada Jumat sore, hasil audit kedua tiba.
Raka masuk ke ruang kerjaku sambil membawa sebuah laporan.
“Ada masalah yang lebih besar.”
Dia meletakkan dokumen di hadapanku.
Ternyata Dimas tidak hanya menggunakan desainku.
Proposal kepada investor luar negeri juga mencantumkan bahwa hak kekayaan intelektual Samudra Nusa sepenuhnya milik Arunika Property.
Nilai komitmen investasinya hampir Rp900 miliar.
Jika investor mengetahui hak desain itu bermasalah, pendanaan bisa dibatalkan.
Aku menatap halaman terakhir.
Ada dua tanda tangan persetujuan.
Direktur proyek.
Dan kepala pengembangan bisnis.
Nama kedua membuatku tercekat.
Dimas Ardhana.
Namun Raka belum selesai.
“Masih ada satu hal.”
Dia mengeluarkan rekaman email internal.
Pengirimnya Kirana.
Tanggalnya empat hari sebelum perceraian kami.
Isi kalimat pertama sederhana:
“Dimas, sebelum kita mengajukan proposal ini, kamu harus memastikan Alya tidak lagi punya alasan untuk menuntut apa pun.”
Tanganku berhenti.
Empat hari sebelum perceraian.
Padahal Dimas bersumpah baru bertemu Kirana satu hari sebelum meminta berpisah.
Berarti mereka sudah berbicara jauh lebih lama daripada yang dia akui.
Dan perceraian kami mungkin bukan hanya soal cinta lama yang kembali.
Mereka membutuhkan aku keluar dari rumah, keluar dari hidup Dimas, dan cukup jauh dari dokumen-dokumen proyek sebelum proposal besar itu ditandatangani.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku tidak merasa sedih.
Aku marah.
Dan kali ini, aku punya bukti.
Bagian 3 — Saat Bukti Email Dibuka di Depan Direksi dan Investor, Mereka Akhirnya Saling Menjatuhkan, Sementara Aku Mengambil Kembali Nama serta Hidupku
Senin berikutnya, Arunika mengadakan rapat darurat dengan investor, pengacara, dan perwakilan Nawasena.
Aku datang bersama Raka.
Dimas sudah ada di sana.
Kirana duduk dua kursi darinya.
Tidak seperti biasanya, mereka tidak saling memandang.
Ketika rapat dimulai, pengacara Arunika mencoba menyebut kasus ini sebagai “kesalahpahaman kepemilikan karya lama”.
Aku langsung menyerahkan tiga kelompok bukti.
File asli lengkap dengan metadata.
Riwayat transfer file dari perangkat pribadiku ke akun Dimas.
Dan email internal antara Dimas dengan Kirana.
Ketika email empat hari sebelum perceraian ditampilkan, wajah Dimas berubah.
Kirana langsung berkata,
“Aku hanya meminta dia memastikan status hak desainnya.”
Dimas menoleh tajam.
“Kamu bilang konsep itu aman dipakai!”
“Aku percaya ucapanmu!”
“Kamu yang menyuruhku membereskan Alya sebelum investor masuk!”
Kirana berdiri.
“Jangan memutarbalikkan! Kamu yang bilang istrimu sudah berhenti bekerja dan tidak akan pernah tahu!”
Tidak ada yang perlu kulakukan lagi.
Mereka menghancurkan pertahanan masing-masing di depan seluruh ruangan.
Investor meminta rapat dihentikan.
Pendanaan proyek dibekukan.
Nawasena secara resmi menarik diri dari kerja sama.
Dewan komisaris Arunika kemudian membentuk investigasi internal.
Dimas dinonaktifkan dari posisinya.
Kirana kehilangan kontrak konsultasinya.
Beberapa minggu setelahnya, melalui mediasi hukum, hak cipta dan kepemilikan konsep Samudra Nusa secara resmi diakui sebagai milikku.
Arunika diwajibkan membayar kompensasi penggunaan materi tanpa izin serta biaya penyelesaian sengketa.
Jumlahnya besar.
Tetapi anehnya, saat angka itu akhirnya tertera di dokumen, aku tidak merasa menang karena uang.
Yang paling membuat dadaku lega adalah satu baris sederhana:
Perancang asli: Alya Prameswari.
Namaku kembali ke tempatnya.
Itu saja.
Sore setelah penandatanganan penyelesaian, Dimas menungguku di lobi.
Dia tampak jauh lebih kurus.
“Alya.”
Aku berhenti.
“Aku sudah putus hubungan dengan Kirana.”
Aku mengangguk.
“Itu urusanmu.”
Dia tersenyum pahit.
“Aku tahu sekarang.”
Beberapa detik berlalu.
“Aku salah.”
Aku tidak menjawab.
“Aku pikir selama ini kamu bergantung padaku.”
Dia melihat ke lantai.
“Ternyata aku yang bergantung padamu.”
Kalimat itu mungkin benar.
Selama lima tahun, aku mengatur jadwalnya.
Memeriksa presentasinya.
Mengingatkan ulang tahun klien.
Membantu memperbaiki proposal.
Menemani ibunya berobat.
Membuat rumahnya selalu siap ketika dia pulang.
Semua hal yang dianggap kecil ternyata adalah mesin tak terlihat yang membuat hidupnya berjalan lancar.
Tetapi aku tidak membutuhkan pengakuannya lagi.
“Alya.”
Dimas menatapku.
“Kalau waktu bisa diulang…”
Aku memotongnya.
“Tidak perlu.”
Dia terdiam.
“Aku tidak ingin kembali ke masa ketika aku rela mengecilkan diriku supaya pernikahan kita terlihat baik.”
Matanya memerah.
Untuk pertama kalinya, aku melihat penyesalan di wajahnya.
Mungkin tulus.
Mungkin hanya karena konsekuensi akhirnya tiba.
Apa pun itu, sudah terlambat.
Sebelum pergi, aku berkata,
“Dimas, aku tidak membencimu.”
Dia menatapku seperti menemukan harapan.
Lalu aku menyelesaikan kalimatku.
“Aku hanya tidak ingin hidupku bersentuhan denganmu lagi.”
Harapan itu padam.
Aku berjalan keluar.
Bu Marni masih sempat mengirim beberapa pesan setelahnya.
Awalnya menyalahkanku karena dianggap mempermalukan keluarga.
Kemudian meminta bertemu.
Lalu mengatakan bahwa sebenarnya dia selalu menganggapku seperti anak sendiri.
Aku tidak membalas.
Ada pintu yang ketika ditutup tidak perlu dibanting.
Cukup jangan dibuka lagi.
Enam bulan kemudian, aku kembali bekerja penuh waktu di Nawasena.
Aku tidak langsung mengambil jabatan direktur kreatif hanya karena memiliki saham.
Aku mengikuti evaluasi proyek seperti desainer lain.
Menggambar kembali.
Mempelajari perangkat lunak yang sudah lama kutinggalkan.
Mengikuti rapat sampai malam.
Mendengarkan kritik dari tim yang lebih muda.
Sulit.
Tetapi untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku lelah karena membangun sesuatu milikku sendiri.
Samudra Nusa akhirnya mendapatkan kesempatan kedua.
Bukan bersama Arunika.
Nawasena mengembangkannya bersama mitra baru menjadi kawasan eco-resort skala lebih kecil di Lombok.
Konsepnya diperbarui.
Lebih matang.
Lebih ramah lingkungan.
Dan kali ini, ketika proposal proyek dipresentasikan, namaku berada di halaman pertama.
Aku sempat berdiri lama melihatnya.
Tante Ratih benar.
Karyaku memang tidak hilang.
Aku saja yang terlalu lama meninggalkannya.
Setahun setelah perceraian, proyek itu memulai pembangunan tahap pertama.
Pada acara peletakan batu pertama, seorang jurnalis bertanya,
“Bu Alya, apa proyek ini menjadi pembuktian terhadap mantan suami Anda?”
Aku tertawa.
“Bukan.”
Dia tampak sedikit kecewa karena mungkin mengharapkan jawaban dramatis.
Aku melihat ke arah laut.
“Kalau hidup kita masih dibangun untuk membuktikan sesuatu kepada orang yang pernah menyakiti kita, berarti mereka masih punya tempat terlalu besar.”
“Lalu proyek ini tentang apa?”
Aku menjawab,
“Ini tentang mengambil kembali bagian diri yang pernah saya tinggalkan.”
Malamnya aku pulang ke apartemen.
Bukan ke penthouse warisan Tante Ratih.
Aku justru membeli unit yang lebih kecil dengan uang hasil pekerjaanku sendiri.
Di balkon ada beberapa pot tanaman.
Di ruang kerja ada meja gambar besar.
Dan di dinding tergantung satu bingkai.
Bukan foto pernikahan.
Bukan sertifikat saham.
Bukan bukti kompensasi miliaran rupiah.
Yang kubingkai adalah sketsa pertama Samudra Nusa yang kubuat bertahun-tahun lalu.
Di sudut kanan bawah terdapat tanda tanganku yang hampir pudar.
Alya Prameswari.
Dulu aku mengira kehilangan suami berarti hidupku runtuh.
Ternyata yang runtuh hanya rumah yang memang tidak pernah dibangun untukku.
Uang warisan memang memberiku keamanan.
Saham memberiku kesempatan.
Bukti hukum mengembalikan namaku.
Tetapi kebebasan sesungguhnya datang pada hari ketika aku berhenti menunggu seseorang menyesal telah kehilangan diriku.
Karena akhirnya aku mengerti satu hal.
Perempuan tidak menjadi berharga ketika seorang pria memilihnya.
Perempuan tidak menjadi gagal ketika sebuah pernikahan berakhir.
Dan aku tidak perlu mendapatkan Dimas kembali agar ceritaku memiliki akhir bahagia.
Aku hanya perlu mendapatkan diriku kembali.
Kali ini, aku tidak akan meninggalkannya lagi.

