Tujuh Tahun Aku Diperlakukan Seperti Pembantu, Sampai Suamiku Membawa Kekasih Hamil ke Rumah dan Dokter Membongkar Kebohongan yang Diam-Diam Menghancurkan Keluarga Mereka di Depan Mataku Tanpa Rasa Bersalah

Avatar penulis
Cerita 03
17 menit baca 676 tayangan
Tujuh Tahun Aku Diperlakukan Seperti Pembantu, Sampai Suamiku Membawa Kekasih Hamil ke Rumah dan Dokter Membongkar Kebohongan yang Diam-Diam Menghancurkan Keluarga Mereka di Depan Mataku Tanpa Rasa Bersalah
Indeks

Tujuh Tahun Aku Diperlakukan Seperti Pembantu, Sampai Suamiku Membawa Kekasih Hamil ke Rumah dan Dokter Membongkar Kebohongan yang Diam-Diam Menghancurkan Keluarga Mereka di Depan Mataku Tanpa Rasa Bersalah

Bagian 1 — Saat Perempuan Itu Membawa Koper ke Rumahku, Ibu Mertuaku Menyerahkan Kamar Utama dan Memintaku Pergi Seolah Tujuh Tahun Tak Pernah Ada

Koper berwarna krem itu bahkan belum sempat berhenti bergulir di lantai marmer ketika Bu Ratih, ibu mertuaku, melemparkan sebuah kunci ke atas meja.

“Kamar utama di lantai dua sudah dibersihkan. Mulai malam ini, kamu tidur di sana saja, Nadine.”

Tanganku yang sedang membawa mangkuk sup langsung berhenti.

Aku menatap kunci itu.

Lalu menatap perempuan muda yang berdiri di samping suamiku.

Nadine mengenakan gaun longgar berwarna biru muda. Satu tangannya menggandeng lengan Rendra, sementara tangan lainnya sesekali menyentuh perutnya yang masih hampir rata.

Dan Rendra?

Suamiku selama tujuh tahun itu hanya berdiri diam.

Seolah membawa perempuan lain masuk ke rumah kami adalah hal paling biasa di dunia.

“Rendra,” panggilku pelan. “Apa maksud semua ini?”

Dia menarik napas pendek.

“Alya, jangan mulai bikin suasana ribut.”

Aku hampir tertawa mendengarnya.

Jangan bikin suasana ribut?

Sejak pukul lima pagi aku sudah bangun untuk menyiapkan sarapan Bu Ratih yang menderita diabetes, mengantar obat Pak Harun, ayah Rendra, ke kamarnya, memeriksa stok dapur, lalu memasak untuk makan malam keluarga.

Tujuh tahun.

Selama tujuh tahun aku tinggal di rumah besar mereka di Pondok Indah dan perlahan-lahan kehilangan hampir semua bagian hidupku.

Aku berhenti bekerja sebagai konsultan desain interior setelah menikah karena Bu Ratih mengatakan seorang menantu keluarga Pratama tidak pantas pulang malam.

Aku menjual rumah kecil peninggalan ibuku di Bandung ketika perusahaan kemasan milik keluarga Rendra hampir bangkrut.

Sebagian uang itu masuk sebagai modal.

Sebagian lagi kupinjamkan secara resmi melalui perjanjian notaris.

Waktu itu Rendra menangis sambil memegang tanganku.

“Aku tidak akan pernah lupa siapa yang berdiri di sampingku ketika semua orang meninggalkanku.”

Ternyata manusia memang mudah lupa ketika hidupnya sudah kembali nyaman.

“Aku cuma mau tahu,” kataku sambil menatap Rendra. “Kenapa dia membawa koper?”

Bu Ratih mendengus.

“Kamu memang harus selalu membuat orang menjelaskan sesuatu yang sudah jelas?”

Nadine menundukkan kepala, seolah malu.

Tetapi jari-jarinya justru semakin erat menggenggam lengan suamiku.

Rendra akhirnya berkata, “Aku dan kamu akan bercerai.”

Suara sendok yang jatuh dari tangan asisten rumah tangga terdengar dari dapur.

Aku sendiri tidak bergerak.

“Apa?”

“Aku sudah bicara dengan Mama dan Papa. Kita selesaikan baik-baik. Nadine akan tinggal di sini untuk sementara.”

“Di rumah kita?”

“Rumah keluarga,” Bu Ratih langsung memotong. “Jangan salah bicara. Rumah ini bukan milikmu.”

Aku menatapnya.

Aneh.

Selama mereka membutuhkan uangku, rumah itu selalu disebut rumah kami.

Begitu mereka ingin membuangku, mendadak semuanya milik keluarga.

“Apa alasanmu menceraikanku?” tanyaku kepada Rendra.

Dia tidak menjawab.

Justru Bu Ratih yang tersenyum tipis.

“Tujuh tahun menikah dan kamu tidak memberikan cucu satu pun. Masih perlu alasan?”

Dadaku seketika sesak.

Kalimat itu bukan baru pertama kali kudengar.

Selama bertahun-tahun aku dipaksa menjalani berbagai pemeriksaan.

Minum vitamin.

Minum obat hormonal.

Mengikuti terapi.

Bahkan pernah dibawa Bu Ratih menemui dokter yang katanya direkomendasikan teman pengajiannya.

Setiap hasil pemeriksaan selalu berakhir dengan kalimat yang sama.

Tubuhku bermasalah.

Aku terlalu stres.

Hormonku tidak stabil.

Aku sulit hamil.

Sedangkan Rendra hampir tidak pernah diperiksa.

“Laki-laki keluarga kami sehat semua,” kata Bu Ratih setiap kali aku bertanya.

Aku pernah menangis sendirian di toilet sebuah klinik karena mendengar Bu Ratih mengatakan kepada sepupunya bahwa dirinya malu mempunyai menantu mandul.

Aku menahan semuanya.

Karena Rendra selalu memelukku setelah itu.

“Jangan dengarkan Mama. Aku tetap memilih kamu.”

Sekarang lelaki yang sama berdiri di samping perempuan lain.

Kemudian Nadine mengatakan sesuatu yang membuat ruangan terasa membeku.

“Bu… mungkin sebaiknya saya yang menjelaskan.”

Dia mengusap perutnya.

“Saya hamil sebelas minggu.”

Wajah Bu Ratih seketika berubah.

Senyumnya lebar sekali.

Dia bangkit, berjalan mendekati Nadine, lalu memegang kedua tangannya.

“Sebelas minggu?”

Nadine mengangguk malu-malu.

Bu Ratih langsung memeluknya.

“Alhamdulillah. Akhirnya keluarga ini punya penerus.”

Aku menatap Rendra.

Dia tidak berani menatap balik.

Saat itulah sesuatu di dalam diriku seperti patah.

Bukan hati.

Mungkin harapan terakhir.

“Jadi,” kataku, “kamu sudah berselingkuh cukup lama untuk membuatnya hamil.”

“Alya…”

“Berapa lama?”

“Tidak penting.”

“Bagiku penting.”

Bu Ratih menggebrak meja.

“Cukup! Jangan mempermalukan perempuan yang sedang mengandung cucu saya!”

Aku menoleh padanya.

“Lucu sekali. Yang mempermalukan keluarga justru saya?”

Nadine menyentuh lengan Bu Ratih.

“Sudahlah, Bu. Saya mengerti Kak Alya pasti terpukul.”

Kak Alya.

Aku hampir ingin bertepuk tangan.

Perempuan yang tidur dengan suamiku sekarang sedang menunjukkan sopan santun.

Bu Ratih mengambil sebuah map cokelat dari meja.

“Besok pengacara keluarga datang. Tanda tangani surat cerai. Kami sudah menyiapkan apartemen di Kalibata untukmu dan uang Rp700 juta.”

Aku menatap map itu.

“Rp700 juta?”

“Itu cukup besar.”

Aku tertawa pendek.

“Empat tahun lalu aku memasukkan hampir Rp5 miliar ke perusahaan kalian.”

Wajah Rendra langsung berubah.

“Itu beda urusan.”

“Benarkah?”

“Jangan mulai menghitung semua hal dalam pernikahan seperti transaksi bisnis.”

Aku menatapnya lama.

“Ketika uangku menyelamatkan perusahaanmu, itu cinta. Sekarang saat aku meminta pertanggungjawaban, aku dianggap menghitung?”

“Aku akan mengembalikan secara wajar.”

“Berapa?”

Rendra mengatupkan rahang.

“Jangan serakah, Alya.”

Serakah.

Satu kata itu justru membuatku tenang.

Aku melepas celemek yang masih kupakai sejak memasak.

Kutaruh pelan di atas meja.

Kemudian aku naik ke kamar, mengambil satu koper kecil, laptop, beberapa pakaian, dokumen pribadi, dan sebuah kotak logam yang selama bertahun-tahun kusimpan di lemari.

Ketika aku kembali turun, Nadine sudah berdiri di depan tangga.

“Barang Kak Alya cuma segitu?”

“Untuk malam ini.”

Dia tersenyum tipis.

“Mungkin lebih baik semuanya sekalian dibawa. Supaya tidak harus kembali.”

Aku menatap ke arah kamar utama di atas.

Kamar yang tujuh tahun kutempati bersama Rendra.

Di sana masih ada foto pernikahan kami.

Masih ada lemari yang kupilih sendiri.

Masih ada meja kecil tempat aku berkali-kali menunggu Rendra pulang tengah malam.

“Aku pasti kembali,” jawabku.

Nadine mengangkat alis.

“Masih berharap Mas Rendra berubah pikiran?”

“Tidak.”

Aku memegang gagang koper.

“Aku kembali untuk mengambil sesuatu yang jauh lebih penting daripada seorang suami.”

Malam itu aku menginap di sebuah hotel kecil di Kebayoran Baru.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, tidak ada orang yang menyuruhku membuat teh.

Tidak ada suara Bu Ratih memanggil namaku.

Tidak ada Rendra yang pulang larut sambil berkata rapatnya molor.

Aku duduk di tepi ranjang sambil membuka kotak logam yang kubawa.

Di dalamnya terdapat salinan akta investasi, perjanjian pinjaman, sertifikat saham, dan dokumen notaris.

Namaku tercatat sebagai pemilik 21 persen saham PT Pratama Prima Kemasan.

Selain itu, perusahaan masih memiliki utang pribadi kepadaku sebesar Rp2,4 miliar.

Selama ini Rendra selalu mengatakan dokumen itu hanya formalitas.

Tiba-tiba teleponku berdering.

Nomor tidak dikenal.

“Halo?”

“Apakah saya berbicara dengan Ibu Alya Maheswari?”

“Iya.”

“Saya dr. Arief Santoso dari Klinik Arunika.”

Nama itu terasa familiar.

Kemudian aku ingat.

Empat tahun lalu aku pernah menjalani pemeriksaan kesuburan di sana.

“Ada apa, Dok?”

Dia terdiam sebentar.

“Klinik kami sedang melakukan audit arsip lama setelah ditemukan beberapa ketidaksesuaian data pasien. Nama Ibu termasuk salah satu yang terdampak.”

Jantungku mulai berdetak cepat.

“Maksud dokter?”

“Hasil pemeriksaan Ibu yang tersimpan di server pusat berbeda dengan salinan laporan yang dahulu diberikan kepada Ibu.”

Tanganku dingin.

“Berbeda bagaimana?”

“Secara medis, hasil pemeriksaan Ibu waktu itu berada dalam batas normal.”

Aku tidak langsung memahami kalimat itu.

“Normal?”

“Iya.”

“Tapi saya diberi tahu cadangan ovarium saya sangat rendah dan kemungkinan hamil kecil.”

“Itulah masalahnya. Angka dalam dokumen yang Ibu terima bukan angka asli laboratorium.”

Aku berdiri.

“Siapa yang mengubahnya?”

“Saya belum bisa menjelaskan semuanya lewat telepon.”

Aku mencoba bernapas.

Kemudian dokter itu berkata lagi.

“Namun ada arsip lain yang perlu Ibu lihat.”

“Apa?”

“Pemeriksaan atas nama suami Ibu, Bapak Rendra Pratama.”

Dunia terasa berhenti.

“Rendra pernah diperiksa di sana?”

“Bukan sekali.”

Suara dokter berubah lebih serius.

“Tiga pemeriksaan terpisah sebelum kalian menikah menunjukkan tidak ditemukan sel sperma dalam sampelnya. Dokter spesialis saat itu sudah menjelaskan bahwa peluang untuk memperoleh kehamilan secara alami praktis sangat rendah.”

Aku mencengkeram ujung meja.

“Apakah Rendra tahu?”

“Tanda tangannya ada pada formulir konseling.”

Semua penghinaan selama tujuh tahun muncul kembali dalam kepalaku.

Tatapan Bu Ratih.

Obat-obatan yang kutelan.

Malam-malam ketika aku meminta maaf kepada Rendra karena merasa gagal menjadi istri.

Dan selama itu…

dia sudah tahu.

Sebelum menutup telepon, dr. Arief mengucapkan satu kalimat lagi.

“Bu Alya, besok pagi datanglah. Ada rekaman akses data, pembayaran, dan satu dokumen baru yang berkaitan dengan perempuan bernama Nadine Permata.”

Aku membeku.

“Nadine?”

“Iya.”

“Kenapa namanya ada di sana?”

Dokter itu menarik napas.

“Karena kehamilan perempuan tersebut mungkin bukan kabar bahagia yang keluarga suami Ibu bayangkan.”

Aku menatap sertifikat saham di tanganku.

Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah itu, aku tersenyum.

Bukan karena bahagia.

Tetapi karena akhirnya aku tahu satu hal.

Mereka membuangku tepat pada malam ketika kebohongan tujuh tahun mereka mulai runtuh.

#DramaKeluarga #KisahPengkhianatan #CeritaRumahTangga #WanitaBangkit #KisahViral

Bagian 2 — Pagi di Rumah Sakit Membuka Fakta bahwa Suamiku Sudah Tahu Rahasianya, Sementara Kehamilan Kekasihnya Menyimpan Nama Pria Lain yang Sangat Dekat

Pukul delapan pagi aku sudah duduk di ruang konsultasi dr. Arief.

Dia tidak banyak berbasa-basi.

Satu per satu dokumen diletakkan di depanku.

Yang pertama adalah hasil pemeriksaanku empat tahun lalu.

Nilainya normal.

Yang kedua adalah salinan yang pernah diberikan kepadaku.

Beberapa angka telah diubah.

Kesimpulan dokternya pun berbeda.

“Siapa yang melakukan ini?”

Dr. Arief memutar laptop.

Log sistem menunjukkan akun seorang staf administrasi lama membuka data milikku pada malam hari, dua hari sebelum hasil diserahkan.

“Staf tersebut sudah tidak bekerja di sini. Tetapi saat audit dilakukan, kami menemukan bukti transfer ke rekeningnya.”

“Dari siapa?”

Dokter menunjukkan nama pengirimnya.

Ratih Pratama.

Ibu mertuaku.

Aku tidak menangis.

Entah kenapa, setelah semua penghinaan yang kuterima, melihat namanya justru membuatku sangat tenang.

“Kenapa klinik baru menemukan sekarang?”

“Dulu sistem kami belum terintegrasi. Audit baru dilakukan setelah mantan staf itu diperiksa dalam kasus manipulasi data pasien lain.”

Kemudian dr. Arief mengeluarkan berkas Rendra.

Tiga hasil pemeriksaan.

Semua menunjukkan hal sama.

Rendra telah mengetahui kondisinya hampir delapan tahun lalu.

Beberapa bulan sebelum kami menikah.

Ada tanda tangan Rendra di bawah lembar konseling.

Ada pula tanda tangan Bu Ratih sebagai pendamping keluarga.

Mereka berdua tahu.

Mereka menikahkanku dengan Rendra.

Lalu ketika aku tidak hamil, mereka membuatku percaya bahwa tubuhkulah yang rusak.

“Tapi Nadine?” tanyaku.

Dr. Arief membuka satu dokumen terakhir.

“Perempuan bernama Nadine Permata datang ke rumah sakit jaringan kami dua minggu lalu untuk pemeriksaan kehamilan.”

“Dan?”

“Secara etik saya tidak dapat memberikan seluruh rekam medis pasien lain. Tetapi ada satu hal yang berkaitan langsung dengan dugaan manipulasi data dan sudah diserahkan kepada tim hukum rumah sakit.”

Dia menunjukkan formulir permintaan pemeriksaan genetik yang ditandatangani Nadine.

Aku membaca satu nama di kolom pendamping.

Fajar Nugroho.

Aku mengenal nama itu.

Fajar adalah direktur operasional perusahaan keluarga Rendra.

Sahabat Rendra sejak kuliah.

Orang yang hampir setiap akhir pekan datang ke rumah.

“Kenapa Fajar mendampinginya?”

“Kami tidak tahu hubungan mereka. Tetapi dalam catatan komunikasi laboratorium terdapat permintaan tes paternitas prenatal noninvasif yang kemudian dibatalkan sebelum sampel kedua dikirim.”

Aku mengangkat kepala.

“Tes paternitas?”

Dokter mengangguk.

“Nadine awalnya mencantumkan Fajar sebagai pihak pria.”

Tanganku gemetar.

Jadi Nadine sendiri pernah meragukan siapa ayah anaknya.

Aku langsung menghubungi Maya, teman lamaku yang sekarang bekerja sebagai pengacara korporasi.

Dua jam kemudian kami duduk di sebuah kafe dengan seluruh dokumen terbentang di meja.

Maya membaca perjanjian investasiku.

Lalu dia tersenyum.

“Alya, keluarga itu benar-benar terlalu sibuk menganggapmu ibu rumah tangga sampai lupa membaca dokumen.”

“Apa maksudmu?”

Dia menunjuk satu halaman.

Saham 21 persen milikku sah.

Tidak pernah dialihkan.

Pinjaman Rp2,4 miliar juga belum dibayar.

Dan tiga tahun lalu, saat perusahaan meminjam dana bank untuk membeli mesin baru, gudang utama di Bekasi dijadikan jaminan kedua kepada diriku melalui perjanjian terpisah.

“Kalau mereka gagal melunasi sesuai klausul percepatan, kamu punya dasar menagih penuh.”

“Aku tidak ingin mengambil sesuatu yang bukan milikku.”

Maya menatapku.

“Bagus. Kita cuma mengambil yang memang milikmu.”

Siang itu kami mengirimkan pemberitahuan resmi kepada perusahaan.

Permintaan audit khusus.

Pembekuan perubahan struktur pemegang saham.

Penagihan pinjaman.

Dan permintaan rapat umum pemegang saham luar biasa.

Belum sampai satu jam, Rendra menelepon.

Aku mengangkatnya.

“Apa yang kamu lakukan?”

“Menjaga milikku.”

“Kamu mengirim pengacara ke kantor?”

“Iya.”

“Jangan campur masalah rumah tangga dengan perusahaan!”

Aku hampir tertawa.

“Kemarin kamu bilang uang yang kumasukkan ke perusahaan adalah urusan berbeda. Sekarang aku sedang mengurus urusan berbeda itu.”

Dia terdiam.

Kemudian suaranya melembut.

“Alya, pulang dulu. Kita bicara baik-baik.”

“Di kamar mana? Kamar utama sudah diberikan kepada Nadine.”

“Aku bisa jelaskan semuanya.”

“Besok.”

“Besok apa?”

“Rapat pemegang saham.”

Aku menutup telepon.

Namun kejutan terbesar datang sore hari.

Maya menerima salinan laporan transaksi perusahaan dari auditor independen.

Selama enam bulan terakhir, terdapat pembayaran ratusan juta rupiah kepada sebuah vendor konsultasi yang ternyata dimiliki kerabat Nadine.

Persetujuannya ditandatangani Fajar.

Beberapa dana kemudian berpindah lagi ke rekening pribadi Nadine.

Maya langsung menghubungiku.

“Alya, sepertinya perselingkuhan bukan satu-satunya masalah mereka.”

Malam itu, sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

Sebuah foto.

Nadine dan Fajar sedang keluar dari sebuah apartemen di Kuningan.

Foto tersebut bertanggal lima bulan lalu.

Di bawahnya hanya ada satu kalimat.

Kalau kamu mau tahu siapa ayah anak Nadine sebenarnya, tanyakan kenapa Fajar sudah membayar biaya pemeriksaan kehamilannya sejak bulan pertama.

Belum sempat aku membalas, teleponku berdering.

Bu Ratih.

Begitu kuangkat, dia langsung berteriak.

“Kamu perempuan tidak tahu diri! Cabut permintaan audit itu!”

Aku diam.

Lalu bertanya pelan,

“Ibu sudah tahu kondisi Rendra sejak sebelum kami menikah, kan?”

Sunyi.

Hanya beberapa detik.

Tetapi cukup.

Kemudian Bu Ratih menjawab dengan suara gemetar,

“Kamu dapat informasi itu dari siapa?”

Aku memejamkan mata.

Itulah pengakuan yang kubutuhkan.

“Besok datang ke rapat, Bu.”

“Alya—”

“Dan ajak Nadine.”

Aku melihat foto Nadine dan Fajar sekali lagi.

“Karena besok saya ingin keluarga Ibu mendengar sendiri siapa sebenarnya yang selama tujuh tahun disebut mandul… dan siapa yang sedang mengandung ‘pewaris keluarga’ itu.”

Bagian 3 — Di Ruang Rapat Keluarga Mereka Kehilangan Perusahaan, Kehormatan, dan Kebohongan Terakhir, Sedangkan Aku Pulang Membawa Hidupku Kembali Tanpa Menunduk Lagi kepada Siapa Pun

Pukul sepuluh pagi ruang rapat utama PT Pratama Prima Kemasan penuh.

Rendra duduk di ujung meja.

Bu Ratih di sampingnya.

Pak Harun tampak pucat.

Nadine datang dengan wajah tegang.

Fajar justru belum terlihat.

Aku masuk bersama Maya dan dua auditor independen.

Bu Ratih langsung berdiri.

“Ini urusan keluarga. Kenapa membawa orang luar?”

Aku menarik kursi.

“Karena selama tujuh tahun setiap kali saya dipermalukan, Ibu selalu bilang masalah keluarga harus diselesaikan di dalam keluarga.”

Aku meletakkan map di meja.

“Sayangnya, penipuan dokumen dan uang perusahaan bukan lagi sekadar masalah keluarga.”

Wajah Rendra berubah.

“Apa maksudmu?”

Maya mengambil alih.

Ia menjelaskan kepemilikan sahamku.

Utang perusahaan.

Permintaan audit.

Kemudian auditor menampilkan transaksi vendor fiktif yang terhubung dengan Nadine.

Totalnya hampir Rp1,1 miliar.

Rendra menoleh tajam kepada Nadine.

“Kamu tahu soal ini?”

“Aku tidak tahu!”

Namun saat auditor menampilkan persetujuan Fajar, pintu ruang rapat terbuka.

Fajar masuk.

Wajahnya pucat.

Dia ditemani pengacaranya.

“Saya mau membuat pernyataan.”

Rendra berdiri.

“Kamu ini sebenarnya sedang main apa?”

Fajar menatapnya beberapa detik.

Kemudian menunduk.

“Dana vendor itu saya setujui.”

“Kenapa?”

Tidak ada jawaban.

Rendra membanting meja.

“Kenapa?!”

Fajar akhirnya menatap Nadine.

Ruangan langsung sunyi.

Nadine mulai menangis.

Saat itulah aku tahu jawabannya bahkan sebelum mereka mengatakannya.

Fajar berkata pelan,

“Karena sebagian uang itu dipakai untuk Nadine.”

Rendra membeku.

“Untuk apa?”

“Biaya apartemen. Pemeriksaan. Dan kebutuhan lain.”

Bu Ratih berdiri.

“Kebutuhan apa?”

Fajar memejamkan mata.

“Kehamilannya.”

Rendra menerjang meja.

“Kamu gila?!”

Nadine menangis semakin keras.

“Mas, dengarkan dulu…”

“Kamu bilang anak itu anakku!”

“Aku takut!”

Rendra seperti hendak menghampirinya, tetapi Pak Harun menahan bahunya.

Aku mengeluarkan salinan berkas pemeriksaan Rendra.

“Tidak perlu berteriak.”

Kutaruh dokumen itu tepat di depannya.

“Tiga pemeriksaan. Tiga hasil. Dan semuanya dilakukan sebelum kita menikah.”

Rendra tidak menyentuhnya.

Bu Ratih langsung memalingkan wajah.

Aku menatapnya.

“Lebih baik Ibu jelaskan.”

Pak Harun menoleh kepada istrinya.

“Kamu tahu?”

Bu Ratih tidak menjawab.

Aku mengeluarkan bukti transfer kepada staf klinik.

“Bukan hanya tahu. Ibu juga membayar seseorang untuk mengubah hasil pemeriksaan saya.”

Pak Harun terduduk.

“Ratih…”

Bu Ratih mulai menangis.

“Saya cuma ingin mempertahankan keluarga!”

Aku menatap perempuan yang tujuh tahun membuatku merasa gagal.

“Dengan menghancurkan saya?”

“Kamu tidak mengerti tekanan keluarga kami!”

“Tidak.”

Suaraku tetap tenang.

“Saya mengerti sekali.”

Aku menunjuk Rendra.

“Ibu takut orang tahu anak laki-laki Ibu punya masalah kesuburan.”

Lalu kutunjuk diriku sendiri.

“Jadi Ibu membutuhkan seseorang untuk disalahkan.”

Bu Ratih tidak mampu menjawab.

Rendra akhirnya membuka mulut.

“Alya… aku salah.”

Aku menoleh.

Wajah laki-laki itu benar-benar berbeda dari kemarin.

Tidak ada kesombongan.

Tidak ada tatapan dingin.

“Aku seharusnya jujur.”

“Seharusnya.”

“Aku takut kamu tidak mau menikah denganku.”

“Jadi kamu membiarkan keluargamu menyebutku mandul selama tujuh tahun?”

Dia menunduk.

“Aku pengecut.”

Untuk pertama kalinya, aku setuju dengan sesuatu yang dia katakan.

Nadine tiba-tiba memegang perutnya.

“Aku akan pergi. Aku tidak mau uang kalian.”

Maya langsung menyela.

“Masalah transaksi perusahaan akan tetap diperiksa.”

Nadine pucat.

Fajar pun tidak mampu membantu.

Audit akhirnya menemukan sebagian transaksi dilakukan tanpa prosedur resmi.

Fajar mengundurkan diri dan diwajibkan mengembalikan dana bersama pihak vendor terkait.

Nadine meninggalkan rumah keluarga Pratama beberapa hari kemudian.

Hubungannya dengan Rendra selesai bahkan sebelum proses perceraianku dimulai.

Tes paternitas setelah bayinya lahir kemudian memastikan Rendra bukan ayah biologis anak tersebut.

Tetapi saat kabar itu sampai kepadaku beberapa bulan kemudian, aku tidak merasakan kemenangan.

Karena sebenarnya aku sudah berhenti peduli.

Yang lebih penting adalah hidupku sendiri.

Perusahaan akhirnya menyepakati pembayaran utang kepadaku secara bertahap setelah beberapa aset nonproduktif dijual.

Aku mempertahankan sahamku sampai kondisi keuangan stabil, lalu menjual sebagian melalui mekanisme resmi kepada investor baru.

Jumlahnya tidak membuatku menjadi miliarder.

Tetapi cukup untuk mengembalikan hampir seluruh uang yang dulu kukorbankan.

Perceraianku dengan Rendra selesai tanpa drama tambahan.

Pada hari terakhir sidang, dia menungguku di luar pengadilan.

“Alya.”

Aku berhenti.

Dia tampak lebih kurus.

“Aku ingin minta maaf.”

Aku diam.

“Kalau aku bisa mengulang semuanya…”

“Jangan.”

Dia menatapku.

“Aku sudah menghabiskan terlalu banyak tahun memikirkan apa yang seharusnya terjadi.”

Aku tersenyum kecil.

“Sekarang aku ingin memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini.”

Enam bulan kemudian aku kembali ke Bandung.

Bukan untuk melarikan diri.

Aku membeli sebuah rumah kecil tidak jauh dari tempat ibuku dulu tinggal.

Aku juga membuka studio desain interior bersama dua teman lamaku.

Hari pertama studio itu dibuka, aku berdiri sendirian di depan pintu kaca sambil memasang papan nama.

Namaku sendiri tertulis di sana.

ALYA MAHESWARI STUDIO.

Tidak ada nama keluarga Pratama.

Tidak ada gelar sebagai istri seseorang.

Tidak ada orang yang bertanya kapan aku akan memberikan cucu.

Malam itu aku pulang membawa nasi bungkus dan dua pot tanaman kecil.

Rumahku belum sepenuhnya berisi.

Beberapa kardus bahkan belum kubuka.

Tetapi saat menyalakan lampu ruang tengah, aku mendadak teringat malam ketika berjalan keluar dari rumah Rendra dengan satu koper.

Waktu itu aku mengira aku kehilangan tujuh tahun hidupku.

Ternyata tidak.

Tujuh tahun itu memang menyakitkan.

Tetapi justru dari sanalah aku belajar bahwa kehilangan suami yang berkhianat bukanlah akhir kehidupan.

Kadang-kadang yang benar-benar menghancurkan seorang perempuan bukan ketika seseorang meninggalkannya.

Melainkan ketika dia terus tinggal di tempat yang setiap hari membuatnya merasa tidak berharga.

Aku membuka jendela.

Udara Bandung malam itu dingin.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak mendengar siapa pun memanggil dari dapur.

Tidak ada yang menyuruhku membuat teh.

Tidak ada yang mengomentari tubuhku.

Tidak ada yang menentukan kapan aku boleh bekerja.

Hanya ada rumah kecil, suara kendaraan dari kejauhan, dan hidup yang akhirnya kembali berada di tanganku sendiri.

Aku tersenyum.

Tujuh tahun lalu aku masuk ke keluarga itu sebagai seorang istri yang ingin dicintai.

Hari ini aku keluar sebagai perempuan yang akhirnya mengerti satu hal:

Cinta tidak pernah meminta kita mengorbankan harga diri agar bisa tetap dipertahankan.

Dan kali ini, ketika aku menutup pintu rumahku sendiri, aku tahu pasti…

Tak seorang pun akan pernah lagi memiliki kunci untuk mengusirku dari hidup yang kubangun dengan tanganku sendiri.