Mantan Suamiku Pernah Menghancurkan Tanganku demi Perempuan Lain; Delapan Belas Bulan Kemudian, Saat Tengkoraknya Harus Dibuka, Namaku Tercetak sebagai Dokter Utama Operasinya dan Ia Baru Sadar Siapa yang Telah Ia Buang

Avatar penulis
Cerita 03
17 menit baca 564 tayangan
Mantan Suamiku Pernah Menghancurkan Tanganku demi Perempuan Lain; Delapan Belas Bulan Kemudian, Saat Tengkoraknya Harus Dibuka, Namaku Tercetak sebagai Dokter Utama Operasinya dan Ia Baru Sadar Siapa yang Telah Ia Buang
Indeks

Mantan Suamiku Pernah Menghancurkan Tanganku demi Perempuan Lain; Delapan Belas Bulan Kemudian, Saat Tengkoraknya Harus Dibuka, Namaku Tercetak sebagai Dokter Utama Operasinya dan Ia Baru Sadar Siapa yang Telah Ia Buang

Bagian 1 — Di Gala Rumah Sakit, Aku Dipaksa Berlutut, Difitnah Mencuri, Lalu Dua Tangan yang Menyelamatkan Banyak Nyawa Dihancurkan Suamiku Sendiri demi Cinta Lamanya

Malam ketika suamiku menghancurkan kedua tanganku, ada lebih dari seratus dokter, pengusaha, pejabat rumah sakit, dan wartawan di dalam ballroom itu.

Tidak seorang pun menghentikannya.

Namaku dr. Nadira Prameswari.

Aku dokter bedah saraf dengan fokus pada operasi pembuluh darah otak. Selama sebelas tahun memegang pisau bedah, aku sudah berdiri di meja operasi selama belasan jam tanpa gemetar sedikit pun.

Tetapi malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, kedua tanganku gemetar bukan karena kelelahan.

Melainkan karena suamiku sendiri.

Arga Mahendra.

Dokter bedah saraf terkenal, pewaris jaringan rumah sakit Mahendra Medika, dan lelaki yang selama empat tahun terakhir kupanggil suami.

Gala amal malam itu digelar di sebuah hotel mewah di Jakarta untuk mengumpulkan dana operasi pasien anak dari keluarga tidak mampu.

Aku datang terlambat setelah menyelesaikan operasi aneurisma.

Gaunku sederhana berwarna biru gelap. Rambutku hanya dikuncir rendah. Aku bahkan belum sempat mengganti bekas plester infus di punggung tangan karena siang tadi aku sempat menerima cairan setelah hampir sepuluh jam berada di ruang operasi.

Arga tidak menyambutku.

Sejak awal, tatapannya hanya mengikuti seorang perempuan.

Selma Adiningrum.

Mantan kekasihnya yang baru kembali dari Melbourne dua minggu lalu.

Perempuan itu mengenakan gaun merah marun dan gelang berlian yang sengaja berkali-kali ia angkat ke dekat wajah agar fotografer bisa mengambil gambar.

Aku baru mengambil segelas air ketika Selma menghampiriku.

“Nadira.”

Nada suaranya lembut, tetapi cukup keras untuk membuat beberapa orang di dekat kami menoleh.

“Empat tahun ternyata lama sekali, ya.”

Aku tersenyum tipis.

“Ada yang bisa kubantu?”

Selma menatap cincin pernikahanku.

Kemudian ia tertawa kecil.

“Tidak. Aku cuma penasaran.”

Ia mendekat setengah langkah.

“Sampai kapan kamu akan memakai sesuatu yang sebenarnya bukan milikmu?”

Beberapa kepala mulai berbalik.

Aku tahu apa yang sedang ia lakukan.

Dan Selma tahu aku mengetahuinya.

“Kalau maksudmu Arga,” kataku, “bicaralah langsung kepadanya. Jangan membuat panggung di acara amal.”

Wajah Selma berubah.

Matanya langsung berkaca-kaca.

“Kamu selalu begitu.”

“Apa?”

“Bersikap seperti perempuan yang menang.”

Suasana di sekitar kami semakin sunyi.

Lalu Arga datang.

Selma segera memegang lengannya.

“Ga, sudahlah. Aku tidak ingin merusak acara rumah sakitmu.”

Kalimat itu terdengar seperti permintaan damai.

Tapi sesaat kemudian, ketika ia melangkah mundur, tumitnya tersangkut ujung karpet.

Aku refleks meraih lengannya.

Selma justru menjatuhkan tubuhnya sendiri.

Gelas sampanye di tangannya pecah.

Telapak tangannya terkena serpihan kecil kaca.

Ia menjerit.

Arga langsung berjongkok.

“Selma!”

Aku berdiri diam.

“Aku tidak mendorongnya.”

Arga menatapku dari bawah.

Tatapan yang selama bertahun-tahun sudah kukenal.

Bukan tatapan seseorang yang ingin mengetahui kebenaran.

Melainkan tatapan seseorang yang sudah memilih siapa yang akan dipercaya sebelum siapa pun berbicara.

Selma menggigit bibir.

“Nadira mungkin cuma kaget melihatku dekat denganmu.”

“Aku tidak melakukan apa pun.”

“Cukup.”

Arga berdiri.

“Nadira, minta maaf.”

Aku menatapnya.

“Ada CCTV tepat di atas meja prasmanan.”

Beberapa wartawan mulai mengangkat ponsel.

“Ayo kita lihat rekamannya.”

Rahang Arga mengeras.

“Kamu harus membuat semuanya semakin besar?”

“Aku hanya meminta kebenaran.”

Selma segera menangis.

“Aku tidak perlu CCTV. Aku tidak ingin mempermalukan siapa pun.”

Aku hampir tertawa.

Perempuan yang baru saja membuat puluhan orang mengerumuni kami sekarang bicara tentang tidak mempermalukan siapa pun.

Arga mendekat.

“Mintalah maaf.”

“Untuk sesuatu yang tidak kulakukan?”

“Nadira.”

“Aku tidak akan melakukannya.”

Ekspresi wajahnya berubah.

Mungkin karena terlalu banyak mata sedang melihatnya.

Mungkin karena di sebelahnya berdiri perempuan yang selama bertahun-tahun tidak pernah benar-benar ia lepaskan.

Atau mungkin selama ini aku memang tidak pernah mengenal suamiku sendiri.

Arga menunjuk lantai di depan Selma.

“Kalau begitu, berlutut.”

Ballroom seketika senyap.

Aku yakin aku salah dengar.

“Apa?”

“Berlutut dan minta maaf. Setelah itu masalah selesai.”

Ada suara orang menarik napas.

Aku melihat satu per satu wajah di sekitar kami.

Dokter.

Direktur.

Perawat senior.

Orang-orang yang pernah menyaksikanku berdiri tiga belas jam menyelamatkan pasien.

Tak satu pun bergerak.

Aku kembali menatap Arga.

Empat tahun menikah dengannya, aku sudah menelan banyak hal.

Ulang tahun pernikahan kami pernah dibatalkannya karena Selma menelepon dari Australia dalam keadaan menangis.

Rumah yang kupilih sendiri pernah direnovasi hanya karena Selma mengatakan desainnya terlalu dingin.

Bahkan sebuah penelitian yang kukerjakan selama dua tahun pernah Arga serahkan kepada yayasan keluarganya tanpa mencantumkan namaku sebagai peneliti utama.

Aku diam.

Karena dulu aku merasa berutang kepadanya.

Saat aku masih residen, sebuah kesalahan administratif hampir membuat beasiswaku dicabut. Arga yang saat itu menjadi senior membuktikan bahwa kesalahan berasal dari sistem rumah sakit, bukan dariku.

Karierku terselamatkan.

Sejak saat itu, aku selalu merasa satu bagian hidupku berasal dari pertolongannya.

Ternyata rasa utang bisa membuat seseorang bertahan terlalu lama di tempat yang salah.

Aku perlahan menekuk lutut.

Selma tidak bisa menyembunyikan kilatan puas di matanya.

“Nadira…” seseorang berbisik dari belakang.

Aku tidak menoleh.

Aku berlutut.

Namun aku tidak menatap Selma.

Aku menatap Arga.

“Mulai malam ini,” kataku pelan, “aku tidak punya utang apa pun lagi kepadamu.”

Wajahnya berubah.

Aku melepas cincin kawin.

Meletakkannya di lantai.

Lalu berdiri.

Belum sempat aku pergi, Selma tiba-tiba memegang pergelangan tangannya.

“Gelangku!”

Semua orang melihat ke arahnya.

“Gelang dari Arga hilang.”

Ia menoleh kepadaku.

Matanya turun ke tasku.

“Tadi Nadira memegang lenganku.”

Aku menatapnya beberapa detik.

Kemudian tertawa.

Benar-benar tertawa.

Karena rasanya sudah terlalu keterlaluan untuk disebut kebetulan.

Arga mengulurkan tangan.

“Berikan tasmu.”

“Tidak.”

“Nadira.”

“Kalau ada yang hilang, panggil keamanan dan polisi. Buka CCTV.”

Selma mulai menangis lagi.

Arga merampas tasku.

Isinya dijatuhkan ke atas meja.

Dompet.

Stetoskop.

Kartu rumah sakit.

Obat sakit kepala.

Kotak kecil berisi USB.

Dan sebuah gelang berlian.

Suara gaduh langsung memenuhi ballroom.

Aku menatap gelang itu.

Aku bahkan belum pernah menyentuhnya.

Selma menutup mulut.

“Ya Tuhan…”

Arga memandangku seolah aku orang asing.

“Apa lagi alasanmu?”

“CCTV.”

“Berhenti mengatakan CCTV!”

Untuk pertama kalinya suaranya benar-benar membentak.

Aku mengambil ponsel.

“Kalau kamu tidak mau memeriksanya, aku akan menelepon polisi sendiri.”

Tangan Arga langsung mencengkeram pergelangan tanganku.

Ia menyeretku menuju ruang rapat kecil di sebelah ballroom.

Pintu ditutup.

Hanya kami berdua.

“Lepaskan.”

“Kamu puas mempermalukan keluargaku?”

“Aku yang dipermalukan.”

“Akui kamu mengambil gelang itu.”

Aku menatapnya lurus.

“Tidak.”

“Selma tidak punya alasan menjebakmu.”

“Dan kamu bahkan tidak punya keberanian melihat rekaman selama lima menit.”

Arga menatap kedua tanganku.

Lalu tertawa pendek tanpa kehangatan.

“Kamu selalu merasa lebih tinggi dari semua orang hanya karena tanganmu bisa mengoperasi otak manusia.”

Aku membeku.

“Arga.”

“Bukankah itu yang paling kamu banggakan?”

Ia mencengkeram tangan kananku.

“Lepaskan aku.”

“Akui.”

“Tidak.”

Ia mendorong tanganku keras ke tepi meja kayu.

Bunyi benturan pendek terdengar.

Rasa sakit menyambar sampai ke siku.

Aku menahan napas.

“Arga, berhenti.”

Tetapi kemarahannya sudah mengambil alih.

“Akui!”

“Tidak.”

Benturan kedua mengenai tangan kiriku.

Kali ini aku kehilangan keseimbangan.

Air mataku keluar tanpa suara.

Bukan hanya karena sakit.

Aku tahu persis anatomi tanganku.

Aku tahu suara itu bukan benturan biasa.

Dan yang paling menakutkan bagi seorang ahli bedah bukan rasa sakit.

Melainkan kemungkinan kehilangan presisi.

Arga akhirnya melepaskanku.

“Kalau kamu berhenti keras kepala sejak tadi, ini tidak perlu terjadi.”

Aku memandang tanganku yang mulai membengkak.

Kemudian menatap suamiku.

Aneh.

Aku tidak lagi marah.

Sesuatu di dalam diriku justru terasa sangat tenang.

“Besok pagi,” kataku, “pengacaraku akan menghubungimu.”

Arga mendengus.

“Kamu mau mengancam cerai lagi?”

“Bukan mengancam.”

Aku membuka pintu.

“Kali ini aku benar-benar pergi.”

Malam itu hasil rontgen menunjukkan beberapa retakan tulang metakarpal dan cedera ligamen yang membutuhkan operasi serta rehabilitasi panjang.

Pukul 02.10 dini hari, aku menelepon Prof. Harun Wibowo, mentor lamaku yang sekarang memimpin pusat bedah saraf di Singapura.

Suara beliau terdiam ketika mendengar ceritaku.

“Nadira, pulanglah ke sini.”

Aku menatap dua tanganku yang sudah dipasang penyangga.

“Prof… kalau tangan saya tidak kembali seperti dulu?”

“Kalau begitu kita perjuangkan sampai kembali.”

Pukul 05.40, pengacaraku mengirim gugatan cerai.

Pukul 08.15, aku meninggalkan Jakarta.

Siang harinya, Arga datang ke rumah membawa bunga anggrek putih.

Rumah sudah kosong.

Bima, asistennya, berlari dari halaman sambil membawa tablet.

Wajahnya pucat.

“Dokter Arga, hasil CT kontrol Anda baru keluar.”

Arga berhenti.

Bertahun-tahun sebelumnya, serpihan logam kecil dari kecelakaan motor masih tertanam dekat salah satu pembuluh darah utama di otaknya. Selama posisinya stabil, para dokter memilih mengawasinya.

Tetapi pagi itu posisinya berubah.

Bima menelan ludah.

“Serpihannya bergeser hampir empat milimeter. Sekarang sangat dekat dengan dinding arteri.”

Bunga di tangan Arga perlahan turun.

“Siapa yang bisa mengangkatnya?”

Bima diam terlalu lama.

Kemudian menjawab,

“Teknik yang paling aman untuk lokasi seperti ini… dikembangkan oleh tim Prof. Harun.”

Ia menatap Arga.

“Dan dokter Indonesia yang ikut mengembangkan prosedurnya adalah… dr. Nadira.”

Untuk pertama kalinya sejak mengenalku, wajah Arga benar-benar kehilangan warna.

Sebab perempuan yang mungkin suatu hari harus membuka tengkoraknya itu baru saja pergi dengan kedua tangan yang ia hancurkan sendiri.

#KisahRumahTangga #DramaIndonesia #PerempuanTangguh #PengkhianatanCinta #KarmaItuNyata

Bagian 2 — Aku Pergi Tanpa Menoleh, Memulihkan Tanganku di Singapura, Sementara Rekaman Tersembunyi Membongkar Kebohongan yang Selama Ini Menjatuhkanku dan Mempermalukanku di Depan Publik

Operasi pertama pada tanganku berlangsung hampir empat jam.

Setelah itu tidak ada keajaiban.

Tidak ada pagi ketika aku bangun lalu tiba-tiba bisa memegang pisau bedah seperti dahulu.

Yang ada hanyalah berbulan-bulan fisioterapi.

Mengambil kelereng dengan dua jari.

Memindahkan koin.

Mengikat benang.

Menggambar garis lurus.

Mengulang gerakan yang dulu bisa kulakukan tanpa berpikir.

Kadang aku menangis sendirian di ruang latihan.

Bukan karena Arga.

Melainkan karena tanganku tidak mau mengikuti perintah otakku.

Prof. Harun tidak pernah memberiku belas kasihan.

“Ulangi.”

“Jari saya sakit.”

“Ulangi.”

“Sudah seratus kali.”

“Berarti seratus satu.”

Enam bulan kemudian aku kembali memegang instrumen latihan.

Sebelas bulan kemudian aku diizinkan menjadi asisten operasi.

Empat belas bulan kemudian aku kembali melakukan prosedur mikrovaskular di bawah pengawasan.

Hari ketika tanganku berhasil menjahit pembuluh berdiameter kurang dari dua milimeter tanpa tremor, aku masuk ke ruang ganti dan menangis hampir sepuluh menit.

Bukan karena aku kembali menjadi diriku yang lama.

Aku justru sadar aku sudah menjadi orang yang berbeda.

Sementara itu di Jakarta, kebohongan mulai runtuh satu demi satu.

Tiga hari setelah gala, seorang fotografer freelance bernama Reza menghubungi pengacaraku.

Kameranya menggunakan dua kartu memori.

Salah satunya berisi rangkaian foto saat Selma berdiri sangat dekat denganku sebelum jatuh.

Dalam tiga foto berurutan terlihat jelas tangannya membuka tasku.

Foto berikutnya menunjukkan benda berkilau masuk ke dalam.

Tetapi bukti yang lebih parah datang seminggu kemudian.

Teknisi keamanan hotel ternyata menyimpan salinan rekaman CCTV otomatis selama tiga puluh hari di server cadangan.

Rekaman memperlihatkan semuanya.

Selma sengaja menggeser tumitnya ke pinggir karpet.

Menjatuhkan dirinya.

Menyelipkan gelang.

Kemudian, ketika situasi gaduh, ia berbisik kepada asistennya sambil tersenyum.

Aku tidak melihat rekaman itu pertama kali di kantor polisi.

Aku melihatnya di internet.

Seseorang membocorkannya.

Video dua menit itu menyebar ke mana-mana.

Orang-orang yang malam itu menghinaku mulai menghapus komentar.

Beberapa wartawan yang sebelumnya menulis bahwa aku “istri posesif” menerbitkan artikel koreksi.

Selma kehilangan kontrak dengan dua merek kosmetik.

Pihak yayasan mencopotnya dari posisi duta amal.

Namun bagian paling menyakitkan bagi Arga bukanlah video Selma.

Melainkan rekaman kamera koridor menuju ruang rapat.

Tidak ada gambar dari dalam ruangan.

Tetapi suaranya terekam samar.

Bentakannya.

Suara benturan.

Dan suaraku mengatakan,

“Besok pengacaraku akan menghubungimu.”

Dewan Mahendra Medika melakukan investigasi internal.

Ayah Arga sendiri, dr. Surya Mahendra, meminta putranya mundur sementara dari posisi direktur medis sampai pemeriksaan selesai.

Arga mencoba menghubungiku berkali-kali.

Aku tidak pernah menjawab.

Ia mengirim pesan melalui Prof. Harun.

Ditolak.

Ia datang ke Singapura.

Aku meminta keamanan gedung agar tidak mengizinkannya naik.

Pada sidang perceraian terakhir, aku hadir melalui pengacara.

Tidak ada perebutan harta.

Tidak ada adegan menangis.

Aku hanya mengambil barang milikku sendiri dan meminta satu hal:

Arga tidak boleh menghubungiku secara pribadi lagi.

Delapan belas bulan berlalu.

Aku kembali ke Jakarta bukan untuknya.

Rumah Sakit Pusat Saraf Nusantara membangun unit neurovaskular baru dan menawariku posisi kepala tim bedah.

Aku menerimanya.

Pada hari pertama, aku berdiri di depan ruang operasi baru dengan kedua tangan di saku jas.

Tak seorang pun di sana memanggilku “istri Arga Mahendra”.

Mereka memanggilku,

“Dokter Nadira.”

Itulah satu-satunya nama yang ingin kudengar.

Aku hampir percaya kisah kami selesai.

Sampai suatu Jumat malam, alarm trauma berbunyi.

Seorang pasien laki-laki dibawa dari sebuah seminar medis setelah tiba-tiba muntah, kehilangan kesadaran, lalu kejang.

CT menunjukkan perdarahan intrakranial.

Ada benda logam lama yang bergeser dan melukai dinding arteri.

Aku sedang membaca hasil pemindaian ketika residen di sebelahku berkata,

“Dok, identitas pasien sudah masuk.”

Aku melihat monitor.

Nama itu membuat ruangan seakan kehilangan suara.

dr. Arga Mahendra.

Mantan suamiku.

Aku membuka seluruh irisan CT.

Tekanan intrakranialnya naik.

Ada pseudoaneurisma yang mulai bocor.

Kami hanya punya sedikit waktu.

Direktur rumah sakit datang tergesa-gesa.

“Nadira, kita bisa panggil tim lain.”

Aku tidak menjawab.

“Tidak ada yang akan menyalahkanmu kalau kamu mundur.”

Aku menatap hasil CT sekali lagi.

Kemudian melihat kedua tanganku.

Tangan yang pernah dihancurkan lelaki di balik pintu ruang rapat.

Tangan yang kupaksa belajar dari nol.

Tangan yang sekarang kembali memegang hidup seseorang.

Aku mengambil pulpen.

“Tyiapkan hybrid OR.”

Residen menatapku.

“Anda akan operasi sendiri?”

“Aku dokter yang sedang jaga.”

Saat kami hendak mendorong ranjang menuju ruang operasi, suara sepatu hak tinggi terdengar dari ujung koridor.

Selma berlari mendekat.

Ternyata setelah perceraian kami, ia kembali berada di sisi Arga.

Wajahnya pucat.

Begitu melihatku mengenakan baju operasi, ia langsung berhenti.

“Kamu?”

Matanya membesar.

“Kamu tidak boleh menyentuh dia!”

Aku tetap berjalan.

Selma mencengkeram pintu ranjang.

“Aku tahu kamu membencinya! Siapa yang bisa menjamin kamu tidak membalas dendam di meja operasi?”

Semua orang terdiam.

Aku menatapnya.

Lalu berkata pelan,

“Justru karena aku dokter, hidupnya tidak akan pernah menjadi alat balas dendamku.”

Aku hendak masuk ketika dr. Surya datang membawa sebuah map.

Ayah Arga menatap Selma dengan wajah yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Kemudian ia mengeluarkan sebuah ponsel.

“Kalau kamu masih bicara soal siapa yang membahayakan Arga,” katanya, “mungkin semua orang perlu mendengar rekaman ini.”

Selma mendadak pucat.

Sebab di dalam ponsel itu ada satu percakapan yang bahkan Arga belum pernah dengar.

Dan setelah rekaman itu diputar, tidak seorang pun lagi memandang Selma dengan cara yang sama.

Bagian 3 — Di Ruang Operasi, Aku Menyelamatkan Pria yang Pernah Menghancurkanku, Lalu Membiarkan Kebenaran Menghukum Mereka Lebih Kejam daripada Dendamku Sendiri setelah Semuanya Terbukti

Rekaman itu berasal dari Bima.

Enam minggu sebelum Arga kolaps, Bima pernah menemukan laporan CT lanjutan yang menunjukkan serpihan di kepala Arga sudah bergerak semakin dekat ke pembuluh darah.

Ia meminta Arga segera menemui ahli bedah.

Tetapi hari itu Arga sedang menyiapkan konferensi besar Mahendra Medika.

Selma mendengar percakapan mereka.

Di rekaman ponsel Bima, suaranya terdengar jelas.

“Jangan bilang dulu.”

Bima menolak.

“Ini bisa berbahaya.”

Selma menjawab,

“Kalau seminar dibatalkan, kerja sama dengan investor bisa gagal. Setelah acara selesai baru kasih tahu.”

Bima tetap menyerahkan laporan kepada Arga, tetapi Selma mengambil map itu dari meja sebelum Arga membacanya.

Bima baru berani menyerahkan rekaman kepada dr. Surya setelah kondisi Arga memburuk.

Selma langsung menyangkal.

“Aku cuma tidak ingin dia panik!”

Dr. Surya tidak membentak.

Justru suaranya sangat dingin.

“Delapan belas bulan lalu kamu menjebak Nadira demi mendapatkan anak saya.”

Ia menunjuk pintu ruang operasi.

“Sekarang kamu menyembunyikan laporan medis demi sebuah acara.”

Selma menangis.

Tetapi tidak ada orang yang menghampirinya.

Aku juga tidak punya waktu melihat lebih lama.

Arga sedang sekarat.

Operasi berlangsung tujuh jam dua puluh menit.

Ketika tengkoraknya dibuka, situasinya bahkan lebih buruk daripada yang terlihat di CT.

Serpihan logam telah menempel dekat dinding arteri.

Sedikit gerakan salah bisa menyebabkan perdarahan masif.

Tanganku memegang mikroinstrumen.

Stabil.

Tidak gemetar.

Di bawah mikroskop, dunia mengecil menjadi pembuluh darah, jaringan otak, dan milimeter yang memisahkan hidup dari kematian.

Pada satu titik alarm monitor berbunyi cepat.

Tekanan darah turun.

“Siapkan darah.”

Tanganku terus bekerja.

Aku tidak melihat Arga sebagai mantan suamiku.

Aku tidak melihat ballroom.

Aku tidak mendengar suara benturan kedua tanganku ke meja.

Di meja operasi hanya ada satu hal:

Seorang pasien.

Dan kewajibanku menyelamatkannya.

Pukul 03.47 pagi, aliran darah kembali stabil.

Serpihan berhasil dikeluarkan.

Pseudoaneurisma diperbaiki.

Aku melepaskan sarung tangan setelah jahitan terakhir selesai.

Residenku tersenyum lega.

“Berhasil, Dok.”

Aku hanya mengangguk.

Ketika keluar dari ruang operasi, dr. Surya berdiri.

“Nadira?”

“Operasinya berhasil. Dua puluh empat jam berikutnya tetap kritis, tapi perdarahannya sudah terkontrol.”

Lelaki tua itu menundukkan kepala.

“Terima kasih.”

Aku tidak mengatakan apa-apa lagi.

Empat hari kemudian Arga sadar penuh.

Bima mengatakan ia meminta bertemu denganku.

Aku menolak dua kali.

Pada hari ketujuh, sebagai dokter yang memimpin operasi, aku harus melakukan evaluasi terakhir sebelum menyerahkan penanganannya kepada tim rehabilitasi.

Saat aku masuk, Arga duduk dengan kepala diperban.

Wajahnya jauh lebih kurus.

Ia menatap tanganku terlebih dahulu.

Lama.

Kemudian matanya memerah.

“Sudah pulih?”

“Cukup untuk menyelamatkan hidupmu.”

Ia menunduk.

Kalimat berikutnya keluar sangat pelan.

“Maaf.”

Aku membuka hasil pemeriksaannya.

“Fungsi motorikmu baik. Bicara normal. Tidak ada defisit besar. Kamu sangat beruntung.”

“Nadira.”

Aku berhenti.

“Kenapa kamu menyelamatkanku?”

Pertanyaan itu membuatku tersenyum kecil.

“Karena aku dokter.”

“Setelah apa yang kulakukan?”

“Kalau aku membiarkan pasien mati karena aku membencinya, berarti malam itu kamu benar-benar berhasil menghancurkan tanganku.”

Ia terdiam.

Aku menutup map.

“Tapi kamu gagal, Arga.”

Air mata jatuh dari matanya.

Aku tidak merasa menang.

Aku juga tidak merasa kasihan.

Aku hanya merasa bebas.

Dua bulan setelah operasi, hasil investigasi Mahendra Medika diumumkan.

Arga mengundurkan diri dari jabatan direktur medis dan mengambil cuti panjang dari praktik klinis.

Ia juga membuat pernyataan terbuka bahwa tuduhan terhadapku pada malam gala tidak benar serta mengakui tindakannya menyebabkan cedera tanganku.

Proses hukum atas kekerasan itu tetap berjalan melalui pengacaraku.

Aku tidak menghentikannya demi permintaan maaf.

Maaf adalah urusan pribadi.

Konsekuensi adalah urusan lain.

Selma menghadapi laporan terkait penanaman barang bukti serta manipulasi informasi medis.

Rekaman gala dan kesaksian staf membuat kebohongannya tidak lagi bisa disembunyikan di balik air mata.

Orang-orang yang dulu memujinya perlahan menjauh.

Bukan karena aku meminta mereka.

Kebenaran tidak membutuhkan bantuanku lagi.

Setahun kemudian aku membuka program pelatihan mikrobedah bagi dokter muda perempuan di Jakarta.

Di dinding ruang latihan tergantung foto pertama setelah tanganku pulih: tanganku memegang benang mikro di bawah mikroskop.

Seorang residen pernah bertanya kenapa aku memilih foto itu.

Aku menjawab,

“Supaya saya ingat, sesuatu yang pernah dihancurkan bukan berarti tidak bisa dibangun kembali.”

Arga tidak pernah kembali ke hidupku.

Ia beberapa kali mengirim surat melalui pengacara.

Aku tidak membacanya.

Aku dengar ia akhirnya meninggalkan jaringan rumah sakit keluarganya untuk menjalani rehabilitasi dan bekerja di klinik kecil setelah izin praktiknya kembali aktif.

Itu hidupnya.

Bukan urusanku lagi.

Dua tahun setelah malam gala itu, aku berdiri di auditorium rumah sakit setelah menerima penghargaan nasional untuk program bedah neurovaskular.

Di barisan depan, Prof. Harun bertepuk tangan paling keras.

Di sampingnya duduk ibu dan adikku.

Aku memandang kedua tanganku.

Tidak ada cincin.

Tidak ada bekas penyangga.

Hanya beberapa garis bekas operasi kecil yang hampir tidak terlihat.

Dulu aku mengira bahagia berarti berhasil mempertahankan pernikahan.

Kemudian aku mengira bahagia berarti melihat orang yang menyakitiku mendapatkan balasannya.

Ternyata bukan keduanya.

Bahagia adalah ketika suatu pagi aku masuk ke ruang operasi, mencuci tangan, mengenakan sarung tangan steril, lalu menyadari bahwa tidak ada satu pun bagian hidupku yang masih membutuhkan izin dari Arga.

Aku pernah berlutut di hadapan perempuan lain karena seorang lelaki memaksaku.

Aku pernah pulang dengan kedua tangan patah dan masa depan yang terasa ikut hancur.

Namun pada akhirnya, tangan yang ia rusak justru menjadi tangan yang menyelamatkan hidupnya.

Dan setelah itu aku berjalan pergi.

Bukan karena masih mencintainya.

Bukan pula karena ingin membuatnya menyesal.

Aku pergi karena akhirnya aku mengerti satu hal:

Menyelamatkan seseorang tidak berarti kita harus kembali hidup bersamanya.

Kadang-kadang, kemenangan terbesar bukan ketika orang yang menghancurkan kita jatuh.

Melainkan ketika kita bisa berdiri lagi, menatapnya tanpa kebencian, lalu memilih hidup yang tidak lagi memiliki tempat untuknya.