Ibu Mertuaku Menangisi Kepergian Ibuku Sambil Memelukku, Padahal Empat Tahun Ia Menutupi Perselingkuhan Anaknya—Dan Hari Balik Nama Dua Ruko, Satu Telepon Membongkar Semuanya di Depan Semua Orang
Bagian 1 — Setelah Pemakaman, Mereka Menawarkan Bantuan Mengurus Warisan Ibuku, Tanpa Tahu Aku Sudah Menyimpan Bukti yang Mengubah Permainan Sejak Malam Pertama Aku Curiga
“Sekarang ibumu sudah tidak ada, anggap saja Mama sebagai ibu kandungmu sendiri.”
Kalimat itu diucapkan ibu mertuaku, Ratih Prasetyo, sambil menggenggam kedua tanganku di depan foto almarhumah Mama.
Matanya merah.
Suaranya bergetar.
Bahkan ia ikut duduk menemaniku hampir semalaman di rumah duka kecil di Solo, menyambut kerabat, mengatur konsumsi, sampai memastikan bunga di depan foto Mama tidak layu.
Aku hampir percaya bahwa selama delapan tahun menikah dengan anaknya, akhirnya aku benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarga mereka.
Tiga hari kemudian, aku mengetahui bahwa perempuan yang memelukku sambil menangis itu sudah empat tahun mengetahui perselingkuhan suamiku.
Lebih buruk lagi, ia membantu suamiku menyiapkan jalan agar dua ruko peninggalan Mama berpindah dari tanganku.
Namaku Nadira Prameswari.
Usiaku tiga puluh tiga tahun.
Aku bekerja sebagai desainer merek di Jakarta dan sudah delapan tahun menikah dengan Arga Prasetyo.
Dalam keluarga besar Arga, aku selalu dianggap perempuan yang terlalu sederhana.
Aku tidak punya bisnis.
Tidak pernah memamerkan tas mahal.
Tidak ikut arisan sosialita ibunya.
Kalau pulang ke Solo, aku bahkan masih suka makan nasi liwet di warung langganan Mama.
Yang tidak diketahui keluarga suamiku adalah bahwa selama dua puluh tahun terakhir, Mama diam-diam mengumpulkan aset dari usaha bahan bangunan yang dulu dirintis bersama almarhum Papa.
Setelah Mama meninggal akibat komplikasi penyakit jantung, hampir semua tabungannya digunakan untuk biaya pengobatan.
Namun ada dua aset yang tersisa.
Dua ruko.
Satu di kawasan Manahan.
Satu lagi di Laweyan.
Nilainya kalau digabung hampir tujuh miliar rupiah.
Aku anak tunggal.
Jadi akulah penerima warisnya.
Pada malam setelah pemakaman, Arga memeluk pundakku di teras rumah Mama.
“Kamu jangan pusing soal sertifikat, pajak, notaris, segala macam,” katanya lembut. “Aku yang urus.”
Mama Ratih langsung menyambung.
“Benar. Kamu masih berduka. Jangan dipaksa mengurus dokumen.”
Ia bahkan mengusap rambutku.
“Aset dari ibumu jangan sampai hilang. Perempuan harus punya pegangan.”
Saat itu aku benar-benar terharu.
Sampai sekitar pukul dua pagi, ketika ponsel Arga yang sedang diisi daya di samping tempat tidur menyala.
Sebuah pesan masuk.
Nama pengirimnya: K. Mahendra – Vendor.
Aku hampir tidak memedulikannya.
Lalu layar menampilkan sebagian isi pesan.
“Dia sudah menerima dua sertifikat asli?”
Dadaku langsung terasa dingin.
Aku mengenal nama belakang itu.
Keisya Mahendra.
Perempuan berusia tiga puluh satu tahun yang empat tahun sebelumnya dikenalkan Arga kepadaku sebagai konsultan pemasaran.
Aku pernah bertemu dengannya tiga kali.
Selalu dengan alasan pekerjaan.
Aku tidak membuka ponsel Arga.
Aku hanya berdiri di samping ranjang, menunggu.
Beberapa detik kemudian pesan kedua muncul.
“Kalau Nadira sudah tanda tangan kuasa, PT-nya bisa langsung ambil alih. Tante Ratih bilang jangan sampai dia sempat tanya notaris lain.”
Tanganku gemetar.
Bukan karena takut.
Karena tiba-tiba banyak hal yang selama ini terasa aneh mulai menemukan tempatnya.
Perjalanan bisnis mendadak.
Telepon malam hari.
Parfum perempuan yang pernah menempel di jaket Arga.
Keisya yang selalu muncul di acara perusahaan suamiku.
Dan yang paling menyakitkan…
Mama Ratih tahu.
Pagi berikutnya, seolah sudah diatur, ibu mertuaku datang membawa bubur ayam.
“Nadira, Mama sudah bicara dengan notaris kenalan keluarga.”
Aku mengangkat wajah.
“Untuk ruko Mama?”
“Iya.”
Ia duduk di sampingku.
“Nanti mungkin ada surat kuasa pengelolaan. Biar Arga yang menangani penyewa, pajak, renovasi. Kamu tinggal terima hasilnya.”
Aku sengaja bertanya, “Aku harus tanda tangan?”
Jarinya berhenti mengaduk bubur sepersekian detik.
Lalu ia tersenyum.
“Paling beberapa lembar.”
Ia menepuk lututku.
“Kita ini keluarga. Masa Mama mau mencelakakan kamu?”
Aku balas tersenyum.
“Baik, Ma.”
Hari itu aku memutuskan sesuatu.
Aku tidak akan menuduh siapa pun.
Tidak akan menangis di depan Arga.
Tidak akan mengusir Keisya.
Aku akan membiarkan mereka percaya bahwa aku perempuan bodoh yang sedang terlalu berduka untuk berpikir.
Siangnya, diam-diam aku menemui notaris yang menangani surat wasiat Mama, Pak Hendra Kusuma.
Begitu mendengar ceritaku, wajahnya berubah serius.
“Jangan serahkan sertifikat asli kepada siapa pun.”
Aku mengangguk.
“Kalau mereka memberi saya dokumen?”
“Foto semuanya.”
Aku menyerahkan tangkapan layar pesan yang sempat kurekam menggunakan ponselku sendiri.
Pak Hendra membacanya beberapa menit.
Kemudian ia berkata, “Nama PT yang disebut di pesan ini pernah saya lihat.”
Aku menatapnya.
“PT apa?”
“PT Arunika Cipta Mandiri.”
“Punya siapa?”
Pak Hendra memutar laptopnya ke arahku.
Nama direktur perusahaan itu membuat tengkukku merinding.
Keisya Mahendra.
Mereka ternyata tidak hanya ingin membantu mengelola ruko.
Rencananya, aku akan dibuat menandatangani surat kuasa yang diselipkan di antara dokumen pengurusan waris.
Setelah itu, dua ruko akan dijual dengan harga jauh di bawah pasar kepada perusahaan milik Keisya.
Secara administratif terlihat seperti transaksi biasa.
Uangnya kemudian akan disebut sebagai pembayaran kewajiban dan renovasi.
Aku kemungkinan baru sadar ketika semuanya sudah menjadi sengketa panjang.
“Bisa dihentikan?” tanyaku.
“Bisa.”
Pak Hendra menatapku tajam.
“Tapi kalau kamu ingin tahu seberapa jauh keterlibatan mereka, jangan hentikan sekarang.”
Aku mengerti maksudnya.
Maka sandiwara dimulai.
Arga meminta fotokopi KTP.
Kuberi.
Ia meminta kartu keluarga.
Kuberi.
Mama Ratih menyuruhku menemui notaris pilihan mereka.
Aku datang.
Setiap lembar dokumen kubaca sambil pura-pura tidak paham, lalu kubawa pulang dengan alasan ingin meminta salinan.
Di balik semua itu, Pak Hendra dan pengacaraku, Mbak Laras, memeriksa setiap kalimat.
Dokumen paling berbahaya muncul seminggu kemudian.
Judulnya terdengar tidak mencurigakan.
“Surat Kuasa Pengelolaan Aset.”
Namun di halaman keenam terdapat klausul yang memberi penerima kuasa hak melakukan pengalihan, penjualan dan penandatanganan transaksi kepada pihak ketiga.
Aku tidak menandatangani halaman itu.
Mbak Laras menyiapkan versi yang hampir sama tetapi hanya memberi kuasa administratif terbatas.
Arga tidak sadar.
Mama Ratih juga tidak sadar.
Mereka terlalu yakin aku tidak mengerti.
Keisya bahkan mulai berani datang ke rumah mertua.
Suatu sore di Jakarta, ia muncul mengenakan blus putih dan membawa tas mahal.
Di pergelangan tangannya ada gelang emas bermotif bunga.
Aku mengenalnya.
Itu gelang yang biasa dipakai Mama Ratih dalam acara keluarga.
Aku sengaja bertanya.
“Bagus sekali gelangnya.”
Keisya tersenyum.
“Mama Ratih yang kasih.”
Ruangan mendadak sunyi.
Mama Ratih cepat-cepat menyela.
“Cuma dipinjamkan.”
Aku menatapnya.
“Untuk apa?”
Arga langsung kesal.
“Nadira, bisa tidak jangan sensitif terus?”
Keisya menunduk seolah malu.
“Maaf, Kak. Kalau Kak Nadira tidak nyaman, nanti saya kembalikan.”
Aku justru tersenyum.
“Tidak apa-apa.”
Malam itu, aku menemukan satu fakta lagi.
Keisya bukan sekadar selingkuhan Arga.
Selama hampir dua tahun, ia meyakinkan Mama Ratih bahwa anak laki-laki berusia tiga tahun yang sering ia bawa ke rumah adalah anak biologis Arga.
Cucu yang selama ini sangat diinginkan Mama Ratih.
Itulah alasan ibu mertuaku bukan hanya membiarkan hubungan mereka.
Ia melindunginya.
Dan mungkin itulah alasan ia rela mengambil warisan menantunya sendiri.
Hari penandatanganan akhirnya ditentukan.
Senin pagi.
Sebuah kantor PPAT di Solo.
Mama Ratih datang paling awal.
Arga duduk di sebelahnya dengan kemeja biru dan wajah tenang.
Keisya tidak seharusnya berada dalam ruangan, tetapi ia menunggu di lorong sambil memainkan ponselnya.
Di atas meja tergeletak beberapa map.
Aku datang bersama Mbak Laras, yang kuperkenalkan hanya sebagai teman.
Arga sempat mengerutkan kening.
“Kamu ajak orang lain?”
“Aku takut salah dengar penjelasan.”
Ia tertawa kecil.
“Kamu memang dari dulu terlalu khawatir.”
Aku duduk.
Petugas mulai memeriksa dokumen.
Mama Ratih masih sempat menggenggam tanganku.
“Nanti kamu akan mengerti semua ini Mama lakukan untuk masa depan keluarga.”
Aku menatap matanya.
“Semoga begitu, Ma.”
Satu dokumen diletakkan di hadapan ibu mertuaku.
Ia diminta menandatangani pernyataan bahwa seluruh proses pengurusan aset dilakukan atas permintaannya sebagai pihak yang membantu administrasi keluarga.
Tanpa curiga, ia menandatangani.
Satu garis.
Dua garis.
Tanda tangan selesai.
Tepat saat pena diletakkan kembali di meja, ponselnya berdering.
Ia melihat nomor yang muncul.
Wajahnya berubah.
“Halo?”
Suara dari seberang membuatnya berdiri.
“Apa?”
Arga menoleh.
“Kenapa, Ma?”
Mama Ratih tidak menjawab.
Ia mendengarkan beberapa detik lagi.
Kemudian wajahnya pucat seperti kehilangan darah.
“Tidak mungkin.”
Ia berlari keluar ruangan.
Keisya baru sempat berdiri ketika sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.
PLAK!
Semua orang di lorong membeku.
Keisya memegangi wajahnya.
“Tante!”
Mama Ratih gemetar hebat.
“Kamu menipu saya?”
“Apa maksud Tante?”
“Kamu bilang anak itu cucu saya!”
Keisya langsung kehilangan warna wajah.
Arga menerobos keluar.
“Mama, berhenti!”
Mama Ratih menunjuk Keisya.
“Rumah sakit baru menelepon. Surat hasil tes DNA yang kamu tunjukkan kepada saya tidak pernah dikeluarkan oleh mereka!”
Keisya mundur.
Aku masih duduk di dalam ruangan.
Tenang.
Karena tiga hari sebelumnya, akulah yang meminta pengacaraku mengirim permintaan verifikasi resmi ke rumah sakit.
Namun itu baru kejutan pertama.
Pak Hendra tiba-tiba muncul dari lift membawa sebuah map cokelat tua.
Ia masuk ke ruangan dan meletakkannya tepat di depanku.
“Bu Nadira,” katanya, “kami akhirnya menemukan dokumen yang disimpan almarhumah ibu Anda selama dua belas tahun.”
Mama Ratih yang masih berdiri di lorong mendadak terdiam.
Pak Hendra membuka halaman pertama.
“Dokumen ini bukan mengenai dua ruko.”
Ia menatap langsung ke arah ibu mertuaku.
“Ini mengenai utang sebesar satu koma enam miliar rupiah… yang sampai hari ini belum pernah dibayar.”
Mama Ratih mundur satu langkah.
Dan ketika Pak Hendra menyebut nama orang yang menandatangani pengakuan utang tersebut, Arga mendadak memaki ibunya sendiri.
Saat itulah aku tahu, keluarga ini ternyata menyimpan rahasia yang bahkan lebih besar daripada perselingkuhan empat tahun.
#DramaKeluarga #KisahRumahTangga #PengkhianatanSuami #CeritaViralIndonesia #KarmaItuNyata
Bagian 2 — Dokumen Dua Belas Tahun Membuktikan Ibuku Pernah Menyelamatkan Keluarga Mereka, Tetapi Balasannya Justru Pengkhianatan yang Hampir Merampas Semua Warisanku
Nama yang tercetak di bawah akta pengakuan utang itu adalah Ratih Prasetyo.
Ibu mertuaku sendiri.
Dua belas tahun sebelumnya, bisnis katering keluarga Prasetyo hampir bangkrut.
Arga tidak pernah menceritakannya kepadaku.
Mama Ratih juga tidak.
Ternyata Mama-lah yang memberikan pinjaman Rp1,6 miliar agar mereka bisa melunasi utang pemasok dan mempertahankan rumah keluarga yang hampir disita.
Sebagai jaminan, Mama Ratih menandatangani pengakuan utang resmi serta pengikatan atas sebidang tanah miliknya di Sukoharjo.
Selama bertahun-tahun Mama tidak pernah menagih.
“Kenapa Mama saya tidak pernah cerita?” tanyaku.
Pak Hendra menjawab pelan.
“Karena hubungan Anda dengan Mas Arga.”
Mama pernah berkata kepadanya bahwa selama rumah tanggaku baik-baik saja, utang itu tidak perlu menjadi beban.
Namun jika sesuatu terjadi padanya, seluruh hak tagih otomatis menjadi bagian dari harta peninggalannya.
Artinya sekarang hak itu jatuh kepadaku.
Aku memandang ibu mertuaku.
Perempuan yang satu minggu sebelumnya berkata bahwa aku harus menganggapnya sebagai ibu kandung.
Ternyata ia mencoba mengambil harta anak dari perempuan yang pernah menyelamatkan keluarganya.
“Ma,” kataku tenang, “Mama ingat dokumen ini?”
Ia tidak menjawab.
Arga justru membentak.
“Ini pasti sudah tidak berlaku!”
Mbak Laras langsung membuka map lain.
“Silakan diuji secara hukum. Kami sudah memeriksa dokumen asli, pencatatan notaris, bukti transfer serta korespondensi pada tahun tersebut.”
Arga terdiam.
Keisya mencoba berjalan menuju lift.
Aku memanggilnya.
“Mau ke mana?”
Ia berhenti.
Aku mengangkat satu lembar.
“Bukankah kita belum membicarakan PT Arunika Cipta Mandiri?”
Wajahnya berubah.
Mama Ratih menoleh cepat.
“PT apa?”
Untuk pertama kalinya, aku melihat bahwa ibu mertuaku ternyata tidak mengetahui seluruh rencana.
Ia tahu Arga berselingkuh.
Ia tahu mereka ingin memindahkan rukoku.
Tetapi ia mengira aset itu akan dimasukkan ke dalam perusahaan keluarga yang nantinya dikelola Arga untuk “masa depan cucunya”.
Ia tidak tahu perusahaan penerima aset seratus persen dikendalikan Keisya.
Aku meletakkan hasil penelusuran perusahaan di meja.
Direktur: Keisya Mahendra.
Pemegang saham mayoritas: Keisya Mahendra.
Pemegang saham sisanya adalah kakak kandung Keisya.
Tidak ada nama Arga.
Tidak ada nama Ratih.
Tidak ada keluarga Prasetyo.
Mama Ratih menatap Arga.
“Kamu tahu?”
Arga tidak bisa menjawab.
Keisya langsung berkata, “Arga yang setuju!”
“Bohong!” bentak Arga.
Keisya tertawa pahit.
“Sekarang kamu bilang aku bohong?”
Ia membuka tas dan mengeluarkan ponsel.
“Kamu yang menyuruh aku bikin perusahaan. Kamu yang bilang setelah dua ruko masuk, kita bisa jadikan jaminan untuk pinjaman.”
Aku berdiri perlahan.
“Jadi memang itu rencananya?”
Tidak seorang pun menjawab.
Aku melanjutkan.
“Ambil ruko Mama saya dengan harga murah. Masukkan ke perusahaan Keisya. Agunkan ke bank. Ambil uangnya.”
Mata Arga memerah.
“Nadira, dengar dulu—”
“Empat tahun, Ga.”
Dia membeku.
“Aku tahu soal kalian.”
Ruangan sunyi.
Keisya menatap Arga.
Mama Ratih menutup mulutnya.
Aku mengeluarkan salinan percakapan yang selama beberapa minggu berhasil dikumpulkan pengacaraku dari bukti yang sah di perangkat dan dokumen yang diserahkan kepadaku.
“Aku tahu Mama Ratih melindungi kalian.”
Aku memandang ibu mertuaku.
“Aku tahu Keisya dipanggil ke rumah saat aku dinas keluar kota.”
Aku menatap Arga.
“Aku juga tahu kau pernah bilang kepada dia bahwa setelah aset Mama jatuh ke tanganku, aku tidak punya keluarga lagi yang bisa membelaku.”
Arga menundukkan kepala.
Kalimat terakhir itu yang paling menyakitkan.
Bukan perselingkuhannya.
Bukan rukonya.
Melainkan fakta bahwa kematian ibuku dianggap kesempatan.
Aku lalu memberitahu mereka bahwa surat kuasa yang mereka pegang tidak pernah memberikan hak penjualan.
Sertifikat asli berada di tempat aman.
Pak Hendra sudah mengurus langkah administratif agar tidak ada perubahan hak tanpa proses yang sah.
Tidak ada dua ruko yang berpindah tangan hari itu.
Pertemuan yang mereka kira sebagai hari kemenangan justru menjadi hari seluruh niat mereka tercatat.
Mama Ratih mulai menangis.
“Nadira… Mama salah.”
Aku menatapnya tanpa emosi.
“Bukan salah, Ma.”
Aku menunjuk dokumen.
“Mama membuat pilihan.”
Keisya tiba-tiba tertawa.
Semua orang menoleh.
Ia mengusap pipinya yang masih merah akibat tamparan.
“Jangan cuma salahkan saya.”
Kemudian ia menatap Arga.
“Kalau saya jatuh, kamu ikut jatuh.”
Arga langsung menerjang hendak mengambil ponselnya.
Mbak Laras berdiri menghalangi.
Keisya membuka sebuah rekaman suara.
Suara Arga terdengar jelas.
“…tanda tangan Nadira gampang ditiru. Dulu aku pernah tanda tangan dokumen asuransi pakai namanya, tidak ada yang tahu.”
Aku merasa seluruh tubuhku membeku.
Rekaman berlanjut.
“Kalau surat kuasanya tidak bisa dipakai, kita bikin versi lain. Yang penting sertifikatnya masuk dulu.”
Aku menatap suamiku.
Untuk pertama kalinya, Arga benar-benar ketakutan.
Namun Keisya belum selesai.
Ia membuka satu folder lagi.
“Ada delapan rekaman.”
Ia tersenyum getir.
“Dan dua foto dokumen yang tanda tangannya sudah dipalsukan.”
Arga langsung pucat.
Aku mengira hari itu aku hanya akan membongkar perselingkuhan dan percobaan merebut warisan.
Ternyata suamiku sudah melakukan sesuatu atas namaku jauh sebelum Mama meninggal.
Dan ketika Mbak Laras memperbesar foto dokumen pertama, aku melihat sebuah angka pinjaman yang membuat kakiku hampir kehilangan tenaga.
Rp2,4 miliar.
Atas namaku.
Bagian 3 — Saat Semua Bukti Dibuka, Suamiku Kehilangan Rumah Tangga dan Kekasihnya Sekaligus, Sedangkan Ibu Mertuaku Membayar Utang yang Selama Ini Ia Sembunyikan
Pinjaman Rp2,4 miliar itu tidak pernah cair atas namaku.
Itulah satu-satunya kabar baik.
Dokumen yang ditunjukkan Keisya ternyata merupakan rancangan pengajuan kredit yang disiapkan Arga menggunakan contoh tanda tanganku.
Belum sempat masuk ke tahap pencairan karena pihak bank meminta verifikasi langsung kepadaku.
Namun bagi pengacaraku, dokumen itu cukup menunjukkan bahwa rencana mereka sudah jauh melampaui sekadar “membantu mengurus warisan”.
Mbak Laras meminta semua orang berhenti menyentuh dokumen.
Keisya diminta mengirim salinan rekaman melalui prosedur yang bisa didokumentasikan.
Arga mulai panik.
“Nadira, kita bisa selesaikan di rumah.”
Aku hampir tertawa.
“Rumah?”
Aku menatap laki-laki yang delapan tahun tidur di sampingku.
“Empat tahun kamu punya perempuan lain.”
“Kita bisa bicara.”
“Kamu membiarkan ibumu membohongiku.”
“Aku salah.”
“Kamu menyiapkan perusahaan untuk mengambil harta ibuku.”
“Nadira…”
“Dan setelah ibuku meninggal, yang kamu pikirkan adalah bagaimana memanfaatkan kondisiku saat berduka.”
Ia tidak lagi bisa menjawab.
Aku melepaskan cincin pernikahan.
Tidak kulempar.
Tidak kubanting.
Aku hanya meletakkannya perlahan di atas meja.
“Aku tidak butuh teriakan untuk mengakhiri sesuatu yang sudah kamu hancurkan sendiri.”
Setelah hari itu, semuanya berjalan melalui jalur resmi.
Aku mengajukan gugatan cerai.
Pengacaraku juga melaporkan dugaan pemalsuan dokumen dan percobaan penggunaan dokumen tanpa persetujuanku agar diperiksa pihak berwenang.
Aku tidak pernah meminta Keisya menyelamatkanku.
Ia menyerahkan rekaman karena ingin menyelamatkan dirinya sendiri.
Hubungannya dengan Arga langsung berubah menjadi saling tuduh.
Keisya mengatakan seluruh rencana berasal dari Arga.
Arga mengatakan Keisya yang merancang perusahaan penerima aset.
Mama Ratih menyalahkan keduanya.
Ironis sekali.
Selama empat tahun mereka kompak berbohong kepadaku.
Hanya butuh satu pagi untuk membuat mereka saling menghancurkan.
Masalah anak yang selama ini disebut sebagai anak Arga juga akhirnya mendapat penjelasan.
Keisya mengakui bahwa ia memang pernah menjalin hubungan dengan laki-laki lain ketika hubungannya dengan Arga sedang bermasalah.
Ia menggunakan dokumen tes DNA palsu untuk meyakinkan Mama Ratih agar diterima dalam keluarga.
Aku tidak pernah mencari tahu siapa ayah biologis anak itu.
Anak kecil tersebut tidak melakukan kesalahan apa pun.
Bagiku, urusan orang-orang dewasa tidak boleh dijadikan hukuman bagi seorang anak.
Justru sikap Mama Ratih yang berubah paling drastis.
Setelah mengetahui bahwa Keisya menipunya soal cucu dan Arga ikut menyiapkan pengalihan aset tanpa memberikan bagian apa pun untuknya, ia datang ke apartemenku.
Aku tidak membiarkannya masuk.
Kami bicara di lobi.
Wajahnya terlihat sepuluh tahun lebih tua.
“Nadira, Mama minta maaf.”
Aku diam.
“Mama dibutakan keinginan punya cucu.”
Aku masih diam.
“Mama pikir kalau dua ruko itu dikelola Arga, semuanya tetap akan menjadi milik keluarga.”
Aku akhirnya bertanya, “Keluarga yang mana?”
Ia menunduk.
“Ketika Mama saya hidup, Mama meminjamkan uang untuk menyelamatkan rumah kalian.”
Air mata ibu mertuaku mulai jatuh.
“Setelah Mama saya meninggal, kalian mencoba mengambil rumah peninggalannya dari saya.”
Ia tidak sanggup menatapku.
“Apa yang harus saya lakukan supaya kamu memaafkan Mama?”
Aku menggeleng.
“Saya tidak datang untuk menukar maaf dengan uang.”
Aku menyerahkan salinan dokumen utangnya.
“Bayar apa yang memang menjadi kewajiban Mama. Setelah itu kita tidak perlu saling menyakiti lagi.”
Enam bulan berikutnya, tanah milik Mama Ratih di Sukoharjo dijual.
Sebagian hasilnya digunakan untuk melunasi utang pokok beserta penyelesaian yang disepakati secara hukum.
Aku tidak mengambil rumah yang ia tempati.
Bukan karena aku lupa.
Aku hanya tidak ingin hidupku selanjutnya dibangun dari keinginan membuat orang lain kehilangan tempat tinggal.
Arga mencoba menghubungiku berkali-kali.
Nomor baru.
Email kantor.
Pesan melalui teman.
Isinya selalu hampir sama.
“Aku khilaf.”
“Aku masih sayang kamu.”
“Keisya yang mempengaruhiku.”
Kalimat terakhir justru membuatku semakin yakin bahwa aku sudah mengambil keputusan benar.
Pria yang berani berkhianat tetapi tidak berani bertanggung jawab tidak pernah benar-benar berubah.
Proses perceraian kami akhirnya selesai.
Mengenai dugaan pemalsuan dokumen, proses hukumnya berjalan berdasarkan bukti masing-masing pihak.
Aku berhenti mengikuti setiap pertengkaran mereka.
Aku tidak ingin kemenangan hidupku diukur dari seberapa hancur hidup Arga atau Keisya.
Kemenanganku jauh lebih sederhana.
Dua sertifikat ruko Mama tetap aman atas hakku.
Tidak satu pun berpindah ke perusahaan Keisya.
Ruko di Manahan kemudian kusewakan kepada sebuah apotek.
Sedangkan ruko di Laweyan tidak kujual.
Aku merenovasi lantai bawah menjadi studio desain kecil dengan sebuah ruang baca di bagian depan.
Di dinding ruang kerja, aku memasang satu foto Mama.
Bukan foto ketika ia sakit.
Bukan foto dari pemakaman.
Foto ketika usianya sekitar lima puluh tahun, berdiri di depan toko bahan bangunan pertamanya sambil tertawa lebar.
Di bawah foto itu ada papan kecil.
“Ruang Ratri.”
Nama Mama.
Setiap tahun, sebagian pendapatan sewa ruko kugunakan untuk membantu biaya sekolah anak-anak dari keluarga karyawan lama Mama.
Bukan yayasan besar.
Bukan sesuatu yang masuk berita.
Hanya caraku memastikan bahwa hasil kerja keras Mama tidak berakhir sebagai angka di rekening orang-orang yang menunggu kematiannya.
Hampir setahun setelah semuanya terjadi, aku bertemu Mama Ratih secara tidak sengaja di Solo.
Ia terlihat lebih kurus.
Kami berdiri beberapa meter satu sama lain.
Ia tidak berusaha memelukku.
Tidak memanggilku anak.
Hanya berkata pelan, “Semoga kamu bahagia, Nadira.”
Aku mengangguk.
“Semoga Mama juga belajar hidup lebih jujur.”
Lalu aku berjalan pergi.
Dulu aku pikir kehilangan Mama membuatku sendirian.
Ternyata justru setelah beliau pergi, aku belajar bahwa keluarga bukan orang yang paling keras berkata menyayangimu.
Keluarga adalah orang yang tidak mengambil keuntungan ketika kamu sedang paling lemah.
Arga kehilangan pernikahannya karena pengkhianatannya sendiri.
Keisya kehilangan rencana yang ia bangun di atas kebohongan.
Mama Ratih harus membayar utang yang selama dua belas tahun ia pura-pura lupakan.
Sedangkan aku?
Aku tidak mendapatkan kembali delapan tahun pernikahanku.
Aku juga tidak mendapatkan kembali Mama.
Tetapi aku mendapatkan sesuatu yang selama bertahun-tahun perlahan dirampas dariku.
Kendali atas hidupku sendiri.
Dan setiap pagi ketika membuka pintu studio peninggalan Mama, aku tahu satu hal dengan pasti:
Mereka hampir mengambil dua ruko dariku.
Namun pada akhirnya, justru merekalah yang kehilangan semua hal yang mereka kira bisa mereka dapatkan dengan mengkhianatiku.

