Suamiku Kritis, Diam-Diam Menghibahkan Delapan Apartemen dan Tiga Mobil kepada Anak Selingkuhannya; Saat Semua Menunggu Aku Menangis, Aku Membisikkan Rahasia yang Kusimpan Tiga Belas Tahun di Samping Ranjang ICU Malam Itu

Avatar penulis
Cerita 03
16 menit baca 1,212 tayangan
Suamiku Kritis, Diam-Diam Menghibahkan Delapan Apartemen dan Tiga Mobil kepada Anak Selingkuhannya; Saat Semua Menunggu Aku Menangis, Aku Membisikkan Rahasia yang Kusimpan Tiga Belas Tahun di Samping Ranjang ICU Malam Itu
Indeks

Suamiku Kritis, Diam-Diam Menghibahkan Delapan Apartemen dan Tiga Mobil kepada Anak Selingkuhannya; Saat Semua Menunggu Aku Menangis, Aku Membisikkan Rahasia yang Kusimpan Tiga Belas Tahun di Samping Ranjang ICU Malam Itu

Bagian 1 — Di Depan Ranjang ICU, Suamiku Membagikan Harta kepada Anak Rahasianya, tetapi Senyumku Membuat Semua Orang Mendadak Gelisah tanpa Tahu Perangkap Sudah Tertutup

Bunyi monitor jantung terdengar seperti palu kecil yang memukul kesunyian.

Tit.

Tit.

Tit.

Di balik kaca ruang ICU sebuah rumah sakit swasta di Jakarta Selatan, suamiku, Arman Wibowo, terbaring dengan selang oksigen menutupi sebagian wajahnya.

Tiga hari sebelumnya, ia masih memimpin rapat proyek sambil membentak dua manajer karena laporan penjualan terlambat.

Malam itu, tubuhnya bahkan tak sanggup diangkat tanpa bantuan perawat.

Serangan jantung berat.

Edema paru.

Tekanan darah yang naik turun.

Dokter sudah tiga kali meminta keluarga bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.

Namun rupanya, bahkan ketika berada di ambang kematian, ada satu urusan yang dianggap Arman lebih penting daripada meminta maaf kepadaku.

Membagikan hartanya.

Bukan kepada istrinya.

Bukan kepada putri kandungnya.

Melainkan kepada seorang anak laki-laki berusia dua belas tahun bernama Dimas.

Di sudut ruangan berdiri seorang perempuan dengan blus krem dan jilbab abu-abu. Matanya sembap, tetapi tas bermerek mahal tetap menggantung rapi di lengannya.

Rika Andayani.

Perempuan yang sudah dipelihara suamiku selama tiga belas tahun.

Aku tahu namanya.

Alamat rumahnya.

Nomor rekeningnya.

Sekolah Dimas.

Bahkan jadwal Arman datang ke rumahnya setiap hari Rabu dan Sabtu.

Yang tidak diketahui Arman hanyalah satu hal.

Aku sudah tahu semuanya sejak awal.

Di samping ranjang berdiri seorang pengacara keluarga bernama Pak Surya. Di hadapannya terdapat beberapa map tebal, fotokopi sertifikat, dokumen kendaraan, serta draf akta hibah yang sebelumnya sudah dipersiapkan Arman.

Suara Pak Surya terdengar kaku.

“Unit apartemen di kawasan Margonda Residence Tower B, unit 12A, dialihkan untuk Dimas Andayani.”

Rika menunduk.

Namun aku melihat ujung bibirnya bergerak.

Sedikit.

Nyaris seperti senyum.

Pak Surya melanjutkan.

“Unit 15C.”

“Unit 17B.”

“Unit 19A.”

Satu per satu.

Delapan apartemen.

Nilainya jika digabungkan lebih dari dua puluh miliar rupiah.

Lalu tiga mobil.

Sebuah Toyota Alphard.

Sebuah Fortuner.

Dan Mercedes yang selama dua tahun terakhir selalu dikatakan Arman sebagai “mobil operasional perusahaan”.

Semuanya akan diberikan kepada Dimas.

Ibu mertuaku, Bu Ratna, duduk di dekat kaki ranjang. Sesekali ia memandangku, mungkin menunggu aku meledak.

Arman juga begitu.

Tangannya gemetar ketika membubuhkan tanda tangan.

Satu dokumen.

Dua.

Tiga.

Ketika tenaga di tangannya habis, ia bahkan meminta bantalan tinta agar bisa memberikan cap jempol.

Merah.

Satu per satu cap itu menempel di atas kertas putih.

Setelah selesai, Arman memalingkan wajah kepadaku.

Meskipun lemah, tatapannya masih sama seperti selama dua puluh tahun pernikahan kami.

Tatapan orang yang selalu merasa lebih pintar daripada semua orang di ruangan.

“Nadzira…”

Suaranya hanya berupa bisikan.

Aku mendekat.

“Kamu… tidak mau mengatakan sesuatu?”

Aku melihat dokumen-dokumen di meja.

Kemudian melihat Rika.

Dimas berdiri di belakang ibunya dengan wajah pucat. Anak itu tidak mengerti mengapa begitu banyak orang dewasa memandangnya seperti ia baru memenangkan lotre.

Aku tidak membencinya.

Dimas tidak pernah memilih untuk dilahirkan dalam kebohongan orang dewasa.

Aku kembali menatap Arman.

“Sudah selesai?”

Pak Surya terdiam sejenak.

“Untuk penandatanganan awal, sudah, Bu.”

Aku mengangguk.

Kemudian mengambil botol minum dari tas, menuangkan air hangat dan meneguknya perlahan.

Arman menatapku semakin tajam.

Rika mulai tidak nyaman.

Bu Ratna akhirnya berkata, “Nadzira, kalau kamu keberatan, katakan sekarang. Jangan nanti membuat keributan.”

Aku hampir tertawa.

Keributan?

Selama tiga belas tahun, aku justru menjadi orang paling tenang di rumah itu.

Aku yang menyiapkan sarapan Arman setelah ia pulang dari rumah Rika.

Aku yang menghadiri acara kantor sambil tersenyum di sampingnya.

Aku pula yang masih mengirim hampers Lebaran kepada klien-kliennya ketika di hari yang sama ia mentransfer Rp65 juta kepada perempuan lain.

Aku berdiri.

Berjalan mendekati ranjang.

Kemudian membungkuk hingga wajahku hanya beberapa sentimeter dari telinganya.

“Mas…”

Kelopak matanya bergerak.

“Aku juga punya hadiah untukmu.”

Napas Arman mendadak lebih cepat.

Aku berbisik.

“Aku tahu tentang Rika sejak tiga belas tahun lalu.”

Tubuhnya menegang.

“Tapi itu bukan rahasiaku.”

Aku berhenti beberapa detik.

Rika yang berdiri di belakangku langsung mengangkat kepala.

Aku melanjutkan dengan suara begitu pelan hingga hanya Arman yang bisa mendengarnya.

“Rahasiaku adalah… sejak tiga belas tahun lalu, aku sudah tahu siapa sebenarnya ayah Dimas.”

Mata Arman membelalak.

Bunyi monitor berubah.

Tit-tit-tit-tit-tit!

Angka di layar melonjak.

Perawat berlari masuk.

“Mohon semuanya keluar!”

Bu Ratna berdiri panik.

Rika memeluk Dimas.

Pak Surya buru-buru mengumpulkan dokumen.

Aku didorong keluar bersama semua orang.

Sebelum pintu ICU tertutup, aku melihat Arman mencoba mengangkat tubuhnya.

Tatapannya bukan lagi marah.

Melainkan takut.

Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, aku melihat ketakutan murni di wajah laki-laki itu.

Di koridor, Rika langsung menghampiriku.

“Apa yang kamu katakan kepada Mas Arman?”

Aku menatapnya.

“Kamu lebih tahu daripada aku.”

Wajahnya berubah.

“Aku tidak mengerti.”

“Benarkah?”

Rika menggenggam tangan Dimas lebih erat.

Aku berjalan menuju kursi tunggu.

Tiga belas tahun sebelumnya, aku pun pernah melihat wajah Rika sepucat itu.

Hari itu bermula dari sebuah struk pembayaran rumah sakit yang terselip di saku jas Arman.

Bukan tagihan atas namanya.

Bukan pula atas namaku.

Nama pasiennya: Rika Andayani.

Bagian pemeriksaan: kandungan.

Saat itu aku berusia tiga puluh tahun.

Putri kami, Alya, baru masuk SD.

Aku masih percaya bahwa kesibukan Arman disebabkan oleh perusahaan keluarga kami yang sedang berkembang.

Ternyata aku terlalu percaya.

Aku tidak langsung bertanya.

Aku mencari.

Semakin aku mencari, semakin banyak yang kutemukan.

Rumah kontrakan di Depok.

Transfer bulanan.

Tagihan dokter.

Sebuah nomor ponsel yang disimpan dengan nama “Pak Reza Gudang”.

Dan pada suatu sore hujan, aku melihat sendiri Arman keluar dari sebuah klinik bersama Rika yang sedang hamil besar.

Tangannya memeluk pinggang perempuan itu.

Aku duduk di mobil di seberang jalan.

Tidak menangis.

Tidak berteriak.

Aku hanya memotret.

Malamnya, Arman pulang dan berkata ada rapat mendadak di Bekasi.

Aku menyajikan makan malam.

“Capek, Mas?”

“Banget.”

“Rapatnya lancar?”

“Lumayan.”

Aku tersenyum.

“Syukurlah.”

Besok paginya, aku menemui seorang pengacara.

Bukan untuk mengajukan cerai.

Belum.

Perusahaan peninggalan ayahku saat itu sedang memiliki utang bank besar. Arman menjadi direktur keuangan dan ikut memegang akses terhadap banyak rekening perusahaan.

Jika aku meledak tanpa persiapan, puluhan pegawai bisa ikut menjadi korban.

Jadi aku memilih sesuatu yang jauh lebih sulit daripada marah.

Aku memilih menunggu.

Aku mengganti sistem otorisasi rekening perusahaan.

Meminta audit internal.

Memisahkan dokumen pribadiku.

Mencatat setiap transaksi mencurigakan.

Aku menyimpan salinan pesan.

Nota hotel.

Transfer.

Pembelian rumah.

Biaya sekolah.

Hadiah ulang tahun.

Semuanya.

Arman mengira diamku berarti bodoh.

Padahal diamku adalah pekerjaan penuh waktu.

Beberapa bulan setelah Dimas lahir, satu hal membuatku curiga.

Tanggal kehamilan Rika tidak cocok dengan perjalanan Arman.

Pada periode ketika seharusnya Dimas mulai dikandung, Arman berada hampir enam minggu di Korea Selatan untuk proyek pabrik.

Aku tidak berani mengandalkan hitungan kalender.

Jadi aku mencari lebih jauh.

Dan hasilnya jauh lebih buruk daripada perselingkuhan biasa.

Saat aku masih duduk mengingat semua itu, ponselku bergetar.

Pesan dari pengacaraku, Damar Prasetyo.

“Nad, hasil pemeriksaan kedua sudah keluar.”

Di bawahnya ada sebuah foto dokumen laboratorium.

Aku memperbesar layar.

Probabilitas hubungan biologis antara Arman dan Dimas:

0,00%.

Bukan anaknya.

Lalu pesan berikutnya masuk.

“Kami juga sudah mendapat konfirmasi identitas ayah biologis. Orangnya sedang menuju rumah sakit.”

Aku membaca nama yang dikirim Damar.

Jari-jariku berhenti bergerak.

Karena laki-laki itu bukan orang asing.

Ia adalah seseorang yang pernah bekerja bersama Arman.

Seseorang yang hidupnya dihancurkan Arman dua belas tahun sebelumnya.

Aku mengangkat kepala.

Pintu lift di ujung koridor terbuka.

Seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun keluar bersama Damar.

Begitu Rika melihatnya, tas mahal di tangannya langsung jatuh ke lantai.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia menjerit lebih keras daripada alarm ICU.

#DramaKeluarga #RahasiaPernikahan #KisahPengkhianatan #CeritaRumahTangga #KarmaDatang

Bagian 2 — Tiga Belas Tahun Aku Diam, Mengumpulkan Bukti dan Menunggu Hari ketika Kebohongan Mereka Berbalik Menghancurkan Segalanya dari Dalam di Depan Keluarga

Nama laki-laki itu Fajar Mahendra.

Dua belas tahun lalu, Fajar adalah manajer proyek di perusahaan kami.

Ia cerdas, pekerja keras, dan termasuk orang yang paling dipercaya ayahku.

Sampai suatu hari Arman menuduhnya membocorkan harga tender kepada pesaing.

Fajar dipecat.

Namanya hancur.

Tidak ada perusahaan besar yang mau menerimanya selama bertahun-tahun.

Aku dulu percaya kepada suamiku.

Sekarang aku tahu alasan sebenarnya.

Arman menemukan pesan lama antara Fajar dan Rika.

Sebelum menjadi perempuan simpanan Arman, Rika ternyata berpacaran dengan Fajar.

Ketika Rika hamil, hubungan mereka sudah berakhir.

Namun waktunya tumpang tindih.

Arman memilih percaya bahwa bayi itu miliknya.

Rika membiarkannya.

Fajar berhenti beberapa meter dari kami.

Wajahnya tegang ketika melihat Dimas.

Rika langsung berdiri di depan anak itu.

“Kamu ngapain datang ke sini?”

Fajar menjawab pelan, “Karena tiga belas tahun sudah cukup.”

“Pergi!”

Dimas ketakutan.

Aku segera berkata, “Jangan di depan anak.”

Rika menoleh kepadaku dengan mata merah.

“Kamu yang bawa dia?”

“Tidak.”

Aku menunjukkan layar ponsel.

“Bukti yang membawanya ke sini.”

Damar mengeluarkan sebuah map.

Enam bulan sebelumnya, Fajar mendatanginya.

Setelah bertahun-tahun hidup di Surabaya, ia kembali ke Jakarta dan mengetahui bahwa Dimas semakin besar dengan nama keluarga yang bukan miliknya.

Ia membawa percakapan lama.

Foto.

Catatan transfer.

Dan satu hasil pemeriksaan DNA lama yang pernah dilakukan Rika secara diam-diam ketika Dimas berusia delapan bulan.

Hasil itu menyatakan Fajar memiliki kemungkinan biologis 99,99%.

Rika sudah tahu.

Sejak awal.

Tetapi hidup sebagai “ibu dari anak Arman Wibowo” jauh lebih menguntungkan.

Rumah.

Mobil.

Sekolah swasta.

Liburan ke Bali.

Uang bulanan.

Semuanya datang karena satu kebohongan.

“Aku tidak pernah minta dia menganggap Dimas anaknya!” Rika membentak.

Fajar tertawa pahit.

“Tidak perlu meminta kalau kamu menerima uangnya setiap bulan.”

Dimas mulai menangis.

Aku menariknya menjauh dari pertengkaran.

“Dimas, ikut Tante sebentar.”

Rika hendak menahan.

Namun anak itu justru mengikuti aku.

Di ujung koridor aku membelikannya cokelat hangat dari mesin minuman.

“Tante mau ambil apartemenku?”

Pertanyaannya membuat dadaku sesak.

Anak dua belas tahun tidak seharusnya memikirkan apartemen.

Aku berjongkok di depannya.

“Tidak ada yang akan menghukum kamu karena kesalahan orang dewasa.”

Ia mengangguk pelan.

Ketika aku kembali, pintu ICU sudah terbuka.

Kondisi Arman stabil.

Dokter hanya mengizinkan dua orang masuk.

Rika langsung maju.

Namun Pak Surya menghentikannya.

“Bu Rika, ada masalah dengan dokumen tadi.”

Wajahnya menegang.

“Masalah apa?”

Pak Surya menatapku.

Aku menjawab.

“Persetujuanku tidak ada.”

Arman yang mendengar dari dalam ranjang mencoba bicara.

“Itu… hartaku.”

Aku memasuki kamar.

“Sebagian besar diperoleh selama perkawinan kita, Mas.”

Ia menatapku dengan marah.

“Uangku.”

“Kalau memang uangmu, pengadilan yang akan menentukan.”

Damar menyerahkan surat kepada Pak Surya.

Permohonan sengketa harta bersama sudah didaftarkan.

Bersamaan dengan permohonan penetapan agar aset yang disengketakan tidak dialihkan terlebih dahulu sampai status kepemilikannya diperiksa.

Delapan apartemen itu tidak bisa begitu saja diberikan kepada siapa pun berdasarkan tanda tangan Arman malam ini.

Aku sengaja menunggu.

Aku ingin melihat seberapa jauh ia berani melangkah.

Ternyata sampai ujung.

Arman menunjukku dengan tangan gemetar.

“Kamu… merencanakan ini?”

“Tiga belas tahun, Mas.”

Aku meletakkan setumpuk dokumen di samping ranjang.

“Tiga belas tahun.”

Foto transfer Rp40 juta.

Rp55 juta.

Rp80 juta.

Pembayaran uang muka rumah.

Biaya mobil.

Uang sekolah.

Kemudian transaksi yang lebih besar.

Ratusan juta.

Miliaran.

Wajah Arman berubah.

Karena bagian itu bukan uang pribadinya.

“Itu dana perusahaan,” kataku.

Rika langsung menoleh kepadanya.

Arman berusaha bangun.

“Nadzira—”

“Jangan.”

Aku membuka laporan audit forensik.

Selama bertahun-tahun, Arman membuat pembayaran kepada beberapa vendor fiktif.

Nama vendor berbeda-beda.

Tetapi sebagian uang akhirnya masuk ke rekening yang terhubung dengan Rika atau keluarganya.

Total yang berhasil ditelusuri auditor sementara:

Rp18,7 miliar.

Bu Ratna yang berdiri di pintu sampai harus berpegangan pada dinding.

“Arman… ini benar?”

Suamiku tidak menjawab.

Rika mundur.

“Aku tidak tahu dari mana uang itu!”

Aku menatapnya.

“Kamu yakin?”

Damar membuka halaman lain.

“Ada empat transfer dari rekening perusahaan langsung ke rekening Anda dengan keterangan biaya konsultasi.”

“Aku tidak pernah kerja di perusahaan itu!”

Begitu kalimat itu keluar, wajah Rika langsung berubah.

Terlambat.

Damar menatapnya.

“Justru itu masalahnya.”

Ruangan mendadak sunyi.

Bahkan Arman menutup mata.

Rika mengambil tasnya.

“Aku mau pulang.”

Ia menggandeng Dimas.

Tetapi sebelum sempat mencapai lift, dua orang laki-laki dan seorang perempuan berpakaian formal datang dari ujung koridor.

Mereka tidak memakai seragam.

Namun kartu identitas yang mereka tunjukkan cukup membuat Arman membuka mata kembali.

Salah seorang berbicara tenang.

“Bapak Arman Wibowo belum bisa diperiksa karena kondisi medis.”

Kemudian ia menoleh kepada Rika.

“Tapi untuk sementara, kami perlu meminta keterangan Ibu mengenai beberapa transaksi perusahaan.”

Rika membeku.

“Aku?”

“Iya.”

Ia menunjukkan sebuah daftar.

“Termasuk aliran dana senilai miliaran rupiah ke rekening Anda dan beberapa rekening keluarga Anda.”

Rika menatap Arman.

Seolah masih berharap laki-laki di ranjang itu akan menyelamatkannya.

Arman tidak menatap balik.

Lalu Fajar berkata dari belakang kami,

“Rika, sebaiknya kali ini kamu bilang yang sebenarnya.”

Rika berbalik dan berteriak.

“Diam!”

Namun Fajar sudah mengeluarkan satu lembar dokumen terakhir.

Hasil DNA dengan identitas resmi.

Damar meletakkannya tepat di hadapan Arman.

Aku melihat suamiku membaca angka 0,00% itu berkali-kali.

Tangannya mulai bergetar.

Ia menatap Dimas.

Kemudian Rika.

Kemudian aku.

“Jadi…”

Suaranya patah.

“Selama ini…”

Aku tidak menjawab.

Rika justru mengatakan kalimat yang menghancurkan sisa-sisa harga dirinya sendiri.

“Mas… dengarkan aku. Dimas memang bukan anakmu, tapi selama ini kamu sendiri yang mau membiayai kami!”

Arman memejamkan mata.

Tiga belas tahun ia berbohong kepadaku.

Dan selama tiga belas tahun yang sama, ternyata ia juga hidup di dalam kebohongan perempuan yang dipilihnya sendiri.

Tetapi itu belum akhir.

Karena keesokan paginya, auditor menemukan satu rekening lain.

Rekening yang bahkan Arman tidak tahu keberadaannya.

Dan ketika jumlah saldonya disebutkan, wajah Rika benar-benar kehilangan warna.

Bagian 3 — Saat Dokumen Dibuka dan Hasil Tes Terungkap, Orang yang Paling Rakus Justru Kehilangan Segalanya dalam Satu Pagi yang Sunyi di Jakarta Selatan

Rekening itu berisi hampir Rp6,4 miliar.

Atas nama sebuah usaha katering milik kakak Rika.

Usahanya kecil.

Pegawainya hanya empat orang.

Namun selama lima tahun menerima “pembayaran proyek” puluhan kali dari vendor yang berhubungan dengan perusahaan kami.

Yang paling ironis?

Sebagian uang itu berasal dari transaksi yang ditandatangani Arman sendiri.

Ia mengira seluruh uang yang diberikan kepada Rika digunakan untuk rumah dan Dimas.

Ternyata Rika menyimpan sebagian besar melalui keluarganya.

Beberapa bulan sebelumnya, ia bahkan sudah membeli sebidang tanah di Yogyakarta tanpa sepengetahuan Arman.

Ketika Damar memperlihatkan dokumen itu, Arman hanya menatap langit-langit kamar.

Tidak marah.

Tidak berteriak.

Mungkin tubuhnya terlalu lemah.

Atau mungkin untuk pertama kalinya ia memahami bahwa orang yang paling yakin sedang mengendalikan permainan ternyata hanyalah pemain lain.

Pemeriksaan terhadap transaksi perusahaan berlanjut.

Aku tidak pernah meminta siapa pun menghukum Arman atau Rika tanpa bukti.

Aku hanya menyerahkan seluruh hasil audit kepada pihak berwenang dan membiarkan proses berjalan.

Beberapa transaksi terbukti sah.

Sebagian lainnya harus diperiksa lebih jauh.

Yang jelas, klaim bahwa semua uang tersebut adalah “uang pribadi Arman” runtuh setelah catatan rekening dibuka.

Dua minggu kemudian, Arman keluar dari ICU.

Tubuhnya jauh lebih kurus.

Ia masih harus menjalani rehabilitasi jantung.

Hari pertama ia bisa duduk lama, ia meminta bicara denganku berdua.

“Nad…”

Aku berdiri dekat jendela kamar rawat.

“Aku salah.”

Aku diam.

“Aku benar-benar kira Dimas anakku.”

“Itu tidak mengubah apa yang kamu lakukan kepadaku.”

“Aku tahu.”

“Tidak, Mas.”

Aku menatapnya.

“Kalau kamu tahu, kamu tidak akan membawa perempuan lain ke hidup kita selama tiga belas tahun.”

Matanya basah.

“Aku ingin memperbaiki semuanya.”

Aku menggeleng.

“Ada sesuatu yang rusak karena kecelakaan. Ada juga sesuatu yang dihancurkan sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun. Yang kedua tidak selalu bisa diperbaiki.”

Aku meletakkan sebuah map di meja.

Permohonan perceraian.

Arman menatapnya lama.

“Kamu benar-benar meninggalkanku sekarang?”

Aku hampir tersenyum.

“Tidak.”

Ia menatapku penuh harap.

Aku melanjutkan.

“Aku sudah meninggalkan pernikahan ini di dalam hati tiga belas tahun lalu. Sekarang aku hanya mengurus dokumennya.”

Enam bulan berikutnya melelahkan.

Pengadilan.

Audit.

Rapat pemegang saham.

Pemeriksaan dokumen.

Perdebatan mengenai aset.

Delapan apartemen yang hendak diberikan Arman kepada Dimas masuk dalam sengketa harta bersama dan akhirnya tidak pernah berpindah seperti rencananya malam di ICU.

Beberapa aset lain dijual untuk menyelesaikan kewajiban perusahaan dan pembagian yang ditetapkan melalui proses hukum.

Arman juga dicopot dari jabatan operasionalnya di perusahaan.

Bukan karena aku ingin balas dendam.

Pemegang saham lain tidak lagi mempercayainya memegang keuangan.

Rika?

Mobil yang selama ini digunakannya ternyata bukan miliknya.

Ia harus mengembalikannya.

Rumah yang dibelikan Arman tetap menjadi bagian dari sengketa karena sumber dan status dananya dipersoalkan.

Uang yang mengalir melalui beberapa rekening keluarganya ikut diperiksa.

Hubungannya dengan Arman berakhir bahkan sebelum perceraianku selesai.

Bukan karena Arman tiba-tiba menjadi laki-laki bermoral.

Tetapi karena setelah tahu Dimas bukan anaknya dan mengetahui Rika menyembunyikan miliaran rupiah, sesuatu di antara mereka mati seketika.

Fajar kemudian mengajukan proses pengakuan hubungan biologis melalui jalur yang semestinya.

Aku tidak ikut campur.

Itu urusan Fajar, Rika, dan yang paling penting, Dimas.

Satu-satunya permintaanku kepada semua orang hanya satu.

Jangan jadikan anak itu medan perang.

Alya, putriku, sempat marah ketika mengetahui semuanya.

Bukan kepadaku.

Kepada ayahnya.

“Kenapa Mama diam selama ini?”

Kami duduk di balkon apartemen kecil yang kusewa setelah berpisah dari Arman.

Aku memandang lampu Jakarta.

“Karena dulu Mama berpikir melindungi keluarga berarti mempertahankan semuanya.”

“Sekarang?”

Aku tersenyum.

“Sekarang Mama tahu, kadang melindungi keluarga berarti berani mengakhiri sesuatu yang sudah tidak sehat.”

Alya menggenggam tanganku.

Beberapa bulan kemudian, hidupku mulai kembali memiliki suara-suara sederhana.

Suara blender di pagi hari.

Suara hujan di balkon.

Suara Alya menelepon dari kampus.

Tidak ada lagi suara mobil Arman berhenti tengah malam.

Tidak ada lagi alasan “rapat mendadak”.

Tidak ada lagi ponsel yang dibalik layarnya ketika aku lewat.

Suatu sore, sebuah pesan masuk dari nomor Arman.

“Aku baru sadar, waktu kamu tersenyum di ICU malam itu, semuanya sebenarnya sudah selesai, ya?”

Aku membaca pesan itu dua kali.

Lalu menjawab.

“Bukan malam itu.”

“Tiga belas tahun lalu.”

Beberapa menit kemudian ia mengetik.

Berhenti.

Mengetik lagi.

Berhenti lagi.

Tidak ada pesan yang akhirnya masuk.

Aku meletakkan ponsel.

Di meja depanku terdapat secangkir teh melati dan sebuah papan catur kecil yang sering kumainkan dengan Alya.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak sedang menunggu seseorang pulang.

Tidak sedang mencari kebohongan.

Tidak sedang menyimpan bukti.

Aku hanya duduk menikmati sore.

Orang-orang pernah bertanya mengapa aku tidak menampar Rika malam itu.

Mengapa aku tidak berteriak kepada Arman.

Mengapa aku bisa begitu tenang ketika seorang suami mencoba memberikan kekayaan kepada anak perempuan lain—anak yang bahkan akhirnya terbukti bukan darah dagingnya.

Jawabannya sederhana.

Kemarahan hanya berlangsung beberapa menit.

Tetapi bukti yang dikumpulkan dengan sabar bisa berbicara jauh lebih lama.

Arman kehilangan pernikahan yang selama ini ia anggap tidak akan pernah berani kutinggalkan.

Ia kehilangan jabatan yang membuatnya merasa kebal.

Ia kehilangan sebagian harta yang ia kira bisa dibagikan sesuka hati.

Dan yang paling menyakitkan baginya, ia mengetahui bahwa selama tiga belas tahun ketika ia merasa berhasil menipu istrinya, perempuan yang ia bela justru menyimpan kebohongan jauh lebih besar darinya.

Sedangkan aku?

Aku tidak memenangkan suami.

Aku tidak menginginkannya lagi.

Aku memenangkan kembali hidupku sendiri.

Dan ternyata, itu jauh lebih berharga daripada delapan apartemen, tiga mobil, atau semua uang yang pernah mereka perebutkan.