Malam Aku Meninggalkan Rumah Pria yang Menjadikanku Pengganti, Tes Kehamilan Menunjukkan Dua Garis—Empat Tahun Kemudian, Putriku Memanggilnya “Om” di Depan Keluarganya dan Wajahnya Pucat seperti Kehilangan Napas

Avatar penulis
Cerita 03
16 menit baca 192 tayangan
Auto Draft
Indeks

Malam Aku Meninggalkan Rumah Pria yang Menjadikanku Pengganti, Tes Kehamilan Menunjukkan Dua Garis—Empat Tahun Kemudian, Putriku Memanggilnya “Om” di Depan Keluarganya dan Wajahnya Pucat seperti Kehilangan Napas

Bagian 1 — Aku Menandatangani Kontrak Menjadi Pendampingnya Selama Tiga Tahun, Lalu Pergi Saat Dua Garis Merah Menghancurkan Rencana yang Sudah Kususun dengan Rapi

Malam kontrakku dengan Arga Wiratama berakhir, aku sedang memasukkan sepasang sepatu terakhir ke dalam koper ketika menemukan satu benda yang membuat tanganku berhenti bergerak.

Sebuah test pack.

Masih terbungkus plastik.

Aku bahkan hampir lupa pernah membelinya.

Dua minggu terakhir haidku terlambat. Aku mengira itu karena kurang tidur, terlalu banyak pekerjaan, dan tekanan menjelang berakhirnya kontrak tiga tahun yang mengikatku dengan Arga.

Aku sudah merencanakan semuanya.

Jam sebelas malam aku akan keluar dari rumah itu.

Besok pagi aku akan naik kereta menuju Malang.

Lusa, hidup baru dimulai.

Tidak ada lagi Arga.

Tidak ada lagi rumah besar dengan meja makan untuk delapan orang yang hampir selalu hanya dipakai oleh kami berdua dalam keheningan.

Tidak ada lagi perasaan bodoh yang harus kusembunyikan.

Namun entah mengapa, malam itu aku membawa test pack tersebut ke kamar mandi.

Lima menit kemudian, dua garis merah muncul.

Jelas.

Tegas.

Tanpa memberiku kesempatan untuk menyangkal.

Aku terduduk di tepi bathtub.

Tanganku dingin.

“Aku hamil…”

Suara itu terdengar begitu kecil sampai aku sendiri nyaris tidak mengenalinya.

Saat itulah ponselku berbunyi.

Sebuah notifikasi berita hiburan muncul.

Aku seharusnya mengabaikannya.

Tetapi nama Arga tertulis di sana.

Foto yang terpampang membuat perutku terasa lebih mual daripada sebelumnya.

Arga berdiri di ballroom sebuah hotel Jakarta.

Di sampingnya ada Nadine Kusuma.

Perempuan yang selama tiga tahun terakhir hanya kukenal melalui foto-foto lama yang masih tersimpan di ruang kerja Arga.

Nadine baru kembali dari Melbourne setelah membangun karier sebagai pemain biola dan figur publik.

Malam itu dia mengenakan gaun hitam.

Tangannya melingkar ringan di lengan Arga.

Arga menundukkan kepala mendengarkan sesuatu yang dibisikkan Nadine.

Jarak wajah mereka sangat dekat.

Judul beritanya bahkan lebih tajam.

“Cinta Lama Bersemi Kembali? Arga Wiratama dan Nadine Kusuma Tertangkap Mesra Setelah Tiga Tahun Berpisah.”

Aku menatap foto itu lama.

Lalu tanpa sadar mengingat kemeja Arga tadi pagi.

Ada aroma parfum bunga putih yang bukan milikku.

Saat pulang menjelang subuh, dia hanya berkata, “Aku capek.”

Aku tidak bertanya apa pun.

Memangnya aku punya hak apa?

Tiga tahun lalu, aku bukan pacarnya.

Bukan tunangannya.

Apalagi istrinya.

Aku hanya perempuan yang menandatangani kontrak untuk berdiri di sampingnya saat dibutuhkan.

Saat itu adikku, Fajar, mengalami kecelakaan motor.

Operasi tulangnya mahal.

Warung kecil milik orang tuaku sudah diagunkan.

Aku bekerja sebagai penerjemah lepas dengan penghasilan yang bahkan tidak cukup untuk membayar cicilan rumah sakit.

Kemudian Arga datang melalui seorang kenalan.

Keluarganya sedang menghadapi perang internal perusahaan, sementara kakeknya terus menekan Arga agar berhenti menjadi bahan berita karena hubungan cintanya dengan Nadine yang berantakan.

Arga membutuhkan seseorang yang tenang, tidak suka sorotan, dan bersedia menemani acara keluarga maupun acara resmi perusahaan.

Aku membutuhkan uang.

Kesepakatannya sederhana.

Tiga tahun.

Aku tinggal di rumah yang disediakan.

Menghadiri acara bila diperlukan.

Menjaga semua urusan pribadi kami tetap rahasia.

Tidak menuntut bagian dari asetnya setelah kontrak selesai.

Sebagai gantinya, utang rumah sakit Fajar dilunasi dan aku menerima bayaran bulanan.

Aku menandatanganinya tanpa banyak berpikir.

Baru enam bulan kemudian aku tahu alasan Arga memilihku dibanding kandidat lain.

Seorang stylist yang terlalu banyak minum tanpa sengaja berkata,

“Kalau kamu senyum dari samping, kamu memang mirip Nadine.”

Sejak itu aku mengerti.

Aku bukan perempuan yang datang setelah cinta lamanya.

Aku adalah versi sementara dari seseorang yang belum berhasil dia lupakan.

Kesalahan terbesarku adalah tetap jatuh cinta.

Bukan karena Arga romantis.

Justru sebaliknya.

Dia kaku, jarang tersenyum, dan sering lupa memberi kabar.

Namun ketika Fajar harus menjalani operasi kedua, Arga diam-diam duduk di lorong rumah sakit sampai pukul tiga pagi.

Ketika aku demam, dia membatalkan makan malam bisnis dan menyuruh dokter datang.

Dia bahkan hafal bahwa aku tidak suka ketumbar dan selalu minum teh tanpa gula.

Hal-hal kecil seperti itulah yang berbahaya.

Karena tanpa sadar, aku mulai berharap sesuatu yang tidak pernah dijanjikan kontrak.

Dan malam ini, Nadine sudah kembali.

Kontrakku juga sudah selesai.

Seolah hidup sedang mengatakan dengan sangat jelas bahwa waktuku memang habis.

Aku memandang test pack di tanganku.

Untuk beberapa detik, aku ingin menelepon Arga.

Hanya satu telepon.

Aku ingin berkata bahwa ada sesuatu yang perlu kami bicarakan.

Namun foto Nadine kembali terbayang.

Aku meletakkan ponsel.

Tidak.

Aku tidak akan menggunakan seorang anak untuk mempertahankan laki-laki yang bahkan tidak pernah memilihku.

Aku membungkus test pack itu dengan tisu, memasukkannya ke dalam tas, lalu menutup koper.

Di meja ruang kerja, kutinggalkan kartu akses rumah, kartu tambahan rekening yang hampir tidak pernah kugunakan, dan salinan kontrak yang sudah kutandatangani pada halaman terakhir.

Tidak ada surat cinta.

Tidak ada kalimat perpisahan.

Hanya satu catatan pendek.

Kontrak selesai. Terima kasih untuk tiga tahun ini. Jangan cari aku.

Aku berangkat pukul 23.17.

Pak Seno, satpam rumah, memandang koperku dengan bingung.

“Mbak Aira pergi malam-malam?”

Aku tersenyum.

“Pulang, Pak.”

Padahal aku sendiri tidak tahu rumahku setelah malam itu ada di mana.

Aku naik taksi menuju stasiun.

Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, aku menangis.

Bukan karena kehilangan rumah besar itu.

Bukan karena kehilangan uang.

Aku menangis karena ada kehidupan kecil di dalam tubuhku yang belum tahu bahwa ayahnya bahkan belum tahu dia ada.

Di Malang, aku menyewa rumah petak di gang kecil dekat Sawojajar.

Aku mengganti nomor telepon dan hanya memberi nomor baru kepada keluarga.

Aku mulai mengambil pekerjaan menerjemahkan katalog produk dari rumah.

Kehamilanku berat.

Selama hampir empat bulan aku tidak bisa mencium bau minyak goreng tanpa muntah.

Pemilik rumah, Bu Sulastri, akhirnya tahu aku hamil setelah suatu pagi menemukanku duduk lemas di depan kamar mandi.

“Suamimu di mana?”

Aku terdiam beberapa detik.

“Tidak ada.”

Beliau tidak bertanya lagi.

Anehnya, justru perempuan yang hampir tidak mengenalku itulah yang kemudian menemaniku ke dokter, membawakan bubur ketika aku tidak bisa makan, bahkan duduk di luar ruang bersalin saat kontraksi datang.

Putriku lahir saat hujan deras bulan Januari.

Aku memberinya nama Kayla Larasati.

Ketika perawat meletakkannya di dadaku, jari kecilnya langsung menggenggam ujung bajuku.

Aku menangis sampai bahuku gemetar.

“Maaf Mama cuma sendirian,” bisikku.

“Tapi Mama janji, kamu tidak akan kekurangan cinta.”

Empat tahun berlalu.

Aku membangun hidup kami sedikit demi sedikit.

Dari satu klien penerjemahan menjadi lima.

Dari rumah petak menjadi rumah kontrakan kecil dengan dua kamar.

Kayla tumbuh menjadi anak yang cerewet, lucu, dan terlalu pandai bertanya.

Aku pikir masa lalu sudah selesai.

Sampai salah satu klien memintaku menjadi penerjemah dalam sebuah konferensi logistik di Surabaya.

Aku hampir menolak.

Tapi bayarannya setara hampir dua bulan penghasilanku.

Jadi aku berangkat membawa Kayla dan meminta seorang pengasuh dari penyelenggara menemaninya di area anak.

Siang itu aku sedang menerjemahkan percakapan di sebuah booth ketika mendengar suara kecil berteriak,

“Mama!”

Kayla berlari ke arahku membawa kertas gambar.

Aku berjongkok untuk menangkapnya.

Lalu suasana di belakangku mendadak sunyi.

Seseorang memanggil namaku.

“Aira?”

Aku tahu suara itu.

Bahkan setelah empat tahun.

Tubuhku membeku sebelum aku berani menoleh.

Arga berdiri sekitar lima meter dariku.

Lebih kurus.

Lebih dewasa.

Tetapi tatapan itu sama.

Matanya berpindah dari wajahku ke Kayla.

Kayla menatapnya balik dengan penasaran.

Lalu, tanpa tahu siapa laki-laki di depannya, dia tersenyum lebar.

“Om kenal Mama?”

Wajah Arga berubah.

Matanya turun ke lesung pipi Kayla.

Lesung pipi yang sama persis dengannya.

Kemudian dia menatapku lagi.

Suaranya pelan.

Namun setiap katanya membuat darahku terasa berhenti mengalir.

“Aira… umur anak itu berapa?”

#CeritaKeluarga #DramaIndonesia #KisahIbu #RahasiaMasaLalu #CeritaViral

Bagian 2 — Empat Tahun Kemudian, Sebuah Pertemuan Kerja di Surabaya Membuka Rahasia yang Kukubur dan Membuat Lelaki Itu Menghitung Usia Putriku Berulang Kali

“Tiga tahun tujuh bulan!”

Kayla menjawab sebelum aku sempat membuka mulut.

Dia bahkan mengangkat empat jarinya dengan bangga meski jumlahnya salah.

Aku ingin menutup mata.

Arga tidak tertawa.

Aku melihatnya menghitung.

Empat tahun sejak aku pergi.

Masa kehamilan.

Usia Kayla.

Semua angka itu bertemu di wajahnya.

“Aira.”

Nada suaranya berubah.

“Kita perlu bicara.”

“Tidak di sini.”

Aku menggandeng Kayla.

Namun seorang perempuan muncul dari belakang Arga.

Nadine.

Aku langsung mengenalinya.

Dia masih cantik seperti foto-foto majalah, hanya kali ini senyumnya terasa lebih dingin ketika melihatku.

“Jadi ini Aira?”

Tatapannya kemudian turun kepada Kayla.

“Menarik.”

Arga langsung menoleh.

“Nadine, jangan.”

“Aku tidak bilang apa-apa.”

“Tapi wajahmu bilang banyak.”

Aku membawa Kayla pergi.

Malamnya Arga datang ke hotel.

Dia tidak membawa pengacara.

Tidak membawa keluarga.

Hanya dirinya sendiri.

Kayla sudah tidur ketika kami berbicara di restoran lantai bawah.

“Dia anakku?”

Aku menggenggam gelas.

“Aku tidak meminta apa pun darimu.”

“Itu bukan jawaban.”

“Karena pertanyaanmu datang terlambat empat tahun.”

Rahangnya menegang.

“Aku tidak tahu.”

“Aku tahu.”

“Kenapa kamu tidak memberitahuku?”

Pertanyaan itu akhirnya keluar.

Aku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

“Pada malam aku mengetahui kehamilanku, berita tentangmu dan Nadine ada di mana-mana. Kontrak kita selesai. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang perempuan yang tahu posisinya.”

Arga menatapku lama.

“Aku tidak kembali dengan Nadine.”

Aku tidak menjawab.

“Malam itu dia meminta bicara tentang kerja sama yayasan. Foto yang kamu lihat diambil beberapa detik setelah dia memelukku. Aku bahkan menolaknya.”

“Arga, itu sudah empat tahun lalu.”

“Tapi karena malam itulah kamu pergi membawa anakku tanpa memberitahuku.”

Nada suaranya meninggi.

Aku langsung berdiri.

“Jangan bicara seolah aku menculik sesuatu milikmu.”

Dia terdiam.

Aku menatapnya lurus.

“Aku muntah sendirian. Aku ke rumah sakit sendirian. Aku melahirkan hampir dua belas jam sambil menggenggam tangan ibu kos karena tidak ada siapa-siapa. Ketika Kayla demam jam dua pagi, aku yang menggendongnya mencari taksi. Jadi jangan datang setelah empat tahun lalu menggunakan kata ‘anakku’ seolah seluruh perjuangan itu otomatis menjadi milikmu.”

Wajah Arga kehilangan kemarahannya.

Yang tersisa hanya sesuatu yang mirip rasa bersalah.

Besoknya dia meminta tes DNA.

Aku setuju dengan satu syarat.

Tidak ada media.

Tidak ada keluarga.

Tidak ada yang mendekati Kayla sebelum hasilnya keluar.

Tiga hari kemudian hasil laboratorium tiba.

Probabilitas hubungan biologis: 99,99%.

Arga membaca lembar itu berulang kali.

Lalu duduk tanpa bicara hampir sepuluh menit.

“Aku punya anak perempuan,” gumamnya.

Aku tidak pernah melihat Arga menangis.

Hari itu matanya merah.

Namun masalah justru dimulai beberapa jam kemudian.

Entah dari mana, ibunya mengetahui semuanya.

Bu Miranti datang membawa seorang pengacara dan sebuah map.

Dia bahkan tidak menyapa Kayla.

Kami bertemu di ruang privat hotel.

Bu Miranti meletakkan dokumen di depanku.

“Dua miliar rupiah.”

Aku menatapnya.

“Untuk apa?”

“Kamu pindah kembali ke Malang. Kami menanggung pendidikan anak itu. Tapi tidak ada konferensi pers, tidak ada tuntutan warisan, dan jangan gunakan nama Wiratama.”

Aku merasa telingaku berdenging.

“Nama anak itu Kayla Larasati. Sejak lahir dia tidak pernah memakai nama keluarga kalian.”

“Bagus. Pertahankan begitu.”

“Bu.”

Suara Arga terdengar dari pintu.

Semua orang menoleh.

Entah sejak kapan dia berdiri di sana.

Wajahnya gelap.

Ibunya mencoba tersenyum.

“Mama cuma melindungi keluarga.”

“Dengan membeli ibu anak saya?”

“Arga—”

“Keluar.”

Bu Miranti membeku.

“Apa?”

“Pengacara Mama juga. Keluar.”

Untuk pertama kalinya aku melihat Arga membantah ibunya tanpa ragu.

Sayangnya, beberapa jam kemudian dia melakukan kesalahan lain.

“Aku sudah menyiapkan apartemen di Jakarta untuk kalian,” katanya. “Sekolah Kayla juga bisa—”

Aku memotong.

“Tidak.”

“Aira, dengarkan dulu.”

“Kamu mengenalnya baru tiga hari dan sudah mau mengganti rumah, sekolah, kota, seluruh hidupnya?”

“Aku ayahnya.”

“Secara biologis, iya. Dalam hidupnya? Belum.”

Kalimat itu melukainya.

Tapi aku tidak menariknya kembali.

Malam itu nomor tak dikenal mengirim pesan WhatsApp kepadaku.

Nadine.

Pesan pertama hanya foto berita empat tahun lalu.

Lalu masuk beberapa voice note.

Aku memasang earphone.

Suara Nadine terdengar santai.

“Kalau dulu foto itu tidak kusebar ke akun gosip, mungkin kamu masih betah bermain rumah-rumahan dengan Arga.”

Jantungku berhenti sesaat.

Pesan berikutnya lebih buruk.

“Aku tahu kontrakmu habis malam itu. Tante Miranti sendiri yang bilang. Dia juga yang menyuruhku menunjukkan kepada publik bahwa Arga dan aku sudah dekat lagi.”

Aku menyimpan semua pesan itu.

Tidak membalas.

Keesokan siangnya aku hendak membawa Kayla pulang.

Namun begitu pintu lift hotel terbuka, kilatan kamera langsung menyambut kami.

Belasan wartawan berdiri di lobi.

Seseorang berteriak,

“Mbak Aira, benar dulu Anda dibayar untuk menjadi pasangan Arga Wiratama?”

Yang lain lebih kejam.

“Apakah anak Anda digunakan untuk meminta pengakuan keluarga Wiratama?”

Kayla langsung menangis.

Aku memeluk kepalanya ke dadaku.

Di tengah kerumunan, aku melihat Nadine.

Berdiri sedikit jauh.

Tidak ada kamera yang mengarah kepadanya.

Dan dia sedang tersenyum.

Beberapa detik kemudian Arga muncul bersama petugas keamanan.

Wajahnya berubah ketika melihat Kayla menangis.

Dia memerintahkan semua kamera diturunkan.

Tetapi aku menghentikannya.

“Tidak usah.”

Aku mengeluarkan ponsel.

Lalu menatap Nadine.

“Bagus sekali kamu mengundang mereka.”

Senyumnya langsung menghilang.

Aku membuka voice note yang dia kirim semalam.

“Sekarang sekalian kita dengarkan siapa sebenarnya yang membuat berita empat tahun lalu.”

Bagian 3 — Dia Mengira Uang dan Nama Besar Bisa Mengatur Hidup Putriku, Sampai Pesan Suara Membongkar Pengkhianatan yang Disembunyikan Bertahun-Tahun dari Kami

Lobi hotel mendadak senyap.

Aku tidak memutar seluruh rekaman.

Hanya bagian yang diperlukan.

Suara Nadine terdengar jelas dari speaker ponselku.

“Kalau dulu foto itu tidak kusebar ke akun gosip, mungkin kamu masih betah bermain rumah-rumahan dengan Arga.”

Kemudian rekaman berikutnya.

“Aku tahu kontrakmu habis malam itu. Tante Miranti sendiri yang bilang.”

Wajah Nadine seketika pucat.

“Matikan itu!”

Dia maju hendak mengambil ponselku.

Arga berdiri di tengah kami.

“Jangan sentuh dia.”

Nadine menatapnya tidak percaya.

“Aku cuma—”

“Kamu cuma apa?”

Untuk pertama kalinya suara Arga benar-benar dingin.

“Menyusun berita palsu? Membocorkan informasi pribadi? Atau membawa wartawan untuk mengejar anak tiga tahun?”

Nadine diam.

Para reporter yang tadi mengejarku sekarang mengarahkan mikrofon kepadanya.

Aku tidak menikmati kekacauan itu.

Aku hanya ingin membawa Kayla pergi.

Tetapi sebelum aku berbalik, Arga mengambil mikrofon salah satu wartawan.

“Ada satu hal yang akan saya klarifikasi.”

Semua kamera beralih kepadanya.

“Kayla adalah putri biologis saya. Tes sudah dilakukan atas persetujuan ibunya.”

Dadaku menegang.

“Selama hampir empat tahun, Aira tidak pernah meminta uang, tidak pernah menghubungi perusahaan saya, dan tidak pernah menggunakan anak kami untuk keuntungan apa pun.”

Seorang wartawan bertanya,

“Apakah Mbak Aira sengaja menyembunyikan kehamilan?”

Arga terdiam sebentar.

Kemudian menjawab,

“Dia pergi setelah kontrak kami selesai karena saat itu saya gagal membuatnya merasa bahwa dia punya alasan untuk tinggal. Itu bagian yang menjadi tanggung jawab saya.”

Aku menatapnya.

Jawaban itu tidak menghapus empat tahun.

Namun setidaknya untuk sekali ini, dia tidak melempar kesalahan kepadaku.

Kerja sama yayasan keluarga Wiratama dengan Nadine dihentikan dua minggu kemudian.

Bukan karena Arga meminta balas dendam, tetapi karena tim hukum menemukan Nadine memang menggunakan informasi internal yayasan untuk membocorkan jadwal dan memancing pemberitaan pribadi.

Dua merek yang menjadikannya duta kampanye juga menunda kerja sama setelah video ketika dia membiarkan wartawan mengepung Kayla tersebar luas.

Nadine akhirnya membuat permintaan maaf terbuka.

Aku tidak membalasnya.

Bu Miranti juga mendapat akibat dari tindakannya.

Arga meminta dewan keluarga mengeluarkannya dari pengambilan keputusan mengenai yayasan untuk sementara karena menggunakan relasi yayasan demi kepentingan pribadi.

Lebih penting lagi, Arga memberinya batas yang sangat jelas.

“Mama tidak akan bertemu Kayla sampai Mama bisa menghormati ibunya.”

Butuh hampir enam bulan sebelum Bu Miranti akhirnya datang sendiri ke Malang.

Tanpa pengacara.

Tanpa cek.

Dia membawa satu kotak kecil berisi buku cerita anak.

“Aku tidak datang meminta dimaafkan hari ini,” katanya kepadaku.

“Bagus. Karena saya juga belum bisa.”

Dia mengangguk.

Untuk pertama kalinya, tidak ada nada merendahkan.

Hubunganku dengan Arga bahkan lebih lambat.

Setelah kejadian di Surabaya, dia tidak pernah lagi bicara soal memindahkan kami ke Jakarta.

Dia yang datang ke Malang.

Awalnya dua minggu sekali.

Kemudian setiap akhir pekan yang memungkinkan.

Dia belajar bahwa Kayla tidak suka susu hangat.

Bahwa dia harus mendengar cerita sebelum tidur.

Bahwa kalau marah, Kayla akan menyilangkan tangan lalu mengatakan, “Aku butuh waktu.”

Suatu sore Arga terlambat hampir dua jam karena penerbangannya dibatalkan.

Kupikir dia akan membatalkan kunjungannya.

Ternyata hampir tengah malam dia muncul di depan rumah setelah menempuh perjalanan darat dari Surabaya.

Kayla sudah tidur.

“Aku sudah bilang besok saja,” kataku.

“Aku janji datang hari ini.”

“Hanya karena janji pada anak tiga tahun?”

Arga menatapku.

“Justru karena dia tiga tahun.”

Dia duduk di teras.

“Aku sudah kehilangan terlalu banyak janji yang bahkan tidak sempat kubuat selama tiga tahun pertamanya. Aku tidak mau menambah satu lagi.”

Aku tidak langsung memaafkannya.

Kepercayaan bukan sakelar.

Tidak bisa hidup kembali hanya karena seseorang akhirnya sadar.

Arga menandatangani pengakuan anak secara resmi.

Dia membuat rekening pendidikan atas nama Kayla.

Semua keputusan sekolah dan kesehatan tetap dibicarakan bersamaku.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, dia belajar meminta izin sebelum mengambil keputusan.

Setahun berlalu.

Suatu malam setelah ulang tahun Kayla yang kelima, kami duduk di teras sementara Kayla tidur bersama hadiah-hadiahnya.

Arga memberikan sebuah amplop kepadaku.

Aku langsung mengernyit.

“Kalau ini kontrak lagi, aku lempar ke jalan.”

Dia tertawa kecil.

Suara yang dulu jarang sekali kudengar.

“Bukan.”

Aku membukanya.

Di dalamnya hanya ada selembar kertas.

Kosong.

Aku menatapnya bingung.

Arga berkata,

“Dulu awal hubungan kita dimulai dengan kertas berisi syarat-syarat dariku.”

Dia menarik napas.

“Kalau kali ini kita mencoba lagi, aku tidak mau ada syarat.”

Aku diam.

“Aku juga tidak akan meminta kamu kembali ke rumah lama. Tidak akan meminta kamu pindah. Tidak akan meminta jawaban malam ini.”

“Lalu apa yang kamu minta?”

“Satu kesempatan untuk mengenalmu sebagai Aira. Bukan perempuan kontrak. Bukan pengganti Nadine. Bukan cuma ibu dari Kayla.”

Mataku panas.

Empat tahun lalu, mungkin kalimat itu cukup untuk membuatku langsung memeluknya.

Sekarang aku lebih hati-hati.

Jadi aku hanya berkata,

“Kita mulai dari kopi.”

Arga tersenyum.

“Baik.”

“Dan kamu yang bayar.”

“Dengan senang hati.”

Kami tidak menikah minggu berikutnya.

Tidak juga bulan berikutnya.

Kami benar-benar berkencan dari awal.

Bertengkar.

Belajar.

Memperbaiki banyak hal.

Empat belas bulan kemudian, Arga melamarku di halaman belakang rumah kontrakanku.

Tidak ada hotel.

Tidak ada wartawan.

Tidak ada cincin sebesar lampu lalu lintas.

Hanya aku, Arga, Kayla, Bu Sulastri, orang tuaku, dan Fajar yang datang membawa terlalu banyak makanan.

Sebelum aku menjawab, Kayla menarik celana Arga.

“Om Arga.”

Arga berjongkok.

“Iya?”

Kayla berbisik cukup keras agar semua orang mendengar.

“Kalau Mama bilang iya, aku boleh panggil Papa?”

Arga menutup mulut.

Matanya langsung merah.

Aku tertawa sambil menangis.

Lalu mengangguk.

“Iya.”

Bukan hanya menjawab lamaran Arga.

Tetapi juga menjawab pertanyaan Kayla.

Hari itu aku akhirnya mengerti satu hal.

Empat tahun lalu aku pergi karena tidak mau menjadi pengganti siapa pun.

Dan ketika aku kembali mencintai laki-laki yang sama, aku memastikan satu hal lebih dulu.

Kali ini aku tidak berdiri di tempat milik perempuan lain.

Aku berdiri di tempat yang dipilih untukku.

Sebagai diriku sendiri.

Dan kali ini, ketika Arga menggenggam tanganku, tidak ada kontrak yang menentukan kapan dia harus melepaskannya.