Selama Delapan Tahun Suamiku Selalu “Merapikan Tulang Punggungku” Setiap Minggu, Sampai Dokter Ortopedi Temanku Melihat Satu Gerakannya dan Wajahnya Langsung Pucat di Depan Semua Orang Saat Reuni Kampus Malam Itu

Avatar penulis
Cerita 03
16 menit baca 452 tayangan
Auto Draft
Indeks

Selama Delapan Tahun Suamiku Selalu “Merapikan Tulang Punggungku” Setiap Minggu, Sampai Dokter Ortopedi Temanku Melihat Satu Gerakannya dan Wajahnya Langsung Pucat di Depan Semua Orang Saat Reuni Kampus Malam Itu

Bagian 1 — Aku Selalu Mengira Tangan Suamiku Menyembuhkan Sakit Pinggangku, Sampai Sahabatku Bertanya Mengapa Ia Menekan Titik Itu Setiap Jumat Malam Tanpa Henti

Setiap Jumat malam pukul sembilan, suamiku selalu mengunci pintu kamar.

Bukan karena kami ingin melakukan sesuatu yang romantis.

Melainkan karena, menurut Raka, tubuhku harus “dikembalikan ke posisi semula”.

Delapan tahun menikah, delapan tahun pula ritual itu berlangsung.

Dan selama delapan tahun itu, aku tidak pernah sekalipun berpikir bahwa orang yang paling kupercaya justru sedang membangun sebuah kebohongan menggunakan tubuhku sendiri.

Namaku Nadira.

Usiaku tiga puluh empat tahun dan aku bekerja sebagai supervisor pengadaan di sebuah perusahaan tekstil di Bandung.

Suamiku, Raka Pradana, bekerja di bagian kredit sebuah bank swasta.

Raka bukan dokter.

Bukan fisioterapis.

Bahkan tidak pernah kuliah di bidang kesehatan.

Tetapi dua bulan setelah kami menikah, saat aku mengeluh pinggang pegal karena duduk terlalu lama di kantor, dia mulai mengatakan bahwa posisi panggulku tidak normal.

“Pinggulmu sedikit miring,” katanya waktu itu.

“Makanya kalau duduk lama gampang sakit.”

Aku tertawa.

“Sejak kapan kamu ngerti tulang?”

Raka tersenyum sambil mengusap rambutku.

“Aku baca-baca. Temanku pernah ikut terapi seperti ini.”

Dia lalu memintaku berbaring tengkurap.

Kedua lututku ditekuk sedikit.

Satu tangannya menahan pinggang, sementara tangan lainnya menekan bagian bawah tulang belakangku perlahan.

Lalu—

Krek.

Ada suara kecil.

Aneh memang.

Tetapi sesudahnya tubuhku terasa lebih ringan.

Sejak hari itu, Raka menyebutnya “terapi sakrum”.

Setiap Jumat malam harus dilakukan.

Tidak boleh terlambat.

Tidak boleh dilewatkan.

Kalau aku sedang dinas luar kota, dia bahkan akan mengingatkan lewat telepon.

“Begitu pulang langsung terapi, ya.”

Aku selalu menganggap itu perhatian.

Malam Jumat itu pun sama.

Raka sudah menyiapkan handuk hangat dan minyak pijat di atas meja kecil kamar.

“Capek?”

Dia berdiri di belakangku sambil memijat bahuku.

“Lumayan. Tadi meeting hampir tiga jam.”

“Makanya jangan terlalu memaksakan diri.”

Dia mencium puncak kepalaku.

“Tubuh kamu memang lebih sensitif dibanding perempuan lain.”

Kalimat itu sudah terlalu sering kudengar sampai aku tidak pernah mempertanyakannya lagi.

Aku berbaring.

Raka menarik sedikit bagian pinggang celanaku agar mudah menemukan tulang di punggung bagian bawah.

Telapak tangannya berhenti tepat di atas tulang ekor.

“Tarik napas.”

Aku menurut.

“Buang.”

Saat aku mengembuskan napas, dia menekan keras.

Krek.

Aku sedikit meringis.

“Agak sakit.”

“Berarti tadi posisinya memang bergeser.”

Raka mengusap punggungku.

“Kalau tidak dibetulkan rutin, nanti makin parah.”

Pintu kamar tiba-tiba terbuka.

Ibu mertuaku, Bu Mirna, muncul membawa segelas jamu hangat.

Seperti biasa, tanpa mengetuk.

“Sudah selesai?”

“Baru saja, Bu,” jawab Raka.

Tatapan Bu Mirna turun ke arah pinggangku.

Wajahnya terlihat puas.

“Bagus. Perempuan memang harus menjaga bagian panggul. Apalagi Nadira belum punya anak.”

Aku terdiam.

Topik anak selalu membuat suasana berubah.

Delapan tahun menikah, kami memang belum dikaruniai anak.

Dulu aku beberapa kali mengajak Raka memeriksakan diri ke klinik fertilitas.

Tetapi Raka selalu menolak.

Katanya jangan terlalu terobsesi.

Katanya rezeki anak datang sendiri.

Katanya tubuhku harus dibenahi lebih dahulu.

Dan setiap kali pembicaraan itu muncul, Bu Mirna selalu mendukungnya.

“Panggulmu dulu belum bagus,” katanya.

“Perbaiki dulu. Jangan buru-buru periksa macam-macam.”

Aku percaya.

Bagaimana tidak?

Mereka adalah keluargaku.

Malam itu Bu Mirna menyerahkan jamu kepadaku.

“Minum sampai habis.”

Aku meminumnya.

Pahit.

Namun aku tetap tersenyum.

Aku sama sekali tidak tahu bahwa keesokan harinya, hanya karena sebuah percakapan sederhana di acara reuni, seluruh keyakinanku tentang pernikahanku akan runtuh.

Sabtu siang, aku menghadiri reuni kecil teman-teman kuliah di sebuah restoran Sunda di kawasan Dago.

Di sanalah aku bertemu kembali dengan Lestari.

Dulu kami satu kamar kos selama hampir tiga tahun.

Sekarang dia sudah menjadi dokter spesialis ortopedi di sebuah rumah sakit besar di Bandung.

“Nadira!”

Lestari memelukku.

“Kamu makin kurus!”

“Kerjaan,” jawabku sambil tertawa.

Kami mengobrol panjang.

Tentang pekerjaan.

Tentang teman-teman yang sudah punya anak dua atau tiga.

Tentang kehidupan setelah menikah.

Sampai Lestari bertanya, “Pinggangmu dulu yang sering sakit bagaimana?”

Aku spontan tersenyum.

“Sudah jauh lebih baik. Raka yang merawat.”

“Raka?”

“Iya. Dia belajar terapi tulang.”

Lestari tertawa kecil.

“Tunggu. Suamimu yang kerja di bank itu?”

“Iya.”

Ekspresinya berubah sedikit.

Aku tidak memperhatikan dan malah dengan bangga menceritakan ritual Jumat malam kami.

Aku menjelaskan posisi tubuhku.

Cara tangan Raka menekan.

Lokasi tekanannya.

Bahkan menirukan bagaimana dia menunggu sampai terdengar suara “krek”.

Lestari yang semula memegang gelas perlahan menurunkannya.

“Nad.”

“Hm?”

“Dia melakukan itu setiap minggu?”

“Setiap Jumat.”

“Sudah berapa lama?”

“Hampir delapan tahun.”

Wajahnya langsung berubah.

Bukan terkejut biasa.

Dia terlihat takut.

“Raka pernah ikut pelatihan terapi manual?”

“Kayaknya belajar sendiri.”

“Pernah ada dokter yang mendiagnosis panggulmu bergeser?”

Aku menggeleng.

“Tidak perlu katanya. Dia bisa merasakan dari posisi tulang.”

Lestari menatapku beberapa detik.

Kemudian bertanya pelan.

“Dia pernah melarang kamu diperiksa dokter?”

Jantungku mendadak berdebar.

“Bukan melarang…”

Aku berusaha tertawa.

“Cuma katanya percuma. Masalahnya sudah dia tahu.”

Lestari berdiri.

“Nadira, ikut aku sebentar.”

Dia menarik tanganku menuju area yang lebih sepi.

Begitu pintu lorong tertutup, wajahnya berubah serius.

“Dengarkan aku.”

Aku mulai takut.

“Apa?”

“Sendi panggul tidak ‘geser’ setiap minggu lalu harus dikembalikan dengan bunyi krek seperti yang dia bilang.”

Aku membeku.

Lestari melanjutkan.

“Bunyi sendi juga bukan bukti tulang kembali ke posisi. Dan tekanan berulang pada daerah sakroiliaka atau tulang belakang tanpa pemeriksaan bisa menyebabkan masalah, bukan menyembuhkan.”

Tanganku mulai dingin.

“Tapi pinggangku terasa enak sesudahnya.”

“Itu tidak membuktikan diagnosisnya benar.”

Aku terdiam.

Lestari bertanya lagi.

“Belakangan kamu sering kesemutan?”

Aku menelan ludah.

Kadang.

“Paha kanan?”

Aku menatapnya.

“Iya.”

“Kaki terasa lemah setelah duduk lama?”

Kali ini aku tidak menjawab.

Karena benar.

Sudah hampir enam bulan.

Aku hanya belum pernah mengatakannya kepada siapa pun.

Lestari langsung mengambil tas.

“Kita ke rumah sakit.”

“Sekarang?”

“Sekarang.”

Aku mencoba menghubungi Raka, tetapi Lestari menahan tanganku.

“Jangan bilang dulu.”

Kalimat itu membuat dadaku semakin sesak.

Beberapa jam kemudian aku menjalani pemeriksaan fisik dan pencitraan yang direkomendasikan dokter.

Aku duduk di depan monitor dengan telapak tangan berkeringat.

Dokter menunjuk beberapa bagian.

Tidak ada “panggul bergeser” seperti yang selama ini selalu dikatakan Raka.

Tidak ada kelainan bawaan yang membutuhkan ritual mingguan.

Justru ditemukan tanda peradangan kronis dan ketidakstabilan pada area sendi tertentu yang harus dievaluasi serta direhabilitasi dengan benar.

Lestari duduk di sebelahku dengan rahang mengeras.

Aku masih berusaha membela suamiku.

“Mungkin Raka tidak tahu…”

Lestari tidak langsung menjawab.

Kemudian dia bertanya sesuatu yang membuat tengkukku dingin.

“Nadira, selama delapan tahun menikah, siapa yang pertama kali bilang tubuhmu bermasalah sampai kalian sulit punya anak?”

“Raka.”

“Dokternya siapa?”

Aku membuka mulut.

Tidak ada jawaban.

Karena aku baru sadar—

Aku tidak pernah menerima diagnosis apa pun.

Tidak pernah melihat hasil pemeriksaan.

Tidak pernah bertemu dokter yang mengatakan panggulku bermasalah.

Semua informasi itu hanya datang dari Raka dan ibunya.

Lestari memegang tanganku.

“Nad, aku tidak tahu apa alasan suamimu. Tapi satu hal jelas.”

Dia menunjuk hasil pemeriksaanku.

“Tubuhmu bukan sedang ‘diperbaiki’ selama delapan tahun.”

Suara Lestari mengecil.

“Tubuhmu justru menunjukkan jejak tekanan berulang yang seharusnya tidak dilakukan tanpa indikasi medis.”

Aku menatap layar di hadapanku.

Untuk pertama kalinya selama delapan tahun, suara “krek” yang selalu membuatku merasa dicintai terdengar berbeda di kepalaku.

Bukan lagi seperti suara pertolongan.

Melainkan seperti peringatan yang selama ini sengaja tidak kudengar.

Dan saat itulah Lestari mengucapkan satu pertanyaan terakhir.

“Kalau ternyata panggulmu tidak pernah bermasalah… menurutmu kenapa Raka membutuhkan delapan tahun untuk membuatmu percaya bahwa masalahnya ada pada tubuhmu?”

Aku tidak sanggup menjawab.

Karena tiba-tiba aku teringat sesuatu.

Sebuah map cokelat yang pernah kulihat disembunyikan Raka di lemari kerja beberapa hari sebelum pernikahan kami.

Malam itu, untuk pertama kalinya, aku memutuskan membukanya.

#CeritaRumahTangga #DramaKeluarga #RahasiaPernikahan #KisahPenuhPelajaran #CeritaIndonesia

Bagian 2 — Hasil Pemeriksaan Membuktikan Tubuhku Tidak Pernah Rusak Seperti Katanya, tetapi Satu Berkas Lama Membuka Kebohongan yang Jauh Lebih Kejam dari Dugaanku

Aku pulang pukul tujuh malam.

Raka belum ada.

Bu Mirna sedang menghadiri pengajian di rumah kerabat.

Rumah benar-benar kosong.

Tanganku gemetar saat membuka pintu ruang kerja Raka.

Aku hampir membatalkan niatku.

Delapan tahun menikah membuatku terbiasa menghormati privasinya.

Tetapi kemudian aku teringat layar pemeriksaan tadi.

Aku teringat pertanyaan Lestari.

Kalau tubuhku tidak pernah bermasalah, kenapa mereka membuatku percaya sebaliknya?

Lemari dokumen Raka berada di sudut ruangan.

Rak kedua.

Bagian paling belakang.

Aku menarik beberapa bundel laporan bank, sertifikat pelatihan dan polis asuransi.

Tidak ada.

Aku hampir menyerah sampai tanganku menyentuh sebuah map cokelat tua yang diselipkan di bawah tumpukan dokumen kendaraan.

Jantungku berhenti sesaat.

Map yang sama.

Aku membukanya.

Ada hasil pemeriksaan laboratorium.

Namanya jelas.

Raka Pradana.

Tanggalnya hampir sembilan tahun lalu.

Enam bulan sebelum pernikahan kami.

Aku membaca istilah medis yang tidak sepenuhnya kupahami.

Namun ada satu kata yang dicetak jelas pada lembar kesimpulan.

Azoospermia.

Di bawahnya terdapat catatan pemeriksaan lanjutan dan rekomendasi konsultasi fertilitas.

Aku memotretnya lalu mengirimkan kepada Lestari.

Balasannya datang beberapa menit kemudian.

“Nadira, simpan semua dokumen. Jangan konfrontasi sendirian.”

Tanganku mulai menggigil.

Selama bertahun-tahun, setiap acara keluarga yang membahas anak, aku yang menundukkan kepala.

Setiap tetangga bertanya kapan punya momongan, Bu Mirna selalu menjawab dengan senyum tipis.

“Nadira masih terapi.”

Saat sepupu Raka hamil anak kedua, Bu Mirna pernah berkata di dapur—

“Perempuan itu harus pintar menjaga badan sebelum menikah.”

Aku menangis diam-diam malam itu.

Raka memelukku.

“Jangan dengarkan Ibu.”

Lalu Jumat malam berikutnya, dia kembali menekan punggungku sambil berkata—

“Kita perbaiki pelan-pelan.”

Aku sampai meminta maaf kepadanya.

Karena merasa gagal menjadi istri.

Sekarang aku berdiri memegang bukti bahwa sebelum menikah, Raka sudah tahu dirinya memiliki persoalan serius terkait kesuburan.

Di dasar map ada kuitansi konsultasi.

Ada catatan dokter.

Ada formulir persetujuan pemeriksaan lanjutan.

Dan ada selembar kertas kecil dengan tulisan tangan Bu Mirna.

Aku mengenali tulisannya.

“Jangan dibicarakan dengan keluarga perempuan dulu. Setelah menikah kita cari jalan.”

Lututku hampir kehilangan tenaga.

Aku memotret semuanya.

Lalu menaruh kembali dokumen persis seperti semula.

Kupikir itu sudah cukup.

Ternyata belum.

Saat hendak keluar, aku mendengar suara pagar.

Raka dan Bu Mirna pulang bersamaan.

Aku cepat mematikan lampu ruang kerja dan berdiri di balik pintu.

Mereka berhenti di ruang makan.

“Mobil Nadira sudah ada,” kata Bu Mirna.

“Mungkin dia tidur.”

Kemudian Bu Mirna berkata sesuatu yang membuatku tidak bergerak sedikit pun.

“Kamu jangan lengah. Akhir-akhir ini dia mulai sering bertanya soal dokter.”

Raka mendesah.

“Aku tahu.”

“Kalau dia sampai periksa sendiri bagaimana?”

Hening.

Lalu suara suamiku.

“Selama dia masih percaya masalahnya dari panggul, dia tidak akan fokus ke pemeriksaan lain.”

Dunia seperti berhenti.

Bu Mirna menurunkan suara.

“Dulu Ibu sudah bilang jangan pernah kasih lihat hasil pemeriksaanmu.”

“Sudah kusimpan.”

“Delapan tahun aman. Jangan rusak sekarang.”

Aku menggigit bibir begitu keras sampai terasa sakit.

Raka menjawab dingin.

“Kalau dia tahu aku yang bermasalah dari awal, semua keluarga pasti membicarakanku.”

Bu Mirna tertawa kecil.

“Makanya lebih baik orang mengira Nadira yang sulit punya anak.”

Aku menutup mulut dengan tangan.

Air mataku jatuh tanpa suara.

Lalu terdengar satu kalimat lagi.

“Perempuan lebih gampang menerima omongan begitu. Dia juga terlalu percaya sama kamu.”

Aku baru memahami semuanya.

Ritual Jumat malam itu bukan sekadar kebodohan seseorang yang bermain dokter-dokteran.

Itu alat.

Setiap tekanan.

Setiap kata “panggulmu belum benar”.

Setiap jamu.

Setiap larangan memeriksakan diri.

Semua membuatku percaya bahwa tubuhkulah penyebab kami tidak mempunyai anak.

Raka tidak hanya menyembunyikan kondisinya.

Dia menciptakan penyakit di kepalaku agar aku menanggung malu menggantikannya.

Ponselku bergetar.

Pesan dari Lestari.

“Nad, keluar dari rumah kalau situasinya tidak aman.”

Aku menarik napas.

Kemudian berjalan keluar dari ruang kerja.

Raka yang sedang mengambil air langsung membeku.

Bu Mirna menoleh.

Wajah mereka berubah saat melihat map cokelat di tanganku.

Tidak ada yang bicara beberapa detik.

Aku meletakkan map itu di meja.

“Jadi…”

Suaraku ternyata jauh lebih tenang daripada yang kubayangkan.

“Selama delapan tahun kalian tahu?”

Raka pucat.

“Nadira, dengarkan dulu.”

“Aku sudah mendengar semuanya.”

Bu Mirna berdiri.

“Kamu menguping?”

Aku tertawa kecil.

Aneh.

Setelah delapan tahun dibuat merasa bersalah, hal pertama yang masih ingin mereka salahkan adalah caraku mengetahui kebenaran.

Aku menatap Raka.

“Kamu tahu kondisi kamu sebelum kita menikah?”

Dia diam.

“Kamu tahu panggulku tidak pernah didiagnosis bermasalah?”

Masih diam.

“Dan setiap Jumat malam kamu tetap menekan tubuhku sambil mengatakan kalau aku tidak rajin terapi, aku akan semakin sulit punya anak?”

Wajah Raka berubah tegang.

Akhirnya dia membentak.

“Aku melakukan itu supaya rumah tangga kita tetap tenang!”

Aku membeku.

Raka bangkit.

“Kalau dari awal kamu tahu masalahnya ada padaku, apakah kamu tetap mau menikah?”

Aku menatap lelaki yang selama bertahun-tahun kupanggil rumah.

Kemudian Bu Mirna berkata dengan nada datar—

“Kami hanya menjaga harga diri keluarga.”

Dadaku terasa seperti ditikam.

Tetapi kalimat Raka berikutnya jauh lebih buruk.

Dia menunjukku.

“Lagi pula siapa yang akan percaya kamu? Semua orang sudah tahu dari dulu kalau tubuhmu memang bermasalah.”

Aku menatapnya lama.

Lalu perlahan mengeluarkan ponsel dari saku.

Dan melihat ikon rekaman yang masih menyala.

Raka belum tahu satu hal.

Percakapan mereka sejak aku keluar dari ruang kerja tadi telah terekam seluruhnya.

Bagian 3 — Aku Pulang Bukan untuk Menangis tetapi Membawa Bukti dan Malam Itu Suamiku Akhirnya Mengaku Siapa yang Sebenarnya Mereka Korbankan Selama Ini

Raka baru menyadari ponsel di tanganku ketika kulihat matanya bergerak ke layar.

“Apa itu?”

Aku tidak menjawab.

Dia melangkah mendekat.

Aku mundur satu langkah.

“Jangan sentuh aku.”

Mungkin untuk pertama kalinya selama pernikahan kami, Raka benar-benar berhenti ketika aku menyuruhnya berhenti.

Bu Mirna mulai panik.

“Nadira, jangan membesar-besarkan urusan keluarga.”

“Urusan keluarga?”

Aku mengeluarkan hasil pemeriksaan dari tas.

“Tubuhku cedera karena tekanan berulang yang kalian sebut terapi.”

Wajah Raka berubah.

“Aku tidak pernah berniat mencederai kamu.”

“Tapi kamu tahu kamu bukan tenaga medis.”

“Aku cuma mencoba membantu.”

Aku menatapnya.

“Tidak.”

“Kamu mencoba membuatku percaya bahwa aku sakit.”

Raka diam.

“Supaya aku berhenti bertanya kenapa kita belum punya anak.”

Tidak ada jawaban.

“Supaya keluargamu menyalahkanku.”

Bu Mirna buru-buru menyela.

“Kamu jangan seenaknya menuduh!”

Aku membuka foto hasil pemeriksaan Raka di ponsel.

“Ini apa?”

Ruangan langsung sunyi.

Aku membaca tanggalnya.

Enam bulan sebelum pernikahan kami.

Raka menunduk.

Untuk pertama kalinya dia tidak punya alasan.

Aku kemudian mengatakan sesuatu yang selama delapan tahun tidak pernah berani kukatakan.

“Aku tidak marah karena kamu punya masalah kesuburan.”

Raka mengangkat kepala.

“Aku marah karena kamu memilih menghancurkan harga diriku agar harga dirimu sendiri tidak tersentuh.”

Wajahnya perlahan pucat.

Aku melanjutkan.

“Kalau dulu kamu jujur, mungkin kita bisa menghadapi semuanya bersama.”

“Bisa konsultasi.”

“Bisa mencari pilihan lain.”

“Bahkan kalau akhirnya kita tidak punya anak sekalipun, aku tetap bisa menerimanya.”

Air mataku turun.

“Tapi kamu memilih menjadikan tubuhku kambing hitam selama delapan tahun.”

Raka mencoba meraih tanganku.

Aku mundur.

“Jangan.”

Bu Mirna mulai menangis.

“Ibu cuma takut keluarga besar tahu.”

Aku menatapnya.

“Jadi menurut Ibu, lebih baik semua orang menganggap saya perempuan rusak?”

“Itu bukan maksud Ibu…”

“Setiap Lebaran ketika orang bertanya soal anak, Ibu membiarkan saya menunduk.”

Bu Mirna terdiam.

“Setiap ada saudara hamil, Ibu menyindir badan saya.”

Dia mulai menangis lebih keras.

Aku tidak lagi merasa iba.

Pintu depan tiba-tiba diketuk.

Kakakku, Farhan, berdiri di luar bersama Lestari.

Sebelum masuk rumah tadi, aku memang sudah mengirim lokasi kepada mereka.

Raka terlihat terkejut.

“Kamu bawa orang lain?”

“Aku membawa orang yang tidak akan membiarkan kalian membuatku ragu pada kenyataan lagi.”

Malam itu aku keluar dari rumah hanya membawa satu koper.

Tidak ada teriakan dramatis.

Tidak ada piring pecah.

Tidak ada adegan saling menyerang.

Yang ada hanyalah Raka berdiri di ruang tamu ketika perempuan yang selama delapan tahun selalu memercayainya akhirnya pergi tanpa menoleh.

Tiga hari kemudian, keluargaku menerima penjelasan lengkap.

Aku juga menunjukkan pemeriksaan medis dan rekaman percakapan kepada orang tuaku.

Ayahku yang biasanya pendiam duduk hampir setengah jam tanpa bicara.

Kemudian dia hanya berkata—

“Kamu tidak perlu kembali ke sana.”

Aku menangis di pelukannya.

Bukan karena ingin kembali kepada Raka.

Aku menangis karena baru menyadari betapa lama aku hidup meminta maaf atas kesalahan yang tidak pernah kulakukan.

Raka berkali-kali datang.

Pertama membawa bunga.

Kemudian membawa perhiasan.

Terakhir dia menawarkan uang.

“Kalau kamu mau terapi terbaik, aku bayar.”

Aku menatap amplop yang dia letakkan di meja.

“Kamu masih tidak mengerti.”

“Aku tidak membutuhkan uangmu untuk diam.”

Akhirnya aku menempuh proses perceraian dengan bantuan pengacara.

Dokumen medis kusimpan.

Rekaman kusimpan.

Semua bukti kusimpan.

Aku juga menjalani fisioterapi dan rehabilitasi sesuai penanganan tenaga medis, bukan lagi “terapi” buatan seseorang yang menonton beberapa video lalu menjadikan tubuh istrinya sebagai pembenaran atas kebohongannya.

Keluarga besar Raka akhirnya mengetahui kenyataan.

Bukan karena aku menyebarkannya ke media sosial.

Aku hanya mengirim penjelasan kepada orang-orang yang selama bertahun-tahun diberi cerita bahwa akulah penyebab pernikahan kami tidak mempunyai anak.

Reaksi mereka berbeda-beda.

Ada yang meminta maaf.

Ada yang diam karena malu.

Ada pula yang mengaku selama ini hanya percaya pada cerita Bu Mirna.

Yang paling mengejutkanku adalah tante Raka sendiri menelepon.

“Nadira, Tante minta maaf.”

“Dulu kami pikir kamu memang sedang berobat.”

Aku menutup telepon sambil menangis.

Bukan karena sedih.

Melainkan karena satu beban yang kupikul hampir satu dekade akhirnya kembali kepada pemiliknya.

Beberapa bulan kemudian, kondisiku perlahan membaik.

Kesemutan di kaki berkurang.

Aku bisa tidur tanpa takut malam Jumat.

Aku bahkan baru sadar selama bertahun-tahun tubuhku selalu menegang setiap mendekati pukul sembilan pada hari itu.

Sekarang Jumat malam menjadi hari favoritku.

Kadang aku makan bersama Lestari.

Kadang mengunjungi orang tuaku.

Kadang hanya duduk di apartemen kecil yang kusewa sendiri, menonton film sambil makan martabak.

Sederhana.

Namun damai.

Setahun setelah malam itu, perceraian kami akhirnya selesai.

Aku keluar dari gedung dengan langkah pelan.

Raka berdiri beberapa meter dariku.

Dia terlihat lebih kurus.

“Nad.”

Aku berhenti.

“Maaf.”

Aku menatapnya.

Dulu satu kata lembut darinya cukup membuatku mempertanyakan diriku sendiri.

Sekarang tidak lagi.

“Aku menerima bahwa kamu menyesal.”

Matanya sedikit berbinar.

“Tapi itu tidak berarti aku harus kembali.”

Aku berbalik.

“Nadira…”

Aku berhenti sebentar tanpa menoleh.

“Ada sesuatu yang perlu kamu pahami, Raka.”

“Aku tidak meninggalkanmu karena kamu tidak bisa memberiku anak.”

“Aku meninggalkanmu karena selama delapan tahun kamu membuatku percaya bahwa tubuhku cacat supaya kamu tidak perlu menghadapi kenyataan tentang tubuhmu sendiri.”

Setelah itu aku berjalan pergi.

Tidak ada rasa ingin membalas lebih jauh.

Karena ternyata hukuman paling berat bagi Raka bukan kehilangan reputasi.

Bukan kehilangan rumah tangga.

Melainkan mengetahui bahwa perempuan yang paling mudah dia kendalikan selama delapan tahun akhirnya tidak mempercayai satu kata pun darinya.

Hari ini, setiap kali pinggangku terasa pegal setelah bekerja terlalu lama, aku tidak lagi takut.

Aku berdiri.

Melakukan latihan yang benar-benar diajarkan fisioterapis.

Beristirahat.

Dan menjaga tubuhku karena aku mencintainya, bukan karena seseorang membuatku takut bahwa tubuhku rusak.

Delapan tahun lalu, Raka membuatku percaya bunyi “krek” adalah tanda tubuhku kembali ke tempat yang benar.

Ternyata aku salah.

Tidak ada tulang yang perlu dikembalikan.

Yang selama ini keluar dari tempatnya adalah kepercayaanku pada diriku sendiri.

Dan setelah meninggalkan rumah itu, akhirnya aku berhasil mengembalikannya.