Tiga Hari Sebelum Pernikahan, Aku Menemukan Tunanganku Keluar dari Kamar Kakakku—Dan Yang Membuatku Membeku, Ayah Ibu Justru Menyuruhku Tetap Menikah di Depan Semua Kerabat
Bagian 1 — Tiga hari sebelum akad, satu pesan yang salah kirim membuka perselingkuhan lima tahun yang ternyata diketahui hampir seluruh keluargaku sejak awal
Pada ulang tahun kelima putriku, aku membawanya ke sebuah toko kue di Kemang untuk memilih sendiri kue yang ia inginkan.
Salma berlari dari satu etalase ke etalase lain sambil menunjuk semua kue berwarna merah muda.
“Bunda, yang ini ada stroberinya!”
Aku tertawa. “Katanya tadi mau cokelat?”
“Boleh dua?”
Aku baru hendak menjawab ketika seseorang di belakangku menjatuhkan kotak kue.
Bruk!
Suara itu membuat beberapa pelanggan menoleh.
Aku ikut berbalik.
Dan untuk beberapa detik, rasanya seluruh suara di ruangan lenyap.
Di dekat pintu berdiri Ayah, Ibu, dan Dimas.
Lelaki yang hampir menjadi suamiku enam tahun lalu.
Ibu terlihat jauh lebih tua. Ayah mematung dengan wajah pucat. Sementara Dimas menatapku seolah baru saja melihat seseorang yang sudah lama ia kuburkan hidup-hidup.
Matanya kemudian turun kepada Salma yang memeluk kakiku.
“Bunda,” rengek putriku, “angkat.”
Aku menggendongnya.
Ibu menelan ludah sebelum berbisik, “Nadira… dulu kamu tidak suka makanan manis.”
Aku tersenyum kecil.
“Anak saya suka.”
Wajah Dimas berubah.
Tangannya yang tadi membawa kotak kue gemetar.
Ia menatap Salma lama sekali sebelum bertanya dengan suara serak, “Anakmu?”
Aku belum sempat menjawab ketika pintu toko terbuka.
Seorang laki-laki masuk sambil membawa tas hadiah dan boneka kelinci.
Salma langsung berseru riang.
“Ayah!”
Saat itulah wajah Dimas benar-benar kehilangan warna.
Namun kisah ini tidak dimulai di toko kue itu.
Semuanya dimulai enam tahun sebelumnya, tiga hari sebelum aku menikah dengannya.
Namaku Nadira Prameswari.
Saat itu usiaku tiga puluh tahun. Aku dokter IGD di sebuah rumah sakit swasta di Bandung, dan Dimas Pradana adalah dokter spesialis ortopedi yang sudah kukenal sejak masa kuliah.
Kami bersama hampir sembilan tahun.
Kami melewati koas, ujian kompetensi, jadwal jaga brutal, pindah rumah sakit, pertengkaran karena waktu, hingga akhirnya Dimas melamarku.
Aku mencintainya dengan keyakinan bodoh yang hanya dimiliki seseorang yang merasa sudah mengenal pasangannya lebih lama daripada siapa pun.
Tiga hari sebelum akad, hampir semua urusan pernikahan selesai.
Gedung sudah dibayar. Katering siap. Kebaya sudah digantung. Undangan sudah tersebar.
Malam itu Dimas mengatakan harus mengikuti operasi darurat.
Sekitar pukul sebelas, aku sedang memeriksa daftar tamu ketika ponselku berbunyi.
Satu pesan dari Dimas.
“Aku sudah sampai di rumah Ratih. Bilang ke Nadira rapat operasi sampai pagi. Jangan telepon dulu, mobilku parkir di belakang.”
Aku membaca pesan itu tiga kali.
Ratih adalah kakak kandungku.
Empat tahun lebih tua dariku.
Ia sudah bercerai dan memiliki seorang putra berusia tujuh tahun bernama Raka.
Belum sempat aku membalas, pesan itu dihapus.
Lalu Dimas mengirim pesan baru.
“Maaf, salah kirim.”
Hanya empat kata.
Tanganku langsung dingin.
Aku meneleponnya.
Tidak diangkat.
Aku menelepon Ratih.
Tidak diangkat.
Aku akhirnya mengambil kunci mobil.
Rumah Ratih hanya dua puluh menit dari apartemenku.
Aku tidak masuk.
Aku menunggu di dalam mobil sampai pukul empat lewat dua belas menit.
Lalu pintu rumahnya terbuka.
Dimas keluar.
Rambutnya basah.
Kemejanya berbeda dari yang ia kenakan sore tadi.
Dan beberapa detik kemudian Ratih muncul di belakangnya mengenakan cardigan panjang, lalu menarik tangan Dimas sebelum ia pergi.
Dimas berbalik.
Ratih memeluknya.
Bukan pelukan kakak kepada calon adik iparnya.
Dimas mencium keningnya.
Aku tidak menangis.
Aneh sekali.
Aku hanya duduk membeku sambil menggenggam setir.
Setelah mobil Dimas pergi, aku menelepon Ibu.
Pukul empat pagi.
Telepon baru berdering sekali ketika beliau mengangkat.
“Nadira?”
Aku berkata pelan, “Bu, Dimas baru keluar dari rumah Mbak Ratih.”
Hening.
Aku menunggu Ibu terkejut.
Menunggu beliau bertanya apa maksudku.
Namun yang kudengar justru tarikan napas panjang.
“Nadira, pulang dulu.”
Darahku seperti berhenti mengalir.
“Kenapa Ibu tidak kaget?”
“Nanti kita bicarakan.”
“Ibu tahu?”
“Nadira—”
“Ibu tahu?”
Suara Ibu melemah.
“Sudah cukup lama.”
Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan rasa sakit ketika menyadari orang yang kau hubungi untuk mencari perlindungan justru bagian dari rahasia yang menghancurkanmu.
Aku menutup telepon.
Pagi harinya Ayah dan Ibu datang ke apartemen.
Aku duduk berhadapan dengan mereka.
“Mereka sudah berapa lama?”
Ayah diam.
Ibu akhirnya menjawab, “Sekitar lima tahun.”
Lima tahun.
Aku tertawa.
Bukan karena lucu.
Dimas tidur dengan kakakku selama lima tahun sementara setiap ulang tahunku ia membawakan bunga.
Selama lima tahun ia datang makan malam bersama keluargaku.
Selama lima tahun Ibu bertanya kapan kami menikah.
Selama lima tahun Ayah menepuk bahu Dimas dan memanggilnya calon anak lelaki.
Aku bertanya, “Kenapa tidak ada yang memberitahuku?”
Ibu mulai menangis.
“Ratih sudah banyak menderita. Perceraiannya berat. Raka juga masih kecil. Dimas orang pertama yang membuat kakakmu merasa dihargai lagi.”
“Lalu aku?”
Ibu terdiam.
Aku menatap Ayah.
“Ayah?”
Ayah mengusap wajah.
“Keluarga sudah terlanjur mengumumkan pernikahanmu. Kalau sekarang dibatalkan dan beberapa bulan kemudian Dimas bersama Ratih, orang akan bicara macam-macam.”
Aku benar-benar tidak percaya.
“Jadi reputasi Mbak Ratih harus diselamatkan dengan menikahkan Dimas denganku?”
“Nadira, jangan dipelintir.”
“Lalu apa namanya?”
Tidak ada jawaban.
Siang itu Dimas akhirnya datang.
Ia bahkan tidak meminta maaf.
Ia menutup pintu apartemen, meletakkan kunci mobil, lalu berkata, “Kita tetap menikah.”
Aku menatapnya.
“Tidak.”
“Nadira, jangan emosional.”
“Aku melihatmu keluar dari rumah kakakku setelah pukul empat pagi.”
Ia menghela napas seperti aku sedang membesar-besarkan hal kecil.
“Aku memang mencintai Ratih.”
Dadaku sesak.
“Tapi aku juga akan bertanggung jawab menikahimu.”
Aku hampir tertawa.
“Bertanggung jawab?”
Dimas duduk di depanku.
“Ratih janda dengan anak. Kalau aku membatalkan pernikahan kita lalu langsung bersamanya, keluargamu sendiri akan menjadi bahan pembicaraan.”
“Jadi aku ini apa?”
Ia diam.
“Tameng?”
“Nadira—”
“Jawab!”
Wajahnya mengeras.
“Kamu punya hidup yang lebih mudah daripada Ratih. Kariermu bagus. Tidak punya anak yang harus dibesarkan sendiri. Orang selalu memuji kamu. Sekali saja, bisakah kamu berhenti merasa semuanya harus tentang kamu?”
Kalimat itu membuatku kehilangan kata-kata.
Orang yang berselingkuh denganku selama lima tahun kini menuduhku egois karena keberatan dijadikan istri palsu.
Aku berdiri.
“Keluar.”
Dimas tidak bergerak.
“Keluar dari rumahku.”
Ia justru mengeluarkan sebuah amplop putih dari tasnya.
“Baca dulu.”
Aku tidak menyentuhnya.
Dimas meletakkan kertas itu di meja.
Hasil pemeriksaan laboratorium.
Namaku tercetak di bagian atas.
Dan di bawahnya terdapat satu hasil yang membuat tengkukku dingin.
Beta-hCG: positif.
Aku mengangkat kepala perlahan.
Dimas berkata, “Kamu hamil.”
Aku menatap kertas itu sampai huruf-hurufnya berbayang.
Dua minggu sebelumnya aku memang menjalani pemeriksaan kesehatan rutin di klinik tempat salah satu teman Dimas bekerja.
Aku tidak pernah meminta tes kehamilan.
Namun Dimas melanjutkan dengan suara tenang.
“Sekarang kamu mengerti kenapa pernikahan ini tidak mungkin dibatalkan.”
Aku tidak bisa bicara.
Ia berjongkok di depanku.
“Anak ini tidak bersalah.”
Tangannya mencoba menyentuh perutku, tetapi aku mundur.
Dimas tersenyum tipis.
“Kamu mencintaiku sembilan tahun, Nadira. Semua orang tahu itu. Sekarang kamu membawa anakku.”
Aku menggigit bibir begitu keras sampai terasa sakit.
Ia mencondongkan tubuh.
“Kalaupun kamu bisa membuang sembilan tahun hubungan kita, apa kamu tega membuat anakmu lahir tanpa ayah?”
Aku menatapnya.
Untuk pertama kalinya lelaki yang kucintai hampir satu dekade terlihat seperti orang asing.
Kemudian ia mengucapkan kalimat yang tidak pernah bisa kulupakan.
“Lagipula, seorang perempuan hamil tiga hari sebelum pernikahannya tidak punya banyak pilihan.”
Ia mengambil kunci mobil.
Sebelum membuka pintu, Dimas kembali menoleh.
“Oh ya.”
“Jangan bilang Ratih kalau kamu sudah tahu soal kehamilan ini.”
Aku mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Aku tidak mau dia merasa bersalah.”
Pintu tertutup.
Dan saat aku duduk sendirian dengan hasil laboratorium di tangan, aku akhirnya mengerti sesuatu.
Mereka bukan sekadar mengkhianatiku.
Mereka benar-benar yakin aku akan menerima semuanya karena tidak punya keberanian untuk pergi.
Malam itu aku mengambil kertas hasil pemeriksaan tersebut, memasukkannya ke tas, lalu pergi ke rumah sakit lain tanpa memberi tahu siapa pun.
Aku belum tahu bahwa hasil pemeriksaan kedua itulah yang akan menghancurkan semua rencana mereka.
#DramaKeluarga #PengkhianatanCinta #CeritaKehidupan #KisahPerempuan #BelajarMelepaskan
Bagian 2 — Saat mereka yakin kehamilanku akan memaksaku tinggal, aku justru memilih keputusan yang membuat seluruh rencana mereka runtuh dalam semalam tanpa peringatan
Aku meminta pemeriksaan ulang di rumah sakit tempat tidak seorang pun mengenal Dimas ataupun keluargaku.
Tes darah dilakukan dua kali.
Hasilnya sama.
Negatif.
Dokter yang memeriksaku bahkan terlihat bingung ketika kuberikan hasil laboratorium sebelumnya.
“Angkanya terlalu tinggi untuk berubah menjadi negatif secepat ini tanpa gejala apa pun,” katanya. “Apakah Anda yakin sampel pertama benar milik Anda?”
Pertanyaan itu membuat kepalaku berdenging.
Aku pulang dan memeriksa seluruh dokumen.
Nomor rekam medis pada kertas yang diberikan Dimas berbeda satu digit dari nomor milikku.
Aku menelepon laboratorium pertama menggunakan nomor rumah sakit.
Setelah beberapa kali dialihkan, aku akhirnya mengetahui sesuatu yang membuat kemarahanku berubah menjadi ketenangan dingin.
Tidak pernah ada pemeriksaan beta-hCG atas namaku.
Kertas itu palsu.
Dimas memalsukan hasil medis untuk membuatku percaya bahwa aku hamil.
Aku duduk lama sekali di dalam mobil.
Lalu untuk pertama kalinya sejak semuanya terbongkar, aku berhenti menangis.
Kalau mereka ingin memperlakukanku seperti orang bodoh, aku tidak perlu memberi mereka kesempatan kedua.
Sebelum bertunangan, aku pernah mendaftar sebagai dokter untuk program kemanusiaan internasional.
Aku diterima dalam penugasan medis selama satu tahun di Juba, Sudan Selatan.
Aku menolaknya karena tanggal keberangkatan berdekatan dengan pernikahan.
Malam itu aku menghubungi koordinator program.
“Apakah posisi saya sudah diberikan kepada orang lain?”
Ia memeriksa beberapa menit.
“Belum. Tapi tim berangkat dua hari lagi.”
“Aku ikut.”
Keesokan paginya aku bergerak cepat.
Aku membatalkan namaku dari rekening bersama.
Mengambil dokumen pribadi.
Memindahkan barang penting ke rumah sahabatku.
Memberi kuasa kepada pengacara untuk mengurus pembatalan kontrak vendor.
Lalu kukirim salinan hasil pemeriksaan palsu Dimas beserta bukti dari rumah sakit kedua kepada bagian etik rumah sakit tempat ia bekerja.
Aku tidak menuduh berlebihan.
Aku hanya menyerahkan fakta.
Sore itu Dimas datang menggedor pintu.
“Nadira!”
Aku tidak membukanya.
Ponselku dipenuhi pesan Ibu.
“Jangan mempermalukan keluarga.”
“Besok keluarga besar datang.”
“Pikirkan Ayah.”
Kemudian Ratih menelepon.
Aku mengangkatnya.
Suara kakakku bergetar.
“Nadira, aku minta maaf.”
Aku diam.
“Aku tidak pernah berniat merebut hidupmu.”
“Lima tahun, Mbak.”
Ratih menangis.
“Aku mencoba berhenti.”
“Lima tahun bukan mencoba berhenti.”
Ia tidak bisa menjawab.
Aku berkata pelan, “Kalau kalian saling mencintai, silakan bersama.”
“Nadira…”
“Tapi jangan jadikan aku istri Dimas hanya supaya hubungan kalian terlihat terhormat.”
Aku menutup telepon.
Malam sebelum aku berangkat, Ayah akhirnya datang.
Beliau berdiri di lorong apartemen dengan mata merah.
“Kalau kamu pergi sekarang, pernikahan batal.”
“Memang.”
“Nama keluarga kita akan jadi bahan omongan.”
Aku mengangguk.
“Itu masalah yang Ayah pilih ketika ikut berbohong kepada saya.”
Ayah menatapku lama.
Lalu mengatakan sesuatu yang ternyata menjadi kalimat terakhirnya kepadaku selama bertahun-tahun.
“Kalau kamu keluar dari keluarga ini hanya karena masalah seperti ini, jangan pulang.”
Aku mengambil koper.
“Baik, Yah.”
Aku melewatinya.
Di bandara, aku mengganti nomor telepon.
Aku menghapus semua akun yang terhubung dengan Dimas.
Aku tidak datang ke gedung pernikahan.
Aku tidak menulis penjelasan panjang di media sosial.
Aku pergi.
Beberapa bulan pertama di Juba tidak mudah.
Panas, debu, suara generator, obat yang terbatas, pasien yang datang dengan kondisi berat, dan malam-malam ketika aku hanya tidur tiga jam.
Namun setiap kali aku merasa hidupku hancur, aku melihat seorang ibu menggenggam tangan anaknya yang baru selamat dari infeksi berat.
Masalahku perlahan berubah ukuran.
Bukan menghilang.
Hanya tidak lagi menguasai seluruh hidupku.
Aku memperpanjang kontrak.
Setelah Sudan Selatan, aku mengikuti pelatihan trauma di Nairobi.
Di sanalah aku bertemu Arga Mahendra, dokter anestesi dari Surabaya.
Ia tidak pernah memaksaku bercerita.
Tidak pernah mencoba “menyelamatkanku”.
Ia hanya hadir.
Membawakan kopi ketika aku jaga malam.
Mengingatkanku makan.
Mendengarkan tanpa menyela ketika akhirnya aku menceritakan semuanya.
Dua tahun kemudian kami menikah sederhana di Yogyakarta.
Setahun setelahnya, Salma lahir.
Aku tidak pernah mencari kabar tentang Dimas.
Tidak sampai ulang tahun Salma yang kelima.
Kami pulang ke Jakarta untuk mengunjungi keluarga Arga.
Dan di toko kue itulah masa lalu tiba-tiba berdiri di hadapanku.
Ayah.
Ibu.
Dimas.
Kemudian Arga masuk.
Salma mengulurkan kedua tangannya.
“Ayah!”
Arga mencium pipinya, lalu berdiri di sampingku.
Dimas menatap cincin di jari kami.
Rahangnya menegang.
“Suamimu?”
“Ya.”
Matanya kembali kepada Salma.
Wajahnya tiba-tiba aneh.
Ia menghitung sesuatu dalam pikirannya.
Lalu bertanya pelan, “Umurnya berapa?”
“Lima.”
Dimas menatapku seolah dunia baru saja runtuh.
Dan kalimat berikutnya membuat seluruh toko mendadak sunyi.
“Kalau begitu… setelah meninggalkanku, kamu benar-benar menikah dengan orang lain dan punya anak?”
Bagian 3 — Lima tahun kemudian, di toko kue Jakarta, mereka melihat putriku memanggil lelaki lain Ayah dan semua penyesalan akhirnya terlambat untuk diperbaiki
Aku memandang Dimas beberapa detik.
Pertanyaannya begitu aneh sampai aku hampir tertawa.
“Memangnya menurutmu aku harus melakukan apa?”
Dimas membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.
“Menantimu?”
Wajahnya menegang.
Ibu maju satu langkah.
“Nadira, kita bicara baik-baik saja. Sudah lama sekali.”
Aku menatap perempuan yang melahirkanku.
“Enam tahun.”
Mata Ibu berkaca-kaca.
“Ibu tahu.”
“Bagus.”
Aku berbalik kepada Salma.
“Pilih kuenya dulu, Sayang.”
Namun Dimas tiba-tiba berkata, “Aku dan Ratih sudah tidak bersama.”
Tanganku berhenti.
Bukan karena sakit.
Hanya karena aku tidak menyangka ia merasa informasi itu masih penting bagiku.
Arga tetap berdiri tenang di sampingku.
Dimas melanjutkan, “Kami menikah setahun setelah kamu pergi.”
Tentu saja.
Setidaknya bagian itu sesuai dengan apa yang mereka inginkan.
“Tapi cuma bertahan dua tahun.”
Aku tidak bertanya alasannya.
Ibu justru menjelaskan.
“Mereka sering bertengkar.”
Ayah menunduk.
Dimas tertawa pahit.
“Ratih selalu curiga aku akan melakukan kepadanya apa yang dulu kulakukan kepadamu.”
Ironis.
Namun bukan sesuatu yang membuatku bahagia.
Hubungan yang dibangun dari kebohongan ternyata tidak memberi mereka rasa aman.
Dimas kemudian kehilangan posisinya di rumah sakit lama setelah komite etik menemukan bahwa hasil laboratorium palsu yang kubawa bukan satu-satunya pelanggaran administrasi yang pernah ia lakukan.
Lisensinya tidak dicabut permanen, tetapi ia mendapat sanksi dan harus pindah rumah sakit.
Ratih akhirnya menggugat cerai setelah mengetahui Dimas kembali berhubungan dekat dengan seorang rekan kerja.
Aku hanya mendengarkan.
Dulu mungkin cerita itu akan terasa seperti kemenangan.
Sekarang rasanya hanya seperti membaca berita tentang orang asing.
Dimas menatapku.
“Aku mencari kamu.”
“Aku tahu nomor teleponmu sudah mati. Teman-temanmu tidak memberi tahu apa-apa.”
“Karena aku meminta begitu.”
“Aku menyesal, Nadira.”
Aku mengangguk pelan.
“Mudah-mudahan penyesalan itu membuatmu memperlakukan orang berikutnya dengan lebih baik.”
Wajahnya berubah.
“Kamu benar-benar tidak merasakan apa-apa?”
Aku melihat lelaki yang pernah membuatku yakin aku tak akan mencintai siapa pun lagi.
Ternyata waktu tidak menghapus ingatan.
Waktu hanya mengubah tempat ingatan itu berada.
Dulu Dimas tinggal di pusat hidupku.
Sekarang ia hanya seseorang dari masa lalu.
“Aku merasakan sesuatu,” kataku.
Matanya langsung terangkat.
“Aku bersyukur aku pergi.”
Dimas memejamkan mata.
Ibu mulai menangis.
“Nadira, maafkan Ibu.”
Aku menatapnya.
“Ibu sudah kehilangan banyak waktu dengan kamu.”
Aku menahan napas.
Dulu, mendengar Ibu menangis mungkin cukup untuk membuatku membatalkan semua batas yang kubangun.
Tapi aku bukan Nadira yang dulu.
“Memaafkan dan kembali seperti dulu adalah dua hal berbeda, Bu.”
Ibu terdiam.
“Aku tidak ingin membenci siapa pun. Aku sudah terlalu bahagia untuk menghabiskan energi membenci kalian.”
Air matanya jatuh.
“Tapi saya juga tidak akan berpura-pura semua yang terjadi tidak pernah ada.”
Ayah akhirnya berbicara.
“Ayah salah.”
Hanya tiga kata.
Enam tahun terlambat.
Namun setidaknya untuk pertama kali tidak ada alasan tentang nama keluarga, tetangga, Ratih, atau omongan orang.
Aku mengangguk.
“Ya.”
Ayah menunduk.
Salma yang sejak tadi tidak memahami pembicaraan orang dewasa menarik bajuku.
“Bunda, kuenya nanti habis.”
Aku tertawa kecil.
“Baik.”
Aku berbalik.
Dimas memanggil lagi.
“Nadira.”
Aku berhenti.
Ia menatap Arga, lalu Salma, kemudian kembali kepadaku.
“Waktu itu… kalau aku memilihmu, apa kita masih mungkin seperti ini?”
Aku memandangnya lama.
“Bukan karena kamu tidak memilihku.”
Ia mengerutkan kening.
“Kita berakhir karena kamu memilih berbohong.”
Aku melanjutkan, “Kalau waktu itu kamu datang dan berkata kamu mencintai Mbak Ratih, tentu aku hancur. Tapi suatu hari aku mungkin bisa menghormatimu karena jujur.”
“Yang kalian lakukan berbeda.”
“Kalian memutuskan bahwa hidupku boleh dikorbankan selama semua orang lain merasa nyaman.”
Tidak seorang pun membantah.
Aku menatap Dimas untuk terakhir kali.
“Jangan sesali karena aku menikah dengan orang lain.”
“Sesali karena ketika aku masih mencintaimu sepenuh hati, kamu menganggap cinta itu kelemahan yang bisa kamu manfaatkan.”
Dimas menunduk.
Kali ini aku benar-benar pergi.
Tidak dramatis.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada tamparan.
Tidak ada kebutuhan untuk melihatnya menderita lebih lama.
Aku menggandeng Salma menuju kasir.
Arga berjalan di sampingku.
Setelah membayar, Salma mendesak agar kami langsung membuka kotak kuenya.
Arga tertawa.
“Di mobil saja.”
“Sekarang!”
“Tidak.”
Salma memonyongkan bibir.
Aku tertawa melihat mereka berdebat.
Sebelum keluar toko, aku sempat melihat pantulan diriku di kaca.
Enam tahun lalu aku meninggalkan Indonesia dengan sebuah koper, cincin pertunangan di saku, dan keyakinan bahwa mungkin tidak ada seorang pun yang akan benar-benar memilihku.
Sekarang seorang anak menggenggam tangan kiriku.
Seorang lelaki menggenggam tangan kananku.
Dan hal yang paling penting akhirnya kupahami:
Aku tidak diselamatkan karena Arga datang.
Aku selamat sejak hari aku berani pergi.
Beberapa bulan setelah pertemuan itu, Ibu mulai mengirim pesan sesekali.
Tidak memaksa.
Tidak meminta aku melupakan masa lalu.
Hubungan kami tidak pernah kembali seperti dahulu, tetapi perlahan kami membangun sesuatu yang baru dengan batas yang kutentukan sendiri.
Ayah datang ke Yogyakarta setahun kemudian.
Ia meminta maaf kepada Arga karena dulu hampir menghancurkan keyakinanku terhadap keluarga.
Aku menerima permintaan maafnya.
Bukan untuk menghapus masa lalu.
Melainkan karena aku tidak ingin membawa luka itu sampai tua.
Tentang Ratih, kami akhirnya berbicara melalui telepon.
Ia menangis dan meminta maaf tanpa alasan tambahan.
Aku berkata aku sudah memaafkannya, tetapi kami mungkin tidak akan pernah menjadi kakak-adik sedekat dulu.
Ratih menerimanya.
Sedangkan Dimas tidak pernah menghubungiku lagi.
Dan itu jauh lebih baik.
Pada ulang tahun Salma berikutnya, ia meminta kue stroberi yang sama.
Saat kami meniup lilin bersama, Arga berbisik di telingaku, “Apa permintaanmu tahun ini?”
Aku memandang putriku yang tertawa karena krim menempel di hidungnya.
Lalu aku tersenyum.
“Tidak ada.”
Arga tertawa. “Serius?”
Aku mengangguk.
“Semua yang dulu kupikir hilang ternyata cuma membuka jalan untuk hidup yang seharusnya.”
Enam tahun lalu, seluruh keluargaku yakin aku tidak punya pilihan.
Mereka salah.
Aku punya pilihan.
Aku hanya membutuhkan keberanian untuk mengambilnya.

