Saat keluarga suaminya sibuk memilih rumah mewah di Bandung, Nabila baru sadar namanya tak dianggap, tetapi tabungannya justru dihitung sebagai uang muka untuk rumah mertuanya sendiri

Avatar penulis
Cerita 03
17 menit baca 465 tayangan
Auto Draft
Indeks

Saat keluarga suaminya sibuk memilih rumah mewah di Bandung, Nabila baru sadar namanya tak dianggap, tetapi tabungannya justru dihitung sebagai uang muka untuk rumah mertuanya sendiri

Bagian 1 — Sebuah Kunjungan Rumah yang Terlihat Biasa Berubah Menjadi Rencana Licik Ketika Mertua Mulai Membagi Kamar, Nama, dan Utang Mereka Sepihak

Jumat malam, Nabila baru saja meletakkan laptop di meja makan ketika ponselnya bergetar.

Nama yang muncul di layar membuat tangannya berhenti.

Ibu Ratna.

Ibu mertuanya.

“Nabila, besok jam sembilan jangan ada acara. Kamu sama Arga ikut Mama lihat rumah.”

Tidak ada salam.

Tidak ada pertanyaan apakah mereka punya rencana lain.

Nada suara Ratna terdengar seperti seseorang yang sedang memberi tahu keputusan yang sudah dibuat.

“Lihat rumah, Ma?”

“Iya. Rumah di Kota Baru Parahyangan. Mama sudah dua kali ke sana. Besok kalian ikut, sekalian lihat kamar kalian.”

Nabila belum sempat menjawab ketika suaminya, Arga, keluar dari kamar sambil membawa segelas air.

Melihat ekspresi istrinya, Arga langsung paham.

“Mama?”

Nabila mengangguk lalu menyalakan pengeras suara.

Arga duduk.

“Ma, memangnya kenapa tiba-tiba mau beli rumah?”

“Bukan tiba-tiba. Mama dan Papa sudah lama pikirkan. Rumah sekarang makin sempit. Kakakmu kalau pulang bawa anak-anak, tidur saja susah. Kalian juga nanti punya anak. Lebih baik beli rumah besar, tinggal dekat-dekat. Keluarga itu harus saling membantu.”

Kalimat terakhir membuat Nabila diam.

Selama empat tahun menikah, dia sudah hafal arti “keluarga harus saling membantu” versi Ratna.

Ketika kakak iparnya perlu modal usaha, Arga diminta ikut membantu.

Ketika mobil ayah mertuanya harus diperbaiki, Arga yang diminta menalangi.

Ketika keluarga besar mengadakan acara di Garut, Nabila diminta membayar penginapan karena menurut Ratna, “kalian berdua kan belum punya anak, pengeluarannya lebih sedikit.”

Aneh sekali.

Setiap kali bicara tentang kewajiban, mereka dianggap satu keluarga.

Tetapi setiap kali bicara soal hak, Nabila selalu menjadi “orang luar”.

“Besok kami datang, Ma,” jawab Nabila akhirnya.

Setelah telepon ditutup, Arga menatap istrinya.

“Kalau kamu nggak nyaman, aku bisa bilang kita nggak jadi ikut.”

Nabila menggeleng.

“Justru aku mau ikut.”

Ada sesuatu dalam cara Ratna mengatakan “kamar kalian” yang membuat perasaannya tidak tenang.

Sabtu pagi mereka berkendara menuju sebuah kompleks baru di Padalarang.

Ratna dan suaminya, Pak Hendra, sudah menunggu bersama seorang agen properti bernama Fikri.

Ratna tampil sangat rapi dengan blouse krem, tas kulit baru, dan kacamata hitam besar.

Begitu Nabila turun dari mobil, Ratna melihat jam tangan.

“Jam sembilan lewat tujuh menit.”

Nabila hanya tersenyum tipis.

Fikri segera membawa mereka menuju sebuah rumah dua setengah lantai di sudut kompleks.

Bangunannya memang menarik.

Fasad putih dengan aksen batu alam, halaman depan cukup untuk dua mobil, ruang tamu memiliki jendela tinggi, sedangkan bagian belakang menghadap taman kecil.

“Luas tanah seratus delapan puluh meter, bangunan dua ratus dua puluh meter,” jelas Fikri.

Ratna terlihat sangat puas.

Begitu masuk, dia langsung menunjuk kamar di lantai bawah.

“Ini kamar Mama dan Papa. Kalau sudah tua, nggak perlu naik tangga.”

Kemudian dia naik ke lantai dua.

“Kamar depan ini buat Arga dan Nabila.”

Nabila mengamati ruangan itu.

Cukup besar.

Ada balkon kecil dan kamar mandi dalam.

“Yang sebelah nanti buat anak kalian.”

Ratna membuka pintu kamar kedua.

Nabila melirik Arga.

Mereka bahkan belum pernah membicarakan kapan ingin punya anak.

Tapi Ratna sudah memilihkan kamar.

Di lantai paling atas ada ruang keluarga kecil dan satu kamar tambahan.

“Ini buat Rendy kalau pulang.”

Rendy adalah kakak Arga yang sudah menikah dan memiliki rumah sendiri di Cimahi.

Nabila akhirnya bertanya, “Kalau Kak Rendy cuma datang sesekali, kenapa harus disediakan satu kamar khusus?”

Ratna langsung menoleh.

“Namanya juga anak Mama.”

Jawabannya singkat.

Tetapi cukup jelas.

Nabila memilih diam.

Mereka turun lagi.

Fikri lalu membuka pembicaraan mengenai harga.

“Harga terakhir dari pemilik Rp4,85 miliar. Karena beliau pindah ke Surabaya, kemungkinan masih bisa turun sedikit kalau serius.”

Arga hampir tersedak air mineral.

“Empat koma delapan?”

Ratna justru tampak tenang.

“Kalau DP tiga puluh persen berapa?”

“Sekitar Rp1,45 miliar.”

Arga langsung menatap ibunya.

“Ma, itu besar sekali.”

“Mama tahu.”

“Kita mana punya uang segitu?”

Ratna tertawa kecil.

“Siapa bilang kamu harus bayar semuanya?”

Nabila sedikit lega.

Namun hanya beberapa detik.

Ratna membuka tasnya lalu mengeluarkan sebuah map biru.

“Mama sama Papa sudah hitung.”

Dia meletakkan selembar kertas di meja ruang tamu.

Ada tabel yang dibuat rapi.

Di bagian paling atas tertulis:

Rencana Pembelian Rumah Keluarga.

Pak Hendra: Rp550 juta.

Ratna: Rp400 juta.

Arga & Nabila: Rp500 juta.

Rendy: Rp50 juta.

Nabila membaca angka itu dua kali.

“Ma…”

Ratna menunjuk kertas.

“Kalian tinggal tambah lima ratus juta. Sisanya biaya notaris dan administrasi nanti kita atur.”

Arga mengerutkan kening.

“Kenapa kami lima ratus juta, tapi Mas Rendy cuma lima puluh juta?”

Ratna menjawab seolah pertanyaan itu aneh.

“Kakakmu punya dua anak. Pengeluarannya besar.”

Nabila menahan napas.

Dia sudah menduga akan ada sesuatu.

Tetapi belum selesai.

Fikri mengambil beberapa lembar simulasi KPR.

“Untuk sisa pembiayaan, kemungkinan paling aman menggunakan penghasilan Pak Arga karena masa kerja dan riwayat kreditnya bagus.”

Arga menatap agen itu.

“Apa?”

Ratna buru-buru menyela.

“Cuma formalitas.”

Nabila mulai merasakan tengkuknya panas.

“Formalitas bagaimana, Ma?”

“Kreditnya atas nama Arga.”

Ratna mengatakannya begitu ringan.

“Cicilan kurang lebih tiga puluh jutaan per bulan. Nanti semua tinggal patungan.”

Nabila memandang tabel lagi.

Aneh.

Tidak ada pembagian cicilan tertulis.

Dia mengangkat kepala.

“Rumahnya nanti atas nama siapa?”

Ruangan mendadak sunyi.

Fikri pura-pura melihat dokumen.

Pak Hendra memalingkan wajah ke halaman.

Arga menatap ibunya.

Ratna masih tersenyum.

“Atas nama Mama.”

Nabila hampir mengira salah dengar.

“Maaf?”

“Atas nama Mama. Supaya jelas rumah keluarga ini milik orang tua. Nanti kalau Mama dan Papa sudah nggak ada, baru dibicarakan pembagiannya.”

Nabila menatap Arga.

Wajah suaminya berubah.

“Jadi DP kami lima ratus juta, KPR atas nama aku, tapi sertifikat rumah atas nama Mama?”

Ratna langsung memasang wajah tidak senang.

“Kok hitung-hitungan sama orang tua?”

“Itu bukan hitung-hitungan, Ma,” jawab Arga. “Itu utang miliaran.”

Ratna meletakkan tangannya di meja lebih keras.

“Makanya dari kecil Mama bilang, anak laki-laki itu nanti harus bertanggung jawab pada keluarga.”

Nabila masih diam.

Justru diamnya membuat Ratna mulai kesal.

“Kamu kenapa diam saja, Bila?”

Nabila tersenyum kecil.

“Saya sedang mendengarkan.”

“Apa yang perlu didengarkan lagi? Kalian juga tinggal di sini nanti.”

“Kalau suatu hari kami pindah?”

Ratna tertawa pendek.

“Mau pindah ke mana lagi kalau sudah punya rumah sebesar ini?”

“Kalau terjadi sesuatu dengan pernikahan kami?”

Arga langsung menoleh padanya.

Ratna tampak tersinggung.

“Jangan ngomong yang aneh-aneh. Baru juga rumah mau dibeli sudah bicara cerai.”

“Saya cuma bertanya soal kepemilikan.”

“Rumah keluarga tidak perlu dibicarakan seperti transaksi bisnis.”

Nabila mengangguk.

“Baik.”

Hanya itu.

Dalam perjalanan pulang Arga terus meminta maaf.

“Aku benar-benar nggak tahu soal kredit.”

Nabila menatap jalan.

“Aku percaya.”

“Aku juga nggak setuju sertifikatnya atas nama Mama.”

“Aku tahu.”

Arga menggenggam tangannya.

“Kita nggak usah ikut.”

Nabila belum menjawab.

Karena menurutnya masalah selesai selama mereka tidak menandatangani apa pun.

Ternyata dia salah.

Empat hari kemudian, Selasa siang, Nabila sedang rapat ketika sebuah pesan WhatsApp masuk dari Ratna.

Sebuah foto kuitansi.

Di bawahnya ada tulisan:

TANDA JADI UNIT BLOK C-17 — Rp100.000.000.

Pesan berikutnya muncul.

Mama sudah amankan rumahnya.

Lalu sebuah file PDF.

Pembagian Dana Keluarga — FINAL.

Nabila membukanya.

Namanya dan Arga tetap tercantum sebesar Rp500 juta.

Tetapi sekarang ada catatan baru di bawahnya.

Batas transfer: Jumat, pukul 15.00.

Nabila membaca pesan selanjutnya.

“Karena Mama sudah bayar tanda jadi, kalian jangan berubah pikiran. Kalau batal, seratus juta Mama hangus. Mama tidak mau dengar alasan lagi.”

Malamnya Ratna bahkan menelepon Arga hampir satu jam.

Dia menangis.

Dia mengatakan Arga anak durhaka.

Dia mengatakan Nabila terlalu perhitungan.

Dia mengatakan menantunya sengaja menjauhkan anak laki-lakinya dari keluarga.

Arga sampai terlihat pucat.

Tetapi kejutan terbesar datang dua hari kemudian.

Kamis sore, Nabila menerima pesan dari Fikri.

“Bu Nabila, mohon konfirmasi, besok Bapak Arga jadi datang untuk tanda tangan dokumen pengajuan kredit, ya?”

Nabila langsung menelepon.

“Pak Fikri, siapa yang bilang suami saya akan datang?”

Fikri terdengar bingung.

“Bu Ratna.”

“Suami saya belum pernah setuju.”

Hening.

Kemudian suara Fikri berubah hati-hati.

“Bukannya formulir awal sudah dikirim?”

“Formulir apa?”

Beberapa detik kemudian sebuah foto masuk ke WhatsApp Nabila.

Dia memperbesarnya.

Fotokopi KTP Arga.

Slip gaji Arga.

Nomor NPWP Arga.

Dan sebuah formulir pengajuan pembiayaan yang sudah terisi.

Nabila merasakan darahnya seperti turun ke kaki.

Dia langsung menelepon suaminya.

“Arga.”

“Ada apa?”

“Kamu pernah kasih Mama slip gaji terbaru?”

“Enggak.”

“Fotokopi NPWP?”

“Kayaknya dulu pernah buat urusan asuransi Papa.”

Nabila menatap satu bagian formulir.

Pada kolom kontak pasangan tertulis namanya.

Namun nomor telepon yang dicantumkan bukan miliknya.

Itu nomor Ratna.

Lebih parah lagi, pada kolom tanda tangan pemohon…

sudah ada sebuah tanda tangan yang dibuat menyerupai tanda tangan Arga.

Malam itu Nabila mencetak seluruh dokumen.

Lalu dia meletakkannya di depan suaminya.

Wajah Arga langsung kehilangan warna.

“Aku nggak pernah tanda tangan ini.”

Nabila menatapnya lama.

Besok adalah batas transfer Rp500 juta.

Dan ternyata, tanpa sepengetahuan mereka, seseorang bukan hanya sudah mengatur uang mereka.

Seseorang sudah mulai mencoba menggunakan identitas Arga untuk menciptakan utang miliaran rupiah.

#DramaKeluarga #CeritaRumahTangga #KonflikMertua #KisahIndonesia #CeritaViral

Bagian 2 — Nabila Mengira Ia Hanya Perlu Menolak, Sampai Sebuah Bukti Transfer Membongkar Rencana yang Sudah Disusun Tanpa Persetujuan Mereka Sejak Awal

Jumat pagi, tepat pukul sembilan, Nabila dan Arga datang ke rumah Ratna.

Nabila membawa map cokelat.

Ratna membuka pintu dengan wajah dingin.

“Kalian akhirnya datang juga. Mama kira cuma bisa diam di WhatsApp.”

Di ruang tamu sudah ada Pak Hendra dan Rendy.

Yang membuat Nabila terkejut, istri Rendy, Maya, juga duduk di sana.

Di atas meja tersedia teh, kue, dan kalkulator.

Seolah mereka hendak melakukan rapat perusahaan.

Ratna langsung bertanya, “Uangnya sudah siap?”

Nabila duduk.

“Belum.”

Ekspresi Ratna berubah.

“Belum atau tidak mau?”

“Tidak akan kami transfer.”

Ratna berdiri.

“Bila!”

Nabila tetap tenang.

“Rumah atas nama Mama. Kredit atas nama Arga. Kami harus menyerahkan Rp500 juta. Itu bukan membeli rumah bersama. Itu meminta kami membiayai aset milik Mama.”

Ratna menunjuk wajah Nabila.

“Sejak kamu masuk keluarga ini, kamu selalu bicara soal milik siapa, uang siapa!”

Nabila membuka map.

“Karena ternyata memang harus dibicarakan.”

Dia mengeluarkan formulir pengajuan kredit.

Arga meletakkannya di meja.

“Siapa yang tanda tangan ini, Ma?”

Wajah Ratna berubah sesaat.

Hanya sesaat.

Kemudian dia berkata, “Mama cuma bantu isi.”

“Aku tanya siapa yang tanda tangan?”

“Jangan membesar-besarkan.”

Arga menepuk meja.

“Itu tanda tangan aku!”

Pak Hendra akhirnya berbicara.

“Mamamu cuma takut unitnya keburu diambil orang.”

“Jadi boleh pakai tanda tangan orang lain?”

Suasana langsung memanas.

Namun justru Rendy yang tiba-tiba berkata, “Sudahlah, Ga. Kalau memang nanti rumah itu buat keluarga, kenapa ribut?”

Nabila menoleh.

“Kalau begitu kenapa Mas Rendy cuma bayar Rp50 juta?”

Rendy diam.

Maya menundukkan kepala.

Ratna buru-buru menjawab, “Sudah dijelaskan, mereka punya anak dua.”

“Tapi dapat satu kamar tetap?”

“Itu rumah Mama! Mama bebas menentukan!”

Nabila mengangguk pelan.

“Bagus. Berarti jelas.”

Dia mendorong lembar pembagian dana ke arah Ratna.

“Kalau rumah Mama, Mama yang beli.”

Ratna menatapnya seperti tidak percaya.

“Rp500 juta ini, kami tidak bayar.”

Ratna langsung menangis.

Bukan pelan.

Dia menepuk dadanya sambil berkata kepada Arga bahwa anak yang dia besarkan tiga puluh tahun kini berubah setelah menikah.

Pak Hendra meminta Arga “mengalah sedikit”.

Rendy ikut menuduh Nabila membuat suasana keluarga rusak.

Tetapi Nabila tidak membalas satu pun.

Dia hanya berdiri.

Sebelum pergi, dia berkata kepada Ratna,

“Dan soal formulir ini, kami sudah memberi tahu pihak bank bahwa Arga tidak pernah menandatanganinya.”

Tangis Ratna berhenti.

Seketika.

Untuk pertama kalinya pagi itu, wajahnya benar-benar panik.

“Kamu lapor bank?”

“Ya.”

“Kenapa perlu sejauh itu?”

“Karena utangnya juga sejauh itu, Ma.”

Nabila dan Arga pulang.

Mereka mengira masalah akan berakhir di sana.

Namun sore harinya, Maya menelepon Nabila diam-diam.

Suaranya gemetar.

“Mbak… aku mau kasih tahu sesuatu. Tapi jangan bilang Mas Rendy aku yang ngomong.”

“Ada apa?”

“Mama sebenarnya nggak punya Rp400 juta.”

Nabila terdiam.

“Maksudmu?”

“Uang tanda jadi seratus juta itu juga bukan semuanya uang Mama.”

Maya kemudian mengirim bukti transfer.

Nabila membuka gambar itu.

Pengirim dana Rp75 juta ternyata bukan Ratna.

Melainkan Rendy Pratama.

“Mbak, Mas Rendy pinjam dari tabungan sekolah anak,” bisik Maya. “Mama bilang cuma sebentar. Katanya begitu Nabila sama Arga transfer lima ratus juta, uang itu langsung diganti.”

Nabila merasakan dadanya sesak.

Jadi uang mereka bukan sekadar dibutuhkan untuk DP.

Uang mereka sudah dihitung untuk menutup lubang yang dibuat sebelumnya.

Maya kembali mengirim sebuah foto.

Foto buku catatan Ratna.

Ada beberapa baris angka.

Rp100 juta tanda jadi.

Rp25 juta Ratna.

Rp75 juta Rendy.

Rp500 juta Arga.

Rp250 juta pinjaman koperasi Pak Hendra.

Di bawahnya tertulis:

Setelah uang Arga masuk:

Kembalikan Rendy 75 juta.

Lunasi koperasi 120 juta.

Sisa untuk DP.

Nabila membaca catatan itu berkali-kali.

Jadi uang Rp500 juta dari dirinya dan Arga sebenarnya akan dipakai juga untuk membayar utang keluarga.

Yang lebih menyakitkan, malam itu Arga menemukan sesuatu yang jauh lebih buruk.

Dia memeriksa mutasi rekening lama yang masih terhubung dengan nomor teleponnya.

Tiga tahun sebelumnya, ketika mereka baru menikah, Arga pernah menyerahkan Rp120 juta kepada ibunya untuk “disimpan sementara” karena dia dan Nabila sedang mencari deposito terbaik.

Ratna kemudian berkata uang itu sudah digunakan membantu biaya operasi Pak Hendra dan akan dikembalikan bertahap.

Arga tidak pernah menagih.

Namun dalam catatan yang dikirim Maya, ada satu baris lama:

Dana Arga lama: 120 jt — dianggap bagian keluarga. Tidak perlu dikembalikan.

Arga menatap layar hampir satu menit.

“Jadi dari awal Mama memang nggak pernah berniat mengembalikan.”

Nabila melihat mata suaminya memerah.

Untuk pertama kalinya, masalah ini bukan lagi tentang dirinya melawan mertua.

Arga akhirnya melihat semuanya sendiri.

Malam itu mereka memutuskan satu hal.

Tidak ada uang lagi.

Tidak ada fotokopi dokumen lagi.

Tidak ada pinjaman atas nama mereka.

Mereka juga meminta Fikri menghentikan seluruh proses yang menggunakan data Arga.

Namun keesokan paginya Ratna mengirim pesan ke grup keluarga besar.

Isinya panjang.

Dia menuduh Nabila menghalangi seorang anak berbakti membahagiakan orang tuanya.

Beberapa tante mulai ikut berkomentar.

Ada yang menyebut Nabila pelit.

Ada yang berkata perempuan yang terlalu menguasai uang suami akan menghancurkan rumah tangga.

Nabila tidak membalas.

Sampai sebuah pesan dari Ratna muncul paling bawah.

“Kalau sampai rumah ini gagal dibeli gara-gara kalian, Mama akan datang sendiri mengambil hak Mama dari apartemen yang kalian tempati sekarang.”

Nabila membaca kalimat itu sekali.

Lalu dua kali.

Apartemen yang mereka tempati bukan milik Ratna.

Bukan pula milik Arga.

Apartemen itu dibeli Nabila dua tahun sebelum menikah, dengan uang muka dari tabungannya sendiri dan cicilan yang sudah dia lunasi.

Dia menatap Arga.

“Kenapa Mama bilang apartemen ini haknya?”

Arga terlihat bingung.

Lalu ponselnya berdering.

Maya kembali menelepon.

Kali ini dia hanya mengatakan satu kalimat:

“Mbak Nabila… Mama tadi bawa seorang agen ke apartemen kalian.”

Bagian 3 — Ketika Semua Tanda Tangan Akhirnya Diperiksa, Orang yang Paling Yakin Akan Menguasai Rumah Justru Kehilangan Uang dan Kendali Sekaligus Hari Itu

Nabila dan Arga tiba di apartemen kurang dari empat puluh menit kemudian.

Ratna benar-benar ada di sana.

Dia berdiri di lobi bersama seorang pria membawa tablet dan brosur properti.

Begitu melihat Nabila, Ratna malah berkata,

“Nah, kebetulan kamu pulang.”

Nabila memandang pria itu.

“Bapak siapa?”

“Saya Dimas, agen properti. Ibu Ratna bilang unit ini kemungkinan mau dijual.”

Nabila tertawa kecil karena terlalu terkejut untuk marah.

“Unit siapa yang mau dijual?”

Dimas memandang Ratna.

Ratna menjawab cepat.

“Ini kan rumah kalian. Kalau dijual, hasilnya bisa dipakai untuk rumah yang lebih besar.”

Nabila menatap ibu mertuanya.

“Ma, sertifikat apartemen ini atas nama saya.”

“Ya tinggal dijual.”

“Saya tidak mau.”

Ratna mulai kehilangan kesabaran.

“Kenapa kamu selalu bicara ‘saya, saya, saya’? Kamu sudah menikah dengan Arga!”

“Justru karena saya menikah dengan Arga, saya tahu mana milik kami bersama dan mana aset saya sebelum menikah.”

Arga berdiri di samping istrinya.

“Ma, cukup.”

Ratna menoleh.

“Kamu bela dia?”

“Aku bela hal yang benar.”

Kalimat itu membuat Ratna membeku.

Dimas yang merasa salah tempat langsung pamit.

Setelah agen itu pergi, Ratna masih mencoba membujuk Arga.

Tetapi kali ini putranya tidak bergeser sedikit pun.

“Aku sudah cek semua dokumen, Ma.”

Arga mengeluarkan ponselnya.

“Bank sudah membatalkan proses karena aku menyatakan tidak pernah menandatangani pengajuan itu.”

Wajah Ratna pucat.

“Terus uang tanda jadi Mama bagaimana?”

“Itu keputusan Mama sendiri.”

“Seratus juta bisa hilang!”

Nabila menjawab tenang.

“Karena Mama membayar sebelum mendapat persetujuan orang yang uangnya ingin Mama gunakan.”

Ratna mulai menangis lagi.

Namun kali ini Arga tidak menghiburnya.

Beberapa hari kemudian, masalah rumah menjadi semakin rumit.

Karena pengajuan kredit batal, Ratna dan Pak Hendra mencoba mencari pembiayaan dengan nama mereka sendiri.

Mereka tidak lolos jumlah pinjaman yang dibutuhkan.

Rendy juga menolak mengajukan KPR setelah Maya mengetahui tabungan pendidikan anak mereka telah digunakan tanpa kesepakatan.

Untuk pertama kalinya, Maya melawan suaminya.

Dia meminta Rp75 juta dikembalikan.

Pertengkaran besar terjadi di rumah Ratna.

Rendy yang sebelumnya selalu membela ibunya akhirnya berubah ketika menyadari dirinya juga hanya dijadikan sumber dana.

Lebih mengejutkan lagi, Pak Hendra mengaku pinjaman koperasi bukan Rp250 juta seperti yang dikatakan Ratna.

Jumlah total kewajiban mereka hampir Rp430 juta.

Sebagian digunakan untuk membantu usaha seorang kerabat yang gagal dua tahun sebelumnya.

Sebagian lagi untuk menutup cicilan kartu kredit.

Ratna sengaja memilih rumah mahal karena percaya begitu Arga dan Nabila ikut masuk, cicilan bisa “dibagi keluarga”.

Dengan kata lain, rumah mewah itu bukan solusi.

Rumah itu adalah cara membungkus masalah utang lama dengan properti baru.

Akhirnya Ratna tidak mampu melanjutkan transaksi.

Pemilik rumah bersedia mengembalikan Rp40 juta dari tanda jadi setelah dipotong kompensasi dan biaya pemasaran.

Rp60 juta hilang.

Dari Rp40 juta yang kembali, Ratna terpaksa menyerahkannya kepada Rendy.

Sisanya, Rp35 juta, harus dia cicil kepada anak sulungnya selama beberapa bulan.

Rencana memiliki rumah Rp4,85 miliar selesai bahkan sebelum akad.

Namun perubahan terbesar bukan soal rumah.

Arga akhirnya meminta seluruh dokumen pribadinya dikembalikan dari rumah orang tuanya.

KTP lama, NPWP, slip gaji, fotokopi kartu keluarga, semuanya.

Dia mengganti PIN mobile banking.

Dia juga mengatakan kepada ibunya dengan jelas:

Mulai hari itu, tidak ada keputusan keuangan atas namanya tanpa persetujuan dirinya dan Nabila.

Ratna marah hampir dua bulan.

Dia jarang menelepon.

Di grup keluarga, dia beberapa kali menulis sindiran tentang anak yang berubah setelah menikah.

Arga tidak membalas.

Nabila juga tidak.

Mereka membiarkan waktu melakukan pekerjaan yang tidak bisa dilakukan oleh perdebatan.

Enam bulan kemudian, Nabila dan Arga membuat keputusan mereka sendiri.

Bukan membeli vila.

Bukan rumah tiga lantai.

Mereka membeli rumah dua lantai sederhana di daerah Kota Wisata Cibubur setelah berbulan-bulan menghitung kemampuan mereka.

Harganya jauh di bawah rumah pilihan Ratna.

Uang muka berasal dari tabungan mereka sendiri.

Kredit menggunakan nama mereka berdua.

Dan sertifikatnya juga tercatat sesuai hak mereka.

Ada tiga kamar.

Satu menjadi kamar utama.

Satu dijadikan ruang kerja.

Satu lagi mereka biarkan kosong.

“Buat anak nanti?” tanya Arga suatu sore.

Nabila tersenyum.

“Kalau memang nanti kita punya anak.”

Tidak ada lagi orang lain yang menentukan isi rumah mereka sebelum mereka sendiri siap.

Ratna baru datang tiga bulan setelah mereka pindah.

Dia berdiri cukup lama di ruang tamu tanpa banyak bicara.

Saat melihat dapur, dia hanya berkata,

“Lumayan.”

Nabila tahu itu adalah pujian paling tinggi yang mungkin keluar dari mulut ibu mertuanya.

Sebelum pulang, Ratna duduk di teras bersama Arga.

Nabila tidak sengaja mendengar ketika perempuan itu berkata,

“Mama waktu itu memang terlalu memaksa.”

Arga diam beberapa saat.

Lalu menjawab,

“Aku tetap anak Mama. Tapi jadi anak bukan berarti semua utang Mama otomatis jadi utangku.”

Ratna tidak membantah.

Hubungan mereka tidak tiba-tiba menjadi sempurna.

Tidak ada pelukan dramatis.

Tidak ada air mata penuh penyesalan.

Tetapi sejak hari itu, Ratna tidak pernah lagi meminta KTP Arga.

Tidak pernah lagi menyusun pembagian uang tanpa bertanya.

Dan setiap kali ingin meminta bantuan, dia mulai menggunakan satu kalimat yang selama puluhan tahun jarang dia ucapkan:

“Kalau kalian memang mampu.”

Suatu malam Nabila duduk di halaman kecil rumah barunya sambil minum teh.

Arga keluar membawa dua mangkuk bakso dan duduk di sebelahnya.

“Masih kepikiran rumah Bandung?”

Nabila tertawa.

“Kadang.”

“Sayang juga ya. Halamannya besar.”

“Lift-nya juga bagus.”

Mereka tertawa bersama.

Kemudian Nabila memandang rumah mereka.

Tidak semewah rumah yang dulu dipilih Ratna.

Tidak punya lift.

Tidak punya halaman luas.

Tetapi tidak ada satu rupiah pun di dalamnya yang lahir dari paksaan.

Tidak ada nama orang lain di atas hak mereka.

Tidak ada tanda tangan palsu.

Dan yang terpenting, tidak ada seorang pun yang bisa datang membawa tabel lalu memberi tahu mereka berapa banyak uang yang wajib diserahkan demi sebuah rumah yang bahkan bukan milik mereka.

Saat itu Nabila akhirnya mengerti sesuatu.

Menjaga batas bukan berarti menghancurkan keluarga.

Kadang, justru batas itulah yang menghentikan sebuah keluarga dari saling menghancurkan.