Tiga Hari Setelah Melahirkan, Aku Hanya Meminta Susu Bayi—Suamiku Menyuruhku Mengundi Uang, Lalu Memberi Adikku Ratusan Juta, Sementara Putrinya Menangis Kelaparan di Pelukanku pada Malam Pertama Kami Pulang

Avatar penulis
Cerita 03
16 menit baca 476 tayangan
Tiga Hari Setelah Melahirkan, Aku Hanya Meminta Susu Bayi—Suamiku Menyuruhku Mengundi Uang, Lalu Memberi Adikku Ratusan Juta, Sementara Putrinya Menangis Kelaparan di Pelukanku pada Malam Pertama Kami Pulang
Indeks

Tiga Hari Setelah Melahirkan, Aku Hanya Meminta Susu Bayi—Suamiku Menyuruhku Mengundi Uang, Lalu Memberi Adikku Ratusan Juta, Sementara Putrinya Menangis Kelaparan di Pelukanku pada Malam Pertama Kami Pulang

Bagian 1 — Di Rumah Sakit Aku Mendapat Dua Puluh Ribu Rupiah, Sedangkan Bayi Adikku Menerima Hadiah yang Cukup untuk Membeli Rumah Kecil

Hari ketiga setelah melahirkan, aku meminta uang kepada suamiku untuk membeli susu formula.

Bukan tas.

Bukan perhiasan.

Bukan sesuatu untuk diriku sendiri.

Hanya susu formula untuk putri kami yang baru berusia tiga hari.

Raka Pradipta berdiri di samping ranjang rumah sakit dengan kemeja putih yang masih licin tanpa satu kusut pun. Ia tidak menjawab pertanyaanku.

Sebaliknya, ia mengangkat dagu kepada asistennya.

Sebuah kotak kayu diletakkan di atas meja kecil di samping ranjangku.

Di dalamnya ada puluhan amplop cokelat yang ukurannya sama.

“Ambil satu.”

Aku menatapnya.

“Raka, Keira butuh susu malam ini.”

“Aku dengar.”

“Kalau begitu beri aku uang untuk membelinya.”

Ia memasukkan kedua tangan ke saku celana.

“Peraturan tetap peraturan.”

Perawat yang sedang memeriksa suhu tubuh Keira menoleh dengan wajah bingung.

“Peraturan apa, Pak?”

Raka tersenyum tipis.

“Permainan keluarga.”

Aku menutup mata sebentar.

Permainan.

Begitulah ia selalu menyebutnya.

Padahal bagiku, selama tiga tahun terakhir, itu bukan permainan.

Itu penghinaan yang dibungkus kebiasaan.

Aku mengambil satu amplop.

Tanganku masih gemetar karena tubuhku belum pulih sepenuhnya setelah kehilangan cukup banyak darah saat persalinan.

Ketika amplop kubuka, selembar uang dua puluh ribu rupiah jatuh ke selimut.

Ruangan mendadak hening.

Perawat tadi menatap uang itu, lalu menatap Raka.

“Dua puluh ribu?”

Raka mengangguk santai.

“Keberuntungan Alya hari ini sedang kurang bagus.”

Aku tidak berkata apa-apa.

Tiga tahun lalu, tepat pada hari lamaran kami, keluargaku seharusnya menerima uang seserahan sebesar Rp280 juta.

Aku bahkan sudah meminta Ayah berkali-kali agar tidak membuat acara berlebihan.

Namun lima menit sebelum keluarga Raka datang, Ayah tiba-tiba membawa seratus amplop merah dan menaruhnya di meja.

Katanya sambil tertawa, “Kita jangan terlalu menghitung uang dalam pernikahan. Biar calon menantu ambil satu amplop. Berapa pun angka di dalamnya, itu saja seserahannya.”

Aku mengira Ayah bercanda.

Ternyata tidak.

Di antara seratus amplop itu, sembilan puluh sembilan hanya berisi angka kecil.

Satu amplop berisi Rp1,4 miliar.

Dan Raka mengambil amplop itu.

Aku masih ingat ekspresinya.

Bukan marah.

Bukan senang.

Hanya diam.

Kemudian ia menandatangani cek sebesar Rp1,4 miliar di depan semua orang.

Seminggu kemudian ia tetap mengadakan pernikahan mewah untukku di sebuah hotel di Surabaya.

Orang-orang berkata aku adalah perempuan paling beruntung.

Mereka bilang Raka begitu mencintaiku hingga rela membayar lima kali lipat dari kesepakatan awal.

Tidak ada yang tahu bahwa malam sebelum pernikahan, aku bertengkar hebat dengan orang tuaku.

Aku baru mengetahui sebagian besar uang itu digunakan untuk membeli ruko atas nama adikku, Nadia.

Ketika aku ingin menjelaskan semuanya kepada Raka, Ibu menangis sambil memegang obat tekanan darah.

“Kalau rumah tanggamu hancur gara-gara ini, Ibu akan mati.”

Aku masih bodoh waktu itu.

Aku memilih diam.

Dan diam itu menghancurkan hidupku sedikit demi sedikit.

Pagi setelah malam pertama kami sebagai suami istri, Raka menaruh sebuah kotak penuh amplop di depanku.

“Bukankah keluargamu suka menyerahkan urusan uang pada keberuntungan?”

Sejak hari itu, setiap aku membutuhkan uang rumah tangga, aku harus mengambil satu amplop.

Kadang Rp10 ribu.

Kadang Rp50 ribu.

Paling besar yang pernah kudapat hanya Rp150 ribu.

Awalnya aku melawan.

Kemudian aku menangis.

Lalu aku berhenti melakukan keduanya.

Aku belajar memasak dengan bahan seadanya.

Aku berhenti membeli pakaian.

Aku menjual beberapa tas lama agar bisa membayar kebutuhan pribadi.

Dan diam-diam, melalui bantuan sahabatku, Siska, aku kembali mengambil pekerjaan penerjemahan dari rumah.

Uangnya tidak banyak.

Tapi setiap rupiah kusimpan dalam rekening yang tidak diketahui siapa pun.

Itu bukan uang belanja.

Itu uang untuk hari ketika aku akhirnya memiliki keberanian pergi.

Aku tidak pernah menyangka hari itu datang setelah kelahiran anakku.

Keira menggeliat di sampingku.

Aku menyentuh pipinya.

“Raka, paling tidak belikan selimut bayi. AC kamar ini dingin.”

“Rumah sakit menyediakan selimut.”

“Yang ini tipis.”

Tatapan Raka langsung berubah.

“Jangan menggunakan anak untuk meminta lebih banyak uang.”

Aku terdiam.

Perawat di sampingku sampai menghentikan gerak tangannya.

Raka mengambil jasnya.

“Sore nanti aku ada acara.”

“Acara apa?”

Ia tidak menjawab.

Pintu tertutup.

Beberapa menit kemudian, perawat yang tadi keluar kembali membawa selimut bayi berwarna krem.

“Ini punya ruang perawat,” katanya pelan. “Sudah dicuci dan belum dipakai.”

Ia membungkus Keira dengan hati-hati.

Aku menggigit bibir agar tidak menangis.

Seorang perempuan yang bahkan tidak mengetahui nama lengkapku lebih peduli pada kenyamanan putriku daripada ayah kandungnya.

Malamnya, saat Keira tidur, ponselku bergetar.

Nadia mengunggah Instagram Story.

Foto pertama menunjukkan kamar suite bersalin sebuah rumah sakit swasta.

Balon memenuhi dinding.

Keranjang hadiah tersusun di meja.

Pada foto berikutnya terdapat tangkapan layar transfer bank.

Rp480.000.000.

Keterangan di bawahnya membuat ujung jariku membeku.

“Hadiah dari kakak ipar untuk jagoan kecil kami. Katanya kebutuhan bayi tidak boleh dihitung-hitung.”

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

Kebutuhan bayi tidak boleh dihitung-hitung.

Sementara tiga jam sebelumnya, kebutuhan putrinya sendiri ditentukan oleh selembar amplop berisi dua puluh ribu rupiah.

Aku membuka daftar orang yang melihat unggahan itu.

Ibu memberikan emoji hati.

Ayah menulis, “Cucu kesayangan Kakek.”

Raka memberi tanda suka.

Aku mematikan layar.

Namun beberapa detik kemudian Nadia mengirim pesan langsung kepadaku.

“Kak, jangan salah paham ya.”

“Aku sebenarnya nggak enak menerima sebanyak ini.”

“Tapi Mas Raka memaksa.”

Kemudian satu pesan lagi masuk.

“Katanya setelah punya anak, seorang ibu harus tahu cara memilih suami yang bisa memberikan kehidupan layak.”

Aku menatap tulisan itu sampai pandanganku kabur.

Sebelum sempat membalas, pesan tersebut ditarik.

Sayangnya, aku sudah mengambil tangkapan layar.

Pukul sebelas malam, Raka kembali.

Ia berdiri di pintu sambil melihatku melipat beberapa kertas kecil.

Semua kertas hasil undian selama enam bulan terakhir kusimpan.

Rp15 ribu.

Rp30 ribu.

Rp10 ribu.

Rp25 ribu.

Dan sekarang Rp20 ribu.

“Kau masih menyimpan sampah seperti itu?”

Aku memasukkan semuanya ke dompet.

“Supaya aku tidak lupa.”

“Tidak lupa apa?”

Aku menatap wajahnya.

“Tidak ada.”

Ia tertawa pendek.

“Bagus.”

Raka berjalan keluar.

Sesaat sebelum pintu benar-benar tertutup, aku mendengar suaranya menelepon seseorang di lorong.

“Sudah kubilang, kan?”

Ia terdengar tertawa.

“Dia tidak akan pergi.”

“Alya terlalu menyukai kehidupan sebagai istri Raka Pradipta. Mau dikasih dua puluh ribu pun dia tetap akan bertahan.”

Darahku serasa berhenti mengalir.

“Sekarang sudah punya anak pula.”

“Perempuan seperti dia paling takut kehilangan status.”

Langkahnya semakin jauh.

Aku menatap putriku.

Keira tidur dengan tangan kecil mengepal di dekat pipinya.

Aku mengambil ponsel dan membuka nomor yang hampir setahun tidak pernah kuhubungi.

Nomor Singapura.

Telepon tersambung setelah dering kedua.

Suara seorang pria terdengar dari seberang.

“Alya?”

Aku menarik napas.

“Dimas.”

Ia langsung diam.

Mungkin karena ia tahu, selama aku masih ingin mempertahankan pernikahan ini, aku tidak pernah meneleponnya.

Dimas adalah teman kuliahku.

Setahun lalu ketika tanpa sengaja mengetahui bagaimana Raka memperlakukanku, ia pernah berkata satu hal.

“Kalau suatu hari kamu benar-benar ingin keluar, hubungi aku. Bukan untuk menggantikan siapa pun. Aku cuma mau memastikan kamu dan anakmu punya tempat aman untuk berdiri.”

Aku menelan ludah.

“Ucapanmu masih berlaku?”

“Selalu.”

“Aku butuh tujuh hari.”

“Apa yang harus kulakukan?”

“Datang ke Surabaya.”

Ia tidak bertanya apa pun lagi.

Hanya terdengar bunyi keyboard beberapa saat.

Kemudian ia berkata,

“Tiketku sudah kubeli.”

“Tujuh hari lagi aku sampai.”

Aku memandang wajah kecil Keira.

Untuk pertama kalinya selama tiga tahun, rasa takut di dadaku berubah menjadi sesuatu yang lain.

Keputusan.

“Tujuh hari lagi,” bisikku sambil menggenggam tangan putriku, “Mama akan membawa kamu keluar dari rumah yang bahkan menghitung harga susumu.”

#DramaKeluarga #KisahIstri #PengkhianatanKeluarga #PerempuanBerani #CeritaViralIndonesia

Bagian 2 — Saat Putriku Dilarang Minum Susu di Mobil, Aku Melihat Adikku Makan Seenaknya di Kursi Depan Mobil Suamiku bersama Kedua Orang Tuaku

Hari kepulangan kami tiba empat hari kemudian.

Sejak pukul tujuh pagi aku sudah menunggu.

Keira mengenakan baju bayi pemberian Siska karena itu satu-satunya pakaian baru yang ia miliki.

Pukul sembilan, Raka mengirim pesan.

“Aku tidak bisa datang.”

“Nadia juga pulang hari ini. Tidak ada yang membantu mengurus barangnya.”

Aku membaca pesan itu tanpa perasaan.

“Supir akan menjemputmu.”

Benar saja, mobil datang tiga puluh menit kemudian.

Baru sepuluh menit perjalanan, Keira mulai menangis.

Waktunya minum susu.

Produksi ASI-ku belum cukup karena kondisiku setelah persalinan.

Aku baru saja mengeluarkan botol ketika supir melihat dari kaca spion.

“Maaf, Bu Alya.”

Aku berhenti.

“Pak Raka melarang makan atau minum di mobil baru.”

“Ini bayi.”

“Saya paham.”

“Dia hanya minum susu.”

Wajah supir itu terlihat serba salah.

“Saya bisa kehilangan pekerjaan, Bu.”

Tanganku membeku.

Keira menangis semakin keras.

Akhirnya aku memasukkan kembali botol ke tas dan memeluknya erat selama sisa perjalanan.

Begitu sampai rumah, bahkan sebelum mengganti pakaian, aku langsung memberinya susu.

Setelah Keira tenang, aku membuka ponsel.

Nadia baru saja mengunggah video.

Ia duduk di kursi depan mobil Raka.

Mobil yang sama jenisnya dengan mobil yang baru saja membawaku pulang.

Di tangannya ada segelas es kopi.

Di pangkuannya ada kotak stroberi.

Satu buah jatuh dan meninggalkan noda merah di jok.

Raka hanya tertawa.

“Kalau kotor tinggal detailing,” katanya di video.

Di belakang mereka, Ibu sedang menyuapi bayi Nadia dengan susu.

Ayah sibuk menggoyangkan mainan.

Aku mematikan layar.

Saat itulah sesuatu dalam diriku benar-benar mati.

Bukan cinta.

Cinta itu mungkin sudah mati lama.

Yang mati adalah harapan bahwa Raka suatu hari akan sadar sendiri.

Sore harinya Nadia datang.

Ia membawa dua kantong besar pakaian bayi bekas.

“Kak, buat Keira.”

Ia mengeluarkan satu romper bermerek.

“Ini baru dipakai Rayyan dua kali. Sayang kalau dibuang.”

Aku melihat noda susu menguning di bagian kerah.

“Terima kasih.”

Nadia mengedarkan pandangan ke ruang tengah.

Matanya berhenti pada ranjang bayi bekas yang kubeli dari marketplace menggunakan uang hasil menerjemahkan.

“Mas Raka nggak beliin yang baru?”

Aku diam.

Ia mengusap bibir sambil tersenyum.

“Rayyan dapat ranjang otomatis. Bisa goyang sendiri. Dua belas juta.”

“Nadia.”

“Hm?”

“Kamu datang untuk memberikan pakaian atau menghitung harga barang di rumahku?”

Senyumnya hilang sesaat.

Kemudian muncul lagi.

“Jangan sensitif, Kak. Aku cuma kasihan.”

Saat hendak pergi, sebuah kertas jatuh dari tasnya.

Aku memungutnya.

Invoice pembelian susu formula impor.

Dua puluh empat kaleng.

Atas nama Raka Pradipta.

Alamat pengiriman: apartemen Nadia.

Tanggal pembelian: malam ketika aku masih berada di rumah sakit dan hanya mendapat dua puluh ribu rupiah.

Nadia cepat-cepat merebut kertas itu.

“Mas Raka yang pesan.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

Ia mengangkat bahu.

“Mungkin dia lebih percaya aku bisa menggunakan uang dengan benar.”

Aku tidak menjawab.

Malam itu aku menghubungi Siska.

Untuk pertama kalinya, aku menceritakan semuanya tanpa menyembunyikan satu detail pun.

Siska datang membawa laptop.

“Aku ingin kamu lihat sesuatu.”

Ia membuka folder lama dari video acara lamaranku.

“Aku masih simpan semua rekaman karena dulu aku yang pegang kamera.”

Kami memutar video.

Di salah satu bagian, kamera masih merekam saat orang-orang mengira sudah dimatikan.

Terlihat Nadia menarik Ayah ke sudut ruangan.

Suaranya kecil, tetapi cukup jelas.

“Amplop hadiah besarnya sudah dimasukkan, kan?”

Ayah menjawab, “Sudah.”

“Kalau Mas Raka dapat yang kecil bagaimana?”

“Ya berarti bukan rezeki.”

Nadia tertawa.

“Kalau dapat yang besar, ruko yang aku mau langsung jadi.”

Dadaku sesak.

Selama tiga tahun Raka percaya permainan itu idenya keluargaku dan aku ikut mengetahuinya.

Padahal orang yang paling diuntungkan sejak awal justru Nadia.

Siska menatapku.

“Kita simpan salinannya.”

Aku mengangguk.

Tetapi kejutan belum selesai.

Siska menunjukkan tangkapan layar lain.

Pesan dari nomor lama Ayah kepada Nadia yang ia dapat dari ponsel cadangan keluarga saat membantu memindahkan data beberapa bulan lalu.

“Alya jangan sampai tahu sertifikat rukonya pakai uang seserahan.”

Lalu balasan Nadia:

“Tenang. Kalau ketahuan, bilang saja uangnya untuk keluarga.”

Tanganku dingin.

Pukul satu dini hari, Raka pulang dalam keadaan sedikit mabuk.

Ia melihat koper kecil di dekat lemari.

“Mau ke mana?”

“Barang bayi.”

Ia mendekat.

Tiba-tiba ia memelukku dari belakang.

“Alya.”

Aku diam.

“Jangan terus marah.”

Aroma alkohol memenuhi napasnya.

“Aku sebenarnya masih sayang sama kamu.”

Aku hampir tertawa.

Sayang.

Kata itu terasa lebih murah daripada amplop dua puluh ribu.

Aku melepaskan tangannya.

“Tidurlah.”

Ia menatapku beberapa detik, lalu berjalan ke kamar lain.

Pukul tiga lewat sepuluh menit Keira terbangun sambil menangis.

Susu yang ada tinggal cukup untuk satu kali minum.

Aku pergi ke ruang kerja Raka mencari nota apotek karena dokter mengatakan Keira membutuhkan jenis formula tertentu.

Saat membuka laci, aku menemukan sebuah map biru.

Namaku tertulis di depannya.

Di dalamnya terdapat fotokopi KTP-ku.

Fotokopi tanda tanganku.

Dan sebuah surat kuasa yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Di bagian bawah tertulis sebuah alamat.

Ruko milik almarhumah Nenek di Malang.

Satu-satunya aset keluarga yang diwariskan langsung atas namaku.

Di halaman terakhir tertulis rencana pengalihan hak kepada—

Nadia Rahmawati.

Aku membalik kertas terakhir.

Ada tanda tanganku.

Atau lebih tepatnya…

tanda tangan yang dibuat menyerupai milikku.

Di belakangku terdengar suara.

“Kak?”

Aku berbalik.

Nadia berdiri di pintu ruang kerja.

Entah sejak kapan ia masuk rumah.

Wajahnya pucat ketika melihat map di tanganku.

Aku mengangkat surat itu.

“Kali ini kalian mau mencuri apa lagi dariku?”

Nadia tidak menjawab.

Namun beberapa detik kemudian Raka muncul dari lorong.

Dan kalimat pertama yang keluar dari mulutnya bukan pertanyaan tentang surat palsu itu.

Melainkan—

“Taruh kembali map itu, Alya.”

Saat itulah aku tahu.

Untuk pertama kalinya, musuhku ternyata bukan hanya keluargaku.

Suamiku juga mengetahui semuanya.

Bagian 3 — Tujuh Hari Kemudian Aku Pergi Membawa Putriku, Tetapi Sebelum Pintu Tertutup, Aku Tinggalkan Bukti yang Membongkar Semua Kebohongan Mereka di Meja Makan

Aku menatap Raka lama sekali.

“Kamu tahu?”

Ia mengusap wajah.

“Aku bisa jelaskan.”

“Sejak kapan?”

“Alya—”

“Sejak kapan kamu tahu mereka mau memindahkan ruko Nenek atas namaku kepada Nadia?”

Nadia menyela.

“Kak, jangan dibesar-besarkan. Ruko itu sekarang kosong.”

Aku menoleh kepadanya.

“Keluar.”

“Kak—”

“Keluar dari rumahku.”

Nadia tertawa kecil.

“Rumahmu?”

Kalimat itu membuatku sadar betapa selama ini mereka yakin aku tidak punya apa-apa.

Raka akhirnya menyuruh Nadia pulang.

Setelah pintu tertutup, ia mencoba menjelaskan.

Katanya Ayah datang beberapa minggu lalu.

Bisnis Nadia sedang bermasalah.

Ruko warisan Nenek dianggap bisa dijadikan jaminan pinjaman.

“Mereka cuma butuh sementara.”

“Dengan memalsukan tanda tanganku?”

“Aku belum mengizinkan surat itu dipakai.”

Aku hampir tidak percaya.

“Jadi aku seharusnya berterima kasih?”

Raka terdiam.

Aku menaruh map itu di meja.

“Kamu menghukumku tiga tahun karena mengira aku menipumu pada hari lamaran.”

Rahangnya mengeras.

“Jangan bahas itu lagi.”

“Aku akan bahas.”

Aku membuka video dari Siska.

Suara Nadia terdengar jelas dari ponsel.

Wajah Raka berubah.

Kemudian kutunjukkan pesan antara Nadia dan Ayah.

Setelah tiga tahun, untuk pertama kalinya aku melihat Raka kehilangan kata-kata.

“Aku tidak tahu,” katanya akhirnya.

Aku tersenyum hambar.

“Itulah masalahnya.”

“Kamu tidak pernah mau tahu.”

“Kamu cuma ingin seseorang untuk dihukum.”

Enam hari kemudian, semuanya siap.

Dokumen penting.

Pakaian Keira.

Rekening pribadiku.

Rekaman video.

Surat palsu.

Bukti transfer kepada Nadia.

Catatan undian uang rumah tangga yang kusimpan bertahun-tahun.

Pengacaraku bahkan meminta foto beberapa amplop sebagai dokumentasi.

Pagi hari ketujuh, Dimas tiba di Surabaya.

Ia tidak datang ke rumah.

Aku meminta ia menunggu di sebuah kafe dua blok jauhnya.

Aku harus keluar dengan kakiku sendiri.

Pukul sembilan pagi aku meletakkan satu map besar di meja makan.

Raka turun dari lantai atas ketika aku sedang memasangkan topi pada Keira.

Tatapannya jatuh pada koper.

“Kamu mau ke mana?”

“Pergi.”

Ia tertawa.

Namun ketika melihat wajahku, tawanya hilang.

“Alya.”

“Aku sudah mengajukan gugatan.”

Wajahnya mendadak pucat.

“Apa?”

“Pengacaraku akan menghubungimu.”

Ia mendekat.

“Karena permainan uang itu?”

“Bukan.”

Aku menggeleng.

“Karena kamu melihat istrimu kelaparan secara finansial selama tiga tahun dan menganggapnya hukuman yang pantas.”

“Karena anakmu menangis meminta susu sementara kamu membeli dua puluh empat kaleng susu untuk anak orang lain.”

“Karena saat aku melahirkan, kamu lebih sibuk membuatku merasa rendah daripada menjadi seorang ayah.”

Raka memegang lenganku.

Aku menariknya.

“Jangan sentuh aku.”

“Aku bisa memperbaiki semuanya.”

“Sudah terlambat.”

Bel rumah berbunyi.

Ayah, Ibu dan Nadia masuk.

Rupanya Raka memang berencana mengumpulkan mereka pagi itu untuk membahas masalah ruko.

Nadia melihat koperku.

“Kak, kamu serius mau pergi cuma karena salah paham?”

Aku mendorong map di meja ke arah mereka.

“Buka.”

Ayah membeku ketika melihat surat kuasa palsu.

Ibu langsung menangis.

“Keluarga sendiri kok mau dibawa sejauh ini?”

Aku menatapnya.

“Dulu Ibu memakai ancaman sakit supaya aku diam.”

“Hari ini air mata Ibu tidak akan bekerja lagi.”

Nadia mencoba mengambil video bukti.

Aku lebih cepat menariknya.

“Salinannya sudah ada di pengacara.”

Wajahnya berubah total.

Raka berdiri seperti patung.

Aku mengeluarkan satu benda terakhir.

Kotak kayu tempat puluhan amplop undian disimpan.

Kutaruh tepat di depan Raka.

“Ambil satu.”

Ia menatapku.

“Apa?”

“Selama tiga tahun kamu menyuruhku melakukan itu setiap kali membutuhkan uang.”

“Sekarang ambil satu.”

Tangannya bergerak perlahan.

Ia menarik sebuah amplop.

Membukanya.

Di dalamnya tidak ada uang.

Hanya satu kalimat yang kutulis semalam.

Kesempatanmu sudah habis.

Untuk pertama kalinya Raka terlihat benar-benar panik.

“Alya, jangan lakukan ini.”

Aku menggendong Keira.

“Tiga tahun lalu kamu mengatakan keluargaku mengajarimu bahwa harga seseorang bisa ditentukan lewat undian.”

Aku menatap matanya.

“Hari ini aku mengajarimu sesuatu.”

“Seorang istri bukan tahanan yang harus membayar dosa keluarganya.”

Aku berjalan keluar.

Di belakangku terdengar Ibu mulai memarahi Nadia.

Ayah menyangkal soal tanda tangan palsu.

Raka memanggil namaku berkali-kali.

Aku tidak menoleh.

Proses setelah itu tidak mudah.

Ada pemeriksaan dokumen.

Ada pertemuan dengan pengacara.

Ada sidang yang membuatku harus menceritakan ulang hal-hal yang ingin kulupakan.

Ruko peninggalan Nenek akhirnya tetap aman atas namaku karena dokumen pengalihan tidak pernah sah.

Ayah dan Nadia terpaksa menghadapi proses hukum terkait pemalsuan dokumen, dan rencana menggunakan ruko sebagai jaminan gagal total.

Ruko yang dahulu dibeli menggunakan uang seserahan pun akhirnya dijual karena bisnis Nadia tenggelam dalam utang.

Hubungannya dengan orang tuaku ikut hancur ketika mereka mulai saling menyalahkan mengenai uang.

Sedangkan Raka?

Begitu mengetahui kebenaran tentang permainan amplop pada acara lamaran, ia berkali-kali datang meminta maaf.

Ia mengembalikan seluruh uang yang selama pernikahan seharusnya menjadi bagian biaya hidupku.

Ia bahkan menawarkan rumah.

Aku menolak.

Yang kuterima hanya kewajiban finansialnya sebagai ayah Keira sesuai keputusan pengadilan.

Tidak lebih.

Beberapa bulan kemudian perceraian kami resmi selesai.

Hak pengasuhan utama Keira berada padaku, sementara hubungan Keira dengan ayahnya diatur sesuai kesepakatan hukum.

Aku pindah ke Malang.

Ruko Nenek direnovasi.

Lantai bawah kusewakan untuk kedai kopi kecil.

Lantai atas kujadikan kantor penerjemahan.

Pekerjaan yang dulu kulakukan sembunyi-sembunyi perlahan berubah menjadi usaha sungguhan.

Siska menjadi orang pertama yang membantuku mencari klien.

Dimas?

Ia tidak pernah memintaku segera memulai hubungan baru.

Hari pertama aku keluar dari rumah Raka, ia hanya mengambil koper dari tanganku dan berkata,

“Kamu sudah melakukan bagian paling sulit sendiri.”

Setahun kemudian, saat Keira mulai berjalan tertatih-tatih di halaman ruko, Dimas datang membawa sepasang sepatu kecil.

Bukan barang mahal.

Tidak ada merek mewah.

Tidak ada kotak besar.

Tidak ada transfer ratusan juta.

Keira tertawa saat memakainya.

Aku duduk di tangga sambil memandang mereka.

Dimas kemudian duduk di sebelahku.

“Kamu masih takut?”

Aku berpikir beberapa saat.

“Kadang.”

“Menyesal?”

Aku melihat Keira berlari kecil mengejar kupu-kupu.

Lalu menggeleng.

“Tidak.”

Dulu aku mengira kehidupan yang aman berarti mempunyai suami kaya, rumah besar dan nama keluarga yang dihormati orang.

Sekarang rumahku jauh lebih sederhana.

Mobilku biasa.

Pakaianku tidak lagi bermerek mahal.

Tetapi ketika Keira membutuhkan susu, aku tidak perlu membuka amplop untuk mengetahui apakah hari itu ia cukup beruntung untuk makan.

Aku tinggal di rumah yang tidak menilai kebutuhan seorang anak dengan angka acak.

Dan setiap malam ketika Keira tertidur di dadaku, aku selalu teringat satu hal.

Hari ketika aku kehilangan gelar sebagai istri Raka Pradipta bukanlah hari ketika hidupku berakhir.

Itulah hari pertama aku dan putriku akhirnya mulai hidup.