Suamiku Menangis Memohon Membawa Ibunya yang Parkinson ke Rumah, Aku Justru Pergi Dinas Seminggu—Saat Pulang, Surat Cerai Sudah Menunggu di Meja dan Ia Menuduhku Menantu Tak Berbakti di Depan Keluarga

Avatar penulis
Cerita 03
17 menit baca 485 tayangan
Suamiku Menangis Memohon Membawa Ibunya yang Parkinson ke Rumah, Aku Justru Pergi Dinas Seminggu—Saat Pulang, Surat Cerai Sudah Menunggu di Meja dan Ia Menuduhku Menantu Tak Berbakti di Depan Keluarga
Indeks

Suamiku Menangis Memohon Membawa Ibunya yang Parkinson ke Rumah, Aku Justru Pergi Dinas Seminggu—Saat Pulang, Surat Cerai Sudah Menunggu di Meja dan Ia Menuduhku Menantu Tak Berbakti di Depan Keluarga

Bagian 1 — Saat Air Mata Suamiku Membuat Semua Orang Tersentuh, Aku Justru Memilih Pergi dan Membiarkannya Membuktikan Janji Merawat Ibunya Sendiri di Rumah

“Rani… boleh, ya, Mama tinggal bersama kita?”

Ardi berlutut di samping sofa sambil memegang tanganku.

Matanya merah.

Suaranya bergetar seperti orang yang baru kehilangan sesuatu.

“Setiap kali aku menelepon Mama, suaranya makin sulit dimengerti. Tangannya gemetar, jalannya sudah hampir tidak bisa. Aku nggak tega membiarkan beliau di kampung seperti itu.”

Aku tidak langsung menjawab.

Ibu mertuaku, Bu Marni, sudah hampir tiga tahun menderita Parkinson.

Beliau sekarang membutuhkan bantuan untuk mandi, berganti pakaian, minum obat tepat waktu, bahkan kadang untuk pergi ke toilet.

Masalahnya bukan aku tidak kasihan.

Aku justru sangat kasihan.

Yang membuatku ragu adalah satu hal sederhana:

Siapa yang sebenarnya akan merawat beliau?

“Kalau Mama tinggal di sini, siapa yang akan mengurus?” tanyaku pelan.

“Aku.”

Jawaban Ardi cepat sekali.

Seolah dia sudah menyiapkannya.

“Aku anak laki-lakinya. Masa aku tega menyuruh orang lain terus?”

Aku menatap wajahnya beberapa detik.

Ini sudah ketiga kalinya bulan itu dia mengatakan hal yang sama.

Setiap selesai menelepon ibunya, dia menangis.

Setiap kali pulang dari kampung, dia bercerita kepada teman-temannya betapa sedih melihat kondisi ibunya.

Tapi selama tiga tahun itu, orang yang benar-benar menangani Bu Marni adalah pengasuh berbayar.

Sedangkan Pak Harun, ayah mertuaku, hampir selalu punya alasan untuk tidak membantu.

Katanya tangannya tidak kuat.

Katanya dia laki-laki.

Katanya urusan membersihkan tubuh orang sakit lebih cocok dilakukan perempuan.

Dan Ardi?

Dia pulang menjenguk sebulan sekali, membawa buah, susu, popok dewasa, kemudian mengunggah foto memeluk ibunya di status WhatsApp.

Semua orang memujinya.

“Anak berbakti.”

“Jarang ada anak laki-laki seperti Ardi.”

“Bu Marni beruntung sekali.”

Aku biasanya hanya membaca tanpa berkomentar.

“Baik,” kataku akhirnya.

Wajah Ardi langsung cerah.

“Tapi dengar sampai selesai.”

Dia mengangguk.

“Aku bekerja. Aku juga mengurus Naya. Aku bisa membantu seperlunya, tapi aku tidak sanggup menjadi perawat utama Mama.”

Ardi buru-buru menggenggam tanganku.

“Tenang. Aku yang atur semuanya.”

“Dan jangan berharap ibuku yang mengurus.”

Senyumnya sedikit kaku.

Ibuku, Bu Ratih, sudah tinggal bersama kami hampir empat tahun sejak Naya masih bayi.

Bukan untuk bersantai.

Setiap pagi beliau menyiapkan sarapan, mengantar Naya ke sekolah, menjemputnya, membereskan rumah, bahkan sering memasak makan malam sebelum aku pulang kerja.

Kami tidak pernah membayarnya.

Beliau juga tidak pernah meminta.

Rumah kami di Bekasi dibeli dengan cicilan hampir Rp8 juta per bulan.

Ditambah uang sekolah Naya, kebutuhan harian, kendaraan, listrik, dan biaya hidup lain, aku dan Ardi sama-sama harus bekerja.

Kalau ibuku tidak membantu, mungkin sejak dulu kami sudah kelimpungan.

Karena itu, satu hal yang paling tidak bisa kuterima adalah jika Ardi ingin menjadi “anak berbakti” dengan tenaga ibuku.

“Aku sudah bilang aku yang urus,” jawabnya agak tersinggung.

“Bagus.”

Aku berdiri.

“Kalau begitu jemput Mama.”

Sabtu pagi, Ardi berangkat menuju Cirebon bersama Pak Harun.

Sementara itu, aku membantu ibuku memasukkan pakaian ke koper.

“Mama pulang ke rumah Tante Lina beberapa hari, ya.”

Ibuku berhenti melipat baju.

“Kenapa?”

“Naya juga ikut Mama.”

Beliau memandangku lama.

“Kamu bertengkar sama Ardi?”

Aku tersenyum.

“Enggak.”

“Kamu kalau bohong, dari kecil alis kirimu selalu naik.”

Aku refleks menyentuh alis.

Mama terkekeh kecil, tapi matanya tetap khawatir.

Aku akhirnya duduk di sampingnya.

“Mama Ardi akan tinggal di sini. Kondisinya sekarang perlu banyak bantuan. Aku cuma nggak mau nanti Mama malah ikut kerepotan.”

“Aku bisa bantu sedikit.”

“Nah. Itu yang aku takutkan.”

Mama terdiam.

Aku menggenggam tangannya.

“Mama sudah bertahun-tahun bantu aku merawat Naya tanpa pernah mengeluh. Sekarang giliran aku melindungi waktu Mama.”

Matanya langsung berkaca-kaca.

“Anak itu kalau sudah menikah memang punya keluarga sendiri.”

“Benar. Tapi bukan berarti orang tua kandungnya berubah jadi pembantu keluarga pasangan.”

Mama menepuk tanganku.

Siang itu, aku mengantar Mama dan Naya ke Stasiun Bekasi.

Sebelum naik kereta, Naya memelukku.

“Mama nggak ikut?”

“Mama kerja sebentar.”

“Berapa lama?”

“Tujuh hari.”

Dia menunjukkan tujuh jari kecilnya.

“Jangan lebih.”

Aku tertawa sambil menciumnya.

Setelah kereta berangkat, aku tidak pulang.

Aku langsung menuju kantor.

Dua hari sebelumnya, atasanku memang menawarkan kunjungan kerja selama seminggu ke Surabaya untuk menangani masalah salah satu klien penting.

Saat itu aku belum menjawab.

Hari itu aku masuk ke ruangan beliau.

“Pak, kalau tugas Surabaya masih tersedia, saya bisa berangkat.”

Sore harinya, tiket pesawat sudah ada di ponselku.

Sementara aku menuju bandara, Ardi baru tiba di rumah bersama kedua orang tuanya.

Di kampung, sebelum berangkat, dia sempat berkata lantang kepada tetangga,

“Pengasuh itu tetap orang lain. Saya sebagai anak harus turun tangan sendiri.”

Beberapa orang memuji.

Pak Harun tersenyum bangga.

Bu Marni yang duduk di kursi roda hanya menatap anaknya.

Saat Ardi mengangkat tubuh ibunya ke mobil, air liur Bu Marni tanpa sengaja menetes mengenai lengannya.

Ekspresi Ardi langsung berubah.

“Aduh, Ma…”

Dia cepat-cepat mengambil tisu basah.

“Kalau mau meludah bilang, dong.”

Bu Marni mencoba bicara, tapi suaranya tidak jelas.

Pak Harun malah menoleh ke arah lain.

Perjalanan ke Bekasi memakan waktu berjam-jam.

Di tengah perjalanan, Bu Marni buang air kecil di popoknya.

Begitu mencium bau, Ardi membuka kaca mobil sambil mengeluh.

“Ma, kenapa nggak bilang dari tadi?”

Bu Marni hanya menatap jendela.

Sesampainya di apartemen sederhana tempat kami tinggal, Ardi masih sempat menyapa satpam dengan bangga.

“Saya bawa Mama tinggal di sini. Biar saya sendiri yang rawat.”

Namun lima menit setelah pintu rumah dibuka, suaranya berubah.

“Rani?”

Tidak ada jawaban.

“Naya?”

Tetap sepi.

Pak Harun berjalan masuk sambil mengerutkan kening.

“Istrimu ke mana?”

“Mungkin belanja.”

Ardi meletakkan tas, lalu meneleponku.

Aku tidak mengangkat.

Beberapa detik kemudian, aku mengirim pesan.

“Ada tugas mendadak dari kantor. Aku ke Surabaya tujuh hari. Mama dan Naya pulang ke rumah Tante Lina supaya rumah tidak terlalu ramai. Semoga Mama nyaman tinggal di sini. Kamu kemarin bilang semua sudah kamu atur. Jaga beliau baik-baik.”

Belum satu menit, teleponku berdering.

“Rani!”

Nada suaranya sudah berbeda.

“Kamu kenapa pergi pas Mama datang?”

Aku berdiri di antrean boarding.

“Karena aku bekerja.”

“Setidaknya kamu bisa menolak!”

“Kenapa harus menolak?”

“Ini Mamaku!”

“Benar.”

Aku tersenyum tipis.

“Makanya kamu yang merawat.”

Dia diam.

“Bukankah itu yang kamu katakan?”

“Ya, tapi… maksudku kita sama-sama.”

“Kita memang sama-sama keluarga. Tapi kamu bilang sudah mengatur semuanya.”

Dari belakang telepon terdengar suara Pak Harun.

“Perempuan macam apa pergi saat mertua datang?”

Aku mendengarnya jelas.

Aku menutup mata sesaat.

Lalu kujawab tenang,

“Ayah benar. Saya memang pergi. Karena suami saya berkali-kali meyakinkan bahwa dia ingin merawat ibunya sendiri.”

Pak Harun masih menggerutu.

“Kamu menantu! Sudah kewajibanmu melayani orang tua suami!”

Aku langsung mematikan telepon.

Pesawatku mulai boarding.

Di rumah, keadaan memburuk bahkan sebelum malam.

Bu Marni perlu ke toilet.

Ardi kesulitan memindahkannya dari kursi roda.

“Pak, bantu pegang Mama.”

Pak Harun mundur.

“Pinggang Bapak sakit.”

“Cuma sebentar.”

“Kamu kan yang mau bawa ibumu kemari.”

Ardi menatap ayahnya tidak percaya.

“Lho, bukannya itu istri Bapak?”

Pak Harun menjawab tanpa malu,

“Justru karena itu kamu anaknya. Masa sama ibu sendiri jijik?”

Setelah hampir dua puluh menit, Ardi akhirnya berhasil membersihkan ibunya.

Mukanya pucat.

Kaosnya terkena air.

Tangannya terus dicuci dengan sabun.

Malamnya dia memesan ayam goreng dan kopi.

Bu Marni hanya diberi bubur instan.

Obat malamnya bahkan terlambat hampir dua jam karena Ardi asyik menonton pertandingan sepak bola.

Sekitar pukul sebelas, terdengar suara barang jatuh dari kamar.

Ardi berlari masuk.

Bu Marni sudah setengah tergelincir dari ranjang.

Selimutnya basah.

Tubuhnya gemetar.

“Ya Allah, Ma!”

Ardi panik.

Pak Harun muncul di pintu kamar.

Begitu mencium bau, dia langsung menutup hidung.

“Bereskan cepat. Bau sampai ruang depan.”

Ardi menatap ayahnya.

“Pak, tolong ambilkan air hangat.”

“Bapak sudah mengantuk.”

Kemudian Pak Harun benar-benar pergi.

Malam itu, untuk pertama kalinya, tidak ada aku.

Tidak ada ibuku.

Tidak ada pengasuh perempuan yang bisa mereka panggil.

Hanya ada dua laki-laki yang selama bertahun-tahun paling keras bicara soal kewajiban keluarga.

Dan seorang perempuan tua yang tubuhnya tidak lagi bisa mengikuti kehendaknya sendiri.

Pukul 01.17 dini hari, ponselku menerima enam panggilan tak terjawab dari Ardi.

Pesan ketujuh membuatku duduk tegak di kamar hotel.

“Rani, pulanglah besok. Aku nggak sanggup begini seminggu.”

Aku membaca pesan itu dua kali.

Lalu layar ponselku menyala lagi.

Kali ini bukan dari Ardi.

Pesan datang dari Bu Siska, tetangga sebelah rumah kami.

“Rani, maaf aku ikut campur. Tadi ibunya Ardi menangis keras. Aku masuk karena pintunya terbuka.”

Di bawah pesan itu ada sebuah video berdurasi dua menit tiga puluh enam detik.

Tanganku mendadak dingin ketika menekan tombol putar.

Kalau seseorang benar-benar berbakti, tanggung jawabnya tidak boleh berhenti pada air mata.

#DramaKeluarga #KisahRumahTangga #MenantuIndonesia #SuamiIstri #CeritaKehidupan

Bagian 2 — Tujuh Hari Tanpa Perempuan yang Bisa Disuruh Membuka Topeng Kesalehan, dan Satu Rekaman Membuat Suamiku Panik di Depan Keluarganya Sendiri

Dalam video Bu Siska, Bu Marni duduk di lantai dekat kamar mandi.

Celananya basah.

Tangannya gemetar hebat.

Ardi berdiri beberapa langkah di depannya.

“Aku kan sudah bilang, Ma, jangan berdiri sendiri!”

Nada suaranya tinggi.

Bukan khawatir.

Marah.

Bu Marni mencoba menjawab, tetapi hanya beberapa suku kata yang terdengar.

Pak Harun muncul dari ruang depan.

“Sudahlah. Telepon istrimu suruh pulang.”

Ardi mengusap wajah.

“Dia nggak mau.”

“Jadi buat apa punya istri?”

Dadaku langsung sesak mendengarnya.

Kemudian Bu Siska masuk dan membantu mengangkat Bu Marni.

Video berakhir.

Aku menelepon Bu Siska.

“Mbak, kondisinya bagaimana?”

“Sudah di tempat tidur. Aku bantu bersihkan sebisanya.”

“Terima kasih.”

“Rani… aku cuma mau bilang satu hal. Ibu itu bukan merepotkan. Beliau sakit.”

Aku menutup mata.

“Aku tahu.”

Malam itu juga aku menghubungi perawat lansia harian yang pernah kurekomendasikan kepada Ardi beberapa bulan lalu.

Dulu dia menolak karena menurutnya biaya Rp350 ribu per hari “kemahalan”.

Sekarang aku meminta perawat itu datang esok pagi.

Bukan karena ingin menyelamatkan Ardi.

Aku melakukannya untuk Bu Marni.

Aku juga memberitahu Ardi.

Jawabannya?

“Kenapa baru sekarang?”

Aku hampir tertawa.

“Karena sekarang kamu sudah tahu pekerjaan yang selama ini kamu anggap gampang.”

Hari ketiga, Ardi meneleponku lagi.

Kali ini tidak marah.

Dia justru terdengar lelah.

“Pengasuh ini mahal, Ran.”

“Ya.”

“Kalau sebulan bisa lebih dari sepuluh juta.”

“Ya.”

“Apa nggak lebih baik ibumu pulang saja? Kan beliau memang di rumah.”

Aku terdiam beberapa detik.

Jadi akhirnya keluar juga.

Inilah jawaban yang sejak awal ingin kudengar dengan telingaku sendiri.

“Kenapa ibuku?”

“Ya bukan maksudku begitu. Cuma beliau kan sudah biasa mengurus rumah.”

“Dan karena biasa, berarti boleh sekalian membersihkan ibumu?”

“Jangan dipelintir.”

“Aku tidak memelintir apa pun.”

Suaraku tetap tenang.

“Kamu hanya sedang mengatakan rencana yang sejak awal ada di kepalamu.”

Dia langsung memutus telepon.

Hari keempat, Pak Harun pulang ke Cirebon.

Alasannya ada rapat warga.

Padahal menurut tetangga kampung yang kebetulan dikenal ibuku, tidak ada rapat apa pun.

Dia hanya tidak tahan tinggal serumah dengan istrinya yang membutuhkan bantuan setiap beberapa jam.

Ardi kini benar-benar sendirian.

Hari kelima, dia mulai terlambat masuk kantor.

Hari keenam, dia mendapat teguran atasannya.

Malamnya, dia meneleponku sambil marah.

“Sejak Mama datang, hidupku berantakan!”

Aku menatap layar laptop.

“Kamu sendiri yang ingin membawanya.”

“Tapi aku nggak menyangka separah ini!”

“Itulah masalahnya, Di.”

“Apa?”

“Selama ini kamu menyebut dirimu anak yang paling peduli, padahal kamu bahkan tidak benar-benar tahu kebutuhan ibumu.”

Dia diam.

Aku melanjutkan.

“Kamu menangis setelah menelepon beliau. Kamu marah pada pengasuh. Kamu menyalahkan ayahmu. Tapi kamu tidak pernah belajar cara memindahkan pasien, jadwal obat, kebutuhan fisioterapi, risiko jatuh, atau bahkan jenis makanan yang aman.”

“Jadi sekarang kamu mau ceramah?”

“Tidak.”

Aku menutup laptop.

“Aku cuma ingin kamu berhenti mengira rasa sedih sama dengan tanggung jawab.”

Dia membanting telepon.

Hari ketujuh, aku kembali ke Bekasi.

Ketika membuka pintu, hal pertama yang kucium adalah bau minyak kayu putih bercampur obat.

Bu Marni sedang duduk bersama perawat.

Begitu melihatku, matanya langsung basah.

Aku berlutut dan memegang tangannya.

“Ma, Rani pulang.”

Bibirnya bergetar.

“Ra…ni…”

Hanya namaku yang berhasil keluar.

Aku hampir menangis.

Sore itu aku mengantar beliau ke dokter bersama perawat.

Dokter mengganti beberapa jadwal obat dan meminta keluarga memastikan beliau tidak dibiarkan bergerak sendiri.

Ardi tidak ikut.

Katanya ada pekerjaan.

Padahal aku melihat unggahan temannya.

Dia sedang duduk di warung kopi.

Malamnya, ketika aku kembali, ruang tamu penuh orang.

Pak Harun ada di sana.

Adik perempuan Ardi, Tika, juga datang bersama suaminya.

Di atas meja tergeletak beberapa lembar kertas.

Ardi duduk dengan wajah dingin.

“Akhirnya pulang.”

Aku menaruh tas.

“Ada apa?”

Pak Harun lebih dulu bicara.

“Selama seminggu ini kamu mempermalukan suamimu.”

Aku tidak menjawab.

Ardi menunjuk kursi.

“Duduk.”

Aku tetap berdiri.

“Aku sudah pikirkan semuanya,” katanya.

“Rumah tangga nggak bisa dilanjutkan kalau istri nggak menghormati keluarga suami.”

Aku melihat kertas di meja.

Surat permohonan cerai yang sudah dia persiapkan.

Tika tampak gelisah.

“Mas, jangan emosian dulu.”

Tapi Ardi malah menatapku tajam.

“Aku kasih pilihan. Minta maaf ke Bapak, berhenti bersikap egois, dan mulai ikut mengurus Mama seperti seharusnya…”

Dia mendorong kertas itu ke arahku.

“…atau kita cerai.”

Ruangan mendadak sunyi.

Pak Harun menyilangkan tangan di dada.

Wajahnya menunjukkan keyakinan bahwa aku pasti takut.

Mungkin mereka mengira aku akan menangis.

Memohon.

Atau berjanji berubah.

Aku justru menarik kursi, duduk, mengambil pulpen dari dalam tas dan membalik halaman terakhir.

Ardi langsung berdiri.

“Kamu mau apa?”

“Membaca dulu.”

Aku memeriksa seluruh isi dokumen.

Lalu mengambil map biru dari tasku dan meletakkannya di atas meja.

“Aku juga membawa beberapa dokumen.”

Wajah Ardi berubah.

“Dokumen apa?”

Aku menatapnya lurus.

“Rekening keluarga, bukti pembayaran apartemen, rekaman percakapan, laporan perawat, dan satu video dari Bu Siska.”

Pak Harun langsung berdiri.

“Video apa?”

Aku membuka pulpen.

“Tapi bukankah tadi kalian ingin bicara soal siapa yang tidak menghormati keluarga?”

Untuk pertama kalinya malam itu, tidak ada satu pun dari mereka yang menjawab.

Dan tanpa menunggu Ardi mengulang ancamannya, aku menandatangani halaman terakhir.

“Kalau cerai yang kamu mau,” kataku sambil menggeser kertas kembali kepadanya, “aku setuju.”

Wajah Ardi seketika pucat.

Dia menatap tanda tanganku seperti baru sadar bahwa ancamannya ternyata bukan senjata.

Itu pintu keluar.

Dan aku baru saja membukanya sendiri.

Bagian 3 — Ketika Ia Menuntut Cerai untuk Menghukumku, Aku Menandatangani Tanpa Ragu dan Membiarkan Semua Bukti Berbicara di Ruang Mediasi di Hadapan Keluarganya

“Kamu serius?”

Ardi memegang kertas itu.

Tangannya sedikit gemetar.

“Serius.”

“Tujuh tahun pernikahan kamu buang begitu saja?”

Aku hampir tidak percaya mendengar kalimat itu.

“Kamu yang meletakkan surat cerai di meja.”

“Aku cuma mau kamu sadar!”

“Nah.”

Aku mengangguk.

“Sekarang aku sadar.”

Pak Harun langsung menyela.

“Perempuan kalau sudah punya penghasilan memang begini. Merasa tidak butuh suami.”

Aku menoleh kepadanya.

“Bukan karena saya punya penghasilan, Pak.”

Aku menunjuk kamar Bu Marni.

“Saya hanya tidak mau hidup di rumah yang menganggap merawat orang tua adalah kewajiban perempuan, sementara laki-laki cukup bicara soal bakti.”

Wajahnya memerah.

Ardi membentak,

“Jangan bawa Bapak!”

“Aku justru tidak perlu membawa siapa-siapa.”

Aku membuka map biru.

Di dalamnya ada catatan cicilan rumah, tabungan, transfer bulanan, dan pembayaran kebutuhan rumah tangga selama beberapa tahun.

Apartemen kami memang dibeli setelah menikah.

Tetapi uang muka terbesar berasal dari tabunganku sebelum menikah dan bantuan ibuku.

Selama enam tahun berikutnya, aku membayar lebih dari separuh cicilan melalui rekening pribadiku.

Aku tidak mengatakan apartemen otomatis menjadi milikku.

Aku tahu pembagian harta harus diselesaikan secara resmi.

Tapi setidaknya Ardi tidak bisa lagi menggunakan kalimat, “Keluar saja dari rumahku,” seperti yang beberapa kali pernah dia ucapkan saat kami bertengkar.

“Semua kita selesaikan secara hukum,” kataku.

“Hak asuh Naya juga.”

Ardi menelan ludah.

“Naya anakku.”

“Dan anakku.”

“Aku nggak akan kasih.”

“Aku juga tidak minta keputusan malam ini.”

Aku merapikan dokumen.

“Nanti mediator dan pengadilan yang menilai kondisi kami masing-masing.”

Tidak ada ancaman.

Tidak ada teriakan.

Itu justru membuat Ardi semakin gugup.

Dua minggu kemudian, proses mediasi dimulai.

Di sana, tidak ada panggung untuk air mata palsu.

Yang dibahas adalah pengasuhan anak, keuangan, tempat tinggal, dan tanggung jawab nyata.

Aku tidak meminta Ardi dihukum.

Aku hanya berhenti melindunginya dari akibat pilihannya sendiri.

Hal yang paling mengejutkan justru datang dari Bu Marni.

Setelah kondisinya lebih stabil, Tika memutuskan membawa ibunya ke rumahnya sementara.

Tika bekerja dari rumah dan sepakat membagi biaya perawat dengan saudara-saudaranya.

Untuk pertama kalinya, perawatan Bu Marni dibicarakan sebagai tanggung jawab keluarga, bukan otomatis dilempar kepada satu menantu perempuan.

Suatu sore Tika meneleponku.

“Mbak…”

“Iya?”

“Mama mau bicara.”

Suara Bu Marni terdengar pelan dari seberang.

“Ra…ni…”

Aku menunggu.

“Ma…af.”

Air mataku langsung jatuh.

“Jangan minta maaf, Ma.”

Beliau bukan penyebab semua ini.

Beliau hanya orang sakit yang tubuhnya semakin hari semakin sulit dikendalikan.

Yang salah adalah orang-orang sehat yang terus berebut hak untuk disebut paling berbakti, tetapi saling mundur ketika harus membersihkan kotoran, mengangkat tubuh, membeli obat, atau kehilangan waktu tidur.

Tiga bulan kemudian, perceraian kami selesai.

Pembagian harta diselesaikan melalui kesepakatan setelah proses hukum dan perhitungan kontribusi masing-masing.

Apartemen akhirnya dijual.

Bagian yang menjadi hakku kugunakan sebagai uang muka rumah kecil dekat sekolah Naya.

Hak pengasuhan utama Naya berada padaku, sementara Ardi tetap mendapat waktu bertemu sesuai kesepakatan.

Aku tidak pernah melarang Naya menemui ayahnya.

Kesalahan Ardi sebagai suami bukan alasan bagiku untuk mengajarkan anak membenci ayahnya.

Sementara itu, hidup Ardi berubah drastis.

Setelah berpisah, tidak ada lagi ibu mertuaku yang bisa dititipi pekerjaan rumah.

Tidak ada aku yang membayar tagihan diam-diam.

Tidak ada ibuku yang menyiapkan makan malam dan mengurus anak.

Dia pindah ke kontrakan lebih kecil.

Untuk biaya perawatan Bu Marni, dia, Tika, dan satu saudara mereka diwajibkan keluarga menyetor jumlah yang disepakati setiap bulan.

Awalnya Ardi keberatan.

“Kenapa aku paling banyak?”

Tika hanya mengirim satu kalimat di grup keluarga.

“Karena dulu Mas yang paling keras bilang Mama adalah tanggung jawab anak.”

Sejak itu grup menjadi sunyi.

Pak Harun akhirnya kembali tinggal di Cirebon.

Namun setelah kejadian di rumahku, anak-anaknya membuat jadwal bergantian untuk memastikan Bu Marni tidak lagi ditinggalkan hanya dengan dirinya.

Kalau Pak Harun menolak membantu, perawat tetap datang.

Biayanya dipotong dari uang pensiun dan kontribusi anak-anak.

Tidak ada lagi drama tentang “laki-laki tidak pantas membersihkan orang sakit”.

Karena saat tagihan datang setiap bulan, semua orang akhirnya memahami bahwa perawatan punya harga.

Enam bulan setelah perceraian, aku menjemput Naya dari sekolah.

Dia berlari sambil membawa gambar rumah.

“Ini rumah kita.”

Aku melihat kertasnya.

Ada rumah kecil, pohon mangga, tiga orang perempuan berdiri di depan pintu.

Naya.

Aku.

Dan ibuku.

“Ayah di mana?” tanyaku hati-hati.

Naya menunjuk sudut kanan gambar.

Ada sosok laki-laki memegang balon.

“Ayah datang hari Minggu.”

Aku tersenyum.

Tidak semua keluarga bahagia harus tinggal di bawah satu atap.

Kadang-kadang rumah justru menjadi lebih sehat setelah orang-orang berhenti memaksakan sesuatu yang sudah rusak.

Beberapa bulan kemudian, aku bertemu Bu Marni lagi saat ulang tahun Naya.

Beliau datang bersama Tika dan perawat.

Tubuhnya masih gemetar, tetapi wajahnya tampak lebih bersih dan tenang.

Aku membantu merapikan syalnya.

Tiba-tiba beliau menggenggam pergelangan tanganku.

“Ba…hagia.”

Aku terdiam.

“Mama ingin Rani bahagia?”

Beliau mengangguk.

Aku tersenyum sambil menahan air mata.

“Iya, Ma. Sekarang Rani bahagia.”

Di seberang ruangan, Ardi berdiri sendirian.

Tatapan kami bertemu.

Tidak ada lagi kemarahan di wajahku.

Juga tidak ada keinginan untuk kembali.

Beberapa konsekuensi tidak datang sebagai hukuman besar.

Kadang konsekuensi itu hanya berupa kehidupan sehari-hari yang akhirnya harus dijalani seseorang tanpa perempuan-perempuan yang selama ini diam-diam membereskan semua masalahnya.

Aku tidak menyesal pergi dinas selama tujuh hari itu.

Karena tujuh hari tersebut menunjukkan sesuatu yang tidak mampu dijelaskan oleh tujuh tahun pernikahan.

Orang yang paling sering menangis belum tentu orang yang paling peduli.

Orang yang paling keras bicara tentang bakti belum tentu orang yang siap berkorban.

Dan menjadi istri yang baik tidak berarti harus mengorbankan ibu sendiri, karier sendiri, kesehatan sendiri, serta harga diri sendiri agar seorang suami bisa terlihat seperti anak teladan di mata orang lain.

Hari itu aku pulang sambil menggandeng Naya.

Mama berjalan di sampingku.

Rumah kecil kami mungkin tidak semewah apartemen lama.

Tetapi untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ketika membuka pintu aku tidak merasa sedang masuk ke tempat penuh kewajiban.

Aku merasa pulang.