Baru Tiga Puluh Menit Aku Duduk di Rumah Ibu pada Hari Kedua Lebaran, Ibu Mertua Menelepon 40 Kali—Lalu Kakakku Merebut Ponselku dan Satu Kalimatnya Membuat Keluarga Suamiku Terdiam

Avatar penulis
Cerita 03
16 menit baca 46 tayangan
Indeks

Baru Tiga Puluh Menit Aku Duduk di Rumah Ibu pada Hari Kedua Lebaran, Ibu Mertua Menelepon 40 Kali—Lalu Kakakku Merebut Ponselku dan Satu Kalimatnya Membuat Keluarga Suamiku Terdiam

Bagian 1 — Empat Puluh Panggilan Tak Terjawab Mengubah Kunjungan Lebaranku Menjadi Pengadilan, dan Kakakku Akhirnya Menyadari Hidup yang Selama Ini Kusembunyikan Rapat-Rapat

Hari kedua Lebaran, aku baru tiga puluh menit duduk di ruang tamu rumah orang tuaku di Bogor ketika ponselku mulai bergetar.

Nama yang muncul di layar membuat tanganku langsung kaku.

“Ibu Ratna.”

Ibu mertuaku.

Aku berdiri dan berjalan ke teras supaya orang tuaku tidak mendengar pembicaraan kami.

Begitu kuangkat, suaranya langsung menyambar tanpa salam.

“Nadia, kamu sudah sampai rumah ibumu?”

“Sudah, Bu. Baru saja.”

“Kalau begitu jangan lama-lama. Nanti setelah Zuhur Tante Yuni, keluarga Om Joko dari Karawang, sama sepupu-sepupunya Raka mau datang. Ibu sudah beli daging, ayam, kentang, semuanya. Kamu pulang sebelum jam sebelas supaya sempat masak.”

Aku menatap halaman rumah orang tuaku.

Di bawah pohon mangga, Ayah sedang membakar sate ayam karena sejak seminggu lalu dia sudah berjanji akan membuatkan makanan kesukaanku.

Ibu berada di dapur, memanaskan opor dan sambal goreng kentang sambil berkali-kali bertanya apakah aku ingin teh manis atau es sirup.

Kakakku, Ardi, bahkan baru saja pergi ke warung membeli kerupuk udang karena dia ingat aku selalu mencarinya setiap Lebaran.

Aku baru sampai.

Kerudungku bahkan belum kulepas.

Gelas teh yang dibuat Ibu masih mengepul di meja.

“Bu,” kataku pelan, “hari ini saya ingin bersama Ayah dan Ibu dulu. Kami sudah bilang dari kemarin kalau hari kedua Lebaran giliran mengunjungi keluarga saya.”

Suara Ibu Ratna langsung meninggi.

“Kamu kan tidak harus seharian di sana. Ngobrol dengan orang tua bisa kapan saja. Tamu sebanyak itu siapa yang mau urus? Ibu sudah tua. Raka mana bisa masak.”

Aku memejamkan mata.

“Raka bisa membantu, Bu.”

“Hah? Raka?”

Nada suaranya seperti aku baru saja menyuruh seorang direktur perusahaan mencuci selokan.

“Suamimu itu laki-laki, Nadia. Masa hari Lebaran disuruh berdiri di dapur?”

Aku tidak menjawab.

“Nanti jam sepuluh berangkat, ya. Jangan bikin Ibu telepon berkali-kali.”

Sambungan terputus.

Aku kembali masuk.

Raka sedang duduk di sebelah Ayah sambil memainkan ponselnya.

Dia melirikku.

“Ibu?”

Aku mengangguk.

“Nyuruh pulang?”

Aku mengangguk lagi.

Raka menghela napas pendek.

“Kamu tahu sendiri sifat Ibu. Nanti kita lihat saja.”

Kalimat “nanti kita lihat saja” sudah menjadi kalimat favorit suamiku selama tiga tahun pernikahan kami.

Artinya sederhana.

Aku yang akhirnya harus mengalah.

Belum sepuluh menit, ponselku bergetar lagi.

Panggilan kedua.

Aku diamkan.

Panggilan ketiga.

Lalu keempat.

Kelima.

Setelah itu pesan WhatsApp mulai masuk.

“Nadia, sudah berangkat?”

“Dagingnya belum dipotong.”

“Cabainya sekalian diulek.”

“Jangan lupa bikin sop buntut yang kemarin.”

“Telepon Ibu.”

Aku membalik ponsel dengan layar menghadap meja.

Ibu yang sedang mengupas jeruk di depanku memperhatikan wajahku.

“Kamu kenapa, Nak?”

“Tidak apa-apa, Bu.”

Aku berbohong.

Ponsel terus bergetar.

Sampai meja kayu ikut berdengung kecil.

Bzzzt.

Bzzzt.

Bzzzt.

Raka menoleh.

“Angkat saja, Nad. Daripada Ibu makin marah.”

Aku menatapnya.

“Kalau aku angkat, apa dia berhenti menyuruhku pulang?”

Raka diam.

Jawabannya ada di wajahnya.

Tidak.

Aku mematikan suara ponsel.

Namun layar tetap menyala berkali-kali.

Dua puluh tiga panggilan.

Dua puluh sembilan.

Tiga puluh lima.

Ketika aku memegang ponsel lagi, angka merah di layar menunjukkan empat puluh panggilan tak terjawab.

Empat puluh.

Tanganku gemetar.

Bukan karena takut dimarahi.

Tapi karena tiba-tiba aku sadar betapa tidak wajarnya semua ini.

Ibu mendekat.

“Nadia, sebenarnya apa yang terjadi di rumahmu?”

Aku ingin mengatakan semuanya baik-baik saja.

Seperti yang selalu kulakukan.

Tetapi sebelum sempat menjawab, Ardi mengambil ponsel dari tanganku.

Wajahnya berubah setelah melihat riwayat panggilan.

“Empat puluh?”

Aku menunduk.

“Ini semua dari ibu mertuamu?”

Aku mengangguk.

“Karena kamu belum pulang masak?”

Aku kembali mengangguk.

Rahang Ardi mengeras.

Selama hampir tiga tahun menikah, aku memang tidak pernah menceritakan semuanya kepada keluargaku.

Karena sejak hari pertama menikah, aku selalu percaya bahwa menjadi istri berarti harus pandai menjaga rumah tangga.

Termasuk menjaga keburukan rumah tangga agar tidak diketahui orang lain.

Tiga hari setelah pernikahanku dengan Raka, Ibu Ratna pernah mengajakku masuk ke dapur.

Dia menunjukkan tempat beras, minyak, bumbu, sampai cairan pembersih lantai.

“Nadia, keluarga kita sebenarnya sederhana,” katanya waktu itu. “Raka dari kecil memang tidak pernah pegang urusan rumah. Jadi sekarang kalau ada kamu, Ibu lebih tenang.”

Saat itu aku justru merasa dipercaya.

Aku bekerja sebagai staf keuangan di sebuah perusahaan distribusi di Bekasi. Setiap pagi aku berangkat pukul tujuh dan sering baru pulang selepas Magrib.

Raka juga bekerja.

Tapi entah bagaimana, lelahnya Raka dianggap alasan untuk beristirahat.

Sedangkan lelahku dianggap bagian dari kewajiban.

Aku pulang kantor, mengganti pakaian, lalu masuk dapur.

Aku memasak.

Mencuci piring.

Mengepel lantai.

Melipat pakaian.

Membersihkan kamar mandi.

Raka biasanya berbaring sambil menonton video di ponsel.

Kalau aku lewat membawa ember, dia mengangkat kaki dan berkata sambil tersenyum,

“Makasih ya, Sayang. Kamu memang istri paling rajin.”

Dulu aku senang mendengarnya.

Sampai akhirnya aku sadar, pujian adalah cara termurah untuk membuat seseorang terus bekerja tanpa pernah benar-benar dibantu.

Setahun lalu, setelah tekanan darahnya beberapa kali naik, Ibu Ratna pindah tinggal bersama kami supaya lebih dekat dengan rumah sakit.

Sejak itu, namaku seperti tombol pemanggil layanan rumah tangga.

“Nadia, gelas di dapur habis.”

“Nadia, besok beli minyak.”

“Nadia, gorden ruang tamu sudah kotor.”

“Nadia, lemari atas berdebu.”

“Nadia, hari Minggu bersihkan kulkas.”

Dan setiap Raka mencoba membelaku, ibunya akan berkata,

“Perempuan zaman sekarang baru kerja kantoran sedikit sudah merasa paling capek. Dulu Ibu mengurus rumah sambil membesarkan dua anak.”

Raka selalu berhenti bicara.

Aku pun ikut diam.

Puncaknya terjadi lima bulan lalu.

Saat itu suhu tubuhku 38,9 derajat.

Kepalaku berdenyut dan kakiku seperti tidak punya tenaga.

Tetapi sore itu ada arisan keluarga.

Ibu Ratna sudah mengundang sebelas orang.

“Acaranya sudah dijanjikan,” katanya. “Masa dibatalkan cuma gara-gara demam?”

Aku memasak sambil beberapa kali duduk di lantai dapur karena pandanganku berkunang-kunang.

Setelah semua tamu pulang, Raka berkata,

“Piringnya biar besok saja.”

Ibu Ratna langsung menjawab,

“Kalau ditinggal semalaman bau. Cuci sebentar juga selesai.”

Malam itu aku mencuci lebih dari tiga puluh piring dan gelas sambil menggigil.

Air mataku jatuh ke wastafel.

Tapi pagi berikutnya aku tetap bekerja.

Aku pikir itulah caranya menjaga rumah tangga.

Menelan.

Diam.

Memaafkan.

Mengalah.

Semakin lama, mereka semakin lupa bahwa aku juga punya batas.

Seminggu sebelum Lebaran tahun ini, Ibu Ratna bahkan sudah membuat daftar pekerjaan.

Cuci gorden.

Bersihkan kipas.

Lap semua jendela.

Cuci sarung sofa.

Susun ulang lemari dapur.

Belanja bahan makanan.

Masak untuk malam takbiran.

Hari pertama Lebaran aku berdiri di dapur sejak pukul lima pagi.

Dan satu-satunya permintaanku hanya satu.

“Hari kedua aku mau seharian di rumah Ayah dan Ibu.”

Waktu itu Ibu Ratna menjawab santai.

“Iya, sana. Masa Ibu melarang.”

Sekarang, baru tiga puluh menit aku duduk bersama ibuku sendiri, dia menelepon empat puluh kali.

Ardi menatap Raka.

“Kamu tahu selama ini adikku diperlakukan begini?”

Raka mengusap wajahnya.

“Tidak separah yang kamu pikir, Di.”

Aku menoleh kepadanya.

Untuk pertama kalinya, kalimat itu menyakitiku lebih daripada semua perintah ibunya.

Tidak separah yang kamu pikir?

Ardi tidak menjawab.

Dia hanya menekan tombol panggil balik.

Aku refleks ingin merebut ponsel.

“Mas, jangan.”

Ardi mengangkat satu tangan.

“Tidak. Kali ini aku mau dengar sendiri.”

Panggilan tersambung.

Belum sempat Ardi bicara, suara Ibu Ratna langsung terdengar keras dari speaker.

“Nadia! Kamu itu bagaimana? Ibu telepon empat puluh kali tidak diangkat! Kamu mau mempermalukan Ibu di depan keluarga?”

Ardi menarik napas.

“Bu Ratna, saya Ardi, kakaknya Nadia.”

Hening dua detik.

Kemudian suara Ibu Ratna berubah dingin.

“Oh. Nadia suruh kamu bicara?”

“Tidak. Saya cuma mau bertanya. Kenapa adik saya harus pulang untuk memasak sementara di rumah ada Raka dan beberapa orang dewasa lainnya?”

“Ini urusan rumah tangga Nadia.”

“Kalau sampai empat puluh kali menelepon karena dia pulang menjenguk orang tuanya, menurut saya ini bukan sekadar urusan memasak.”

Ibu Ratna tertawa kecil.

Lalu dia mengucapkan kalimat yang membuat seluruh ruang tamu kami membeku.

“Kalau Nadia merasa rumah orang tuanya lebih penting daripada rumah suaminya, bilang saja jangan pulang lagi ke rumah saya!”

Ayah meletakkan cangkirnya.

Ibu menutup mulut.

Aku merasa darah di tubuhku turun ke kaki.

Ardi menatap lurus kepada Raka.

Lalu perlahan dia menggeser ponsel ke depan suamiku.

“Kamu dengar sendiri, kan?”

Raka pucat.

Namun suara ibunya belum berhenti.

“Dan bilang kepada Nadia, kalau sebelum Zuhur dia belum sampai rumah, mulai hari ini tidak usah menganggap saya sebagai ibunya!”

Untuk pertama kalinya selama tiga tahun, aku tidak merasa takut mendengar ancaman itu.

Aku justru merasa sesuatu di dalam diriku akhirnya putus.

Bukan pernikahanku.

Bukan hubunganku dengan keluarga suami.

Yang putus adalah tali yang selama ini mengikat mulutku agar terus diam.

#DramaKeluarga #KisahRumahTangga #CeritaLebaran #IstriBukanPembantu #CeritaViral

Bagian 2 — Saat Kakakku Menjawab Telepon Itu, Ibu Mertuaku Mengucapkan Satu Kalimat yang Membuat Suamiku Akhirnya Memilih Pihak di Depan Semua Orang

Ardi tidak membentak.

Justru karena suaranya sangat tenang, kata-katanya terdengar semakin tajam.

“Baik, Bu Ratna. Saya pegang ucapan Ibu. Nadia tidak akan pulang untuk memasak hari ini.”

“Apa?”

“Nadia datang ke rumah orang tuanya sebagai anak. Bukan sebagai koki yang boleh dipanggil kapan saja.”

“Jaga bicaramu!”

“Saya sedang menjaganya, Bu.”

Sambungan tiba-tiba terputus.

Aku menatap lantai.

Aneh.

Selama bertahun-tahun aku takut kalau keluargaku mengetahui masalah rumah tanggaku, mereka akan membuat keadaan lebih buruk.

Nyatanya, yang kurasakan saat itu bukan malu.

Melainkan lega.

Raka berdiri.

“Nad, kita jangan bikin masalah ini tambah besar. Aku pulang dulu. Kamu menyusul nanti sore saja.”

Aku mengangkat wajah.

“Untuk apa aku menyusul?”

Raka terdiam.

“Supaya Ibu tidak marah?”

“Bukan begitu.”

“Supaya tamumu ada yang masak?”

“Nadia…”

“Jawab saja.”

Ruangan menjadi sunyi.

Aku melanjutkan.

“Kalau aku tidak pulang hari ini, apa yang terjadi?”

Raka tidak bisa menjawab.

Aku tersenyum tipis.

“Tidak terjadi apa-apa, kan? Kalian tetap bisa makan. Bisa pesan makanan. Bisa masak sendiri. Yang terjadi cuma Ibumu marah karena untuk pertama kalinya aku tidak menuruti perintahnya.”

Raka menunduk.

Aku mengambil ponselku.

Ada pesan baru.

Bukan dari Ibu Ratna.

Dari grup keluarga besar Raka.

Ibu Ratna menulis:

“Maaf kalau jamuan hari ini kurang maksimal. Menantu saya memilih tinggal bersenang-senang di rumah orang tuanya meskipun sudah tahu keluarga besar akan datang.”

Dadaku panas.

Aku hampir membalas.

Tetapi pesan berikutnya muncul dari Tante Dewi.

“Kak Ratna, bukannya kemarin Nadia sudah masak dari pagi sampai malam? Hari ini memang jadwal dia pulang ke orang tuanya, kan?”

Lalu sepupu Raka ikut menulis.

“Kalau butuh bantuan, kami datang lebih cepat saja. Jangan semua dibebankan ke Mbak Nadia.”

Ibu Ratna langsung berhenti menulis.

Ternyata selama ini aku terlalu takut pada rasa malu yang bahkan bukan milikku.

Raka pulang sendirian sekitar pukul sebelas.

Aku tetap tinggal.

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku makan siang hari raya bersama keluargaku tanpa berkali-kali melihat jam.

Aku menyuapi Ibu potongan sate.

Mendengar Ayah bercerita.

Berdebat dengan Ardi soal sambal.

Hal-hal kecil yang selama ini sering kulewatkan karena selalu terburu-buru pulang.

Sementara itu, rumah mertuaku berubah menjadi kekacauan.

Aku mengetahuinya dari Raka malam itu.

Saat dia sampai, Ibu Ratna sudah memotong daging tetapi belum menyiapkan bumbu.

Ayam masih berada di kulkas.

Kentang belum dikupas.

Tamu pertama datang pukul setengah dua belas.

Ibu Ratna menyuruh Raka memasak nasi.

Raka bahkan tidak tahu ukuran air yang biasa kupakai.

Nasinya terlalu lembek.

Kuah sop terlalu asin.

Daging yang direbus belum empuk ketika keluarga dari Karawang tiba.

Akhirnya Raka terpaksa memesan paket katering Lebaran secara mendadak.

Totalnya Rp3,4 juta karena pemesanan terakhir dan jumlah tamunya banyak.

Selama ini mereka menganggap pekerjaanku “cuma memasak”.

Hari itu mereka baru mengetahui harga dari kata “cuma”.

Yang lebih membuat Ibu Ratna malu, beberapa tamu bertanya langsung,

“Nadia mana?”

Dia menjawab,

“Ngambek di rumah orang tuanya.”

Namun Tante Dewi rupanya sudah membaca percakapan grup.

Dia berkata di depan yang lain,

“Bukan ngambek. Dia memang pulang Lebaran ke keluarganya. Kita juga tidak perlu datang kalau membuat orang lain sampai tidak bisa bertemu orang tuanya sendiri.”

Raka bercerita, wajah ibunya langsung berubah.

Malam sekitar pukul delapan, ponselku berdering.

Raka.

Kali ini kuangkat.

“Nad.”

Suaranya terdengar berbeda.

Tidak defensif.

Tidak menyuruhku mengerti ibunya.

“Aku minta maaf.”

Aku diam.

“Aku selama ini selalu bilang jangan diperpanjang karena sebenarnya aku pengecut.”

Dadaku sesak.

“Aku tahu kamu capek. Aku tahu Ibu kelewatan. Tapi selama kamu masih mau mengalah, aku memilih diam karena itu paling mudah buatku.”

Aku memejamkan mata.

Akhirnya.

Bukan pembelaan.

Bukan alasan.

Pengakuan.

Lalu terdengar suara Ibu Ratna di belakang.

“Kamu bicara sama dia?”

Raka menjauh dari ponsel.

“Iya.”

“Bilang besok pulang. Rumah berantakan.”

Aku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Karena kalimat itu menjelaskan semuanya.

Aku bukan sedang dirindukan.

Tenagaku yang dirindukan.

Raka tiba-tiba berkata,

“Bu, Nadia tidak akan pulang ke sini kalau keadaannya tetap seperti ini.”

Sunyi.

“Apa?”

“Kita harus berubah.”

“Kita?”

“Iya. Termasuk aku.”

Suara Ibu Ratna meninggi.

“Jadi sekarang kamu membela istrimu dan menyalahkan ibu sendiri?”

“Aku tidak sedang memilih siapa yang lebih aku sayang. Aku sedang mengakui kalau kita salah.”

Lalu terdengar sesuatu seperti kursi bergeser keras.

Ibu Ratna berteriak,

“Kalau istrimu sekarang lebih penting daripada ibumu, pergi saja! Rumah ini rumah Ibu!”

Sambungan menjadi sunyi beberapa detik.

Raka tidak menjawab ibunya.

Dia hanya berkata kepadaku,

“Nad, nanti aku hubungi lagi.”

Telepon mati.

Hampir satu jam kemudian sebuah foto masuk.

Dua koper berada di depan pintu rumah mertua.

Di sampingnya ada ransel kerja Raka.

Lalu pesan pendek.

“Aku sudah keluar.”

Aku menatap layar lama sekali.

Pesan kedua masuk.

“Kalau kamu masih memberiku kesempatan, aku ingin belajar menjadi suamimu. Bukan anak yang terus bersembunyi di belakang ibunya.”

Bagian 3 — Mereka Mengira Aku Akan Pulang dan Memasak Seperti Biasa, Tetapi Hari Itu Justru Menjadi Lebaran Pertama Saat Aku Memilih Diriku Sendiri

Raka datang ke rumah orang tuaku hampir pukul sebelas malam.

Dia tidak masuk dengan gaya seorang suami yang merasa otomatis akan dimaafkan.

Dia berdiri di teras bersama dua koper dan menunggu.

Ayah yang membukakan pintu.

“Ada apa?”

“Saya keluar dari rumah Ibu, Yah.”

Ayah menatap koper di belakangnya.

“Terus?”

Raka menelan ludah.

“Saya mau minta maaf kepada Nadia. Tapi saya tidak akan memaksa dia menerima saya malam ini.”

Ayah memanggilku.

Aku keluar.

Wajah Raka terlihat lelah.

Namun aku tidak berlari memeluknya.

Satu tindakan benar tidak bisa menghapus tiga tahun pembiaran.

“Aku senang kamu akhirnya bicara,” kataku. “Tapi aku tidak mau kembali ke kehidupan yang sama.”

Raka mengangguk.

“Aku tahu.”

“Aku tidak akan tinggal serumah dengan Ibumu lagi.”

“Iya.”

“Pekerjaan rumah bukan tugasku sendiri.”

“Iya.”

“Kalau Ibumu menghina atau memerintahku seperti dulu, kamu tidak boleh lagi mengatakan, ‘sabar saja’.”

Raka menarik napas.

“Iya.”

Aku menatap matanya.

“Dan kalau nanti kamu berubah hanya seminggu lalu kembali seperti dulu, aku akan pergi.”

Kali ini Raka tidak langsung menjawab.

Dia mengangguk pelan.

“Itu adil.”

Kami tidak langsung kembali hidup normal.

Selama hampir sebulan, aku tinggal bersama orang tuaku.

Raka menyewa rumah kecil dua kamar di dekat kantor kami.

Setiap malam setelah bekerja, dia datang membicarakan satu per satu kesalahan yang selama ini kami biarkan tumbuh.

Bukan hanya kesalahan ibunya.

Kesalahannya juga.

Dan kesalahanku sendiri karena mengira diam selalu berarti menjaga keharmonisan.

Ketika akhirnya aku pindah ke rumah kontrakan itu, ada selembar kertas ditempel Raka di kulkas.

JADWAL RUMAH.

Senin dan Kamis: Raka mencuci pakaian.

Selasa dan Jumat: aku.

Masak bergantian.

Kamar mandi dibersihkan bergantian setiap akhir pekan.

Belanja dilakukan bersama.

Kalau salah satu lembur, yang lain mengambil alih tanpa menghitung utang pekerjaan.

Hari pertama Raka memasak, telur dadarnya gosong.

Hari ketiga dia salah memasukkan terlalu banyak kecap ke tumisan.

Aku tertawa sampai sakit perut.

Dia ikut tertawa.

Ternyata laki-laki tidak kehilangan harga diri hanya karena mencuci piring.

Dan seorang istri tidak kehilangan nilai hanya karena duduk di sofa sementara suaminya menyapu lantai.

Ibu Ratna tidak menghubungiku selama dua minggu.

Pada minggu ketiga, dia menelepon Raka.

Bukan karena rindu.

Pompa air rumahnya bermasalah.

Biasanya akulah yang menghubungi teknisi.

Tagihan internet juga belum dibayar karena selama ini aku yang mengurusnya.

Obat rutinnya hampir habis.

Dan rumah mulai berantakan.

Raka membantu mencari teknisi dan membelikan obat.

Namun dia tidak menyuruhku kembali.

Untuk pertama kalinya, Ibu Ratna menghadapi sendiri pekerjaan yang selama ini dianggapnya kecil.

Sebulan kemudian kami bertemu di rumah Tante Dewi.

Aku datang bersama Raka.

Ibu Ratna duduk di ujung meja.

Suasana awalnya kaku.

Lalu dia berkata,

“Nadia, Ibu memang waktu itu sedang emosi.”

Aku tidak langsung menyahut.

Dia melanjutkan.

“Tapi kamu juga seharusnya bisa mengerti kalau Ibu kewalahan.”

Dulu aku pasti langsung meminta maaf.

Kali ini tidak.

“Saya mengerti Ibu kewalahan. Tapi kewalahan bukan alasan untuk menelepon saya empat puluh kali dan mengancam saya tidak boleh pulang hanya karena saya ingin bersama orang tua saya.”

Wajahnya menegang.

Aku tetap tenang.

“Saya tetap menghormati Ibu sebagai ibu Raka. Saya akan datang kalau ada acara keluarga. Saya akan membantu kalau memang bisa. Tapi membantu berbeda dengan diwajibkan.”

Raka menggenggam tanganku.

Lalu berkata,

“Kalau ada acara keluarga, pekerjaan kita bagi. Kalau perlu katering, kita patungan. Jangan lagi semuanya Nadia.”

Ibu Ratna memandang anaknya cukup lama.

Tidak ada permintaan maaf dramatis.

Tidak ada pelukan sambil menangis.

Kehidupan nyata memang tidak selalu berubah dalam satu percakapan.

Tetapi sejak hari itu, sesuatu benar-benar berubah.

Ibu Ratna tidak lagi memiliki akses tanpa batas terhadap tenaga dan waktuku.

Dan itulah konsekuensi yang paling berat baginya.

Lebaran tahun berikutnya, dia mengadakan acara keluarga lagi.

Kali ini dia memesan katering.

Rp4,1 juta.

Raka ikut membayar sebagian.

Tante Dewi membawa kue.

Sepupu-sepupu Raka membantu mengatur meja.

Setelah makan, semua orang membawa piring masing-masing ke dapur.

Tidak ada satu perempuan yang berdiri sendirian membersihkan sisa pesta milik belasan orang.

Pada hari kedua Lebaran, aku dan Raka berangkat ke Bogor sejak pagi.

Aku duduk di dapur bersama Ibu hampir dua jam sambil membungkus lontong.

Tidak ada yang menyuruhku cepat pulang.

Tidak ada ponsel yang bergetar empat puluh kali.

Sekitar pukul sepuluh, satu pesan dari Ibu Ratna masuk.

“Selamat Lebaran lagi, Nadia. Habiskan waktumu dengan Ayah dan Ibu. Besok kalau sempat mampir, ya. Ibu sudah pesan makanan.”

Aku membaca pesan itu dua kali.

Kemudian menunjukkan kepada Raka.

Dia tersenyum.

“Dunia belum kiamat ternyata kalau Ibu pesan katering.”

Aku tertawa.

Dari halaman terdengar Ardi berteriak meminta bantuan karena asap dari pembakaran sate masuk ke matanya.

Raka langsung keluar membantunya.

Ibu menaruh sepiring kue nastar di depanku.

“Sekarang lebih bahagia?”

Aku melihat suamiku dan kakakku ribut memperebutkan kipas arang di halaman.

Lalu kulihat Ayah tertawa sambil menggelengkan kepala.

Aku mengangguk.

“Jauh lebih bahagia.”

Aku dulu mengira keluarga yang baik adalah keluarga tanpa pertengkaran.

Sekarang aku tahu aku salah.

Keluarga yang sehat bukan keluarga yang selalu diam.

Melainkan keluarga yang masih bisa mengatakan “tidak” tanpa kehilangan hak untuk dicintai.

Empat puluh panggilan telepon pada hari kedua Lebaran memang hampir menghancurkan rumah tanggaku.

Namun justru dari empat puluh panggilan itulah aku akhirnya memahami satu hal yang seharusnya kupahami sejak awal.

Menjadi istri tidak berarti berhenti menjadi anak bagi orang tuaku.

Menjadi menantu tidak berarti menjadi pembantu.

Dan mencintai keluarga tidak pernah seharusnya meminta seseorang menghapus dirinya sendiri agar semua orang lain merasa nyaman.