Di Pesta Akhir Tahun, Kursiku di Meja Utama Direbut Perempuan yang Selalu Dia Bela; Tiga Hari Kemudian, Aku Datang ke KUA Bersama Lelaki Lain, Membawa Keputusan yang Tak Bisa Dia Batalkan
Bagian 1 — Di Depan Semua Karyawan, Namaku Digeser dari Meja Utama dan Dia Menyuruhku Duduk Jauh Seolah Aku Bukan Siapa-Siapa Lagi di Matanya
Aku datang ke pesta akhir tahun perusahaan dengan gaun biru tua yang dibelikan Rizky untuk ulang tahunku dua tahun lalu.
Bukan karena aku masih ingin terlihat cantik di depannya.
Aku hanya berpikir, malam itu mungkin akhirnya dia akan memperkenalkanku dengan layak sebagai perempuan yang sudah menemaninya hampir enam tahun.
Kami bahkan pernah melihat-lihat gedung pernikahan bersama.
Ibuku sudah beberapa kali bertanya kapan keluarga Rizky akan datang membawa pembicaraan serius.
Dan setiap kali aku bertanya kepadanya, jawabannya selalu sama.
“Tunggu sedikit lagi, Nadira. Setelah proyek besar ini selesai.”
Malam itu aku percaya kata “sedikit lagi” mungkin benar-benar sudah hampir selesai.
Sampai aku memasuki ballroom sebuah hotel di Kuningan, Jakarta, dan melihat kartu namaku di meja utama sudah tidak berada di tempatnya.
Kursi di sebelah Rizky kini ditempati Keisha Larasati.
Perempuan yang baru satu tahun pindah dari kantor Bandung ke kantor pusat.
Kartu bertuliskan “Nadira Putri — Business Development” tergeletak terbalik di ujung meja, tertindih tempat lilin dekorasi.
Keisha duduk tepat di kursiku.
Ia sedang merapikan serbet Rizky.
Bukan hanya meletakkannya di meja.
Ia melipat ujung serbet itu, memasukkannya sedikit ke bawah piring, lalu menggeser gelas air Rizky ke sebelah kanan.
Gerakannya terlalu terbiasa untuk disebut kebetulan.
Seorang manajer senior tertawa.
“Wah, Mbak Keisha sekarang paket lengkap sama Pak Rizky, ya?”
Beberapa orang ikut tertawa.
Keisha menunduk malu.
Rizky justru tersenyum santai.
“Dia yang pegang seluruh bahan presentasi tender Makassar. Duduk dekat saya biar kalau ada angka yang perlu dikonfirmasi lebih mudah.”
Lalu dia melihatku.
Tidak panik.
Tidak merasa bersalah.
Dia hanya menunjuk ke arah meja paling belakang, dekat pintu menuju dapur hotel.
“Nad, kamu duduk sama tim pemasaran saja, ya. Sekalian kenalan sama anak-anak baru.”
Seolah-olah kursiku dipindahkan adalah hal biasa.
Seolah-olah aku bukan pacarnya selama enam tahun.
Seolah-olah perempuan lain duduk di sampingnya di depan seluruh direksi sama sekali tidak berarti apa-apa.
Aku menatap kartu namaku beberapa detik.
Kemudian aku mengambilnya.
Debu putih dari dekorasi menempel di huruf namaku.
Entah kenapa, melihat namaku tertutup debu terasa jauh lebih menyakitkan daripada melihat Keisha duduk di sebelah Rizky.
Aku berjalan ke meja belakang tanpa berkata apa-apa.
Teman sekantorku, Siska, langsung mengirim pesan.
【Nad, serius? Dia mindahin tempat dudukmu buat Keisha?】
Aku membalik ponsel.
Tidak menjawab.
Meja itu dipenuhi staf baru yang jarang bekerja langsung denganku.
Seorang perempuan muda buru-buru bergeser.
“Mbak Nadira, sini saja.”
Aku tersenyum.
“Terima kasih.”
Dari tempat dudukku, meja utama terlihat jelas.
Dan mungkin itu justru kesalahan terbesar Rizky malam itu.
Karena dari sana aku bisa melihat semuanya.
Ketika Rizky membutuhkan pulpen, Keisha memberikannya sebelum dia meminta.
Ketika minumannya habis, Keisha menuangkan lagi.
Ketika Direktur Utama bertanya tentang angka proyeksi kuartal pertama, Keisha membuka tablet dan mendekatkannya ke Rizky.
Seorang komisaris bahkan berkata sambil tertawa,
“Rizky, kalau begini terus kamu jangan sampai kehilangan Keisha. Susah cari orang yang mengerti kebutuhan atasan sebelum diminta.”
Rizky menjawab,
“Makanya saya jaga orang bagus.”
Semua orang tertawa.
Tanganku yang memegang sendok berhenti.
Siska yang duduk di sebelahku berbisik,
“Aku mau muntah.”
Aku menatapnya.
“Jangan bikin keributan.”
“Nadira, kamu serius masih mau diam?”
“Ini acara perusahaan.”
“Justru karena acara perusahaan! Semua orang lihat.”
Aku menarik napas panjang.
“Aku tahu.”
Itulah masalahnya.
Aku tahu.
Aku melihat.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak mencari alasan untuk membelanya.
Dulu aku selalu punya alasan.
Rizky pulang tengah malam? Proyek sedang sibuk.
Rizky membatalkan makan malam ulang tahunku? Ada rapat mendadak.
Rizky tidak datang ketika ayahku masuk rumah sakit? Ada klien dari Surabaya.
Rizky pergi dua hari ke Bandung bersama Keisha tanpa memberitahuku? Kunjungan kerja.
Semua masuk akal kalau aku memang ingin membuatnya masuk akal.
Sampai malam itu.
Ketika sesi door prize dimulai, Rizky akhirnya berjalan ke mejaku.
Keisha ikut di belakangnya sambil membawa tablet.
Rizky berdiri di samping kursiku.
“Kamu kenapa dari tadi diam?”
“Aku sedang makan.”
“Jangan pasang muka begitu.”
Aku menatapnya.
“Muka bagaimana?”
Dia mengembuskan napas.
“Nadira, jangan sensitif cuma gara-gara tempat duduk.”
Siska langsung menoleh.
Aku menyentuh tangannya di bawah meja agar dia tidak ikut bicara.
Rizky melanjutkan,
“Keisha harus standby karena besok kami presentasi. Kamu kan tahu kondisi kerja.”
“Aku tahu.”
“Bagus.”
Dia tersenyum seolah percakapan selesai.
Kemudian Keisha menyela dengan suara lembut.
“Pak Rizky, Pak Hendra sudah menunggu untuk toast.”
Rizky menepuk bahuku.
“Nanti jangan pulang dulu. Aku minum, kamu yang bawa mobil.”
Dia pergi begitu saja.
Bahkan tidak bertanya apakah aku bersedia.
Seolah selama enam tahun terakhir, tugasku memang selalu menunggunya.
Pukul sepuluh malam acara selesai.
Rizky sudah cukup banyak minum sehingga menyerahkan kunci mobil kepadaku.
Aku baru duduk di kursi pengemudi ketika pintu belakang terbuka.
Keisha masuk.
“Maaf ya, Mbak Nadira. Sekalian saja. Apartemenku kan searah.”
Aku belum menjawab ketika Rizky berkata,
“Antar Keisha dulu.”
Sepanjang perjalanan, mereka membicarakan tender.
Atau setidaknya awalnya tentang tender.
Lalu berubah menjadi makanan favorit.
Kemudian tentang sebuah kafe di Bandung.
Keisha tertawa.
“Pak Rizky ternyata masih ingat aku tidak bisa minum kopi terlalu pahit.”
Rizky tertawa kecil.
“Hal kecil begitu masa lupa.”
Tanganku mencengkeram kemudi.
Aku teringat ulang tahunku bulan lalu.
Dia membelikan kue tiramisu.
Padahal aku alergi kopi dan sudah memberitahunya berkali-kali.
Ketika mobil berhenti di depan apartemen Keisha, ia membuka pintu.
Sebelum turun, ia membungkuk sedikit ke depan.
“Pak Rizky, besok aku bawakan roti yang biasa itu, ya?”
“Boleh.”
Keisha kemudian menatapku.
Senyumnya manis.
“Terima kasih sudah mengantar, Mbak Nadira.”
Pintu tertutup.
Mobil kembali berjalan.
Beberapa menit kemudian Rizky berkata,
“Tadi ada beberapa direktur tanya kapan kita nikah.”
Aku menatap jalan.
“Kamu jawab apa?”
“Belum tahu.”
Jawabannya terlalu cepat.
“Kenapa?”
“Proyek ekspansi masih setahun. Posisi baruku juga belum stabil.”
Aku tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Rizky menoleh.
“Kamu kenapa?”
“Enam tahun, Riz.”
“Nadira…”
“Dua tahun terakhir kamu selalu bilang tunggu proyek selesai.”
“Karena memang begitu.”
“Kalau proyek ini selesai, akan ada proyek lain.”
Dia mulai terdengar kesal.
“Jadi kamu mau aku apa? Tinggalkan karier hanya supaya cepat menikah?”
Aku akhirnya menepi di depan rumahnya.
Mesin masih menyala.
Rizky melepas sabuk pengaman.
“Sudahlah. Jangan mulai drama malam-malam.”
Aku menatap wajah lelaki yang dulu membuatku yakin aku bisa menunggu selama apa pun.
Aneh.
Malam itu, aku tidak melihat lelaki yang sama lagi.
Aku hanya melihat seseorang yang sangat yakin aku tidak akan pergi.
“Rizky.”
“Hm?”
“Kita selesai.”
Tangannya berhenti di gagang pintu.
Lalu dia tertawa.
Benar-benar tertawa.
“Lagi?”
Aku diam.
“Bulan lalu kamu juga bilang mau putus karena aku batal datang makan malam.”
“Kali ini berbeda.”
“Nadira.”
Dia menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Kamu sudah tiga puluh tahun. Jangan bertingkah seperti anak SMA gara-gara kursi.”
Aku menatapnya lama.
Enam tahun.
Ternyata enam tahun bisa diringkas menjadi satu kalimat merendahkan.
“Kamu benar.”
“Apa?”
“Aku sudah tiga puluh tahun.”
Aku mengambil tas.
“Makanya aku tidak punya waktu enam tahun lagi untuk menunggu orang yang bahkan tidak yakin ingin menikahiku.”
Senyumnya perlahan menghilang.
Aku melanjutkan,
“Besok aku akan kirim semua barangmu yang masih ada di apartemenku.”
“Nadira, cukup.”
“Dan tiga hari lagi…”
Dia menatapku.
Aku menyalakan layar ponsel.
Ada satu pesan yang belum kubalas sejak sore.
Dari Dimas Pradana.
Lelaki yang sudah mengenalku jauh sebelum Rizky masuk dalam hidupku.
Pesannya sederhana.
【Kalau suatu hari kamu benar-benar selesai menunggu seseorang yang tidak memilihmu, kabari aku. Tawaran untuk membangun hidup bersama masih berlaku. Tapi aku hanya mau datang kalau kamu sudah benar-benar bebas.】
Aku mengangkat mata.
“Tiga hari lagi aku akan pergi ke KUA.”
Rizky mengernyit.
Aku membuka pintu mobil.
“Dan kali ini, bukan bersamamu.”
#DramaKeluarga #CeritaIndonesia #KisahPengkhianatan #WanitaBerani #DramaViral
Bagian 2 — Saat Aku Memutuskan Pergi, Dia Menertawakanku karena Yakin Aku Akan Kembali, Sampai Sebuah Undangan Pernikahan Membuat Wajahnya Berubah di Kantor
Rizky terdiam sekitar tiga detik.
Kemudian dia tertawa lagi.
“KUA?”
“Iya.”
“Dengan siapa?”
Aku tidak menjawab.
Dia turun dari mobil lalu berdiri di samping pintuku.
“Nadira, kalau tujuanmu bikin aku cemburu, cari cara yang lebih masuk akal.”
Aku menutup pintu.
“Selamat malam.”
Tangannya menahan kaca.
“Kamu pikir menikah itu pesan makanan? Tiga hari kenal langsung daftar?”
Aku menatapnya.
“Aku sudah mengenal Dimas sebelas tahun.”
Untuk pertama kalinya malam itu, wajah Rizky berubah.
“Dimas yang arsitek itu?”
Aku tidak menjawab.
Dia tertawa pendek, tapi kali ini terdengar dipaksakan.
“Orang yang dulu suka sama kamu?”
“Dia tidak pernah mengganggu hubungan kita.”
“Karena dia nunggu.”
“Mungkin.”
“Nadira, jangan bodoh.”
Aku masuk mobil.
“Yang bodoh adalah menunggu enam tahun seseorang yang selalu meminta satu tahun lagi.”
Aku pergi.
Malam itu juga, aku memblokir nomor pribadi Rizky.
Bukan nomor kantornya.
Aku masih profesional.
Pagi berikutnya, aku mengirim dua kotak berisi barang-barangnya melalui kurir.
Jam tangan.
Sepatu.
Kemeja.
Bahkan mug bertuliskan “R” yang biasa dia pakai di apartemenku.
Pukul sebelas, telepon kantor berdering.
“Nadira!”
Suara Rizky menahan marah.
“Kamu serius kirim barangku ke kantor?”
“Apartemenmu kosong.”
“Kamu sengaja mempermalukanku?”
“Aku menggunakan alamat yang selalu kamu minta dipakai kalau menerima paket.”
Dia terdiam.
Lalu berkata,
“Datang ke ruanganku.”
“Ada urusan pekerjaan?”
“Nadira.”
“Kalau tidak ada, saya ada meeting.”
Aku menutup telepon.
Hari kedua, Keisha datang ke mejaku.
“Mbak, boleh bicara?”
Aku menatapnya.
“Silakan.”
Ia memegang gelas kopi dengan kedua tangan.
“Soal acara kemarin… aku takut Mbak salah paham.”
“Aku tidak salah paham.”
“Aku dan Pak Rizky benar-benar cuma—”
“Aku tidak perlu penjelasan.”
Keisha menggigit bibir.
“Mbak marah sama aku?”
Aku membuka sebuah dokumen.
“Tidak.”
Wajahnya malah terlihat lebih tidak nyaman.
Aku kemudian menggeser layar laptop ke arahnya.
“Justru aku mau tanya. Kenapa reimbursement perjalanan Bandung bulan November memasukkan hotel dua kamar, sementara invoice vendor menunjukkan reservasi hanya satu kamar executive?”
Wajah Keisha langsung pucat.
Tangannya yang memegang kopi berhenti.
“Aku… kurang tahu.”
“Namamu yang mengajukan.”
“Mungkin finance salah input.”
“Mungkin.”
Aku menutup layar.
“Sebaiknya kamu cek.”
Ia pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Yang tidak Keisha ketahui, aku sudah menemukan lebih banyak.
Selama enam tahun bersama Rizky, aku terlalu sibuk membela hubungan kami sampai tidak menyadari satu kebiasaan buruknya.
Dia merasa aturan perusahaan tidak berlaku kalau dia bisa memberi alasan yang terdengar masuk akal.
Perjalanan dinas.
Biaya hotel.
Jamuan klien.
Pengadaan vendor.
Dan belakangan, nama Keisha muncul hampir di semua dokumen yang janggal.
Aku tidak berniat menghancurkan mereka.
Aku hanya melakukan sesuatu yang seharusnya kulakukan sebagai manajer bisnis.
Mengirim seluruh ketidaksesuaian dokumen ke bagian audit internal sebelum mengajukan pengunduran diri.
Hari ketiga, pukul sembilan pagi, aku berdiri di depan KUA Tebet bersama Dimas.
Dia mengenakan kemeja putih sederhana.
Tidak membawa bunga.
Tidak membawa cincin mewah.
Hanya satu map cokelat berisi berkas.
Sebelum kami masuk, dia menghentikan langkahku.
“Nadira.”
Aku menoleh.
“Aku harus tanya sekali lagi.”
“Tanya.”
“Kamu melakukan ini karena ingin menikah denganku, atau karena ingin membuat Rizky menyesal?”
Pertanyaan itu membuatku diam.
Dimas tidak terlihat marah.
“Aku bisa menunggu,” katanya. “Tapi aku tidak mau jadi alat balas dendammu.”
Aku menarik napas.
“Aku tidak datang ke sini untuk menghukum Rizky.”
“Lalu?”
“Aku datang karena untuk pertama kalinya aku sadar… aku ingin hidup bersama orang yang memilihku tanpa harus disuruh menunggu.”
Dimas menatapku beberapa detik.
Kemudian dia mengulurkan tangan.
“Kalau begitu, kita masuk.”
Kami mendaftarkan rencana akad sederhana dua minggu kemudian.
Tidak ada gedung besar.
Tidak ada pesta lima ratus tamu.
Hanya keluarga dan beberapa sahabat.
Sore harinya, aku kembali ke kantor.
Siska sudah menungguku sambil memegang ponsel.
“Aku benci gosip,” katanya.
Aku mengangkat alis.
“Tapi kali ini gosipnya mungkin berguna.”
Ia menunjukkan grup kantor.
Seseorang rupanya melihatku keluar dari KUA bersama Dimas.
Foto kami tersebar.
Kurang dari satu jam kemudian, pintu ruang kerjaku terbuka keras.
Rizky masuk.
Wajahnya merah.
“Kamu benar-benar pergi ke KUA?”
Seluruh ruangan langsung sunyi.
Aku berdiri.
“Pak Rizky, ini area kerja.”
“Jawab aku!”
Aku melihat orang-orang mulai menoleh.
Keisha berdiri beberapa meter di belakangnya.
Wajahnya juga tegang.
Aku mengambil sebuah amplop putih dari laci.
“Karena Bapak sudah datang, sekalian.”
Aku menyerahkannya.
Rizky merebut amplop itu.
Di dalamnya ada undangan sederhana dengan namaku dan Dimas.
Tanggal akad tercetak jelas.
Tangan Rizky kaku.
“Kamu gila.”
“Tidak.”
“Kamu baru putus tiga hari!”
“Aku sudah kehilangan hubungan ini jauh sebelum tiga hari lalu.”
Dia meremas undangan.
“Kamu tidak mungkin cinta sama dia.”
Aku tersenyum tipis.
“Lucu sekali. Selama enam tahun kamu selalu bilang cinta tidak harus dibuktikan dengan pernikahan.”
Aku mengambil kembali undangan yang diremasnya.
“Sekarang ketika aku memilih orang lain, tiba-tiba kamu yang menentukan seperti apa cinta seharusnya?”
Rizky belum sempat menjawab.
Dua orang dari divisi Audit Internal muncul di pintu.
Salah satunya memegang map biru.
“Pak Rizky Adinata?”
Rizky menoleh.
“Kami perlu bicara mengenai beberapa transaksi perjalanan dinas dan dokumen tender.”
Keisha mundur satu langkah.
Auditor berikutnya menambahkan,
“Dan Mbak Keisha Larasati, mohon ikut juga.”
Wajah Keisha langsung kehilangan warna.
Sebelum keluar, Rizky berbalik kepadaku.
Tatapannya berubah.
Bukan lagi marah.
Melainkan curiga.
“Kamu yang laporkan?”
Aku menatapnya tenang.
“Aku hanya mengirim dokumen yang memang seharusnya diperiksa.”
Dia menggertakkan gigi.
“Nadira…”
Aku memotong.
“Kalau tidak ada yang salah, kenapa takut?”
Saat itulah auditor membuka map biru dan mengeluarkan salinan sebuah invoice.
Keisha tiba-tiba berkata keras,
“Pak Rizky yang menyuruh saya!”
Seluruh ruangan membeku.
Rizky menoleh tajam kepadanya.
Dan untuk pertama kalinya, aku melihat dua orang yang selama ini selalu saling melindungi mulai saling melempar kesalahan.
Bagian 3 — Di Hari Akadku, Dia Datang Membawa Penyesalan, tetapi Bukti yang Terungkap Menghancurkan Karier dan Hubungannya dengan Keisha di Depan Semua Orang
Investigasi perusahaan berlangsung sembilan hari.
Aku tidak ikut campur.
Aku juga tidak perlu.
Audit menemukan bahwa beberapa biaya perjalanan Keisha memang dimanipulasi.
Ada pengeluaran pribadi yang dimasukkan sebagai jamuan klien.
Ada hotel yang dibayar perusahaan pada hari ketika tidak ada agenda resmi.
Lebih serius lagi, ditemukan sebuah file penawaran vendor yang seharusnya bersifat terbatas dikirim Rizky ke akun pribadi Keisha.
Rizky beralasan ia hanya meminta Keisha bekerja dari rumah.
Keisha berkata ia menjalankan instruksi atasannya.
Keduanya mulai saling menyalahkan.
Hubungan yang terlihat begitu kompak di meja utama pesta akhir tahun ternyata tidak mampu bertahan sembilan hari ketika masing-masing harus mempertanggungjawabkan dirinya sendiri.
Rizky dicopot sementara dari jabatan kepala divisi selama investigasi.
Keisha mendapat surat peringatan keras dan kemudian mengundurkan diri sebelum keputusan akhir perusahaan keluar.
Rizky meneleponku menggunakan nomor berbeda.
Aku tidak menjawab.
Dia mengirim email.
Aku menghapusnya.
Lalu, sehari sebelum akad, dia datang ke rumah ibuku.
Aku sedang membantu ibu memasukkan kotak makanan untuk keluarga ketika terdengar suara di ruang depan.
“Nadira.”
Aku berhenti.
Rizky berdiri di pintu.
Wajahnya terlihat jauh lebih tua dibanding dua minggu lalu.
Ibuku menatapku.
Aku berkata pelan,
“Biar aku bicara.”
Kami keluar ke teras.
Rizky memandang dekorasi kecil yang sedang dipasang tetangga.
“Kamu benar-benar menikah besok?”
“Iya.”
“Batalkan.”
Aku sampai mengira salah dengar.
“Apa?”
“Aku sudah bicara sama Mama.”
Dia menarik napas.
“Aku siap menikah.”
Aku menatapnya tanpa berkata apa-apa.
“Aku salah, Nad.”
“Yang mana?”
Pertanyaan itu membuatnya terdiam.
“Memindahkan kursiku?”
Dia menunduk.
“Menyuruhku jadi sopir untuk mengantar perempuan yang kamu prioritaskan?”
“Nadira…”
“Atau membuatku menunggu enam tahun karena kamu yakin aku tidak akan pernah pergi?”
Rizky menatapku.
“Aku memang dekat dengan Keisha, tapi tidak seperti yang kamu pikir.”
Aku tertawa pelan.
“Sekarang sudah tidak penting.”
“Aku cinta kamu.”
“Dulu aku percaya.”
“Aku bisa berubah.”
“Mungkin.”
Aku mengangguk.
“Tapi kamu tidak perlu berubah untukku lagi.”
Wajahnya mengeras.
“Karena Dimas?”
“Karena diriku sendiri.”
Aku menatap lelaki yang pernah menjadi pusat seluruh rencanaku.
Anehnya, tidak ada rasa ingin menang.
Tidak ada kebencian.
Hanya lega.
“Aku tidak meninggalkanmu karena menemukan Dimas.”
Aku melanjutkan,
“Aku bisa memilih Dimas karena akhirnya aku berani meninggalkanmu.”
Rizky tidak menjawab.
Beberapa detik kemudian terdengar suara mobil berhenti.
Dimas turun membawa dua kotak makanan.
Dia melihat Rizky, lalu melihatku.
Tidak langsung mendekat.
Dia menunggu.
Membiarkanku menyelesaikan urusanku sendiri.
Itu hal kecil.
Tapi justru karena hal-hal kecil seperti itulah aku yakin dengan pilihanku.
Rizky tersenyum pahit.
“Jadi dia menang?”
Aku menggeleng.
“Ini bukan perlombaan.”
Lalu aku masuk rumah.
Keesokan paginya, akad berlangsung sederhana di sebuah aula kecil dekat rumah keluarga Dimas.
Aku mengenakan kebaya putih.
Dimas memakai beskap krem.
Tidak ada lampu mewah.
Tidak ada layar raksasa.
Tidak ada direktur perusahaan.
Hanya keluarga, beberapa teman dekat, dan suara ibuku yang berkali-kali menangis karena bahagia.
Setelah ijab kabul selesai, Dimas menggenggam tanganku.
“Capek?”
“Sedikit.”
“Menyesal?”
Aku menatapnya.
“Belum sempat.”
Dia tertawa.
Siska datang berlari dari pintu samping.
Wajahnya aneh.
“Nad…”
“Apa?”
Dia mendekatkan mulut ke telingaku.
“Rizky datang.”
Aku menoleh.
Benar.
Dia berdiri di dekat pintu aula.
Sendirian.
Tidak memakai jas.
Tidak membawa hadiah.
Matanya merah.
Dimas mengikuti arah pandangku.
“Kamu mau aku minta dia pergi?”
Aku menggeleng.
“Tidak perlu.”
Rizky tidak masuk.
Dia hanya berdiri cukup lama untuk melihat Dimas memasangkan cincin di jariku.
Kemudian ponselnya berbunyi.
Aku tidak tahu siapa yang menelepon.
Tapi ekspresi wajahnya berubah drastis setelah menjawab.
Sore itu aku baru tahu dari Siska.
Komite etik perusahaan menjatuhkan keputusan final.
Rizky resmi diturunkan dari posisi kepala divisi dan dipindahkan ke jabatan nonmanajerial karena pelanggaran prosedur serta konflik kepentingan yang tidak dilaporkan.
Bonus tahunannya dibekukan.
Namanya juga dicoret dari proyek ekspansi yang selama dua tahun selalu dijadikannya alasan untuk menunda pernikahan kami.
Ironis.
Proyek yang katanya terlalu penting untuk ditinggalkan akhirnya berjalan tanpa dirinya.
Tentang Keisha, aku baru mendengar kabarnya beberapa bulan kemudian.
Ia pindah ke perusahaan lain di Bandung.
Ia dan Rizky tidak pernah terlihat bersama lagi.
Menurut Siska, mereka bahkan saling memblokir setelah investigasi karena masing-masing merasa telah dikorbankan oleh yang lain.
Aku tidak mencari tahu lebih jauh.
Aku sudah tidak membutuhkan akhir buruk mereka untuk membuat hidupku terasa baik.
Enam bulan setelah menikah, aku juga meninggalkan perusahaan lama.
Bukan karena Rizky.
Sebelum menikah, aku memang sudah mendapat tawaran menjadi kepala pengembangan bisnis di sebuah perusahaan logistik yang lebih kecil.
Gajinya tidak jauh berbeda.
Tapi aku pulang sebelum malam.
Aku punya akhir pekan.
Dan untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, aku tidak hidup berdasarkan kalender seorang laki-laki.
Suatu malam, aku dan Dimas makan nasi goreng di balkon apartemen kecil kami.
Dia sedang menggambar desain rumah sambil bertanya,
“Tahun depan kalau ada rezeki, kamu mau rumah yang dapurnya besar atau ruang kerjanya besar?”
Aku berpikir sebentar.
“Balkonnya.”
“Kenapa?”
“Aku mau tempat buat minum teh sore.”
Dia mencatatnya sungguh-sungguh.
“Balkon besar.”
Aku tertawa.
Hal itu sederhana.
Tapi aku hampir menangis.
Selama enam tahun, aku selalu menyesuaikan hidup dengan rencana Rizky.
Tahun depan.
Setelah proyek.
Setelah promosi.
Setelah target.
Setelah semuanya sempurna.
Bersama Dimas, untuk pertama kalinya seseorang bertanya kepadaku seperti apa hidup yang ingin kubangun.
Bukan berapa lama aku sanggup menunggu.
Beberapa minggu kemudian, ketika membersihkan tas lama, aku menemukan kartu nama dari pesta akhir tahun itu.
“Nadira Putri.”
Masih ada noda putih kecil di sudutnya.
Aku memandangnya sebentar.
Lalu membuangnya ke tempat sampah.
Dimas yang sedang membuat kopi bertanya,
“Apa itu?”
“Tidak penting.”
Aku berjalan menghampirinya.
Dia menyerahkan cangkir kepadaku.
Dan aku akhirnya memahami sesuatu yang seharusnya kupahami jauh lebih awal.
Kehilangan kursi di meja utama malam itu bukan penghinaan terbesar dalam hidupku.
Justru itu adalah keberuntunganku.
Karena setelah enam tahun berdiri di samping seseorang yang terus memintaku menunggu, akhirnya aku melihat dengan jelas—
tempat yang benar-benar disediakan untukku tidak pernah seharusnya membuatku berebut dengan siapa pun.

