Pagi Setelah Pernikahanku, Ibu Mertuaku Memberiku Daftar 11 Cucian Pukul 6 Pagi, dan Aku Meninggalkan Suamiku…
Ketukan di pintu terdengar tepat pukul 06.08 pagi.
Tegas.
Teratur.
Itu bukan jenis ketukan yang benar-benar bertanya apakah orang di dalam sudah bangun atau belum. Itu adalah ketukan yang sejak awal menganggap bahwa begitu orang di luar meminta sesuatu, orang di dalam harus segera berdiri dan menurut.
Alya Pratama, atau lebih tepatnya Alya Santoso secara resmi sejak akad nikah dan resepsi kemarin sore, membuka mata di kamar yang masih dipenuhi aroma bunga melati dan mawar putih yang ditata ibu mertuanya di sekitar jendela.
Pesta pernikahan baru benar-benar berakhir menjelang tengah malam.

Kerabat terakhir dari Jakarta, Bandung, dan Surabaya baru bersedia pulang setelah mengambil puluhan foto tambahan dan menghabiskan gelas-gelas teh hangat terakhir.
Kepala Alya masih terasa berat dan berdenyut pelan.
Hampir sepuluh jam ia habiskan untuk menyambut tamu, tersenyum di depan kamera, berganti pakaian, dan mendengar satu demi satu orang mendoakannya agar segera diberi momongan.
Kebaya pengantin berwarna gading masih tergantung di pintu lemari dalam kantong pelindung.
Hampir Rp45 juta untuk pakaian yang hanya ia kenakan selama satu hari dan mungkin tidak akan pernah dipakai lagi.
Ketukan kembali terdengar.
“Alya.”
Suara Bu Ratih, ibu mertuanya, menembus pintu dengan wibawa yang terasa seperti telah diasah selama puluhan tahun mengatur sebuah keluarga besar.
“Cucian sudah ditaruh di area belakang. Tamu kemarin meninggalkan cukup banyak handuk dan seprai. Sebaiknya kamu mulai cucian pertama sebelum semua orang sarapan.”
Di samping Alya, Raka bergerak sedikit.
Ia tidak membuka mata.
Sekitar pukul dua dini hari, Raka sempat melingkarkan lengan di pinggang Alya, seolah-olah tidur berdekatan sudah cukup untuk membuktikan bahwa mereka sedang memulai sebuah pernikahan yang setara.
Alya duduk.
“Cucian?”
Ia mengulang kata itu pelan.
Dua kata yang terdengar sangat sederhana.
Namun di dalam kamar yang sunyi pada pagi pertama setelah pernikahan mereka, kata itu tiba-tiba terasa memiliki bobot yang jauh lebih besar.
Alya turun dari tempat tidur lalu membuka pintu.
Bu Ratih berdiri di lorong.
Ia mengenakan blus batik warna krem yang disetrika rapi, rambutnya disanggul, dan di telinganya masih terpasang anting mutiara yang ia kenakan sejak acara pernikahan kemarin.
Dari jendela kaca di ujung lorong, langit Bogor masih diselimuti warna biru keabu-abuan fajar.
Udara di taman terasa lembap dan dingin setelah hujan semalam.
“Ibu sudah menuliskannya.”
Bu Ratih mengulurkan selembar kertas yang dilipat dua.
Alya menerima kertas itu dan membukanya.
Di dalamnya ada sebelas nomor yang ditulis dengan tinta biru.
Seprai kamar tamu lantai dua. Sarung bantal keluarga Bandung. Handuk putih keluarga Surabaya. Taplak meja ruang makan. Serbet kain dari meja prasmanan kecil. Keset kamar mandi. Selimut tipis kamar belakang. Mukena tamu. Kemeja putih Raka. Blus batik Bu Ratih. Dan pada nomor sebelas, dengan garis bawah dua kali: kebaya resepsi milik Bu Ratih, cuci tangan, jangan dimasukkan ke mesin.
Di bagian paling bawah ada catatan tambahan.
Setelah selesai, rebus air, potong buah, dan bantu Mbak Sari menyiapkan sarapan.
Alya membaca daftar itu sampai dua kali.
“Sebelas cucian ini harus selesai pagi ini?”
“Kalau langsung dimulai, sebelum makan siang sebagian besar sudah bisa dijemur,” jawab Bu Ratih. “Mesin cuci yang besar ada dua. Untuk kebaya Ibu, rendam sebentar saja. Jangan digosok terlalu keras.”
Alya mengangkat pandangan dari kertas.
“Kenapa saya yang mengerjakannya?”
Wajah Bu Ratih berubah sedikit. Bukan terkejut karena pertanyaannya sulit, melainkan karena ia tidak menyangka Alya akan bertanya.
“Karena sekarang kamu menantu di rumah ini.”
“Bukankah kemarin Ibu bilang Mbak Sari dan dua petugas katering akan membereskan semua perlengkapan setelah pesta?”
“Mbak Sari harus menyiapkan sarapan. Petugas katering hanya bertanggung jawab pada peralatan mereka.” Bu Ratih menarik napas pendek. “Alya, Ibu tidak meminta sesuatu yang luar biasa. Di keluarga ini, menantu perempuan bangun lebih pagi dan membantu urusan rumah. Ibu juga melakukannya saat baru menikah.”
Alya menatap sebelas nomor di tangannya.
Ia tidak marah karena mencuci pakaian adalah pekerjaan yang hina. Selama tinggal sendiri, ia mencuci pakaian, menyetrika, membersihkan kamar mandi, bahkan memperbaiki saluran air apartemennya tanpa merasa harga dirinya berkurang sedikit pun.
Namun ini berbeda.
Tak ada permintaan tolong.
Tak ada percakapan sebelumnya.
Bu Ratih telah menyusun daftar, memilih waktu, dan mengetuk pintu kamar pengantin pukul enam pagi dengan keyakinan bahwa pernikahan telah mengubah Alya menjadi orang yang wajib menaati perintahnya.
“Raka masih tidur,” kata Alya.
“Biarkan. Dia kelelahan menyambut tamu.”
“Saya juga menyambut tamu yang sama.”
Bu Ratih mengerutkan kening. “Jangan mulai menghitung pekerjaan suami dan istri sejak hari pertama. Rumah tangga tidak akan bertahan kalau semuanya selalu dibandingkan.”
Alya hampir tersenyum mendengar kalimat itu.
Orang yang baru saja menyerahkan daftar sebelas pekerjaan kepadanya sedang memperingatkannya agar tidak menghitung.
“Ibu sudah membicarakan ini dengan Raka?”
“Raka mengerti kebiasaan keluarganya.”
Itu bukan jawaban, tetapi cukup untuk membuat sesuatu di dada Alya terasa turun dan menjadi dingin.
“Baik,” katanya.
Wajah Bu Ratih kembali tenang. Ia mengira percakapan itu sudah selesai.
“Mulailah dari handuk. Matahari biasanya muncul sekitar pukul delapan. Oh, dan jangan gunakan pelembut terlalu banyak. Raka tidak suka aromanya terlalu kuat.”
Bu Ratih berbalik dan berjalan menuju tangga.
Alya menutup pintu perlahan.
Raka masih berada di tempat tidur. Kini matanya sudah terbuka, tetapi ia tetap berbaring dengan satu lengan menutupi dahi.
“Kamu dengar semuanya?” tanya Alya.
Raka diam beberapa detik sebelum menjawab.
“Sebagian.”
“Bagian mana?”
“Tentang cucian.”
“Dan?”
Raka menurunkan lengannya. “Tolong bantu Ibu untuk pagi ini saja. Tamu-tamu masih ada. Nanti kalau mereka sudah pulang, kita bicara baik-baik.”
Alya memandang suaminya, mencoba menemukan lelaki yang beberapa minggu lalu menggenggam tangannya di kantor pencatatan sipil dan berjanji mereka akan menghadapi setiap masalah sebagai satu tim.
“Apakah ibumu pernah mengatakan bahwa setelah menikah saya harus mengurus rumah ini?”
“Tidak seperti itu.”
“Lalu seperti apa?”
“Ibu hanya berharap kamu menyesuaikan diri. Kita tinggal di rumahnya, Alya.”
“Kita sepakat tinggal di sini paling lama tiga bulan sambil menunggu apartemen selesai direnovasi. Kita tidak pernah sepakat bahwa saya akan menjadi pengurus rumah untuk seluruh keluargamu.”
Raka duduk dan mengusap wajahnya.
“Jangan dibesar-besarkan. Itu cuma cucian.”
“Kalau memang cuma cucian, kamu bisa mengerjakannya.”
Raka menatapnya seolah Alya baru mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal.
“Aku?”
“Iya. Kemeja putih di nomor sembilan milikmu. Perempuan yang membuat daftar itu ibumu. Sebagian besar barang di sana dipakai keluargamu. Mengapa bagian yang otomatis dianggap bertanggung jawab justru saya?”
“Alya, ini pagi pertama kita menikah. Jangan membuat suasana seperti ini.”
Alya menahan napas.
“Justru karena ini pagi pertama kita menikah, saya perlu tahu seperti apa hari-hari berikutnya.”
Raka turun dari tempat tidur. Nada suaranya mulai meninggi.
“Apa sulitnya membantu sekali saja? Ibu sudah menghabiskan tenaga berbulan-bulan mengurus pesta kita.”
“Kita membayar hampir seluruh biaya pesta dari tabungan kita. Saya juga mengurus vendor, daftar tamu, suvenir, dan pakaian keluarga. Jadi jangan bicara seolah-olah saya datang kemarin hanya untuk duduk memakai kebaya.”
“Aku tidak mengatakan begitu.”
“Tidak. Kamu hanya berbaring di sana dan meminta saya menurut supaya hidupmu lebih mudah.”
Raka memalingkan wajah ke jendela.
Gerakan kecil itu menyakitkan Alya lebih dalam daripada bentakan.
Karena saat itulah ia mengerti bahwa Raka tidak benar-benar bingung. Ia tahu permintaan ibunya tidak wajar. Ia hanya berharap Alya menjadi orang yang mengalah agar dirinya tidak perlu berhadapan dengan Bu Ratih.
Alya meletakkan daftar itu di meja samping tempat tidur.
“Apa lagi yang belum kamu ceritakan kepada saya?”
Raka menegang.
Pertanyaan itu keluar karena naluri, tetapi reaksi Raka membuat Alya tahu ada sesuatu.
“Apa maksudmu?”
“Ibumu mengatakan kamu memahami kebiasaan keluarga ini. Jadi, apa lagi yang kalian pahami tanpa pernah membicarakannya dengan saya?”
“Tidak ada.”
“Tatap saya dan katakan lagi.”
Raka tidak melakukannya.
Setelah hampir satu menit, ia duduk di ujung tempat tidur.
“Ibu berharap setelah kita punya anak, kamu mengurangi pekerjaan.”
“Mengurangi?”
“Mungkin berhenti untuk sementara.”
Alya merasakan jantungnya berdetak lebih lambat.
Ia bekerja sebagai manajer keuangan di sebuah perusahaan distribusi di Jakarta Selatan. Dua belas tahun ia membangun karier itu, mulai dari staf kontrak yang pulang dengan kereta terakhir sampai akhirnya dipercaya menangani anggaran bernilai ratusan miliar rupiah.
Raka mengetahui betapa penting pekerjaannya.
Mereka bahkan telah sepakat menunda memiliki anak setidaknya dua tahun.
“Kapan ibumu mengatakan itu?”
“Beberapa bulan lalu.”
“Dan jawabanmu?”
“Aku bilang nanti kita bicarakan.”
“Kita?”
Raka terdiam.
Alya mengangguk pelan. “Ternyata yang kamu maksud bukan kamu dan saya. Yang kamu maksud adalah kamu dan ibumu.”
“Bukan begitu.”
“Kalau begitu, mengapa saya baru mengetahuinya sekarang?”
“Aku takut kamu salah paham.”
“Tidak, Raka. Kamu takut saya paham dengan sangat tepat.”
Suara langkah terdengar di lorong. Di bawah, pintu-pintu kamar mulai dibuka. Para kerabat yang menginap mulai bangun.
Alya berjalan ke lemari dan mengambil koper kabin yang mereka siapkan untuk perjalanan singkat ke Bali dua hari lagi.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Raka.
“Pulang.”
“Ini rumahmu sekarang.”
Alya mengeluarkan pakaian kerja, beberapa kaus, dokumen, laptop, obat-obatan, serta kotak kecil berisi perhiasan milik ibunya.
“Rumah adalah tempat saya ikut menentukan bagaimana saya hidup. Di tempat ini, jadwal saya sudah ditulis orang lain sebelum saya bangun.”
“Kamu mau pergi hanya karena sebelas cucian?”
Alya berhenti, lalu menatapnya.
“Saya pergi karena suami saya mendengar ibunya memperlakukan saya seperti tenaga kerja yang baru diterima, dan kalimat pertamanya bukan membela saya. Kalimat pertamanya adalah menyuruh saya menurut.”
Wajah Raka memucat.
“Alya, keluarga masih ada di bawah. Kita akan malu.”
“Itu juga masalah kita. Kamu lebih takut mereka melihat saya pergi daripada takut saya merasa sendirian sehari setelah menikah.”
Ia mengganti pakaian, memasukkan ponsel ke tas, lalu melepas kunci rumah Bu Ratih dari gantungan kuncinya. Cincin pernikahan tetap berada di jarinya.
Raka memperhatikan cincin itu.
“Kamu mau menceraikanku?”
“Saya belum mengambil keputusan sejauh itu. Tetapi saya tidak akan tinggal di sini sambil menunggu kalian menentukan seluruh hidup saya.”
“Aku akan bicara dengan Ibu.”
“Kamu seharusnya sudah bicara dengannya sebelum menikahi saya.”
Alya menarik koper keluar kamar.
Di lantai bawah, tujuh anggota keluarga sedang duduk di ruang makan. Bu Ratih berdiri di dekat teko teh dan langsung memandang koper Alya.
“Kamu mau ke mana?”
“Ke apartemen saya di Depok.”
“Sekarang?”
“Iya.”
“Bagaimana dengan cucian?”
Alya meletakkan daftar sebelas cucian di atas meja.
“Saya sudah mengembalikannya kepada orang yang membuat daftar.”
Suasana langsung sunyi.
Seorang bibi Raka menunduk, pura-pura sibuk mengaduk teh. Sepupu yang lain saling bertukar pandang.
Bu Ratih memandang ke arah tangga, mungkin menunggu putranya turun dan memperbaiki keadaan.
Raka muncul beberapa detik kemudian.
“Alya hanya perlu menenangkan diri,” katanya.
Lagi-lagi, ia memilih kalimat yang membuat masalah itu terdengar seperti emosi Alya, bukan keputusan mereka.
Alya mengangguk kecil, seolah mendapat jawaban terakhir yang ia butuhkan.
“Bukan,” katanya. “Saya tidak sedang kehilangan kendali. Saya justru sedang berpikir dengan sangat jernih.”
Ia memesan mobil melalui ponsel, menarik koper melewati ruang tamu yang masih dipenuhi rangkaian bunga, lalu keluar tanpa membanting pintu.
Selama perjalanan menuju Depok, Raka menelepon tujuh kali.
Alya tidak mengangkatnya.
Pesan pertama berisi permintaan agar ia kembali sebelum para kerabat pulang. Pesan kedua mengatakan Bu Ratih merasa dipermalukan. Pesan ketiga menyebut persoalan itu seharusnya diselesaikan antara mereka berdua.
Baru pada pesan kedelapan, hampir tiga jam kemudian, Raka menulis sesuatu yang berbeda.
Aku menemukan kertas lain di dapur. Aku baru sadar ini bukan hanya soal pagi ini.
Alya membaca pesan itu, tetapi tidak membalas.
Kertas yang ditemukan Raka menempel di bagian dalam pintu lemari dapur. Judulnya “Jadwal Alya Setelah Menikah.”
Senin untuk mencuci dan mengganti seprai. Selasa berbelanja ke pasar bersama Bu Ratih. Rabu membersihkan lemari penyimpanan. Kamis mengantar Bu Ratih ke pertemuan arisan. Jumat menyiapkan makanan untuk keluarga yang datang. Sabtu dan Minggu diberi catatan: menyesuaikan kebutuhan Raka.
Di bawah jadwal itu ada daftar nomor telepon tukang sayur, penjahit langganan, apotek, dan petugas kebersihan yang jam kerjanya rencananya akan dikurangi mulai bulan berikutnya.
Nama Raka tidak muncul satu kali pun.
Sore harinya, Raka datang ke apartemen Alya.
Alya tidak membiarkannya masuk. Mereka berbicara di lobi, di dekat deretan pot tanaman dan mesin penjual minuman.
“Aku benar-benar tidak tahu tentang jadwal itu,” kata Raka.
“Tapi kamu tahu ibumu ingin saya berhenti bekerja.”
“Iya.”
“Dan kamu membiarkan dia percaya bahwa itu mungkin terjadi.”
Raka menunduk. “Iya.”
Untuk pertama kalinya sejak pagi, ia tidak menambahkan alasan.
“Aku pengecut,” lanjutnya. “Aku selalu menghindari pertengkaran dengan Ibu. Setiap kali beliau mengatakan sesuatu tentang kamu, aku menjawab ‘nanti dibicarakan’ karena kupikir setelah kita menikah semuanya akan menyesuaikan sendiri.”
“Yang kamu harapkan menyesuaikan adalah saya.”
“Iya.”
Jawaban itu menyakitkan, tetapi kejujurannya membuat Alya mau bertahan beberapa menit lebih lama.
“Aku tidak akan memintamu pulang malam ini,” kata Raka. “Aku juga tidak akan mengatakan Ibu hanya berniat baik. Niatnya mungkin menurut beliau baik, tetapi caranya salah. Dan aku lebih salah karena membiarkannya.”
Raka mengeluarkan kunci rumah ibunya dari saku.
“Aku juga akan pindah dari sana.”
Alya menggeleng. “Jangan pindah hanya untuk membuat saya merasa bersalah dan menerimamu kembali.”
“Aku tidak akan pindah ke sini. Aku akan tinggal di hotel dekat kantor sampai apartemen kita siap. Aku sudah menelepon kontraktor. Renovasinya bisa selesai dalam tiga minggu kalau beberapa pekerjaan tambahan kita batalkan.”
“Itu belum menyelesaikan masalah.”
“Aku tahu.”
Raka kemudian mengeluarkan ponselnya. Ia telah membuat janji dengan konselor pernikahan untuk minggu berikutnya.
“Aku tidak berharap satu janji membuatmu percaya lagi,” katanya. “Aku hanya ingin mulai melakukan sesuatu yang seharusnya kulakukan sebelum menikah.”
Alya tidak langsung memaafkannya.
Selama enam minggu berikutnya, mereka tinggal terpisah.
Mereka menghadiri konseling setiap Sabtu. Raka belajar bahwa diam di tengah ketidakadilan bukanlah sikap netral. Diamnya selalu menguntungkan orang yang paling berkuasa dan membuat orang yang ia cintai menanggung akibatnya.
Ia juga mulai melakukan hal-hal yang selama ini tak pernah ia pikirkan. Mencuci pakaiannya sendiri. Menyiapkan makan malam. Mengatur jadwal rumah tanpa menganggap waktu Alya lebih murah daripada waktunya.
Bu Ratih tidak menghubungi Alya selama hampir satu bulan.
Ketika akhirnya datang ke apartemen, ia berdiri di depan pintu tanpa membawa daftar, makanan, atau kerabat sebagai saksi.
“Saya boleh masuk?” tanyanya.
Alya membukakan pintu, tetapi tidak langsung mempersilakan duduk.
Bu Ratih meremas tali tasnya.
“Ibu saya dulu membangunkan saya pukul lima pagi sehari setelah pernikahan,” katanya. “Saya harus memasak untuk dua puluh orang. Selama bertahun-tahun saya menganggap itu bukti bahwa saya perempuan kuat.”
Alya menunggu.
“Ternyata saya hanya mengubah luka lama menjadi aturan baru.”
Mata Bu Ratih mulai basah.
“Ibu tidak meminta kamu melupakan kejadian itu. Ibu datang untuk mengakui bahwa Ibu memperlakukanmu seolah-olah menikahi anak Ibu berarti hidupmu menjadi milik keluarga kami. Itu salah.”
“Dan pekerjaan saya?”
“Bukan urusan Ibu untuk meminta kamu berhenti.”
“Kalau suatu hari kami punya anak?”
“Kalian yang memutuskan. Bukan Ibu.”
Alya baru mempersilahkannya duduk setelah itu.
Hubungan mereka tidak pulih dalam satu sore. Ada percakapan yang canggung, batas yang harus diulang, dan beberapa kebiasaan lama yang masih muncul. Namun setiap kali Bu Ratih mulai mengatur tanpa diminta, Raka tidak lagi menunggu Alya membela dirinya sendiri.
“Ibu, tanyakan dulu,” katanya.
Atau, “Itu keputusan kami.”
Atau yang paling sederhana, “Tidak.”
Tiga bulan setelah pernikahan, Alya pindah ke apartemen yang telah selesai direnovasi.
Raka tidak menganggap kepindahan itu sebagai bukti bahwa ia sudah dimaafkan sepenuhnya. Ia membawa kembali barang-barangnya hanya setelah Alya mengatakan bahwa ia siap mencoba tinggal bersama.
Mereka membuat pembagian pekerjaan tertulis, bukan karena cinta harus dihitung, melainkan karena rasa hormat tidak boleh bergantung pada siapa yang paling cepat merasa bersalah.
Raka memasak tiga malam dalam seminggu. Alya mengurus tagihan. Mereka bergantian mencuci pakaian dan menggunakan jasa pembersih dua kali seminggu dari pendapatan bersama.
Tak satu pun dari mereka kehilangan martabat karena memegang keranjang cucian.
Setahun kemudian, tepat pukul 06.08 pada pagi setelah ulang tahun pernikahan mereka, terdengar ketukan pelan di pintu kamar.
Alya membuka mata.
Di luar, Raka berdiri membawa nampan sarapan. Di atasnya ada dua cangkir kopi, roti panggang, telur, dan selembar kertas yang dilipat dua.
Alya membuka kertas itu.
Ada sebelas nomor di sana.
Nomor satu: minum kopi sebelum dingin.
Nomor dua: tidak membicarakan pekerjaan sampai pukul sembilan.
Nomor tiga: berjalan-jalan setelah sarapan.
Nomor empat sampai sepuluh hanya berisi kalimat, “Alya bebas menentukan sendiri.”
Nomor sebelas digarisbawahi dua kali.
Jangan pernah membiarkan siapa pun mengatur hidupmu tanpa persetujuanmu, termasuk suamimu.
Alya tertawa untuk pertama kalinya pagi itu.
Dari ruang tamu terdengar suara Bu Ratih yang datang membawa bunga dan sedang bertanya kepada Raka apakah ia boleh menggunakan mesin cuci untuk mencuci taplak yang dibawanya sendiri.
“Boleh,” jawab Raka, “tetapi Ibu yang memasukkan dan mengeluarkannya.”
Bu Ratih menggerutu kecil, lalu tertawa.
Alya memandang cincin di jarinya.
Pernikahan mereka tidak diselamatkan karena ia kembali dan belajar menahan diri. Pernikahan itu diselamatkan karena ia pergi pada saat yang tepat, karena Raka akhirnya berani berubah, dan karena mereka membangun rumah yang tidak meminta salah satu penghuninya mengecil agar yang lain merasa nyaman.
Pada pagi pertama setelah pernikahannya, Alya meninggalkan suaminya.
Setahun kemudian, ia tetap bersamanya—bukan karena harus, melainkan karena untuk pertama kalinya mereka benar-benar berjalan sebagai dua orang yang setara.
