Saat Makan Malam di Jakarta, Konsultan Perempuan Menampar Istrinya, dan Satu Tamparan Balasan Meruntuhkan Seluruh Kerajaannya

Avatar penulis
Cerita 01
14 menit baca 222 tayangan
Saat Makan Malam di Jakarta, Konsultan Perempuan Menampar Istrinya, dan Satu Tamparan Balasan Meruntuhkan Seluruh Kerajaannya
Indeks

Saat Makan Malam di Jakarta, Konsultan Perempuan Menampar Istrinya, dan Satu Tamparan Balasan Meruntuhkan Seluruh Kerajaannya

**Tamparan itu terdengar di antara hidangan salad tuna dan hidangan utama, di ruang makan privat yang berada di lantai atas Nusantara Capital Club, kawasan SCBD Jakarta. Suaranya begitu tajam hingga pelayan yang sedang memiringkan botol anggur berhenti menuang di tengah gerakan.**

Nadira Kusumawardhana duduk membeku, wajahnya terpaling ke samping akibat kerasnya tamparan itu.

Satu tangannya masih tenang di pangkuan.

Tangan yang lain masih memegang ujung serbet putih yang baru saja ia rapikan ketika telapak tangan Celine Hartono menghantam pipinya.

Selama tiga detik penuh, tak seorang pun dari dua belas orang di ruangan itu bergerak.

Saat Makan Malam di Jakarta, Konsultan Perempuan Menampar Istrinya, dan Satu Tamparan Balasan Meruntuhkan Seluruh Kerajaannya

Para mitra investasi, pemilik perusahaan, pengacara, serta pasangan mereka duduk terpaku di kursi masing-masing.

Di balik dinding kaca besar, lampu-lampu di Jalan Jenderal Sudirman dan gedung-gedung pencakar langit Jakarta membentuk garis-garis panjang di balik hujan.

Di dalam ruangan, udara seolah membeku.

Celine berdiri di samping Nadira dengan gaun krem keemasan, tangan yang baru saja menamparnya masih sedikit gemetar di sisi tubuh.

Dagunya terangkat.

Itu adalah sikap seseorang yang sudah membayangkan dirinya memenangkan pertengkaran ini, tetapi sama sekali tidak pernah membayangkan apa yang akan terjadi setelahnya.

“Jangan bicara kepada saya dengan nada seperti itu,” kata Celine.

Suaranya tegang oleh adrenalin.

“Bukan di sini. Bukan di depan orang-orang penting.”

Nadira perlahan menoleh kembali.

Di ujung meja, suaminya, Armand Wijaya, tampak pucat.

Bukan wajah seorang pria yang baru saja melihat istrinya diserang.

Itu wajah seorang pria yang sedang menghitung kerugian.

Ia tidak berjalan mendekati istrinya.

Ia bahkan tidak langsung berdiri.

Tangannya menggantung di atas gelas air mineral, seolah dalam beberapa detik singkat itu ia sedang mencoba memutuskan siapa yang harus ia bela agar kerusakan yang terjadi bisa sekecil mungkin.

“Nadira,” panggil Armand dengan suara rendah yang terdengar seperti peringatan.

Nadira menatapnya.

Armand tidak melanjutkan.

Celine mengeluarkan tawa pendek.

“Benar-benar tidak paham bagaimana acara seperti ini berjalan, ya? Ini makan malam penggalangan dana, bukan gala amal tempat Anda hanya perlu tersenyum dan menandatangani cek.”

Nadira berdiri.

Usianya tiga puluh delapan tahun, bertubuh kecil, mengenakan gaun hijau lumut yang sederhana dan tertutup.

Di telinganya terpasang sepasang anting mutiara milik ibunya.

Tanpa kalung.

Tanpa berlian.

Tanpa jam tangan mewah untuk membuktikan bahwa ia pantas berada di ruangan itu.

Selama sebelas tahun menjadi istri Armand, Nadira telah duduk di banyak meja seperti ini.

Orang-orang mengenalnya sebagai perempuan yang anggun.

Tertutup.

Tenang.

Seorang perempuan yang *tidak banyak bicara*.

Di kalangan bisnis Jakarta, hal itu terkadang dianggap sebagai pujian.

Para pria yang mengelola dana bernilai triliunan rupiah pernah menjabat tangan Nadira dengan sangat sopan, lalu langsung beralih kepada Armand karena menganggap dialah orang yang sebenarnya memegang kekuasaan.

Armand diuntungkan oleh kesalahpahaman itu.

Dan selama sebelas tahun, ia tidak pernah sekali pun meluruskannya.

Nadira mengangkat tangannya.

Ia menampar Celine.

Hanya sekali.

Singkat.

Tepat.

Bukan tamparan seseorang yang kehilangan kendali.

Melainkan reaksi seorang perempuan yang akhirnya menyadari bahwa ada hal-hal yang, jika terus ia telan, akan membuatnya membayar dengan harga dirinya sendiri.

Suara tamparan balasan itu bahkan lebih tajam daripada yang pertama.

Celine terhuyung ke belakang dan menabrak sandaran kursi.

Tangannya langsung menutup pipi.

Seluruh ruangan menarik napas bersamaan.

Kali ini Armand langsung berdiri.

“Apa yang sedang kamu lakukan?”

Nadira tidak menatap Celine.

Ia menatap lurus ke arah suaminya.

“Pertanyaan yang menarik.”

Suaranya sangat tenang.

“Kamu mau saya jawab sekarang, atau kamu ingin saya jelaskan dulu kepada semua orang di sini siapa sebenarnya yang membuat proyek Teluk Aruna tetap hidup sampai hari ini?”

Beberapa investor langsung mengangkat kepala.

Bram Santoso, enam puluh dua tahun, mitra senior Santoso Capital, meletakkan garpunya.

Perusahaannya sedang mempertimbangkan untuk menjadi investor utama pada tahap berikutnya Teluk Aruna Residence, proyek kawasan terpadu di pesisir utara Jakarta yang selama dua tahun terakhir terus dipromosikan Armand.

Wajah Armand berubah.

Wajah Armand berubah. Bukan sekadar pucat, melainkan seperti seseorang yang baru menyadari bahwa pintu keluar yang sejak tadi ia andalkan ternyata sudah dikunci dari luar.

“Nadira, cukup,” katanya.

Nadira tetap berdiri. Bekas merah mulai tampak di pipi kirinya, tetapi suaranya tidak meninggi.

“Tidak. Selama ini kamu selalu mengatakan cukup setiap kali aku hampir menyelesaikan satu kalimat.”

Ia memandang Bram Santoso, lalu para calon investor lain di meja itu.

“Teluk Aruna tidak dimiliki oleh Armand. Pemegang enam puluh dua persen saham PT Aruna Pesisir Lestari adalah saya. Perusahaan itulah yang memegang HGB atas lahan utama proyek dan perjanjian kerja sama pengembangannya. Saham itu sudah menjadi milik saya sebelum kami menikah. Armand ditunjuk sebagai direktur pelaksana karena sebelas tahun lalu saya mempercayainya.”

Keheningan di ruangan itu berubah bentuk.

Tadi orang-orang diam karena terkejut melihat dua perempuan saling menampar. Sekarang mereka diam karena menyadari bahwa seluruh penjelasan mengenai siapa yang berkuasa di proyek bernilai triliunan rupiah itu mungkin telah disusun secara keliru.

Bram menyandarkan punggungnya.

“Lalu apa maksud Ibu tentang proyek itu tetap hidup?”

“Maksud saya,” jawab Nadira, “selama dua puluh tiga bulan terakhir, kebutuhan lahan, revisi arus kas, negosiasi dengan bank, dan penyelesaian keberatan tiga puluh tujuh pemilik kios lama ditangani oleh tim yang melapor kepada saya. Ketika biaya konstruksi naik, saya memasukkan tambahan modal seratus delapan puluh miliar rupiah agar kontraktor tidak menghentikan pekerjaan. Armand tampil dalam konferensi pers. Saya memastikan para pekerja tetap menerima upah.”

Armand akhirnya bergerak mengitari meja.

“Ini bukan tempat untuk membicarakan urusan internal.”

“Anda benar,” kata Nadira. “Seharusnya urusan ini dibahas dalam rapat direksi enam minggu lalu, ketika saya meminta penjelasan tentang biaya konsultasi sebesar enam puluh tiga koma delapan miliar rupiah.”

Celine menurunkan tangan dari pipinya.

“Itu fitnah.”

Nadira menatapnya untuk pertama kali sejak membalas tamparan.

“Sebelum Anda memukul saya, saya hanya bertanya mengapa tiga perusahaan yang menerima pembayaran dari proyek memiliki alamat korespondensi yang sama dengan Hartono Strategic Advisory. Saya juga bertanya mengapa salah satu direkturnya adalah adik Anda, sedangkan satu lagi pernah menjadi asisten pribadi Anda. Anda tidak menjawab. Anda menampar saya.”

Ia mengambil ponselnya dari meja.

Satu sentuhan pada layar mengirimkan pesan yang sudah disiapkan sebelumnya. Hampir bersamaan, ponsel Bram dan tiga orang lain bergetar.

“Tautan itu menuju ruang data terbatas,” lanjut Nadira. “Di dalamnya ada laporan awal audit forensik dari kantor akuntan publik independen, salinan faktur, mutasi rekening proyek, akta perusahaan para vendor, serta surat elektronik yang menunjukkan siapa yang memerintahkan pemecahan tagihan agar tidak melewati batas persetujuan komisaris. Saya tidak meminta siapa pun mempercayai ucapan saya. Periksa dokumennya.”

Armand berhenti dua langkah darinya.

“Kamu membagikan dokumen rahasia tanpa izin saya?”

“Saya komisaris utama, pemegang saham pengendali, dan pihak yang menandatangani perjanjian kerahasiaan dengan calon investor di ruangan ini. Saya tidak memerlukan izin direktur yang sedang diperiksa untuk menunjukkan hasil pemeriksaannya.”

Bram membuka berkas pertama. Matanya bergerak cepat di atas layar, kemudian berhenti pada satu halaman.

“Surat instruksi pembayaran ini ditandatangani Pak Armand.”

Tidak seorang pun menjawab.

Celine mencoba mengambil tasnya, tetapi kursi yang tadi tertabrak menghalangi langkahnya.

“Saya tidak akan duduk di sini dan membiarkan perempuan ini merusak nama saya. Dia menyerang saya di depan saksi. Saya akan melapor ke polisi.”

Nadira mengangguk.

“Anda berhak melakukannya. Saya juga akan memberikan keterangan yang sebenarnya: Anda menampar saya lebih dahulu dan saya membalas. Rekaman kamera serta para saksi akan menunjukkan keduanya. Saya tidak bangga telah mengangkat tangan, dan saya siap bertanggung jawab atas tindakan saya. Namun laporan mengenai tamparan tidak akan menghapus catatan transfer, faktur, atau benturan kepentingan yang Anda sembunyikan.”

Kalimat itu mematahkan keberanian yang tersisa di wajah Celine.

Bukan karena Nadira mengancamnya, melainkan karena ia tidak menawarkan kebohongan yang bisa diserang.

Manajer klub datang bersama petugas keamanan. Nadira meminta rekaman dari ruang makan diamankan dan tidak dihapus. Ia juga meminta pelayan yang menyaksikan kejadian mencatat namanya jika kelak bersedia memberikan keterangan.

Setelah itu ia mengambil tas kecilnya dan meminta maaf kepada tuan rumah karena makan malam telah terganggu.

Armand menyusulnya sampai ke lorong lift.

“Kalau kamu keluar sekarang, kesepakatan ini selesai,” katanya.

Nadira menekan tombol lantai dasar.

“Kesepakatan itu sudah saya hentikan sementara pukul tujuh lewat sepuluh malam, sebelum hidangan pertama disajikan.”

Armand menatapnya tak percaya.

“Kamu tidak bisa membatalkan fasilitas kredit sesuka hati.”

“Aku tidak membatalkan kewajiban yang sudah ada. Aku memberi tahu bank tentang pelanggaran syarat pelaporan dan meminta penarikan dana baru ditunda sampai audit selesai. Itu kewajibanku sebagai komisaris dan penjamin terbatas.”

Pintu lift terbuka. Nadira melangkah masuk, lalu berbalik.

“Yang kuhentikan malam ini bukan proyeknya, Armand. Yang kuhentikan adalah hakmu memakai diamku sebagai modal.”

Untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun, Armand tidak memiliki jawaban yang bisa membuat Nadira meragukan dirinya sendiri.

Malam itu Nadira tidak pulang ke rumah mereka di Kebayoran Baru. Atas saran pengacaranya, Mira Anggraini, ia pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan pipinya dan memperoleh catatan medis.

Setelah itu ia menginap di apartemen kecil milik ibunya di Menteng, tempat yang selama bertahun-tahun dibiarkan kosong setelah sang ibu meninggal.

Anting mutiara yang dipakainya ia letakkan di atas meja rias. Di sampingnya ada foto lama ibunya, seorang perempuan yang pernah berkata bahwa tenang tidak sama dengan tunduk.

Nadira baru memahami kalimat itu sepenuhnya malam tersebut.

Pukul delapan keesokan paginya, rapat gabungan direksi dan dewan komisaris berlangsung di kantor PT Aruna Pesisir Lestari.

Armand datang dengan dua pengacara.. Celine tidak hadir, tetapi mengirim surat yang menyangkal seluruh tuduhan dan menuntut pembayaran sisa honor konsultasinya.

Mira duduk di sebelah Nadira bersama tim auditor.

Selama hampir empat jam, mereka memaparkan aliran dana satu per satu.

Dari enam puluh tiga koma delapan miliar rupiah biaya konsultasi, empat puluh satu koma dua miliar tidak memiliki hasil kerja yang dapat diverifikasi. Sebagian faktur menggunakan uraian jasa yang sama, hanya tanggal dan nomor dokumennya yang diubah.

Sebanyak delapan belas koma enam miliar mengalir ke dua perusahaan yang terhubung dengan keluarga Celine.

Bukti pendukung berupa surat elektronik menunjukkan bahwa Armand meminta kepala keuangan menandai transaksi itu sebagai “biaya percepatan komersial” agar tidak menimbulkan pertanyaan dari Nadira.

Temuan yang paling menyakitkan bukanlah angka terbesar.

Itu adalah satu pesan singkat dari Armand kepada Celine:

“Biarkan Nadira tetap merasa ini urusan operasional. Selama dia tidak banyak bicara, kita aman.”

Nadira membacanya sekali.

Ia tidak menangis.

Ia hanya meminta halaman itu dimasukkan ke dalam berita acara.

Berdasarkan anggaran dasar perusahaan, dewan komisaris menonaktifkan Armand sementara dari tugas direksi sampai RUPS luar biasa dilaksanakan. Kewenangan pembayaran dipindahkan kepada dua direktur lain dengan persetujuan bersama komisaris.

Rekening proyek tidak dikosongkan, pekerja tidak diberhentikan, dan kewajiban kepada kontraktor tetap dibayar setelah diverifikasi.

Nadira menolak menjadikan ribuan pekerja dan pembeli sebagai korban dari kesalahan dua orang.

Dua minggu kemudian, setelah pemanggilan RUPS dilakukan sesuai prosedur, Armand resmi diberhentikan.

Kontrak Hartono Strategic Advisory dihentikan karena pelanggaran berat, dan perusahaan mengajukan gugatan untuk mengembalikan pembayaran yang tidak sah. Laporan audit beserta dokumen pendukung diserahkan kepada penyidik.

Bank dan calon investor menerima laporan yang sama, bukan versi yang sudah dipoles untuk menyelamatkan reputasi siapa pun.

Bram Santoso menunda investasinya, tetapi ia tidak pergi.

“Bersihkan semuanya,” katanya kepada Nadira. “Bangun pengawasan yang benar. Setelah itu kita bicara lagi.”

Selama tiga bulan berikutnya, nama Celine Hartono masih muncul di halaman bisnis.

Awalnya ia menyebut kejadian di klub sebagai perselisihan pribadi dengan seorang istri yang cemburu. Pernyataan itu runtuh ketika Nadira, tanpa menyebut hubungan pribadi apa pun, menerbitkan kronologi perusahaan yang disertai hasil audit independen.

Klien-klien Celine kemudian memeriksa tagihan mereka sendiri.

Dua perusahaan menemukan pola pemecahan faktur yang serupa. Satu perusahaan lain mendapati bahwa riset pasar yang dibayar mahal ternyata disalin dari laporan lama dengan angka yang sedikit diubah.

Dewan klien memutus kontrak. Bank meninjau fasilitas usahanya. Para mitra senior meninggalkan Hartono Strategic Advisory satu demi satu.

Kantor tiga lantai yang selama ini disebut Celine sebagai pusat kerajaannya ditutup sebelum akhir tahun.

Namun Nadira tidak pernah berkata bahwa satu tamparan telah menghancurkan Celine.

Tamparan itu hanya membuat satu ruangan penuh orang penting berhenti berpura-pura tidak melihat.

Yang meruntuhkan kerajaannya adalah setiap tanda tangan palsu, setiap faktur tanpa pekerjaan, dan setiap keyakinan bahwa perempuan pendiam tidak akan pernah membuka berkas.

Mengenai pertengkaran fisik malam itu, Celine dan Nadira sama-sama membuat laporan. Rekaman menunjukkan urutan kejadian dengan jelas.

Melalui proses penyelesaian yang disaksikan kuasa hukum, keduanya akhirnya menyampaikan pengakuan tertulis atas tindakan masing-masing dan mencabut laporan pribadi setelah kewajiban yang disepakati dipenuhi.

Nadira tidak menggunakan posisinya untuk menghapus kesalahannya sendiri.

Dalam pernyataannya, ia menulis bahwa membela martabat tidak selalu harus dilakukan dengan tangan.

Kalimat itu justru membuat lebih banyak orang menghormatinya.

Perkara keuangan tetap berjalan karena bukan persoalan pribadi yang dapat dihapus dengan permintaan maaf.

Armand datang ke apartemen Menteng sebulan setelah RUPS. Tubuhnya tampak lebih kurus, dasinya tidak serapi biasanya.

Ia berdiri di ambang pintu sambil membawa map perceraian yang sudah dikirim Mira.

“Sebelas tahun,” katanya. “Kamu benar-benar mau mengakhirinya seperti ini?”

“Bukan aku yang mengakhirinya pada malam makan malam itu,” jawab Nadira. “Kamu mengakhirinya sedikit demi sedikit setiap kali memakai asetku tanpa keterbukaan, setiap kali membiarkan orang mengira aku hanya aksesori, dan setiap kali memilih melindungi Celine karena melindunginya berarti melindungi dirimu.”

Armand berkata ia tidak pernah mencintai Celine.

Nadira percaya kepadanya.

Justru itulah yang membuat semuanya semakin jelas. Ini bukan kisah perselingkuhan yang bisa ia salahkan pada perasaan sesaat.

Armand mengkhianatinya demi uang, citra, dan kendali. Ia sadar sepenuhnya pada setiap langkah.

“Aku bisa memperbaikinya,” kata Armand.

“Kamu harus memperbaiki apa yang masih bisa kamu perbaiki,” jawab Nadira. “Mengembalikan uang perusahaan. Mengatakan yang sebenarnya kepada penyidik. Meminta maaf kepada orang-orang yang pekerjaannya kamu pertaruhkan. Tetapi semua itu tidak membeli kembali pernikahan kita.”

Proses perceraian selesai beberapa bulan kemudian.

Saham PT Aruna Pesisir Lestari tetap menjadi harta bawaan Nadira, sedangkan harta bersama dibagi melalui kesepakatan yang disahkan pengadilan.

Nadira tidak mengambil lebih dari haknya, tetapi ia juga tidak lagi menyerahkan haknya hanya untuk menjaga perasaan Armand.

Rumah yang selama ini mereka tempati dijual. Bagian Nadira digunakan untuk membeli kembali beberapa unit hunian proyek yang hampir jatuh ke tangan spekulan, lalu memasukkannya ke dalam program kepemilikan bagi karyawan lapangan.

Setahun setelah makan malam itu, Teluk Aruna memiliki struktur baru.

Setiap transaksi bernilai besar membutuhkan persetujuan berlapis. Hubungan dengan vendor harus diumumkan. Laporan penggunaan dana dapat diperiksa investor melalui ruang data, dan komite audit dipimpin profesional independen.

Nadira menerima jabatan direktur utama bukan karena ia ingin menggantikan foto Armand dengan fotonya sendiri, melainkan karena ia tidak mau lagi bersembunyi di balik pekerjaan yang sejak awal memang ia lakukan.

Bram Santoso akhirnya kembali dengan komitmen investasi.

Namun Nadira menerima dana itu hanya setelah syarat perlindungan lingkungan, ruang usaha bagi pedagang lama, dan porsi hunian terjangkau dimasukkan ke dalam perjanjian.

Proyek yang dahulu dibangun sebagai monumen nama Armand berubah menjadi kawasan yang bisa dipertanggungjawabkan kepada orang-orang yang tinggal di sekitarnya.

Delapan belas bulan setelah kejadian di Nusantara Capital Club, Nadira kembali ke ruang makan privat yang sama.

Kali ini ia datang bukan sebagai istri pendamping.

Ia menjadi pembicara utama dalam penandatanganan pembiayaan tahap baru Teluk Aruna.

Bekas tamparan tentu sudah lama hilang. Yang tersisa hanyalah ingatan tentang perempuan yang pernah duduk diam sambil menunggu suaminya memilih untuk membelanya.

Pelayan yang dahulu berhenti menuang anggur mengenalinya dan tersenyum kecil. Nadira membalas senyum itu.

Di ujung meja, Bram mengangkat gelas air mineral.

“Untuk orang yang menyelamatkan Teluk Aruna.”

Nadira ikut mengangkat gelas, tetapi menggeleng.

“Untuk orang-orang yang tetap bekerja ketika para pemimpinnya gagal,” katanya. “Dan untuk sistem yang membuat tidak seorang pun lagi bisa membangun kerajaan dari kebisuan orang lain.”

Tepuk tangan memenuhi ruangan.

Tidak ada Armand di sampingnya.

Tidak ada nama keluarga suaminya yang harus ia pinjam.

Tidak ada siapa pun yang berbicara mewakilinya.

Seusai acara, Nadira berdiri sebentar di depan dinding kaca. Hujan turun di atas Sudirman, hampir sama seperti malam ketika semuanya pecah.

Di bawah sana, lampu kendaraan bergerak seperti aliran emas di antara gedung-gedung.

Mira mendekatinya dan bertanya apakah ia bahagia.

Nadira memikirkan rumah yang telah dijual, pernikahan yang selesai, dan tahun panjang yang dipenuhi rapat, pemeriksaan, serta hari-hari ketika ia bangun dengan rasa takut tetapi tetap datang bekerja.

Lalu ia teringat para pekerja yang tetap menerima gaji, para pedagang yang tidak kehilangan tempat, dan pintu apartemen Menteng yang kini selalu terasa seperti rumah.

“Ya,” jawabnya.

Bukan karena ia telah menang atas Celine atau Armand.

Bukan karena sebuah kerajaan telah runtuh.

Ia bahagia karena akhirnya hidupnya tidak lagi bergantung pada seberapa kecil ia harus mengecilkan diri agar orang lain merasa besar.

Nadira menyentuh anting mutiara peninggalan ibunya, kemudian meninggalkan ruang itu dengan langkah tenang.

Kali ini, seluruh meja mengetahui siapa dirinya.

Dan yang paling penting, Nadira juga mengetahuinya.