Pak Sarman Menemukan Bayi Baru Lahir di Atas Makam Perempuan Muda yang Meninggal Saat Hamil Beberapa Bulan Lalu

Avatar penulis
Cerita 01
14 menit baca 45 tayangan
Indeks

Bagian 2

Pak Sarman tidak membuang waktu lagi.

Ia meletakkan sapu dan cangkul kecilnya begitu saja di samping makam, lalu dengan kedua tangan yang gemetar mengangkat bayi itu dari atas tanah.

“Sudah, sudah… jangan menangis,” bisiknya.

Begitu berada dalam pelukannya, tangisan bayi itu justru perlahan mereda.

Pak Sarman Menemukan Bayi Baru Lahir di Atas Makam Perempuan Muda yang Meninggal Saat Hamil Beberapa Bulan Lalu

Pak Sarman menarik ujung kain lebih rapat untuk melindungi tubuh kecil itu dari angin pagi. Ia sama sekali tidak tahu siapa yang meninggalkan bayi tersebut, tetapi satu hal jelas baginya: bayi sekecil itu tidak boleh berada di pemakaman lebih lama.

Ia bergegas menuruni jalan setapak menuju rumahnya.

Baru beberapa langkah, sesuatu jatuh dari lipatan kain.

Selembar kertas.

Pak Sarman berhenti.

Kertas itu dilipat empat dan dimasukkan di antara lapisan kain pembungkus bayi. Hampir saja ia tidak melihatnya.

Dengan satu tangan menopang bayi, Pak Sarman mengambil kertas tersebut.

Ada tulisan tangan di bagian luar.

Untuk siapa pun yang menemukan bayi ini, tolong jangan biarkan dia kembali kepada orang yang membawanya ke sini.

Pak Sarman merasa dadanya seperti dihantam sesuatu.

Ia membuka lipatannya.

Tulisan di dalam jauh lebih panjang.

Namanya sementara Kirana.

Dia lahir tadi malam.

Dia tidak dibuang karena tidak dicintai.

Saya membawanya ke makam Maya karena saya tahu di tempat inilah seseorang akan menemukannya pagi-pagi.

Pak Sarman, kalau Bapak yang membaca surat ini, saya minta maaf.

Pak Sarman berhenti membaca.

Namanya tertulis di sana.

Berarti orang yang meninggalkan bayi itu mengenalnya.

Ia melanjutkan dengan napas berat.

Jangan percaya siapa pun yang mengatakan bayi ini adalah anak Maya sebelum dilakukan pemeriksaan yang benar. Ada orang yang akan berusaha menggunakan kematian Maya untuk menutupi sesuatu.

Saya tidak punya keberanian membawa Kirana ke kantor polisi malam ini. Tetapi saya tidak ingin dia mati.

Tolong selamatkan dia.

Tidak ada nama pengirim.

Tidak ada nomor telepon.

Hanya satu kalimat terakhir.

Cari Ratri.

Pak Sarman mengingat perempuan muda yang menangis di samping ibu Maya pada hari pemakaman.

Ratri.

Adik Maya.

Pak Sarman memasukkan surat itu ke dalam saku kemejanya.

Setelah tiba di rumah, ia tidak mencoba menangani semuanya sendiri. Ia mengetuk rumah Bu Ningsih, bidan desa yang tinggal sekitar dua ratus meter dari rumahnya.

Bu Ningsih membuka pintu dengan rambut masih belum tersisir sempurna.

“Pak Sarman? Ada apa?”

Kemudian ia melihat bayi dalam pelukan lelaki tua itu.

Wajahnya langsung berubah.

“Bayi siapa?”

“Entahlah.”

“Entahlah bagaimana?”

“Saya menemukannya di makam Maya.”

Bu Ningsih terdiam.

“Jangan bercanda soal begituan, Pak.”

Pak Sarman menatapnya serius.

“Menurutmu wajah saya sedang bercanda?”

Lima menit kemudian bayi itu sudah berada di ruang depan rumah Bu Ningsih.

Sebagai bidan yang sudah bekerja lebih dari dua puluh tahun, Bu Ningsih bergerak cepat. Ia memeriksa suhu tubuh bayi, pernapasan, tali pusat, warna kulit, dan refleksnya.

“Perempuan,” katanya.

Pak Sarman mengangguk.

“Sehat?”

“Untuk bayi yang baru lahir dan ditemukan di luar rumah setelah hujan deras, kondisinya jauh lebih baik daripada yang saya takutkan.”

Bu Ningsih menatap tali pusat bayi.

“Ini memang bayi baru lahir. Mungkin belum dua belas jam.”

Pak Sarman mengeluarkan surat itu.

Setelah membacanya, Bu Ningsih tidak berkata apa-apa cukup lama.

“Kita harus melapor.”

“Saya juga berpikir begitu.”

Mereka menghubungi kepala desa dan puskesmas. Tak lama kemudian, petugas datang membawa bayi itu untuk pemeriksaan lebih lengkap. Polisi sektor setempat juga menerima laporan mengenai penemuan bayi.

Kabar menyebar jauh lebih cepat daripada yang Pak Sarman inginkan.

Sebelum siang, hampir seluruh Desa Tanjungarum tahu ada bayi ditemukan di atas makam Maya.

Dan seperti yang bisa diduga, cerita mulai bermunculan.

Ada yang mengatakan bayi itu pasti anak Maya.

Ada yang mengatakan Maya sebenarnya tidak pernah kehilangan kandungannya.

Ada pula yang mulai membawa cerita itu ke arah yang tidak masuk akal.

Pak Sarman menolak semuanya.

“Bayi hidup itu bukan bahan cerita warung,” katanya kepada beberapa orang yang berkumpul di depan rumahnya. “Kalau tidak tahu fakta, jangan membuat fakta sendiri.”

Menjelang siang, keluarga Maya datang.

Ibunya, Bu Marni, hampir jatuh ketika mendengar lokasi bayi ditemukan.

“Apa benar di makam Maya?”

Pak Sarman mengangguk.

Bu Marni menangis.

Di belakangnya berdiri suaminya, Pak Darto, dengan wajah pucat.

Tetapi Ratri tidak bersama mereka.

“Ratri di mana?” tanya Pak Sarman.

Pak Darto menjawab cepat.

“Di kota.”

“Sejak kapan?”

“Beberapa hari.”

Pak Sarman tidak mengatakan apa pun tentang surat itu.

Ia hanya memperhatikan tangan Pak Darto yang terus mengepal.

Sore harinya, sesuatu yang lebih aneh terjadi.

Seorang pria bernama Bima datang ke rumah Pak Sarman.

Pak Sarman mengenalnya sekilas. Bima pernah disebut-sebut sebagai calon suami Maya sebelum perempuan itu meninggal.

Pria itu datang mengendarai mobil hitam dan langsung bertanya tentang bayi.

“Saya dengar bayi ditemukan di makam Maya.”

“Semua orang sudah dengar.”

“Saya ingin melihatnya.”

“Untuk apa?”

Bima menahan napas.

“Kalau itu anak Maya, mungkin itu anak saya.”

Pak Sarman menatapnya.

“Katamu ‘kalau’.”

Bima mengatupkan rahang.

“Maya sedang hamil anak saya ketika meninggal.”

“Itu urusan yang bisa dibuktikan nanti. Bukan dengan mengambil bayi dari puskesmas.”

“Saya tidak bilang mau mengambil.”

“Bagus.”

Bima memandang Pak Sarman beberapa detik sebelum kembali ke mobilnya.

Malam itu, Pak Sarman sulit tidur.

Ia terus memikirkan satu kalimat dalam surat.

Jangan percaya siapa pun yang mengatakan bayi ini adalah anak Maya.

Jika bukan anak Maya, mengapa bayi itu diletakkan di makamnya?

Dan mengapa pengirim surat menyuruhnya mencari Ratri?

Jawabannya datang dua hari kemudian.

Sekitar pukul sembilan malam, seseorang mengetuk pintu rumah Pak Sarman tiga kali.

Pelan.

Ketika pintu dibuka, Ratri berdiri di sana.

Wajahnya pucat. Matanya bengkak.

Dan tangan kanannya membawa tas kecil.

“Pak…”

Pak Sarman segera mempersilahkannya masuk.

Begitu pintu ditutup, Ratri menangis.

“Saya yang menulis surat itu.”

Pak Sarman menatapnya lama.

“Bayi itu anak siapa?”

Ratri menghapus air matanya.

“Anak saya.”

Ruangan itu mendadak sangat sunyi.

Ratri kemudian menceritakan semuanya.

Beberapa bulan sebelum Maya meninggal, Ratri mengetahui bahwa dirinya hamil. Ayah bayi itu adalah seorang pemuda bernama Arif yang bekerja di kota lain. Mereka berniat menikah, tetapi keluarga Ratri menolak karena keadaan ekonomi Arif.

Maya justru menjadi orang yang paling membela adiknya.

Maya membantu Ratri menjalani pemeriksaan kehamilan diam-diam sampai keluarga akhirnya mengetahui keadaan tersebut.

Namun masalah menjadi jauh lebih buruk setelah Maya meninggal akibat komplikasi mendadak saat kehamilannya sendiri memasuki bulan keenam.

“Bayi Mbak Maya tidak selamat,” kata Ratri lirih.

Pak Sarman menelan ludah.

“Lalu kenapa bayi kamu diletakkan di makam Maya?”

Ratri menangis lagi.

“Karena Bapak saya ingin membuat semua orang percaya bayi saya adalah anak Mbak Maya.”

Pak Sarman terdiam.

Ratri menjelaskan bahwa ayahnya terlilit utang kepada keluarga Bima.

Sebelum Maya meninggal, keluarga Bima telah menyiapkan sejumlah uang untuk biaya pernikahan serta tempat tinggal Maya dan Bima. Setelah Maya meninggal bersama janinnya, hubungan kedua keluarga memburuk.

Beberapa minggu kemudian, Pak Darto mempunyai gagasan yang mengerikan.

Jika bayi Ratri lahir dan diperkenalkan sebagai anak Maya yang ternyata “diselamatkan” sebelum Maya meninggal, keluarga mereka bisa menekan Bima untuk mengakui bayi tersebut sebagai ahli waris.

Pak Sarman sampai berdiri dari kursinya.

“Itu tidak masuk akal.”

“Saya tahu.”

“Dokter pasti punya catatan.”

“Bapak saya berpikir di desa orang akan lebih percaya cerita daripada dokumen.”

“Tapi akhirnya tetap terbongkar.”

Ratri mengangguk sambil menangis.

“Saya bilang saya tidak akan menyerahkan anak saya.”

Pada malam setelah melahirkan di rumah seorang kenalan di desa lain, Ratri mendengar ayahnya sudah mengatur seseorang untuk membawa bayi itu pulang.

Ia panik.

Ia hanya memikirkan satu tempat di mana bayi tersebut pasti ditemukan pagi-pagi tanpa langsung jatuh ke tangan keluarganya.

Makam Maya.

Karena Pak Sarman selalu berada di sana sebelum matahari terbit.

“Saya tahu Bapak akan menemukannya.”

Pak Sarman menarik napas panjang.

“Kamu mempertaruhkan keselamatan anakmu.”

“Saya tahu.” Suara Ratri pecah. “Saya salah. Saya takut sekali.”

Pak Sarman menatap perempuan muda itu.

Marah, iya.

Namun ia juga melihat seorang ibu yang baru melahirkan, ketakutan, sendirian, dan mengambil keputusan buruk karena merasa tidak memiliki jalan lain.

“Sekarang kamu ikut saya,” katanya.

Ratri mengangkat kepala.

“Ke mana?”

“Ke polisi. Lalu ke puskesmas. Kamu ceritakan semuanya dari awal.”

Ratri tampak ketakutan.

Pak Sarman membuka pintu.

“Kalau ingin melindungi anakmu, jangan sembunyi lagi.”

Kali ini Ratri mengangguk.


Bagian 3

Kebenaran tidak membuat semuanya langsung mudah.

Tetapi setidaknya, untuk pertama kalinya sejak Kirana lahir, semua orang mulai berdiri di atas fakta yang sama.

Ratri memberikan keterangan resmi. Pemeriksaan medis dan catatan kehamilan memperkuat ceritanya. Dokumen rumah sakit menunjukkan Maya memang kehilangan bayinya ketika meninggal beberapa bulan sebelumnya.

Tidak pernah ada bayi Maya yang disembunyikan.

Tidak pernah ada keajaiban aneh.

Tidak ada cerita tentang bayi yang bertahan selama berbulan-bulan tanpa diketahui siapa pun.

Kirana adalah anak Ratri.

Dan Ratri adalah ibunya.

Pak Darto akhirnya mengakui bahwa ia memang pernah membicarakan rencana untuk mengakuinya sebagai anak Maya. Ia mengatakan dirinya terdesak utang dan takut kehilangan rumah serta sawah kecil keluarga.

Pengakuan itu menghancurkan Bu Marni.

Perempuan tersebut menangis selama berjam-jam ketika mengetahui sejauh apa suaminya berniat menggunakan nama putri mereka yang sudah meninggal.

Namun cerita yang sebenarnya sedikit berbeda dari ketakutan Ratri.

Pak Darto memang membuat rencana tersebut, tetapi belum sempat menjalankannya.

Ketika mengetahui bayi telah hilang dan polisi mulai bertanya, ia justru ketakutan serta memilih diam.

Bima pun diperiksa.

Tidak ditemukan bukti bahwa ia terlibat dalam rencana Pak Darto. Ia bahkan menyerahkan catatan percakapan lama dengan Maya yang menunjukkan bahwa keduanya sudah mengetahui janin Maya tidak mungkin diselamatkan ketika kondisi perempuan itu memburuk.

Beberapa minggu kemudian, persoalan utang keluarga Pak Darto diproses secara terpisah dengan bantuan pendamping hukum dari kecamatan.

Tidak ada warisan ajaib.

Tidak ada orang kaya yang tiba-tiba menyelesaikan semuanya.

Pak Darto harus menjual sebagian kebun kecil miliknya dan menyusun pembayaran sisa utang secara bertahap.

Pahit, tetapi nyata.

Sedangkan Ratri menghadapi persoalan lain.

Ia adalah ibu muda tanpa pekerjaan tetap.

Arif, ayah Kirana, datang tiga hari setelah mengetahui apa yang terjadi.

Ia langsung menuju puskesmas.

Pak Sarman kebetulan ada di sana ketika laki-laki berusia dua puluh tujuh tahun itu melihat Kirana untuk pertama kali.

Arif berdiri kaku di depan tempat tidur bayi.

“Ini dia?”

Ratri mengangguk.

Arif mengulurkan satu jari.

Kirana yang sedang terjaga menggenggamnya.

Laki-laki itu langsung menundukkan kepala.

Pak Sarman pura-pura melihat ke arah lain ketika menyadari Arif menangis.

“Saya terlambat,” katanya.

Ratri tidak menjawab.

“Saya seharusnya ada di sini.”

“Kamu tidak tahu saya melahirkan malam itu.”

“Tapi saya tahu keadaanmu sedang sulit.”

Ratri menatapnya lama.

“Kirana tidak butuh janji.”

Arif mengangguk.

“Makanya saya tidak datang membawa janji.”

Ia mengeluarkan beberapa dokumen dari tas.

Arif sudah meminta mutasi tempat kerja ke kabupaten terdekat.

Gajinya tidak besar, tetapi cukup untuk menyewa rumah sederhana. Ia juga sudah menghubungi keluarga Ratri melalui kepala desa dan menyatakan siap mengakui Kirana secara resmi sebagai anaknya serta menjalankan kewajibannya sebagai ayah.

“Kamu tidak perlu menikah dengan saya karena merasa terpaksa,” katanya kepada Ratri. “Tapi untuk Kirana, saya tidak akan pergi.”

Itulah kalimat pertama yang membuat Ratri benar-benar mempercayainya.

Bukan karena romantis.

Melainkan karena Arif tidak meminta apa pun sebagai imbalan.

Beberapa bulan berikutnya berjalan perlahan.

Ratri tinggal bersama ibunya untuk sementara. Hubungannya dengan Pak Darto tidak langsung pulih. Mereka tinggal di rumah yang sama tetapi nyaris tidak berbicara selama beberapa minggu.

Sampai suatu sore Pak Darto datang ke beranda ketika Ratri sedang menjemur pakaian Kirana.

Lelaki tua itu berdiri cukup lama tanpa berani mendekat.

“Boleh Bapak menggendongnya?”

Ratri tidak langsung menjawab.

Pak Darto menundukkan kepala.

“Kalau belum boleh, tidak apa-apa.”

Itu mungkin pertama kalinya dalam hidup Ratri mendengar ayahnya meminta izin tanpa memaksakan kehendak.

Ratri memandang Kirana yang sedang tidur.

Kemudian menyerahkannya perlahan.

Pak Darto menerima cucunya dengan kedua tangan gemetar.

Kirana bergerak kecil lalu kembali tidur.

Pak Darto mulai menangis.

“Bapak hampir menjadikan dia alat untuk menyelesaikan kesalahan Bapak sendiri.”

Ratri menatap ayahnya.

“Saya belum bisa melupakan semuanya.”

“Bapak tahu.”

“Mungkin lama.”

“Tidak apa-apa.”

Pak Darto mencium kepala Kirana.

“Kalau Bapak harus menunggu, Bapak tunggu.”

Pemulihan keluarga itu tidak terjadi dalam satu malam.

Tetapi dimulai pada sore tersebut.

Pak Sarman sendiri kembali kepada rutinitas lamanya.

Menyapu daun.

Memotong rumput.

Memperbaiki jalan setapak.

Membersihkan makam.

Hanya saja kini ada satu perubahan kecil.

Setiap Minggu pagi, Ratri sering datang ke pemakaman membawa Kirana.

Kadang bersama Arif.

Kadang bersama Bu Marni.

Mereka selalu berhenti paling lama di makam Maya.

Suatu pagi, hampir satu tahun setelah bayi itu ditemukan, Kirana sudah bisa berdiri sambil berpegangan pada tangan ibunya.

Rambutnya mulai tumbuh lebih tebal.

Pipinya bulat.

Dan menurut Pak Sarman, anak itu mempunyai kebiasaan tertawa pada hal-hal yang sama sekali tidak lucu.

Hari itu Ratri meletakkan bunga melati di depan nisan Maya.

“Kak Maya pasti marah kalau tahu aku pernah meninggalkan Kirana di sini.”

Pak Sarman yang sedang menyapu beberapa meter dari sana menjawab tanpa menoleh.

“Mungkin.”

Ratri tersenyum tipis.

“Pak Sarman kok malah setuju?”

“Kalau saya bilang kakakmu pasti senang, nanti saya bohong.”

Ratri tertawa kecil.

Pak Sarman akhirnya menghentikan sapunya.

“Tapi menurut saya, kalau dia sayang sama kamu seperti yang kamu ceritakan, dia pasti lebih senang melihat apa yang kamu lakukan setelah hari itu.”

Ratri memandang Kirana.

Ia sekarang bekerja membantu administrasi sebuah koperasi desa tiga hari dalam seminggu. Arif pulang hampir setiap sore dari tempat kerjanya di kecamatan sebelah.

Mereka belum menikah.

Tidak ingin terburu-buru.

Namun beberapa bulan terakhir mereka mulai menabung bersama.

Sedikit demi sedikit.

Bukan untuk pesta besar.

Hanya untuk menyewa rumah kecil dan menyiapkan kehidupan yang lebih stabil bagi Kirana.

Ratri memandang nisan kakaknya.

“Aku masih kangen Mbak.”

“Ya kangen saja,” kata Pak Sarman. “Orang yang sudah tidak ada bukan berarti harus berhenti dirindukan.”

Tiba-tiba Kirana melepaskan tangan ibunya.

Gadis kecil itu berjalan dua langkah goyah menuju Pak Sarman.

“Eh, eh, jangan cepat-cepat.”

Pak Sarman meletakkan sapunya dan berjongkok.

Kirana kehilangan keseimbangan tepat sebelum mencapainya.

Pak Sarman menangkap tubuh kecil itu.

Kirana justru tertawa.

Tawa keras dan jernih memenuhi bagian pemakaman yang setahun sebelumnya menjadi tempat Pak Sarman mendengar tangisan pertamanya.

Pak Sarman menggendongnya.

“Kamu ini,” katanya sambil menggeleng. “Pertama kali ketemu bikin kakek hampir copot jantung. Sekarang malah ketawa.”

“Kirana,” panggil Ratri.

Anak itu tidak mau kembali.

Kedua tangannya justru memegang kerah kemeja Pak Sarman.

Ratri tersenyum.

“Sepertinya dia lebih suka sama Pak Sarman.”

“Jangan bilang begitu. Nanti tiap hari dititipkan ke saya.”

“Memangnya tidak mau?”

Pak Sarman pura-pura berpikir.

“Kalau ada upahnya pisang goreng dua.”

Ratri tertawa.

Dari bawah bukit, suara Arif terdengar memanggil mereka.

Ia datang membawa kantong makanan untuk sarapan bersama.

Beberapa menit kemudian Bu Marni juga muncul.

Mereka duduk di bawah pohon kamboja tidak jauh dari makam Maya.

Tidak ada keluarga yang sempurna di sana.

Ada luka yang belum sepenuhnya hilang.

Ada kesalahan yang tidak bisa dianggap tidak pernah terjadi.

Ada utang yang masih harus dicicil.

Ada hubungan yang masih dibangun kembali sedikit demi sedikit.

Tetapi ada juga Kirana.

Seorang anak kecil yang suatu pagi ditemukan Pak Sarman di tempat yang seharusnya hanya menyimpan akhir kehidupan.

Justru dari sanalah sebuah kehidupan baru dimulai.

Pak Sarman menatap Kirana yang sedang duduk di pangkuan Ratri sambil mencoba mengambil potongan pisang dari tangan ibunya.

Ia teringat pagi berhujan setahun sebelumnya.

Kain putih.

Tanah lembap.

Tangisan kecil.

Surat tersembunyi.

Dan rasa takut yang membuat tangannya gemetar ketika pertama kali mengangkat bayi itu.

Kini pemakaman itu tetap sama.

Nisan Maya masih berada di tempatnya.

Pohon kamboja masih menggugurkan bunga.

Daun bambu masih berbunyi ketika angin dari sawah berembus.

Namun setiap kali Kirana datang dan tertawa di dekat makam Maya, Pak Sarman selalu merasa tempat itu tidak lagi hanya berbicara tentang kehilangan.

Ia juga mengingatkan bahwa manusia masih bisa memilih memperbaiki kesalahan.

Masih bisa pulang.

Masih bisa meminta maaf.

Dan kadang, sebuah kehidupan yang hampir dimulai dengan kebohongan justru dapat tumbuh menjadi sesuatu yang jujur ketika orang-orang di sekitarnya akhirnya berani mengatakan kebenaran.

Ketika mereka hendak pulang, Ratri mengangkat Kirana dan mendekatkannya ke nisan Maya.

“Ayo bilang sampai jumpa sama Tante Maya.”

Kirana tentu belum memahami.

Ia hanya melambaikan tangan kecilnya.

“Da… da…”

Bu Marni menutup mulut sambil tersenyum dan menangis sekaligus.

Pak Sarman mengambil sapunya lagi.

Kemudian ia melihat mereka berjalan perlahan menuruni bukit.

Ratri menggandeng tangan Arif.

Bu Marni membawa tas bayi.

Kirana berada di bahu ayahnya sambil terus melambaikan tangan ke arah Pak Sarman.

Lelaki tua itu mengangkat tangannya membalas.

“Pulang sana,” gumamnya dengan senyum kecil. “Besok jangan bikin kakek menemukan bayi lagi di sini.”

Tawa Ratri terdengar dari kejauhan.

Pak Sarman kemudian kembali menyapu daun-daun yang jatuh di sekitar makam Maya.

Pagi itu matahari muncul sepenuhnya dari balik awan.

Cahayanya jatuh tepat di atas tulisan pada nisan batu abu-abu:

Maya Puspitasari.

Selalu dalam kasih.

Pak Sarman memandangnya sebentar.

Lalu ia tersenyum.

Karena setelah semua yang terjadi, kalimat itu ternyata masih benar.

Kasih Maya tidak mampu mengubah masa lalu.

Tetapi kasih yang pernah ia berikan kepada adiknya telah meninggalkan sesuatu yang cukup kuat untuk menuntun Ratri kembali ketika hidupnya hampir tersesat.

Dan bagi Kirana, kisah hidupnya kelak tidak akan dimulai dengan kalimat bahwa ia pernah dibuang di sebuah makam.

Ratri sudah memutuskan apa yang akan ia ceritakan ketika putrinya cukup besar untuk bertanya.

Bahwa pada malam pertama kehidupannya, ibunya membuat sebuah kesalahan besar karena ketakutan.

Namun keesokan paginya, seorang lelaki tua menemukannya.

Seorang bidan menyelamatkannya.

Orang-orang memilih mencari kebenaran.

Ayahnya datang untuk bertanggung jawab.

Keluarganya belajar memperbaiki diri.

Dan sejak hari itu, Kirana tidak pernah lagi ditinggalkan sendirian.

Tidak sekali pun.