Suamiku Menyuruhku Turun dari Mobil Saat Aku Masih Berdarah, tetapi Ia Membeku Ketika Melihat Benda Kecil Pemberian Pria yang Menyelamatkanku Sendirian

Avatar penulis
Cerita 03
16 menit baca 39 tayangan
Sabtu Sore Aku Pulang dari Dinas, Mertuaku Menyerahkan Bukti Transfer Rp1,45 Miliar—Lalu Suamiku Berbisik: Rumah Pemberian Ayahku Sudah Dijual untuk Pernikahan Adiknya Tanpa Sepengetahuanku, Tanpa Izinku, dan Tanpa Rasa Bersalah
Indeks

Suamiku Menyuruhku Turun dari Mobil Saat Aku Masih Berdarah, tetapi Ia Membeku Ketika Melihat Benda Kecil Pemberian Pria yang Menyelamatkanku Sendirian

Bagian 1 — Aku Tidak Lagi Cemburu Saat Melihat Suamiku Memeluk Perempuan Itu, dan Justru Sikap Tenangku Membuat Wajahnya Berubah Pucat di Halaman Rumah

Aku melihat suamiku memeluk perempuan lain di halaman kompleks perumahan kami.

Jelas sekali.

Tangan kanan Arga Pratama menahan bahu Maya, sementara tangan kirinya melingkar di pinggang perempuan itu agar tidak jatuh. Wajah Arga yang biasanya dingin dan sulit ditebak tampak penuh kecemasan.

Tiga bulan lalu, pemandangan seperti itu mungkin sudah membuatku menangis di tempat.

Aku akan berlari menghampiri mereka, menuntut penjelasan, lalu pulang dengan mata bengkak karena sekali lagi merasa kalah dari seorang perempuan yang bahkan bukan istrinya.

Namun pagi itu aku hanya memindahkan kantong sayur ke tangan kiri.

Lalu berjalan melewati mereka.

Tanpa bertanya.

Tanpa berhenti.

Tanpa menoleh.

“Kirana!”

Langkahku terhenti.

Suara Arga terdengar di belakang, disusul langkah cepat sepatu kulitnya.

Beberapa detik kemudian dia sudah berdiri di depanku.

Tangannya menangkap pergelangan tanganku.

“Tadi Maya hampir pingsan.”

Aku menatap tangannya, bukan wajahnya.

“Gula darahnya turun. Aku cuma menahannya supaya tidak jatuh.”

Arga menarik napas.

“Kamu jangan salah paham.”

Aku perlahan menarik tanganku.

“Aku tidak salah paham.”

Dia terdiam.

“Syukurlah.”

Aku tersenyum tipis.

“Kalaupun tadi kalian berpelukan lebih lama, aku juga tidak akan bertanya.”

Wajah Arga berubah.

“Kalaupun kalian pergi berdua, makan bersama, atau kamu mengantarnya pulang sampai malam, aku tidak akan marah.”

“Kirana.”

“Bukankah itu yang selama ini kamu mau?”

Rahangnya mengeras.

Selama empat tahun menikah, aku selalu dianggap terlalu sensitif setiap kali nama Maya muncul di antara kami.

Maya adalah istri mendiang Dimas, sahabat sekaligus rekan kerja Arga yang meninggal dalam kecelakaan proyek dua tahun lalu.

Sejak itu Arga merasa memiliki kewajiban menjaga Maya.

Awalnya aku mengerti.

Aku bahkan pernah memasakkan makanan untuknya ketika Maya sakit.

Aku ikut mengantar obat.

Aku membantu mengurus beberapa dokumen santunan Dimas.

Masalahnya, perhatian Arga perlahan melewati batas yang bisa kuterima.

Ketika Maya menelepon tengah malam karena listrik rumahnya padam, Arga meninggalkan makan malam ulang tahun pernikahan kami.

Ketika Maya mengeluh takut pergi ke rumah sakit sendirian, Arga membatalkan perjalanan yang sudah kurencanakan selama dua bulan.

Ketika aku memprotes, jawabannya selalu sama.

“Dimas sudah tidak ada.”

“Aku cuma menjalankan tanggung jawab sebagai sahabatnya.”

Suatu kali Maya memuji gelang emas peninggalan ibuku.

Dia bercanda mengatakan gelang itu cantik sekali dan cocok dengannya.

Arga malah berkata kepadaku di depan Maya, “Kalau kamu jarang memakainya, berikan saja. Maya suka.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Itu peninggalan Ibu.”

Arga justru kesal.

“Kenapa semua hal harus dibesar-besarkan?”

Hari itu aku menangis semalaman.

Arga tidur membelakangiku.

Aku terus bertanya dalam hati, sebenarnya siapa perempuan yang paling penting dalam hidupnya?

Sekarang aku sudah berhenti mencari jawabannya.

Arga menatapku lama.

“Kamu masih marah soal kejadian di Garut?”

Aku mengangkat wajah.

Ternyata akhirnya dia menyebutnya juga.

Dua minggu sebelumnya, hujan besar menyebabkan longsor di daerah pegunungan Garut tempat perusahaan Arga menjalankan proyek pembangunan jalan.

Aku datang karena Arga memintaku membawa beberapa dokumen yang tertinggal.

Maya kebetulan berada di sana karena sedang mengurus santunan lanjutan milik almarhum suaminya.

Longsor datang tanpa peringatan.

Tanah bergerak.

Pepohonan tumbang.

Salah satu bangunan sementara ambruk.

Aku dan Maya sama-sama terjebak di dua lokasi yang jaraknya tidak terlalu jauh.

Arga adalah salah satu koordinator evakuasi.

Dan ketika tim menemukan kemungkinan posisi kami, dia memilih Maya lebih dulu.

Aku masih ingat suara Arga dari radio komunikasi seorang petugas yang tergeletak tak jauh dariku.

“Prioritaskan titik sebelah timur.”

“Itu lokasi Maya.”

Seseorang bertanya, “Bagaimana dengan Bu Kirana?”

Arga menjawab tanpa ragu.

“Kirana lebih kuat. Dia bisa bertahan.”

Kalimat itu sederhana.

Tetapi di bawah tumpukan tanah basah, ketika kaki kiriku terjepit dan napasku semakin pendek, kata-kata itulah yang menghancurkan sesuatu dalam diriku.

Kirana lebih kuat.

Jadi Kirana boleh menunggu.

Kirana tidak mudah panik.

Jadi Kirana boleh ditinggalkan.

Kirana istrinya.

Jadi Kirana harus mengerti.

Aku menunggu hampir satu jam dalam gelap.

Pada suatu titik aku merasa tidak akan keluar hidup-hidup.

Orang yang akhirnya menemukanku bukan Arga.

Bukan pula tim yang dipimpin suamiku.

Seorang pria dari rombongan relawan perusahaan logistik mendengar benturan kecil dari balik puing.

Dia kembali sendirian meskipun petugas sudah memperingatkan tanah masih bergerak.

Namanya Raka Mahendra.

Dengan tangan penuh lumpur, dia menyingkirkan papan, batu, dan tanah yang menekan tubuhku.

Telapak tangannya terluka.

Kemeja putihnya robek di bagian siku.

Begitu melihatku masih bernapas, dia hanya berkata, “Tatap saya. Jangan tidur.”

Aku bahkan tidak mengenalnya.

Tetapi selama hampir tiga kilometer menuju titik medis sementara, pria asing itulah yang menggendongku.

Bukan suamiku.

Aku kehilangan kandungan yang bahkan belum sempat kuberitahukan kepada Arga.

Dokter memperkirakan usia kehamilanku baru sekitar tujuh minggu.

Aku mengetahuinya beberapa hari sebelum berangkat ke Garut dan berencana memberinya kejutan sepulang dari proyek.

Kejutan itu tidak pernah terjadi.

Ketika Arga akhirnya datang ke rumah sakit, Maya juga berada bersamanya.

Arga meminta maaf karena terlambat.

Lalu mengatakan sesuatu yang sampai sekarang masih kuingat.

“Aku tahu kamu akan mengerti.”

Saat itulah aku berhenti berharap.

Di halaman rumah pagi ini, Arga menurunkan suaranya.

“Aku sudah jelaskan. Situasinya kacau. Maya mengalami serangan panik. Aku harus membuat keputusan cepat.”

“Aku tahu.”

“Kamu istriku.”

Aku hampir tertawa mendengarnya.

“Justru karena aku istrimu, kamu selalu berpikir aku pasti memaafkan.”

Wajahnya membeku.

Aku melanjutkan langkah.

Namun sebuah mobil hitam berhenti di dekat kami.

Kaca depan turun.

Maya duduk di kursi penumpang.

Wajahnya tampak pucat.

“Kirana, kamu mau kontrol ke rumah sakit juga?”

Aku belum menjawab ketika Arga sudah membuka pintu belakang.

“Masuk. Kita satu arah.”

Sebenarnya aku ingin menolak.

Namun sebelum aku sempat bicara, Arga sudah mengambil kantong belanjaanku dan memasukkannya ke mobil.

Sepanjang perjalanan aku hanya menatap keluar jendela.

Beberapa menit kemudian Maya menoleh.

Matanya tiba-tiba membesar.

“Kirana…”

Dia menunjuk rok panjangku.

“Ada darah.”

Aku menunduk.

Bekas perdarahan setelah keguguran rupanya belum benar-benar berhenti.

Ada noda kecil yang menembus kain.

Arga melihatnya dari kaca tengah.

Wajahnya berubah.

Dia melepas jaket dan mengulurkannya ke belakang.

“Pakai ini.”

Dulu perhatian sekecil itu bisa membuatku bahagia berhari-hari.

Sekarang aku tidak menggerakkan tangan.

Jaket itu jatuh ke kursi.

Arga menatapku melalui kaca.

“Kirana, jangan keras kepala.”

Belum sempat aku menjawab, Maya tiba-tiba menutup mulut.

Napasnya memburu.

“Aku tidak kuat melihat darah.”

Tangannya gemetar.

“Aku teringat kecelakaan Dimas…”

Arga langsung menghentikan mobil.

Dia memegang kedua bahu Maya.

“Maya, lihat aku. Tarik napas.”

Aku duduk diam di belakang.

Lalu datanglah kalimat yang entah bagaimana sudah kuduga.

Arga menoleh.

“Kirana.”

“Rumah sakit tinggal sekitar satu setengah kilometer.”

Aku menatap matanya.

Dia terlihat tidak nyaman.

“Maya benar-benar sedang tidak baik. Bisa kamu turun di sini dan pesan taksi online?”

Ironis sekali.

Mobil itu awalnya dipakai untuk mengantarku kontrol setelah keguguran.

Aku yang sedang berdarah.

Aku yang baru kehilangan anak.

Tetapi aku pula yang harus turun.

Aku mengangguk.

“Baik.”

Arga tampak terkejut karena aku sama sekali tidak membantah.

Aku membuka pintu.

Saat kakiku hampir menyentuh aspal, dia tiba-tiba memanggil.

“Tunggu.”

Arga membuka kompartemen di samping kursinya.

Dia mengeluarkan sebuah benda kecil.

“Ini punyamu?”

Begitu melihatnya, jantungku langsung berdebar.

Sebuah gantungan kunci logam berbentuk kompas kecil.

Murah.

Sudah lecet.

Tidak ada merek terkenal.

Namun aku segera mengambilnya dari telapak tangan Arga.

Untuk pertama kalinya sejak kembali dari Garut, wajahku menunjukkan emosi.

Arga menyadarinya.

“Kenapa benda itu begitu penting?”

Aku menggenggam kompas kecil tersebut.

Karena benda itu milik orang yang kembali mencariku ketika semua orang sudah pergi ke arah lain.

Karena sebelum Raka meninggalkan rumah sakit lapangan, dia memasukkannya ke tanganku dan berkata:

“Kalau suatu hari kamu merasa tersesat lagi, jangan menunggu orang yang sama untuk menunjukkan jalan.”

Aku tersenyum.

“Karena ini diberikan seseorang yang menyelamatkan hidupku.”

Tatapan Arga seketika berubah.

“Siapa?”

Aku turun dari mobil.

Namun sebelum menutup pintu, Maya tiba-tiba berkata dari depan,

“Mas Arga, jangan dengarkan dia. Aku tahu siapa laki-laki itu.”

Tanganku berhenti.

Arga langsung menoleh kepada Maya.

Dan kalimat berikutnya membuat darahku terasa membeku.

“Dia bukan sekadar relawan yang kebetulan lewat. Dia datang ke Garut karena memang mencari Kirana.”

#DramaKeluarga #KisahPernikahan #PengkhianatanHati #CeritaIndonesia #KisahViral

Bagian 2 — Setelah Ditinggalkan di Pinggir Jalan, Aku Menemukan Kembali Benda dari Penyelamatku dan Mulai Menyiapkan Jalan Keluar dari Pernikahan Ini Tanpa Suamiku Tahu

Aku tidak menunggu penjelasan Maya.

Pintu kututup.

Mobil itu melaju meninggalkanku di pinggir jalan.

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit dengan taksi online, kalimat Maya terus terngiang di kepalaku.

Raka datang karena mencariku?

Mustahil.

Sebelum longsor, aku bahkan tidak pernah mengenalnya.

Setelah pemeriksaan, dokter mengatakan kondisiku mulai membaik tetapi aku masih harus banyak istirahat.

Aku pulang menjelang sore.

Rumah kosong.

Aku tidak tahu apakah Arga masih menemani Maya atau sudah kembali bekerja.

Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar tidak peduli.

Aku masuk ke kamar kerja.

Dari lemari paling bawah, kukeluarkan sebuah map cokelat yang sudah kusimpan hampir dua tahun.

Di dalamnya terdapat dokumen yang dulu terlalu takut kusentuh.

Draf kesepakatan pemisahan aset.

Fotokopi dokumen pernikahan.

Catatan transfer rekening.

Dan surat yang pernah ditulis Arga ketika kami bertengkar hebat setahun setelah menikah.

Saat itu dia mengatakan pernikahan kami hanya terjadi karena tekanan keluarga.

Dia bahkan menulis dengan tangannya sendiri bahwa jika suatu hari aku ingin pergi, dia tidak akan menahan.

Dulu surat itu membuatku menangis.

Sekarang justru terasa seperti pintu keluar.

Keesokan harinya aku menemui seorang pengacara keluarga bernama Bu Ratih.

Setelah memeriksa dokumen, dia berkata dengan tenang, “Surat ini tidak otomatis mengakhiri pernikahan. Perceraian tetap harus melalui pengadilan. Tapi dokumen ini bisa membantu menunjukkan bahwa konflik kalian sudah lama terjadi.”

Aku mengangguk.

“Aku ingin mengajukan gugatan.”

Bu Ratih mengamatiku beberapa detik.

“Sudah yakin?”

“Sudah.”

Tidak ada tangis.

Tidak ada keraguan.

Aku bahkan terkejut mendengar suaraku sendiri.

Sore itu, ketika aku keluar dari kantor Bu Ratih, sebuah SUV abu-abu berhenti di depan trotoar.

Pintu terbuka.

Raka turun.

Aku langsung mengenalinya.

Tidak ada lumpur.

Tidak ada kemeja robek.

Hari itu dia mengenakan kemeja sederhana dan celana gelap.

Namun matanya sama.

Tenang, tajam, dan seolah bisa membaca sesuatu yang tidak kukatakan.

“Kamu masih menyimpan kompasnya.”

Aku refleks menyentuh gantungan kecil di tasku.

“Kok kamu tahu aku di sini?”

Raka tidak langsung menjawab.

Sebaliknya dia menyerahkan sebuah amplop.

“Ini yang seharusnya kamu lihat setelah keluar dari rumah sakit.”

Di dalamnya terdapat beberapa foto dan salinan laporan evakuasi.

Aku membaca baris demi baris.

Lalu tanganku mulai dingin.

Pada pukul 16.42, tim pertama sebenarnya sudah bersiap menuju lokasiku.

Mereka menerima koordinatku lebih dahulu.

Namun lima menit kemudian, Arga memerintahkan perubahan prioritas ke titik Maya.

Bukan karena kondisi Maya lebih parah.

Data medis lapangan bahkan menunjukkan Maya masih bisa berjalan dengan bantuan.

Sedangkan laporan dari titikku menyebutkan kemungkinan korban terjepit struktur bangunan.

Aku menatap Raka.

“Kamu dapat ini dari mana?”

“Perusahaanku menyediakan kendaraan dan alat berat saat evakuasi. Semua komunikasi dicatat.”

Dadaku sesak.

Jadi selama ini Arga berbohong.

Dia mengatakan pilihannya dibuat berdasarkan tingkat bahaya.

Ternyata bukan.

“Kenapa kamu kembali menolongku?”

Raka diam sebentar.

“Karena aku membaca laporan koordinat. Tidak masuk akal meninggalkan korban yang terjepit.”

“Hanya itu?”

Dia tersenyum tipis.

“Kamu berharap jawaban lain?”

Aku menggeleng.

Justru jawaban itu membuatku lega.

Tidak ada takdir.

Tidak ada kebetulan romantis yang dibuat-buat.

Hanya seseorang yang melihat keputusan salah dan memilih melakukan hal benar.

Malamnya Arga pulang lebih awal.

Aku sedang memasukkan pakaian ke koper.

Dia berdiri di ambang pintu.

“Kamu mau ke mana?”

“Ke rumah kakakku beberapa hari.”

Arga melihat koper, lalu melihatku.

“Karena kejadian di mobil?”

“Bukan.”

“Karena Maya?”

“Bukan juga.”

“Lalu karena apa?”

Aku menutup koper.

“Karena aku lelah.”

Arga tertawa pendek, tetapi terdengar tegang.

“Kirana, jangan membuat keputusan saat emosi.”

Aku hampir merasa kasihan.

Dia masih tidak mengerti.

“Aku justru baru bisa mengambil keputusan setelah emosiku habis.”

Wajahnya berubah.

Aku membawa koper melewatinya.

Namun Arga mencengkeram pegangan koper.

“Siapa Raka Mahendra?”

Aku menatapnya.

Ternyata Maya sudah bercerita.

“Orang yang menyelamatkanku.”

“Hanya itu?”

“Menurutmu harus ada apa lagi?”

Arga diam.

Kemudian dia berkata sesuatu yang membuatku benar-benar kehilangan sisa hormat kepadanya.

“Maya bilang Raka sengaja mendekatimu sejak sebelum longsor.”

Aku tertawa.

Bukan karena lucu.

Karena keterlaluan.

“Dan kamu percaya?”

“Aku cuma bertanya.”

“Ketika Maya mengatakan sesuatu, kamu selalu ‘cuma bertanya’. Ketika aku mengatakan sesuatu, aku selalu dianggap cemburu.”

Arga memejamkan mata.

“Kirana…”

Aku mengeluarkan salinan laporan evakuasi dari tasku.

Kutaruh di meja.

“Kalau mau bicara tentang kepercayaan, baca itu.”

Dia mengambilnya.

Semakin jauh matanya membaca, semakin pucat wajahnya.

“Aku…”

“Apa?”

“Aku tidak tahu laporan kondisimu separah ini.”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Koordinator lapangan mengatakannya melalui radio.”

Arga terdiam.

Aku masih mengingat suara itu.

Jelas.

Tegas.

Tidak ragu.

Kirana bisa menunggu.

Tiba-tiba ponsel Arga berdering.

Nama Maya muncul di layar.

Arga mematikannya.

Untuk pertama kali.

Tetapi beberapa detik kemudian sebuah pesan masuk.

Aku tidak berniat melihat.

Namun layar menyala tepat di depan kami.

Pesan Maya terlihat jelas.

“Mas, jangan sampai Kirana menunjukkan rekaman radio itu. Kalau rekamannya keluar, semuanya akan tahu aku yang memintamu memindahkan tim.”

Arga membeku.

Aku juga.

Ruang tamu mendadak sunyi.

Perlahan Arga mengangkat wajah menatapku.

Tetapi kali ini aku tidak ingin mendengar alasan apa pun.

Aku mengambil koper.

Dan sebelum keluar, aku hanya berkata,

“Besok pengacaraku akan menghubungimu.”

Bagian 3 — Saat Aku Benar-Benar Pergi, Suamiku Baru Mengetahui Siapa yang Menyelamatkanku, dan Kebohongan Perempuan Itu Akhirnya Terbongkar di Depan Semua Orang

Dua hari kemudian Arga datang ke rumah kakakku.

Dia berdiri di depan pagar hampir satu jam.

Aku akhirnya keluar karena tidak ingin tetangga mulai bertanya-tanya.

Wajahnya tampak lelah.

“Kirana, beri aku lima menit.”

“Apa yang mau dibicarakan?”

“Aku sudah mencari rekaman lengkap komunikasi evakuasi.”

Aku diam.

Arga menelan ludah.

“Maya meneleponku beberapa menit sebelum tim bergerak. Dia menangis, mengatakan tanah di sekitarnya terus bergerak.”

“Lalu?”

“Aku panik.”

“Tidak. Kamu memilih.”

Wajahnya semakin pucat.

“Aku membuat keputusan buruk.”

“Akhirnya kamu mengakuinya.”

Arga menunduk.

“Aku tidak tahu kamu hamil.”

Kalimat itu sempat menusuk.

Tetapi rasa sakitnya tidak lagi sama.

“Kalaupun tahu, apakah kamu akan memilihku?”

Arga membuka mulut.

Tidak ada jawaban keluar.

Dan diamnya sudah cukup.

Hari berikutnya masalah menjadi lebih besar.

Perusahaan melakukan evaluasi internal karena salinan komunikasi evakuasi tersebar kepada tim keselamatan.

Beberapa petugas memberikan keterangan.

Salah seorang di antaranya mengaku sudah memperingatkan Arga bahwa kondisiku berisiko lebih tinggi.

Namun Arga tetap memindahkan personel.

Lebih mengejutkan lagi, kamera di posko merekam Maya berdiri tanpa bantuan sekitar sepuluh menit setelah mengaku tidak sanggup bergerak.

Maya memang panik.

Tetapi kondisinya tidak seperti yang dia gambarkan kepada Arga.

Saat dipanggil untuk memberikan klarifikasi, Maya akhirnya mengaku.

Dia takut Arga akan berlari mencariku lebih dulu.

Karena itu dia melebih-lebihkan kondisinya.

“Mas Arga sendiri yang memilih aku,” katanya sambil menangis. “Aku tidak memaksanya.”

Kalimat itu benar.

Dan justru karena benar, Arga tidak bisa menyalahkan siapa pun.

Maya mungkin memanipulasi keadaan.

Tetapi keputusan terakhir tetap miliknya.

Beberapa hari kemudian Maya datang menemuiku.

Dia tidak lagi terlihat rapuh.

Wajahnya tegang.

“Aku tidak pernah berniat membuatmu terluka.”

Aku hampir tertawa.

“Kamu meminta suamiku memindahkan tim penyelamat.”

“Aku sedang ketakutan.”

“Begitu juga aku.”

Dia terdiam.

Aku melanjutkan, “Bedanya, aku tidak punya suami orang lain untuk kupanggil.”

Wajahnya memerah.

“Kamu pikir Raka lebih baik?”

“Aku tidak sedang membandingkan laki-laki.”

Aku membuka pintu lebih lebar.

“Aku sedang memilih diriku sendiri.”

Setelah itu aku tidak pernah menemuinya lagi.

Proses perceraian berlangsung beberapa bulan.

Arga sempat mencoba mempertahankan pernikahan.

Dia mengirim pesan.

Datang ke rumah kakakku.

Mengembalikan gelang peninggalan ibuku yang ternyata selama ini masih disimpan Maya.

Dia bahkan mulai mengatakan hal-hal yang dulu selalu ingin kudengar.

“Aku salah.”

“Aku seharusnya melindungimu.”

“Aku baru sadar rumah itu kosong tanpa kamu.”

Sayangnya, ada kalimat yang datang terlambat.

Ada perhatian yang kehilangan arti setelah seseorang terlalu sering dipaksa memohon untuk mendapatkannya.

Pada sidang terakhir, Arga duduk beberapa meter dariku.

Hakim menanyakan apakah masih ada kemungkinan berdamai.

Aku menjawab tidak.

Arga menatapku lama.

Lalu untuk pertama kalinya dia tidak membantah.

Perceraian kami diputuskan.

Keluar dari gedung pengadilan, aku menghirup udara panjang.

Tidak ada musik.

Tidak ada adegan dramatis.

Tidak ada perasaan menang.

Hanya lega.

Seperti orang yang akhirnya meletakkan koper berat setelah membawanya terlalu lama.

Raka menungguku di sebuah kedai kopi di seberang jalan.

Selama proses perceraian, dia tidak pernah mendesakku.

Tidak pernah mengatakan aku harus memilihnya.

Kami hanya sesekali bertukar kabar.

Hari itu dia melihatku datang dan menunjuk gantungan kompas yang masih terpasang di tasku.

“Masih belum tersesat?”

Aku tersenyum.

“Sekarang sudah tahu jalannya.”

Enam bulan kemudian aku pindah ke Bandung dan membuka studio desain interior kecil bersama teman kuliahku.

Aku menggunakan sebagian tabungan yang sebelumnya ingin kupakai merenovasi rumah bersama Arga.

Usahaku belum besar.

Tapi setiap pagi aku bangun tanpa takut mendengar telepon perempuan lain yang membuat suamiku berlari meninggalkan meja makan.

Raka beberapa kali datang dari Jakarta untuk bertemu.

Hubungan kami berjalan perlahan.

Dia tidak pernah menjanjikan hidup tanpa masalah.

Aku juga tidak membutuhkan itu.

Yang kubutuhkan sederhana.

Seseorang yang tidak menganggap ketegaranku sebagai alasan untuk mengabaikanku.

Setahun setelah longsor Garut, Raka mengajakku kembali ke lokasi yang sekarang sudah berubah menjadi jalan baru.

Kami berdiri di tepi bukit.

Dia menunjuk kompas kecil miliknya yang masih kusimpan.

“Dulu aku memberikannya supaya kamu tidak kembali ke orang yang membuatmu tersesat.”

Aku menatapnya.

“Sekarang?”

Raka tersenyum.

“Sekarang terserah kamu mau membawanya ke mana.”

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tertawa tanpa beban.

Aku tidak langsung mendapatkan kehidupan sempurna setelah meninggalkan Arga.

Aku harus membangun semuanya lagi.

Kepercayaan.

Pekerjaan.

Keberanian.

Bahkan caraku melihat diriku sendiri.

Namun setidaknya sekarang keputusan hidupku berada di tanganku.

Belakangan aku mendengar Arga dipindahkan dari posisi koordinator lapangan setelah evaluasi internal.

Dia tidak kehilangan pekerjaannya, tetapi tidak lagi dipercaya memimpin operasi darurat sampai menyelesaikan pelatihan ulang dan evaluasi.

Hubungannya dengan Maya juga berakhir.

Ketika Arga akhirnya berhenti memenuhi semua permintaannya, Maya pindah ke rumah keluarganya di Semarang.

Aku tidak merasa puas karena mereka menderita.

Kepuasanku datang dari sesuatu yang jauh lebih sederhana.

Mereka akhirnya harus menghadapi akibat dari pilihan mereka sendiri.

Sedangkan aku?

Aku tidak lagi berdiri di depan jendela menunggu seseorang pulang.

Tidak lagi menghitung berapa kali suamiku memilih perempuan lain.

Tidak lagi berusaha menjadi “istri yang pengertian” agar pantas dicintai.

Pada suatu sore, ketika Raka datang membawakan dua gelas kopi ke studioku, aku melihat kompas kecil yang tergantung di dekat meja kerja.

Benda murah itu masih penuh goresan.

Namun aku tidak pernah menggantinya.

Karena setiap kali melihatnya, aku teringat satu hal.

Hari paling buruk dalam hidupku bukanlah hari ketika suamiku meninggalkanku di bawah longsoran.

Hari paling buruk adalah bertahun-tahun sebelumnya, ketika aku mulai percaya bahwa dicintai berarti harus terus mengalah.

Dan hari terbaikku bukan pula ketika seorang pria datang menyelamatkanku.

Hari terbaikku adalah ketika aku akhirnya berani menyelamatkan diriku sendiri.